Anda di halaman 1dari 47

PT PLN Udiklat

PROTEKSI DISTRIBUSI
1. Pendahuluan Jaringan distribusi berfungsi untuk menyalurkan tenaga listrik ke pihak pelanggan. Karena fungsinya tersebut maka keandalan menjadi sangat penting dan untuk itu jaringan distribusi perlu dilengkapi dengan alat pengaman Ada tiga fungsi sistem pengaman dalam jaringan distribusi 1. Mencegah atau membatasi kerusakan pada jaringan beserta peralatannya dari akibat adanya gangguan listrik 2. Menjaga keselamatan umum dari akibat gangguan listrik 3. Meningkatkan kelangsungan pelayanan tenaga listrik kepada konsumen Sistem pengaman yang baik harus mampu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Melakukan koordinasi dengan sistim pengaman yang lain GI Mengamankan peralatan dari kerusakan yang lebih luas akibat gangguan Membatasi kemungkinan terjadinya kecelakaaan Secepatnya membebaskan pemadaman karena gangguan Membatasi daerah pemadaman akibat gangguan Mengurangi frekuensi pemutusan permanen karena gangguan

Persyaratan yang harus dimiliki oleh alat pengaman atau sistem pengaman 1. Sensitifitas (kepekaan) Suatu pengaman bertugas mengamankan suatu alat atau bagian tertentu dari sistem tenaga listrik termasuk dalam jangkauan pengamanannnya merupakan daerah pengaman tugas suatu pengaman mendeteksi adanya gangguan yang terjadi didaerah pengamanannya harus cukup sensitif untuk mendeteksi dengan nilai minimum dan bila perlu mentripkan PMT atau Pelebur untuk memisahkan bagian yang terganggu dengan bagian yang sehat

zt-130451023.doc

2.

Selektifitas (ketelitian) Selektifitas dari pengaman adalah kwalitas kecermatan dalam mengadakan pengamanan bagian yang terbuka dari suatu sistem oleh karena terjadinya gangguan diusahakan seminimal mungkin jika dapat tercapai maka pengamanan demikian disebut pengamanan selektif. 3. Keandalan ( Realibilitas) Dalam keadaan normal pengaman tidak boleh bekerja, tetapi harus pasti dapat bekerja bila diperlukan. Pengaman tidak boleh salah bekerja, jadi susunan alat-alat penga,man harus dapat diandalkan. Keandalan keamanan tergantung kepada desain, pengerjaan dan perawatannya

4.

Kecepatan. (Speed) Makin cepat pengaman bekerja tidak hanya dapat memperkecil kerusakan tetapi juga dapat memperkecil kemungkinan meluasnya akibat-akibat yang ditimbulkan oleh gangguan 2. Pengaman Arus lebih 2.1. Fuse Cut Out

2.1.1

Pengertian Fuse Cut Out ( F C O ) Fuse Cut Out merupakan sebuah alat pemutus rangkaian listrik yang berbeban pada jaringan distribusi yang bekerja dengan cara meleburkan bagian dari komponennya (fuse link) yang telah dirancang khusus dan disesuaikan ukurannya untuk itu. Perlengkapan fuse ini terdiri dari sebuah rumah fuse (fuse support), pemegang fuse (fuse holder) dan fuse link sebagai pisau pemisahnya dan dapat diindetifikasi dengan hal-hal seperti berikut a. b. c. d. Tegangan Isolasi Dasar ( TID ) pada tingkat distribusi Utamanya digunakan untuk penyulang (feeders) TM dan proteksi trafo Konstruksi mekanis didasarkan pemasangan pada tiang atau pada crossarm Dihubungkan ke sistim distribusi dengan batas-batas tegangan operasinya

PT PLN Udiklat 2.1.2 Klasifikasi Fuse Cut Out Jenis-jenis fuse untuk tegangan tinggi dapat dilihat pada gambar 1 dibawah ini
High Voltage Fuses

Distribution cut out

Power Fuses

Liquid Filled

Expulsion i Boric Acid Ve nted

Expulsion

Current limiting

Liquid fi lled

oil
enclosed

Fibre tube Non Vented Vented

Fibre tube open


Repeater Single elemen dropout dropout Non Drop out indicating

Open link

Non Vented

sand s

Carbon tetrachloride

enclosed
Single elemen

open
Repeater Single elemen dropout Drop out

Single elemen Single elemen


Double element Non Dropout Non Dropout

Non Vented

Single elemen

dropou t

Single elemen
dropout Non dropout dropout Non Drop out dropout

Single elemen Non dropout indicating

indicating indicating Non indicating indicating indicating

indicating indicating indicating Non indicat ing

indicating

dropout indicating indicating

indicating

indicating

Gambar 1. Klasifikasi Fuse Tegangan Tinggi

Pada gambar ini diperlihatkan fuse yang dirancang untuk penggunaan pada tegangan tinggi dapat dibedakan dalam 2 ( dua ) macam yaitu Cutout Distribusi (Distribution Cutouts), dilapangan sering disebut: Fuse Cut Out disingkat FCO dan Fuse TM (Power Fuse ) yang sering disebut MV Fuse atau Fuse pembatas arus. Dilapangan keperluan dan cara pemasangan kedua jenis fuse ini berbeda. Fuse cut out banyak dipergunakan pada saluran saluran percabangan dengan konstruksi saluran udara terbuka sedangkan MV fuse banyak dipergunakan pada panel panel cubicle dengan saluran kabel atau campuran . Fuse cutout distribusi diklasifikasi dalam 2 macam fuse yaitu : Fuse letupan (Expulsion Fuse) dan Fuse Liquid (Liquid Filled Fuse) Namun pada kenyataannya dilapangan fuse cutout letupan (expulsion) lebih banyak dipakai untuk jaringan distribusi dibanding dengan power fuse, istilah letupan (expulsi) merupakan suatu tanda yang dipergunakan fuse sebagai tanda adanya busur listrik yang melintas didalam tabung fuse yang kemudian dipadamkannya. Peristiwa yang terjadi pada bagian dalam tabung fuse ini adalah peristiwa penguraian panas secara partial akibat busur dan timbulnya gas yang di deionisasi pada celah busurnya sehingga zt-130451023.doc 3

busur api segera menjadi padam pada saat arus menjadi nol. Tekanan gas yang timbul pada tabung akibat naiknya temperatur dan pembentukan gas menimbulkan terjadinya pusaran gas didalam tabung dan ini membantu deionisasi lintasan busur api. Tekanan yang semakin besar pada tabung membantu proses pembukaan rangkaian, setelah busur api padam partikel-partikel yang dionisasi akan tertekan keluar dari ujung tabung yang terbuka. Klasifikasi fuse cutout yang kedua adalah fuse cutout liquid, fuse jenis ini tidak dikenal di wilayah PT PLN . Namun menurut referensi Fuse Cut Out semacam ini dapat digunakan untuk jaringan distribusi dengan saluran kabel udara . 2.1.3. Fuse Cut-Out Letupan Bertabung Fiber Ada 2 jenis fuse letupan (expulsion) yang diklasifikasi sebagai Fuse Cut-Out (FCO) distribusi yaitu a. Fuse cutout bertabung fiber (Fibre tube fuse) b. Fuse link terbuka (Open link fuse) Fuse cut-out bertabung fiber mempunyai fuse link yang dapat diganti-ganti (interchangeability) dan terpasang didalam pemegang fuse (fuse holder) berbentuk tabung yang terbuat dari bahan serat selulosa. Fuse ini dapat dipergunakan baik untuk Fuse Cut-Out terbuka (open fuse cut-out) atau Fuse Cut-Out tertutup (enclosed fuse cutout), fuse cut-out terbuka dapat dilihat pada gambar 2.Pada gambar ini terlihat fuse bertabung fiber dipasang diantara 2 (dua) isolator dan jaringan listrik dihubungkan pada kedua ujung fuse holdernya pada fuse cutout tertutup, tabung fuse terpasang disebelah dalam pintu fuse cutout dan seluruh kontak listriknya terpasangkan pada rumah fuse yang terbuat dari porselain seperti terlihat pada gambar 3 Kedua Fuse Cutout ini dapat dipergunakan pada jaringan-jaringan dengan sistim delta atau jaringan dengan sistim bintang tanpa pentanahan demikian juga pada jaringan - jaringan yang menggunakan sistim netral ditanahkan apabila tegangan pemutusan fuse cutout secara individual tidak melebihi tegangan maksimum pengenal rancangan dan tahanan isolasi ketanah sesuai dengan kebutuhan operasinya

