Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Masalah penelitian
1.1.1 Latar belakang masalah penelitian
Ekonomi merupakan faaaaaktor penting dalam kehidupan, kggghususnya kehidupan
perusahaan. Perusahaan dengan tingkat ekonomi baik adalah dambaan bagi para setiap
pemilik perusahaan, baik itu perusahaan perorangan hingga perseroan terbatas atau
perusahaan dagang, jasa, ataupun manufaktur. Kondisi ekonomi yang baik tentunya
diperolah dengan suatu usaha yang didasari dengan adanya pengelolaan yang baik dalam
perusahaan, khususnya pengelolaan keuangan.
Keuangan pada dasarnya adalah administrasi yang mengurusi keluar masuknya uang
dalam suatu perusahaan. Sedangkan keuangan berasal dari kata uang yang memiliki arti alat
tukar atau standar pengukur nilai ( kesatuan hitungan ) yang sah. Uang dikeluarkan oleh
suatu lembaga pemerintah yang dapat berupa uang kertas, emas, perak, atau logam lain yang
dicetak dengan bentuk dan gambar tertentu. Karenanya keuangan di dalam suatu perusahaan
di dasarkan pada uang sebagai satuannya.
Pengelolaan keuangan yang baik tercermin dalam laporan keuangan yang bisa kita
lihat dari neraca, yaitu aset lancar (current asset), investasi jangka panjang (longterm
liabilities), maupun aset tetap ( fixed asset). Dengan adanya pengelolaan keuangan yang baik
berdampak pada tersedianya permodalan bagi perusahaan untuk menjalankan aktivitasnya.
Aktivitas yang baik juga berdampak pada perolehan keuntungan ( laba ) yang menjadi tujuan
suatu perusahaan, tidak mungkin ada perusahaan yang tidak mencari keuntungan, maka
demikian sudah tentu perusahaan akan memaksimalkan keuangannya tersebut untuk
memperoleh laba yang siginifikan.
Pengelolaan keuangan juga ditandai dengan pengelolaan dana ke berbagai aset,
apabila perusahaan dapat menggunakan dana tersebut dengan upaya yang maksimal, maka
perusahaan tentunya akan semakin efisien dan efektif penggunaan dana tersebut.
Penggunaan dana dalam perusahaan dapat berupa pembelanjaan aktif dan pembelanjaan pasif
( pengelolaan sumber daya ).
Perusahaan didirikan dengan tujuan untuk mencari keuntungan dan meningkatkan
kemakmuran bagi para shareholder ( pemegang saham), yang tentunya untuk memperoleh
keuntungan tersebut perusahaan membutuhkan pengorbanan. Pengorbanan yang dilakukan
perusahaan ini dinamakan modal kerja yang bertugas untuk membiayai seluruh aktivitas
perusahaan sehari hari. Permodalan tersebut diharapkan mampu memberikan timbal balik
yang positif dan relatif cepat dalam waktu ke waktu berikutnya. Yang pada artinya modal
kerja tersebut harus ada guna menjalankan aktivitas perusahaan yang penggunaannya harus
tepat sasaran dan tidak ada penggunaan dana untuk membiayai suatu hal yang tidak ada
artinya bagi perusahaan ( penyelewengan dana ).
Modal kerja juga tidak bisa dilepaskan dari likuiditas perusahaan, dimana modal kerja
turut andil dalam menjamin tingkat likuiditas perusahaan. Modal kerja memiliki konsep yang
dinamakan modal kerja kotor ( gross working capital ), modal kerja netto ( net working
capital ) dan modal kerja fungsional. Perolehan modal kerja kotor yaitu sebesar aset lancar
perusahaan ( current asset), modal kerja netto diperoleh dari selisih aset lancar dikurangi
kewajiban lancar ( current liabillities), dan modal kerja fungsional di cerminkan dalam fungsi
dana, yang berarti dana di investasi untuk menghasilkan pendapatan.
Penggunaan modal kerja dalam penelitian ini didasarkan pada modal kerja netto ( net
working capital ), hal ini didasarkan modal kerja netto merupakan perhitungan nyata yang
dapat langsung di lihat dari selisih aset lancar dengan kewajiban lancar, sehingga dapat
langsung di telaah untuk memberikan hal yang dapat di lakukan perusahaan dalam
menghasilkan keputusan aktivitas perusahaan.
Modal kerja yang bersifat lancar tentunya harus di pergunakan untuk kewajiban
lancar, dan penggunaan modal kerja yang bersifat permanen juga dipergunakan untuk hal
hal yang bersifat jangka panjang, seperti kredit jangka panjang. Penggunaan modal kerja ini
juga harus disertai dengan ketelitian perusahaan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan
menyangkut kelangsungan hidup perusahaan. Kelangsungan hidup perusahaan berdampak
pada persaingan antara kompetitor, dimana yang bisa menggunakan dan mengalokasikan
modal kerjanya tentulah suatu perusahaan yang kuat dalam berkompetisi dan tidak hanya
menjadi perusahaan yang bersifat musiman atau sementara.
Modal kerja merupakan tugas manajemen, dimana kemampuan manajemen yang baik
juga berdampak pada efisiensi dan efektivitas penggunaan modal kerja tersebut. Bukan
hanya dari segi penggunaannya, namun juga dari segi perencanaannya. Perencanaan yang
matang oleh manajemen tentunya adalah dambaan bagi seluruh perusahaan. Perencanaan
yang menyeluruh juga menghindari adanya pemborosan dan penggunaan dana yang tidak
tepat sasaran di kemudian hari. Apabila perencanaan gagal dilakukan, mau tidak mau di
kemudian hari perusahaan akan membiayai seluruh aktivitas operasinya dengan peminjaman
( hutang ) yang diperoleh dari bank yang justru tidak membantu perusahaan untuk keluar dari
kesulitan namun lama kelamaan perusahaan akan terlena dan akan menyebabkan
kebangkrutan ( pailit ).
Berdasarkan hal hal tersebut diatas, peneliti menganalisis bahwa pengaruh yang ada
pada modal kerja dengan tingkat likuiditas mempunyai pengaruh ya erat, maka penulis ingin
menganalisis lebih jauh antara modal kerja dan likuiditas dengan judul Pengaruh Modal
Kerja Terhadap Tingkat Likuditas pada Perusahaan Industri Makanan dan Minuman periode
2007 2011.
1.1.2. Perumusan Masalah Pokok
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diungkapkan diatas, maka rumusan
masalah pokok penelitian yang akan dibahas adalah : Pengaruh Modal Kerja Terhadap
Tingkat Likuditas pada Perusahaan Industri Makanan dan Minuman periode 2007 2011.
Agar rumusan masalah pokok penelitian ini dapat diukur maka diajukan pertanyaan yang
akan dijawab melalui penelitian.
1.1.3. Spesifikasi Masalah Pokok
Berdasarkan masalah pokok penelitian yang telah diuraikan diatas, maka spesifikasi masalah
pokok penelitian yang dibahas oleh peneliti adalah sebagai berikut:
1. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara Modal Kerja Terhadap Tingkat
Likuditas pada Perusahaan Industri Makanan dan Minuman periode 2007 2011
?
2. Seberapa besar pengaruh Modal Kerja Terhadap Tingkat Likuditas pada
Perusahaan Industri Makanan dan Minuman periode 2007 2011?



