P. 1
Laporan Kasus Meningitis Tb (r. Cempaka)

Laporan Kasus Meningitis Tb (r. Cempaka)

|Views: 277|Likes:
Dipublikasikan oleh Agis Taufik

More info:

Published by: Agis Taufik on Feb 22, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/31/2015

pdf

text

original

LAPORAN STUDI KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MENINGITIS TB DI RUANG CEMPAKA RSU BANYUMAS
Profesi Stase Keperawatan Medikal Bedah

DISUSUN OLEH : ERWI ROCHMA PANGESTUTI AYU KHUZAIMAH KURNIAWATI ARIKH RATNA PURWADI

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UGM YOGYAKARTA 2004

TINJAUAN TEORI MENINGITIS TB
I. TUBERKULOSIS PARU A. DEFINISI Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis (Brunner & Suddart, 2002). Tuberkulosis adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru, dapat ditularkan ke bagian tubuh lainnya, termasuk meninges, ginjal, tulang dan nodus limfe (Soeparman, 1998). B. ETIOLOGI Agen infeksius utama adalah mycobacterium tuberculose, sejenis kuman berbentuk batang. Spesies lain kuman ini yang dapat memberikan infeksi pada manusia adalah Mycobacterium bovis, Mycobacterium kansasii, Mycobacterium intracellulare. Sifat kuman : 1. Tahan hidup pada udara kering maupun dingin (dapat tahan bertahuntahun dalam lemari es), kuman ini bersifat dormant. 2. Sebagian besar kuman terdiri dari asam lemak, sehingga kuman tahan terhadap asam dan gangguan kimia serta fisik. 3. Di dalam jaringan, kuman hidup sebagai parasit intraseluler (dalam sitoplasma makrofag, karena makrofag mengandung banyak lipid).

4. Bersifat aerob, yaitu menyenangi jaringan yang tinggi kandungan
oksigennya (Oksigen apikal paru lebih tinggi daripada bagian lain, sehingga bagian apikal merupakan tempat prediksi penyakit TBC). C. FAKTOR RESIKO Cara penularannya yiautu dari orang ke orang melalui udara. saat individu yang terinfeksi bicara, batuk, bersin, tertawa, atau bernyanyi, maka ia melepaskan droplet. Individu yang beresiko tinggi untuk tertular TBC : 1. Kontak dekat dengan penderita TB aktif. 2. Individu imunosupresif (lansia, penderita kanker, individu dalam terapi kortikosteroid, penderita HIV). 3. Pengguna obat-obatan intravena dan alkoholik. 4. Individu tanpa perawatan kesehatan yang adekuat (tunawisma, tahanan, etnik ras minoritas) 5. Individu dengan masalah kesehatan tertentu (misalnya : DM, CRF, silikosis, pentimpangan gizi, bypass gastrektomi/yeyunoileal). 6. Imigran dari negara dengan insiden TB yang tinggi (Asia Tenggara, Afrika, Amerika Latin, Karibia). 7. Penghuni perumahan kumuh. 8. Petugas kesehatan.

reaksi tes kulit tuberkulin tidak bermakna). Kelas 4 : terinfeksi TBC. diseminata (millier) meningeal. kelainan yang relevan untuk TB paru 3. Biakan sputum BTA 2. saat ini tidak sedang menderita penyakit (ada riwayat mendapat pengobatan pencegahan TBC atau ada temuan radiologik yang stabil pada orang yang reaksi tes kulit tuberkulinnya bermakna. Status kemoterapi. kemih kelamin. Kelas O : tidak ada jangkitan TBC.D. riwayat pengobatan dengan obat anti TB Klasifikasi sistem lama : 1. 2. TB paru tersangka. non aktif dan quiescent 4. Mikroskopik sputum BTA (langsung) b. Status klinik. TB paru tersangka yang tidak diobati Sputum BTA negatif dan tanda-tanda lain juga meragukan Dalam klasifikasi ini perlu dicantumkan : 1. TB paru tersangka yang diobati Sputum BTA negatif. 6. tidak timbul penyakit (reaksi tes kulit tuberkulin bermakna. Status neurologik. TB paru (Koch Pulmonum) aktif. Kelas 2 : ada infeksi TBC. gejala-gejala yang relevan untuk TB paru 4. pleura. 1981 : 1. yang terbagi menjadi : a. Tb post-primer (adult TB) 3. Kelas 5 : orang dicurigai mendapatkan TBC (diagnosa ditunda). 5. TB paru 2. Lokasi penyakit : paruparu. KLASIFIKASI Klasifikasi menurut American Thoracic Society. 3. tidak ada bukti infeksi (riwayat pemaparan. tidak terinfeksi (tidak ada riwayat terpapar. tidak ada bukti klinik maupun radiografik) 4. peritoneal. Bekas TB paru 3. tapi tanda-tanda lain positif b. tidak ada bukti klinik dan radiografik tentang adanya penyakit pada saat ini). Klasifikasi yang banyak dipakai di Indonesia : 1. pemeriksaan bakteri negatif. TB minimal : terdapat sebagian kecil infiltrat non kavitas pada 1 paru maupun kedua paru . Kelas 3 : terinfeksi TBC dan sakit. Kelas 1 : terpapar TBC. tulang dan atau sendi. TB primer (childhood TB) 2. pemeriksaan bakteriologik jika dilakukan negatif. Status bakteriologis a. limfatik. reaksi terhadap tes kulit tuberkulin tidak bermakna).

