Anda di halaman 1dari 52

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Rumah Sakit merupakan salah satu sarana upaya kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat memiliki peran strategis dalam mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat sebagai tujuan pembangunan kesehatan, oleh karena itu Rumah Sakit dituntut untuk memberikan pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar yang ditetapkan (Depkes RI, 2005) Rumah sakit sebagai salah satu sub sistem pelayanan kesehatan memberikan dua jenis pelayanan kepada masyarakat yaitu pelayanan kesehatan dan pelayanan administrasi. Pelayanan kesehatan mencakup pelayanan medik, pelayanan penunjang medik, rehabilitasi medik dan pelayanan perawatan. Pelayanan tersebut dilaksanakan melalui unit gawat darurat, unit rawat jalan dan unit rawat inap. Sasaran pelayanan kesehatan rumah sakit bukan hanya individu pasien, tapi sudah berkembang mencakup keluarga pasien dan masyarakat umum. Fokus perhatiannya adalah pasien sebagai individu maupun sebagai bagian dari sebuah keluarga. Dengan demikian pelayanan kesehatan di rumah sakit merupakan pelayanan kesehatan paripurna (komprehensif dan holistik)

(Muninjaya, 2004). Rendahnya tingkat BOR (Bed Occupancy Rate) yang dicapai sebenarnya menggambarkan bahwa kualitas pelayanan di rumah sakit yang bersangkutan 1

2 kurang baik. Jika BOR (Bed Occupancy Rate) rendah dan ALOS (Average Length of Stay) tinggi, maka berarti pelayanan rumah sakit buruk. Oleh karena itu sebagai koskuensinya jika angka BOR (Bed Occupancy Rate) rendah maka pihak manajemen rumah sakit yang bersangkutan harus meningkatkan kualitas pelayanan pada pasien, terutama bagi mereka yang sedang dalam rawat inap (Wahdi, 2006). Salah satu cara utama mendiferensiasikan pelayanan jasa kesehatan termasuk pelayanan rawat inap adalah memberikan jasa pelayanan kesehatan yang berkualitas, lebih tinggi dari pesaing secara konsisten. Kuncinya adalah memenuhi atau melebihi harapan pasien tentang mutu pelayanan yang diterimanya. Setelah menerima jasa pelayanan kesehatan, pasien akan membandingkan jasa yang dialami dengan jasa yang diharapkan, pasien tidak berminat lagi memanfaatkan penyedia pelayanan kesehatan. Jika jasa yang dialami memenuhi atau melebihi harapan, mereka akan menggunakan penyedia pelayanan kesehatan itu lagi (Trimurthy,2008). Pandangan masyarakat akan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia semakin menurun hal ini terlihat dari Pasien Indonesia yang berobat ke luar negeri terus meningkat Data Singapore Medicine yang dikutip oleh Akhmadi (2005) menyebutkan, kunjungan pasien khusus untuk berobat sebanyak 374.000 pasien dari manca negara, sebagian pasien mengunjungi Rumah Sakit Mount Elizabeth, sekitar 90 % pasiennya dari Indonesia. Salah satu stasiun TV swasta di Indonesia (2008 dalam Fadila, 2009) menunjukkan bahwa tahun 2006 pasien dari Indonesia yang berobat di rumah sakit Singapura sebanyak 30% dan pada tahun

3 2007 meningkat lagi menjadi 50%. Data dari Konjen RI Penang (2004) menyebutkan dalam kurun waktu Januari hingga Juni 2004, jumlah kunjungan pasien Indonesia yang berobat ke Rumah Sakit Lam Wah Ee Penang mencapai 9000 orang atau rata-rata 50 pasien per hari. Kurun waktu yang sama di Rumah Sakit Adventist Penang tercatat 10.000 orang atau 55 pasien perhari. Hampir 80% kunjungan pasien ke rumah sakit di Penang adalah warga Medan dan Sumut, sebagian lainnya berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), jika kondisi ini dibiarkan, maka rumah sakit di daerah ini hanya dikunjungi oleh pasien-pasien miskin yang mengandalkan Askeskin dan Askes, sedangkan warga kelas menengah dan atas akan berobat ke luar negeri. Harian Aceh (2008) menyebutkan bahwa angka kunjungan masyarakat Aceh yang berobat ke Malaysia sebanyak 200 orang setiap minggunya, atau sekitar 20% pasien dari aceh berobat ke Malaysia pada setiap minggunya. Tingginya minat masyarakat berobat keluar negeri seperti Malaysia dan Singapura secara umum disebabkan faktor kelengkapan fasilitas dan kualitas pelayanan yang diberikan telah memenuhi harapan pasien (Fadila, 2009). Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dapat dilakukan dari berbagai aspek pelayanan seperti peningkatan kualitas fasilitas kesehatan, peningkatan kualitas profesionalisme sumber daya manusia dan peningkatan kualitas manajemen rumah sakit. Pelayanan yang berkualitas harus dijaga dengan melakukan pengukuran secara terus menerus, agar diketahui kelemahan dan kekurangan dari jasa pelayanan yang diberikan dan dibuat tindak lanjut sesuai prioritas permasalahannya (Martina, 2011).

4 Kepuasan pasien akan mutu pelayanan kesehatan sangatlah penting terhadap keloyalitasan pasien dalam memanfaatkan kembali layanan tersebut di masa yang akan datang. Penilaian ini meliputi penilaian akan pelayanan dokter, pelayanan perawat dan fasilitas yang tersedia di rumah sakit. Pelayanan keperawatan merupakan sub sistem dalam sistem pelayanan kesehatan di Rumah Sakit sudah pasti punya kepentingan untuk menjaga mutu pelayanan, terlebih lagi pelayanan keperawatan sering dijadikan tolak ukur citra sebuah Rumah Sakit di mata masyarakat, sehingga menuntut adanya profesionalisme perawat pelaksana maupun perawat pengelola dalam memberikan dan mengatur kegiatan asuhan keperawatan kepada pasien. Kontribusi yang optimal dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang berkualitas akan terwujud apabila system pemberian asuhan keperawatan yang digunakan mendukung terjadinya praktik keperawatan profesional dan berpedoman pada standar yang telah ditetapkan serta dikelola oleh manajer dengan kemampuan dan ketrampilan yang memadai (Wahyuni, 2007). Dalam pelayanan keperawatan, caring merupakan bagian inti yang penting terutama dalam praktik keperawatan dan perawat menjadi jaminan apakah layanan perawatan bermutu apa tidak (Wasisto, 2010). Perawat merupakan tenaga kesehatan yang mempunyai waktu paling lama dalam berinteraksi dengan pasien dibandingkan tenaga kerja lain di rumah sakit, karena selama 24 jam sehari perawat selalu berada di sisi pasien dan ini merupakan variabel yang paling mudah bersentuhan dengan kepuasan pasien. Profesi perawat dituntut untuk memberikan pelayanan asuhan keperawatan yang bermutu, memiliki landasan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang kuat,

5 disertai sikap dan tingkah laku yang profesional dan berpegang kepada etika keperawatan (Nursalam, 2002). Asuhan keperawatan bermutu yang diberikan oleh perawat dapat dicapai apabila perawat dapat memperlihatkan sikap caring kepada klien. Dalam memberikan asuhan, perawat menggunakan, Keahlian Kata-kata yang lemah lembut, Sentuhan, Memberikan harapan, Selalu berada disamping klien, Bersikap caring sebagai media pemberi asuhan. Para perawat dapat diminta untuk merawat, namun meraka tidak dapat diperintah untuk memberikan asuhan dengan menggunakan spirit caring. Spirit caring harus tumbuh dari dalam diri perawat dan berasal dari hati perawat yang terdalam (Wasisto, 2010). Caring dalam keperawatan adalah hal yang sangat mendasar, caring merupakan jantung dari profesi, artinya sebagai komponen yang unik, fundamental dan menjadi fokus sentral dari keperawatan. Salah satu bentuk pelayanan keperawatan adalah perilaku caring perawat yang merupakan inti dalam praktek keperawatan profesional. Seorang perawat dalam memberikan asuhan keperawatan harus mencerminkan perilaku caring dalam setiap tindakan (Sukmawati, 2009). Prilaku caring akan menimbulkan rasa nyaman bagi pasien, hal ini perlu di evaluasi dan di ukur dalam meningkatkan kualitas pelayanan karena kenyamanan menjadi hal penting bagi pasien dalam memilih untuk memanfaatkan pelayanan dari Rumah Sakit (Novida, 2009). Penelitian Prabowo (2007), di instalasi rawat inap RSUD Sleman Yogyakarta menunjukkan bahwa secara umum 48,9% pasien mengungkapkan perawat selalu berperilaku caring. Komponen caring yang dinilai baik adalah