1.2. Kerangka Teori
1.2.1. Identifikasi Variabel Penelitian
Variabel variabel yang terdapat dalam penelitian ini adalah :
1. Variabel bebas yang diberi symbol X, yaitu Modal Kerja.
Modal kerja adalah modal yang digunakan untuk membiayai kegiatan operasi
perusahaan.
2. Variabel Terikat yang diberi symbol Y, yaitu Likuditas.
Likuiditas adalah pengukuran seberapa likuidnya suatu perusahaan untuk
memenuhi kewajiban jangka pendek
1.2.2. Hubungan Antar Variabel
Modal kerja dalam praktiknya adalah dana yang dimiliki perusahaan yang
berhubungan dengan sumber sumber dana dan penggunaan dana yang berkaitan digunakan
untuk membiayai kegiatannya sehari hari.
Likuiditas adalah gambaran kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban
jangka pendeknya. Yang berarti pengukuran kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban pada saat ditagih.
Pengukuran likuiditas yang baik dan tepat oleh perusahaan dalam pengelolaan dana
berdampak pada ketersediaan keuangan dan kemampuan untuk membiayai aktivitas
operasional perusahaan, khususnya kewajiban jangka pendek. Semakin tinggi kemampuan
perusahaan untuk membiayai kewajibannya, maka dapat disimpulkan bahwa modal kerja
yang dimiliki perusahaan dikatakan baik

1.2.3. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan masalah penelitian dan kerangka teori yang telah diuraikan diatas, maka
jawaban sementara adalah diduga terdapat hubungan yang signifikan antara aset tetap dengan
produksi menggunakan uji hipotesis statistik. Perumusan hipotesis penelitian dapat
digambarkan sebagai berikut :

Ho : = 0 ------ Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara modal kerja terhadap
likuiditas perusahaan.

Ho : 0 ------ Terdapat pengaruh yang signifikan antara modal kerja dengan likuiditas
perusahaan.

1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.3.1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian yang akan dilakukan adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh yang signifikan antara Modal Kerja Terhadap Tingkat
Likuditas pada Perusahaan Industri Makanan dan Minuman periode 2007 2011 .
2. Untuk mengetahui besarnya pengaruh Modal Kerja Terhadap Tingkat Likuditas
pada Perusahaan Industri Makanan dan Minuman periode 2007 2011.

1.3.2. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Untuk perusahaan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dan bahan evaluasi bagi
perusahaan serta dapat merumuskan kebijakan dan prosedur Modal Kerja
Terhadap Tingkat Likuditas pada Perusahaan Industri Makanan dan Minuman.


2. Bagi STIE Indonesia
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi untuk penelitian
selanjutnya bagi mahasiswa lain yang ingin melakukan penelitian selanjutnya
tentang topik yang hampir sama dengan penelitian ini.

3. Untuk penulis
Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan sebagai implementasi mata
kuliah akuntansi antara teori dan praktek, sehingga menambah wawasan dan
pengetahuan lebih dari ilmu yang didapatkan selama perkuliahan.

4. Bagi Pengembangan Disiplin ilmu Terkait
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk pengembangan disiplin
ilmu khususnya Modal Kerja Terhadap Tingkat Likuditas pada Perusahaan
Industri Makanan dan Minuman.

5. Untuk masyarakat
Dapat menjadi tambahan referensi yang membantu dan berguna untuk memahami
bidang akuntansi khususnya pengaruh Modal Kerja Terhadap Tingkat Likuditas
pada Perusahaan Industri Makanan dan Minuman.








BAB II
KAJIAN PUSTAKA


2.1. Review Penelitian Terdahulu
2.1.1. Skripsi
Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Fakhruddin Mahmud
mahasiswa STEI tahun 2008 dengan judul Analisis Hubungan Modal Kerja Dengan
Tingkat Likuiditas Pada PT. Hume Sakti Indonesia yang diperoleh hasil penelitian
yang disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif signifikan antara modal kerja
dengan tingkat likuiditas pada PT. Hume Sakti Indonesia pada tingkat signifikasi 5%.
Hal tersebut diketahui bahwa thitung sebesar 4,172 sedangkan ttabel adalah sebesar
2,160 dengan kata lain thitung > 2,160
Kemudian penelitian kedua dilakukan oleh Rizka Formulawati seorang
mahasiswi STEI pada tahun 2012 yang melakukan penelitian dengan judul
Hubungan Antara Modal Kerja Dengan Rentabilitas Usaha Pada Perusahaan Makanan
Dan Minuman Yang Go Public. Dalam penelitiannya diperoleh hasil yaitu
disimpulkan ada hubungan antara modal kerja dengan rentabilitas usaha dengan
menggunakan koefisien korelasi diperoleh r
xy
= 0,631166297 adalah kuat dan searah,
karena r mendekati 1 maka jika terjadi kenaikan modal kerja akan diikuti dengan
kenaikan rentabilitas usaha. Hasil dari koefisien determinasi dapat diketahui bahwa
kontribusi pengaruh modal kerja terhadap rentabilitas usaha adalah sebesar 39,84%,
sedangkan sisanya sebesar 60,16% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak menjadi
fokus dalam penelitian. Sedangkan secara parsial, modal kerja dengan rentabilitas
usaha mempunyai hubungan yang signifikan dan positif, hal ini dapat dilihat dari nilai
t
hitung
> t
tabel
(3,452 > 1,734 ) dan nilai signifikasi ( 0,000 < 0,05 )


2.1.2. Jurnal Ekonomi

2.2 Deskripsi Teoritis
2.2.1 Modal kerja
2.2.1.1 Pengertian Modal Kerja
Sebelum mengenal modal kerja, sebaiknya kita mengenal dulu tentang dana, karena
segala hal yang berhubungan dengan keuangan dalam suatu perusahaan tidak bisa dilepaskan
oleh hal tersebut. Dalam praktiknya dana yang dimiliki oleh perusahaan baik berupa dana
pinjaman maupun modal sendiri, dapat dipergunakan untuk dua hal. Pertama, diguakan
untuk keperluan penanaman modal atau investasi, dana ini digunakan untuk membeli suatu
aset yang bersifat jangka panjang (aset tetap) yang dapat di gunakan secara berulang ulang,
jumlah aset tetap yang dapat diperoleh berupa tanah, bangunanan, mesin, dan aset tetap
lainnya. Aset tetap merupakan bagian penting dari aset yang dimiliki karena aset tersebut
memiliki proporsi paling besar dalam perusahaan. Aset tetap adalah kekayaan yang dimiliki
perusahaan yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dibangun terlebih dahulu, sifatnya
permanen dan digunakan dalam kegiatan normal perusahaan untuk jangka panjang serta
mempunyai nilai cukup material. Kemudian aset tetap ini terbagi lagi menjadi dua bagian
yaitu aset tetap berwujud (tangible asset) dan aset tetap tidak berwujud (intangible asset).
Aset tetap berwujud dapat berupa tanah, bangunan, peralatan, dan lain sebagainya.
Sedangkan aset tetap tak berwujud terdiri dari paten, merk dagang, goodwill, dan lain-lain
Maka untuk mendapatkan aset tetap tersebut, dibutuhkan analisis sumber dan
penggunaan dana yang sistematis sehingga dapat membiayai kegiatan perusahaan dan
pengalokasian yang tepat. Penggunaan dana tersebut berkaitan dengan modal kerja
perusahaan. Perusahaan dapat memperoleh dana dalam berbagai sektor dan untuk
memperolehnya relatif tidak sulit selama memenuhi persyaratan yang di persyaratkan.
Namun dalam perolehan dana, darimana sumber dana tersebut harus di seleksi terlebih
dahulu, karena tidak semua sumber dana tersebut sesuai dengan apa yang dibutuhkan
perusahaan dan dampaknya di masa yang akan datang apakah nantinya akan ada resiko yang
diterima perusahaan.


