Anda di halaman 1dari 16

BAB I Pendahuluan

Kata Catarrh berasal dari bahasa yunani katarrhein. Katar yang berarti turun dan rhein yang bererti mengalir. Jika diartikan dapat berarti lapisan eksudat yang tebal yang terdiri dari mukus dan sel darah putih yang disebabkan oleh pembengkakan dari membran mukosa dikepala yang merupakan respon dari suatu infeksi. Ini merupakan gejala peradangan yang biasa ditemukan pada flu dan batuk, tetapi dapat pula ditemukan pada pasien dengan infeksi dari adenoid, infeksi telinga tengah, sinusitis atau tonsilitis. Keluhan yang sering tampak pada tuba katar adalah tersumbatnya hidung dan tuba yang menyebabkan penderita dapat mendengar suara sendiri. Beberapa usaha yang terus dikembangkan adalah bagaimana mengurangi atau menghilangkan sumbatan tuba tersebut. 1,2,3 Pada tahun 1704, Valsava menemukan otot yang berfungsi untuk membuka tuba Eustachius dan menyangka bahwa otot ini aktif sebagai bagian dari proses pendengaran. Maneuver Valsava dinamakan atas namanya setelah ia menemukan cara untuk mengeluarkan pus dari telinga tengah ke telinga luar dengan cara ditiup oleh penderita itu sendiri. Pada tahun 1724, Guyot adalah orang pertama yang mencoba untuk melakukan kateterisasi lewat hidung, dan Wathen pada tahun 1756, telah melanjutkan studinya dan menggambarkan secara detail bagaimana prosedurnya. 1,2,3 Pada tahun 1853, Toynbee menemukan bahawa, saat beristirahat tuba Eustachius tertutup dan terjadi suatu penyerapan udara yang konstan pada ruang telinga tengah. Tuba tersebut hanya dapat terbuka pada waktu menelan, dan udara diperbolehkan masuk pada waktu itu. Ia percaya dengan melakukan maneuver ini, akan membuat tekanan positif pada ruang telinga tengah. 1,2,3 Banyak usaha telah dikembangkan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan gejala ini. Tetapi pada referat ini akan dibahas apa penyebab terjadinya tuba katar sehingga cara penatalaksanaannya.1,2,3

BAB II TUBA KATAR


Sebelum membahas mengenai tuba katar lebih lanjut ada baiknya kita mengetahui struktur dari tuba Eustachius itu sendiri. Tuba Eustachius, yaitu sebuah bangunan yang berbentuk tabung yang berjalan dari telinga tengah ke nasofaring. Tuba Eustachius telah dikenal sejak zaman yunani kuno oleh Aristoteles, tetapi kemudian dinamapakai oleh Bartolomeus Eustachius (1520-1574) sebagai ketua ahli ekonomi di Roma dan orang yang pertama kali mendeskripsikan anatomi tuba Eustachius. Hal ini tidak dipublikasi sehingga 200 tahun kemudian setelah kematiannya, didapatkan satu buku yang berjudul Epistola de Audius Organis 1,2,3 Fungsi tuba Eustachius adalah untuk proteksi, aerasi dan drainase telinga tengah. Bila terjadi oklusi dapat menyebabkan peradangan pada telinga tengah (otitis media). Tuba Eustachius juga disebut tuba otofaringeal kerana menghubungkan telinga ke faring. 1,2,3

Tuba Eustachius Anatomi

Gambar 1 : Struktur tuba Eustachius

Tuba Eustachius terdiri dari tulang rawan pada dua pertiga kearah nasofaring dan sepertiganya terdiri atas tulang. Tuba biasanya dalam keadaan tertutup dan baru terbuka apabila oksigen diperlukan masuk ke dalam telinga tengah atau pada saat mengunyah, menelan dan menguap. Otot-otot dari sistem tuba Eustachius membantu membuka dan menutup tuba agar berfungsi sebagaimana mestinya.