6 kepedulian yaitu 64,4% sedangkan tanggung jawab hanya 28,8%. Sebagian besar pasien merasakan puas terhadap perilaku caring perawat yaitu 56,6%. Adapun komponen yang memberikan kontribusi terbesar terhadap kepuasan adalah kepedulian dengan 58,9%. Ada hubungan perilaku dengan kepuasan pasien tentang caring perawat diperoleh nilai signifikansi (P) < 0,05 yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku dengan kepuasan pasien tentang caring perawat dengan korelasi koefisien (r) = 0,857 dan P = 0,000 < 0,05. Semakin baik penilaian pasien terhadap perilaku caring perawat maka semakin tinggi pula kepuasan pasien tentang caring perawat. Penelitian Siswoyo (2008) di Rumah Sakit Khusus Bedah Hasta Husada menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan dengan rencana memanfaatkan kembali pelayanan Keperawatan Rumah Sakit Khusus Bedah Hasta Husada. Dengan uji statistik chi Square didapatkan X2 hitung (9.84) lebih besar dari harga X2 tabel (3.481). Di provinsi Bengkulu tepatnya di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu yang merupakan rumah sakit rujukan tertinggi dan merupakan rumah sakit tipe B, serta melaksanakan berbagai upaya pelayanan yang ditujukan guna membantu penyembuhan penderita yang datang berobat ke rumah sakit. Jenis pelayanan yang dilaksanakan di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu meliputi pelayanan rawat jalan, rawat inap (salah satunya ruang Seruni), IGD, Hemodialisa, CT Scan dan pelayanan penunjang lainnya. Berdasarkan data awal penelitian penggunaan tempat tidur di ruang rawat inap seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2010-2011 didapatkan

7 penggunaan tempat tidur pada tahun 2010 nilai rata-rata BOR: 69,7%; nilai ALOS:4,6; nilai TOI : 7,1; nilai BTO : 3,5; Sedangkan pada tahun 2011 ratarata nilai BOR: 42,75% nilai ALOS : 3,7; nilai TOI :10,7; nilai BTO : 2,6;. Nilai BOR yang menunjukkan porsentase pemakaian tempat tidur persatuan waktu mengalami kecendrungan turun pada tahun 2010 dan pada tahun 2011 nilai BOR mengalami penurunan dan belum menunjukkan nilai optimal idealnya yaitu 85%. Nilai ALOS yang menggambarkan tingkat efisiensi dan mutu belum berada pada rata-rata ideal perawatan seseorang yaitu 6-9 hari. Nilai TOI yang menggabarkan rata-rata hari tempat tidur tidak ditempati belum menunjukkan rata-rata ideal karena dalam nilai idealnya 1-3 hari (Depkes RI, 1997, Wijono, 2000 dalam Hermansyah 2006) Hasil survey awal dan pengamatan peneliti saat melakukan prapenelitian di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu didapatkan gambaran bahwa pemanfaatan pelayanan rawat inap di Ruang Rawat Inap Seruni masih tergolong rendah dibandingkan dengan ruang rawat inap lainnya. Hal tersebut terlihat berdasarkan pengumpulan data awal sebelum penelitian pada bulan Januari tahun 2012, dengan mengunakan teknik wawancara dan pengamatan tentang persepsi pasien terhadap penerapan prilaku caring perawat dan rencana pemanfaatan kembali pelayanan rawat inap jika membutuhkan dikemudian hari. Berdasarkan pengumpulan data tersebut dapat diketahui dari 7 pasien 4 orang diantaranya mengatakan apabila mereka membutuhkan perawatan rawat inap dengan penyakit yang sama mereka ingin dirawat di rumah sakit lain hal ini dikarenakan mereka tidak puas dengan pelayanan perawat. Mereka mengatakan ada sebagian perawat

8 yang cuek, tidak ramah dalam berkomunikasi, dan terkesan tidak perduli dengan pasien. Penelitian wulandari (2009) di di Ruang Melati (C2) RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu menyatakan bahwa sebagian besar responden menyatakan pelayanan perawat dengan kategori kurang baik (78,4%) Penelitian Hermansyah (2006) di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu menunjukkan bahwa sebagian besar (83,6%) responden mempunyai rencana memanfaatkan kembali RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu bila memerlukan pelayanan rawat inap dikemudian hari. Adapun alasan utama pasien merencanakan pemanfaatan kembali RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu adalah pelayanannya baik/memuaskan (37,8%). Sementara itu alasan utama pasien merencanakan memilih rumah sakit lain adalah pelayananannya lebih baik dari RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu (35,5%). Penelitian lain yang dilakukan Hermansyah dkk (2011) di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu menunjukkan bahwa separuh (53,3%) responden dengan penerapan caring kurang baik. Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik dan berkeinginan untuk melakukan penelitian tentang hubungan penerapan perilaku caring perawat dengan rencana pemanfaatan kembali pelayanan rawat inap di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu, B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang telah diuraikan di atas maka permasalahan yang akan diteliti adalah Masih rendahnya rencana Pemanfaatan Kembali Pelayanan Rawat Inap di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu, sedangkan rumusan masalah adalahApakah terdapat hubungan penerapan perilaku caring perawat

9 dengan rencana pemanfaatan kembali pelayanan rawat inap di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu?

C. Tujuan Penelitian. 1. Tujuan Umum. Diketahuinya hubungan penerapan perilaku caring perawat dengan rencana pemanfaatan kembali pelayanan rawat inap di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu 2. Tujuan Khusus : a. Diketahuinya gambaran rencana pemanfaatan kembali pelayanan rawat inap di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu b. Diketahuinya gambaran penerapan perilaku caring perawat di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu c. Diketahuinya hubungan penerapan perilaku caring perawat dengan rencana pemanfaatan kembali pelayanan rawat inap di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu

D. Manfaat Penelitian Penelitian yang dilakukan diharapkan memberikan manfaat bagi pihakpihak yang terkait, antara lain : 1. Untuk Rumah Sakit M.Yunus. Hasil penelitian ini dapat memberikan masukkan mengenai hubungan penerapan perilaku caring perawat dengan rencana pemanfaatan kembali

10 pelayanan rawat inap di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu. Dan diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan dalam meningkatkan mutu pelayanan keperawatan terutama pada hubungan antara perawat dengan klien sehingga memberikan kepuasan klien yang akan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Rumah Sakit. 2. Bagi Stikes Dehasen Bengkulu. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan informasi bagi penelitian serupa di masa mendatang atau sebagai informasi pembanding bagi penelitian yang berhubungan dengan perilaku caring perawat, dan sebagai sumber pustaka yang berhubungan dengan perilaku caring perawat, dan

penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan pembelajaran pada pihak institusi pedidikan untuk menciptakan tenaga perawat yang professional yang mencerminkan prilaku caring. 3. Bagi peneliti lain Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai data dasar untuk penelitian serupa yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan rumah sakit dan diharapkan akan dikembangkan lebih lanjut dan diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan pada peneliti yang akan datang, dalam membuat bentuk penelitian yang lain.

11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Perilaku Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan


1. Definisi Perilaku Perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Perilaku juga dapat dikatakan sebagai totalitas penghayatan dan aktivitas seseorang yang merupakan hasil bersama antara beberapa faktor. Sebagian besar perilaku manusia adalah operant response yang berarti respons yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus tertentu yang disebut reinforcing stimulation atau reinfocer yang akan memperkuat respons. Oleh karena itu untuk membentuk perilaku perlu diciptakan adanya suatu kondisi tertentu yang dapat memperkuat pembentukan perilaku (Prasetijo, 2004) Prasetijo, (2004) mengatakan dalam memahami pasien sebagai konsumen dari jasa pelayanan yang diberikan rumah sakit, dapat dilihat dengan menggunakan pendekatan perilaku konsumen, seperti yang didefinisikan oleh Schiffman dan Kanuk, yaitu merupakan proses yang dilalui oleh seseorang dalam mencari dan membeli, menggunakan, mengevaluasi dan bertindak pasca konsumsi produk maupun jasa yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhannya. Proses ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu: a. Tahap perolehan (acquisition) : mencari (searching) dan membeli (purchasing) 11

12 b. Tahap konsumsi (consumption) : menggunakan (using) dan mengevaluasi (evaluating). c. Tahap tindakan pasca beli (disposition) Sedangkan perilaku pencarian dan pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan dapat dijelaskan sebagai suatu upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit. Meskipun perilaku adalah bentuk respons atau reaksi terhadap stimulus dari luar individu, namun dalam memberikan respons sangat tergantung pada karakteristik atau faktor-faktor lain dari orang yang bersangkutan. Hal ini berarti meskipun stimulusnya sama bagi beberapa orang, namun respons masing-masing orang berbeda. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku Faktor-faktor yang membedakan respons terhadap stimulus yang berbeda disebut juga determinan perilaku, yang dapat dibedakan menjadi dua yakni :
a. Determinan

atau factor internal,

yakni karakteristik individu yang

bersangkutan yang bersifat bawaan, misalnya : tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin, dll.
b. Determinan atau factor eksternal yakni lingkungan baik lingkungan fisik,

social, budaya, ekonomi, politik. Faktor lingkungan ini sering merupakan faktor yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang. Notoatmojo (2007) mengungkapkan ada 5 tingkatan perilaku individu dalam mencari pertolongan yaitu :
a. Tingkat pengalaman gejala-gejala. b. Tingkat asumsi peranan sakit

