Anda di halaman 1dari 28

KONSEP MANAJEMEN RISIKO, ASPEK ETIK DAN ASPEK LEGAL DOKUMENTASI KEPERAWATAN

Nisa Utami, S.Kep., Ners

Risiko adalah kemungkinan kehilangan finansial ataupun sesuatu yang berharga atau bernilai
Manajemen risiko adalah proses jaminan kualitas yang diberikan oleh pemberi pelayanan kesehatan dalam upaya mengidentifikasi, mengawasi, meminimalkan dan mencegah kemungkinan kehilangan sesuatu yang berharga dan mempunyai nilai

Tujuan Utama Manajemen Risiko


Melakukan pengkajian dan mencari pemecahan masalah terhadap masalah potensial sebelum masalah itu benar-benar terjadi

Hal ini tergantung kepada perawat dan profesi kesehatan lainnya karena merekalah yang melakukan kegiatan dan bertanggung jawab secara profesional melalui pembuatan dokumentasi tentang semua aktivitas dan hasil observasinya

Dokumentasi keperawatan meliputi catatancatatan yang lengkap berisi kronologis suatu peristiwa, kegiatan yang telah, sedang dan yang akan dilakukan, kondisi klien dan orang-orang yang terlibat dalam pelayanan kesehatan termasuk kegiatan keperawatan

Dokumentasi keperawatan dinilai mempunyai kekuatan untuk menjadi alat manajemen risiko yang efisien

Lingkungan Resiko Tinggi


Pada hakikatnya, semua tempat di pelayanan kesehatan berada pada lingkup potensial resiko tinggi. Salah satu contoh tempat di rumah sakit adalah kamar bedah, ICU, dan unit perawatan khusus. Situasi yang berisiko dan berpotensi menimbulkan terjadinya tuntutan : Kesalahan dalam pemberian obat Menunda pemberian asuhan Pengkajian yang tidak lengkap

Kesalahan memperkirakan dalam melakukan identifikasi klien Meremehkan hak privacy klien Kelemahan atau kelalaian memonitor atau supervisi klien Ketidakmampuan dalam memberikan informasi Pemberian informasi yang tidak konsisten dari beberapa sumber yang berbeda Menolak kehendak klien yang berkenaan dengan pengabaian pelayanan Menyelidiki kepemilikan klien tanpa kewenangan

Upaya Menekan Resiko Komunikasi adalah sumber resiko dalam pelayanan kesehatan

Interaksi antara dokter-perawat-klien-keluarga sangat penting, contohnya dalam penyuluhan atau komunikasi antara perawat dengan teman sejawat atau dokter sehingga setiap melakukan komunikasi harus didokumentasikan. Pendokumentasian yang akurat, objektif dan komprehensif adalah bukti yang paling kuat utnuk menyatakan bahwa perawat telah bertanggung jawab, bekerja konsisten dengan kebutuhan klien maupun hasil kolaborasi dokter

Mendokumentasikan Elemen Manajemen Risiko


Pendokumentasian yang komprehensif : Faktual dan jelas Ringkas namun lengkap Akurat dan Objektif Relevan dan tepat waktu Terbatas dan spesifik Masuk akal dan dapat dipahami

Apa yang dilihat Apa yang didengar Apa yang tercium Apa yang teraba Tindakan apa yang dilakukan terhadap klien Respon terhadap tindakan Apa yang dilakukan untuk melindungi klien Apa yang dilakukan untuk melindungi milik klien yang bernilai

Prinsip Manajemen Risiko dan Pendokumentasiannya

Mengetahui dan mengikuti kebijakan setempat tentang tata cara pendokumentasian Dokumentasikanlah seluruh data dasar secara lengkap dan komprehensif Dokumentasikan semua faktor resiko dan data lain yang mengakibatkan keterbatsan fisik tertentu, seperti alat bantu berjalan, kruk, dll.

Dokumentasikan semua tindak lanjut secara akurat, lengkap, dalam waktu yang pasti dan cara yang setepat mungkin Deskripsikan perilaku klien secara obyektif, terutama jika perilakunya menyimpang, obstruktif atau destruktif Jangan gunakan isi dokumen sebagai bahan pergunjingan atau bahan pertikaian Tulislah catatan tersebut dengan rapi, jelas dan gunakanlah tatabahasa yang benar

Pendokumentasian Kejadian Luar Biasa (KLB)


Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah semua kejadian atau peristiwa yang menyimpang dari keadaan biasanya. Yang termasuk dalam situasi KLB adalah kejadian yang timbul akibat penyimpangan atau kesalahan prosedur, lingkungan yang mengancam, penggunaan alat yang salah ataupun kejadian dimana alat yang diperlukan untuk melakukan prosedur sudah rusak

Tujuan Dokumentasi KLB: Teridentifikasinya resiko-resiko yang mengancam keselamatan dan keamanan klien dan staf, dengan maksud meningkatkan tatanan pelayanan kesehatan klien.
Dokumen KLB dapat dipakai sebagai alat suatu penyelidikan atau memperbaiki lingkup yang berpotensial menjadi resiko.