Moderately advanced TB : ada kavitas dengan diameter tidak lebih dari 4 cm. TB individu rentan/dengan faktor resiko kuman masuk melalui saluran nafas. Jumlah infiltrat bayangan halus tidak lebih dari 1 bagian paru bila bayangan kasar tidak lebih dari 1/3 bagian satu paru. Far advanced TB : terdapat infiltrat dan kavitas yang melebihi keadaan pada moderately advanced TB E. PATOFISIOLOGIS kuman M. saluran pe ncernaan dan luka terbuka pada kulit bakteri/basil tuberkel sampai ke permukaan alveoli sistem imun bereaksi (terjadi peradangan) limfosit spesifik-tuberkel melisis basil dan jaringan normal akumulasi eksudat di alveoli meningkat terbentuk granulomas (gumpalan basil yg masih hidup dan mati dikelilingi makrofag yg untuk dinding protektif berkembang menjadi jaringn fibrosa (bagian sentral disebut tuberkel ghon) masa granulomas mengalami nekrotik membentuk masa keju kalsifikasi membentuk skar kolagenasi bakteri menjadi dormant respon imun adekuat penyakit non aktif respon imun non adekuat penyakit aktif tuberkel ghon pecah melepaskan bahan seperti keju dalam bronkhi bakteri tersebar ke udara penyebaran ke lingkungan penyembuhan tuberkel membentuk jaringan perut paru membengkak pembentukan tuberkel bronkhopnemoni (terjadi 2-10 mg stl paparan) .

Pemeriksaan fisik a. Sputum Fungsi pemeriksaan : . pemeriksaan fisik. nyeri otot. usap basil tahan asam (BTA). kultur sputum dan tes kulit tuberkulin. sakit kepala. dimana infiltratnya sudah ½ bagian paru Nyeri dada • Jarang ditemukan • Timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis Malaise • Gejala malaise yang sering ditemukan berupa anoreksia. limfosit menurun • Jika sudah sembuh : AL normal.F. LED normal • Pemeriksaan serologis : Takahashi (TB masih aktif/tidak) b. Darah • Kurang mendapat perhatian karena hasilnya kadang meragukan • Pada awal sakit : Al meningkat. b. limfosit meningkat. auskultasi (bronkhial) ronchi basah kasar dan nyaring 2. PEMERIKSAAN PENUNJANG Diagnosa TBC ditegakkan dengan mengumpulkan riwayat kesehatan. dll. G. 5. meriang. LED meningkat. GEJALA KLINIS 1. 1. dan auskultasi. rontgent dada. Tempat yang dicurigai apeks paru. Pemeriksaan Laboratorium a. 3. 4. perkusi. Kadang-kadang suhu badan mencapai 40-410C Batuk • Terjadi karena ada iritasi bronkhus • Fungsi batuk : membuang produk-produk radang keluar • Sifat batuk : non produktif-produktif (setelah terjadi peradangan) – hemoptue (pembuluh darah pecah) Sesak nafas • Ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut. BB menurun. keringat malam. jika ada : perkusi redup. Sering tidak menunjukkan kelainan. Demam • Biasanya subfebril menyerupai demam influensa • 2. Pemeriksaan Radiologi 3. karena hantaran getaran/suara yang lebih dari 4 cm ke dalam paru sulit dinilai secara palpasi.

