Anda di halaman 1dari 11

1.

Penjajakan:
Merupakan tahap awal yang dilakukan oleh
kedua pihak yang berunding mengenai
kemungkinan dibuatnya suatu perjanjian
internasional.

2. Perundingan:
Merupakan tahap kedua untuk membahas
substansi dan masalah-masalah teknis yang akan
disepakati dalam perjanjian internasional. Pada
tahap perundingan biasanya pihak-pihak yang terlibat
dalam perjanjian mempertimbangkan terlebih dahulu
materi-materi apa yang hendak dicantumkan dalam
perjanjian. Pada tahap ini pula materi yang akan
dicantumkan dalam perjanjian ditinjau dari berbagai
segi, baik politik, ekonomi maupun keamanan.

Tahap perundingan akan diakhiri dengan


penerimaan naskah (adoption of the text) dan
pengesahan bunyi naskah (authentication of the text).
Dalam praktek perjanjian internasional, peserta
biasanya menetapkan ketentuan mengenai jumlah
suara yang harus dipenuhi untuk memutuskan apakah
naskah perjanjian diterima atau tidak. Demikian pula
menyangkut pengesahan bunyi naskah yang diterima
akan dilakukan menurut cara yang disetujui semua
pihak. Bila konferensi tidak menentukan cara
pengesahan, maka pengesahan dapat dilakukan
dengan penandatanganan, penandatanganan
sementara, atau dengan pembubuhan paraf
(Kusumaatmadja, 1990 : 91).

3. Perumusan Naskah:
Merupakan tahap merumuskan rancangan
suatu perjanjian internasional. Atau merupakan
suatu tahap dimana rancangan suatu perjanjian
internasional dirumuskan.

4. Penerimaan:
merupakan tahap menerima naskah
perjanjian yang telah dirumuskan dan disepakati
oleh para pihak. Dalam perundingan bilateral,
kesepakatan atas naskah awal hasil perundingan
dapat disebut “Penerimaan” yang biasanya
dilakukan dengan membubuhkan inisial atau paraf
pada naskah perjanjian internasional oleh ketua
delegasi masing-masing. Dalam perundingan
multilateral, proses penerimaan
(acceptance/approval) biasanya merupakan
tindakan pengesahan suatu negara pihak atas
perubahan perjanjian internasional.
5. Penandatanganan : merupakan tahap akhir
dalam perundingan bilateral untuk melegalisasi
suatu naskah perjanjian internasional yang telah
disepakati oleh kedua pihak. Untuk perjanjian
multilateral, penandatanganan perjanjian
internasional bukan merupakan pengikatan diri
sebagai negara pihak. Keterikatan terhadap
perjanjian internasional dapat dilakukan melalui
pengesahan
(ratification/accession/acceptance/approval).
Penandatanganan suatu perjanjian internasional tidak
sekaligus dapat diartikansebagai pengikatan diri pada
perjanjian tersebut. Penandatanganan suatu
perjanjianinternasional yang memerlukan pengesahan, tidak
mengikat para pihak sebelumperjanjian tersebut disahkan.
Dengan menandatangani suatu naskah perjanjian,
suatu negara berarti sudah menyetujui untuk
mengikatkan diri pada suatu perjanjian. Selain melalui
penandatanganan, persetujuan untuk mengikat diri
pada perjanjian dapat pula dilakukan melalui ratifikasi,
pernyataan turut serta (acesion) atau menerima
(acceptance) suatu perjanjian.

