BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM NOMOR 13 TAHUN 2009

TENTANG

PENGAWASAN PENETAPAN HASIL PEMILIHAN UMUM DAN PENGGANTIAN CALON TERPILIH DALAM PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN/KOTA TAHUN 2009

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM,

Menimbang

:

a. bahwa sesuai ketentuan Pasal 74 ayat (1) huruf a angka 11, Pasal 76 ayat (1) huruf a angka 11, Pasal 78 ayat (1) huruf a angka 12 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu dan Pasal 200 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota, salah satu kewenangan Bawaslu, Panwaslu Provinsi, dan Panwaslu Kabupaten/Kota mengawasi proses

penetapan hasil Pemilu; b. bahwa Pasal 218 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 mengatur penggantian calon terpilih; c. bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 118 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum, untuk pelaksanaan pengawasan Pemilu, Bawaslu membentuk peraturan Bawaslu sebagai pelaksanaan peraturan perundang-undangan; d. berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum tentang Penetapan Hasil Pemilihan Umum dan Penggantian Calon Terpilih Dalam Pemilihan Umum Anggota Dewan

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 2. Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 15 Tahun 2009 tentang Pedoman Teknis Penetapan Dan Pengumuman Hasil Pemilihan Umum. Penetapan Calon Terpilih. Dewan Perwakilan Daerah. Peraturan Presiden Nomor 49 Tahun 2008 tentang Pola Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Badan Pengawas Pemilihan Umum dan Sekretariat Panitia Pengawas Pemilihan Umum. dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 51. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389). Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota Tahun 2009. Penetapan Calon Terpilih Dan Penggantian Calon Terpilih Dalam Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Dewan Perwakilan Daerah. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. 2. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4721). Dan Dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten/kota tahun 2009. Tatacara Penetapan Perolehan Kursi. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. dan Penggantian Calon Terpilih Dalam Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. 6. Dewan Perwakilan Daerah. . 3. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4836). Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53. 5. 4. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4801). Dewan Perwakilan Daerah. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 59.Perwakilan Rakyat. dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota Tahun 2009 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 26 Tahun 2009 Tentang Perubahan Terhadap Peraturan Komisi Pemlihan Umum Nomor 15 Tahun 2009 Tentang Pedoman Teknis Penetapan Dan Pengumuman Hasil Pemilihan Umum. Tatacara Penetapan Perolehan Kursi.

Dewan Perwakilan Rakyat. adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. selanjutnya disebut Pemilu. 3. adalah Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang dilaksanakan secara langsung. Pemilu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. umum. DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN/KOTA TAHUN 2009. Dewan Perwakilan Daerah. selanjutnya disebut DPRD. 4. 2. selanjutnya disebut DPR. yang dimaksud dengan: 1. . jujur. bebas. dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. rahasia. DEWAN PERWAKILAN DAERAH. Pemilihan Umum. dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah Pemilu untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat. 5. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. selanjutnya disebut DPD. Dewan Perwakilan Daerah. Dewan Perwakilan Daerah.MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM TENTANG PENGAWASAN PENETAPAN HASIL PEMILIHAN UMUM DAN PENGGANTIAN CALON TERPILIH DALAM PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan ini. adalah Dewan Perwakilan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI.