misal : obat-obatan : hepatitis. Efek samping. demam d. PENATALAKSANAAN 1. Penatalaksanaan Medis a. etambutol. P. Penatalaksanaan Keperawatan Diagnosa keperawatan yang lazim pada klien TB adalah : a.d kurang paparan. pirazinamid.d kelemahan. 2. perubahan status nutrisi. Malnutrisi 2. Manajemen regimen terapeutik tidak efektif b. Tes tuberkulin H. Viomisin. defisit pengetahuan.S (Para Amino Salicyclic Acid). Intoleransi aktivitas b. Defisit perawatan diri b. Jenis obat yang dipakai : Obat primer : isoniazid. TB paru diobati terutama dengan agen kemoterapi (agen anti TB) selama periode 6-12 bulan b.A. kesulitan ekonomi c. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d pola perawatan kesehatan keluarga. perubahan fungsi peran. Penyebaran infeksi TB (TB milliaris) I.d sekresi trakheobronkhial yang sangat banyak • b. Resistensi banyak obat 4. . ruam kulit. protionamid. gangguan gastrointestinal 3. biaya perawatan Masalah kolaborasi . ketidakberdayaan. streptomisin.d ketidakmampuan melakukan aktivitas untuk pemenuhan kebutuhan ADL Cemas b. Kapneomisin. tidak mengenal/familiar dengan sumkber informasi e.• Menentukan kuman penyebab • Memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang sudah diberikan c. 1. perubahan neurologis (ketulian atau neuritis). • Obat sekunder : etionamid. EVALUASI PENGOBATAN 1.d perubahan status kesehatan. rifampisin. kanamisin. sikloserin. Kurang pengetahuan b. Klinis f. tiasetazon.

Identifikasi dan pengobatan dini individu dengan TB aktif • Pertahankan indeks kecurigaan TB yang tinggi untuk mengidentifikasi kasus dengan cepat • Lakukan terapi efektif dengan obat anti TB dengan cepat 2. Pencegahan penyebaran nuklei duplet infeksius • Isolasi basil BTA dengan segera bagi semua pasien yang diduga mempunyai TB aktif • Individu yang memasuki ruangan isolasi BTA harus menggunakan respirator pertikulat dispossible • Lakukan tindakan isolasi sampai terdapat bukti klinis penurunan infeksius • Gunakan tindakan pencegahan khusus selama prosedur yang merangsang batuk 3. MENINGITIS A. limfoma. DEFINISI Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medula spinalis) yang disebabkan oleh virus. ensefalitis. Surveillans untuk transmisi TB II. Meningitis sepsis Meningitis yang disebabkan oleh organisme bakteri seperti Meningococcus. bakteri. leukemia/darah di ruang subarakhnoid 2. Meningitis aseptik Mengacu pada salah satu meningitis virus atau menyebabkan iritasi meningen yang disebabkan oleh abses otak. 2002) B. Radiologis • Dilaksanakan setiap 3 bulan sekali Pencegahan transmisi TB dalam lingkungan perawatan kesehatan : 1. selanjutnya setiap 2 minggu selama sebulan dan seterusbya 1 kali per bulan • Keluhan menurun sampai hilang 2. atau jamur (Brunner & Suddart. KLASIFIKASI 1. Stafilococcus atau Bacillus influenza . Bakteriologis • 2-3 minggu pengobatan sputum BTA mulai : jadi negatif • Waktu periksa : 1 kali per bulan • Setelah negatif tetap diperiksa minimal 3 kali berturut-turut 3.• Kontrol setiap minggu selama 2 minggu.