PT PLN Udiklat

Gambar 2 Fuse Cutout terbuka

Gambar 2. Fuse Cutout tertutup

2.1.4 Fuse Cut-Out Link Terbuka (Open Link) Fuse cutout link terbuka terdiri dari sebuah fuse link yang tertutup didalam sebuah tabung fiber yang relatif kecil dengan dilengkapi kabel penghubung tambahan pada fuse link-nya untuk memperpanjang kedua ujung tabungnya.terlihat pada gambar 4

Gambar. 4

Fuse Cutout tipe Open Link

zt-130451023.doc

Kabel penghubung tambahan ini kemudian dihubungkan ke pegas kontak beban pada rumah fuse (fuse support) untuk kerja secara mekanik. Kerja pegas ini dimaksudkan untuk menjamin pemisahan agar kedua ujung dari fuse terbuka pada saat fuse bekerja dan ini dipakai karena kemampuan pemutusan pada tabung fiber yang kecil relatif terbatas. Fuse cutout ini dirancang untuk dipakai pada tegangan 17 kV, selain itu fuse ini mempunyai arus pengenal pemutusan yang lebih rendah dari pada fuse cutout bertabung fiber

2.2 Standar Fuse link Ada sejumlah standar yang dianut fuse link, salah satu standar pengenal fuse link yang terdahulu dikenal dengan sebutan pengenal N. Pengenal N dispesifikasi fuse link tersebut mampu untuk disalurkan arus listrik sebesar 100 % secara kontinue dan akan melebur pada nilai tidak lebih dari 230 % dari angka pengenalnya dalam waktu 5 menit [1]. Pada praktek dilapangan ketentuan tersebut kurang memuaskan penggunanya karena hanya satu titik yang dispesifikasi pada kerakteristik arus-waktu sehingga fuse link yang dibuat oleh sejumlah pabrik yang berbeda mempunyai keterbatasan dalam memberikan jaminan koordinasi antar fuse link. Setelah fuse link dengan pengenal N kemudian muncul standar industri fuse link dengen pengenal K dan pengenal T pada tahun 1951 Pengenal K untuk menyatakan fuse link dapat bekerja memutus jaringan listrik yang berbeban dengan waktu kerja lebih cepat dan pengenal T untuk menyatakan fuse link bekerja memutus jaringan listrik yang berbeban dengan waktu kerja lebih lambat. Fuse link tipe T dan tipe K ini merupakan rancangan yang universal karena fuse link ini bisa ditukar tukar (interchangeability) kemampuan elektris dan mekanisnya yang dispesifikasi dalam standar. Fuse link tipe K dan tipe T yang diproduksi suatu pabrik secara mekanis akan sama dengan fuse link tipe K dan tipe T yang diproduksi pabrik lain. Karakteristik listrik link tipe K dan fuse link tipe T sudah distandarisasi dan sebagai titik temu nilai arus maksimum dan minimum yang diperlukan untuk melelehkan fuse link ditetapkan pada 3 titik waktu dalam kurva karakteristik Kondisi ini lebih menjamin koordinasi antara fuse link yang dibuat oleh beberapa pabrik menjadi lebih baik dari pada yang dimiliki fuse link N. 6

PT PLN Udiklat
Tabel 1. Arus Leleh Fuse Link Tipe K

Arus pengenal (rating) Fuse yang disarankan / disukai


Arus Pengenal fuse link Arus leleh Arus leleh Arus leleh 1 300 600 detik 10 detik1 0,1 detik1 Minimum Maksimum Minimum Maksimum Minimum Maksimum Arus Pengenal yang disarankan / disukai 12. 0 19. 5 31. 0 50 80 128 200 310 480 14. 4 23. 4 37..2 60 96 153 240 372 576 13. 5 22. 5 37 60 98 159 258 430 760 20. 5 34 55 90 146 237 388 650 1150 72 128 215 350 565 918 1520 2470 3880 86 154 258 420 680 1100 1820 2970 4650 Rasio Kecepatan

6 10 15 25 40 65 100 140 200

6. 6. 6. 7. 7. 7. 7.

0 6 9 0 1 2 6

8. 0 8. 1

Tabel 2.. Arus Leleh Fuse Link Tipe K

Arus pengenal (rating) Fuse yang tidak disarankan / disukai - intermediate

Arus Pengenal fuse link

Arus leleh Arus leleh Arus leleh 1 300 600 detik 10 detik1 0,1 detik1 Minimum Maksimum Minimum Maksimum Minimum Maksimum Arus Pengenal yang tidak disarankan / tidak disukai / Intermediate 15 25 39 63 101 160 18 30 47 76 121 192 18 29. 5 48 77. 5 126 205 27 44 71 115 188 307 97 166 273 447 719 1180 116 199 328 546 862 1420

Rasio Kecepatan

8 12 20 30 50 80

6. 6. 7. 7. 7. 7.

5 6 0 1 1 4

1 2 3

2 4 6

2. 4 4. 8 7. 2

Arus Pengenal dibawah 6 Amper .(2) 10 .(2) .(2) 10 .(2) .(2) 10 .(2)

58 58 58

zt-130451023.doc

Tabel 3. Arus Leleh Fuse Link Tipe T Arus pengenal (rating) Fuse yang disarankan / disukai
Arus Pengenal fuse link Arus leleh Arus leleh Arus leleh 300 600 detik1 10 detik1 0,1 detik1 Minimum Maksimum Minimum Maksimum Minimum Maksimum Arus Pengenal yang tidak disarankan / tidak disukai / Intermediate 15 25 39 63 101 160 2 4 6 18 30 47 76 121 192 2. 4 4. 8 7. 2 20. 5 31 166 34. 5 52 296 57. 0 85 496 93. 0 138 812 152 226 1310 248 370 2080 Arus Pengenal dibawah 6 Amper .(2) 11 .(2) .(2) 11 .(2) .(2) 11 .(2) 199 355 595 975 1570 2500 100 100 `

Rasio Kecepatan

8 12 20 30 50 80 1 2 3

11.1 11. 8 12. 7 12. 9 13. 0 13. 0

Tabel 4 Arus Leleh Fuse Link Tipe T Intermediate Tidak disarankan. [1]
Arus Pengenal fuse link Arus leleh Arus leleh Arus leleh 1 300 600 detik 10 detik1 0,1 detik1 Minimum Maksimum Minimum Maksimum Minimum Maksimum Arus Pengenal yang disarankan / disukai 12. 0 19. 5 31. 0 50 80 128 200 310 480 14. 4 23. 4 37..2 60 96 153 240 372 576 15. 3 26. 5 44. 5 73. 5 120 195 319 520 850 23 40 67 109 178 291 475 775 1275 120 224 388 635 1010 1650 2620 4000 6250 144 269 466 762 1240 1975 3150 4800 7470

Rasio Kecepatan

6 10 15 25 40 65 100 140 200

10 11. 5 12. 5 12. 7 13 12. 9 13. 1 12. 9 13. 0

Tiga titik operasi fuse link untuk tipe K dan tipe T yang distandarkan dalam karakteristik arus waktu adalah : a. b. c. 300 detik untuk fuse link 100 amper dan dibawahnya , 600 detik untuk fuse 10 detik 0.1 detik seperti yang dirancang pada tabel 1 dan tabel 2. untuk fuse link tipe K 8 link 140 amper dan 200 amper

dan tabel tabel 3 dan tabel 4 untuk fuse link tipe T

PT PLN Udiklat Karakteristik arus waktu lebur minimum fuse link tipe K dan T yang dibuat semestinya tidak kurang dari nilai-nilai minimum yang ditampilkan dan karakteristik lebur minimum fuse link ini ditambah dengan toleransi dari pabrikan seharusnya tidak lebih besar dari nilai maksimum seperti pada tabel 1 dan tabel 2. untuk fuse link tipe K dan tabel 3 dan tabel 4 untuk fuse link tipe T Untuk memperoleh kerja yang selektif dapat dipergunakan sederetan fuse link dengan nilai arus pengenal yang disarankan (prefered continues rating) : 6 - 10 15 25 40 65 100 140 dan 200 amper., nilai arus pengenal kontinyu 8 12 20 30 50 dan 80 amper merupakan nilai arus pengenal yang tidak disarankan (non prefered countinues rating).sebagai standar intermediate. Nilai-nilai arus pengenal fuse ini disediakan dengan maksud agar setiap nilai arus penganal fuse link yang disarankan dapat diproteksi oleh nilai arus pengenal fuse link yang disarankan dengan nilai arus pengenal yang lebih besar dan setiap nilai arus pengenal fuse link yang tidak disarankan akan diproteksi oleh nilai arus pengenal fuse link yang tidak di sarankan dengan nilai arus pengenal yang lebih besar dalam beberapa kasus kerja selektif dapat juga diperoleh antara fuse link yang disarankan dengan fuse link yang tidak disarankan Nilai arus pengenal fuse link di bawah 6 amper : 1, 2 dan 3 sudah distandarisasi, nilai-nilai arus pengenal yang rendah ini tidak dimaksudkan untuk berkordinasi satu dengan yang lain namun koordinasi lebih baik dengan nilai arus pengenal 6 ampere atau diatasnya Karakteristik kerja fuse link fuse cutout type K , T dan H masing masing dapat dilihat pada gambar 5 , gambar 6 dan pada gambar 7 seperti berikut :

zt-130451023.doc

Kurva Leleh Minimum Kurva Leleh Maksimu Pemutusan Rampung

Gambar 5 Kurva Karakteristik Arus Waktu Fuse link tipe K ( kerja cepat )

