Anda di halaman 1dari 6

Keadilan dan Kepastian Hukum Dalam Eksekusi Pidana Mati1

Oleh : Aryo Tyasmoro, Ari Wahyuni, Aswin

2. Tindakan yang berupa pemyataan pencelaan tetapi bukan merupakan pemberian penderitaan. Misalnya teguran atau pengusiran yang dilakukan masyarakat terhadap seseorang akibat tingkah lakunya tidak berkenan bagi masyarakat. 3. Tindakan yang bukan berupa pencelaan atau pemberian penderitaan. Misalnya langkah-langkah yang dilakukan oleh aparat yang berwenang dengan memberikan pengarahan sadar hukum agar masyarakat tidak melakukan perbuatan melawan hukum. Menurut Alf Ross perbedaan antara punisment dengan treatment tidak terletak pada ada tidaknya unsur penderitaan melainkan ada tidaknya unsur pencelaannya. Punisment menurut H.L. Packer terletak pada adanya dua tujuan yaitu:3 1. Untuk mencegah terjadinya kejahatan atau perbuatan yang tidak dikehendaki atau perbuatan yang salah. 2. Untuk mengenakan penderitaan atau pembalasan yang layak pada pelanggar. Jadi dalam hal adanya suatu tindak pidana maka fokusnya adalah pada adanya perbuatan salah atau kejahatan atau pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku. Dengan demikian pemidanaan ditujukan atau hasilnya diharapkan bahwa pelaku tidak akan mengulangi lagi kejahatannya atau perbuatannya. Untuk itu perlu kiranya kita mengetahui pemidanaan. Hukum pidana mengenal teori-teori pemidanaan. Pada dasamya secara tradisional teori pemidanaan ada dua yaitu teori pembalasan dan teori tujuan pemidanaan. Teori pembalasan dikenal dengan teori absolut yaitu teori yang menekankan bahwa pidana dijatuhkan pada orang karena orang tersebut telah melakukan suatu tindak pidana. Imanuel Kant berpendapat bahwa pidana bertujuan menegakkan kesusilaan jadi seseorang yang dijatuhi suatu pidana atau hukuman adalah karena orang itu telah melakukan suatu kejahatan, Pidana dijatuhkan bukan karena mempromosikan suatu tujuan atau kebaikan namun semata-mata adalah untuk membalas kejahatan yang telah dilakukan oleh seseorang.4 Teori tujuan atau dikenal dengan teori relatif mengajarkan bahwa pemidanaan dilakukan guna mengurangi kejahatan karena pembalasan tidak mempunyai nilai namun hanya sebagai sarana untuk melindungi kepentingan masyarakat. Jadi memberi pidana pada orang yang telah melakukan suatu kejahatan bukanlah demi pembalasan semata-mata namun ada tujuan yang lebih bermanfaat. Jadi tujuan pemidanaan bukan pembalasan terhadap orang yang telah melakukan kejahatan (quia peccatum est) namun mencegah orang untuk berbuat jahat (ne pecceture).5 Jadi teori relatif berprinsip bahwa memidana bukanlah untuk membalas dendam demi keadilan namun memidana memiliki suatu tujuan yang mulia. Seorang filsuf Romawi, Seneca, mengatakan Nemo prudent punit quia peccatum est sed ne peccatur artinya tidak seorang normal-pun dipidana karena telah melakukan suatu perbuatan jahat tetapi ia dipidana agar tidak ada perbuatan jahat.

A. Latar Belakang Manusia adalah mahluk sosial, artinya manusia tidak akan tumbuh dan berkembang tanpa sosialisasi dengan sesamanya. Dalam sosialisasi itu manusia selalu membutuhkan manusia lain. Artinya proses hubungan kemanusian itu melahirkan aksi dan reaksi yang kadang kala menimbulkan sengketa antar sesamanya. Sengketa yang timbul dapat berupa sengketa perdata atau pidana. Penyelesaian suatu sengketa keperdataan dapat dilakukan secara musyawarah untuk memperoleh kata sepakat, dapat pula dilakukan dengan menggunakan mediasi, konsiliasi, arbitrase atau bahkan melalui pengadilan, Namun penyelesaian tindak pidana tidak dapat dilakukan di luar pengadilan walau ada dalam masyarakat yang melakukan penyelesaian tindak pidana dengan jalan musyawarah. Jadi pekara-perkara yang di dalamnya terdapat tindak pidana maka penyelesaiannya adalah di pengadilan. Pengertian pidana atau hukuman antara satu ahli hukum dengan ahli hukum lain berbeda. Pidana, menurut Sudarto, adalah penderitaan yang sengaja dibebankan kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Bagi Roeslan Saleh, pidana diartikan dengan reaksi atas delik dan ini berwujud suatu nestapa yang sengaja ditimpakan oleh negara kepada pembuat delik itu. Dari beberapa definisi yang diberikan oleh para ahli hukum maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa: 2 1. Pidana itu pada hakekatnya merupakan suatu pengenaan penderitaan atau nestapa atau akibatakibat lain yang tidak menyenangkan. 2. Pidana sengaja dijatuhkan oleh lembaga atau orang yang bewenang untuk dan atas nama lembaga menjatuhkan pidana. 3. Pidana dikenakan pada seseorang yang telah melakukan tindak pidana. Ketiga unsur tersebut pada umumnya terlihat dari definisi-definisi yang dikemukan oleh ahli hukum Indonesia. Bagi para sarjana hukum barat, pidana itu harus juga berupa pencelaan terhadap diri si pelaku. Alf Ross berpendapat ada perbedaan antara pengertian pidana (punishment) dengan tindakan perlakuan (treatment). Menurut Alf Ross, punishment adalah: 1. Pidana yang dijatuhkan pada seseorang ditujukan untuk menimbulkan penderitaan terhadap orang yang bersangkutan. 2. Pidana itu suatu pemyataan pencelaan terhadap perbuatan si pelaku. Dengan demikian masih menurut Alf Ross, tidaklah dapat dipandang sebagai punishment atau penghukuman terhadap hal-hal sebagai berikut: 1. Tindakan yang bertujuan pada pengenaan penderitaan tetapi tidak berupa pemyatan pencelaan. Misalnya pemberian electric schok pada binatang agar binatang itu taat atau dapat dikontrol.