Gambar 2 : Tuba Eustachius pada anak dan dewasa

Panjang tuba pada orang dewasa sekitar 36mm dan terbentang pada bagian depan, bawah dan medial dari dinding anterior kavum timpani terhadap nasofaring. Aksis tuba membentuk sudut 30o terhadap bidang horizontal dan 45o terhadap bidang sagital median. Daerah tuba dibahagi menjadi dua, yaitu bagian tulang dan kartilago. Bagian tulang merupakan bagian posterior sepertiga tuba, dilapisi oleh mukosa, panjangnya sekitar 12mm, berhubungan langsung dengan timpani anterior dan hampir selalu dalam keadaan terbuka, kemudian kebawah dan menyempit disebut istmus. Bagian tulang hanya mempunyai peran
3

sedikit atau bahkan tidak ada dalam mekanisme pembukaan tuba. Fungis istmus adalah membantu melindungi telinga tengah dari sekret nasofaring. Schwartzbart (1994) mengatakan bahawa bagian tulang dari tuba disebut sebagai protimpanum. 1,2,3 Bagian kartilago merupakan bagian anterior dua pertiga tuba yang memiliki panjang sekitar 24mm yang terdiri dari jaringan fibrokartilago berbentuk triangular dengan diameter vertikal 2-3 mm dan diameter horizontal 3-4 mm, pada bagian apex akan menyempit yang juga merupakan bagian tersempit dari tulang. Ke bawah secara langsung menjadi membran mukosa dari bagian lateral nasofaring. Umumnya bagian kartilago ini dalam keadaan tertutup oleh tekanan jaringan tuba Estachius. 1,2,3 Tuba Eustachius dilapisi oleh mukosa yang mengandung sel-sel goblet dan kelenjar mukus. Lapisan paling luar adalah epitel bersilia yang bergerak ke arah nasofaring. Makin dekat ke telinga tengah terlihat sel-sel goblet dan kelenjar mukus semakin berkurang dan mukosa silia juga menghilang. Jumlah sel goblet pada dasar tuba lebih banyak dibandingkan bagian atap, dengan konsentrasi terbanyak berada di area tengah tuba bagian kartilago. Bagian superior tuba banyak berperan pada ventilasi telinga tengah, sedangkan bagian inferior telinga tengah berfungsi sebagai proteksi telinga tengah. Mekanisme pertahanan mukosilier tuba Eustachius menetap segera setelah lahir.1,2,3 Pada bagian inferolateral tuba terdapat lapisan lemak yang disebut lemak Ostman yang ikut membantu proses penutupan tuba. Selain itu, lemak ini membantu melindungi tuba Eustachius dan telinga tengah terhadap sekret nasofaring. 1,2,3 Bagian kartilago dari tuba ditunjang oleh otot-otot yang berfungsi untuk mengontrol patensi tuba. Otot-otot tersebut adalah tensor veli palatine, levator veli palatine, salphingopharyngeus dan tensor tympani. 1,2,3 Otot tensor veli palatine berasal dari dinding tulang fosa scaphoid dan dari seluruh panjang ujung tulang rawan yang pendek yang membentuk bagian atas dinding depan dari tuba kartilago. Otot memanjang ke bawah, membentuk tendon yang pendek yang membelok ditengah-tengah dan sekeliling pterygoid humulus. Tensor veli palatine memisahkan tuba Eustachius dari gangliaon optik, saraf mandibular dan cabangnya, korda timpani dan arteri meningea media. 1,2,3 Salphingopharingeus adalah otot lembut yang menyentuh pada ujung faring dari tuba Eustachius dan bercampur dengan otot bawah palatofaringeus. Levator veli palatine berasal
4

dari 2 bagian, antara lain bagian bawah permukaan kartilago tuba dan bagian bawah permukaan tulang petrosa. Pada awalnya, levator terletak dibawah tuba kemudian menyilang ke tengah dan bergabung menjadi palatum mole. 1,2,3 Persarafan berasal dari cabang faringeal ganglion sfenopalatina yang merupakan cabang dari nervus maksilaris (V2) yang mensuplai persarafan ostium. Saraf spinosus berasal dari saraf mandibula (V3) yang mensuplai persarafan bagian kartilago. Plexus timpani berasal dari nervus glossopharingeal mensuplai persarafan bagian tulang tuba Eustachius. 1,2,3

Fungsi fisiologi dari Tuba Eustachius


Fungsi fisiologi dari Tuba Eustachius adalah : 1,2,3 Ventilasi atau pengaturan tekanan dari telinga tengah Perlindungan telinga tengah dari sekresi nasofaring dan tekanan suara Pembersihan dan penyaluran sekresi telinga tengah ke nasofaring