6. Pengesahan Pernjanjian Internasional di


Indonesia

Pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional


antara Pemerintah Indonesia dengan pemerintah
negara-negara lain, organisasi internasional dan subjek
hukum internasional lain adalah suatu perbuatan hukum
yang sangat penting karena mengikat negara dengan
subjek hukum internasional lainnya. Oleh sebab itu
pembuatan dan pengesahan suatu perjanjian
internasional dilakukan berdasarkan undang-undang.
Sebelum adanya Undang-Undang No. 24 tahun 2000
tentang Perjanjian Internasional, kewenangan untuk
membuat perjanjian internasional seperti tertuang dalam
Pasal 11 Undang Undang Dasar 1945, menyatakan
bahwa Presiden mempunyai kewenangan untuk
membuat perjanjian internasional dengan persetujuan
Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 11 UUD 1945 ini
memerlukan suatu penjabaran lebih lanjut bagaimana
suatu perjanjian internasional dapat berlaku dan menjadi
hukum di Indonesia. Untuk itu melalui Surat Presiden No.
2826/HK/1960 mencoba menjabarkan lebih lanjut Pasal
11 UUD 1945 tersebut.
Pengaturan tentang perjanjian internasional selama
ini yang dijabarkan dalam bentuk Surat Presiden No.
2826/HK/1960, tertanggal 22 Agustus 1960, yang
ditujukan kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, dan
telah menjadi pedoman dalam proses pengesahan
perjanjian internasional selama bertahun-tahun.
Pengesahan perjanjian internasional menurut Surat
Presiden ini dapat dilakukan melalui undang-undang
atau keputusan presiden, tergantung dari materi yang
diatur dalam perjanjian internasional. Tetapi dalam
prateknya pelaksanaan dari Surat Presiden ini banyak
terjadi penyimpangan sehingga perlu untuk diganti
dengan Undang-Undang yang mengatur secara khusus
mengenai perjanjian internasional.
Hal ini kemudian yang menjadi alasan perlunya
perjanjian internasional diatur dalam Undang-Undang
No. 24 Tahun 2000. Dalam Undang Undang No. 24 Tahun
2000, adapun isi yang diatur dalam undang-undang
tersebut adalah:

• Ketentuan Umum
• Pembuatan Perjanjian Internasional
• Pengesahan Perjanjian Internasional
• Pemberlakuan Perjanjian Internasional
• Penyimpanan Perjanjian Internasional
• Pengakhiran Perjanjian Internasional
• Ketentuan Peralihan
• Ketentuan Penutup
Dalam pengesahan perjanjian internasional terbagi
dalam empat kategori, yaitu:
1. Ratifikasi (ratification), yaitu apabila negara yang
akan mengesahkan suatu perjanjian internasional
turut menandatangani naskah perjanjian
internasional;
2. Aksesi (accesion), yaitu apabila negara yang akan
mengesahkan suatu perjanjian internasional tidak
turut menandatangani naskah perjanjian;
3. Penerimaan (acceptance) atau penyetujuan
(approval) yaitu pernyataan menerima atau
menyetujui dari negara-negara pihak pada suatu
perjanjian internasional atas perubahan perjanjian
internasional tersebut;
4. Selain itu juga ada perjanjian-perjanjian
internasional yang sifatnya self-executing
(langsung berlaku pada saat penandatanganan).
Dalam suatu pengesahan perjanjian internasional
penandatanganan suatu perjanjian tidak serta merta
dapat diartikan sebagai pengikatan para pihak terhadap
perjanjian tersebut. Penandatanganan suatu perjanjian
internasional memerlukan pengesahan untuk dapat
mengikat. Perjanjian internasional tidak akan mengikat
para pihak sebelum perjanjian tersebut disahkan.
Seseorang yang mewakili pemerintah dengan
tujuan menerima atau menandatangani naskah suatu
perjanjian atau mengikatkan negara terhadap perjanjian
internasional, memerlukan Surat Kuasa (Full Powers).
Pejabat yang tidak memerlukan surat kuasa adalah
Presiden dan Menteri.
Tetapi penandatanganan suatu perjanjian
internasional yang menyangkut kerjasama teknis
sebagai pelaksanaan dari perjanjian yang sudah berlaku
dan materinya berada dalam lingkup kewenangan suatu
lembaga negara atau lembaga pemerintah, baik
departemen maupun non-departemen, dilakukan tanpa
memerlukan surat kuasa.
Pengesahan perjanjian internasional oleh
pemerintah dilakukan sepanjang dipersyaratkan oleh
perjanjian interansional tersebut. Pengesahan suatu
perjanjian internasional dilakukan berdasarkan ketetapan
yang disepakati oleh para pihak. Perjanjian internasional
yang memerlukan pengesahan mulai berlaku setelah
terpenuhinya prosedur pengesahan yang diatur dalam
undang-undang.
Pengesahan perjanjian internasional dilakukan
dengan undang-undang atau keputusan Presiden.
Pengesahan dengan undang-undang memerlukan
persetujuan DPR. Pengesahan dengan keputusan
Presiden hanya perlu pemberitahuan ke DPR.
Pengesahan perjanjian internasional dilakukan melalui
undang-undang apabila berkenaan dengan:
• masalah politik, perdamaian, pertahanan, dan
keamanan negara;
• perubahan wilayah atau penetapan batas wilayah
negara;
• kedaulatan atau hak berdaulat negara;
• hak asasi manusia dan lingkungan hidup;
• pembentukan kaidah hukum baru;
• pinjaman dan/atau hibah luar negeri.
Di dalam mekanisme fungsi dan wewenang, DPR
dapat meminta pertanggung jawaban atau keterangan
dari pemerintah mengenai perjanjian internasional yang
telah dibuat. Apabila dipandang merugikan kepentingan
nasional, perjanjian internasional tersebut dapat
dibatalkan atas permintaan DPR, sesuai dengan
ketentuan yang ada dalam undang-undang No. 24 tahun
2000.
Indonesia sebagai negara yang menganut paham
dualisme, hal ini terlihat dalam Pasal 9 ayat 2 UU No. 24
tahun 2000, dinyatakan bahwa:
”Pengesahan perjanjian internasional sebagaimana
dimaksud dalam ayat(1) dilakukan dengan undang-
undang atau keputusan presiden.”
Dengan demikian pemberlakuan perjanjian
internasional ke dalam hukum nasional indonesia tidak
serta merta. Hal ini juga memperlihatkan bahwa
Indonesia memandang hukum nasional dan hukum
internasional sebagai dua sistem hukum yang berbeda
dan terpisah satu dengan yang lainnya.
Perjanjian internasional harus ditransformasikan
menjadi hukum nasional dalam bentuk peraturan
perundang-undangan. Perjanjian internasional sesuai
dengan UU No. 24 tahun 2000, diratifikasi melalui
undang-undang dan keputusan presiden. Undang-
undang ratifikasi tersebut tidak serta merta menjadi
perjanjian internasional menjadi hukum nasional
Indonesia, undang-undang ratifikasi hanya menjadikan
Indonesia sebagai negara terikat terhadap perjanjian
internasional tersebut. Untuk perjanjian internasional
tersebut berlaku perlu dibuat undang-undang yang lebih
spesifik mengenai perjanjanjian internasional yang
diratifikasi, contoh Indonesia meratifikasi International
Covenant on Civil and Political Rights melalui undang-
undang, maka selanjutnya Indonesia harus membuat
undang-undang yang menjamin hak-hak yang ada di
covenant tersebut dalam undang-undang yang lebih
spesifik.
Perjanjian internasional yang tidak mensyaratkan
pengesahan dalam pemberlakuannya, biasanya memuat
materi yang bersifat teknis atau suatu pelaksana teknis
terhadap perjanjian induk. Perjanjian internasional
seperti ini dapat lansung berlaku setelah
penandatanganan atau pertukaran dokumen
perjanjian/nota diplomatik, atau melalui cara lain yang
disepakati dalam perjanjian oleh para pihak.
Perjanjian yang termasuk dalam kategori ini diantaranya
adalah perjanjian yang materinya mengatur secara
teknis kerjasama bidang pendidikan, sosial, budaya,
pariwisata, penerangan kesehatan, pertanian, kehutanan
dan kerjasam antar propinsi atau kota. Perjanjian
internasional mulai berlaku dan mengikat para pihak
setelah memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam
perjanjian tersebut.