adalah lembaga penyelenggara Pemilu yang bersifat nasional. Bilangan Pembagi Pemilihan bagi kursi DPRD. mengkaji. memeriksa. 14. dan perseorangan untuk Pemilu Anggota DPD. selanjutnya disebut KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota. adalah panitia yang dibentuk oleh Bawaslu untuk mengawasi penyelenggaraan Pemilu di wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota. DPR Provinsi. adalah bilangan yang diperoleh dari pembagian jumlah suara sah seluruh Partai Politik Peserta Pemilu yang memenuhi ambang batas perolehan suara 2. 8. Badan Pengawas Pemilihan Umum. adalah penyelenggara Pemilu di Provinsi dan Kabupaten/Kota. dan DPRD Kabupaten/Kota. Suara sah partai politik peserta Pemilu secara nasional adalah jumlah keseluruhan suara sah yang diperoleh seluruh partai politik peserta Pemilu dalam Pemilu Anggota DPR. selanjutnya disebut KPU. di seluruh daerah pemilihan Anggota DPR. 7. selanjutnya disebut BPP DPR. Ambang batas perolehan suara sah partai politik peserta Pemilu Anggota DPR. 9. selanjutnya disebut ambang batas adalah batas minimum suara sah secara nasional yang harus diperoleh setiap partai politik peserta Pemilu Anggota DPR untuk dapat dinyatakan berhak diikutsertakan dalam penghitungan perolehan kursi Anggota DPR di seluruh daerah pemilihan. selanjutnya disebut Panwaslu Provinsi dan Panwaslu Kabupaten/Kota. Panitia Pengawas Pemilihan Umum Provinsi dan Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kabupaten/Kota. 12. adalah bilangan yang diperoleh dari pembagian jumlah suara sah dengan jumlah kursi di suatu daerah pemilihan untuk menentukan jumlah perolehan kursi Partai Politik Peserta Pemilu dan terpilihnya anggota DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota. Komisi Pemilihan Umum. dan mandiri. 13. Peserta Pemilu adalah partai politik untuk Pemilu Anggota DPR. selanjutnya disebut Bawaslu. Saksi peserta Pemilu adalah saksi peserta Pemilu yang mendapat surat mandat tertulis dari partai politik atau dari calon Anggota DPD. selanjutnya disebut BPP DPRD. Pengawasan Pemilu adalah kegiatan mengamati. dan menilai proses penyelenggaraan Pemilu sesuai peraturan perundang-undangan. 16. 10. . adalah badan yang bertugas mengawasi penyelenggaraan Pemilu di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 15. Komisi Pemilihan Umum Provinsi dan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten/Kota.6. Bilangan Pembagi Pemilihan bagi kursi DPR. tetap. 11.5% (dua koma lima perseratus) dari suara sah secara nasional di satu daerah pemilihan dengan jumlah kursi di suatu daerah pemilihan untuk menentukan jumlah perolehan kursi Partai Politik Peserta Pemilu.

DPRD Provinsi. dan DPRD Kabupaten/Kota. g. i. adil. TUJUAN. profesionalitas. f. selanjutnya disebut BPP DPR Baru adalah bilangan yang diperoleh dari hasil pembagian jumlah sisa suara sah seluruh partai politik peserta Pemilu di seluruh daerah pemilihan pada suatu provinsi dengan jumlah sisa kursi dari seluruh daerah pemilihan. j. DPD.17. BAB II ASAS. dan DPRD Kabupaten/Kota. proporsionalitas. k. Bilangan Pembagi Pemilihan DPR yang baru. b. jujur. c. dan l. kepastian hukum. efektifitas. d. e. dan penetapan calon terpilih anggota DPR. h. DAN PELAKSANA PENGAWASAN Bagian Kesatu Asas Pengawas Pemilu Pasal 2 Pengawas Pemilu dalam mengawasi proses penetapan hasil Pemilu berpedoman kepada asas: a. efisiensi. 18. DPRD Provinsi. tertib penyelenggara Pemilu. perolehan suara calon anggota DPD. dan DPRD Kabupaten/Kota. perolehan suara calon anggota DPR. kepentingan umum. mandiri. penetapan perolehan kursi peserta Pemilu. sebagai dasar untuk membagikan sisa kursi yang belum terbagi kepada partai politik peserta pemilu. keterbukaan. DPRD Provinsi. Penetapan hasil Pemilu adalah penetapan perolehan suara partai politik peserta Pemilu anggota DPR. . akuntabilitas.

melindungi kemurnian suara pemilih dengan mencegah terjadinya pelanggaran. memastikan proses penetapan hasil Pemilu oleh KPU. dan DPRD Kabupaten/Kota secara nasional yang dilakukan oleh KPU. c. Panwaslu Kabupaten/Kota pada proses penetapan hasil Pemilu DPRD Kabupaten/Kota yang dilakukan oleh KPU Kabupaten/Kota. Panwaslu Provinsi pada proses penetapan hasil Pemilu DPRD Provinsi yang dilakukan oleh KPU Provinsi. BAB III RUANG LINGKUP DAN FOKUS PENGAWASAN Bagian Pertama Ruang Lingkup Pengawasan Pasal 5 (1) Pengawasan penetapan hasil Pemilu dilakukan terhadap: . Bagian Ketiga Pelaksana Pengawasan Pasal 4 Pengawasan penetapan hasil Pemilu dilaksanakan oleh: a. c. KPU Provinsi. Bawaslu pada proses penetapan hasil Pemilu DPR. dan KPU Kabupaten/Kota dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan Pemilu.Bagian Kedua Tujuan Pengawasan Pasal 3 Pengawasan penetapan hasil Pemilu bertujuan untuk menjamin integritas hasil Pemilu dengan: a. menindaklanjuti temuan dan laporan pelanggaran sebagaimana dimaksud pada huruf b sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan Pemilu. b. baik yang bersifat penyimpangan prosedur maupun berupa pengurangan dan/atau penggelembungan perolehan suara peserta Pemilu dan/atau calon tertentu. DPRD Provinsi. b. DPD.