1
2

Disajikan Oleh Kelompok III Dalam Diskusi Kelas Sosiologi Hukum Muladi dan Barda Nawawi Arif, Teori-teori dan Kebijakan Pidana, (Bandung: Alumni, 2005), hal. 4. Keadilan Dan Kepastian Hukum Dalam Eksekusi Pidana Mati

3 4 5

Ibid., hal. 6. Ibid., hal. 11. Ibid., hal 17. Keadilan Dan Kepastian Hukum Dalam Eksekusi Pidana Mati

Sebagian para sarjana hukum berpendapat teori absolut dikenal dengan teori retribusi yaitu suatu teori pembalasan dalam memidana seseorang. Ciri-ciri dari penerapan teori retribusi ini adalah: 1. Tujuan pidana adalah semata-mata untuk pembalasan. 2. Pembalasan adalah tujuan utama dan di dalamnya tidak ada tujuan lainnya selain pembalasan terhadap pelaku kejahatan. Sehingga tujuan memidana demi tercapainya kesejahteraan tidak ada dalam teori ini. 3. Kesalahan merupakan satu-satunya syarat bagi adanya pidana. 4. Pidana harus disesuaikan dengan kesalahan dari si pelaku. 5. Pidana tidak bersifat preventif. Pidana di sini harus berupa pencelaan yang mumi dan tujuannya tidak untuk memperbaiki, mendidik atau memasyarakatkan kembali si pelaku. Sedangkan teori relatif atau teori utilitarian memiliki ciri sebagai berikut: 1. Tujuan memberi pidana adalah sebagai pencegahan/preventif. 2. Pencegahan bukanlah tujuan akhir dari memidana, melainkan ada hal yang lebih penting yaitu menciptakan kesejahteraan masyarakat. 3. Hanya pelanggaran-pelanggaran hukum saja yang dapat dipidana seperti misalnya adanya unsur sengaja atau alpa. 4. Pidana harus dijatuhkan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kejahatan. 5. Pidana ditujukan bagi adanya kemajuan di masa depan, dengan pencelaan dan pembalasan keduanya tidak memiliki makna atau tidak diterima apabila tidak membantu pencegahan kejahatan dan mensejahterakan rakyat. Mengenai tujuan pidana untuk pencegahan maka dikenal adanya teori prevensi spesial dan prevensi general. Prevensi spesial adalah suatu pencegahan dengan sifat khusus, yaitu bahwa pidana dijatuhkan kepada terpidana dengan tujuan agar dia menjadi lebih baik dan menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Diharapkan yang bersangkutan tidak mengulangi kejahatannya lagi. Teori ini dikenal sebagai Reformation atau Rehabilitation Theory. Prevensi general adalah pencegahan yang diarahkan pada masyarakat. Dengan adanya sanksi pidana yang dijatuhkan kepada pelaku kejahatan maka diharapkan masyarakat menjadi takut dan tidak ikut-ikutan melakukan kejahatan. Beberapa sarjana dan ahli hukum baik dari Indonesia maupun sarjana asing berpendapat mengenai sanksi pidana: 1. Richard D. Schwartz Sanksi pidana dimaksudkan untuk: a. Mencegah terjadinya pengulangan tindak pidana. b. Mencegah orang lain untuk melakukan tindak pidana seperti yang dilakukan terpidana. c. Menyediakan saluran untuk melakukan motif-motif balas dendam. 2. Emile Durkheim Fungsi dari pidana adalah untuk membuka adanya kemungkinan bagi pelepasan emosiemosi yang ditimbulkan akibat kegoncangan kejahatan. 3. J. E. Sahetapy Dalam disertasinya yang berjudul Ancaman Pidana Mati terhadap Pelaku Pembunuhan Berencana, dikemukakan oleh Sahetapy bahwa pidana diberikan untuk pembebasan terdakwa. Yang dimaksud pembebasan ini adalah membebaskan terpidana dari jalan yang selama ini keliru atau salah. Pembebasan tidak berarti reformasi atau rehabilitasi melainkan juga membebaskan terpidana dari
Keadilan Dan Kepastian Hukum Dalam Eksekusi Pidana Mati