10

PT PLN Udiklat

Gambar 6 Fuse link tipe T (kerja lebih lambat)

zt-130451023.doc

11

Kurva Leleh Minimum Kurva Leleh Maksimu Pemutusan Rampung

Gambar 7 Fuse link tipe H ( Tahan Surja )

Dari kedua Karakteristik kerja fuse ini masing-masing memiliki a. Kurva waktu leleh minimum ( minimum melting time ) 12

PT PLN Udiklat Yaitu kurva yang menunjukkan waktu yang dibutuhkan mulai dari saat terjadinya arus lebih sampai dengan mulai meleburnya pelebur untuk harga arus tertentu. b. Waktu busur Waktu antara saat timbulnya busur permulaam sampai saat pemadaman c. Kurva waktu pembebasan maksimum ( maximum clearing time ) Yaitu kurva yang menunjukkan waktu yang dibutuhkan dari saat terjadinya arus lebih sampai dengan padamnya bunga api untuk harga arus tertentu 2.1.6 Ketersediaan Tipe Dan Angka Pengenal Fuse Link Seiring dengan perubahan teknologi dan kebutuhan dalam peningkatan mutu pelayanan tenaga listrik. beragam tipe dan angka pengenal fuse cutout letupan (expulsion) yang diproduksi dan dijual dipasaran pada masa kini. Salah satu perusahaan pembuat fuse link menyediakan beberapa tipe yang diantaranya adalah tipe K, T, H, N, D, S untuk sistim distribusi dengan tegangan sampai 27 kV dan tipe EK, ET dan EH untuk sistem distribusi dengan tegangan sampai 38 kV dengan pengenal seperti terlihat pada tabel 5
Tabel 5 Ketersediaan tipe dan rating fuse link yang diproduksi pabrik
Arus Pengenal (A) 1-2-3-5-8 1-1,5-2-3-4-5-7-10-15-20 1 s/d 200 6 s/d 100 5 s/d 200 Arus kontinyu yang di ijinkan ( % Pengenal ) 100 100 150 100 100 150 150 150 150 100 Jenis waktu kerja Sangat lambat Sangat lambat Cepat Cepat Cepat Lambat Sangat lambat Cepat Lambat Sangat lambat Rasio Kecepatan Kerja 6 s/d 18 7 s/d 46

Tipe Fuse Link H ( Tahan Surja ) D - Timah (Tahan Surja ) K Timah ( Cepat ) K Perak ( Cepat ) N Timah ( Cepat ) T Timah ( Lambat ) S Tembaga ( Sangat Lambat ) EK ( Cepat ) ET ( Lambat ) EH (Sangat Lambat)

6 s/d 8,1 6 s/d 8,1 6 s/d 11 10 s/d 13.1 15 6 10 13 s/d s/d s/d 20 8.1 13.1

1 s/d 200 3 s/d 200 6 s/d 100 6 s/d 100 1,2,3,5

s/d 22

2.7. Standar PLN : SPLN 64 1985

zt-130451023.doc

13

Untuk keperluan peningkatan efisiensi dan tingkat keandalan pelayanan sistem di PT PLN (Persero), jenis,tipe dan karakteristik perlu dipilih Fuse Cut out yang sesuai dengan sistem dan kondisi yang ada di lingkungan PT PLN (Persero) sebagai perusahaan yang mengelola distribusi tenaga listrik. Untuk keperluan ini PLN merumuskan kebijaksanaanya dalam standar PLN : SPLN 64 : 1985 mengenai Petunjuk dan Penggunaan Pelebur Pada Sistem Tegangan Menengah dengan spesifikasinya adalah sebagai berikut: 1. Ketentuan Umum 1. Frekwensi kerja ditanahkan 3. Tingkat isolasi pengenal : a. Tegangan ketahanan impulse : polaritas positif dan negatif

: 50 Hz

2. Tegangan pengenal : 20 kV, 24 kV untuk sistim 20 KV 3 fasa dengan netral

Antara kutub - tanah dan kutub kutub ( TID ) 125 kV (puncak) Antara jarak isolasi dari rumah fuse 60 kV ( efektif ) Antara kutub - tanah dan kutub kutub ( TID ) 50 kV (efektif) Antara jarak isolasi dari rumah fuse 60 kV ( efektif )

b. Tegangan ketahanan sistim 50 Hz ( kering/ basah selama 1 menit )


Kondisi standar suhu, tekanan dan kelembaban 20 0 C, 760 mmHg dan 11 g /m3 Air 4. maks 37 0 C 5. Arus pengenal dalam amper dan arus pemutusan dalam kilo amper : fuse link Arus pengenal dan arus pemutusan pengenal fuse link dipilih dari seri R10 Bagi jenis pembatas arus dalam keadaan khusus bila diperlukan tambahan boleh diambil dari seri R 20 Seri R 10. : 1 - 1,25 1,6 2 2,5 3,15 4 6,3 8 dan kelipatan 10 nya Seri R 20 : 1 1,12 1,25 1,4 1,6 1,8 2 2,24 2,5 2,8 3.15 3,55 4 4,5 5 5,6 6,3 7,1- 8 9 6. Batas kenaikan suhu 14 dan kelipatan 10 nya Suhu : suhu udara maksimum 40
0

C suhu udara rata-rata 24 jam

PT PLN Udiklat Fuse link dan rumah fuse (fuse support) harus dapat dilewati arus pengenalnya secara terus menerus tanpa melewati batas kenaikan suhunya seperti tertera pada tabel 4 7. Untuk pasangan luar tekanan angin tidak melebihi 700 N / m 2 8. 9. Udara sekitar tidak tercemar oleh debu, asap, gas korosif, gas mudah terbakar uap atau garam Ketinggian dari permukaan laut tidak melebihi 1000 m

2. Spesifikasi Fuse Cutout Jenis Letupan ( Expulsion Fuse ) 1. Macam macam angka pengenal a. Pengenal fuse Tegangan pengenal : 24 KV Arus pengenal fuse dalam amper Seri R 10. ( A ) : 1 - 1,25 1,6 2 2,5 3,15 4 6,3 8 dan kelipatan 10 nya Seri R 20. ( A ) : 1 1,12 1,25 1,4 1,6 1,8 2 2,24 2,5 2,8 3.15 3,55 4 4,5 5 5,6 6,3 7,1- 8 9 Seri R 10. ( kA ) : 1 - 1,25 1,6 2 2,5 3,15 4 6,3 8 dan kelipatan 10 nya Seri R 20. ( kA ) : 1 1,12 1,25 1,4 1,6 1,8 2 2,24 2,5 2,8 3.15 3,55 4 4,5 5 5,6 6,3 7,1- 8 9 Frequensi pengenal : 50 Hz b. Pengenal rumah fuse ( Fuse Support ) Tegangan pengenal : 24 KV Arus maksimum pengenal : Nilai-nilai standar dari arus pengenal rumah fuse adalah : zt-130451023.doc 15 dan kelipatan 10 nya dan kelipatan 10 nya Kemampuan pemutusan pengenal dalam kilo ampere

50 A, 100 A, 200A, 400A. 1.

Tingkat isolasi pengenal Tegangan Ketahanan Impulse : Polaritas positif dan negatif Antara kutub - tanah dan kutub kutub ( TID ) 125 kV Antara jarak isolasi dari rumah fuse 145 kV ( puncak ) Tegangan Ketahanan sitim 50 Hz ( kering / basah selama 1 menit

(puncak)

2. )

Antara kutub - tanah dan kutub kutub ( TID ) 50 kV Antara jarak isolasi dari rumah pelebur 60 kV ( efektif )

(puncak)

c.