dan DPRD Kabupaten/Kota. netralitas penyelenggara Pemilu dalam proses penetapan hasil Pemilu. dan e. e. c. (2) Pengawasan penggantian calon terpilih dilakukan terhadap proses penggantian calon terpilih yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pasal 218 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008. Proses penetapan partai politik peserta Pemilu yang memenuhi ambang batas. d. teror. kemungkinan terjadinya kekerasan. dan f. intimidasi. DPRD PROVINSI. ketepatan waktu dan akurasi hasil dalam proses penetapan hasil Pemilu. d. kemungkinan terjadinya politik uang pada proses penetapan hasil Pemilu. dan DPD oleh KPU untuk memastikan bahwa proses penetapan tersebut dilakukan paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah hari dan tanggal pemungutan suara. DAN DPRD KABUPATEN/KOTA Pasal 7 (1) Bawaslu mengawasi proses penetapan perolehan suara partai politik peserta pemilu anggota DPR. calon anggota DPR. b. BAB IV PROSES PENETAPAN PEROLEHAN SUARA PESERTA PEMILU DAN CALON ANGGOTA DPR. c. Bagian Kedua Fokus Pengawasan Pasal 6 Pengawasan penetapan hasil Pemilu difokuskan pada: a. kemungkinan penyalahgunaan wewenang oleh pejabat negara/pejabat pemerintah dalam proses penetapan hasil Pemilu. kepatuhan penyelenggara Pemilu melaksanakan ketentuan peraturan perundangundangan Pemilu dalam proses penetapan hasil Pemilu. Proses penetapan perolehan kursi. (2) Panwaslu Provinsi mengawasi proses penetapan perolehan suara partai politik peserta pemilu anggota DPRD Provinsi dan calon anggota DPRD Provinsi oleh KPU . Proses penetapan perolehan suara peserta pemilu anggota DPR. b. DPRD Provinsi.a. dan DPRD Kabupaten/Kota. dan sabotase dalam proses penetapan hasil Pemilu. Proses penetapan calon terpilih. DPRD Provinsi. Proses penetapan perolehan suara calon anggota DPR.

Pasal 8 Bawaslu mengawasi proses penetapan bilangan pembagi Pemilih (BPP) DPR untuk memastikan bahwa: a. Penentuan partai politik yang tidak memenuhi ambang batas 2.5% dilakukan oleh KPU secara cermat dan akurat. e. BAB V PROSES PENETAPAN PEROLEHAN KURSI Pasal 9 (1) Bawaslu mengawasi proses penetapan kursi partai Politik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf a untuk anggota DPR yang meliputi: . Penetapan BPP DPR dengan cara membagi jumlah suara sah Partai Politik Peserta Pemilu dengan jumlah kursi di satu daerah pemilihan.Provinsi untuk memastikan bahwa proses penetapan tersebut dilakukan paling lambat 15 (lima belas) hari setelah hari dan tanggal pemungutan suara. Penetapan BPP DPR baru diperoleh dari hasil pembagian jumlah sisa suara sah seluruh partai politik peserta Pemilu di seluruh daerah pemilihan pada suatu provinsi dengan jumlah sisa kursi dari seluruh daerah pemilihan. Perolehan suara untuk penghitungan perolehan kursi DPR di suatu daerah pemilihan sama dengan jumlah suara sah seluruh Partai Politik Peserta Pemilu dikurangi jumlah suara sah Partai Politik Peserta Pemilu yang tidak memenuhi ambang batas perolehan suara. (3) Panwaslu Kabupaten/Kota mengawasi proses penetapan perolehan suara partai politik peserta pemilu anggota DPRD Kabupaten/Kota dan calon anggota DPRD Kabupaten/Kota oleh KPU Kabupaten/Kota untuk memastikan bahwa proses penetapan tersebut dilakukan paling lambat 12 (dua belas) hari setelah hari dan tanggal pemungutan suara. Partai Politik yang diikusertakan dalam penentuan kursi DPR hanya partai Politik yang memenuhi ambang batas 2.5% perolehan suara secara nasional. c. Bawaslu dapat menghadirkan Panwaslu Provinsi dan/ atau Panwaslu Kabupaten/Kota untuk mengikuti proses penetapan hasil pemilu secara nasional. b. sebagai dasar untuk membagikan sisa kursi yang belum terbagi kepada partai politik peserta Pemilu. (4) Dalam rangka memaksimalkan pengawasan penetapan hasil pemilu oleh KPU. d.