keadaan terbelenggu baik alam pikirannya maupun kenyataan sosial dimana ia dibelenggu. Menurut Sahetapy pembebasan ini menimbulkan penderitaan akan tetapi penderitaan ini tidak dimaksudkan sebagai upaya balas dendam melainkan suatu upaya untuk memulihkan kondisi terpidana agar menjadi lebih baik. 4. Bismar Siregar berpendapat Penghukuman yang diberikan kepada terpidana baik psikis atau badaniah ditujukan agar tercipta keseimbangan antara hukuman itu sendiri dengan akibat perbuatan jahat yang dilakukan terpidana. Keseimbangan dimaksud guna tercipta kedamaian dan keadilan. Pemidanaan dapat diklasifikasikan dalam jenis pidana yang terdiri dari: 1. Menurut KUHP, pidana dibagi atas: a. Pidana pokok terdiri atas pidana mati, pidana penjara, pidana kurungan, pidana denda dan pidana tutupan. b. Pidana tambahan pencabutan hak-hak tertentu dan perampasan barang. 2. Menurut konsep KUHP rancangan tahun 1972 a. pidana mati; b. pidana pemasyarakatan yang terdiri dari pidana pemasyarakatan istimewa, pidana pemasyarakatan khusus, pidana pemasyarakatan biasa; c. Pidana pembimbingan yang terdiri dari pidana pengawasan, pidana penentuan tempat tinggal, pidana latihan kerja, pidana kerja bakti. d. Pidana peringatan yang terdiri dari pidana teguran dan pidana denda. e. Pidana perserikatan yang terdiri dari pidana perserikatan, penuntutan, penempatan usaha di bawah pengawasan pemerintah. Pembayaran uang jaminan yang besamya ditentukan hakim, penyitaan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana dan perbaikan akibat dari tindak pidana. 3. Menurut konsep KUHP rancangan 2006 a. Pidana pokok terdiri atas: 1) pidana penjara; 2) pidana tutupan; 3) pidana pengawasan; b. pidana mati merupakan pidana pokok yang bersifat khusus dan selalu diancamkan secara relatif. c. Pidana tambahan terdiri atas: a. pencabutan hak tertentu; b. perampasan barang tertentu dan atau tagihan; c. pengumuman putusan hakim; d. pembayaran ganti kerugian; dan e. pemenuhan kewajiban adat setempat dan atau kewajiban menurut hukum yang hidup dalam masyarakat. B. Pidana Mati
4

4) pidana denda; dan 5) pidana kerja sosial.

Keadilan Dan Kepastian Hukum Dalam Eksekusi Pidana Mati

Pidana mati tersebar dalam pelbagai peraturan perundang-undangan dalam lingkup hukum publik seperti dalam tindak pidana narkotika maupun anti terorisme. Hukuman mati atau pidana mati masih menjadi pro dan kontra serta menjadi bahan perdebatan yang hangat dan tak kunjung redup bahkan belakangan ini mengemuka kembali seiring diterapkannya pidana mati untuk tindak pidana terorisme sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Pemberlakuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Dengan berlakunya Undang-Undang tersebut sampai saat ini sudah ada beberapa terpidana mati yang dijatuhi hukuman mati seperti Amrozi, Imam Samudera dan Mukhlas dan telah pula dilaksanakan eksekusinya pada hari Minggu tanggal 9 Nopember 2008. Sebelum itu, beberapa terpidana mati lainnya diantaranya Sumiarsa dan Sugeng dalam kasus pembunuhan Letkol Marinir Purwanto beserta istri dan anakanaknya yang berjumlah 5 (lima) orang pada tahun 1988, dua orang warga negara asing yang terlibat kasus narkoba juga dihukum mati. Jauh sebelumnya, tiga orang terpidana mati dalam kasus kerusuhan Poso yaitu Fabianus Tibo, Marinu Riwu dan Dominggus da Silva telah dieksekusi dihadapan regu tembak di Sulawesi Tengah. Proses eksekusi tersebut berbuntut kerusuhan meski tidak berlanjut dan tidak menjalar ke daerah lain kecuali di kampung halaman ketiga tereksekusi. Dalam tinjauan historis, yuridis dan sosiologis pidana mati, maka dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Aspek Sejarah Hukuman Mati Dalam sejarah hukum pidana, khususnya terkait pidana mati, maka sejarahnya telah dimulai sejak zaman bangsa Ibrani yang merupakan suku bangsa Semit dimana hidupnya berkelana dari satu daerah ke daerah lain yang akhimya menetap di suatu daerah yang sekarang dikenal dengan nama bangsa Palestina. Dari Palestina, bangsa Iberani ini kemudian menetap selama dua abad di Mesir pada tahun XV sampai XIII SM. Bangsa Iberani pada tahun XII SM dipimpin oleh Nabi Musa yang kemudian mengalahkan bangsa-bangsa kecil yang hidup di sepanjang sungai Nil dan Jordan, kemudian mendirikan suatu kerajaan besar yang mencapai puncak kejayaan pada masa kepemimpinan Saul, Daud dan Sulaiman pada tahun 1030-931 SM. Setelah Raja Sulaiman wafat pada tahun 931 SM, kerajaan yang dipimpinnya pecah menjadi dua bagian yaitu Israel dan Juda. Kerajaan Asiria kemudian menyerang Israel dan mendudukinya pada tahun 722 SM dan kemudian menduduki Juda pada tahun 710 SM dengan tanpa Jerusalem. Pada tahun 700 SM, Juda memperoleh kemerdekaannya sampai Romawi pada masa kepemimpinan Raja Nebukadnezar menaklukan kembali Juda pada tahun 586 SM. Juda yang sekarang dikenal sebagai kaum yahudi kemudian mengadakan perlawanan selama empat puluh tahun perang suci melawan kekuasaan Romawi. Juda kembali merdeka, bahkan merebut Israel tahun 546 SM walau kemudian kembali diduduki bangsa Yunani, Persia dan Mesir. Romawi kembali merebut Israel dan Juda pada tahun 63 SM. Hukum berkembang pada masa ini, yaitu tahun 60 SM, dimana hukum Iberani adalah sebenamya hukum agama yang mendapat pengaruh Romawi. Asas-asas agama adalah asas-asas yuridis karena tidak ada perbedaan antara agama dan hukum yang diberlakukan. Hukum Iberani ini memberi pengaruh juga pada Hukum Islam yang berkembang pada tahun 622 M di seluruh jazirah Arab. Pidana mati telah dikenal dalam bentuk hukum tertulis pada Perjanjian Lama yang terdiri dari kitab kejadian
Keadilan Dan Kepastian Hukum Dalam Eksekusi Pidana Mati
6 7