maka gerakan yang sama terlihat pada sisi ekstremitas yang berlawanan. penurunan kesadaran. . nafas tidak teratur. • • Tanda Kernig (Kernig’s sign) positif Ketika klien dibaringkan. tanda-tandanya antara lain : bradikardi. Infeksi melalui salah satu aliran darah sebagai konsekuensi dari infeksi bagian-bagian yang lain. nyeri kepala. Iritasi meningen. Fotophobia Kejang dan PTIK (Peningkatan Tekanan Intra Kranial) • Kejang terjadi akibat area fokal kortikal yang peka • TIK meningkat karena akumulasi eksudat purulent dan edema serebral. muntah. 5. shock. lesi purpura yang menyebar (sekitar wajah dan ekstremitas). gangguan memori : terjadi pada awal penyakit • Keadaan lanjut : letargik. Iatrogenik atau hasil sekunder prosedur invasif (seperti pungsi lumbal) atau alat-alat invasif (seperti alat pemantau TIK) MANIFESTASI KLINIS 1. tanda-tandanya : • Rigiditas nukal (kaku leher) Fleksi kepala mengalami kesulitan karena adanya spasme otot-otot leher. Fleksi yang dipaksakan menyebabkan nyeri berat. D. maka lutut dan pinggul fleksi. kaki tidak dapat diekstensikan sempurna. Infeksi saluran nafas 2. seperti selulitis atau penekanan langsung seperti setelah cedera traumatik tulang wajah 2. Perubahan tingkat kesadaran • Disorientasi. Sakit kepala dan demam 2. E. Ruam kulit Infeksi Fulminating • Terjadi pada 10% klien dengan meningitis meningococcus • Tanda-tanda : demam tinggi yang tiba-tiba muncul. Meningitis tuberkulosa Meningitis yang disebabkan oleh Bacillus tuberkel C. 6. bila dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada salah satu sisi. 7.3. koma 3. dengan paha dalam keadaan fleksi ke arah abdomen. ETIOLOGI 1. responsif. dan tanda-tanda DIC (Disseminata Intravascular Coagulation) PATOFISIOLOGI Faktor-faktor predisposisi : 1. Otitis media 4. Tanda Brudzinki (Brudzinky sign) positif Bila leher klien difleksikan.

peningkatan kenyamanan dan perlindungan selama kejang dan saat koma • Isolasi pernafasan dianjurkan : 2 jam setelah dimulainya terapi antibiotik .3. 8. Keperawatan • Observasi tanda-tanda vital • Pantau tekanan arteri untuk mengkaji shock • Monitor pemberian cairan IV • Monitor BB. PENATALAKSANAAN 1. elektrolit serum. serta osmolalitas urine • Monitor kebersihan kulit dan mulut. Medik • Pemberian antibiotik • LCS (Liquor Cerebro Spinalis) dan darah dikultur dan antimikroba dimulai segera • Pemberian diazepan atau kenitoin untuk mengontrol kejang • Diuretik osmotik (manitol) untuk mengobati edema serebral 2. vaskulitis dan hipoperfusi eksudat purulent menyebar sampai dasar dan medula spinalis dan dinding membran ventrikel serebral peningkatan permebilitas pada darah barrier otak edema serebral PTIK F. 5. Mastoiditis Anemia sel sabit Hemoglobinopatis lain Prosedur bedah saraf baru Trauma kepala Pengaruh imunologis terjadi infeksi berkembang menjadi septikemia organisme masuk dalam aliran darah timbul reaksi radang di meningen dan di bawah daerah korteks terjadi trombus dan penurunan aliran darah serebral gangguan metabolisme akibat eksudat meningen. volume dan BJ urine. 4. 7. 6.

1995. 1999. Patofisiologi.A.. Carpenito.. Penerbit Gaya Baru. Jakarta. 1998.et all. Mosby.. Jilid II. Mosby. Edisi 4. Jakarta. . NANDA. IOWA Intervention Project. Buku 1. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta. 1996.. Diagnosis Keperawatan NANDA : Definisi dan Klasifikasi. M. Jakarta. Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan. Penerbit EGC. Edisi 8. Ilmu Penyakit Dalam. IOWA Intervention Project. S.J. 2002. Vol 3. Price. L. C. 2000. Iet all. Soeparman. Mc Closkey. Yogyakarta. Penerbit RGC. 2002. Nursing Interventions Classification (NIC) econd Edition. PSIK FK UGM.J. et all.DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddart. 2002. Johnson. NANDA. Nursing Diagnoses : Definitions & Classifications. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. Penerbit EGC. edisi 2.

demam. dan mengalami kejang. klien.ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN MENINGITIS TB I. kejang 2. 1 hari SMRS os jatuh di sawah. HMRS os demam. keluarga. 3. Riwayat penyakit dahulu . saat kejadian tidak sadar. perawat ruangan Riwayat Penyakit Keluhan utama saat masuk RS 1. setelah sadar os mengeluh sesak nafas. pingsan kira-kira 1 jam. Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Status perkawinan Agama Suku Pendidikan Pekerjaan Lama bekerja Tgl masuk RS Tgl pengkajian Sumber informasi II. dan sulit bicara. Riwayat penyakit sekarang 3 hari SMRS os batuk. lemes. Identitas Diri Klien : Tn K : 67 tahun : Laki-laki : Karangbenda 2/02 Adipala Cilacap : Kawin : Islam : Jawa : Tidak sekolah : Petani : 60 tahun : 29 September 2004 jam 00. tidak bisa diajak bicara.00 WIB : 04 Oktober 2004 : status.