Penetapan perolehan kursi Partai Politik Peserta Pemilu untuk anggota DPRD provinsi ditetapkan dengan cara membagi jumlah perolehan suara sah yang telah ditetapkan oleh KPU provinsi dengan angka BPP DPRD di daerah pemilihan masing-masing. Penetapan kursi Partai Politik Peserta Pemilu untuk anggota DPRD kabupaten/kota ditetapkan dengan cara membagi jumlah perolehan suara sah yang telah ditetapkan oleh KPU kabupaten/kota dengan angka BPP DPRD di daerah pemilihan masing-masing. Pasal 10 (1) Panwaslu Provinsi mengawasi proses penetapan perolehan kursi partai Politik untuk anggota DPRD Provinsi yang meliputi: a. . Penetapan perolehan kursi tahap kedua. c. Penetapan perolehan kursi tahap pertama. Penetapan perolehan kursi tahap berikutnya apabila masih terdapat sisa kursi yang masih belum terbagi atau sisa suara masing-masing partai politik peserta Pemilu anggota DPR tidak mencapai angka BPP DPR yang baru. (2) Bawaslu memastikan proses penetapan kursi DPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dilakukan oleh KPU sesuai peraturan perundang-undangan dan melalui mekanisme rapat pleno terbuka. Dalam hal masih terdapat sisa kursi setelah dialokasikan berdasarkan BPP DPRD. BPP DPRD sebagaimana dimaksud pada huruf a ditetapkan dengan cara membagi jumlah perolehan suara sah Partai Politik Peserta Pemilu untuk anggota DPRD provinsi dengan jumlah kursi anggota DPRD provinsi di daerah pemilihan masing-masing. maka perolehan kursi Partai Politik Peserta Pemilu dilakukan dengan cara membagikan sisa kursi berdasarkan sisa suara terbanyak satu persatu sampai habis. b. dan c.a. Penetapan perolehan kursi tahap ketiga. b. (2) Panwaslu Provinsi memastikan proses penetapan perolehan kursi DPRD Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh KPU Provinsi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan melalui mekanisme rapat pleno terbuka. dan d. Pasal 11 (1) Panwaslu Kabupaten/Kota mengawasi proses penetapan perolehan kursi partai politik untuk anggota DPRD Kabupaten/Kota yang meliputi: a.

(3) Proses penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan melalui mekanisme rapat pleno KPU. BAB VI PENETAPAN CALON TERPILIH Pasal 12 (1) Bawaslu memastikan calon terpilih Anggota DPR yang ditetapkan adalah calon yang memperoleh suara terbanyak dari setiap partai politik sesuai dengan jumlah kursi yang diperoleh partai politik tersebut di daerah pemilihan yang bersangkutan. kedua. BPP DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan cara membagi jumlah perolehan suara sah Partai Politik Peserta Pemilu untuk pemilihan anggota DPRD kabupaten/kota dengan jumlah kursi anggota DPRD kabupaten/kota di daerah pemilihan masingmasing. dan keempat di provinsi yang bersangkutan. (2) Proses penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan melalui mekanisme rapat pleno KPU Provinsi. maka perolehan kursi partai politik peserta pemilu dilakukan dengan cara membagikan sisa kursi berdasarkan sisa suara terbanyak satu persatu sampai habis. ketiga. c. Dalam hal masih terdapat sisa kursi setelah dialokasikan berdasarkan BPP DPRD. Pasal 13 (1) Panwaslu Provinsi memastikan calon terpilih Anggota DPRD Provinsi yang ditetapkan adalah calon yang memperoleh suara terbanyak dari setiap partai politik sesuai dengan jumlah kursi yang diperoleh partai politik tersebut di daerah pemilihan yang bersangkutan. (2) Panwaslu Kabupaten/Kota memastikan proses penetapan perolehan kursi partai politik untuk anggota DPRD Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh KPU Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan melalui mekanisme rapat pleno terbuka. Pasal 14 . (2) Bawaslu memastikan bahwa calon terpilih anggota DPD yang ditetapkan adalah calon yang memperoleh suara terbanyak pertama.b.