dan kitab keluaran. Kitab Keluaran terdiri atas Decalogus, Covenant, Imamat, Bilangan, dan Kitab Ulangan. Dalam Covenant inilah aturan hukuman mati terhadap seseorang yang melakukan kejahatan diberlakukan. Aturan pidana mati terdapat dalam Undang-undang Dua Belas Prasasti dalam Tabula IV pada tahun 390 SM di Romawi.6 Hukum Romawi kemudian mempengaruhi hukum Islam, hukum abad pertengahan dan hukum modem (common law dan civil law). Hyphatia Cneajna dalam bukunya Drakula Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib7 menceritakan bahwa pada abad pertengahan, tahun 1450 M, hukuman mati terbanyak pemah dilakukan oleh Vlad III (Vlad Tapes yang dikenal dengan nama Pangeran Drakula). Vlad III adalah Panglima Perang Salib wilayah Eropa Timur berkedudukan di Rumania yang bertugas untuk menahan gempuran Pasukan Turki pimpinan sultan Mehmed II, Sang penakluk Konstantinopel, yang berupaya menaklukan seluruh daratan Erapa Timur dan mempertahankan kota suci Yerusalem. Vlad III atas perintah Paus di Roma dan Raja Richard Berhati Singa dari Inggris, berupaya untuk menguasai Rumania, Hongaria, Bulgaria dari kekuasaan Turki. Di Wallachia, kota di perbatasan Rumania dan Turki, Vlad III memerintahkan hukuman mati terhadap lebih dari 20.000 umat Islam yang tinggal di daerah tersebut. Hukuman mati yang dilakukan oleh Vlad III adalah dengan cara sebagai berikut: 1. Hukuman Mati dengan cara Disula Sula merupakan kayu sebesar lengan orang dewasa yang ungnya runcing. Alat seperti ini digunakan oleh Dracula untuk menusuk seseorang. Bagian yang ditusuk adalah dubur untuk pria dan perempuan adalah kemaluan perempuan. Biasanya si korban ditidurkan telentang di atas meja dalam keadaan telanjang. Kemudian tiga atau empat prajurit memegangi kaki dan tangan si korban untuk memudahkan penyulaan. Setelah korban dipegang dengan kuat, salah seorang prajurit memasukkan sula lewat dubur atau liang kemaluan perempuan. Tentu saja si korban akan menjerit kesakitan dan meronta-ronta, tapi prajurit Dracula akan terus melakukan tugasnya sampai tuntas. Setelah masuk ke dalam badan si korban, sula kemudian dipancangkan di atas tanah. Dalam keadaan tegak lurus ini tubuh korban akan turun dengan pelan mengikuti berat badannya, dan bagian sula yang masuk ke dalam tubuh semakin panjang. Tentu saja sula yang runcing tersebut akan tembus ke bagian-bagian penting korban seperti jantung dan paru-paru, dan kemudian ujung runcingnya akan keluar melalui kepala, mulut, dada, punggung atau tenggorokan. Korban yang disula akan mati secara perlahanlahan. 2. Hukuman mati dengan Cara Menguliti Tubuh Terpidana Hukuman mati cara ini dilakukan sendiri oleh Pangeran Drakula (Vlad III). Terpidana ditelentangkan di atas meja dan kemudian pada bagian vital dikuliti. Bagi perempuan maka hukuman mati dilakukan dengan cara mengerat payudara perempuan tersebut, kemudian menguliti dagingnya setelah itu Drakula akan menancapkan sebatang kayu yang ujungnya runcing di liang kemaluan perempuan tersebut. Hukuman mati dengan cara ini dilakukan agar terpidana merasakan sakit yang luar biasa sebelum pada akhimya mati.
John Gilessen, Sejarah Hukum Suatu Pengantar, (Bandung: Refika Aditama, 2005), hal. 140-190. Hyphatia Cneajna, Drakula Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib, (Yogyakarta: Navilla idea, 2007), hal. 35 Keadilan Dan Kepastian Hukum Dalam Eksekusi Pidana Mati