Dana dalam praktiknya dapat di artikan dalam beberapa pengertian, yaitu:
1. Dana dianggap sebagai kas (uang tunai).
2. Dana dianggap sebagai uang yang disimpan di bank dalam bentuk giro atau
tabungan.
3. Dana dianggap sebagai modal kerja.
4. Dana dianggap sebagai seluruh aset yang dimiliki oleh perusahaan.
5. Dana dianggap sebagai aset yang memiliki sifat sama dengan kas.
Dalam perusahaan, dana yang dimaksudkan yaitu dana sebagai uang kas, yang artinya
apabila perusahaan membutuhkan sejumlah dana, maka dalam waktu itu juga perusahaan
dapat memperolehnya. Kas merupakan dana yang dimiliki oleh perusahaan dan dapat
sewaktu waktu digunakan oleh perusahaan setiap kali perusahaan membutuhkannya.
Sejumlah dana yang tersimpan di bank mengandung arti bahwa dana yang
ditempatkan di bank dalam bentuk simpanan. Simpanan dapat berupa rekening giro (
demand deposit ) dan rekening tabungan ( saving deposit ). Uang yang disimpan dalam bank
di sebut sebagai dana karena uang yang ada di bank dapat di ambil setiap saat melalui
anjungan tunai mandiri ( ATM ) dan teller sehingga uang yang ada di bank juga disebut
sebagai dana karena memenuhi persyaratan dapat di ambil sewaktu waktu saat perusahaan
membutuhkan.
Dana sebagai modal kerja merupakan sejumlah dana yang di gunakan untuk
membiayai segala kegiatan operasional perusahaan, terutama yang memiliki jangka waktu
pendek. Modal kerja adalah seluruh aset lancar di kurangi oleh kewajiban lancar. Aset
lancar merupakan harta atau kekayaan yang segera dapat di uangkan ( ditunaikan ) pada saat
dibutuhkan dan paling lama satu tahun. Aset lancar merupakan aset yang paling likuid
dibandingkan dengan aset lainnya. Jika perusahaan membutuhkan uang untuk memebayar
sesuatu yang harus segera di bayarkan misalnya utang yang telah jatuh tempo, atau pembelia
suatu barang atau jasa, uang tersebut dapat diperoleh dari aset lancar. Penyusunan aset lancar
dalam neraca di mulai dari aset yang paling lancar, yang artinya yang paling mudah untuk di
cairkan.

Aset lancar dapat di gambarkan sebagai berikut :
1. Kas
2. Rekening pada bank ( rekening giro dan rekening tabungan ).
3. Deposito berjangka ( time deposit )
4. Surat surat berharga ( efek efek )
5. Piutang
6. Pinjaman yang diberikan
7. Persediaan
8. Beban dibayar dimuka
9. pendapatan yang masih harus diterima
10. aset lancar lainnya
Kas adalah uang tunai yang dimiliki perusahaan dan dapat dipergunakan untuk setiap
saat. Kas merupakan komponen aset lancar paling dibutuhkan guna membayar berbagai
kebutuhan yang diperlukan. Jumlah uang kas yang ada di perusahaan harus diatur sebaik
mungkin sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Apabila uang kas terlalu banyak, sedangkan
penggunaannya kurang efektif, akan terjadi yang menganggur.
Bank merupakan tempat perusahaan menyimpan uang atau menitipkan uangnya
dalam bentuk simpanan. Contoh jenis simpanan yang ada di bank rekening giro dan rekening
tabungan. Menyimpan uang dibank lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan
memegang uang tunai. Pertama, dengan menyimpan uang di bank perusahaan, akan
diperoleh penghasilan dari bunga atau jasa simpanan yang diberikan oleh bank. Kedua,
menyimpan uang di bank juga relatif aman dari kehilangan atau kerusakan. Dan ketiga, saat
ini uang yang disimpandi bank juga sangat mudah dicairkan, yaitu 24 jam sehari dan 7 hari
dalam 1 minggu di berbagai mesin tunai anjungan mandiri ( ATM ) yang tersebar di berbagai
pelosok atau tempat tempat strategis.

Surat surat berharga merupakan harta perusahaan yang ditanamkan dalm bentuk
kertas berharga dan memiliki jangka waktu yang tidak lebih dari satu tahun. Keuntungan
memiliki surat surat berharga antara lain bunga atau jasa atas surat surat berharga
tersebut. Kemudian, surat berharga juga dapat diperjualbelikan atau di jaminkan ke bank jika
ingin mendapatkan uang tunai. Surat surat berharga juga dikenal dengan nama efek.
Contoh surat surat berharga adalah sertifikat deposito, saham, obligasi, dan dapat segera
diuangkan ( dijual ) jika dibutuhkan.
Piutang merupakan tagihan perusahaan kepada pihak lainnya yang memiliki jangka
waktu yang tidak lebih dari satu tahun. Piutang ini terjadi akibat dari penjualan barang atau
jasa kepada konsumennya secara angsuran ( kredit ). Jenis piutang dibagi dua yaitu piutang
dagan dan wesel tagih. Piutang dagan adalah tagihan yang diakibatkan penjualan barang
kelangganan, sedangkan piutang wesel tagih adalah tagihanperusahaan kepada pihak lain
karena adanya suatu perjanjian tertulis ( wesel ).
Persediaan merupakan sejumlah barang yangdisimpan oleh perusahaan dalam suatu
tempat ( gudang ). Persediaan merupakan cadangan perusahaan untuk proses produksi atau
penualan pada saat dibutuhkan. Jenis persediaan dibagi dua yaut untuk perusahaan dagan
adalah semua barang yang du perdagangkan, sedangkan untuk perusahaan manufakturing
adalah barang mentah, barang dalam proses, dan barang jadi.
Penghasilan atau pendapatan yang masih harus diterima diperoleh dalam melakukan
transaksi penjualan, biasanya pembayaran dilakukan disamping secara tunai juga dilakukan
secara kredit ( angsuran ) atau pembayaran di belakang. Dalam pembayaran secara angsuran
( dicicil ), seringkali saat jatuh tempo langganan belum membayar, padahal hal tersebut sudah
menjadi hak perusahaan. Dengan kata lain, penghasilan atau pendapatan yang sudah
merupakan hak perusahaan, belum diterima pembayarannya saat ini, akibat pelanggan belum
membayar.