Ventilasi dan regulasi tekanan

Gambar 3 : Oklusi tuba yang menyebabkan perbedaan tekanan udara

Tuba Eustachius yang normal pada saat istirahat menutup, kira-kira ada sedikit tekanan udara telinga tengah negatif. Pembukaan yang berulang dari tuba Eustachius secara aktif mengatur tekanan atmosfir agar tetap seimbang. 1,2,3 Tuba Eustachius membuka pada saat menelan atau menguap dengan kontraksi otot veli palatine. Tensor veli palatine yang tidak berfungsi efektif pada palatum durum menyebabkan disfungsi tuba Estachius. Cara kerja dari otot veli palatine masih tidak jelas. Kontribusi pada permukaan tuba Eustachius masih dipertanyakan. 1,2,3 Fungsi ventilasi dari tuba Eustachius anak kurang efisien daripada pada orang dewasa. Infeksi sistem pernafasan bagian atas yang berulang-ulang dan pembesaran adenoid pada anak-anak akan menyebabkan terjadinya penyakit telinga tengah pada anak. Bagaimanapun, pada saat anak tumbuh, fungsi tuba Eustachius membaik dan sebagai bukti berkurangnya frekuensi terjadinya otitis media dari masa kanak-kanak menjadi dewasa. 1,2,3 Normalnya, tuba Eustachius membuka berulang-ulang, secara stabil mengatur tekanan bagian tengah antara +50 mm dan -50 mm H2O. Tekanan di atas dan di bawah +50 mm 50mm H2O, tidak mengindikasikan akan terjadi penyakit telinga tengah. Sekitar 1 ml udara dapat diserap dari bagian tengah telinga dalam jangka waktu 24 jam. Sel-sel sistem mastoid berfungsi sebagai penyimpanan gas bagian tengah telinga. 1,2,3

Perlindungan Tuba Eustachius menyalurkan secara normal sekresi dari telinga tengah dengan sistem pengangkutan mukosiliari dan dengan berulangnya pembukaan atau penutupan aktif tuba yang memperbolehkan sekresi mengalir ke nasofaring. 1,2,3 Kekacauan dari sistem penutupan bagian tengah telinga, seperti perforasi membran timpani atau setelah operasi mastoid, terkadang menyebabkan refluks dari sekresi nasofaring ke dalam tuba menyebabkan otorhea. Demikian juga dengan mengenduskan hidung yang kuat dapat menciptakan tekanan tinggi pada nasofaring menuju telinga tengah. 1,2,3 Sebaliknya, tekanan negatif bagian tengah telinga seperti saat berada dipesawat atau saat penyelaman dapat menyebabkan penyumbatan tuba Eustachius. Hal ini dapat menyebabkan stagnasi dari sekresi dan efusi berkumpul ditelinga tengah menyebabkan barotrauma. 1,2,3
6

Bagian tengah juga diproteksi oleh pertahanan lokal imunologi dari epitel respiratori dari tuba Eustachius, begitu juga pertahanan mukosiliari yang melakukan fungsi pembersihan. Protein surfaktan imunoreaktif yang ada di paru diisolasi dari bagian tengah telinga dari hewan dan manusia ternyata mempunyai fungsi proteksi yang sama pada bagian tengah telinga. 1,2,3