3. Merebus Korban Hidup-hidup Penyiksaan dengan cara merebus korban hidup-hidup biasanya dilakukan di ibukota Wallachia. Sebuah bejana besar kira-kira berdiameter 2 meter, diletakkan di atas tungku yang berada di tengah alun-alun. Bejana tersebut diisi air. Setelah penuh kayu bakar dinyalakan. Sambil menunggu air mendidih para korban di keluarkan dan dalam penjara kemudian diarak menuju alun-alun. Wajah sedih mereka berjalan lemas melewati kerumunan orang orang yang telah memadati alun-alun. Sesampai di tengah alun-alun mereka diikat pada tiang pancang. Begitu mendapatkan tanda dari Dracula, seorang prajurit akan melepas korban dari tiang pancang tanpa melepas ikatan di tangan. Korban kemudian digiring ke tengah alun-alun mendekati bejana berisi air yang telah mendidih. Sesampainya di tempat itu dua orang prajutit melemparkan korban ke dalam bejana tersebut. Dan, bisa dibayangkan korban akan bergerak-gerak tak karuan di tengah air-air yang mendidih seperti halnya ayam yang direbus hidup-hidup. 4. Membakar Hidup-hidup Hukuman seperti ini biasanya dilakukan secara massal. Para korban dimasukkan ke dalam rumah yang pintu-pintunya telah terkunci. Rumah tersebut kemudian dibakar dari luar. Tak begitu lama api akan menjarah semua ruangan dan korban-korban yang ada di dalamnya akan terpanggang hiduphidup. 5. Hukuman Mati Saat ini Perkembangan sosiologi hukum membawa dambak yang luarbiasa dalam pengaruhnya terhadap pidana mati, Pada abad keduapuluh ini, hukuman mati dilakukan dengan cara ditembak, digantung, disuntik sampai mati, digas beracun di ruangan, dipenggal dan dilempar batu (dirajam sampai mati). Indonesia memberlakukan hukuman mati dengan cara di tembak. Pidana mati di Indonesia dalam aturan tertulis telah ada sejak masa walisongo pada abad ke 15 M kemudian ketika Belanda masuk dan menjajah Indonesia pada tahun 1800 M dalam KUHP. Sampai pembentukan rancangan KUHP tahun 2006, ancaman hukuman pidana mati tetap diberlakukan. 2. Aspek yuridis Sampai hari ini masih jelas, secara formal dapat kita baca dalam Pasal 10 KUHP yang berbunyi hukumanhukuman itu adalah hukuman-hukuman pokok yang terdiri atas hukuman mati, hukuman penjara, hukuman denda. Bahwa selain dalam pasal-pasal KUHP tersebut, juga eksistensi pidana mati dikenal diluar KUHP yang justeru diundangkan setelah negara Indonesia merdeka antara lain dapat kita baca dalam PENPRES Nomor 5 tahun 1959, tentang Wewenang Jaksa Agung, Jaksa Tentara Agung dan tentang memperberat ancaman hukuman terhadap tindak pidana yang membahayakan pelasanaan perlengkapan sandang pangan (LN. 1959 NO. 80, TLN. No. 1823). Kemudian dalam PERPU Nomor 21 tahun 1959 tentang memperberat ancaman hukuman terhadap tindak pidana ekonomi (LN tahun 1959 No.130, TLN No.1902). selanjutnya dalam Undang-Undang Nomor 11 PNPS 1963 tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi (LN 1963 No.101, TLN No.2595, baca Pasal 13 ayat 1 dan 2), UU Nomor 4 Tahun 1976 tentang Perubahan dan Penambahan Beberapa Pasal dalam KUHP, bertalian
Keadilan Dan Kepastian Hukum Dalam Eksekusi Pidana Mati