Beban dibayar di muka adalah biaya atau pengeluaran yang dikeluarkan perusahaan
untuk memperoleh suatu barang dan jasa dari pihak lain yang akan datang. Artinya, barang
belum diterima tetapi sudah dipesan dan uang mukanya sudah dibayar sebagai tanda jadi.
Pengeluaran ini belum merupakan biaya dalam periode ini.
Sedangkan, utang lancar adalah kewajiban atau utang perusahaan kepada pihak lain
karena memperoleh pinjaman ( kredit ) dari suatu lembaga keuangan ( bank ). Utang juga
dapat terjadi karena pembelian suatu barang atau jasa yang pembayarannya dilakukan secara
angsurang ( cicil ). Utang lancar juga disebut sebagai utang jangka pendek karena jangka
waktu pengembaliannya tidak lebih dari satu tahun. Kewajiban lancar ( current liabillities)
adalah sebagai berikut:
1. Utang dagang
2. Utang wesel
3. Utang Bank
4. Utang pajak
5. Beban yang masih harus dibayar
6. Utang sewa guna usaha
7. Utang dividen
8. Utang gaji
9. Utang lancar lainnya
Utang dagang merupakan kewajiban perusahaan karena adanya pebeliaan barang
yang pembayarannya secara kredit ( angsuran ). Artinya perusahaan membeli barang
dagangan yang pembayarannya dilakukan di masa yang akan datang. Biasanya utang dagang
ini memiliki jangka waktu pembayarannya maksimal atau paling lama satu tahun atau sesuai
perjanjian.
Utang bank merupakan sejumlah uang yang diperoleh perusahaan dari lembaga
keuangan atau bank dan pembayarannya secara angsuran sesuai perjanjian kedua belah pihak.
Utang bank yang termasuk dalam utang lancar adalah yang memiliki jangka waktu tidak
lebih dari satu tahun, sedangkan apabila melebihi dari satu tahun, dikategorikan dalam
kompenen utang jangka panjang.
Utang wesel merupakan kewajiban perusahaan kepada pihak lain aibat adanya
perjanjian tertulis yang dilakukan oleh perusahaan untuk membayar sejumlah uang tertentu,
dalam waktu tertentu pula ( diatur dengan undang undang ). Biasanya utang dagang ini
memiliki jangka waktu pembayaran maksumal atau paling lama satu tahun atau sesuai
perjanjian.
Utang pajak adalah pajak perusahaan yang belum disetor ke kas negara ( pajak
terutang ). Utang pajak ini terjadi karena perusahaan memang belum menyetor atau memang
terjadi kekurangan penyetoran pajak pada periode sebelumnya. Selama utang pajak ini
belum disetor ke kas negara, utang pajak ini tetap berada di sisi pasiva lancar.
Beban yang masih harus dibayar adalah biaya atau kewajiban perusahaan yang sudag
terjadi tetapi belum dibayar. Artinya biaya ini sebenarnya sudah jatuh tempo
pembayarannya, tetapi karena sesuatu hal, biaya ini belum terbayar. Biaya ini tetap harus
dibayar sesuai dengan kesepakatan kedua pihak pada saat tertentu.
Pendapatan yang diterima dimuka merupakan penerimaan uang oleh perusahaan
namun belum direalisasi barang atau jasanya. Artinya perusahaan sudah menerima
pembayran atas penjualan barang atau jasa, tetapi pengiriman atau pemberian barang atau
ajasa belum dilakukan oleh perusahaan.
Modal merupakan syarat utama bagi perusahaan untuk menjalankan aktivitas sehari
hari perusahaan, tanpa adanya modal mustahil perusahaan akan dapat berjalan sebagaiman
mestinya dan tidak akan mencapai keuntungan sebagaimana yang diharapkan oleh
perusahaan. Modal menurut Kasmir ( 2008 : 44 ) adalah hak yang dimiliki oleh perusahaan.
Sedangkan menurut S. Munawir ( 2007 : 19 ) mengemukakan modal adalah hak atau bagian
yang dimiliki oleh pemilik perusahaan yang ditunjukkan dalam pos modal ( modal saham ,
surplus dan laba ditahan, atau kelebihan nilai aset yang dimiliki oleh perusahaan terhadap
seluruh utang utangnya. Menurut Ratna Budi Priatna et. Al. ( 2010 ) adalah nilai lebih dari
harta perusahaan setelah dikurangi jumlah utang dan selisih ini merupakan hak milik dari
pemilik perusahaan. Dari berbagai pendapat tokoh tersebut dapat disimpulkan bahwa modal
adalah selisih dari aset perusahaan dikurangi oleh utang / kewajiban perusahaan.


Modal kerja menurut Sri Dwi Ari Ambarwati ( 2010 : 111 ) adalah suatu aset lancar
yang digunakan dalam operasi perusahaan, yang memerlukan pengelolaan dengan baik oleh
manajer perusahaan. Sedangkan menurut Sutrisno ( 2009 : 39 ) adalah dana yang
dikeluarkan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan operasional perusahaan sehari hari.
Sedangkan menurut Joel F. Houston ( 2006 : 131 ) modal kerja adalah investasi sebuah
perusahaan pada aset aset jangka pendek seperti kas, sekuritas, persediaan, dan piutang.
Begitu pula yang dikemukakan oleh J. Fred Weston dan Eugene F. Bringham ( 2005 : 410 )
yang menyebutkan modal kerja adalah investasi perusahaan pada jangka pendek seperti kas,
sekuritas yang mudah dipasarkan, persediaan dan piutang usaha.
Sehinggga modal kerja memiliki arti modal yang digunakan untuk melakukan
kegiatan operasi perusahaan. Modal kerja diartikan sebagai investasi yang ditanamkan
sebagai investasi yang ditanamkan dalam aset lancar, seperti kas, bank, surat surat
berharga, piutang, persediaan dan aset lancar lainnya.
2.2.1.2 Konsep modal kerja
Menurut Kasmir ( 2008 : 250 ) dalam modal kerja terkandung tiga macam konsep
modal kerja, yaitu :
1. Konsep kuantitatif;
2. Konsep kualitatif;
3. Konsep fungsional.
Konsep kuantitatif menyebutkan bahwa modal kerja adalah seluruh aset lancar.
Dalam kosep ini adalah bagaimana mencukupi kebutuhan dana untuk membiayai operasi
perusahaan jangka pendek. Konsep ini sering disebut sebagai modal kerja kotor ( gross
working capital ).
Kelemahan dari konsep in adalah pertama, tidak mencerminkan tingkat likuiditas
perusahaan, dan kedua, konsep ini tidak mementingkan kualitas apakah modal kerja di biayai
oleh utang jangka panjang atau jangka pendek atau pemilik modal. Jumlah aset lancar yang
besar belum menjamin margin of safety bagi perusahaan sehingga kelangsungan operasi
perusahaan belum terjamin.
Konsep kualitatif merupakan konsep yang menitikberatkan kepada kualitas modal
kerja. Konsep ini melihat selisih antara jumlah aset lancar dengan kewajiban lancar. Konsep
ini disebut modal kerja bersih ( net working capital ). Keuntungan konsep ini adalah
terlihatnya tingkat likuiditas perusahaan. Aset lancar yang lebih besar dari kewajiban lancar
menunjukkan kepercayaan para kreditor kepada pihak perusahaan sehingga kelangsungan
operasi perusahaan akan lebih terjamin dengan dana pinjaman dari kreditor.
Konsep fungsional menekankan kepada fungsi dana yang dimiliki perusahaan dalam
memperoleh laba. Artinya, sejumlah dana yang dimiliki dan digunakan perusahaan untk
meningkatkan laba perusahaan. Semakin banyak dana yang digunakans sebagai modal kerja
seharusnya dapat meningkatkan perolehan laba. Demikian pula sebaliknya, jika dana yang
digunakan sedikit, laba pun akan menurun. Akan tetapi, dalam kenyataannya terkadang
kejadian tidak selalu demikian.
Menurut G. Sugiyarso dan F. Winarni ( 2005 : 17 ), terdapat tiga macam konsep
modal kerja yang biasa digunakan, yaitu :
1. Modal kerja kuantitatif
Modal kerja kuantitatif / modal kerja bruto ( gross working capital ) adalah
sejumlah dana yang tertanam dalam seluruh aset lancar. Konsep ini mendasarkan
pada jumlah seluruh dana yang ditanamkan pada unsur unsur aset lancar.
2. Modal kerja kualitatif
Modal kerja kualitatif / modal kerja neto ( net working capital ) adalah jumlah
dana yang ditanamkan ke dalam aset lancar dikurangi jumlah utang lancar.
Dengan kata lain, modal kerja neto merupakan nilai lebih aset lancar di atas utang
lancar, sehingga nilai lebih tersebut betul betul dapat di pergunakan untuk
operasi dan perusahaan tidak akan terganggu dengan masalah likuiditasnya.
3. Modal kerja fungsional
Modal kerja fungsional ini melihat fungsi dana dalam menghasilkan pendapatan.
Sebagian dana akan menghasilkan pendapatan untuk periode ini (current income)
dan sebagian lagi akan menghasilkan pendapatan untuk periode yang akan datang
(future income).
Konsep modal kerja juga dipaparkan oleh Sutrisno ( 2005 : 43 ) yang dibagi dalam 3
macam yaitu :
1. Modal kerja kuantitatif
Konsep ini menitikberatkan pada segi kuantitas dana yang tertanam dalam aset
yang masa perputarannya kurang dari satu tahun. Modal kerja adalah
keseluruhan elemen aset lancar. Semua elemen aset lancar diperhitungkan
sebagai modal kerja tanpa memperhatikan kewajiban keajiban jangka
pendeknya.
2. Modal kerja kualitatif
Modal kerja kualitatif memiliki arti bahwa modal kerja bukan semua aset lancar
tetapi telah memperhitungkan kewajiban kewajiban yang segera harus dibayar.
Dana yang digunakan benar benar khusus digunakan untuk membiayai operasi
perusahaan sehari hari tanpa khawatir terganggu oleh pembayaran
pembayaran hutang yang segera jatuh tempo. Dengan kata lain, utang lancar
telah dikeluarkan dari perhitungan, sehingga modal kerja merupakan selisih
antara aset lancar dengan utang lancarnya.
3. Modal kerja fungsional
Modal kerja ini lebih menitikberatkan pada fungsi dana dalam menghasilkan
penghasilan langsung atau current income. Menurut konsep ini modal kerja
adalah dana yang digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan current income
sesuai dengan tujuan didirikannya perusahaan pada periode tertentu.
Dalam praktiknya secara umum, menurut Kasmir ( 2008 : 251 ) modal kerja
perusahaan dibagi ke dalam dua jenis, yaitu :
1. Modal kerja kotor ( gross working capital )
2. Modal kerja bersih ( net working capital )
Modal kerja kotor adalah semua komponen yang ada di aset ancar secara keseluruhan
dan sering disebut sebagai modal kerja. Artinya mulai dari kas, bank, surat surat berharga,
piutang, persediaan, dan aset lancar lainnya. Nilai total komponen aset lancar tersebut
menjadi jumlah modal kerja yang dimiliki perusahaan.
Sementara itu, modal kerja bersih ( net working capital ) adalah komponen aset lancar
dikurangi dengan seluruh total kewajiban lancar. Utang lancar meliputi utang dagang, utang
wesel , utang bank jangka pendek ( satu tahun ), utang gaji, utang pajak, dan utang lancar
lainnya.

2.2.1.3 Jenis modal Kerja
Seperti yang kita ketahui, tidak mungkin modal kerja yang dimiliki oleh perusahaan
jumlah tetap sama dari tahun ke tahun, perubahan tersebut bisa terjadi secara cepat maupun
lambat yang mungkin disebabkan oleh permintaan yang tidak sama dari waktu ke waktu
sehingga jumlahnya berubah
Menurut Dermawan Sjahrial ( 2009 : 121 ) ada dua jenis modal kerja yang telah
dikemukakan sebelumnya oleh W. B. Taylor yaitu :
1. Modal kerja permanen
Modal kerja permanen merupakan modal kerja yang harus tetap ada atau terus
menerus diperlukan untuk kelancaran usaha. Modal kerja permanen ini terdiri
atas :
1. Modal kerja primer yaitu jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada
perusahaan untuk menjamin kontinuitas usaha.
2. Modal kerja normal adalah jumlah modal kerja yang diperlukan untuk
menyelenggarakan luas produksi normal
2. Modal kerja variabel
Modal kerja variabel merupakan modal kerja yang jumlahnya berubah ubah
sesuai dengan perubahan keadaan. Modal kerja variabel ini terdiri atas ;
1. Modal kerja musiman merupakan modal kerja yang jumlahnya berubah ubah
karena pengaruh musim.
2. Modal kerja siklis adalah modal kerja yang besarnya berubah ubah karena
fluktuasi konjungtur.
3. Modal kerja darurat adalah modal kerja yang besarnya berubah ubah karena
adanya keadaaan darurat yang tidak dapat diduga sebelumya.
2.2.1.4 Arti penting dan tujuan modal kerja
Modal kerja memiliki arti penting bagi suatu perusahaan. Modal kerja dibutuhkan
agar perusahaan meraih tujuan yang telah di cita citakan perusahaan. Selain untuk
mencapai tujuan, modal kerja juga dibutuhkan untuk meningkatkan likuiditas perusahaan.
Dimana tingkat likuiditas yang tinggi akan semakin menarik investor untuk menanamkan
modalnya dan perusahaan pun akan menguasai pasar dan mengalahkan kompetitornya.
Sangat dihindari oleh sebuah perusahaan untuk mendekati kekurangan modal kerja yang
dimiliki, karena akan berakibat pada kelangsungan hidup perusahaan, mengganggu target
laba yang diinginkan, dan tidak dapat memenuhi likuiditas , sehingga kecukupan modal kerja
menjadi dambaan para manajer.
Secara umum arti penting modal kerja bagi perusahaan terutama bagi kesehatan
keuangan perusahaan, antara lain :
1. Kegiatan seorang manajer keuangan lebih banyak dihabiskan di dalam kegiatan
operasional perusahaan dari waktu ke waktu. Ini merupakan manajemen modal
kerja.
2. Investasi dalam aset lancar cepat dan seringkali mengalami perubahan serta
cenderung labil. Sedangkan aset lancar adalah modal kerja perusahaan, artinya
perubahan tersebut akan berpengaruh terhadap modal kerja. Oleh karena itu,
perlu mendapat perhatian yang sungguh sungguh dari manajer keuangan.
3. Dalam praktiknya seringkali bahwa separuh dari total aset merupakan bagian dari
aset lancar, yang merupakan modal kerja perusahaan. Dengan kata lain, jumlah
aset lancar sama atau lebih dari 50% total aset.
4. Bagi perusahaan yang relatif kecil, fungsi modal kerja amat penting. Perusahaan
kecil, relatif terbatas untuk memasuki pasar dengan modal besar dan jangka
panjang. Pendanaan perusahaan lebih mengandalkan pada utang jangka pendek,
seperti utang dagang, utang bank satu tahun yang tentunya dapat mempengaruhi
modal kerja.


5. Terdapat hubungan yang sangat erat antara pertumbuhan penjualan dengan
kebutuhan modal kerja. Kenaikan penjualan berkaitan dengan tambahan,
piutang, persediaan, dan juga saldo kas. Demikian pula sebaliknya apabila terjadi
penurunan penjuala, akan berpengaruh terhadap komponen dalam aset lancar.
Kemudian, tujuan manajemen modal kerja bagi perusahaan menurut Kasmir ( 2008 :
253 ) adalah sebagai berikut :
1. Guna memenuhi kebutuhan likuiditas perusahaan.
2. Dengan modal kerja yang cukup perusahaan memiliki kemampuan untuk
memenuhi kewajiban pada waktunya.
3. Memungkinkan perusahaan untuk memiliki persediaan yang cukup dalam rangka
memenuhi kebutuhan pelanggannya
4. Memungkinkan perusahaan untuk memperoleh tambahan dana dari para kreditor,
apabila rasio keuangannya memenuhi syarat.
5. Memungkinkan perusahaan memberikan syarat kredit yang menarik minat
pelanggan, dengan kemampuan yang dimilikinya.
6. Guna memaksimalkan penggunaan aset lancar guna meningkatkan penjualan dan
laba.
7. Melindungi diri apabila terjadi krisis modal kerja akibat turunnya nilai aset lancar,
serta
8. Tujuan lainnya.





2.2.1.5 Faktor faktor yang mempengaruhi modal kerja
Modal kerja yang dibutuhkan perusahaan harus segera terpenuhi sesuai dengan
kebutuhan perusahaan. Namun, terkadang untuk memenuhi kebutuhan modal kerja seperti
yang diinginkan tidaklah selalu tersedia. Hal ini disebabkan terpenuhi tidaknya kebutuhan
modal kerja sangat tergantung kepada berbagai faktor yang mempengaruhinya. Oleh karena
itu, pihak manajemen dalam menjalankan kegiatan operasional perusahaan terutama
kebijakan dalam upaya pemenuhan modal kerja harus selalu memperhatikan faktor faktor
tersebut.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi modal kerja, yaitu :
1. Jenis perusahaan
2. Syarat kredit
3. Waktu produksi
4. Tingkat perputaran persediaan
Jenis kegiatan perusahaan dalam praktiknya meliputi dua macam, yaitu perusahaan
yang bergerak dalam bidang jasa dan non jasa ( industri ). Kebutuhan modal dalam
perusahaan industri lebih besar jika dibandingkan dengan perusahaan jasa. Di perusahaan
industri, investasi dalam bidang kas, piutang, dan persediaan relatif besar jika dibandingkan
dengan perusahaan jasa. Oleh karena itu, jenis kegiatan perusahaan sangat menentukan
kebutuhan akan modal kerjanya.
Syarat kredit atau penjualan yang pembayarannya dilakukan dengan cara mencicil (
angsuran ) juga sangat mempengaruhi modal kerja. Untuk meningkatkan penjualan bisa
dilakukan dengan berbagai cara dan salah satunya adalah melalui penjualan secara kredit.
Penjualan barang secara kredit memberikan kelonggaran kepada konsumen untuk membeli
barang dengan cara pembayaran diangsur ( dicicil ) beberapa kali untuk jangka waktu
tertentu. Hal yang perlu diketahui dari syarat syarat kredit dalam hal ini adalah :
1. Syarat untuk pembelian bahan atau barang dagangan.
2. Syarat penjualan barang.
Syarat pembelian barang atau bahan yang akan digunakan untuk memproduksi barang
mempengaruhi modal kerja. Pengaruhnya akan berdampak terhadap pengeluaran kas. Jika
persyaratan kredit lebih mudah akan sedikit uang kas yang keluar, demikian pula sebaliknya.
Syarat untuk pembelian bahan atau barang daganan juga memiliki kaitannnya dengan
persediaan.
Kemudian, syarat penjualan berbeda dengan di ata. Dalam syarat penjualan
penjualan, apabila syarat kredit diberikan relatif lunak seperti potongan harga, modal kerja
yang dibutuhkan semakin besar dalam sektor piutang. Syarat syarat kredit yang diberikan
apakah 2/10 net 30 atau 2/10 net 60 juga akan mempengaruhi penjualan kredit.
Agar modal kerja yang diinvestasikan dalam sektor piutang dapat diperkecil,
perusahaan perlu memberikan potongan harga. Kebijakan ini disamping bertujuan untuk
menarik minat para debitur untuk segera membayar utangnya juga untuk memeprkecil
kemungkinan risiko utang yang tidak tertagih ( macet ).
Untuk waktu produksi, artinya jangka waktu atau lamanya memproduksi suatu
barang. Makin lama waktu yang digunakan untuk memproduksi suatu barang, maka akan
semakin besar modal kerja yang dibutuhkan. Demikian pula sebaliknya semakin pendek
waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi modal kerja, maka semakin kecil modal kerja
yang dibutuhkan.
Pengaruh tingkat perputaran persediaan terhadap modal kerja cukup penting bagi
perusahaan. Semakin kecil atau rendah tingkat perputaran, kebutuhan modal kerja semakin
tinggi, demikian pula sebaliknya. Dengan demikian, dibutuhkan perputaran persediaan yang
cukup tinggi agar memperkecil risiki kerugian akibat penuruan harga serta mampu
menghemat biaya penyimpanan dan pemeliharaan persediaan.






2.2.1.6 Sumber Modal kerja
Kebutuhan akan modal kerja mutlak disediakan perusahaan dalam bentuk apapun.
Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan tersebut, diperlukan sumber sumber modal
kerja yang dapat dicari dari berbagai sumber yang tersedia. Namun, dalam pemilihan sumber
modal harus diperhatikan untung ruginya sumber modal kerja tersebut. Pertimbangan ini
perlu dilakukan agar tidak menjadi beban perusahaan ke depan atau akan menimbulkan
masalah yang tidak diinginkan.
Sumber sumber dana untuk modal kerja dapat diperoleh dari penuruan jumlah aset
dan kenaikan passiva. Jumlah sumber yang dapat digunakan sumber modal kerja adalah
sebagai berikut :
1. Hasil operasi perusahaan
2. Keuntungan penjualan surat surat berharga.
3. Penjualan saham
4. Penjualan aset tetap
5. Penjualan obligasi
6. Memperoleh pinjaman
7. Dana hibah
8. Sumber lainnya
Hasil operasi perusahaan maksudnya adalah pendapatan atau laba yang diperoleh
pada periode tertentu. Pendapatan atau laba yang diperoleh perusahaan ditambah dengan
penyusutan. Seperti misalnya cadangan laba, atau laba yang belum dibagi. Selama laba yang
belum dibagi perusahaan dan belum atau tidak diambil pemegang saham, hal tersebut akan
menambah modal kerja perusahaan. Namun modal kerja ini sifatnya hanya sementara waktu
saja dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama.
Keuntungan penjualan surat surat berharga juga dapat digunakan untuk keperluan
modal kerja. Besar keuntungan tersebut adalah selisih antara harga beli dengan harga jual
surat berhrga tersebut. Namun sebaliknya jika terpaksa harus menjual surat surat berharga
dalam kondisi rugi, otomatis akan mengurangi modal kerja.
Penjualan saham artinya perusahaan melepas ssejumlah saham yang masih di miliki
untuk dijual kepada berbagai pihak. Hasil penjualan saham ini dapat digunakan sebagai
modal kerja.
Pada penjualan aset tetap, naksudnya yang dijual adalah aset tetap yang kurang
produktif atau masih menganggur. Hasil penjualan ini dapat dijadikan uang kas atau piutang
sebesar harga jual.
Penjualan obligasi artinya perusahaan mengeluarkan sejumlah obligasi untuk dijual
kepada pihak lainnya. Hasil penjualan ini juga dapat dijadikan modal kerja, sekalipun hasil
penjualan obligasi lebih diutamakan kepada investasi perusahaan jangka panjang.
Mengenai memperoleh pinjaman dari kreditor ( bank atau lembaga lain ), terutama
pinjaman jangka pendek, khusus untuk pinjaman jangka panjang juga dapat digunakan, hanya
saja peruntukkan pinjaman jangka panjang biasanya digunakan untuk kepentingan investasi.
Dalam praktiknya pinjaman, terutama dari dunia perbankan ada yang dikhususkan untuk
digunakan sebagai modal kerja, walaupun tidak menambah aset lancar.
Mengenai perolehan dana hibah dari berbagai lembagam ini juga dapat digunakan
sebagai modal kerja. Dana hibah ini biasanya tidak dikenakan beban biaya sebagaimana
pinjaman dan tidak ada kewajiban pengembalian.
Dapat disimpulkan bahwa secara umum kenaikan dan penurunan modal kerja
disebabkan :
1. Adanya kenaikan modal ( penambahan modal pemilik atau laba )
2. Adanya pengurangan aset tetap ( penjualan aset tetap )
3. Adanya penambahan utang.
2.2.1.7 Penggunaan modal kerja
Setelah memperoleh modal kerja yang diinginkan, tugas manajer keuangan adalah
menggunakan modal kerja tersebut. Hubungan antara sumber dan penggunaan modal kerja
sangat erat. Artinya penggunaan modal kerja dipilih dari sumber modal kerja tertentu atau
sebaliknya. Penggunaan modal kerja akan dapat mempengaruhi jumlah modal kerja itu
sendiri. Seorang manajer dituntut unuk menggunakan modal kerja secara tepat, sesuai
dengan sasaran yang ingin dicapai perusahaan.
Penggunaan dana untuk modal kerja dapat diperoleh dari kenaikan aset dan
menurunnya passiva. Secara umum dikatakan bahwa penggunaan modal kerja biasa
dilakukan perusahaan untuk :
1. Pengeluaran untuk gaji, upah, dan biaya operasi perusahaan lainnya
2. Pengeluaran untuk membeli bahan baku atau barang dagangan
3. Menutupi kerugian akibat penjualan surat berharga
4. Pembentukan dana
5. Pembelian aset tetap ( tanah, bangunan, kendaraan, mesin, dan lain lain )
6. Pembayaran utang jangka panjang ( obligasi, hipotek , utang bank jangka panjang )
7. Pembeliaan atau penarikan kembali saham yang beredar
8. Pengambilan uang atau barang untuk kepentingan pribadi
9. Penggunaan lainnya
Arti pengeluaran untuk gaji, upah, dan biaya operasi perusahaan lainnya, perusahaan
mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar gaji, upah, dan biaya operasi lainnya yang
digunakan untuk menunjang penjualan.
Maksud pengeluaran untuk membeli bahan baku atau barang dagangan adalah pada
sejumlah bahan baku yang dibeli yang akan digunakan untuk proses produksi dan pembelian
barang dagangan untuk dijual kembali.
Maksud untuk menutupi kerugian akibat penjualan surat berharga, atau kerugian
lainnya adalah pada saat perusahaan menjual surat surat berharga, namun mengalami
kerugian. Hal ini akan mengurangi modal kerja dan segera ditutupi.
Pembentukan dana merupakan pemisahan aset lancar untuk tujuan tertentu dalam
jangka panjang, misalnya pembentukan dana pensiun, dan ekspansi, atau dana pelunasan
obligasi. Pembentukan dana ini akan menguba bentuk aset dari aset lancar menjadi aset
tetap.
Pembelian aset tetap atau investasi jangka panjang seperti pembelian tanah, bangunan,
kendaraan, dan mesin. Pembelian ini akan mengakibatkan berkurangnya aset lancar dan
timbulnya utang lancar.
Arti pembayaran utang jangka panjang adalah adanya pembayaran utang jangka
panjang yang sudah jatuh tempo seperti pelunasan obligasi, hipotek dan utang bank jangka
panjang.
Maksud pembelian atau penarikan kembali saham yang beredar adalah perusahaan
menarik kembali saham saham yang sudah beredar dengan alasan tertentu dengan cara
membeli kembali, baik untuk sementara waktu maupun selamanya.
Maksud pengembalian uang atau barang untuk kepentingan pribadi adalah pemilik
perusahaan mengambil barang atau uang yang digunakan untuk kepentingan pribadi,
termasuk dalam ini adanya pengambilan keuntungan atau pembayaran dividen oleh
perusahaan.
Penggunaan modal kerja diatas jelas akan mengakibatkan perubahan modal kerja,
namun perubahan modal kerja tergantung dari penggunaaan modal kerja itu sendiri. Dalam
praktiknya modal kerja suatu perusahaan tidak akan berubah apabila terjadi :
1. Pembelian barang dagangan dan bahan lainnya secara tunai
2. Pembelian surat surat berharga secara tunai
3. Perubahan bentuk piutang misalnya dari piutang dagang ke piutang wesel

Dikatakan modal kerja tidak mengalami perubahan disebabkan pembelian barang
secara tunai, posisinya tetap berada di aset lanca, hanya berubah komponennya saja.
Demikian pula dengan pembelian surat surat berharga secara tunai tetap tidak mengubah
aset lancar. Sementara itu, perubahan bentuk piutang misalnya dari piutang dagang ke
piutang wesel juga tidak mengubah posisi utang lancar.



2.2.1.8 Laporan sumber dan penggunaan modal kerja
Perolehan modal kerja dari sumber yang telah dipilih serta penggunaan modal kerja
yang telah di lakukan selama operasi perusahaan perlu dibuatkan laporan sebagai bentuk
pertanggungjawaban manajer keuangan. Laporan sumber dan penggunaan modal kerja
menggambarkan bagaimana perputaran modal kerja selama periode tertentu. Laporan ini
juga menunjukkan kinerja manajemen dalam mengelola modal kerjanya. Dalam laporan
penggunaan da sumber modal kerja akan terlihat perubahan modal kerja yang dimiliki
perusahaan. Laporan perubahan modal kerja disebut juga dengan statement of fund atau
statement of financial changes.
Seperti dijelaskan sebelumnya, perubahan modal kerja disebabkan oleh berbagai
faktor. Perubahan yang terjadi dalam modal kerja harus dibuatkan laporannya yang kita
sebut dengan nama lapotan perubahan modal kerja. Dalam praktiknya laporan perubahan
modal kerja menggambarkan :
1. Posisi modal kerja per periode
2. Perubahan modal kerja
3. Komposisi modal kerja
4. Jumlah modal kerja yang berasal dari penjualan saham
5. Jumlah modal kerja yang berasal dari utang jangka panjang
6. Jumlah modal kerja yang digunakan untuk aset tetap
7. Jumlah aset tetap yang telah dijual
8. Lainnya