Pengenal pemikul batang pelebur ( fuse holder ) Tegangan pengenal : 24 KV Arus maksimum Seri R 10. ( A ) : 1 - 1,25 1,6 2 2,5 3,15 4 6,3 8 dan kelipatan 10 nya Seri R 20. ( A ) : 1 1,12 1,25 1,4 1,6 1,8 2 2,24 2,5 2,8 3.15 3,55 4 4,5 5 5,6 6,3 7,1- 8 9 dan kelipatan 10 nya Kemampuan pemutusan pengenal dalam KA Seri R 10. ( kA ) : 1 - 1,25 1,6 2 2,5 3,15 4 6,3 8 dan kelipatan 10 nya Seri R 20. ( kA ) : 1 1,12 1,25 1,4 1,6 1,8 2 2,24 2,5 2,8 3.15 3,55 4 4,5 5 5,6 6,3 7,1- 8 9 dan kelipatan 10 nya

d. Pengenal fuse link Arus pengenal Seri R 10. ( A ) : 16

PT PLN Udiklat 1 - 1,25 1,6 2 2,5 3,15 4 6,3 8 dan kelipatan 10 nya Seri R 20. ( A ) : 1 1,12 1,25 1,4 1,6 1,8 2 2,24 2,5 2,8 3.15 3,55 4 4,5 5 5,6 6,3 7,1- 8 9 e.

dan kelipatan 10 nya

Tegangan maksimum : 24 kV Karakteristik pelebur Batas kenaikan suhu

Anak dan rumah pelebur ( Fuse link dan Fuse holder ) harus dapat dilewati arus pengenalnya secara terus menerus tanpa melewati batas kenaikan suhunya seperti tertera pada tabel Batas Suhu dan Kenaikan Suhu berbagai komponen

Kelas pelebur jenis letupan dibagi dalam dua 1. 2. Fuse letupan (expulsion ) kelas 1

kelas yaitu : dipergunakan untuk proteksi sekelompok trafo berkapasitas besar Fuse letupan (eexpulsion ) kelas 2 dipergunakan untuk proteksi trafo-trafo kecil untuk proteksi kapasitor atau untuk keperluan seksionalisasi jaringan distribusi tegangan menengah dengan saluran udara f. Karakteristik waktuarus fuse link Pabrik harus menyediakan kurva-kurva yang diperoleh dari pengujian jenis karakteristik waktu sesuai yang ditentukan pada publikasi IEC 282-2 1974 . g. Konstruksi Pelebur yang dipilih pada umumnya tipe buka-jatuh (drop out) dimana tabung, fuse holder dan fuse linknya akan jatuh dan menggantung bila fuse linknya telah bekerja (putus) Pembukaan tanpa pemadaman dapat dilakukan dengan tambahan alat kerja kerja keadaan bertegangan (hot stick) yang dilengkapi dengan alat pemadam busur atau dengan dengan lengan pemutus pelebur. zt-130451023.doc 17

2.8. Pemasangan FCO FCO pada jaringan distribusi tegangan menengah biasanya dipergunakan pada saluran saluran percabangan untuk mengamankan saluran percabngan dari adanya gangguan hubung singkat dan untuk mengamankan sistim dari gangguan hubung singkat pada trafo distribusi . Konstruksi Pemasangan dari Fuse Cut Out ini dapat dilihat seperti gambar gambar berikut

Gambar 8 bagian bagian dari konstruksi FCO

A. B. C. D. E. F.

Porcelain insulator with higher Creepage distance and greater insulation properties. Upper eye bolt connector in Tin plated brass. Upper contact - silver plated ETP Copper. Galvanized steel hooks for load break tools & guiding the fuse tube during closure. Fuse tube holder coated with UV resistant paint, impervious to water & constructed in Epoxy resin with special arc quenching liner. Lower contact in ETP grade copper duly silver plated.

G. Crank shaft support / lower housing in Brass. H. Trigger in stainless steel. I. Stainless steel spring provides toggle action for fuse link ejector.

J. Lower eye bolt connector in Tin plated Brass. K. Crank shaft. L. Galvanized mounting Brackets.

18

PT PLN Udiklat

Gambar 9

Pemasangan FCO untuk Proteksi Saluran

A 36 AD

A 12 AD

A 36 AD

A 12 AD

zt-130451023.doc Gambar 11. Pelepasan / Pemasukan Fuse Holder FCO Dengan Load Buster

19

Gambar 12 Load Buster alat untuk membuka Fuse Holder Cut Out pada kondisi berbeban dengan peredam busur api

2.8. Cara Pemilihan Arus Pengenal ( Rating ) Fuse Link FCO a. Pemilihan Arus Pengenal Fuse link FCO untuk Proteksi Percabangan Pemilihan arus pengenal (Rating) fuse link Cut Out ( FCO ) untuk saluran cabang sangat penting untuk dilakukan dengan sebaik baiknya dalam rangka koordinasi sistem untuk memperoleh penampilan sistem yang optimal dengan harapan target perusahaan

20

PT PLN Udiklat dalam pencapaian kepuasan pelanggan dan peningkatan penjualan KWh dengan mengecilkan tingkat SAIDI dan SAIFI di harapkan dapat terpenuhi Salah satu metode pemutusan arus hubung singkat permanen (persistant) yang efektif adalah dengan memasang fuse pada tiap tiap percabangan atau anak cabangnya ( sub branch ) Kesalahan dalam menentukan pilihan rating fuse link tentu akan memupus harapan perusahaan. Sering kerjanya (Trip) PMT Penyulang di Gardu Induk oleh karena sering terjadi gangguan di saluran saluran cabang atau terutama saluran saluran anak cabang perlu dipertimbangkan untuk penempatan FCO yang sesuai dengan kebutuhan Salah satu yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan arus pengenal FCO untuk proteksi saluran cabang atau saluran anak cabang adalah besarnya nilai arus beban maksimum yang akan atau dapat mengalir pada saluran cabang atau anak cabang yang dimaksud . Sesuai dengan Standard kemampuan dari fuse link Cut out (FCO) yang diproduksi oleh sejumlah pabrik yang telah dikemukakan di fuse cut out dan pada pemilihan arus pengenal fuse link FCO. Untuk menentukan arus pengenal (rating) fuse link yang dipilih dapat dilakukan sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. Pilih fuse link Cut Out ( FCO ) yang sesuai dengan standar dalam hal ini PLN dalam SPLN 64 :1985 menentukan pilihan type K T dan H Bagilah Arus beban maksimum yang sudah ditentukan dengan kemampuan arus kontinue fuse link Koordinasi yang sebaik baiknya dengan alat proteksi yang lain (PMT, PBO dan Fuse Cut out ) baik yang berada di sisi sebelah hulu (sumber) dan sebelah hilirnya (beban) Perhatikan Batas ketahanan penghantar terhadap arus hubung singkat Perhatikan pula kemampuan pemutusan dari Fuse Cut Out khususnya bagi FCO yang terpasang dekat dengan sumber tenaga Dengan demikian fuse link cutout yang dipilih selain harus tahan terhadap arus beban, juga harus bisa dikoordinasikan dengan alat proteksi yang lain dan mempunyai zt-130451023.doc 21

kemampuan pemutusan terhadap arus hubung singkat yang mungkin terjadi dan dapat melindungi penghantar yang diamankan dari kerusakan akibat arus lebih. Pemilihan rating arus fuse link yang benar adalah tidak akan lebur atau terjadi kerusakan oleh gangguan sesaat (no-persistant) yang terjadi disebelah hilirnya karena recloser yang akan membuka rangkaian dengan operasi instantaneous tanpa memutuskan fuse link Pada saat gangguan tetap fuse link pertama pada sebelah sumber dari gangguan akan melebur dan membuka rangkaian setelah operasi recloser 2.9. Koordinasi Proteksi Antar Fuse Cut-0ut Penggunaan fuse link yang benar membutuhkan sejumlah informasi tentang karakteristik sistim dan karakteristik peralatan yang akan diproteksi seperti yang telah dituliskan mengenai dasar pemilihan fuse link dengan definisi : Bila dua atau lebih fuse link atau alat proteksi lain digunakan pada suatu sistim alat proteksi yang paling dekat dengan titik gangguan dari arah sumber disebut peralatan pemproteksi dan yang paling dekat selanjutnya disebut : backup atau diproteksi seperti digambarkan pada gambar 12 dibawah ini
Gardu Induk Protected (Back up) Fuse Link

Protecting Fuse Link

Protecting Fuse Link

Gambar 12

Koordinasi Fuse Dengan Fuse Salah satu aturan yang sangat penting dalam aturan penggunaan fuse link adalah : Clearing time maksimum dari fuse link pemroteksi tidak lebih dari 75 % waktu leleh minimum dari fuse link diproteksi. Prinsip ini untuk menjamin Fuse link pemroteksi akan memutuskan dan menghilangkan gangguan sebelum fuse link diproteksi rusak. Aturan lain yang harus dipegang adalah arus beban pada suatu titik pemakaian semestinya tidak lebih besar dari kapasitas arus kontinyu 22