Drainase Penyaluran sekresi dan pengeluaran benda asing dari telinga tengah dikerjakan oleh sistem mukosiliari dari tuba Eustachius. Mukosa bagian tengah telinga bekerjasama dengan otot tuba Eustachius melakukan fungsi penbersihan dan juga membantu mengatur tekanan permukaan didalam lumen tuba. 1,2,3 Model flask yang diperkenalkan oleh Bluestone dan rekannya menjelaskan lebih baik konfigurasi dari anatomi tuba Eustachius dalam proteksi dan drainase telinga tengah. Pada model ini, tuba Estachius dan sistem bagian tengah telinga menyerupai botol dengan leher yang panjang dan sempit. Mulut dari botol mempresentasikan ujung nasofaring, bagian sempit leher mempresentasikan istmus, bagian tengah telinga dan sistem mastoid mempresentasikan badan dari botol tersebut. 1,2,3 Cairan yang mengalir melalui leher botol tersebut tergantung dari tekanan pada ujung botol, radius dan panjang dari leher botol serta kekentalan dari cairan. Aliran cairan berhenti pada bagian leher yang sempit kerana diameternya yang kecil, juga kerana tekanan udara positif pada ruang dari botol. Tetapi hal ini tidak menjadi pertimbangan tugas dari otot tensor veli palatine pada perbukaan nasofaringeal orifisium tuba Eustachius. 1,2,3 Tuba Eustachius dapat tersumbat kerana beberapa alasan, penyebab yang paling umum adalah infeksi saluran pernafasan bagian atas. Infeksi sinus atau alergi dapat juga menyebabkan pembengkakan tuba Eustachius, sebagai akibatnya hidung yang tersumbat dapat menyebabkan tuba Eustachius juga tersumbat. Pada anak sangat rawan terjadi penyumbatan tuba karena anatomi tuba pada anak lebih sempit dan lebih dekat ke adenoid. Itulah sebabnya mengapa pada anak-anak dengan otitis media kronik sering

direkomendasikan untuk dilakukan operasi adenoid. Jarang sekali, massa atau tumor didasar tengkorak atau nasofaring dapat menyebabkan penyumbatan tuba Eustachius. 1,2

Permasalahan tuba Eustachius dan infeksi terkait merupakan permasalahan yang biasa dijumpai dokter. Banyak orang memiliki masalah kronis dalam pengaturan tekanan telinga tengah yang biasanya dijumpai disebabkan mulai dari alergi sampai tuba Eustachius yang terlalu sempit. Pasien sering mengeluh telinga terasa penuh, telinga seperti berbunyi klik atau cracking, kehilangan pendengaran ringan (atenuasi suara), telinga berdengung (tinnitus), dan terkadang gangguan keseimbangan. 1,2 Perubahan ketinggian yang cepat dan tekanan udara disamakan melalui gendang telinga dengan fungsi normal tuba Eustachius. Tuba yang sehat membuka sehingga cukup untuk menetralkan perubahan tekanan ini. Yang mana terjadi pada saat di pesawat, tekanan udara menjadi naik pada saat pesawat tersebut turun. 1,2 Orang dengan penyumbatan tuba Eustachius dapat menyebabkan rasa tuli yang diakibatkan perubahan tekanan udara yang mendorong gendang telinga kedalam sehingga dapat terisi dengan darah atau cairan. Dan mereka yang mengalami gangguan fungsi tuba dapat pula merasakan ketika mereka berada didalam elevator, berkendara dipergunungan atau menyelam.1,2 Proses peradangan Tuba katar merupakan hasil dari reaksi peradangan. Reaksi peradangan sebenarnya merupakan suatu proses dinamik dan kontinu pada kejadian-kejadian yang terkoordinasi dengan baik. Untuk memunculkan manifestasi suatu reaksi peradangan, sebuah jaringan hidup harus memiliki jaringan fungsional. Pada jaringan dengan nekrosis yang luas, maka reaksi peradangan tidak ditemukan dibagian tengah jaringan, tapi dibagian tepinya, yaitu diantara jaringan mati dan jaringan hidup yang memiliki sirkulasi utuh. 4 Selain itu, jika terjadi cedera dan menyebabkan kematian mendadak pada penjamu, maka tidak ada bukti reaksi peradangan karena untuk timbulnya respon memerlukan waktu. 4 Berbagai pola peradangan dapat timbul berdasarkan atas jenis eksudat yang terbentuk, organ atau jaringan tertentu yang terlibat dan lamanya proses peradangan. Berbagai tipe eksudat diberi nama deskriptif. Lamanya respon peradangan disebut sebagai akut selama fase eksudat aktif. Disebut kronis jika ada bukti perbaikan lanjut disertai eksudasi dan disebut subakut jika bukti awal perbaikan bersama dengan eksudasi. Lokasi reaksi peradangan dinamakan menurut nama organ atau jaringan, yang ditambahkan akhiran-itis. Berikut dibahas beberapa jenis eksudat.4
8