7. Tukar – menukar naskah ratifikasi


Ratifikasi adalah pengesahan naskah perjanjian
internasional yang diberikan oleh badan yang berwenang di
suatu negara. Dengan demikian, meskipun delegasi negara
yang bersangkutan sudah menandatangani naskah perjanjian,
namun negara yang diwakilinya tidak secara otomatis terikat
pada perjanjian. Negara tersebut baru terikat pada materi
perjanjian setelah naskah perjanjian tersebut diratifikasi.

Badan mana yang berwenang meratifikasi perjanjian


internasional menjadi persoalan intern negara yang
bersangkutan. Untuk Indonesia misalnya wewenang itu
dipegang oleh Presiden dengan persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat. Hal ini merujuk pada pasal 11 Undang-
Undang Dasar 1945 yang menyatakan: "Presiden dengan
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat membuat perjanjian
dengan negara-negara lain".

8. Pemberlakuan Perjanjian Internasional


Mulai berlakunya dan mengikatnya perjanjian
internasional antara Pemerintah Indonesia dengan
pemerintah negara lain, organisasi internasional atau
subjek hukum internasional lain serta perubahan atas
ketentuan perjanjian yang telah disepakati diatur di
dalam Bab tentang Pemberlakuan Perjanjian
Internasional ini.

9. Penyimpanan Perjanjian Internasional


. Penyimpanan Perjanjian Internasional ini
mengatur tentang kewenangan Menteri Luar Negeri
sebagai pejabat yang bertugas dan memelihara naskah
asli perjanjian internasional yang dibuat Pemerintah
Indonesia serta tugas Menteri Luar Negeri untuk
memberitahukan dan menyampaikan salinan naskah
resmi suatu perjanjian internasional yang telah dibuat
oleh Pemerintah Indonesia kepada sekretariat organisasi
internasional dimana Pemerintah Indonesia menjadi
anggota.
penyimpanan perjanjian internasional dalam
pasdal 17 :
Pasal 17
(1) Menteri bertanggung jawab menyimpan dan
memelihara naskah asli perjanjian internasional yang
dibuat oleh Pemerintah Republik Indonesia serta
menyusun daftar naskah resmi dan menerbitkannya
dalam himpunan perjanjian internasional.
(2) Salinan naskah resmi setiap perjanjian internasional
disampaikan kepada lembaga negara dan lembaga
pemerintah, baik departemen maupun non departemen
pemrakarsa.
(3) Menteri memberitahukan dan menyampaikan salinan
naskah resmi suatu perjanjian internasional yang telah
dibuat oleh Pemerintah Republik Indonesia kepada
sekretariat organisasi internasional yang di dalamnya
Pemerintah republik Indonesia menjadi anggota.
(4) Menteri memberitahukan dan menyampaikan salinan
piagam pengesahan perjanjian internasional kepada
instansi-instansi terkait.
(5) Dalam hal Pemerintah Republik Indonesia ditunjuk
sebagai penyimpan piagam pengesahan perjanjian
internasional, Menteri menerima dan menjadi penyimpan
piagam pengesahan perjanjian internasional yang
disampaikan negara-negara pihak.

10. pendaftaran dan pengumuman


perjanjian internasional
Naskah yang telah jadi sebelum diumumkan, harus
didaftarkan terlebih dahulu kepada PBB. Setelah
pendaftaran tersebut selesai, barulah naskah perjanjian
yang dibuat itu diumumkan keseluruh Indonesia.