PT PLN Udiklat yang dimiliki fuse link nya. Apabila arus melebihi kapasitasnya maka semestinya fuse link akan mengalami pemanasan lebih, membuat pemutusan dan rangkaian menjadi terpisah dari sistem Kapasitas arus kontinue fuse link ratarata adalah 150 % dari arus pengenalnya untuk fuse link type K dan type T dengan elemen pelebur dari timah dan 100% untuk fuse link tipe H, N dan type K perak seperti terlihat pada tabel 5 pada SPLN 64 : 85 Kemampuan hantararus terus menerus pelebur ( FCO ) jenis letupan ( expulsion) tipe T (lambat) dan tipe K (cepat) ditetapkan sebagai berikut : a. b. c. d. e. f. 1.5 kali arus pengenalnya, bagi pelebur dengan arus pengenal 6.3 A sampai dengan 100 A. 1.3 kali arus pengenalnya bagi pelebur dengan arus pengenal 125 A sampai dengan 160 A Sama dengan nilai arus pengenalnya bagi pelebur dengan arus pengenal 200 A Pelebur ltupan tipe H sama dengan arus pengenalnya Pelebur jenis Pembatas Arus ( limmiting Current) atau disebut MV Fuse ( Power Fuse) sama dengan arus pengenalnya Kemampuan hantararus terus menerus dari pelebur harus sama atau lebih besar dari arus beban maksimum terus menerus yang akan melewatinya Koordinasi operasi suatu proteksi dengan proteksi lain penting untuk dilasanakan untuk menjaga hal yang tidak diinginkan misalnya adanya pemutusan yang tidak di inginkan demikian juga koordinasi operasi proteksi fuse cut out dimana prinsipnya adalah : Memberi kesempatan pada fuse pemroteksi (protecting) pada sisi beban yang berada di depan terdekat dari titik gangguan untuk bekerja sepenuhnya (memutus rampung) terlebih dahulu sebelum fuse sebelah hulu (sisi sumber) yang diproteksi bertindak sebagai cadangannya mulai bekerja. Untuk memenuhi koordinasi hendaknya dipilih waktu leleh arus pengenal yang memiliki kerenggangan waktu minimum 25 % antara waktu pemutusan maksimum Fuse pemroteksi pada sisi terdekat dengan gangguan dengan waktu leleh minimum pelebur yang diproteksi atau dengan kata lain waktu pemutusan maksimum dari fuse pemroteksi hendaknya tidak melebihi 75 % dari minimum fuse yang diproteksi zt-130451023.doc 23

Untuk pelaksanaan koordinasi dapat dilakukan dengan menggunakan tabel 6 dan tabel 7 dan 8 seperti berikut

Tabel 6

Koordinasi Proteksi Antara Fuse Cutout

Tabel 7 Koordinasi Proteksi Antara Fuse Cutout Fuse link tipe T Koordinasi dengan Fuse Link Tipe T

24

PT PLN Udiklat

Tabel 8 Koordinasi Fuse link tipe H dengan tipe K dan tipe K dengan K

zt-130451023.doc

25

b. FCO untuk Proteksi Trafo Distribusi 1.

Pemilihan Arus pengenal ( Rating ) fuse link Dilihat dari karakteristik waktu arusnya proteksi trafo dibatasi dua garis kerja yaitu : a. Garis batas ketahanan pelebur yang merupakan batas ketahanan pelebur dimana pelebur FCO tidak boleh bekerja pada beban lebih yang masih dan harus dapat ditahan oleh trafo tersebut yaitu : Beban lebih ( Beban Maksimum ) Arus Beban Peralaihan ( Cold Load pick up ) Hubung singkat JTR Arus Masuk Awal ( Inrush ) trafo Arus asutan motor gangguanh yang dapat melebihi batas

b Garis Batas Ketahanan Trafo yang merupakan batas ketahanan trafo dimana pelebur ( FCO ) harus sudah bekerja / melebur tersebut adalah hubung singkat pada sisi primeratau sekunder trafo 2 Garis batas ketahanan pelebur bagi trafo distribusi umum ditentukan oleh titik titik berikut : 2 x In 3 x In 6 x In 12 x In 25 x In selama 100 detik ................beban lebih selama 10 detik ................Arus beban peralihan selama selama 1 detik ............... Arus beban peralihan 0.1 detik ...........Arus Inrush trafo

selama 0.01 detik ............Arus Inrush trafo

Bila Beban Trafo berupa motor listrik maka : 26

PT PLN Udiklat 3 6 x In x In selama 100 detik ................Arus beban peralihan selama selama 10 detik ............... Arus beban peralihan 1 detik ........ ...Arus Inrush trafo

10 x In

Ketahanan Pelebur terhadap surja kilat Bagi trafo trafo berdaya kecil dibawah 100 KVApemilihan pelebur harus memperhatikan ketahanan terhadap arus surja kilat : zt-130451023.doc 27

a. minimum 74 A selama 0.01 detik untuk surja kilat 2 KA b. minimum 370 A selama 0.01 detik untuk surja kilat 10 KA 4. Garis batas ketahanan trafo ditentukan oleh kondisi sebagai berikut : 2 6.7 x In x In 25 I2 t selama 300 detik ................beban lebih, arus Hs JTR selama 60 detik ................ beban lebih, arus Hs JTR selama 30 detik ................ beban lebih, arus Hs JTR selama 10 detik ..............Beban lebih, arus Hs JTR selama 2 detik ...............Hubung singkat pada trafo x In 4.75 x In

11.3 x In

= 1.250 ..........................................Hubung singkat pada trafo

3. Relai Arus Lebih Relai arus lebih adalah suatu relai yang bekerja berdasarkan adanya kenaikan arus yang melebihi nilai arus dan waktu setingnya. Relai arus lebih ini berfungsi sebagai proteksi terhadap gangguan hubung singkat, baik hubung singkat antar fasa maupun fasa ke tanah. Berdasarkan karakteristik waktu kerjanya relay arus lebih dapat dibagi menjadi : a. b. relay). c. relay). 3.1. Relai Arus Lebih Seketika Relai arus lebih seketika adalah relai arus lebih yang bekerja tanpa penundaan waktu, atau jangka waktu relai mulai saat arusnya pick-up sampai selesai sangat singkat (sekitar 20 sampai 100 ms). Relai arus lebih dengan tunda waktu terbalik (inverse time over current Relai arus lebih seketika (instanstaneous over current relay). Relai arus lebih dengan tunda waktu tertentu (definite time over current

.t detik

28

PT PLN Udiklat

I ampere
Gambar : Karakteristik Rele Arus Lebih Seketika

3.2.

Relai Arus Lebih Waktu Tertentu Jangka waktu relai mulai pick-up sampai selesai diperpanjang dengan nilai tertentu dan tidak tergantung besarnya arus yang menggerakkannya. Relai arus lebih jenis ini terdiri dari elemen arus lebih dan elemen relai waktu

.t detik

I ampere Gambar : Karakteristik Relai Arus Lebih Waktu Tertenu

3.3. Relai Arus Lebih dengan Tunda Waktu Terbalik Jangka waktu relai mulai pick-up sampai selesai kerjanya diperpanjang dengan nilai yang berbanding terbalik dengan besarnya arus yang menggerakkannya. .t detik

t1

zt-130451023.doc

t2

29
If1 If2

I ampere Gambar : Karakteristik Relai Arus Lebih Waktu Terbalik

Relai arus lebih waktu terbalik pada dewasa ini dalam suatu relai dapat memiliki beberapa jenis kurva yang dapat dipilih sesuai dengan kebutuhannya berkat kemajuan tekonologi elektronika dan micro prosesor Dimana kurva kurva tersebut dapat diubah kedalam bentuk bentuk persamaan diantaranya adalah : 1. Kurva standar Inverse 0.14 tp = TD. 0.02 = 1 M 2. Kurva Very Inverse 13.5 tp = TD. = M 1 3. Kurva Extremely Invers 80.0 tp = TD. 2 = M 1 4. Kurva long time inverse 80.0 tp = TD. 2 = M 1 Dimana . tp TD M = = = waktu kerja relai dalam detik Time Dial Seting Perkalian arus kerja relai (Pick-Up) M >1 ( 3.4 ) ( 3.3 ) ( 3.2 ) ( 3.1 )