dengan perluasan berlakunya ketentuan Perundang-undangan Pldana Kejahatan Penerbangan dan Kejahatan terhadap Sarana dan Prasarana Penerbangan (LN th 1976 No.26 TLN). Bahkan konsep Badan Pembinaan Hukum Nasional dalam Rancangan KUHP Nasional tahun 1972, masih mencantumkan dalam Sistimatika tentang Pidana Mati. Demikian dengan konsep KUHP rancangan tahun 2006. Bahwa dengan adanya hukuman mati yang oleh pembuat undang-undang sampai hari ini belum melakukan peninjauan maupun pencabutan, karenanya posisi hukum dan eksistensi hukuman mati masih diperlakukan dalam negara hukum RI sebagai hukum pidana positif. 3. Aspek sosiologis Aspek sosiologis atas eksistensi pidana mati dan penerapannya dalam konteks kehidupan hukum masyarakat Indonesia adalah adanya hukum yang hidup didalam masyarakat (living law) seperti nilai hukum agama, adat dan nilai-nilai norma sosial lainnya dalam pergaulan hidup. Bahwa dari segi pandangan agama Islam, eksistensi pidana mati dan penerapannya dapat kita baca antara lain dalam Surat AL Baqarah (Q.S. 2 :178) yaitu Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishosh, terhadap orang-orang yang dibunuh. Demikian dalam Surat AL Maaidah (Q.S. 5 : 32). Juga dalam agama Katholik, Gereja Katholik sebagai umat Allah, tidak mempunyai pemyataan yang mendukung adanya hukuman mati. Bahwa gereja Katholik berpendapat, bahwa masalah hukum menghukum itu merupakan wewenang pemerintah. Hal ini berdasarkan surat Rasul Paulus kepada umat di Roma bahwa hukuman mati adalah wewenang pemerintah. Bahwa Gereja Katholik mengakui bahwa masalah hukum menghukum itu merupakan wewenang pemerintah, namun gereja Katholik memberikan pendapat kepada pemrintah untuk dilaksanakan, hendaknya sangat diperhitungkan tiga hal ini yaitu keadilan (justice), kebijaksanaan (prudence) dan belas kasihan (mercy). Dalam agama Budha dan agama Hindu, dapat disimpulkan bahwa agama Budha dan agama HIndu menyetujui adanya hukuman mati. (baca Eksistensi Hukuman Mati, Ahkiar Salmi,S.H., 1985: 109, 110, 111, 112, 113, 114). Dalam adat kebiasan seperti di suku Dayak Kalimantan masih ada budaya hukuman mati terhadap pelaku kejahatan. Pidana mati menjadi perdebatan hangat saat ini namun sesungguhnya perdebatan tersebut telah terjadi jauh sebelumnya. Pidana mati banyak ditentang, salah satunya adalah tokoh hukum pidana klasik, yaitu Cesare Beccaria, lahir di Milan, Italia, tahun 1738, tulisannya Dei Delitti e delle Pene, dibuat pada tahun 1764 dan diterbitkan pertama kali di Inggris tahun 1767 dengan judul On Crimes and Punishment. Beccaria tidak yakin pembalasan terhadap pelaku pidana dengan cara kejam akan mencegah tidak terjadinya lagi kejahatan tersebut. Dalam hal pidana mati, Beccaria berpendapat: 1. 2. 3. 4. Pidana mati tidak dapat mencegah seseorang unuk melakukan tindak pidana, bahkan pidana mati merupakan tindakan yang kejam dan brutal. Pidana mati menyia-nyiakan sumber daya manusia yang merupakan modal utama suatu negara. Pidana mati menggoncang rasa susila masyarakat yang justru oleh hukum harus diperkuat. Berdasarkan doktrin kontrak sosial, maka tidak ada seorangpun di dunia ini akan menyerahkan jiwanya dan tidak ada seorangpun dengan kontrak sosial dianugerahi hak untuk hidup dan mati.