13
c. Tingkat peranan berhubungan dengan pelayanan kesehatan d. Tingkat ketergantungan pasien e. Tingkat penyembuhan

Sedangkan Smet, Bart (1999) menguraikan tentang pertimbangan lain yang mendorong orang memutuskan pergi ke pelayanan medis, yakni adanya sejumlah faktor non fisiologis, seperti adanya perawatan medis, kemampuan pasien untuk membayar, serta kegagalan dan kesuksesan perawatan. Ciri-ciri demografis seperti jenis kelamin, ras, umur, status ekonomi dan pendidikan, juga menjadi variabel penting dalam perilaku mencari bantuan. Menurut Notoatmojo (2007) faktor keputusan pasien untuk tetap

memanfaatkan jasa pelayanan medis yang ditawarkan rumah sakit tidak terlepas dari faktor perilaku yang dimiliki oleh masing-masing individu. Adapun faktorfaktor yang merupakan penyebab perilaku dapat dibedakan dalam tiga jenis yaitu:
a. Faktor predisposisi (Predisposing factors)

Faktor ini merupakan faktor anteseden terhadap perilaku yang menjadi dasar atau motivasi bagi perilaku. Termasuk dalam faktor ini adalah pengetahuan, sikap, keyakinan, nilai dan persepsi yang berkenaan dengan motivasi seseorang atau kelompok untuk bertindak.
b. Faktor pemungkin (Enabling factors)

Faktor pemungkin adalah faktor anteseden terhadap perilaku yang memungkinkan suatu motivasi atau aspirasi terlaksana. Termasuk dalam faktor pemungkin adalah ketrampilan, sumber daya pribadi dan komunitas.

14 Seperti tersedianya pelayanan kesehatan, keterjangkauan, kebijakan, peraturan dan perundangan.


c. Faktor penguat (Reinforcing factors)

Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan memperoleh dukungan atau tidak. Sumber penguat tentu saja tergantung pada tujuan dan jenis program. Di dalam pendidikan pasien, penguat berasal dari perawat, dokter, pasien lain dan keluarga. Apakah penguat positif ataukah negatif bergantung pada sikap dan perilaku orang lain yang berkaitan, yang sebagian diantaranya lebih kuat daripada yang lain dalam mempengaruhi perilaku. Berdasarkan perilaku dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, pasien akan memutuskan menggunakan pelayanan kesehatan. Menurut Notoatmojo (2007) keputusan seseorang dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan tergantung pada : a. Karakteristik Predisposisi (Predisposing characteristic) Karakteristik ini digunakan untuk menggambarkan fakta bahwa tiap individu mempunyai kecenderungan untuk menggunakan pelayanan

kesehatan yang berbeda-beda. Karakteristik predisposisi dapat dibagi ke dalam 3 kelompok yakni : 1) Ciri-ciri demografi anggota keluarga 2) Struktur social agama,kesukuan. : jenis pekerjaan, status sosial,, pendidikan, ras, : umur, jenis kelamin, status perkawinan, jumlah

15 3) Kepercayaan kesehatan : keyakinan, sikap, pengetahuan terhadap pelayanan kesehatan, dokter dan penyakitnya. b. Karakteristik Pendukung ( Enabling characteristic ) 1) Sumber daya keluarga : penghasilan keluarga, kemampuan membeli jasa pelayanan dan keikutsertaan dalam asuransi kesehatan. 2) Sumber daya masyarakat : jumlah sarana pelayanan kesehatan, jumlah tenaga kesehatan, rasio penduduk dengan tenaga kesehatan dan lokasi sarana. 3) Karakteristik Kebutuhan ( Need characteristik ) Kebutuhan merupakan dasar dan stimulus langsung untuk menggunakan pelayanan kesehatan, bilamana tingkat predisposisi dan pendukung itu ada. Karakteristik kebutuhan itu sendiri dapat dibagi menjadi 2 kategori yakni : a) Perceived (subject assessment) : simptom, fungsi-fungsi yang terganggu, persepsi terhadap status kesehatannya. b) Evaluated (clinical diagnosis) : simptom dan diagnosis. 3. Perilaku Pembelian. Dalam membeli suatu produk, baik barang atau jasa, seorang konsumen melakukan aktivitas yang disebut aktivitas pembelian konsumen (Concumer Purchase Activities). Aktivitas pembelian diawali dari adanya kebutuhan, pencarian dan analisa alternatif pemenuhan kebutuhan, pembelian dan penggunaan (konsumsi) produk yang dibeli, evaluasi dan pemberian feedback. (William dan Prensky, 1996)

16 Aktivitas pembelian konsumen dalam memuaskan kebutuhannya pada kenyataannya dipengaruhi oleh proses perilaku dan latar belakang karakteristik konsumen. Kesadaran akan kebutuhan merupakan awal dari semua tindakan dalam perilaku konsumen. Kebutuhan konsumen sangat berbeda, relatif, dan subyektif. Selanjutnya adalah pencarian alternatif pemenuhan kebutuhan tersebut, pembelian dan konsumsi, dan akhirnya evaluasi atas pengalaman konsumsinya dilanjutkan dengan feed back (William dan Prensky, 1996) 4. Pemanfaatan Kembali Pelayanan Rumah Sakit Keputusan memanfaatkan kembali pelayanan atau kunjungan ulang merupakan prilaku yang muncul sebagai respon terhadap objek yang menunjukkan keinginan pelanggan untuk melakukan pembelian ulang. Niat kunjungan ulang dapat juga diartikan sebagai bagian dari tahapan loyalitas konsumen seperti diungkapkan oleh Oliver dalam Setiawati B (2006) bahwa loyalitas adalah komitmen pelanggan bertahan secara mendalam untuk berlangganan kembali atau melakukan pembelian ulang produk jasa terpilih secara konsisten dimasa yang akan datang, meskipun pengaruh situasi dan usaha-usaha pemasaran mempunyai potensi untuk menyebabkan perubahan prilaku. Proses keputusan pembelian ulang terbentuk sesudah tahapan purna beli dimana konsumen merasakan puas atau tidak puas terhadap suatu produk. Jika konsumen merasa puas, ia akan memperlihatkan peluang yang besar untuk melakukan pembelian ulang serta cendrung merekomendasikan kepada orang lain. Sementara konsumen yang merasa tidak puas akan bereaksi dengan

17 tindakantindakan negatif seperti mendiamkan saja, melakukan komplain, bahkan merekomendasikan negatif kepada orang lain. Pelanggan (Customer) berbeda dengan konsumen (Consumer), seorang dapat dikatakan sebagai pelanggan apabila orang tersebut mulai membiasakan diri untuk membeli produk atau jasa yang ditawarkan oleh badan usaha. Kebiasaan tersebut dapat dibangun melalui pembelian berulangulang dalam jangka waktu tertentu, apabila dalam jangka waktu tertentu tidak melakukan pembelian ulang maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai pelanggan tetapi sebagai seorang pembeli atau konsumen. Griffin (1995) berpendapat bahwa seseorang pelanggan dikatakan setia atau loyal apabila pelanggan tersebut menunjukkan perilaku pembelian secara teratur atau terdapat suatu kondisi dimana mewajibkan pelanggan membeli paling sedikit dua kali dalam selang waktu tertentu. Upaya memberikan kepuasan pelanggan dilakukan untuk mempengaruhi sikap pelanggan, sedangkan konsep loyalitas pelanggan lebih berkaitan dengan perilaku pelanggan daripada sikap dari pelanggan. Pemahaman loyalitas pelanggan sebenarnya tidak hanya dilihat dari transaksi nya saja atau pembelian berulang (repeat customer). Ada beberapa ciri sebuah pelanggan bisa dianggap loyal. Antara lain ; a. Pelanggan yang melakukan pembelian ulang secara teratur. b. Pelanggan yang membeli untuk produk yang lain ditempat yang sama. c. Pelanggan yang mereferensikan kepada orang lain. d. Pelanggan yang tidak dapat dipengaruhi oleh pesaing untuk pindah.