Eksudat Seluler Eksudat neutrofilik Eksudat yang paling sering dijumpai terutama terdiri atas PMN, dalam jumlah yang begitu banyak sehingga lebih menonjol daripada bagian cairan dan proteinosa. Eksudat neutrofilik semacam ini disebut purulen. Eksudat purulen biasanya terbentuk sebagai respon terhadap infeksi bakteri. Eksudat ini juga terdapat dalam respon terhadap banyak cedera aseptik dan secara mencolok terjadi hampir disemua tempat pada tubuh yang jaringannya telah menjadi nekrotik.4 Infeksi bakteri sering menyebabkan konsentrasi PMN yang sangat tinggi yang tertimbun didalam jaringan, dan banyak sel-sel ini mati serta membebaskan enzim-enzim hidrolitiknya yang kuat kesekitarnya. Dalam keadaan ini, enzim-enzim PMN mencerna jaringan dibawahnya dan mencairkannya. Kombinasi agregasi neutrofil dan pencairan jaringan-jaringan dibawahnya disebut supurasi.4 Dan dengan demikian eksudat yang terbentuk disebut eksudat supuratif, atau lebih sering disebut pus. Jadi, pus terdiri atas PMN yang hidup, mati dan yang hancur, jaringan yang mencair dan tercerna, cairan eksudat pada proses peradangan dan sering terdiri dari bakteri-bakteri penyebabnya.4 Eksudat Campuran Eksudat ini merupakan campuran eksudat seluler dan nonseluler, dan dinamakan sesuai dengan campurannya. Campuran ini meliputi eksudat fibrinopurulen, yang terdiri atas fibrin dan PMN, eksudat serofibrinosa. Eksudat-eksudat tertentu seperti eksudat musinosa dan mukopurulen, yang melapisi permukaan mukosa.4 Daerah seperti ini umumnya menyerupai membran mukosa, daerah nekrotik dapat mengelupas, menimbulkan celah pada permukaan mukosa. Defek seperti ini disebut ulkus. Paling sering, eksudat fibrinopurulen yang berasal dari pembuluh darah dibawahnya membentuk permukaan dasar ulkus. Terkadang daerah membran mukosa yang luas akan mengalami nekrotik dan sel-sel yang dapat tertangkap didalam jala yang dibentuk eksudat fibrinopurulen, yang melapisi permukaan mukosa.4 Daerah seperti ini umumnya menyerupai membran mukosa yang kasar, dan oleh karena jenis proses ini disebut sebagai peradangan pseudomembranosa.4
9

Contoh klasik peradangan pseudomembran adalah pseudomembran pada difteri disaluran pernafasan. Dengan demikian membran semacam ini kadang disebut sebagai difteritik. Peradangan pseudomembranosa dapat dijumpai didalam saluran cerna, khususnya kolok, sebagai akibat gangguan ekologi mikroba saluran cerna, biasanya disebabkan oleh pemberian antibiotik.4 Eksudat Non Seluler Eksudat Serosa Pada beberapa radang, eksudat hampir seluruhnya terdiri atas cairan dan zat-zat yang terlarut dengan sangat sedikit leukosit. Jenis eksudat non-selular yang paling sederhana adalah eksudat serosa yang pada dasarnya terdiri atas protein yang bocor dari pembuluhpembuluh darah yang permeabel didaerah peradangan bersama dengan cairan yang menyertainya. Contohnya eksudat serosa yang paling dikenal adalah cairan pada luka lepuh. Penimbunan eksudat serosa yang serupa sering ditemukan pada rongga tubuh, seperti rongga pleura atau rongga peritoneum dan walaupon tidak mencolok eksudat serosa sering menyebar melewati jaringan ikat.4 Terkadang terjadi penimbunan cairan didalam rongga tubuh yang bukan karena peradangan, biasanya peningkatan tekanan hidrostatik atau penurunan kadar protein plasma. Pengumpulan bukan karena peradangan semacam ini disebut transudat dan sedikit protein serta sel disbandingkan dengan eksudat.4

Eksudat Fibrosa Eksudat fibrosa terbentuk saat protein keluar dari pembuluh darah didaerah peradangan mengandung banyak fibrinogen. Fibrinogen ini diubah menjadi fibrin, berupa jalinan yang lengket dan elastik. 4 Eksudat fibrinosa sering dijumpai diatas permukaan serosa yang meradang seperti pleura dan pericardium, tempat fibrin yang diendapkan mengeras menjadi lapisan atas membran yang terkena. Jika lapisan tebal semacam ini tertimbun diatas permukaan serosa, sering disertai dengan gejala rasa nyeri jika satu permukaan bergesekan dengan permukaan yang lain.4