Pengkajian Saat Ini 1. terakhir mondok tanggal 17 Oktober 2003 dengan diagnosa PPOM dan hipoglikemi. Buang air besar Klien mengatakan sejak MRS BAB terus-menerus di TT. bau khas. b. warna kuning kemerahan (karena pengaruh obat Rifamphisin) 4. Klien menangis. 5.Klien mulai sering kejang sejak kira-kira 5 tahun yang lalu. suspect meningitis. ada riwayat mondok. Pola nutrisi/metabolik Program diit RS : TKTP rendah karbohidrat Intake makanan : klien mau makan makanan yang disediakan RS 1/3-1/2 porsi saja. Persepsi dan pemeliharaan kesehatan Keluarga mengatakan tidak tahu secara jelas penyakit apa yang diderita klien. konsistensi cair-lunak. Pola aktivitas dan latihan Kemampuan Perawatan Diri Makan/minum Mandi Toileting Berpakaian 0 1 2 3 4 x x x x . Diagnosa medik pada saat masuk RS Bronkhopnemonia. 4. Infus RL 20 tts/mnt 3. warna coklat kehijauan. frekuensi lebih dari 3 kali/hari. produksi urin (+). sambil berkata. Pola eliminasi a. “Hidupnya nelangsa/menderita karena kondisi penyakitnya”. Intake minuman : minum air putih 2-3 gelas/hari. PPOK. Tindakan yang telah dilakukan • Terapi pemasangan NGT • Pemasangan infus RL 20 tetes/menit • Diit TKTP rendah karbohidrat • Injeksi Silamox 3x1 gr • Paracetamol 3x500 mg • Lesifit 1x1 gr • Aminophilin 3x1/2 gr • Dexamethason 2x1 gr III. 2. Buang air kecil Sejak MRS klien dipasang DC. riwayat PPOM (+). Pemeriksaan penunjang • Pemeriksaan laboratorium darah lengkap • Laboratorium urine • Rencana LP (Lumbal Pungsi) • Rontgent thoraks : KP duplek • Tahun 2003 klien pernah periksa CT Scan : Ventrikulo megalo 6.

11. Pola seksualitas dan reproduksi Klien mempunyai 13 anak dari 2 istri. mulai pukul 22. dan istri kedua mempunyai 12 anak. tetapi klien dan keluarga menganut kepercayaan. 3 : dibantu orang lain dan alat. nampak dengan anak-anak yang bergiliran menunggui dan merawat klien di RS. klien mampu menjawab pertanyaan meskipun kadang jawaban tidak sesuai dengan pertanyaan. Pola manajemen koping stress Stress terbesar yang dirasakan klien adalah kondisi sakitnya yang belum sembuh-sembuh. pahit dan asam. Pola perceptual Klien masih dapat melihat dengan jelas. 4 : tergantung total Oksigenasi : ventilasi spontan. Klien tidak menggunakan alat kontrasepsi. klien merasa mampu berbicara meskipun suaranya sangat lemah. Siang hari klien biasanya tidur sekitar 1-2 jam 6. 1: alat bantu. Keluhan utama yang dirasakan saat ini : lemas. IV.7 C 3. 5. Vital sign • • • • BP : 160/90 mmHg Pulse : 98 x/mnt RR : 24 x/mnt T : 37. Sistem nilai dan keyakinan Klien dan keluarga mengatakan bahwa klien tidak memeluk agam tertentu. badan terasa sakit. Hubungan dengan keluarga sangat dekat. klien juga dapat membedakan rasa panas. BB/TB : 4. dingin.Mobilitas di TT Berpindah Ambulasi/ROM x x x 0 : mandiri. dan mereka tetap melakukan ritual doa kepada Tuhan untuk meminta kesembuhan bagi klien. Pemeriksaan Fisik (Cephalokaudal) 1. Pola persepsi diri Klien terkadang tiba-tiba menangis. sub febris. 2. asin. batuk berdahak. 7. sesak nafas (-). tajam dan tumpul. Pola peran dan hubungan Komunikasi secara langsung. Pola tidur dan istirahat Keluarga mengatakan klien tidur hanya sekitar 3-4 jam dalam sehari. masih dapat mendengar dengan jelas. 2 : dibantu orang lain. 9. klien mengeluh lemas.00-05. kulit pantat lecet. 10. Kepala . masih dapat membedakan rasa manis. Istri pertama mempunyai 1 anak. dan mengatakan bahwa dirinya menderita/nelangsa karena sakitnya yang tidak sembuh-sembuh 8.00 WIB. kemudian meninggal.

Sklera ikterik (-) Pendengaran : masih dapat mendengar suara dengan jelas Mulut : kotor. kaku kuduk (+) Jantung : Cardiomegali (-). kering. Hasil Pemeriksaan Penunjang dan Laboratorium Laboratorium (30 September 2004) Urine : • Warna: kuning jernih • PH : asam • BJ : 1. Thorak : • • Rambut (+). ektremitas bawah : V. vesikuler. Injeksi ceftriaxon 2x1 gr Injeksi Dexamethason 2x1 ampul Diamox 2x1 Paracetamol k/p RHEZ 1x3 tablet (pagi) Program Terapi VI. S1-2 murni. tidak ada Mata : Konjungtiva anemis (-).• ketombe/kutu • • • 6. nyeri tekan (-). bersih.7. gallop Paru : sonor. Inguinal : tidak ada benjolan 9. distribusi merata. RBK +/+ 7.025 • Protein : (+) • Keton : (-) • Leukosit : 2-4/LPB • Eritrosit : 1-2/LPB • Silinder : (-) • Epitel : 0-1 • Kristal : (-) Darah : • WBC : 16. Leher : Peningkatan JVP (-). Ekstremitas : • Kulit : warna sawo matang. luka ekskoriasi/dikubitus di pantat • Edema (-) • Kekuatan otot : ektremitas atas : . H/L tidak teraba. Abdomen : supel. peristaltik (+). klien mengeluh kadang mules 8. bibir : mukosa kering 5. 103/mm3 .

• • • RBC HGB HCT : 5. Sekresi yang tertahan. kadang ditelan kembali • Pemeriksaan fisik : auskultasi paru : suara D A T A ETIOLOGI Banyaknya mukus.3 g/dL : 48.33. 103/mm3 LED : 14 GD S : 76 mg/dL SGOT : 40 SGPT : 19 Ureum : 40 Creatinin : 1/4 Gol darah : 0 Rontgent thorak AP (30 September 2004) • Bercak infiltrat tersebar di kedua paru • Sinus dan diafragma baik • Besar cor normal Kesan : KP Duplek A N A L I S A NO 1 DATA DS : • Keluarga mengatakan klien mulai batuk sejak 2 bulan ini DO : • Klien batukbatuk berdahak • Klien tampak lemas (mobilisasi harus dibantu) • Dahak kadang dikeluarkan klien. Sekresi bronkhus PROBLEM Bersihan jalan nafas tidak efektif definisi : Ketidakmampuan unutk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernafasan untuk mempertahankan kebersihan jalan nafas . 106/mm3 : 15.2 % • • • • • • • • PLT : 335.

ukuran 3x2 cm.2 3 4 ronkhi basah • Rontgent thoraks : kesan KP Duplek DS : • Keluarga mengatakan selama masuk RS klien hanya tidur terlentang. dll) dipenuhi oleh keluarga DO : Kerusakan integritas kulit definisi : Perubahan pada dermis dan epidermis Imobilitas fisik. toileting. berpakaian. klien jarang dimiringkan karena klien selalu mengeluh lemas jika bergerak DO : • Kulit pantat lecet. N : 96 x/mnt. dan 2x1 cm • Jaringan luka tampak merah DS : • Klien mengeluh lemas • Klien menyatakan seluruh tubuhnya terasa sakit • Klien mengatakan tidak mampu untuk beraktivitas • Klien mengatakan tidak mampu mengangkat kakinya DO : • Klien tampak lemah • Ekatrimitas bawah lemah • Klien tidak mampu mengangkat kakinya secara mandiri • Klien tidak mempu alih posisi secara mandiri • Vital sign : TD : 160/90 mmHg. tirah baring/imobilisasi Defisit perawatan diri definisi : Gangguan kemampuan melakukan aktivitas perawatan diri seharihari Kelemahan • Klien tirah baring • Klien BAK dibantu dengan alat (DC) • Klien BAB di atas TT. kemahan Intoleransi aktivitas definisi : Ketidakcukupan energi secara fisiologis maupun psikologis untuk meneruskan atau menyelesaikan aktivitas yang diminta atau aktivitas seharihari Kelemahan. RR : 24 x/mnt DS : • Keluarga mengatakan semua kebutuhan sehari-hari klien (makan/minum. dilayani oleh keluarga • Klien .