18 Menurut Azwar (1996) suatu pelayanan harus mempunyai persyaratan pokok, hal ini dimaksudkan adalah persyaratan pokok itu dapat memberi pengaruh kepada pasien dalam menentukan keputusannya terhadap penggunaan ulang pelayanan kesehatan. a. Tersedia dan berkesinambungan Syarat pokok pertama pelayanan yang baik adalah pelayanan kesehatan tersebut harus tersedia di masyarakat (acceptable) serta bersifat

berkesinambungan (sustainable). Artinya semua jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat tidak sulit ditemukan, serta keberadaannya dalam masyarakat adalah pada setiap saat dibutuhkan. b. Dapat diterima dan wajar Syarat pokok kedua pelayanan yang baik adalah yang dapat diterima oleh masyarakat serta bersifat wajar artinya pelayanan kesehatan tersebut tidak bertentangan dengan kenyakinan dan kepercayaan masyarakat. pelayanan kesehatan yang bertentangan dengan kenyakinan, adat istiadat, kebudayaan masyarakat serta bersifat tidak wajar bukanlah suatu keadaan pelayanan kesehatan yang baik. c. Mudah di capai Syarat pokok ke tiga adalah mudah dicapai (accessible) oleh masyarakat. Pengertian ketercapaian yang dimaksud disini terutama dari sudut lokasi. Dengan demikian untuk dapat mewujudkan pelayanan kesehatan yang baik maka pengaturan distribusi sarana kesehatan menjadi sangat penting. Bila fasilitas ini mudah dijangkau dengan menggunakan alat transportasi yang

19 tersedia maka fasilitas ini akan banyak dipergunakan. Tingkat penggunaan dimasa lalu dan kecendrungan merupakan indikator terbaik untuk perubahan jangka panjang dan pendek dari permintaan pada masa yang akan datang. d. Terjangkau Syarat pokok keempat pelayanan yang baik adalah terjangkau (affordable) oleh masyarakat. Pengertian keterjangkauan yang dimaksud disini terutama dari sudut biaya untuk dapat mewujudkan harus dapat diupayakan biaya pelayanan kesehatan tersebut sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat. Pelayanan kesehatan yang mahal yang hanya dapat dinikmati oleh sebahagian masyarakat saja, bukan pelayanan kesehatan yang baik. e. Bermutu Syarat pokok kelima pelayanan yang baik adalah bermutu (Quality) yaitu yang menunjukan pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan, yang disatu pihak dapat memuaskan para pemakai jasa pelayanan dan dipihak lain tata cara penyelenggaraan sesuai kode etik serta standar yang telah ditetapkan.

B. Konsep Caring
1. Pengertian Caring dan Konsep Dasar Caring Caring adalah esensi dari keperawatan yang berarti juga pertanggung jawaban hubungan antara perawat-klien, dimana perawat membantu

20 berpartisipasi, kesehatan. Caring adalah esensi dari keperawatan yang merupakan fokus dan sentral dari praktik keperawatan. Caring dalam keperawatan adalah hal yang sangat mendasar. Caring merupakan heart profesi, artinya sebagai komponen yang fundamental dari fokus sentral serta unik dari keperawatan (Barnum, 1994). Terkait dengan perilaku caring perawat, maka Potter & Perry (2005) mendefinisikan caring sebagai pemberian perhatian penuh pada klien saat memberikan asuhan keperawatan. Meskipun perkataan caring telah digunakan secara umum, tetapi tidak terdapat definisi dan konseptualisasi yang universal mengenai caring itu sendiri. Setidaknya terdapat lima perspektif atau kategori mengenai caring, yaitu caring sabagai sifat manusia caring sebagai intervensi terapeutik, dan caring sebagai bentuk kasih sayang (Swanson, 1991, dalam Leddy, 1998). Caring sulit untuk didefinisikan karena memilki makna banyak : sebagai kata benda atau kata kerja, sebagai sesuatu yang dapat dirasakan, sebagai sikap atau perilaku. Meskipun demikian, pakar-pakar keperawatan banyak yang telah melakukan pendekatan-pendekatan untuk mendefinisikan dan menjabarkan perilaku caring. Sedangkan perilaku caring perawat adalah suatu perilaku yang meliputi seperti : mendengarkan penuh perhatian, hiburan, kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, menyediakan informasi sehingga pasien dapat membuat keputusan (Simarmata, 2010). membantu memperoleh pengetahuan dan meningkatkan

21 Berbagai penelitian telah menyatakan tentang caring sebagai fokus sentral keperawatan. Stanizewska & Ahmed (1998) menyatakan di dalam penelitiannya bahwa harapan pasien akan asuhan keperawatan adalah asuhan keperawatan yang mencakup perilaku caring perawat di dalamnya (Stanizewska & Ahmed, 1998, dalam Wolf, et al., 2003) Perilaku caring perawat adalah bagian dari praktik keperawatan profesional yang holistik atau menyeluruh. Di dalam penelitiannya Valentine, (1997) mengemukakan bahwa pilihan pasien dalam mencari pusat pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh pengalaman positif terhadap perilaku caring perawat (dikutip dari Wolf, et al., 2003). 2. Faktor-faktor Pembentuk Caring Menurut Watson (2007), fokus utama dari keperawatan adalah faktorfaktor carative yang bersumber dari perspektif humanistik yang dikombinasikan dengan dasar pengetahuan ilmiah. Watson kemudian mengembangkan sepuluh faktor carative tersebut untuk membantu kebutuhan tertentu dari pasien dengan tujuan terwujudnya integritas fungsional secara utuh dengan terpenuhinya kebutuhan biofisik, psikososial dan kebutuhan interpersonal (dikutip dari Dwidiyanti, 1998). Kesepuluh faktor carative tersebut adalah : a. Pendekatan humanistik dan altruistik. Pembentukan sistem nilai humanistik dan altruistik mulai berkembang di usia dini dengan nilai-nilai yang berasal dari orang tuanya. Sistem nilai ini menjembatani pengalaman hidup seseorang dan mengantarkan ke arah

22 kemanusiaan. Perawatan yang berdasarkan nilai-nilai humanistik dan altruistik dapat dikembangkan melalui penilaian terhadap pandangan diri seseorang, kepercayaan, interaksi dengan berbagai kebudayaan dari pengalaman pribadi. Hal ini dianggap penting untuk pendewasaan diri perawat yang kemudian akan meningkatkan sikap altruistik (Dwidiyanti, 1998). Melalui sistem nilai humanistik dan altruistik ini perawat menumbuhkan
rasa puas karena mampu memberikan sesuatu kepada klien (Nurachmah, 200)

b. Menanamkan sikap penuh harapan.


Perawat memberikan kepercayaan dengan cara memfasilitasi dan

meningkatkan asuhan keperawatan yang holistik. Dalam hubungan perawat-klien yang efektif, perawat memfasilitasi perasaan optimis, harapan, dan kepercayaan. Di samping itu, perawat meningkatkan perilaku klien dalam mencari pertolongan kesehatan (Nurachmah, 2001). Kepercayaan dan pengharapan sangat penting bagi proses karatif maupun kuratif. Perawat perlu memberikan alternatif-alternatif bagi pasien jika pengobatan modern tidak berhasil; berupa meditasi, penyembuhan sendiri, dan spiritual. Dengan menggunakan faktor karatif iniakan tercipta perasaan lebih baik melalui kepercayaan dan atau keyakinan yang sangat berarti bagi seseorang secara individu (Dwidiyanti, 1998).

c. Kepekaan terhadap diri sendiri dan orang lain.


Pengembangan perasaan iniakan membawa pada aktualisasi diri melaluio penerimaan diri antara perawat dan klien (Barnhart, et al., 1994, dalam MarinerTomey, 1994). Perawat belajar menghargai kesensitifan dan perasaan klien, sehingga ia sendiri dapat menjadi lebih sensitif dan , murni dan bersikap wajar

23
pada orang lain (Nurachmah, 2001). Perawat yang mampu untuk mengenali dan mengekspresikan perasaannya akan lebih mampu untuk membuat orang lain mengekspresikan perasaan mereka (Kozier & Erb, 1985). Pengembangan kepekaan terhadap diri dan orang lain, mengeksplorasi kebutuhan perawat untuk mulai merasakan suatu emosi yang muncul dengan sendirinya. Hal itu hanya dapat berkembang melalui perasaan diri seseorang yang peka dalam berinteraksi dengan orang lain. Jika perawat berusaha meningkatkan kepekaan dirinya, maka ia akan lebih autentik (tampil apa adanya). Autentik akan menambah pertumbuhan diri dan aktualisasi diri baik bagi perawat sendiri maupun bagi orang-orang yang berinteraksi dengan perawat itu (Dwidiyanti, 1998). d. Hubungan saling percaya dan saling membantu. Pengembangan hubungan saling percaya antara perawat dan klien adalah sangat krusial bagi transportal caring. Hubungan saling percaya akan meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan positif dan negatif.

Pengembangan hubungan saling percaya menerapkan bentuk komunikasi untuk menjalin hubungan dalam keperawatan. Karakteristik faktor ini adalah kongruen, empati, dan ramah. Kongruen berarti menyatakan apa adanya dalam berrinteraksi dan tidak menyembunyikan kesalahan. Perawat bertindak dengan cara yang terbuka dan jujur. Empati berarti perawat memahami apa yang dirasakan klien. Ramah berarti penerimaan positif terhadap orang lain yang sering diekspresikan melalui bahasa tubuh, ucapan tekanan suara, sikap terbuka, ekspresi wajah dan lain-lain (Nurachmah, 2001) e. Meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan positif dan negatif.

