Anda di halaman 1dari 4

Kota dengan segala daya tarik yang dimiliki memicu munculnya urbanisasi sehingga populasi penduduk di kota meningkat

dan fasilitas yang tersedia tidak mampu melayani perkembangan penduduk seperti dalam hal penyediaan ruang permukiman dan lapangan kerja. Perencanaan kota yang awalnya kompak dimana pusat kota menunjang semua aktivitas penduduk tidak lagi mampu menyediakan kebutuhan ruang tambahan sehingga kota semakin berkembang ke arah sub-urban, melebar dan jarak ke fasilitas umum menjadi jauh. Ruang permukiman di suburban semakin berkembang dan pembangunannya tidak memfasilitasi mobilitas penduduk yang bermukim dan dominan beraktivitas di kota. Beragam masalah muncul sebagai dampak berkembangnya Urban Sprawl yang menimbulkan penurunan kualitas hidup manusia. Distribusi ruang untuk beragam aktivitas sosial-ekonomi seperti permukiman, jasa dan perdagangan, perkantoran, tempat rekreasi dan lainnya menentukan rata-rata jarak perjalanan dalam transportasi perkotaan. Pengembangan dengan kepadatan yang tinggi mempertahankan jarak yang dekat antara asal dan tujuan sedangkan pengembangan dengan kepadatan yang rendah mempengaruhi jarak perjalanan yang semakin jauh dengan pembangunan jalan yang lebar dan pada akhirnya bergantung pada penggunaan kendaraan pribadi. Sebagai contoh, kawasan Unhas dalam RTRW Kota Makassar direncanakan sebagai kawasan riset dan pendidikan yang memiliki bangkitan dan tarikan yang tinggi sebagai pusat aktivitas bagi civitas kampus khususnya bagi dosen, mahasiswa dan pegawai. Sebagai pendukung kawasan ini adalah perumahan dan permukiman di sekitar kawasan tersebut dengan maksud untuk mendekatkan hunian ke tempat aktivitas sehingga meminimalisir jarak dan tentunya juga dalam hal biaya transportasi. Hal ini positif, tetapi menjadi masalah karena tidak memperhatikan perencanaan transportasi yang tidak terintegrasi dengan guna lahan. Misalnya, masalah yang timbul adalah dalam hal penyediaan angkutan umum secara kolektif untuk memfasilitasi para civitas kampus ini. Saat ini sudah ada bus yang melayani, namun terbatas hanya untuk pegawai yang bermukim di perumahan dosen unhas Tamalanrea, Bara-Baraya dan Antang, sedangkan angkutan umum dengan kapasitas angkut lebih banyak bagi mahasiswa dan dosen belum diperhitungkan. Saat ini fasilitas angkutan umum yang melayani hanya dapat menampung 12 orang/kendaraan (pete-pete) dengan kondisi yang tidak nyaman dan aman sehingga memicu meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi. Padahal jarak dari hunian ke pusat aktivitas ini relatif dekat dan masih dapat dijangkau dengan non-motorisasi dan angkutan umum. Namun, hal ini belum sepenuhnya difasilitasi bagi penggunanya sehingga lebih banyak beralih ke kendaraan pribadi. Meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi ini menimbulkan masalah dalam hal keterbatasan ruang parkir dalam kampus sehingga terjadi penambahan ruang dan mengurangi ruang-ruang hijau yang mulanya nyaman dan teduh beralih fungsi menjadi tempat parkir. Ditambah lagi, angkutan umum bersama dengan kendaraan pribadi ini menggunakan jalan yang sama yaitu pada jalan poros sebagai penghubung antara urban dengan suburban, sehingga menimbulkan kemacetan pada ruas jalan tersebut dan meningkatkan polusi dan emisi dari kendaraan yang dapat mencemari kualitas udara.