tidak mengenal/familiar terhadap informasi .5 makan/minum disuapi • Klien tidak mampu merawat dirinya sendiri DS : • Klien mengatakan merasa sangat menderita karena kondisi sakitnya DO : Hopeless definisi : Pernyataan subjektif dimana seseorang memiliki keterbatasan atau tidak mempunyai alternatif atau tidak memiliki pilihan sendiri dan tidak mampu untuk menggerakkan tenaga atas kemauan sendiri Defisit Pengetahuan tentang TB Paru danMeningitis definisi : Tidak adanya atau kurangnya informasi kognitif Kegagalan atau penurunan kondisi fisik yang berkepanjangan • Klien kadangkadang tiba-tiba menangis • Klien tampak sedih • Klien lebih banyak diam dan tidur 6 DS : • Keluarga mengatakan belum tahu secara jelas tentang penyakit yang diderita klien • Keluarga menyatakan belum mendapatkan informasi tentang penyakit klien • Keluarga bertanya tentang prosedur pengobatan yang harus ditempuh DO : • - Kurang paparan.

IMPLEMENTASI DAN CATATAN PERKEMBANGAN Hr/Tgl Selasa 5 Okt 2004 No Dx Jam Implementasi • Merawat luka dikubitus • Mengam bil sputum untuk pemeriksaan BTA sewaktu • Mengajar i klien dan keluarga cara batuk efektif • Mengajar i klien dan keluarga cara melatih gerak pasif-aktif pada ekstremitas • Memotiv asi klien dan keluarga agar melakukan latihan gerak sesuai kemampuan • Memotiv asi keluarga untuk membantu klien meningkatkan intake cairan dan nutrisi • Menjelas kan pada keluarga tentang pentingnya cairan untuk pengeluaran sputum • Memerik sa tanda-tanda vital. tanda-tanda menigitis. dan suara pernafasan • Mengkaji pengetahuan keluarga tentang penyakit yang diderita klien • Merawat luka dikubitus • Mengam bil sputum untuk pemeriksaan BTA pagi • Memotiv asi keluarga untuk mengambil sputum untuk pemeriksaan BTA sewaktu (siang) • Memotiv asi keluarga dan klien Evaluasi Rabu .

faktor resiko. kemampuan klien dalam beraktivitas • Melakuk an fisioterapi dada untuk pengeluaran sputum • Mengajar i klien dan keluarga cara melakukan fisioterapi dada • Memotiv asi klien agar selalu optimis • Menjelas kan kepada keluarga tentang : pengertian TB dan Meningistis. eliminasi BAB dan BAK. • Melakuk an discharge planning : Menjelaskan perawatan luka dikubitus di rumah Menjelaskan tentang alih posisi : cara dan waktu .untuk memenuhi intake nutrisi dan cairan yang adekuat • Melatih gerak pada ekstremitas yang lemah • Memonit or vital sign dan meningeal sign • Memotiv asi klien agar mempunyai semangat untuk hidup dan sembuh • Mendisk usikan bersama klien dan keluarga tentang sumbersumber pendukung yang dimiliki • Menjelas kan pada klien dan keluarga tentang pengobatan yang harus dijalani dan kemungkinan bperkembangan penyakitnya • Merawat luka dikubitus • Memonit or istirahat tidur. cara penularan. perawatan dan pengobatan. intake nutrisi dan cairan. tanda dan gejala.

Menjelaskan tentang pentingnya pemenuhan intake adekuat Memotivasi keluarga untuk melanjutkan pengobatan secara rutin sampai klien sembuh Memotivasi keluarga untuk melakukan latihan fisik aktif pasif secara rutin Memotivasi keluarga untuk menjaga kebersihan lingkungan yang mendukung kesembuhan klien Memotivasi .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->