4. P B O (Penutup Balik Otomatis)

30

PT PLN Udiklat Alat ini digunakan sebagai pelengkap untuk pengaman gangguan temporer dan juga untuk membatasi luas daerah yang padam akibat gangguan, dilihat dari peredam busur apinya PBO adalah : 1. PBO dengan media minyak 2. PBO dengan media Vaccum 3. PBO dengan media Gas SF6 Dilihat dari peralatan kontrolnya adalah : 1. PBO dengan kontrol hidroulick 2. PBO dengan kontrol elektronik Dilihat dari peralatan sensornya adalah : 1. PBO dengan sensor arus listrik 2. PBO dengan sensor tegangan 5. PENGAMAN TERHADAP TEGANGAN SENTUH 1. Pengertian. Jika suatu tegangan tersentuh tubuh manusia maka pada umumnya mengalir arus listrik kedalam tubuh yang berbahaya bagi tubuh sebenarnya bukan tegangannya melainkan arus listrilk yang mengalir didalam tubuh. Tegangan akan berbahaya akibat sentuhan dengan tegangaan itu menyebabkan mengalirnya arus listrik yang cukup besar didalam tubuh, jika tidak menyebabkan aliran arus tegangan tidak berbahaya. 2. Akibat arus listrik dalam tubuh Berdasarkan penelitian didapat kesimpulan bagaimana akibat arus mengalir dalam tubuh manusia digambarkan sebagai berikut :

zt-130451023.doc

31

Daerah 1 menunjukkan arus tidak menimbulkan reaksi apapun Daerah 2 Menunjukkan arus sudah terasa tetapi umumnya tidak menimbulkan bahaya Daerah 3 menunjukkan arus terasa dan belum mengakibatkan bahaya fibrilasi (denyuk jantung tak teratur). Daerah 4 menunjukkan arus terasa dan bisa terjadi bahaya fibrilasi dengan kemungkinan sampai 50 % Daerah 5 menunjukkan bahaya fibrilasi lebih dari 50 %. Dalam gambar ini terlihat bahaya akibat arus mengalir ( tidak hanya tergantung kepada besarnya arus tetapi juga lamanya arus mengalir ) 3. Tegangan Sentuh Yang Berbahaya Jika tegangan sentuh tersentuh bagian tubuh sedangkan kaki menginjak ketanah maka akan mengalir arus listrik krdalam tubuh yang besarnya tergantung dari tahanan tubuh dan tahan kontak pada kedua titik sentuhan. Bila tubuh tersengat aliran listrik besar arus listrik yang melewati tergantung kepada tegangan listrik yang mengenai dan lintasan yang dilalui arus

32

PT PLN Udiklat listrik dengan demikian beasar tahan tubuh manusia sangat dipengaruhi oleh keadaan kelembaban tubuh. Lintasan tubuh yang dilalui arus dan besar tegangan yang disentuh dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Tabel batas tegangan sentuh dan lamanya sentuhan maksimum Lama Sentuhan Maksimum (detik) 5 1 0,5 0,2 0,1 0,05 0,03 < 50 50 75 90 110 150 220 280 Besar Tegangan Sentuh
Arus Bolak-Balik (V) / harga efektif Arus Searah (V)

< 120 120 140 160 175 200 250 310

4. Cara Pengamanan Terhadap Tegangan Sentuh zt-130451023.doc 33

Sentuhan dengan tegangan dapat terjadi secara langsung atau tidak langsung. Pengamanan terhadap sentuhan langsung adalah pengamanan terhadap sentuhan pada bagian yang aktif dari suatu peralatan atau instalasi yang dalam kondisi normal bertegangan. Sedangkan pengaman terhadap sentuhan tidak langsung adalah pengamanan terhadap sentuhan pada badan peralatan atau instalasi yang menjadi bertegangan pada waktu ada gangguan (hubung singkat ke badan tersebut).kebadan instalasi yang bersifat konduktif. Pengaman terhadap sentuhan langsung : 1. 2. 3. 4. 5. Pengamanan dengan isolasi pada bagiuan bagian yang aktif pengamanan dengan selungkup atau sekat Pengamanan dengan penghalang Pengamanan dengan penempatan diluar jangkauan tangan Pengamanan tambahan dengan saklar pengaman arus ke tanah Pengamanan terhadap sentuhan tak langsung 1. Pengamanan dengan pemutusan otomatis 2. pengamanan dengan isolasi pengaman 3. pengamanan dengan alas isolasi 4. pengamanan dengan pemisah pengaman (trafo pemisah) 5. pengamanan dengan pentanahan 6. Pentanahan TR Fungsi Pentanahan TR Pentanahan TR berfungsi untuk menghindari bahaya tegangan sentuh bila terjadi gangguan atau kegagalan isolasi pada peralatan atau pada instalasi Dalam SPLN 3 1978 pentanahan netral pada jaringan tegangan rendah adalah pentanahan efektif yang mempunyai tahanan pentanahan dibawah 5 Semua JTR dan instalasi harus menggunakan sistem pentanahan netral pengaman ( PNP) PNP adalah sistem pentanahan dengan cara menghubungkan badan peralatan atau instalasi dengan hantaran netral yang ditanahkan (disebut hantaran nol) sehingga jika terjadi kegagalan isolasi tercegahlah bertahannya tegangan sentuh yang terlalu tinggi karena pemutusan arus oleh alat pengaman arus lebih 34

PT PLN Udiklat Tegangan sentuh yang timbul akibat gangguan atau kegagalan isolasi tergantung kepada pentanahan. Bekerjanya peralatan pengaman juga ditentukan oleh sistim pentanahan yang dipergunakan 5. PENGAMAN TERHADAP TEGANGAN LEBIH TRANSIENT 5.1. Sebab Timbulnya Tegangan Lebih Transient Dalam keadaan operasi, suatu sistem tenaga listrik sering mengalami gangguan yang dapat mengakibatkan terjadinya pelayanan-pelayanan daya. Gangguan tersebut lebih sering terjadi pada jaringan distribusi. Terjadinya gangguan adalah disebabkan oleh peninggian tegangan lebih, dimana tegangan itu melampaui tingkat ketahanan isolasi dari hantaran distribusi. Dengan demikian terjadi hubung singkat kawat-kawat fasa ke tanah yang dapat menyebabkan PMT membuka. Tegangan lebih ini antara lain ditimbulkan oleh : a. Sambaran petir pada hantaran distribusi baik merupakan sambaran langsung atau tidak langsung. b. Surja hubung Oleh sebab itu, kebutuhan tingkat ketahanan isolasi dari suatu sistem tenaga biasanya ditentukan oleh tegangan lebih akibat sambaran petir (tegangan lebih atmosfir ) dan tegangan lebih akibat transien pada waktu switching. 5.1.1. Tegangan lebih atmosfir ( petir ) Tegangan lebih ini timbul pada JTM karena JTM terkena sambaran petir baik langsung ( jarang terjadi ) maupun sambaran tidak lansung ( sering terjadi ), misalnya petir menyambar pohon atau benda lain yang lebih tinggi dari JTM lalu menginduksi ke JTM yang ada di sekitar lokasi sambaran petir. Teganganlebih atmosfir ini sekitar 345 kV. 5.1.2. Tegangan lebih hubung. zt-130451023.doc 35

Di dalam jaringan listrik ada dua macam yang dapat dibedakan, yaitu keadaan stasioner ( misalnya keadaan masa kerja suatu jaringan ) dan keadaan sementara atau proses menuju keseimbangan ( transien ), yang timbul pada waktu switching atau memutus arus. Proses transien adalah peralihan dari keadaan stasioner I ke keadaan stasioner II, yang hampir selalu menyebabkan ossillasi tegangan dan arus, karena itu dapat menimbulkan kenaikan tegangan G.

Trafo

Trafo

Gambar 1 : Keadaan I dan II dari distribusi daya

Karena adanya tahanan dalam jaringan, maka tegangan lebih diredam dan setelah beberapa waktu tertentu tegangan itu menghilang. Dalam gambar 1 digambarkan keadaan stasioner I dan II. Dalam keadaan I generator memberikan daya melelui suatu penghantar trafo terus ke pemakai melalui penghantar, melainkan dalam distribusi daya itu ada juga medan magnit yang mengelilingi penghantar-penghantar dan medan listrik antara penghantar-penghantar sendiri dan penghantar-penghantar dengan tanah.

36

PT PLN Udiklat Medan listrik dan medan magnet itu mengandung energi yang berpulsa sebesar harga rata-rata dari frekuensi yang 2 x sebesar frekuensi jaringan. Selama keadaan stasioner I, energi dari pembangkit itu disimpan pada trafo, penghantar dan pemakai.