1|Page

Selain itu, hunian yang berkembang di sekitar kampus semakin menyebar luas, sporadis dan tidak teratur dimana hunian ini juga menimbulkan bangkitan dan sebaran pergerakan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam hal bekerja dan beraktivitas di kampus Unhas, namun kebutuhan sosial lainnya juga perlu dipenuhi. Sehingga menimbulkan pola perjalanan yang tersebar ke pusat-pusat aktivitas jasa dan perdagangan yang berada dan dibangun pada jalan poros penghubung urban dan suburban. Perkembangan dari aktivitas transportasi yang ditimbulkan oleh hunian ini tidak dipertimbangkan sehingga menimbulkan permasalahan yang kompleks. Menurut Wunas (2011) bahwa pembangunan kota seharusnya secara seimbang, aspek utama adalah sistem lingkungan hidup, kemudian menyusul sistem infrastruktur termasuk transportasi, sistem ekonomi dan sistem sosial. Tetapi realitas yang terjadi saat ini ketiga sistem tersebut tidak terpadu perencanaannya sehingga lingkungan hidup semakin terdegradasi. Perencanaan kota yang tidak terintegrasi pada perencanaan transportasi akan menimbulkan berbagai dampak negatif seperti kepadatan, kemacetan lalu lintas yang mengakibatkan kecelakaan dan polusi dari emisi kendaraan, pemborosan biaya dan energi serta kualitas hidup warga kota menurun sehingga kota menjadi tidak layak huni. Menurut Wunas (2011) bahwa untuk mencapai kota humanis, diharapkan perencanaan ruang kota dapat mendorong penduduk agar lebih banyak berjalan kaki atau bersepeda dalam mencapai tujuan pergerakan, sehingga lebih sehat dan sekaligus dapat mereduksi penggunaan kendaraan pribadi dan volume lalu lintas yang berdampak pada efisiensi penggunaan BBM. Konsep perencanaan kota humanis ini dapat diimplementasikan sesuai dengan kondisi yang terjadi di contoh kasus di atas, dimana kawasan Unhas dan hunian sekitar kampus sebagai bangkitan dan tarikan yang menimbulkan sebaran pergerakan. Untuk menciptakan kota yang lebih humanis melalui penyediaan angkutan umum yang kolektif dengan kapasitas angkut lebih besar seperti bus serta pembangunan jalur bagi pejalan kaki dan pesepeda dapat memberikan pilihan bagi civitas kampus dalam bertransportasi. Pengurangan jumlah perjalanan kendaraan pribadi melalui konsep sharing kendaraan (Wunas, 2011) melalui penambahan ketersediaan angkutan kolektif yang diperuntukkan bagi hunian sekitar kampus dengan pengaturan rute sehingga memenuhi kebutuhan kegiatan sosial lainnya yaitu pendidikan, perbelanjaan, perkantoran dan lainnya). Selain itu, keterpaduan dengan sistem hirarki jaringan jalan dan jangkauan angkutan umum yang juga berhirarki dengan cara feeder serta didukung dengan sistem transit park and ride. Dengan demikian, perencanaan kota yang terintegrasi dengan transportasi mempengaruhi keberlangsungan kota dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup manusia seperti meningkatkan kualitas udara yang bersih dari polusi dan emisi kendaraan, menghemat biaya dan energi, meningkatkan produktivitas penduduk sehingga ekonomi meningkat dan menciptakan lingkungan yang lebih layak huni.

2|Page

Perencanaan struktur ruang perkotaan yang kompak dengan penggunaan lahan yang mixed use akan menurunkan jarak yang ditempuh dan memaksimalkan penggunaan angkutan umum dengan perencanaan TOD sehingga perencanaan fasilitas dapat juga ditujukan bagi pejalan kaki dan pesepeda. Sehingga dalam merencanakan penggunaan lahan untuk kebutuhan transportasi memperhatikan pengurangan kebutuhan perjalanan dan jarak yang ditempuh, mengakomodasi penggunaan angkutan umum, serta memfasilitasi pejalan kaki dan pesepeda. Penggunaan lahan perkotaan terhadap transportasi antara lain dari aspek properti, ketinggian bangunan dan lokasi, karakteristik jalan, dan ukuran blok. Lebih beragamnnya jenis rumah di perkotaan (rumah susun, rumah terpisah/semiterpisah, rumah teras, tanpa taman) mempengaruhi pilihan mobilitas pribadi termasuk karakteristik jalan (misalnya jalur sepeda di pintu depan, kemudahan atau keterbatasan parkir, lalu lintas yang tidak padat. Perencanaan blok-blok pada suatu kawasan ditujukan untuk memaksimalkan berjalan kaki dan akses bagi pesepeda sehingga berpengaruh dalam pemilihan moda transportasi yang digunakan. Ketenangan lalu lintas meningkatkan minat orang untuk berjalan kaki atau menggunakan sepeda. Rumah dengan kepadatan yang tinggi, akibat kehadiran banyak

3|Page

rumah-rumah kecil dan bangunan bertingkat, memunculkan permintaan transportasi yang cukup untuk mendukung tersedianya transit publik yang memadai.

4|Page