Keadilan Dan Kepastian Hukum Dalam Eksekusi Pidana Mati

Ahli hukum lainnya dari Italia, Raffaele Garofalo, justru berpendapat lain dengan Beccaria, Raffaele mengusulkan pidana mati bagi mereka yang melakukan tindak pidana sebagai akibat dari kerusakan psikologi yang permanen yng menjadikannya tidak layak hidup di masyarakat. Bagi pihak yang mendukung hukuman mati, hukuman yang semakin berat dianggap dapat membuat orang lain semakin jera melakukan kejahatan karena sesuai dengan undangundang yang mengakui penerapan sanksi hukuman mati. Bagi pihak yang pro, hukuman mati pada kasus-kasus tertentu seperti korupsi, pembantaian etnis, maka hukuman mati masih relevan dilakukan. Bahkan untuk kasus bom Bali I dan II eksekusi harus segera dilakukan, ini untuk memberikan efek jera bagi para teroris agar mau berpikir dua kali sebelum bertindak. Pihak yang pro terhadap hukuman mati, menginginkan pelaksanaan eksekusi terhadap narapidana bukanlah merupakan pelanggaran HAM dan tidak dapat dianggap sebagai penghambat dalam penegakan HAM karena secara yuridis formal pidana mati dibenarkan. Alasan yang lain adalah bahwa pidana mati tetap diperlukan dengan melihat adanya kejahatan-kejahatan manusia yang tidak dapat ditolerir lagi. Di Indonesia, silang pendapat tentang pro kontra hukuman mati memuncak dengan dijatuhinya pidana mati terhadap Amrozi dan kawan-kawan. Sebagian sarjana berpendapat hukuman mati bertentangan dengan konstitusi. Pihak yang laian dengan berpegang pada konstitusi pula mengatakan bahwa hukuman mati masih layak untuk dilaksanakan. Bagi yang kontra hukuman mati maka hukuman mati bertentangan dengan Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 hasil amandemen yang menyatakan bahwa hak untuk hidup adalah hak yang tidak dikurangi dalam keadaan apapun juga. Hendardi, salah seorang aktivis hukum dan HAM menyatakan bahwa jika kita berpegang pada prinsip dan norma hak-hak asasi manusia, hukuman mati memang harus ditolak atau dihapuskan, karena ia bertentangan dengan prinsip dan norma tersebut. Hal tersebut karena: 1. Negara bukan saja harus menghormati dan melindungi hak untuk hidup (the right to life), tapi juga menjamin pelaksanaan penegakan hukum yang tak merenggut hak tersebut. Negara harus menjamin hak setiap orang untuk hidup tanpa merenggutnya dalam penegakan hukum pidana. 2. Dalam prinsip hak-hak asasi manusia, hak untuk hidup adalah hak yang tak terenggutkan (non-derogable right), tak boleh dicabut dalam keadaan apa pun. Pencabutan hak ini tidak diperkenankan bukan saja dalam keadaan perang, apalagi dalam keadaan damai. 3. Hak untuk hidup adalah hak yang melekat di dalam diri (right in itself) setiap orang. Hidup menyatu dengan tubuh manusia atau setiap orang. Merenggutnya berarti mengakhiri hidup seseorang. Pada titik yang mengerikan inilah hidup seseorang sebagai manusia berakhir. 4. Hak untuk hidup paling ditekankan untuk dihormati dan dilindungi oleh semua Negara sebagaimana terkandung dalam Pasal 6 Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik yang telah diratifikasi RI. Hak ini juga dilindungi dalam Pasal 28A Undang-Undang Dasar 1945 serta Pasal 4 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM). Penghormatan dan perlindungan bukan saja bersumber dari prinsip dan norma hak-hak asasi manusia internasional, tapi juga telah menjadi bagian dari ketentuan hukum nasional. Negara berkewajiban melindungi dan menjamin setiap orang agar dapat menikmati hak untuk hidup.
Keadilan Dan Kepastian Hukum Dalam Eksekusi Pidana Mati

Barda Nawawi Arif dalam Makalahnya8 mengatakan dari sudut Konsep Rancangan UndangUndang KUHP maka patut dikemukakan bahwa Konsep Rancangan Undang-Undang KUHP 1999/2000 masih mengatur tentang pidana mati, demikian dengan RUU KUHP 2006. Analisis RUU KUHP tersebut adalah: 1. Pertama-tama patut dikemukakan bahwa Konsep KUHP (sistem hukum pidana materiel) dilatarbelakangi oleh berbagai pokok pemikiran yang secara garis besar dapat disebut ide keseimbangan. Ide keseimbangan ini antara lain mencakup:9 a. b. Keseimbangan monodualistik antara kepentingan umum/masyarakat dan individu/perorangan. Keseimbangan antara perlindungan/kepentingan pelaku tindak pidana (ide individualisasi pidana) dan korban tindak pidana termasuk juga keseimbangan antara unsur/faktor objektif (perbuatan/lahiriah) dan subjektif (orang/batiniah/ sikap batin); ide daad-dader strafrecht. 2. Bertolak dari ide keseimbangan monodualistik, maka tujuan pemidanaan menurut Konsep diarahkan pada dua sasaran pokok, yaitu perlindungan masyarakat dan perlindungan/pembinaan individu. Dilihat dari ide dasar dan tujuan perlindungan masyarakat serta bertolak dari hasil penelitian, maka Konsep tetap mempertahankan jenis-jenis pidana berat, yaitu pidana mati dan penjara seumur hidup. Namun, dalam kebijakan formulasinya juga mempertimbangkan perlindungan/kepentingan individu, yaitu dengan diadakannya ketentuan mengenai : 1. Penundaan pelaksanaan pidana mati atau pidana mati bersyarat, yaitu apabila dalam masa percobaan (sepuluh tahun) terpidana menunjukkan sikap terpuji, pidana mati itu dapat diubah menjadi pidana penjara seumur hidup atau penjara dua puluh tahun (Pasal 82 Konsep 2000; Pasal 86 Konsep 2004 dan konsep 2006). 2. Dapat diubahnya pidana penjara seumur hidup menjadi penjara lima belas tahun apabila terpidana telah menjalani pidana minimal sepuluh tahun dengan berkelakuan baik (Pasal 65 Konsep 2000; Pasal 67 konsep 2004 dan konsep 2006) sehingga dimungkinkan terpidana mendapatkan pelepasan bersyarat (conditional release/parole). Barda Nawawi Arif lebih lanjut menerangkan, bahwa di samping pokok pemikiran di atas, dipertahankannya pidana mati juga didasarkan pada ide menghindari tuntutan/reaksi masyarakat yang bersifat balas dendam/emosional/sewenang-wenang/tidak terkendali atau bersifat extralegal execution. Artinya, disediakannya pidana mati dalam undang-undang dimaksudkan untuk memberikan saluran emosi/tuntutan masyarakat. Tidak tersedianya pidana mati dalam undang-undang bukan merupakan jaminan tidak adanya pidana mati dalam kenyataan di masyarakat. Oleh karena itu, untuk menghindari emosi balas dendam pribadi/masyarakat yang tidak rasional, dipandang lebih bijaksana apabila pidana mati tetap tersedia dalam undang-undang. Dengan adanya pidana mati dalam undang-undang, diharapkan penerapannya oleh hakim akan lebih selektif dan berdasarkan pertimbangan yang rasional/terkendali. Jadi, dimaksudkan juga untuk memberi perlindungan individu/warga masyarakat dari pembalasan yang
8