10

Jadi misalkan pasien pleuritis merasa nyeri ketika bernafas dikarenakan permukaan yang kasar itu saling bergesekan selama inspirasi. Gesekan pada permukaan-permukaan kasar juga menimbulkan friction rub, yang dapat didengar dengan stetoskop diatas daerah yang terkena.4 Eksudat Musinosa Eksudat Nonselular yang lain adalah eksudat musinosa atau kataral. Jenis eksudat ini hanya terbentuk diatas permukaan membran mukosa, tempat sel-sel yang dapat mensekresi musin. Jenis eksudat ini berbeda dengan eksudat lain karena eksudat ini merupakan sekresi seluler bukannya dari sesuatu yang keluar dari aliran darah. Sekresi musin merupakan sifat normal membran mukosa, dan eksudat musinosa tidak lebih merupakan percepatan proses fisiologis dasar. Contoh eksudat musin yang paling dikenal dan sederhana adalah pilek yang menyertai berbagai infeksi pernafasan bagian atas.4 Dari beberapa bahasan diatas, kita mengetahui tuba katar disebabkan oleh peradangan membran mukosa. Yang menyebabkan membran mukosa tersebut menjadi hipersekresi sebagai upaya untuk mengurangi peradangan itu sendiri. Tetapi proses peradangan tersebut tidak akan berdiri sendiri tanpa sebab. Berikut beberapa keadaan yang dapat menyebabkan proses peradangan pada membran mukosa.4

Keadaan yang dapat menyebabkan terjadinya tuba katar 1. Hipertrofi adenoid Pembesaran adenoid dapatmenyebabkan obstruksi pada tuba Eustachius yang akhirnya menjadi tuli konduktif karena adanya cairan dalam telinga tengah akibat tuba Eustachius yang tidak bekerja efisien karena adanya sumbatan.5

2. Celah langit Langit-langit atau palatum merupakan atap rongga mulut yang memisahkan rongga mulut dan hidung. Palatum terbahagi kepada da yaitu palatum durum dan palatum mole di sebelah posterior.6 Palatum durum dibentuk oleh prosessus maksila (2/3 anterior), pars horisontalis prosessus palatine (1/3 posterior). Palatum mole merupakan lanjutan dari

11

palatum durum, disebelah lateral melekat pada dinding faring dan sebelah posterior sebagai suatu pinggiran bebas.6 Celah langit-langit merupakan defek congenital karena tidak bersatunya prosesss palatines, penyambungan antara prosessus palatines berjalan dari anterior ke posterior dimana proses ini dapat berhenti tiba-tiba.6 Menurut macamnya celah langit-langit dibagi dua: Congenital cleft palate, yaitu celah langit-langit bawaan.6 Acquired cleft palate, yaitu celah langit-langit yang didapat misalnya karena trauma, penyakit atau kanker.6 Menurut derajatnya celah langit-langit dibagi dua: Complete cleft palate, yaitu celah langit-langit lengkap dimana kelainan yang terdapat pada langit-langit juga pinggir alveolar dan bibir terkena baik unilateral maupon bilateral.6 Incomplete cleft palate, yaitu celah langit-langit tidak lengkap. Kelainan bentuk hanya terjadi pada palatum durum maupun palatum mole.6

3. Tumor Nasofaring Gangguan pendengaran merupakan salah satu gejala dini dari penyakit ini, disamping gejala dini lain yang berupa hidung buntu atau hidung keluar darah, tetapi gejala tersebut sering tidak terpikir oleh dokter pemeriksa bahawa penyebabnya adalah tumor ganas di nasofaring, sehingga baru diketahui bila penyakit sudah dalam keadaan lanjut.7 Gangguan pendengaran kadang-kadang disertai juga keluhan rasa penuh di telinga, telinga berbunyi atau rasa nyeri ditelinga. Banyak penulis mengatakan, bahawa lokasi permulaan tumbuh tumor ganas nasofaring paling sering adalah di fosa Rosenmuller, sebab daerah tersebut merupakan daerah peralihan epitel. Dalam penyebarannya, tumor dapat mendesak tuba Eustachius serta mengganggu pergerakan otot Levator Palatini yang berfungsi membuka tuba, sehingga fungsi tuba terganggu dan mengakibatkan gangguan pendengaran berupa menurunnya pendengaran tipe konduksi yang bersifat reversible.7