24
Perawat menyediakan dan mendengarkan semua keluhan dan perasaan klien (Nurachmah, 2001). Berbagi perasaan merupakan pengalaman yang cukup beresiko baik bagi perawat maupun klien. Perawat harus siap untuk ekspresi perasaan positif maupun negatif bagi klien. Perawat harus menggunakan pemahaman intelektual maupun emosional pada keadaan yang berbeda (Barnhart, et al., 1994, dalam Mariner-Tomey, 1994). f. Menggunakan problem solving dalam mengambil keputusan. Perawat menggunakan metode proses keperawatan sebagai pola pikir dan pendekatan asuhan kepada klien, sehingga akan mengubah gambaran tradisional perawat sebagai pembantu dokter. Proses keperawatan adalah proses yang sistematis dan terstruktur, seperti halnya proses penelitian (Nurachmah, 2001). g. Peningkatan belajar mengajar interpersonal. Faktor ini adalah konsep yang penting dalam keperawatan, yang membedakan antara caring dan curing. Perawat memberikan informasi kepada klien. Perawat bertanggungjawab akan kesejahteraan dan kesehatan klien. Perawat memfasilitasi proses belajar mengajar yang didesain untuk

memampukan klien memenuhi kebutuhan pribadinya, memberikan asuhan mandiri, menetapkan kebutuhan personal klien (Barnhart, et al., 1994, dalam Mariner-Tomey, 1994). h. Menciptakan lingkungan fisik, mental, sosiokultural, spiritual yang mendukung. Perawat perlu mengenali pengaruh lingkungan internal dan eksternal klien terhadap kesehatan dan kondisi penyakit klien. Konsep yang relevan terhadap lingkungan internal yang mencakup kesejahteraan mental dan spiritual, dan kepercayaan sosiokultural bagi seorang individu. Sedangkan lingkungan eksternal mencakup variabel epidemiologi, kenyamanan, privasi, keselamatan,

25
kebersihan dan lingkungan yang astetik. Karena klien bisa saja mengalami perubahan baik dari lingkungan internal maupun eksternal, maka perawat harus mengkaji dan memfasilitasi kemampuan klien untuk beradaptasi dengan perubahan fisik, mental, dan emosional (Nurachmah, 2001). i. Memberi bantuan dalam pemenuhan kebutuhan manusia. Perawat perlu mengenali kebutuhan komprehensif yaitu kebutuhan biofisik, psikososial, psikofisikal dan interpersonal klien. Pemenuhan kebutuhan yangh paling mendasar perlu dicapai sebelum beralih ke tingkat yang selanjutnya. Nutrisi, eliminasi, dan ventilasi adalah contoh dari kebutuhan biofisik yang paling rendah. Pencapaian dan hubungan merupakan kebutuhan psikososial yang tinggi, dan aktualisasi diri merupakan kebutuhan interpersonal yang paling tinggi (Barnhart, et al., 1994, dalam Mariner-Tomey, 1994). j. Terbuka pada eksistensial fenomenologikal dan dimensi spiritual penyembuhan. Faktor ini bertujuan agar penyembuhan diri dan kematangaan diri dan jiwa klien dapat dicapai. Terkadang klien perlu dihadapkan pada pengalaman / pemikiran yang bersifat proaktif. Tujuannya adalah agar dapat meningkatkan pemahaman lebih mendalam tentang diri sendiri (Nurachmah, 2001). Faktor karatif ini dalam ilmu keperawatan membantu perawat untuk memahami jalan hidup seseorang dalam menemukan arti kesulitan hidup. Karena adanya dasar yang irrasional tentang kehidupan, penyakit dan kematian, perawat menggunakan faktor karatif ini untuk membantu memperoleh kekuatan atau daya untuk menghadapi kehidupan atau kematian (Dwidiyanti, 1998). Watson menyadari bahwa faktor ini sedikit sulit untuk dipahami, tetapi hal ini akan membawa perawat kepada pemahaman yang lebih baik mengenai diri sendiri dan orang lain (Barnhart, et al., 1994, dalam Mariner-Tomey, 1994).

26 3. Perilaku Caring Daftar dimensi caring (Caring Dimensions Inventory = CDI) yang didesain oleh Watson dan Lea (1997) merupakan instrumen yang dikembangkan untuk meneliti perilaku perawat (perilaku caring). Daftar dimensi caring tersebut antara lain: CDI 1. Membantu klien dalam ADL. CDI 2. Membuat catatan keperawatan mengenai klien. CDI 3. Merasa bersalah /menyesal kepada klien CDI 4. Memberikan pengetahuan kepada klien sebagai individu CDI 5. Menjelaskan prosedur klinik CDI 6. Berpakaian rapi ketika bekerja dengan klien CDI 7. Duduk dengan klien CDI 8. Mengidentifikasi gaya hidup klien CDI 9. Melaporkan kondisi klien kepada perawat senior CDI 10. Bersama klien selama prosedur klinik CDI 11. Bersikap manis dengan klien CDI 12. Mengorganisasi pekerjaan dengan perawat lain untuk klien CDI 13. Mendengarkan klien CDI 14. Konsultasi dengan dokter mengenai klien CDI 15. Menganjurkan klien mengenai aspek self care CDI 16. Melakukan sharing mengenai masalah pribadi dengan klien CDI 17. Memberikan informasi mengenai klien CDI 18. Mengukur tanda vital klien

27 CDI 19. Menempatkan kebutuhan klien sebelum kebutuhan pribadi CDI 20. Bersikap kompeten dalam prosedur klinik CDI 21. Melibatkan klien dalam perawatan CDI 22. Memberikan jaminan mengenai prosedur klinik CDI 23. Memberikan privacy kepada klien CDI 24. Bersikap gembira dengan klien CDI 25. Mengobservasi efek medikasi kepada klien Hasil penelitian Lea Amanda et all (1998) menjelaskan bahwa semua item pada CDI mempunyai korelasi positif dengan item lainnya kecuali CDI no. 3 dan 16. Untuk mengukur perilaku caring perawat, kelompok IV menyusun instrumen berdasarkan CDI 1- 25. Instrumen tersebut meliputi instrument observasi dan kuesioner, yang dapat lihat pada lampiran 1 dan lampiran 2.

C. Hubungan penerapan prilaku caring perawat dengan rancana pemanfaatan


kembali pelayanan rawat inap. Caring dalam keperawatan adalah hal yang sangat mendasar, caring merupakan jantung dari profesi, artinya sebagai komponen yang unik, fundamental dan menjadi fokus sentral dari keperawatan. Salah satu bentuk pelayanan keperawatan adalah perilaku caring perawat yang merupakan inti dalam praktek keperawatan profesional. Seorang perawat dalam memberikan asuhan keperawatan harus mencerminkan perilaku caring dalam setiap tindakan (Sukmawati, 2009). Prilaku caring akan menimbulkan rasa nyaman bagi pasien, hal ini perlu di evaluasi dan di ukur dalam meningkatkan kualitas pelayanan karena kenyamanan

28 menjadi hal penting bagi pasien dalam memilih untuk memanfaatkan pelayanan dari Rumah Sakit (Novida, 2009). Kepuasan pasien akan mutu pelayanan kesehatan sangatlah penting terhadap keloyalitasan pasien dalam memanfaatkan kembali layanan tersebut di masa yang akan datang. Penilaian ini meliputi penilaian akan pelayanan dokter, pelayanan perawat dan fasilitas yang tersedia di rumah sakit. Dalam keperawatan, caring merupakan bagian inti yang penting terutama dalam praktik keperawatan dan perawat menjadi jaminan apakah layanan perawatan bermutu apa tidak (Wasisto, 2010). Penelitian Prabowo (2007), di instalasi rawat inap RSUD Sleman Yogyakarta menunjukkan bahwa ada hubungan perilaku dengan kepuasan pasien tentang caring perawat diperoleh nilai signifikansi (P) < 0,05 yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku dengan kepuasan pasien tentang caring perawat dengan korelasi koefisien (r) = 0,857 dan P = 0,000 < 0,05. Semakin baik penilaian pasien terhadap perilaku caring perawat maka semakin tinggi pula kepuasan pasien tentang caring perawat. Penelitian Siswoyo (2008) di Rumah Sakit Khusus Bedah Hasta Husada menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan dengan rencana memanfaatkan kembali pelayanan Keperawatan Rumah Sakit Khusus Bedah Hasta Husada. Dengan uji statistik chi Square didapatkan X2 hitung (9.84) lebih besar dari harga X2 tabel (3.481). Penelitian Hermansyah (2006) di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu menunjukkan bahwa sebagian besar (83,6%) responden mempunyai rencana

29 memanfaatkan kembali RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu bila memerlukan pelayanan rawat inap dikemudian hari. Adapun alasan utama pasien merencanakan pemanfaatan kembali RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu adalah pelayanannya baik/memuaskan (37,8%). Sementara itu alasan utama pasien merencanakan memilih rumah sakit lain adalah pelayananannya lebih baik dari RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu (35,5%). Hasil penelitiannya juga menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara dimensi reability (p=0,000), responsiveness (p=0,019), comfidence (p=0,000), empathy (p=0,001), tangible (p=0,005) dengan rencana pemanfaatan kembali pelayanan rawat inap di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu. Penelitian lain yang dilakukan Hermansyah dkk (2011) di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu menunjukkan bahwa separuh (53,3%) responden dengan penerapan caring kurang baik.