meninggal dunia. DPRD provinsi. (2) Proses penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan melalui mekanisme rapat pleno KPU Kabupaten/Kota. dan DPRD kabupaten/kota dalam hal calon terpilih: a. BAB VIII STRATEGI PENGAWASAN Pasal 17 Strategi pengawasan penetapan hasil Pemilu dapat dilakukan antara lain melalui upaya-upaya berikut: a. Pengawas Pemilu menindaklanjuti dengan merekomendasikan kepada KPU menurut tingkatan masing-masing untuk dilakukan penggantian calon terpilih.DPR. DPD. DPD. tidak lagi memenuhi syarat untuk menjadi anggota DPR.(1) Panwaslu Kabupaten/Kota memastikan calon terpilih Anggota DPRD Kabupaten/Kota yang ditetapkan adalah calon yang memperoleh suara terbanyak dari setiap partai politik sesuai dengan jumlah kursi yang diperoleh partai politik tersebut di daerah pemilihan yang bersangkutan. terbukti melakukan tindak pidana Pemilu berupa politik uang atau pemalsuan dokumen berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. DPD. mengundurkan diri. atau d. dan DPRD Kabupaten/Kota. atau DPRD kabupaten/kota. DPRD provinsi. BAB VII PENGAWASAN PENGGANTIAN CALON TERPILIH Pasal 15 (1) Pengawas Pemilu mengawasi proses penggantian calon terpilih anggota DPR. Pasal 16 Pengawas Pemilu mengawasi proses verifikasi persyaratan calon anggota pengganti calon terpilih . . mengindentifikasi dan/atau memetakan potensi-potensi pelanggaran yang mungkin terjadi pada proses penetapan hasil Pemilu. (2) Dalam hal pengawas Pemilu menemukan calon terpilih yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. c. DPRD Provinsi.

Panwaslu Provinsi. dan Panwaslu Kabupaten/Kota melaporkan kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai tingkatan masingmasing.b. KPU Provinsi. c. dan Panwaslu Kabupaten/Kota wajib menindak-lanjutinya melalui mekanisme penegakan kode etik. Panwaslu Provinsi. penyimpangan dan/atau kesalahan pelanggaran tindak pidana Pemilu dalam pelaksanaan penetapan hasil pemilu yang dilakukan oleh KPU. (3) Apabila ditemukan pelanggaran kode etik Penyelenggara Pemilu dan Pengawas Pemilu dalam proses penetapan hasil Pemilu. BAB IX TINDAK LANJUT PENGAWASAN Pasal 18 (1) Bawaslu. mengajak dan berkoordinasi dengan saksi Peserta Pemilu tanpa mengurangi independensi dan netralitas Pengawas Pemilu dalam proses penetapan hasil Pemilu. dan KPU Kabupaten/Kota. menindaklanjuti setiap temuan/laporan pelanggaran Pemilu yang terjadi pada saat penetapan hasil pemilu dan penggantian calon terpilih. Bawaslu. baik yang bersifat penyimpangan prosedur maupun berupa pengurangan dan/atau penggelembungan perolehan suara peserta Pemilu dan/atau calon tertentu dengan cara mengajukan keberatan kepada KPU untuk memperbaiki pelanggaran tersebut sebelum penetapan hasil Pemilu. Bawaslu. dan Panwaslu Kabupaten/Kota wajib menyampaikan laporan dugaan pelanggaran. BAB X KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 19 . mencegah terjadinya pelanggaran. KPU Provinsi. e. penyimpangan dan/atau kesalahan dalam pelaksanaan penetapan hasil pemilu kepada KPU. d. Panwaslu Provinsi. berkoordinasi dan melaporkan pelanggaran yang terjadi kepada KPU dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. dan KPU Kabupaten/Kota sesuai dengan tingkatan masing-masing. (2) Dalam hal terdapat bukti permulaan yang cukup adanya pelanggaran.

Si.(1) Dalam rangka mengantisipasi terjadinya perselisihan hasil pemilihan umum. Pengawas Pemilu mempersiapkan: a. menjaga netralitas Pengawas Pemilu. b. Dokumen dan catatan kronologis penanganan pelanggaran yang berkaitan dengan objek perselisihan hasil Pemilu. b. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM KETUA. M. c. S. memberikan keterangan sesuai dengan fakta-fakta dan bukti-bukti yang dimiliki oleh Pengawas Pemilu.Sos. . Dokumentasi seluruh bukti-bukti penanganan laporan/temuan pelanggaran yang terkait dengan objek perselisihan hasil Pemilu. Salinan berita acara pemungutan dan penghitungan suara beserta sertifikat hasil penghitungan dan rekapitulasi suara yang terkait dengan objek perselisihan hasil Pemilu sesuai tingkatan masing-masing. NUR HIDAYAT SARDINI. Pengawas Pemilu memperhatikan ketentuan sebagai berikut: a. (2) Dalam hal pengawas Pemilu diminta menjadi saksi dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi. BAB XI KETENTUAN PENUTUP Pasal 20 Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful