Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI TUMBUHAN ACARA I SUKSESI TUMBUHAN

disusun sebagai laporan praktikum mata kuliah Ekologi Tumbuhan

Oleh: Kelompok 2 Riska Nur Rahmani Dian Widyarini Ifa Muhimmatin Junaidi Abdillah Puput dewi L 070210103059 070210103083 070210103097 070210103098 070210103108

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN MIPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JEMBER 2009

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Suksesi adalah perubahan yang perlahan-lahan dari komunitas tumbuhan dalam suatu daerah tertentu dimana terjadi pengalihan dari suatu jenis tumbuhan oleh jenis tumbuhan lainnya (pada tingkat populasi). Pada prinsipnya semua bentuk ekosistem akan mengalami perubahan baik struktur maupun fungsinya dalam perjalanan waktu. Beberapa perubahan mungkin hanya merupakan fluktuasi lokal yang kecil sifatnya, sehingga tidak memberikan arti yang penting. Perubahan lainnya mungkin sangat besar / kuat sehingga mempengaruhi sistem secara keseluruhan. Kajian perubahan ekosistem dan stabilitasnya memerlukan perhatian yang tidak sederhana. Ini meliputi aspek-aspek yang sangat luas seperti siklus materi/nutrisi, produktivitas, konsep energi, kaitannya dengan masalah pertanian dan juga dengan masalah konservasi. Sudah diketahui secara meluas bahwa apabila suatu kebun tidak dipelihara, atau lapangan rumput yang tidak pernah dipotong secara teratur maka vegetasinya akan mengalami perubahan dan tidak tetap seperti itu terus menerus. Berbagai tumbuhan liar akan hidup/tumbuh dan mengubah karakteristik dari vegetasi asalnya. Demikian juga suatu lahan pertanian yang tidak digarap, maka herba, perdu, dan pohon liar akan tumbuh menguasai daerah/ lahan pertanian tersebut, dan apabila kondisi tanahnya memungkinkan vegetasinya akan berkembang membentuk komunitas hutan. Perubahan yang sama akan terjadi pula pada lahan-lahan yang baru terbentuk secara alami, seperti delta, bukit pasir, daerah aliran lahar atau lava. Pada permulaannya tanah belum matang, nutrisi organik belum ada, permukaan sangat terbuka dan kondisinya belum menunjang kehidupan di atasnya. Akan tetapi apabila diberi waktu yang cukup lama kelamaan akan tertutup oleh koloni-koloni tumbuhan yang kemudian ekosistem ini akan berkembang.

Vegetasi yang pertama kali masuk biasanya berupa tumbuhan pelopor atau pionir, yaitu tumbuhan yang berkemampuan tinggi untuk hidup pada keadaan lingkungan yang serba terbatas atau mempunyai berbagai factor pembatas, seperti kesuburan tanah yang rendah sekali : kekurangan atau ketiadaan air dalam tanah; intensitas cahayayang terlalu berlebihan/ tinggi dan sebagainya. Kehadiran kelompok pionir ini akan menciptakan kondisi lingkungan tertentu yang memberikan kemungkinan untuk hidup tumbuhan lainnya. Koloni tumbuhan pionir ini akan menghasilkan proses pembentukan lapisan tanah, memecah batuan dengan akarnya dan membebaskan materi organik ketika terjadi pelapukan dari bagian tumbuhan yang mati. Proses akan berkembang sesuai dengan perubahan waktu, dan akan menciptakan komunitas tumbuhan yang semakin lama semakin padat dan kompleks, mengarah pada pematangan bentuk komunitas tumbuhannya

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan suksesi tumbuhan? 2. Bagaimana proses suksesi alami pada lahan garapan? 3. Apa saja faktor faktor yang mempengaruhi proses suksesi alami

tersebut? 1.3 Tujuan


1. Mengetahui pengertian suksesi tumbuhan. 2 Memberikan pengetahuan tentang proses terbentuknya suksesi alami

pada lahan garapan.


3 Mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi proses suksesi alami

tersebut.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Tansley (1920) mendefinisikan suksesi sebagai berikut : Suksesi adalah perubahan yang perlahan-lahan dari komunitas tumbuhan dalam suatu daerah tertentu dimana terjadi pengalihan dari suatu jenis tumbuhan oleh jenis tumbuhan lainnya (pada tingkat populasi). Suksesi vegetasi menurut Odum adalah: urutan proses pergantian komunitas tanaman di dalam satu kesatuan habitat, sedangkan menurut Salisbury adalah kecenderungan kompetitif setiap individu dalam setiap fase perkembangan sampai mencapai klimaks, dan menurut Clements adalah proses alami dengan terjadinya koloni yang bergantian, biasanya dari koloni sederhana ke yang lebih kompleks. Odum (1971) mengatakan bahwa adanya pergantian komunitas cenderung mengubah lingkungan fisik sehingga habitat cocok untuk komunitas lain sampai keseimbangan biotik dan abiotik tercapai. Clements (1916) menuliskan pendapat-pendapatnya yang sangat persuasif, ia menyatakan bahwa vegetasi dapat disejalankan dengan organisma super, mampu memperbaiki atau mengelola dirinya sendiri bila terjadi gangguan atau kerusakan. Ia juga mengenalkan adanya 6 (enam ) unsur yang akan terjadi sehubungan dengan proses suksesi yaitu : a. Penggundulan, yang mengakibatkan terjadinya substrat baru. b. Migrasi, kehadiran migrula atau organ pembiak tumbuhan. c. Eksesis, Perkecambahan, pertumbuhan, reproduksi, dan penyebaran. d. Kompetisi, persaingan sehingga adanya pengusiran satu species oleh species lainnya. e. Reaksi, perubahan pada ciri dan sifat habitat oleh jenis tumbuhan. f. Stabilitasi, yang menghasilkan komunitas tumbuhan pada tingkatan yang matang. Perubahan komunitas tumbuhan atau vegetasi yang dikemukakan di atas menggambarkan bertambah kayaknya suatu daerah oleh berbagai jenis tumbuhan yang hidup di atasnya, proses perubahan ini disebut : suksesi progresif. Perubahan vegetasi dapat pula mengarah pada penurunan jumlah jenis tumbuhan, penurunan kompleksitas struktur komunitas tumbuhan. Hal ini terjadi biasanya

akibat penurunan kadar zat hara dari tanah, misalnya akibat degradasi habitat. Perubahan komunitas tumbuhan mengarah ke yang lebih sederhana ini disebut suksesi retrogresif atau suksesi regresif. Gams (1918) mengemukakan bahwa suksesi bisa terjadi secara alami, tetapi bisa juga timbul karena perbuatan manusia. Keduanya tidak berbeda secara mendasar. Hutan yang hancur karena ditebang oleh manusia, atau dihancurkan akibat longsor atau angin topan, proses suksesi yang terjadi akan relatif sama. Namun Gams mengkategorikan suksesi ini dalam tiga keaadan yaitu : a. Suksesi dengan urutan normal Berasal dari adanya pengaruh terhadap vegetasi yang terus menerus dan cepat. Misalnya vegetasi rumput yang selalu terinjak-injak ternak, di mamah biak, dijadikan tempat beristirahat ternak, atau tempat berguling-guling ternak. Kondisi vegetasi akan mengalami Fasa perubahan selama ternak tetap berada di tempat itu.
b. Suksesi dengan urutan berirama.

Berasal dari gangguan berulang-ulang, mungkin siklis tetapi mempunyai interval waktu antara satu gangguan dengan gangguan berikutnya. Misalnya terjadi pada perubahan vegetasi karena adanya proses rotasi dalam pemanfaatan lahan pertanian.
c. Suksesi dengan urutan katastrofik,

Terjadi secara hebat dan tiba-tiba, tidak berirama, seperti meletusnya gunung berapi, gempa bumi, kebakaran, penebangan, pengeringan habitat akuatika, yang kesemuanya ini bisa menimbulkan dampak katastrofik pada komunitas tumbuhan, yang kemudian cepat atau lambat akan diikuti oleh suatu proses suksesi tumbuhan.

Perubahan vegetasi di alam sebenarnya bisa dibedakan dalam tiga bentuk umum, yaitu :

a. Perubahan fenologis yang tidak saja terjadi karena adanya masa-masa

berbunga, berbuah, berbiji, berumbi, gugur daun dan sebagainya, tetapi juga terjadi pertumbuhan jenis-jenis tumbuhan tertentu dalam perjalanan waktu atau musim yang memperkaya komunitas tumbuhan itu. Misalnya pada habitat padang pasir dengan hadirnya tumbuhan setahun dan geofita setelah hujan turun, dan ini terjadi satu kali untuk beberapa tahun.
b. Perubahan suksesi sekunder, yakni perubahan vegetasi yang nonfenologis

dan terjadi dalam ekosistem yang telah matang. Ini termasuk suksesi normal, berirama dan katastrofik seperti yang dikalsifikasikan oleh Gams. Suatu suksesi sekunder berasal hanya dari suatu kerusakan ekosistem secara tidak menyeluruh atau tidak total kerusakannya. Misalnya pada daerah pertanian setelah terjadi panenan, juga pada daerah hutan akibat terjadinya pohon tumbang. Pada suksesi sekunder ini dapat bersifat satu arah atau juga siklik.
c. Perubahan suksesi primer, berlainan dengan suksesi sekunder, pembentukan

komunitas tumbuhan pada suksesi primer ini berasal dari suatu substrat yang sebelumnya tidak pernah mendukung suatu komunitas tumbuhan. Substrat baru yang terbentuk bisa berasal dari sistem air sebagai hasil dari proses pendangkalan, suksesi yang terjadi disebut suksesi hidroseres (Clements) atau hidrark (Cooper). Bila substrat baru berasal dari system darat, batuan, pasir, dan sebagainya maka suksesinya disebut suksesi xeroseres atau xerark. Odum berpendangan bahwa suatu komunitas baik hewan maupun vegetasi selalu memerlukan enersi dan informasi dan pada saatnya akan menghasilkan enersi dan informasi. Suatu sistem berkembang, pada permulaannya memerlukan enersi dan informasi sehingga disebut sistem tersubsidi. Pada suatu saat setelah dewasa akan menghasilkan enersi dan informasi. Sistem ini dikatakan mencapai klimaks bila perbandingan masukan dan keluaran enersi dan informasi sama dengan satu. Artinya hasil enersi dan informasi sama besar dengan masukan

enersi dan informasi. Sistem yang demikian ini oleh Odum disebut Klimaks. Pengertian ini berlaku sampai sekarang. Odum (1971) mengatakan bahwa komunitas untuk mencapai klimaks akan bervariasi tidak hanya disebabkan oleh adanya perbedaan iklim dan situasi fisiografis, tetapi ditentukan juga oleh sifat-sifat ekosistem yang berbeda. Whittaker (1953) merupakan penyokong monoklimaks, mengatakan bahwa teori monoklimaks menekankan esensialitas (pentingnya) kesatuan vegetasi yang mencapai klimaks di suatu habitat. Ahli-ahli lain seperti Oosting, Henry, mengatakan bahwa teori poliklimaks lebih praktis. Hal ini disokong oleh Michols, Tansley dan ahli-ahli Rusia. Smitthusen (1950), Whittaker (1951 - 1953) dan ahli ekologi Amerika yang lain menyokong konsep poliklimaks dan semuanya percaya karena ada fakta bahwa tingkatan klimaks dinyatakan oleh lingkungan individu serta komunitas tanaman dan bukannya oleh iklim setempat. Di alam ini terdapat dua macam suksesi, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder. a. Suksesi primer Suksesi primer terjadi jika suatu komunitas mendapat gangguan yang mengakibatkan komunitas awal hilang secara total sehingga terbentuk habitat baru. Gangguan tersebut dapat terjadi secara alami maupun oleh campur tangan manusia. Gangguan secara alami dapat berupa tanah longsor, letusan gunung berapi, dan endapan lumpur di muara sungai. Gangguan oleh campur tangan manusia dapat berupa kegiatan penambangan (batu bara, timah, dan minyak bumi). b. Suksesi Sekunder Suksesi sekunder terjadi jika suatu gangguan terhadap suatu komunitas tidak bersifat merusak total tempat komunitas tersebut sehingga masih terdapat kehidupan / substrat seperti sebelumnya. Proses suksesi sekunder dimulai lagi dari tahap awal, tetapi tidak dari komunitas pionir.

Kecepatan proses suksesi dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut :

1. Luas komunitas asal yang rusak karena gangguan. 2. Jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di sekitar komunitas yang terganggu. 3. Kehadiran pemencar benih.
4. Iklim, terutama arah dan kecepatan angina yang membantu penyebaran biji,

sporam dan benih serta curah hujan.


5. Jenis substrat baru yang terbentuk

6. Sifat sifat jenis tumbuhan yang ada di sekitar tempat terjadinya suksesi. Sukses tidak hanya terjadi di daratan, tetapi terjadi pula di perairan misalnya di danau dan rawa. Danau dan rawa yang telah tua akan mengalami pendangkalan oleh tanah yang terbawa oleh air. Danau yang telah tua ini disebut eutrofik. Telah dijelaskan bahwa akhir sukses adalah terbentuknya suatu komunitas klimaks. Berdasarkan tempat terbentuknya, terdapat tiga jenis komunitas klimaks sebagai berikut : 1. 2. 3. Hidroser yaitu sukses yang terbentuk di ekosistem air tawar. Haloser yaitu suksesi yang terbentuk di ekosistem air payau xeroser yaitu sukses yang terbentuk di daerah gurun. Pembentukkan komunitas klimaks sangat dipengaruhi oleh musim dan biasanya komposisinya bercirikan spesies yang dominant. Berdasarkan pengaruh musim terhadap bentuknya komunitas klimaks, terdapat dua teori sebagai berikut :
a. Hipotesis monoklimaks menyatakan bahwa pada daerah musim tertentu hanya

terdapat satu komunitas klimaks. b. Hipoteis poliklimaks mengemukakan bahwa komunitas klimaks dipengaruhi oleh berbagai faktor abiotik yang salah satunya mungkin dominan.

BAB 3. METODE PERCOBAAN 3.1 Acara 3.2 Waktu dan Tempat 1. Tanggal 2. Pukul 3. Tempat 3.3 Alat dan Bahan a). Alat 1. 2. 3. 4. 5. 6.
7.

: Acara I (Suksesi Tumbuhan)

: 16 November s.d 21 Desember 2009 : 12.30 14.10 WIB : di kebun belakang Gedung Soetardjo

cangkul parang Pasak meteran tali rafia label Penggaris Plastik

b). Bahan
1. dua buah lahan alami seluas 10 x 10 meter

2. Kertas milimeter/ kertas grafik 3. Buku Catatan

3.4 Cara Kerja

Membersihkan kedua lahan garapan dari rumput yang hidup pada lahan tersebut. (membakar dan mencangkul)

Membagi 2 petak lahan garapan 10 m x 10 m menjadi petak kecil berukuran 1m x 1m dengan menggunakan pembatas tali rafia.

Petak 1 x 1 meter tersebut dibagi lagi menjadi 16 petak kecil dengan menggunakan pasak dan rafia.

Diluar petak 1 x 1 meter dibuat zona kontrol (yang bersih dari rumput) agar petak tidak dirambati rumput dari luar petak

Membiarkan kedua petak lahan tersebut selama 6 minggu.

Mengamati jenis, jumlah, tinggi tumbuhan pada masing-masing petak kecil pada tiap minggu.

Mencatat perubahan komposisi tumbuhan tersebut dan membandingkan hasil pengamatan setiap minggu.

Mengamati apakah terdapat perubahan jenis tumbuhan dari komunitas tersebut selama pengamatan.

10

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengamatan Petak ke 1 2 1 Pengukuran tinggi tanaman (cm) Minggu ke 2 3 4 5 0,8 2 0,6 0,3 0,3 0,4 0,8 2 1,3 1 0,5 1,5 3 1,8 1,5 1,5 0,5 0,3 1,8 4,5 2,1 1,9 2 0,8 0,7

6 3 2,5 5 2,8 2,5 2,7 1,4 1,2 0,6 2,8 2,4 2,3 3,7 2,9 0,6 0,6 0,8 0,9 0,9 3,7 0,5 3,5 3,7 2,5 2,6 3 3

0,3 -

0,3 0,2 0,1

1,8 1,5 1,7 1,5 1

2,5 1 1 1,5 1,7

2 1,8 2 3 2,5

0,5

0,2 0,2 0,1

Mati 0, 8 0,9

1,5 1,3

2 1,5 1 0,8 1 0,9

2,8 3 1,7 1,5 1,9 1,5

0,6

11

7 8

0,25

1,8

0,3 Mati 0,3

0,8 0,9

1,2 1,3

2 1,7 0,5 0,6 3,1 3,4 2,3 5 3,8 3,8 3,4 2,8 4,5 2,9 0,4 0,8 0,8 0,8 0,9 3,6 2,9 3,3 3,3 3,7 0,6 4,5 3 5,2 5,2 3,1 0,6 0,8 0,9

0,2 0,2 -

0,8 0,3 0,4

0,4 0,1 0,2 1 1,5 1 0,8 0,4 1

1,5 1,5 0,7 3 2 1,5 1 1 3 1,7

3 2,8 1,4 4,2 3 2,7 2,5 1,8 3,8 2,5

10

11

1 0,7 0,5 0,4 0,7

2,5 1,8 1,8 2 2

2,9 2,5 2,7 2,6 2,7

12

0,5 0,3 0,4

0,6 1,2 1,3

2,8 1,7 2,5 3 1,5

3,4 2,2 4 3,8 2

3,9 2,8 4,6 4,5 2,5

12

0,9 13 0,3 1 1,8 3,4 2,5 4 3,7 5,1 0,5 Mati 5,2 5,9 3 0,6 0,5 5 4,7 2,7 2,0 1,0

14 15

1,8

0,5 3 0,5

2 4 3 0,5

3 4,7 4,5 1,5

16

1 1,3

2 2,2

2,5 2,8 0,7 0,8

3,6 3,6 1,5 1,5

4.2 Pembahasan Pada kegiatan praktikum kali ini dilakukan percoban Acara I yaitu Suksesi Tumbuhan yang bertujuan untuk mengetahui proses terbentuknya suksesi alami pada lahan garapan dan Mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi proses suksesi alami tersebut. Pada praktikum ini awalnya kami membersihkan lahan garapan (di kebun belakang Gedung Soetardjo) dengan cara mencangkul rumput rumputan yang hidup pada lahan tersebut. Kemudian membuat petak lahan seluas 1 x 1 m 2 yang di bagi bagi lagi menjadi petak petak kecil hingga diperoleh 16 petak dengan menggunakan pasak bambu dan untuk pembatasnya menggunakan tali rafia. Langkah selanjutnya yaitu membiarkan petak pengamata tersebut selama 6 minggu. Pengamatan dilakukan setiap minggu dengan mengamati jenis, jumlah, dan tinggi tumbuhan pada masing masing petak kecil.

13

Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh, pada minggu pertama dari ke-16 petak kecil hanya ada beberapa petak yang ditumbuhi tanaman yaitu pada petak ke-3, 5, 8, 10 dan 12 dengan rata rata ketinggian mencapai 0,2 0,3 cm. Jumlah tanamannya masih dapat dihitung yaitu sebanyak 11 tanaman. Sebagian besar tanaman yang tumbuh yaitu tanaman jenis rerumputan. Proses suksesi ini akan berkembang sesuai dengan perubahan waktu, dan akan menciptakan komunitas tumbuhan yang semakin lama semakin padat dan kompleks, mengarah pada pematangan bentuk komunitas tumbuhannya. Hal ini terbukti Pada minggu ke-2 sudah semakin banyak tanaman yang mulai tumbuh dengan jenis dan jumlah yang semakin banyak dengan ketinggian tertentu. Petak petak kecil yang ditumbuhi tanaman yaitu pada petak ke 2, 3, 5, 8, 10, 12, 15, dan 16. Pada minggu ke 3, terdapat penambahan jenis dan jumlah tanaman yaitu pada petak ke 7, 9, 11, 13, dan 14. Jenis tamanan yang tumbuh selain jenis tanaman rerumputan, nampak adanya tanaman jenis ilalang dan tanaman tanaman lain seperti pegagan, semanggi dan tapak liman. Pada minggu ke 4 hampir semua petak ditumbuhi oleh tanaman jenis rerumputan hanya pada petak ke 6 yang tidak ditumbuhi tanaman. Begitu pula seterusnya hingga pada minggu ke 6, pertumbuhan tanaman semakin pesat dan beragam baik dalah hal jenis tanaman, jumlah maupun ketinggian tanaman. Pada lahan yang kami beri perlakuan tersebut tergolong kedalam suksesi sekunder karena sebelum terjadi suksesi sudah ada bentuk bentuk kehidupan sebelumnya berupa komunitas tumbuhan semak dan perdu serta tumbuhan jenis rerumputan. Suksesi sekunder terjadi jika suatu gangguan terhadap suatu komunitas tidak bersifat merusak total tempat komunitas tersebut sehingga masih terdapat kehidupan / substrat seperti sebelumnya. Proses suksesi sekunder dimulai lagi dari tahap awal, tetapi tidak dari komunitas pionir/ tumbuhan lumut. Gangguan yang menyebabkan terjadinya suksesi sekunder dapat berasal dari peristiwa alami atau akibat kegiatan manusia. Gangguan alami misalnya angin topan, erosi, banjir, kebakaran, pohon besar yang tumbang, aktivitas vulkanik, dan kekeringan hutan. Gangguan yang disebabkan oleh kegiatan manusia contohnya adalah pembukaan areal hutan.

14

faktor faktor yang mempengaruhi terjadinya suksesi antara lain : 1. Iklim Tumbuhan tidak akan dapat teratur dengan adanya variasi yang lebar dalam waktu yang lama. Fluktuasi keadaan iklim kadang-kadang membawa akibat rusaknya vegetasi baik sebagian maupun seluruhnya. Dan akhirnya suatu tempat yang baru (kosong) berkembang menjadi lebih baik (daya adaptasinya besar) dan mengubah kondisi iklim. Kekeringan, hujan salju/air dan kilat seringkali membawa keadaan yang tidak menguntungkan pada vegetasi. 2. Topografi Suksesi terjadi karena adanya perubahan kondisi tanah, antara lain: o Erosi: Erosi dapat terjadi karena angin, air dan hujan. Dalam proses erosi tanah menjadi kosong kemudian terjadi penyebaran biji oleh angin (migrasi) dan akhirnya proses suksesi dimulai. o Pengendapan (denudasi): Erosi yang melarutkan lapisan tanah, di suatu tempat tanah diendapkan sehingga menutupi vegetasi yang ada dan merusakkannya. Kerusakan vegetasi menyebabkan suksesi berulang kembali di tempat tersebut. 3. Biotik Pemakan tumbuhan seperti serangga yang merupakan pengganggu di lahan pertanian demikian pula penyakit mengakibatkan kerusakan vegetasi. Di padang penggembalaan, hutan yang ditebang, panen menyebabkan tumbuhan tumbuh kembali dari awal atau bila rusak berat berganti vegetasi. Proses suksesi sangat terkait dengan faktor linkungan, seperti letak lintang, iklim, dan tanah. Lingkungan sangat menentukan pembentukkan struktur komunitas klimaks. Misalnya, jika proses suksesi berlangsung di daerah beriklim kering, maka proses tersebut akan terhenti (klimaks) pada tahap komunitas rumput; jika berlangsung di daerah beriklim dingin dan basah, maka proses suksesi akan terhenti pada komunitas (hutan) conifer, serta jika berlangsung di daerah beriklim hangat dan basah, maka kegiatan yang sama akan terhenti pada hutan hujan tropik.

15

Proses suksesi sangat beragam, tergantung kondisi lingkungan. Proses suksesi pada daerah hangat, lembab, dan subur dapat berlangsung selama seratus tahun. Coba kalian bandingkan kejadian suksesi pada daerah yang ekstrim (misalnya di puncak gunung atau daerah yang sangat kering). Pada daerah tersebut proses suksesi dapat mencapai ribuan tahun. Kecepatan proses suksesi dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut : 1. Luas komunitas asal yang rusak karena gangguan. 2. Jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di sekitar komunitas yang terganggu. 3. Kehadiran pemencar benih.
4.

Iklim, terutama arah dan kecepatan angina yang membantu penyebaran biji, sporam dan benih serta curah hujan. 5. Jenis substrat baru yang terbentuk 6. Sifat sifat jenis tumbuhan yang ada di sekitar tempat terjadinya suksesi. Sukses tidak hanya terjadi di daratan, tetapi terjadi pula di perairan

misalnya di danau dan rawa. Danau dan rawa yang telah tua akan mengalami pendangkalan oleh tanah yang terbawa oleh air. Danau yang telah tua ini disebut eutrofik. Telah dijelaskan bahwa akhir sukses adalah terbentuknya suatu komunitas klimaks. Berdasarkan tempat terbentuknya, terdapat tiga jenis komunitas klimaks sebagai berikut : a. Hidroser yaitu sukses yang terbentuk di ekosistem air tawar.
b. Haloser yaitu suksesi yang terbentuk di ekosistem air payau. c. Xeroser yaitu sukses yang terbentuk di daerah gurun.

Pembentukkan komunitas klimaks sangat dipengaruhi oleh musim dan biasanya komposisinya bercirikan spesies yang dominan. Berdasarkan pengaruh musim terhadap bentuknya komunitas klimaks, terdapat dua teori, yang pertama yaitu Hipotesis monoklimaks menyatakan bahwa pada daerah musim tertentu hanya terdapat satu komunitas klimaks. Yang kedua yaitu Hipoteis poliklimaks mengemukakan bahwa komunitas klimaks dipengaruhi oleh berbagai faktor abiotik yang salah satunya mungkin dominan.

16

BAB 5. KESIMPULAN 1. Suksesi adalah perubahan dalam suatu komunitas yang berlangsung menuju ke suatu arah pembentukan komunitas secara teratur. 2. Suksesi tumbuhan merupakan proses yang menyeluruh dan kompleks dengan adanya permulaan, perkembangan dan akhirnya mencapai kestabilan pada fase klimaks. Klimaks merupakan fase kematangan yang final, stabil memelihara diri dan berproduksi sendiri dari suatu perkembangan vegetasi dalam suatu iklim. 3. Pada lahan yang kami beri perlakuan termasuk suksesi sekunder karena sebelum terjadi suksesi sudah ada bentuk bentuk kehidupan sebelumnya berupa komunitas tumbuhan semak dan perdu serta tumbuhan jenis rerumputan 4. Suksesi tumbuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu iklim, topografi dan faktor biotik/serangga penganggu. 5. Kecepatan proses suksesi dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut : o Luas komunitas asal yang rusak karena gangguan. o Jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di sekitar komunitas yang terganggu. o Kehadiran pemencar benih. o Iklim, terutama arah dan kecepatan angina yang membantu penyebaran biji, sporam dan benih serta curah hujan. o Jenis substrat baru yang terbentuk o Sifat sifat jenis tumbuhan yang ada di sekitar tempat terjadinya suksesi.
5. Sukses tidak hanya terjadi di daratan, tetapi terjadi pula di perairan misalnya

di danau dan rawa. Danau dan rawa yang telah tua akan mengalami pendangkalan oleh tanah yang terbawa oleh air. Danau yang telah tua ini disebut eutrofik. 6. Proses suksesi akan berakhir bila telah terbentuk suatu komunitas yang stabil yang disebut klimaks.

17

7. Pembentukkan komunitas klimaks sangat dipengaruhi oleh musim dan

biasanya komposisinya bercirikan spesies yang dominan.

18

Daftar Pustaka
Dede S, Muhardiono, Ayip. 1989. Penuntun Praktikum Ekologi. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Kusmana, C. 1997. Metode Survey Vegetasi. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Odum, E.P. 1997. Dasar-dasar Ekologi Terjemahan. Yogyakarta:Gadjah Mada University Press. Samingan, T.

Setiadi, D. I. Muhadiono. Dan A. Yusron. 1989. Ekologi Tumbuhan. Bogor: Depdiknas Dirjen DIKTI PAU IPB. Soegianto, A. 1994. Ekologi Kuantitatif, Metode Analisa Populasi dan Komunitas. Surabaya: Usaha nasional. Tim Pembina Ekologi Tumbuhan.2009.Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Jember:Progam Studi Pendidikan Biologi Universitas Jember Uginto Agoes. 1994. Ekologi Kuantitatif Metode Analisis Populasi Dan Komunitas . Surabaya : Usaha Nasional http://mei-smart.blogspot.com/2009/10/analisis-vegetasi.html http://biologi08share.blogspot.com/2009/04/beberapa-metodologi-yang-umumdan.html http://free.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0033% 20Bio%201-7d.htm http://www.freewebs.com/irwantomangrove/index.html http://fp.uns.ac.id/~hamasains/ekotan%202.htm http://sobatbaru.blogspot.com/2008/06/pengertian-suksesi.html http://trimendes.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=78 http://www.geocities.com/irwantoforester/

19