Dokumentasi KLB juga dapat dimanfaatkan sebagai dasar pembuatan program-program pendidikan yang dirancang untuk mengidentifikasi situasi yang berpotensi menimbulkan masalah
Komponen Dokumentasi KLB Data dasar Rincian kejadian dari KLB serta upaya penanggulangannya Penyataan (statement) dokter

Data Dasar

Nama lengkap orang yang terlibat dalam insiden (pasien, pengunjung, pekerja) Nomor register, nomor kamar dan nama rumah sakit (jika klien) Tanggal dan waktu insiden terjadi Alamat lokasi kejadian Lingkungan Jenis insiden (jatuh, kesalahan pengobatan, kesalahan prosedur) Jenis kelamin/umur/status pernikahan/diagnosa medis/status kesehatan/status mental Orang yang menemukan insiden Nama/alamat/nomor telepon saksi

Rincian Kejadian dari KLB serta Upaya Penanggulangannya


Kalimat harus jelas, obyektif, faktual, naratif Penyebab utama insiden (bila diketahui) termasuk kata atau kalimat yang diucapkan klien/saksi Tanda-tanda vital klien yang terkait Tingkat kesadaran dan status emosi pada saat kejadian Sebutkan luka, perdarahan, fraktur secara spesifik Keluhan-keluhan Bantuan/perawatan yang diberikan Respon klien terhadap perawatan Pemberitahuan atau anjuran dokter, siapa yang menganjurkan Nama, jabatan, bagian tempat orang yang menyiapkan laporan

Pernyataan (Statement) Dokter


Tanggal/waktu Status klien Tindak lanjut penting setelah terjadinya insiden Tanda tangan dokter

Dokumentasi KLB harus dilakukan sesegera mungkin dengan disertai kelengkapan data dan diserahkan kepada orang yang tepat, misalnya Kepala Ruangan.

Mendokumentasikan Hasil Kolaborasi Secara Lisan atau Via Telepon

Perintah lisan adalah petunjuk untuk klien, dimana dokter secara langsung berkomunikasi kepada perawat dengan tatap muka harus ditulis jelas dan ditandatangani oleh dokter yang bersangkutan dalam waktu 24 jam setelah perintah diberikan. Dalam penulisan bisa ditulis I.V. (instruksi verbal) atau O.V. (order verbal)

Perintah melalui telepon adalah petunjuk dokter untuk klien dimana dokter berkomunikasi dengan perawat melalui telepon harus dicatat dalam lembar konsultasi dokter (catatan medis) oleh perawat dan ditandatangani oleh dokter dalam waktu 24 jam setelah komunikasi berlangsung. Dalam penulisan bisa ditulis I.T. (instruksi telepon) atau O.T. (order telepon)

Petunjuk Membuat Surat Pernyataan Izin (Informed Consent)

Akurat Memahami implikasi sebagai saksi Mengetahui bagaimana memodifikasi format informed consent

Dokumentasi Keperawatan dilihat dari Aspek Etik


Lingkup tugas perawat adalah merawat klien pada semuatahapan siklus kehidupan di dalam semua tatanan kesehatan baik di rumah sakit, Puskesmas dan masyarakat. Dihadapkan dengan konflik yang kompleks terhadap moral dan etik seperti : menjaga kerahasiaan, informed consent, eutanasia, peran sebagai advokasi klien

Informasi yang diberikan harus akurat Dokumentasi harus obyektif dan dapat menggambarkan apa yang terjadi sebenarnya, bukan asumsi Informasi yang tidak ada kaitannya dengan kesehatan klien sebaiknya tidak dimasukkan sebagi perlindungan terhadap privacy klien

Kode etik perawat berfungsi untuk melindungi hak-hak yang sifatnya pribadi melalui perlindungan terhadap informasi kesehatan klien Setiap perawat dalam melaksanakan proses keperawatan wajib menyimpan kerahasiaan yang menyangkut riwayat penyakit klien yang tertuang dalam dokumen pelayanan kesehatan (rekam medis) mengetahui data informasional dan data confident.

Data informasional : nama pasien, alamat, no telp, data masuk ruang rawat atau rumah sakit, tanggal kepulangan Data confident : data klinik yang diperoleh dari hasil pemeriksaan tindakan, observasi, tanya jawab, diagnosa medis, hasil tes, hasil konsultasi, adanya ketidakmampuan mental, alkoholism dan penyalahgunaan obat.

Implikasi Legal Pada Pendokumentasian

Dokumentasi keperawatan harus akurat dan ditandatangani karena merupakan dokumen yang bersifat legal sehingga bisa menjadi barang bukti di pengadilan. Masalah komunikasi yang menyebabkan tidak adekuatnya dokumentasi :

Tidak mencatat waktu yang tepat Lalai untuk mencatat pesanan lisan Mencatat tindakan sebelum dilakukan Mendokumentasikan data yang tidak tepat

Metode Pencatatan untuk mempertahan kan Legalitas : Tulis dengan tinta hitam atau biru dan dapat dibaca Jangan menggunakan tip-ex Catat hanya fakta, harus akurat dan obyektif Jangan biarkan pada akhir catatan kosong Catat apa yang dilakukan diri sendiri Bubuhkan nama jelas dan tandatangan

Penanganan dan Penyimpanan Laporan


Pasal 10 Permenakes No. 749a menyatakan secara tegas bahwa laporan pelayanan kesehatan harus disimpan sekurangkurangnya selama 5 tahun terhitung sejak saat pasien terakhir berobat. Resume rekam medis paling sedikit 25 tahun.

wassalam

TERIMA KASIH