D. Kerangka konsep
Variabel independen Penerapan prilaku caring perawat Varibel Dependen Rencana pemanfaatan kembali pelayanan rawat inap

Bagan. 2.1. Kerangka konsep

30

E. Hipotesis
Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul, Beradasarkan kerangka konsep yang diatas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut : Ada hubungan antara Penerapan prilaku caring perawat pemanfaatan kembali pelayanan rawat inap dengan Rencana

31

BAB III METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian secara analitik dengan menggunakan desain cross-sectional yang merupakan rencana penelitian dengan menggunakan pengukuran atau pengamatan pada saat bersamaan (sekali sewaktu) antara variabel bebas dengan variabel

tergantung, (Hidayat, 2002). Desain penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut Tidak berencana memanfaatkan kembali pelayanan rawat inap Berencana memanfaatkan kembali pelayanan rawat inap Tidak berencana memanfaatkan kembali pelayanan rawat inap Baik Berencana memanfaatkan kembali pelayanan rawat inap

Kurang baik
Pendapat tentang Penerapan prilaku caring oleh perawat

Pasien rawat inap

Bagan 3.1 Desain penelitian

33

32 B. Definisi Operasional Tabel 3.1 Definisi Operasional NO Variabel 1 Idependen


Penerapan prilaku caring

Definisi opersional

Alat ukur Cara ukur

Hasil ukur

Skala ukur

Pendapat Kuisione pasien r terhadap penerapan prilaku caring oleh perawat di ruang rawat inap seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Keinginan pasien untuk memanfaatk an atau tidak memanfaatk an pelayanan rawat inap di ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu bila membutuhk an pelayanan rawat inap di kemudian hari Kuisione r

Mengajukan pertanyaan

0= kurang Ordinal baik jika skor < 75% 1= baik jika skor > 75%

Dependen Rencana pemanfaata n kembali pelayanan rawat inap

Ordinal
Mengajukan pertanyaan

0. Tidak berencana Memanfa atkan kembali pelayanan rawat inap di ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu. 1. Berencana Memanfa atkan kembali pelayanan rawat inap di ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.

33 C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah sebagian dari keseluruhan subjek penelitian yang akan diteliti, (Notoatmojo, 2002). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh paien rawat inap inap Seruni RSUD. Dr, M. Yunus Bengkulu tahun 2011 2. Sampel Sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi, (Notoatmojo, 2002). Cara

pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik accidental sampling yaitu teknik subyektif dengan mengumpulkan data dari subyek yang ditemui saat itu dan dalam jumlah secukupnya. Besar sampel dihitung menggunakan rumus sebagai berikut: Z1- . p . q n= (d)2 1,962.0,836.0,164 n= 0,0752 0,52 n= 0,0056 n= 93 Responden Keterangan: n : Jumlah sampel

Z1- : Nilai standar normal untuk ,

34 d q p : Penyimpangan / presisi = 0,075 : 1-p : Proporsi = 83,6% di dapat dari hasil penelitian Hermansyah (2006) di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu dengan judul hubungan dimensi mutu pelayanan keperawatan dengan rencana pemanfaatan kembali pelayanan rawat inap di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.

D. Tempat Penelitian Tempat penelitian ini dilakukan di ruang rawat inap Seruni RSUD. Dr. M. Yunus Bengkulu.

E. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2011 sampai bulan april 2012 sedangakan pengumpulan data dilakukan pada bulan 25 februari s/d. 30 April 2012.

F. Etika Penelitian Dalam melakukan penelitian, peneliti memandang perlu adanya rekomendasi dari pihak institusi dengan mengajukan permohonan izin kepada instansi tempat penelitian dalam hal ini diajukan kepada Kepala Rumah Sakit atupun Kepala Ruangan yang bersangkutan. Setelah mendapat

35 persetujuan barulah dilakukannya penelitian dengan menekankan masalah etika penelitian meliputi : 1. Informed consent Lembar persetujuan yang akan diberikan responden yang akan diteliti dan memenuhi kriteria inklusi dan disertai judul penelitian dan manfaat penelitian dan manfaat penalitian. Lembar persetujuan diberikan kepada responden dengan memberi penjelasan tentang maksud dan tujuan penelitian yang akan dilakukan, serta menjelaskan manfaat yang akan diperoleh bila bersedia menjadi responden. Tujuan responden agar mengetahui dampak yang akan terjadi selama pengumpulan data. Jika subyek bersedia menjadi responden, maka harus menandatangani lembar persetujuan . 2. Anonymity (Tanpa Nama) Untuk menjaga kerahasiaan identitas responden, peneliti tidak mencantumkan nama responden melainkan hanya kode nomer atau kode tertentu pada lembar pengumpulan data yang diisi oleh responden sehingga identitas responden tidak diketahui publik. 3. Confidential (Kerahasiaan) Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti dan hanya kelompok data tertentu yang dilaporkan hasil penelitian.

36 G. Pengumpulan, Pengolahan, dan Analisis Data 1. Pengumpulan data Dalam penelitian ini jenis data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dengan cara membagikan kuisioner pada pasien rawat inap untuk memperoleh data tentang penerapan prilaku caring dan rencana pemanfaatan kembali pelayanan rawat inap di ruang rawat inap Seruni RSUD Dr. M . Yunus Bengkulu. Data sekunder untuk mendapatkan data tentang jumlah pasien. 2. Pengolahan data. Data yang dikumpulkan selanjutnya di olah dengan beberapa tahap yaitu: a. Pengeditan Data (Editing). Langakah ini dilakukan peneliti untuk memeriksa kembali kelengkapan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penenelitian dilakukan pengelompokan dan penyusunan data. b.Pengkodean Data (Coding) Coding adalah pengalokasian jawaban jawaban yang ada menurut macamnya kebentuk kode-kode agar lebih mudah dan sederhana. c. Memberikan Skore (Scoring ) Setelah dilakukan koding data, maka dilakukan pemberian skore pada masing-masing sub variabel dan dijumlahkan. d.Memproses Data (processing) Setelah data dikumpukan kemudian diproses dengan computer untuk dianalisis.

37 e. Pembersihan Data (Cleaning) Pembersihan data dilakukan untuk mengoreksi jika ada kesalahan pengolahan data sehingga dapat diperbaiki. 3.Analisa Data. Dalam penelitian ini digunakan analisa data univariat dan analisa bivariat. a. Analisa Univariat. Analisa univariat adalah seluruh variabel yang akan digunakan dalam analisa ditampilkan dalam distribusi frekuensi, Analisa univariat untuk melihat distribusi frekuensi dari masing-masing variabel dependen dan independen dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
F P= N X 100%

Keterangan: P : Jumlah persentase yang dicari F : Jumlah frekuensi untuk setiap kategori N : Jumlah populasi (Arikunto, 2003) b. Analisa Bivariat. Analisa bivariat adalah analisa yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen secara bersamaan dengan menggunakan analisa statistic chi - square (X2), dengan derajat kemaknaan () 5%, dan tingkat signifikan 95%. Diolah dengan menggunakan system komputerisasi. Dengan hasil hipotesis sebagai berikut : a. Ha : diterima apabila p < 0,05. b. Ha : ditolak apabila p > 0,05

38

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di ruang Seruni RSUD. Dr. M. Yunus Bengkulu pada tanggal 25 Februari s/d. 30 April 2012. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penerapan perilaku caring perawat dengan rencana pemanfaatan kembali pelayanan rawat inap di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2012. Jenis penelitian ini adalah secara analitik dengan mengguanakan desain cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien rawat inap Seruni RSUD. Dr, M. Yunus Bengkulu tahun 2011. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 93 responden diambil dengan teknik accidental sampling. Dalam penelitian ini jenis data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dengan cara mengajukan pertanyaan yang ada pada lembar kuisioner pada pasien rawat inap untuk memperoleh data tentang penerapan prilaku caring dan rencana pemanfaatan kembali pelayanan rawat inap di ruang rawat inap Seruni RSUD Dr. M . Yunus Bengkulu. Data yang diperoleh, diolah dan dianalisis dengan menggunakan analisis univariat untuk melihat distribusi frekuensi dan analisis bivariat untuk mendapatkan nilai X2 dan nilai p.

35

39 1. Analisis univariat Analisis univariat pada penelitian ini untuk melihat distribusi frekuensi variabel penelitian yaitu prilaku caring sebagai variabel independen dan rencana pemanfaatan kembali sebagai variabel dependen dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Penerapan Perilaku Caring Perawat di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Tahun 2012 No 1 2 Penerapan Perilaku Caring Perawat Kurang Baik Baik Jumlah Frekuensi (f) 43 50 93 Prosentase (%) 46,2 53,8 100,0

Dari tabel 4.1 dapat diketahui bahwa hampir dari separuh (46,2%) responden menganggap penerapan perilaku caring dari perawat kurang baik. Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Rencana Pemanfaatan Kembali Pelayanan Rawat Inap di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2012 No 1 2 Rencana Pemanfaatan Kembali Pelayanan Rawat Inap Tidak berencana Berencana Jumlah Frekuensi (f) 32 61 93 Prosentase (%) 34,4 65,6 100

Dari tabel 4.2 dapat diketahui bahwa sebagian kecil (34,4%) responden tidak berencana memanfaatkan kembali pelayanan rawat inap di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.