4. Peradangan Sering menyerang pada balita, salah satu faktor penyebabnya adalah karena saluran penghubung antara telinga tengah dengan atap tengkorak yang berdekatan
12

dengan lubang hidung bagian belakang (Eustachius) pada anak balita, yang masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan yang belum sempurna.8 Anatomis yang lebih pendek, lebih sempit dan lebih mendatar dibandingkan orang dewasa. Akibatnya saluran ini dengan mudah dapat tersumbat, misalnya karena terjadinya infeksi atau alergi. Dengan adanya cairan atau pembengkakan selaput lendir di dalam saluran Eustachius yang tersumbat itu dapat berlanjut jadi peradangan. Penyebab peradangannya antara lain karena adanya infeksi pada cairan yang menyumbat bagian telinga tengah ini.8

5. Alergi Alergi adalah satu proses inflamasi yang tidak hanya berupa reaksi cepat dan lambat tetapi juga merupakan proses inflamasi kronis yang kompleks dipengaruhi faktor genetik, lingkungan dan pengontrol internal.9 Berbagai sel mast, basofil, eosinofil, limfosit dan molekul seperti IgE, mediator sitokin, kemokin merupakan komponen yang berperan dalam proses inflamasi. Gejala klinis terjadi karena reaksi imunologik melalui pelepasan beberapa mediator tersebut dapat mengganggu organ tertentu yang disebut organ sasaran dan pada alergi sering terjadi proses inflamasi kronis yang kompleks.9

6. Barotrauma Barotrauma adalah kerusakan dibagian dalam telinga yang disebabkan oleh tidak samanya tekanan udara dikedua gendang pendengar. 10

Terapi Terdapat beberapa manuver yang dapat dilakukan untuk memperbaiki fungsi tuba Eustachius. Hal yang sederhana dapat dengan menelan, sehingga mengaktifkan otot-otot dibelakang tenggorokan yang membantu membukanya tuba Eustachius. Mengunyah permen karet, minum atau makan membantu penelanan. Menguap lebih baik karena mengaktifkan otot lebih kuat.11 Jika telinga terasa penuh, kita dapat memaksa untuk membuka tuba Eustachius dengan cara mengambil nafas dalam, dan menghembuskan sembari menutup hidung dan mulut. Jika terasa berbunyi pada telinga berarti tuba Eustachius terbuka dengan baik. Tetapi jika permasalahan masih ada walaupun sudah melakukan manuver harus segera diperiksa dokter.11
13

Jika fungsi tuba sedang terganggu seperti sedang flu, sinusitis, infeksi telinga atau serangan alergi, disarankan untuk menunda perjalanan penggunakan pesawat atau menyelam, karena dapat menyebabkan keadaan yang membahayakan, terutama organ pendengaran. Pada bayi dan balita, mereka tidak dapat menyamakan tekanan sendiri secara aktif sehingga harus diberikan minuman atau permen. Karena dengan menelan tuba Eustachius terbuka dan fungsi menyamakan tekanan dapat terjadi.11 Pengobatan untuk rhinosinusitis virus pada orang dewasa didasarkan pada vasokonstriktor, sering dikaitkan dengan agen anti-histamin dan dengan tindakan atropinergik. Kontribusi yang mungkin timbul dari agen atropinergik murni saat ini sedang dalam evaluasi. Obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) tampaknya tidak memiliki pengaruh dan penggunaan preparat kortikosteroid tidaklah tepat karena tidak memiliki indikasi.11 Pada seorang pasien yang sedang dengan sumbatan pada hidung upaya yang pertama adalah menegakkan diagnosis yang benar. Karena pengobatan tidak selalu diperlukan dan apabila diberikan pengobatan haruslah seimbang dengan resiko terapinya. Jika pasien memiliki masalah yang akut seperti pilek dan sinusitis. Sebuah dekongestan topikal mungkin merupakan pengobatan yang paling efektif, tetapi ini tidak boleh berlangsung lebih dari beberapa hari dan pasien harus diperingatkan agar tidak membeli obat serupa untuk dipergunakan lebih lama.11 Dalam kasus yang lebih kronis,seperti alergi atau rhinitis vasomotor, pengobatan oral adalah yang terbaik. Simpatomimetik secara oral (pseudoefedrin atau phenylephrine) mungkin sudah cukup, atau antihistamin saja sudah dapat membantu dalam rhinitis alergi. Kombinasi produk sering efektif tetapi haruslah diingat tentang kontraindikasi dan pencegahan untuk masing-masing bahan.11