Sesudah membuka sakelar S ( keadaan II ) generator itu tidak menyerahkan daya lagi kepada pemakai, tetapi generator itu tetap memberi energi medan listrik pada penghantar, walaupun energi tersebut hanya sedikit. Proses keseimbangan itu membawa keadaan energi dari keadaan I ke keadaan II, yang dimulai dengan proses switching ( pemutus arus ). Jadi dapat dikatakan, bahwa proses transien adalah proses keseimbangan energi antara dua keadaan stasioner yang masing-masing mempunyai muatan-muatan energi yang berbeda-beda. 6. KARAKTERISTIK TEGANGAN LEBIH 6.1. Tegangan Lebih Atmosfir ( petir ) Teori yang dapat diterima tentang petir yaitu bahwa awan terdiri dari daerah bermuatan positif dan negatif. Pusat-pusat muatan ini menginduksikan muatan berpolaritas berlawanan ke awan terdekat atau ke bumi. Gradien potensial di udara antara pusat-pusat muatan di awan atau antara awan dan bumi tidak seragam tapi gradien tersebar timbul pada bagian konsentrasi muatan tinggi. Dimana konsentrasi muatan tertinggi dan gradien tegangan tinggi dari awan ke bumi, timbul muatan pelepasan yang secara umum terjadi di awan. Ketika gradien mencapai batas untuk udara, udara di daerah konsentrasi stres tinggi mengionisasi atau tembus ( break down ). Muatan dari pusat muatan mengalir ke dalam kanal terionisasi, mempertahan-kan gradien tegangan tinggi pada ujung kanal dan melanjutkan proses tembus listrik. zt-130451023.doc 37 Karakteristik

Formasi suatu sambaran petir berikutnya adalah tembus listrik pro-gresif pada jalur busur api lebih kecil dari pada tembus listrik sesaat dan komplit di udara sepanjang kanal. Sambaran petir ke bumi mulai ketika suatu muatan sepanjang pinggir awan menginduksikan muatan lawan ke bumi, seperti diperlihatkan pada gambar 2. Lidah arah bawah menyebar dari awan ke arah bumi seperti diperlihatkan pada gambar 3. Jika pusat muatan kecil, semua muatan bisa saja dilepaskan selama lidah utama ( pilot leader ) terbentuk dan sambaran tidak lengkap. Ketika sambaran lengkap, muatan kecil tampaknya dikosongkan. Akibatnya lidah petir juga terhenti. Begitu pusat muatan baru terbentuk dan lidah petir terbentuk lagi secara cepat. Begitu lidah petir mendekati bumi, sambaran ke arah atas terbentuk, biasanya dari titik tertinggi di sekitarnya bila lidah petir ke arah atas dan ke arah bawah ertemu seperti terlihat pada gambar 4. Suatu hubungan awan ke bumi terbentuk dan energi muatan awan dilepaskan ke dalam tanah. Muatan-muatan dapat terinduksi ke jaringan listrik yang ada di sekitar sambaran petir ke tanah. Walaupun muatan awan dan bumi dinetralisir lewat jalur awan ke tanah, muatan dapat terjebak pada jaringan listrik, seperti terlihat pada gambar 5. Besar muatan yang terjebak ini tergantung pada gradien mula awan ke bumi dan jarak sambarangan terhadap jaringan. Tegangan terinduksi pada jaringan listrik dari sambaran ke tempat jauh, akan menjalar sepanjang jaringan dalam bentuk gelombang berjalan sampai dihilangkan oleh pengurangan ( atennuasi ), kebocoran, isolator rusak/ pecah, atau arrester beroperasi. Bila sambaran langsung ke jaringan listrik, tegangan naik secara cepat pada titik kontak. Tegangan ini juga menjalar dalam bentuk gelombang berjalan dalam dua arah dari titik sambaran, berusaha menaikkan potensial jaringan terhadap tegangan lidah petir arah ke bawah. Tegangan ini melampaui ketahanan tegangan jaringan terhadap tanah dari isolasi sistem dan jika tidak cukup dilengkapi dengan pengaman tegangan lebih, dapat mengawali kerusakan isolasi. Kerusakan isolasi ( kegagalan ), atau operasi arrester lebih baik, akan di bentuk suatu jalur dari kawat jaringan ke tanah untuk sambaran petir. Ini menyempurnakan mata rantai antara awan dan bumi untuk melepas 38

PT PLN Udiklat energi awan dalam bentuk arus surja. Karena titik hubung jaringan ke tanah makin jauh dari titik kontak sambaran, sebagian kawat jaringan dapat membentuk suatu bagian dan jurus arus petir. Arrester surja, dengan karakteristik tembus listrik terkontrol, loncatan listrik (spark over) terjadi pada tegangan di bawah ketahanan isolasi sistem. Loncatan listrik yang rendah, tahanan yang rendah selama arus surja mengalir menyebabkan arrester surja begitu penting dalam sistem distribusi. Tegangan yang dihasilkan oleh sambaran petir secara karakteristik naik mencapai nilai puncak secara cepat dan kemudian menurun menuju nol pada laju yang sangat lambat. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tegangan puncak biasanya beberapa mikro detik atau kurang. Waktu ekor gelombang dapat mencapai sepuluh atau ratusan mikro detik. Tegangan pada penghantar jaringan distribusi yang tersambar petir tidak seragam kenaikannya menuju puncak gelombang. Ketika lidah sambaran mendekati penghantar, terjadi induksi muatan. Ketika lidah ini mendekati penghantar pada kecepatan 0,3048 m / mikrodetik, terjadi kenaikan tegangan induksi. Bila sambaran petir mencapai penghantar, kenaikan tegangan menjadi lebih cepat. Karena arrester yang biasa dipakai pada jaringan distribusi mempunyai tegangan pengenal yang rendah, maka bisa saja arrester beroperasi pada tegangan terinduksi tersebut. Jadi perbandingan kenaikan tegangan terhadap beroperasinya arrester akan lebih rendah pada JTM dari pada JTT. Untuk mengetahui ketahanan tegangan isolasi terhadap tegangan petir, dilakukan uji tegangan impuls di laboratorium. Bentuk gelombang tegangan impuls ini distandarisir (SPLN) 1,2 x 50 mikrodetik, seperti terlihat pada gambar 6, bentuk gelombang dan besar arus sambaran petir juga bervariasi. Hal ini juga telah distandarisir untuk gelombang arus uji yaitu naik dari nol mencapai nilai puncak dalam 8 mikrodetik dan menurun mencapai nilai puncak dalam 20 mikro detik sejak awal. zt-130451023.doc 39

+ + + + + ++

+ + + ++

+++++++++ ++++++++ + + Gambar 2 : Muatan sepanjang pinggir awan menginduksi muatan lawan pada bumi

++++++++

++++++

Gambar 3 : Lidah petir menjalar ke arah bumi 40

PT PLN Udiklat

6.2. Tegangan Surja Hubung

Karakteristik Ketika suatu sakelar dalam rangkaian listrik dibuka atau ditutup akan terjadi suatu transien hubung. Hal serupa juga akan terjadi pada JTM atau JTT. Kombinasi dari kapasitansi, induktansi dan resistansi JTM secara umum sedemikian rupa sehingga teganga lebih surja hubung yang merusak isolasi sistem tidak terjadi. Akan tetapi tegangan lebih surja hubung yang dapat merusak isolasi sistem dapat terjadi akibat dari pukulan balik ketika proses buka/tutup (switching) saklar bangka kapasitor perbaikan faktor daya. Pukulan balik yang terjadi pada saat buka/tutup saklar kapasitor menunjukkan suatu pemakaian tidak sempurna dari saklar. Mengatasi masalah ini sebaiknya dengan cara mendapatkan saklar yang bebas pukulan balik dan mencegah tegangan lebih dari pada mencoba mempro-teksinya. Ferroresonansi dapat menghasilkan tegangan lebih merusak pada JTM. Tegangan lebih ini tidak benar-benar transien ( peralihan ) karena bersiklus dan tetap ada dalam periode panjang. Tegangan lebih ini dapat terjadi ketika kapasitansi dienerjais secara hubungan seri dengan kumparan primer dari trafo tanpa beban atau berbeban rendah. Ini biasanya terjadi ketika proses hubung ( switching ) sebagai akibat dari suatu pelebur putus atau suatu penghantar JTM putus. Penyelesaian dari masalah ini adalah merubah hubungan jaringan atau merevisi operasi saklar ( switching ) sehingga tegangan lebih tidak dapat terjadi. Cara ini tidak dapat mengamankan isolasi terhadap tegangan lebih tersebut.