kepentingan

Penerapan Pidana Mati Ditinjau dari Pembaharuan Hukum Pidana makalah yang dibawakan dalam suatu simposium di Universitas Indonesia Barda Nawawi Arif, Pembaharuan Hukum Pidana Dalam Perspektif Kajian Perbandingan, (Bandung; Citra Aditya Bakti, 2005), hal. 288. Keadilan Dan Kepastian Hukum Dalam Eksekusi Pidana Mati

10

sewenang-wenang dan emosional dari korban atau masyarakat apabila pidana mati tidak diatur dalam undang-undang. Jadi sanksi pidana mati diberikan justru untuk memberikan perlindungan kepada pelaku tindak pidana tersebut dari amukan atau balas dendam korban atau pihak keluarga korban. Jai secara yuridis, Indonesia menganut hukuman pidana mati untuk beberapa tindak pidana seperti yang terdapat dalam konsep RUU KUHP 2006. C. Kesimpulan Pro kontra didalam pidana mati sejauh ini tidak dapat dihindari, Dalam perkembangannya kami mengamati pidana mati mengalami perubahan bentuk dari pelaksanaannya ke arah yang lebih baik, hal ini menunjukkan aspek sosiologis dalam pidana mati berjalan seirama dengan perkembangan norma / nilai yang berkembang didalam masyarakat, sebagaimana jika kita melihat hukum yang hidup didalam masyarakat (living law), Manusia sebagai anggota masyarakat memiliki naluri untuk mempertahankan hidup, sehingga semua peraturan perundangan menoleransi pembunuhan yang dilakukan oleh siapapun untuk mempertahankan kehidupannya. Sehingga pelaksanaan hukuman mati (qishash) adalah untuk menjamin kehidupan banyak orang sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah (2): 179 di dalam qishash ada jaminan kelangsungan hidup bagimu. Dengan membunuh si terpidana, maka timbul ketakutan banyak orang yang merencanakan pembunuhan. Sebab yang paling berharga bagi manusia adalah hidupnya dan yang paling ditakutinya adalah kematian. Allah Maha Mengetahu bahwa tidak semua orang dapat memahami pesan ayat ini sehingga penggalan ayat tersebut dirangkaikannya dengan kalimat yaa ulil albab (wahai orang yang berakal). Hukuman bagi pembunuh semacam ini nampaknya kejam apabila dilihat dari satu sudut dan tidak mengindahkan dari sudut korban yang dibunuh dan keluarga korban yang ditinggal. Memang nampaknya pelaksanaan qishash adalah satu nyawa dibayar dengan satu nyawa, tetapi pada hakekatnya yang tidak nampak adalah gejolak hati dari keluarga korban, yaitu menuntut balas yang dapat melampaui batas keadilan. Tuntut balas dari keluarga korban yang melampaui batas akan berakibat pada pembunuhan yang lebih besar lagi atau kemudaratan yang lebih besar. Untuk itu satu nyawa cukup dibayar dengan satu nyawa. Hukuman mati (Qishas) bukanlah satu-satunya cara untuk memberikan sanksi bagi pelaku pembunuhan dan al-Quran memberi alternatif lain yakni keluarga korban memberi maaf. Pemberian maaf ini merupakan edukasi bagi pelaku dan menghapuskan dosanya sehingga pada akhirnya dapat melahirkan hubungan yang lebih baik dalam kehidupan bermasyarakat. Al-Quran dan Sunnah memberi peluang yang cukup besar untuk menghindari jatuhnya sanksi apalagi yang berkait erat dengan nyawa atau badan. Karenanya jalan terakhir yang dianjurkannya adalah mendorong keluarga korban untuk memaafkan sebagaimana firmanNya dalam surat al-Baqarah (2):237 memberi maaf lebih dekat kapada takwa. kelompok kami berkesimpulan Lebih mempertahankan pidana mati tetapi membatasi pelaksanaannya daripada menghapuskan pidana mati tetapi melakukan eksekusi mati tanpa proses peradilan.

Keadilan Dan Kepastian Hukum Dalam Eksekusi Pidana Mati

11