14

BAB III KESIMPULAN

1. Tuba Eustachius ialah sebuah bangunan yang berbentuk tabung yang berjalan dari telinga tengah ke nasofaring. 2. Fungsi fisiologi dari Tuba Eustachius adalah : o Ventilasi atau pengaturan tekanan dari telinga tengah o Perlindungan telinga tengah dari sekresi nasofaring dan tekanan suara o Pembersihan dan penyaluran sekresi telinga tengah ke nasofaring 3. Kata Catarrh berasal dari bahasa yunani katarrhein. Katar yang berarti turun dan rhein yang bererti mengalir. 4. Diartikan sebagai lapisan eksudat yang tebal yang terdiri dari mukus dan sel darah putih yang disebabkan oleh pembengkakan dari membran mukosa dikepala yang merupakan respon dari suatu infeksi. 5. Tuba katar merupakan hasil dari reaksi peradangan 6. Menimbulkan beberapa jenis eksudat seperti : o Eksudat Seluler (neutrofilik, campuran) o Eksudat non-seluler (serosa, fibrosa, musinosa) 7. Keadaan yang menyebabkan terjadinya tuba katar: o Hipertrofi adenoid o Celah langit o Tumor nasofaring o Peradangan o Alergi o Barotrauma 8. Penatalaksanaan : o Manuver valsava dan Toynbee o Obati penyebab (flu, sinusitis, infeksi telinga, alergi ) o Tunda perjalanan menggunakan pesawat atau menyelam

15

BAB IV DAFTAR PUSTAKA

1. Ilmu kesehatan penyelaman; Barotrauma hal.52-57; Penerbit PT.Gramedia Jakarta; 2000 2. Empey DW, Medder KT. Nasal decongestants. Drugs. 1981 Jun;21 (6) : 438-43. Pubmed PMID : 6166444FKUI: Buku ajar THT; Gangguan fungsi tuba; Penerbit FKUI, edisi ke-enam; tahun 2007 3. Stoll D. Inflamatory acute rhinosinusitis. Presse Med. 2001 Dec 22-29; 30 (39-40 pt 2) : 33-40. Review. French. Pubmed PMID : 11819910 4. Boeis, Adam ; Buku ajar penyakit THT; Embriologi, Anatomi dan Fisiologi telinga; Penerbit ECG, edisi 6; tahun 1991 5. Price, Sylvia A, Wilson, Lorraine M. Patofisiologi konsep klinis proses penyakit. Edisi ke-enam. Penerbit Buku Kedokteran ECG. Jakarta, 2005 : 87-91 6. Alpen patel, MD ; Patologyous Eustachian Tube. Diakses tanggal 24 Oktober 2012. Diunduh dari : http://www.emedicine.com/ENT/topic208.html 7. Johnson RW. Medical Encyclopedia. Adenoid Hypertrophy. Diakses tanggal 24 oktober 2012. Diunduh dari: http://www.HealthAto.com.br/otor/otor.html 8. http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/11/penanganan_bayi_celah_bibir_langit-langit.pdf 9. Soepardi EA, Iskandar N. Dalam : Karsinoma Nasofaring. Buku Ajar THT. Edisi Kelima. Balai Penerbit FKUI. Jakarta, 2000 : 146-150 10. http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Gizi+dan+Kesehatan/cegah.radang.telinga.te ngah/001/001/229/203/-/4 11. Tanaka A, Ohashi Y, Kakinoki Y, Washio Y, Kishimoto K, Ohno Y, Sugiura Y, Okamoto H, Nakai Y. Influence of allergic response on the mucociliary system in Eustachian tube. Acta Otolaryngol Suppl. 1998;538:98-101. Pubmed PMID: 9879408.

16