7. PENGAMANAN TERHADAP TEGANGAN LEBIH 7.1. dari Saluran Distribusi ( Metode Lama ). Pengaman saluran distribusi menurut metode lama adalah merupakan pengembangan dari metoda yang digunakan pada saluran transmisi. Ada beberapa metoda pengaman yang digunakan metoda lama ini, yaitu kawat tanah, kawat netral dan sela batang. 7.1.1. Kawat Tanah ( Overhead Statics ) zt-130451023.doc 41 Pengaman Surja

Metoda pertama yang digunakan untuk pengaman saluran distribusi adalah kawat tanah. Metoda ini yang biasanya digunakan pada saluran transmisi, memerlukan ketahanan impuls isolasi sangat tinggi. Untuk saluran distribusi hal ini tidak mungkin dipenuhi, khususnya pada tempat-tempat peralatan seperti transformator. Kriteria utama perencanaan dalam mengevaluasi kawat tanah adalah persoalan back flash over ke tanah. Penggunaan kawat tanah memerlukan tahanan pentanahan yang sangat rendah untuk setiap struktur dan ketanahan impuls isolasi yang tinggi. Pada sistem multi grounded Y, kawat netral dihubungkan pada banyak titik tanah, yang selanjutnya berlaku mempengaruhi arus petir pada seluruh peralatan di saluran. Dan hasilnya tidak seberapa untuk mengamankan saluran dari flash over bila arus petir yang besar mengenai transformator dan peralatan-peralatan. 7.1.2. Kawat Netral Dalam hal ini kawat netral ditempatkan di atas fasa menggantikan kedudukan kawat tanah. Persoalan sama yang mencakup back flash over juga tetap terjadi. Penelitian yang telah dilakukan ( di Australia ) menunjukkan bahwa baik kawat tanah ( di atas kawat fasa ) maupun kawat netral ( di bawah kawat fasa ) keduanya meredam sedikit gelombang surja. Kawat netral di atas kawat fasa ternyata tidak ekonomis atau tidak merupakan metoda yang baik untuk melindungi peralatan terhadap sambaran petir. 7.1.3. Sela Batang. Latar belakang dari metoda ini adalah apabila saluran harus juga flash over, maka buatlah ketahanan impuls dari saluran tinggi dan buat pada beberapa titik dari saluran ketahanan impuls yang lebih rendah tersebut yaitu pada sela batang. Hal ini memerlukan beroperasinya pemutus daya (circuit breaker) untuk menghilangkan gangguan 50 Hz itu. Ada beberapa persoalan dengan sela batang ini pertama adalah jarak sela batang karena hal ini terutam menentukan flash over. Dengan adanya arus 42

PT PLN Udiklat gangguan yang besar bunga api pada sela batang ( rod gap ) bunga api pada alat tersebut dapat merusak peralatan di sekitarnya.

7.1.4. Arrester Pada Trafo Distribusi Terminal pentanahan arrester dihubungkan dengan terminal trafo dan terminal pentanahan netral trafo ( netral ditanahkan langsung ) jika tidak ditanahkan bersama maka arus surja akan mengalir ke tanah melalui impedansi Z menyebabkan drop tegangan pada impedansi tersebut sehingga timbul tegangan tinggi pada kumparan primer trafo karena kumparan sekunder dan tangki mempunya beda potensial terhadap tanah maka timbul beda potensial di antara keduanya. Jika ditanahkan bersama seperti Gambar 8, maka akan menurunkan drop tegangan pada impedansi tersebut. Sehingga menghilangkan beda potensial yang dihasilkan drop tegangan pada impedansi tanah, lihat gambar 9. Jika interkoneksi ( solid ) antara tangki dan titik pentanahan bersama tidak diizinkan dapat digunakan cela antara titik pentanahan dan netral kumparan sekunder, lihat gammbar 10. Hal ini menyebabkan arus surja dilewatkan melalui beberapa impedansi pentanahan paralel. Dan bahaya terhadap kerusakan isolasi diminimalkan walaupun dalam koneksi arus surja besar dan impedansi pentanahan tinggi. Arrester dipasang pada tiap-tiap penghantar baik pada trafo tiga fasa maupun satu fasa untuk sistem Y ditanahkan, lihat gambar 11 untuk seistem delta arrester pada jaringan tidak ditanahkan. Tegangan pada arrester adalah tegangan fasa-fasa jika salah satu penghantar mengalami gangguan fasa ke tanah dan arrester tetap harus dipasang tiap fasa. Untuk trafo satu fasa juga memerlukan arrester pada tiap kawat fasa di sisi primer seperti ditunjukkan pada gambar 12. zt-130451023.doc 43

7.1.5. Arrester pada SUTM Penempatan arrester pada jaringan dilaksanakan sebagai berikut : Arrester sedapat mungkin dipasang pada titik percabangan dan pada ujungujung saluran yang panjang, baik saluran utama maupun saluran percabangan, jarak arrester yang satu dan yang lain tidak boleh lebh dari 500 meter. Jika terdapat kabel tanah sebagai bagian dari sistem, arrester sebaiknya dipasang pada ujung kabel. Arrester yang dipasang pada tiap kawat fasa. 7.1.6. Arrester SKTM Saluran kabel bawah tanah tahan terhadap gangguan petir jika saluran kabel bawah tanah mulai dari generator sampai pelanggan. Akan tetapi jika SKTM digabung dengan SUTM, maka petir dapat masuk ke SKTM melalui SUTM tiang naik. Jadi arrester harus dipasang pada tiang naik dan di tiap kawat fasa.

44

PT PLN Udiklat

Gambar 14 : Tegangan pada SKTM akibat sambaran petir pada SUTM

8. KEGAGALAN PENGAMANAN DAN SEBAB-SEBABNYA. Pengaman tegangan lebih yang terbaik adalah arrester jika pengaman terpasang tapi alat yang diamankan juga mengalami kerusakan saat terkena sambaran petir baik langsung maupun tidak langsung disebabkan oleh kekurangan, antara lain : a. Arrester. Sambungan kawat arrester pada terminal arrester tidak baik ( tidak cukup kencang ) Sambungan kawat arrester pada kawat fasa jaringan tidak baik ( tidak cukup kencang ) Sambungan kawat arrester ke terminal tanah arrester tidak baik (tidak cukup kencang) Sambungan kawat pentanahan arrester yang satu dengan kawat pentanahan arrester lain tidak baik ( tidak cukup kencang). zt-130451023.doc 45

Sambungan kawat pentanahan arrester dengan kawat batang / batang pentanahan tidak baik ( tidak cukup kencang ). Tahanan pentanahan arrester lebih besar dari 1 ohm. Jarak arrester terlalu jauh dari trafo. Jarak panjang arrester pada tiang yang satu dengan arrester pada tiang yang lain terlalu jauh. Arrester tidak bekerja optimal, yaitu walaupun tidak ada petir menyambar langsung maupun tidak langsung, langsung arrester bekerja. Atau juka ada sambaran dan arrester bekerja tapi alat yang diamankan juga rusak, ini disebabkan oleh jarak celah arrester tidak sesuai atau arrester sudah rusak, karena itu perlu diganti dengan yang baik/baru. Jika arrester meledak karena terkena sambaran langsung atau tidak langsung baik pada JTM maupun pada arrester maka berarti arrester tidak dapat bekerja, tidak dapat merubah dirinya menjadi penghantar lagi jadi arrester harus diganti.

b. Bila turun (trafo, isolator, bushing) Rodgap/Sparkgap. posisi dan jarak antara rod gap pada terminal sekunder trafo GI maupun pada terminal primer trafo distribusi perlu dikembangkan ke posisi dan jarak semula yang benar. Rod gap perlu dibersihkan dari akumulasi kotoran/polusi bushing : tua, kotor, retak rambut dan lain-lain. Isolator. Kotor, jadi perlu dibersihkan dari akumulasi kotoran / polusi. Retak/pecah, perlu diganti. Trafo : Trafo sudah tua/isolasi kumparan menurun tahanan isolasinya. Minyak trafo kotor, banyak mengandung bahan konduktif, endapan dan uap/air. 46 karbon

PT PLN Udiklat Kawat tanah : Jarak kawat tanah dari kawat fasa kurang dari standar ( sudut perlindungan maksimum 45o ). Terjadi perubahan konstruksi JTM karena gangguan alam, tiang miring, dll. Pentanahan kawat tanah tidak sempurna ( lebih besar dari 1 ohm ) misalnya sambungan pada konnektor longgar, elektroda bumi berkarat, perubahan kondisi tanah, dll. a. Perencanaan salah yaitu penempatan pengaman, jenis/ukuran pengaman, koordinasi isolasi salah pemilihan dan survey tahanan tanah tidak akurat. b. Pemeliharaan tidak baik pada jaringan, trafo, penghantar maupun pada alat pengaman. Minyak trafo kotor, banyak mengandung bahan konduktif, endapan dan uap/air. karbon

zt-130451023.doc

47