11. Syarat sahnya Perjanjian


Tahapan pembuatan perjanjian meliputi :
a. perundingan dimana negara mengirimkan utusannya ke suatu
konferensi bilateral
maupun multilateral;
b. penerimaan naskah perjanjian (adoption of the text) adalah
penerimaan isi naskah
perjanjian oleh peserta konferensi yang ditentukan dengan
persetujuan dari semua
peserta melalui pemungutan suara;
c. kesaksian naskah perjanjian (authentication of the text),
merupakan suatu tindakan
formal yang menyatakan bahwa naskah perjanjian tersebut telah
diterima konferensi.
Pasal 10 Konvensi Wina, dilakukan menurut prosedur yang
terdapat dalam naskah
perjanjian atau sesuai dengan yang telah diputuskan oleh
utusan-utusan dalam
konferensi. Kalau tidak ditentukan maka pengesahan dapat
dilakukan dengan
membubuhi tanda tangan atau paraf di bawah naskah perjanjian.
d. persetujuan mengikatkan diri (consent to the bound),
diberikan dalam bermacam cara
tergantung pada permufakatan para pihak pada waktu
mengadakan perjanjian,
dimana cara untuk menyatakan persetujuan adalah sebagai
berikut :
a) penandatanganan,
Pasal 12 Konvensi Wina menyatakan :
- persetujuan negara untuk diikat suatu perjanjian dapat
dinyatakan dalam bentuk
tandatangan wakil negara tersebut;
- bila perjanjian itu sendiri yang menyatakannya;
- bila terbukti bahwa negara-negara yang ikut berunding
menyetujui demikian;
- bila full powers wakil-wakil negara menyebutkan
demikian atau dinyatakan
dengan jelas pada waktu perundingan.
b) pengesahan, melalui ratifikasi dimana perjanjian
tersebut disahkan oleh badan yang berwenang di
negara anggota.

Agar suatu Perjanjian dapat menjadi sah dan mengikat para


pihak, perjanjian harus
memenuhi syarat-syarat sebagaimana ditetapkan dalam Pasal
1320 BW yaitu :
1. sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;
Kata “sepakat” tidak boleh disebabkan adanya kekhilafan
mengenai hakekat barang
yang menjadi pokok persetujuan atau kekhilafan
mengenai diri pihak lawannya dalam
persetujuan yang dibuat terutama mengingat dirinya
orang tersebut; adanya paksaan
dimana seseorang melakukan perbuatan karena takut
ancaman (Pasal 1324 BW);
adanya penipuan yang tidak hanya mengenai kebohongan
tetapi juga adanya tipu
muslihat (Pasal 1328 BW). Terhadap perjanjian yang
dibuat atas dasar “sepakat”
berdasarkan alasan-alasan tersebut, dapat diajukan
pembatalan.
2. cakap untuk membuat perikatan;
Pasal 1330 BW menentukan yang tidak cakap untuk
membuat perikatan :
a. Orang-orang yang belum dewasa
b. Mereka yang ditaruh dibawah pengampuan
c. Orang-orang perempuan, dalam hal-hal yang ditetapkan
oleh undang-undang, dan
pada umumnya semua orang kepada siapa undang-
undang telah melarang
membuat perjanjian-perjanjian tertentu. Namun
berdasarkan fatwa Mahkamah
Agung, melalui Surat Edaran Mahkamah Agung No.3/1963
tanggal 5 September
1963, orang-orang perempuan tidak lagi digolongkan
sebagai yang tidak cakap.
Mereka berwenang melakukan perbuatan hukum tanpa
bantuan atau izin suaminya.
3. suatu hal tertentu;
Perjanjian harus menentukan jenis objek yang
diperjanjikan. Jika tidak, maka
perjanjian itu batal demi hukum. Pasal 1332 BW
menentukan hanya barang-barang
yang dapat diperdagangkan yang dapat menjadi obyek
perjanjian, dan berdasarkan
Pasal 1334 BW barang-barang yang baru akan ada di
kemudian hari dapat menjadi
obyek perjanjian kecuali jika dilarang oleh undang-undang
secara tegas.
4. suatu sebab atau causa yang halal.
Sahnya causa dari suatu persetujuan ditentukan pada
saat perjanjian dibuat.
Perjanjian tanpa causa yang halal adalah batal demi
hukum, kecuali ditentukan lain
oleh undang-undang. Syarat pertama dan kedua
menyangkut subyek, sedangkan syarat ketiga dan
keempat mengenai obyek. Terdapatnya cacat kehendak
(keliru, paksaan, penipuan) atau tidak cakap untuk
membuat perikatan, mengenai subyek mengakibatkan
perjanjian dapat dibatalkan. Sementara apabila syarat
ketiga dan keempat mengenai obyek tidak terpenuhi,
maka perjanjian batal demi hukum.