40 Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Alasan Utama Rencana Pemanfaatan Kembali Pelayanan Rawat Inap di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Tahun 2012 No Rencana Pemanfaatan Kembali Pelayanan Rawat Inap 1 Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu (n:61) Pelayanan memuaskan Pelayanan cepat Pelayanan yang diberikan Perawat/Dokter baik Jarak dekat Perawat ramah DRuang Tempat Pelayanan Baik/Nyaman 2 Rumah Sakit Lain (n:32) Pelayanan di RSUD M Yunus lambat Pelayanan yang diberikan RSUD M Yunus kurang baik/RS lain lebih baik Pelayanan yang diberikan RSUD M Yunus tidak memuaskan Perawat di RSUD M Yunus tidak ramah Frekuensi (f) Prosentase (%)

19 11 10 10 6 5 11 9 7 5

31,1 18,0 16,4 16,4 9,8 8,2 34,4 28,1 21,9 15,6

Tabel 4.3 diatas dapat diketahui bahwa Adapun alasan utama pasien yang merencanakan pemanfaatan kembali di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu adalah pelayanannya memuaskan (31,1%), pelayanan yang diberikan cepat (18,0%), Pelayanan yang diberikan Perawat/Dokter baik (16,4%), Jarak dekat (16,4%), Perawat ramah (9,8%) dan yang mengatakan Ruang tempat pelayanan Baik/Nyaman (8,2%). Sedangkan alasan utama pasien yang memilih rumah sakit lain adalah pelayanan yang diberikan di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu lambat/tidak cepat (34,4%) dalam merespon keluhan pasien, Pelayanan yang diberikan RSUD M Yunus kurang baik/RS lain lebih baik (28,1%), Pelayanan

41 yang diberikan RSUD M Yunus tidak memuaskan (21,9%) dan yang beralasan Perawat di RSUD M Yunus tidak ramah (15,6%). 2. Analisa Bivariat. Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan penerapan perilaku caring perawat dengan rencana pemanfaatan kembali pelayanan rawat inap di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu yang dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.3 Hubungan Penerapan Perilaku Caring Perawat Dengan Rencana Pemanfaatan Kembali Pelayanan Rawat Inap di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Tahun 2012. Rencana Pemanfaatan Kembali Pelayanan Rawat Inap
Tidak Berencana

Variabel
Penerapan Perilaku Caring Perawat

Jumlah
Berencana

X2

p value

Kurang Baik Baik

23 53,5% 9 18%

20 46,5% 41 82%

43 100% 50 100%

11,376

0,001

Dari tabel 4.3 diatas menunjukkan bahwa dari 43 orang yang menganggap penerapan prilaku caring perawat kurang baik terdapat 23 orang (53,5%) tidak berencana memanfaatkan kembali pelayanan rawat inap di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu sedangkan dari 50 responden yang

mengangap penerapan prilaku caring perawat baik terdapat 9 orang (18%) tidak berencana memanfaatkan kembali pelayanan rawat inap di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu. Hasil uji chi square menunjukkan bahwa nilai p=0,001 lebih kecil dari alpha 5% berarti ada hubungan yang bermakna antara Penerapan

42 Perilaku Caring Perawat Dengan Rencana Pemanfaatan Kembali Pelayanan Rawat Inap di Ruang Seruni.

B. Pembahasan 1. Rencana Pemanfaatan Kembali Pelayanan Rawat Inap di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2012. Hasil penelitian didapatkan hasil bahwa sebagian kecil (34,4%) responden tidak berencana memanfaatkan kembali pelayanan rawat inap di ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu. Hasil penelitian ini sejalan dengan Penelitian Hermansyah (2006) di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu menunjukkan bahwa sebagian besar (83,6%) responden mempunyai rencana memanfaatkan kembali RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu bila memerlukan pelayanan rawat inap dikemudian hari. Adapun alasan utama pasien yang merencanakan pemanfaatan kembali pelayanan rawat inap di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu pada penelitian tersebut adalah pelayanan rumah sakit baik/memuaskan dan rujukan asuransi, sedangkan pada penelitian ini alasan utama pasien berencana memanfaatkan kembali pelayanan rawat inap di ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu adalah pelayanan yang diberikan memuaskan dan pelayanan yang diberikan cepat. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan yang diberikan dari ruang rawat itu sudah cukup baik, karena hampir semua pasien yang diteliti berasal dari golongan ekonomi menegah keatas, walau mempunyai rujukan asuransi (askes/jamsostek) namun hampir semua rumah sakit lain bisa menerimanya

43 sehingga mereka mampu menentukan/memilih pelayanan yang baik untuk dirinya. Sementara itu alasan utama pasien yang merencakan memanfaatkan pelayanan di rumahsakit lain karena beralasan bahwa pelayanan yang didapat di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu kurang cepat dan kurang baik/pelayanan yang diberikan rumah sakit lain lebih baik, hal ini dapt dijelaskan karena tingkat kepuasan dan kategori baik masing individu berbeda-beda sesuai dengan pribadi masing-masing individu seseorang dalam menilai. Selain itu setiap rumah sakit mempunyai standar tersendiri dalam menangani pasien mana yang lebih harus didahulukan atau tidak sesuai dengan berat ringannya masalah pasien, sedangkan persepsi pasien hanya membutuhkan pelayanan terlebih dahulu atau lebih cepat. Disinilah letak fungsi caring perawat dan penerapan komunikasi terapeutik sangat berperan dalam mengatasi keraguan dan kecemasan pasien untuk memenuhi harapan pasien tentang kepuasan pasien. Menurut Trimurthy, (2008) salah satu cara utama mendiferensiasikan pelayanan jasa kesehatan termasuk pelayanan rawat inap adalah memberikan jasa pelayanan kesehatan yang berkualitas, lebih tinggi dari pesaing secara konsisten. Kuncinya adalah memenuhi atau melebihi harapan pasien tentang mutu pelayanan yang diterimanya. Setelah menerima jasa pelayanan kesehatan, pasien akan membandingkan jasa yang dialami dengan jasa yang diharapkan, pasien tidak berminat lagi memanfaatkan penyedia pelayanan kesehatan. Jika jasa yang dialami memenuhi atau melebihi harapan, mereka akan menggunakan penyedia pelayanan kesehatan itu lagi.

44 2. Hubungan Penerapan Perilaku Caring Perawat Dengan Rencana Pemanfaatan Kembali Pelayanan Rawat Inap di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.

Analisa univariat menunjukkan bahwa hampir dari separuh (46,2%) responden mendapatkan penerapan perilaku caring dari perawat kurang baik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara Penerapan Perilaku Caring Perawat Dengan Rencana Pemanfaatan Kembali Pelayanan Rawat Inap di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu (p=0,001). Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Novida, (2009) yang

mengatakan bahwa prilaku caring akan menimbulkan rasa nyaman bagi pasien, hal ini perlu di evaluasi dan di ukur dalam meningkatkan kualitas pelayanan karena kenyamanan menjadi hal penting bagi pasien dalam memilih untuk memanfaatkan pelayanan dari Rumah Sakit. Kepuasan pasien akan mutu pelayanan kesehatan sangatlah penting terhadap keloyalitasan pasien dalam memanfaatkan kembali layanan tersebut di masa yang akan datang. Penilaian ini meliputi penilaian akan pelayanan dokter, pelayanan perawat dan fasilitas yang tersedia di rumah sakit. Dalam keperawatan, caring merupakan bagian inti yang penting terutama dalam praktik keperawatan dan perawat menjadi jaminan apakah layanan perawatan bermutu apa tidak (Wasisto, 2010). Hasil penelitian ini sejalan dengan Penelitian yang dilakukan Hermansyah (2006) yang menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara dimensi empathy dengan rencana pemanfaatan kembali pelayanan rawat inap di

45 RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu (p=0,001). Penelitian lain yang dilakukan Hermansyah dkk (2011) di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu menunjukkan bahwa separuh (53,3%) responden dengan penerapan caring kurang baik. Penelitian ini sejalan dengan Penelitian Prabowo (2007), di instalasi rawat inap RSUD Sleman Yogyakarta menunjukkan bahwa ada hubungan perilaku dengan kepuasan pasien tentang caring perawat diperoleh nilai signifikansi (P) < 0,05 yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku dengan kepuasan pasien tentang caring perawat dengan korelasi koefisien (r) = 0,857 dan P = 0,000 < 0,05. Semakin baik penilaian pasien terhadap perilaku caring perawat maka semakin tinggi pula kepuasan pasien tentang caring perawat. Penelitian ini sejalan dengan Penelitian Siswoyo (2008) di Rumah

Sakit Khusus Bedah Hasta Husada menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan dengan rencana memanfaatkan kembali pelayanan Keperawatan Rumah Sakit Khusus Bedah Hasta Husada. Dengan uji statistik chi Square didapatkan X2 hitung (9.84) lebih besar dari harga X2 tabel (3.481). Berdasarkan hasil penelitian peneliti berasumsi bahwa perilaku caring sangatlah penting untuk keperawatan. Kinerja perawat khususnya pada perilaku caring menjadi sangat penting dalam mempengaruhi kualitas pelayanan dan kepuasan pasien terutama di rumah sakit, dimana kualitas pelayanan menjadi penentu citra institusi pelayanan yang nantinya akan dapat meningkatkan kepuasan pasien dan mutu pelayanan. Apabila perawat tidak berperilaku caring

46 kepada pasien akan sangat mungkin pasien merasa bosan menjalani perawatan dengan anggapan perawat judes cuek atau tidak care kepada pasien sehingga dapat berdampak kepada kepuasan dan selanjutnya pasien akan merasa enggan memanfaatkan kembali pelayanan apabila dirinya atau saudaranya apabila memerlukan perawatan yang sama. Pasien akan lebih cenderung memilih rumah sakit lain yang menurut mereka lebih baik pelayanannya dibandingkan dengan pengalaman sebelumnya. Menurut peneliti seorang perawat harus mepunyai prilaku caring karena merupakan dasar dan landasan utama dalam melakukan perawatan dengan adanya sikap caring perawat akan bisa lebih mengerti apa yang dirasakan pasien, apa yang dibutuhkan oleh pasien sehingga dapat melakukan asuhan keperawatan secara baik tanpa hambatan yang dapat membantu mempercepat proses penyembuhan. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui juga bahwa skore paling rendah dan yang paling sering tidak dilakukan perawat menurut responden adalah perawat memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama kepada pasien atau keluarga dan Perawat memfasilitasi pasien untuk dapat memenuhi kebutuhan spiritual. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa hampir dari sebagian responden yang beranggapan prilaku caring perawat kurang baik masih berencana memanfaatkan kembali pelayanan perawatan di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu dan sebagian kecil dari responden yang beranggapan prilaku caring perawat baik tidak berencana memanfaatkan kembali pelayanan di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu hal ini dapat disebabkan karena

47 banyak faktor yang mempengaruhi rencana pemanfaatan kembali pelayanan rawat inap di rumah sakit antara lain sumber pembiayaan, tingkat ketergantungan pasien, persepsi pasien terhadap mutu pelayanan dokter, serta persepsi pasien tentang mutu pelayanan yang diberikan, selain itu pengalaman masa lalu terhadap pelayanan yang diterima juga dapat mempengaruhi seseorang dalam memilih pelayanan mana yang baik untuk dirinya.

C. Keterbatasan Penelitian Dalam penelitian ini peneliti mempunyai keterbatasan kemampuan yang mungkin dapat mempengaruhi dari hasil penelitian dalam penelitian ini misalnya desain yang digunakan peneliti menggunakan desain cross secsional dimana variabel independen dan variabel dependen diobservasi sekaligus dalam waktu yang sama dalam satu kali pengukuran yang kurang dapat menggambarkan variabel independen dalam mempengaruhi variabel dependen secara akurat. Instrumen penelitian dikembangkan oleh peneliti sendiri dan baru sekali digunakan dalam penelitian ini yang mungkin masih banyak mengalami kekurangan. Pengumpulan data dalam penlitian ini peneliti hanya menggunakan lembar kuisioner untuk mendapatkan data pada semua variabel penelitian yaitu prilaku caring dan rencana pemanfaatan kembali pelayanan rawat inap yang mana pertanyaan tersebut hanya berdasarkan apa yang dirasakan pasien saat itu dan bukan persepsi menyeluruh dari persepsi pasien terhadap kualitas pelayan yang ada dirumah sakit, saat pengumpulan data penelitian juga peneliti mengalami kendala ketidak aktifan pasien dalam mengisi kuisioner karena kedaan sakitnya sehingga karena

48 keterbatasan waktu penelitian peneliti berinisiatif mewawancarai responden dimana mungkin dengan dilakukan wawancara langsung pasien akan merasa malu untuk mengungkapkan apa yang dirasakan atau mungkin jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan apa yang dirasakan oleh pasien yang sebenarnya. Dengan keterbatasan waktu dan tenaga peneliti hanya meneliti 1 ruang perawatan rawat inap yang mungkin tidak menggambarkan secara keseluruhan 1 rumah sakit yang mempunyai bayak ruang rawat inap dalam pengambilan sampel peneliti menggunakan teknik accidental sampling yaitu teknik subyektif dengan mengumpulkan data dari subyek yang ditemui saat itu dan tidak mengklasifikasikan berdasarkan tingkatan penyakit atau dari penghasilan yang didapat penggunaan biaya perawatan yang mungkin dapat mempengaruhi penelitian ini. Teknik observasi dalam kurun waktu tertentu secara berkesinambungan untuk melihat prilaku caring perawat dan pemantauan terhadap pemanfaatan kembali pelayanan rawat inap oleh pasien dengan penelitian menggunakan desain yang berbeda seperti desain cohort akan menghasilkan data penelitian yang lebih akurat.

D. Implikasi Penelitian Penerapan prilaku caring dapat menimbulkan rasa nyaman aman, dan percaya sehingga akan menimbulkan rasa puas pada pasien, sehingga dalam penerapan asuhan keperawatan sangat penting bagi seorang berperilaku caring untuk mencerminkan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Baik buruknya prilaku dan pelayanan perawat pelaksana akan berefek kepada pelayanan di rumah sakit karena perwat merupakan tenaga kesehatan yang paling lama berinteraksi dengan pasien,

49 yaitu selama 24 jam. dengan cerminan pelayanan kesehatan berkualitas yang dilakukan oleh perawat akan berdampak kepada keloyalitasan pasien dalam menggunakan pelayanan itu lagi jika membutuhkan dikemudian hari. Hasil penelitian ini berdampak positif bagi kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit terutama untuk bidang pelayanan keperawat yang merupakan salah satu tolak ukur baik buruknya suatu pelayanan dibandingkan dengan tenaga kesehatan lainnya. Diharapkan dengan hasil penelitian ini perawat dapat lebih meningkatkan prilaku caring kepada pasien guna meningkatkan kualitas pelayanan dan daya jual pelayanan yang berkualitas sehingga dapat meningkatkan jumlah kunjungan pasien rawat inap di rumah sakit. Untuk meningkatkan kecakapan perawat dalam melakukan prilaku caring pihak rumah sakit perlu mengadakan pelatihan-pelatihan perawatan profesional atau pelatihan tentang caring atau menganjurka setiap perawat mengikuti pelatihan tersebut agar perawat lebih mempunyai keperdulian dan mempunyai rasa empaty yang tinggi kepada pasien sehingga pasien sebagai pengguna jasa lebih merasa diperhatikan dan perawatan yang didapat sesuai dengan harapan yang yang diinginkan.

50

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Dari hasil penelitian tentang hubungan penerapan perilaku caring perawat dengan rencana pemanfaatan kembali pelayanan rawat inap di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2012 dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: a. Hampir dari separuh responden mendapatkan penerapan perilaku caring dari perawat kurang baik. b. Sebagian kecil responden tidak berencana memanfaatkan kembali pelayanan rawat inap di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu. c. Ada hubungan yang bermakna antara Penerapan Perilaku Caring Perawat Dengan Rencana Pemanfaatan Kembali Pelayanan Rawat Inap di Ruang Seruni.

B. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka peneliti memberi saran kepada: a. RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu. 1. Institusi Rumah Sakit Kepada pihak institusi rumah sakit diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan yang ada dengan meningkatkan kualitas kerja perawat dengan cara mengadakan pelatihan keperawatan profesional bagi seluruh perawat yang ada di ruang rawat inap untuk meningkatkan kemampuan 50

51 perawat dalam memberikan rasa aman dan nyaman dapat juga dengan mengadakan pelatihan atau mewajibkan seluruh perawat mengikuti pelatihan caring untuk meningkatkan rasa empati, keramahan dan dapat beradaptasi dengan keadaan yang dirasakan pasien. 2. Kepada Perawat Kepada perawat di Ruang Seruni RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu diharapkan dapat meningkatkan prilaku caring terhadap pasien dengan cara memperkenalkan menyebutkan nama pada saat interaksi pertama dengan pasien disamping itu juga diharapkan perawat dapat menyediakan atau memfasilitasi kebutuhan sepiritual pasien saat dirawat untuk menyediakan jadwal kunjungan tenaga spiritual (Ustad, Pendeta, Pastur dll) bagi pasien atau keluarga baik dirawat atau tidak. b. Stikes Dehasen Bengkulu Kepada pihak institusi Stikes Dehasen Bengkulu diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan dengan menciptakan perawat profesional dengan menanamkan kepada mahasiswa prilaku caring yang sebagai pedoman utama dalam melakukan asuhan keperawatan agar tercapai perawatan yang aman nyaman bagi pasien maupun perawat dengan cara memberikan pelatihanpelatihan keperawatan profesinal. c. Peneliti selanjutnya Kepada peneliti selanjutnya diharapkan megembangkan penelitian ini dengan menentukan variabel lain yang berhubungan dengan rencana

pemanfaatan kembali pelayanan dengan memperluas ruang lingkup penelitian

52 dengan desain yang berbeda seperti cohort dengan melakukan pengamatan kepada pasien yang menyatakan akan memanfaatkan kembali pelayanan rumah sakit untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.