2.2.2 Likuiditas
2.2.2.1 Pengertian likuiditas
Dalam kehidupan sehari hari pastinya kita pernah mendengar kata likuiditas, namun
terkadang arti likuiditas itu kita tidak benar benar memahami apa yang dimaksud dengan
likuiditas. Untuk mengetahui arti dari likuiditas, kita terlebih dahulu melihat sebuah contoh
kasus, ambilah contoh kita seringkali mendengar atau bahkan melihat ada sebuah perusahaan
yang tidak mampu atau tidak sanggup untuk membayar seluruh atau sebagian utang (
kewajibannya ) yang sudah jatuh tempo pada aat ditagih. Atau terkadang perusahaan juga
sering tidak memiliki danan untuk membayar kewajibannya tepat waktu. Mengapa hal
tersebut terjadi? Karena perusahaan tidak memiliki cukup dana untuk menutupi utang yang
jatuh tempo tersebut.
Jika hal demikian terjadi, akan berdampak pada perusahaan yang memiliki hubungan
dengan para kreditor maupun dengan distributor. Lama kelamaan hal ini akan berdampak
dan berpengaruh pula pada konsumen. Hal yang ditakutkan sebuah perusahaan pun terjadi,
yaitu adanya krisis kepercayaan dari berbagai pihak yang telah membantu kelancaran usaha
perusahaan. Padahal kita tahu bahwa kepercayaan merupakan modal utama bagi sebuah
perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya.
Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, pertama bisa di akibatkan ketidakcukupan
dana perusahaan dan faktor kedua yaitu adanya faktor pencairan dana yang memperlambat
pelunasan utang perusahaan, seperti penagihan piutang, penjualan surat surat berharga (
efek ), penjualan persediaan atau aset lainnya.
Faktor lain juga bisa datang dari kelebihan dana, sehingga dana yang dapat segera
dicairkan terlalu banyak. Kejadian ini terkadang bersamaan dengan tidak adanya penyaluran
dana untuk aktivitas aktivitas perusahaan, sehingga tidak ada optimalisasi dari dana dana
tersebut. Dalam hal ini, manajer dituntut untuk menyalurkan dana tersebut, apabila menjadi
sebuah kendala yang terus menerus terjadi, maka akan berakibat pada perolehan laba
perusahaan.
Jadi yang dimaksudkan likuiditas menurut Fred Weston ( 2009 : 129 ) adalah rasio
yang menggambarkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka
pendeknya. Sehingga perusahaan dapat membayar utang utangnya pada saat ditagih maupn
pada saat jatuh tempo. Rasio likuditas memiliki fungsi untuk menunjukkan atau mengukur
kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban yang telah jatuh tempo, baik kewajiban
kepada pihak luar perusahaan maupun didalam perusahaan. Dengan demikian kegunaan
rasio likuiditas adalah untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membiayai dan
memenuhi kewajiban ( utang ) pada saat ditagih. Sedangkan menurut Brigham dan Houston
(2006 : 21 ) menyatakan bahwa likuiditas adalah rasio yang menunjukkan hubungan antara
kas dan aset lancar lainnya dari sebuah perusahaan dengan kewajiban lancarnya.
Menurut James O. Gill ( 2009 : 130 ) fungsi dari rasio likuiditas adalah untuk
mengukur jumlah kas atau jumlah investasi yang dapat dikonversikan atau diubah menjadi
kas untuk membayar pengeluaran, tagihan, dan seluruh kewajiban lainnya yang sudah jatuh
tempo.
Rasio likuiditas disebut juga dengan rasio modal kerja merupakan rasio yang
digunakan untuk mengukur seberapa likuidnya suatu perusahaan. Caranya adalah
membandingkan komponen yang ada di neraca, yaitu total aset lancar dengan passiva lancar (
utang jangka pendek ). Penilaian dapat dilakukan untuk beberapa periode sehingga terlihat
perkembangan likuiditas perusahaan dari waktu ke waktu.

2.2.2.2 Tujuan dan Manfaat rasio likuiditas
Perhitungan rasio likuiditas memberikan cukup banyak manfaat bagi berbagai pihak
yang berkepentingan terhadap perusahaan. Pihak yang paling berkepentingan adalah pemilik
perusahaan dan manajemen perusahaan guna menilai kemampuan mereka sendiri. Kemudian
pihak luar perusahaan juga memiliki kepentingan seperti pihak kreditor bagi perusahaan,
misalnya perbankan dan pihak distributor yang menyalurkan atau menjual barang yang
pembayarannya secara angsuran kepada perusahaan.
Oleh karena itu, perhitungan rasio likuiditas tidak hanya berguna bagi perusahaan,
namun juga bagi pihak luar perusahaan. Dalam praktiknya terdapat banyak manfaat atau
tujuan analisis rasio likuiditas bagi perusahaan, baik bagi pihak pemilik perusahaan,
manajemen perusahaan, dan pihak yang memiliki hubungan dengan perusahaan seperti
kreditor dan distributor atau supplier.
Menurut Kasmir ( 2008 : 132 ) tujuan dan manfaat dari rasio likuiditas adalah :
1. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban atau utang yang
segera jatuh tempo pada saat ditagih. Artinya, kemampuan untuk membayar
kewajiban yang sudah waktunya dibayar sesuai jadwal batas waktu yang telah
ditetapkan.
2. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek
dengan aset lancar secara keseluruhan. Artinya jumlah kewajiban yang berumur
di bawah satu tahun atau sama dengan satu tahun, dibandingkan dengan total aset
lancar.
3. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek
dengan aset lancar tanpa memperhitungkan persediaan atau piutang. Dalam hal
ini aset lancar dikurangi persediaan dan utang yang dianggap likuiditasnya lebih
rendah.
4. Untuk mengukur atau membandingkan antara jumlah persediaan yang ada dengan
modal kerja perusahaan.
5. Untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayar utang.
6. Sebagai alat perencanaan ke depan, terutama yang berkaitan dengan perencanaan
kas dan utang.
7. Untuk melihat kondisi dan posisi likuiditas perusahaan dari waktu ke waktu
dengan membandingkannya untuk beberapa periode.
8. Untuk melihat kelemahan yang dimiliki perusahaan, dari masing masing
komponen yang ada di aset lancar dan utang lancar.
9. Menjadi alat pemicu bagi pihak manajemen untuk memperbaiki kinerjanya,
dengan melihat rasio likuiditas yang ada pada saat ini.



2.2.2.3 Jenis jenis rasio likuiditas
Secara umum tujuan utama rasio keuangan digunakan adalah untuk menilai
kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya. Namun, disamping itu, dari rasio
likuiditas dapat diketahui hal hal lain yang lebih spesifik yang juga masih berkaitan dengan
kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya. Semua ini tergantung dari jenis
rasio likuiditas yang digunakan. Dalam praktiknya, untuk mengukur rasio keuangan secara
lengkap, dapat menggunakan jenis jenis rasio likuiditas yang ada.
Menurut Kasmir ( 2008 : 134 ) jenis jenis rasio likuiditas yang dapat digunakan
perusahaan untuk mengukur kemampuannya ada 5, yaitu :
1. Rasio Lancar ( current ratio )
2. Rasio sangat lancar ( quick ratio atau acid test ratio )
3. Rasio kas ( cash ratio )
4. Rasio perputaran kas
5. Inventory to net working capital
Rasio lancar ( current ratio ) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur
kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera
jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan. Dengan kata lain, seberapa banyakaset
lancar yang tersedia untuk menutupi kewajiban jangka pendek yang segera jatuh tempo.
Rasio lancar dapat pula dikatakan sebagai bentuk untuk mengukur tingkat keamanan ( margin
of safety ) suatu perusahaan. Perhitungan rasio lancar dilakukan dengan membandingkan
antara total aset lancar dengan total utang lancar.

Rumus untuk menghitung rasio lancar dapat digunakan sebagai berikut :
Assets Lancar (Current Assets)
Current Rasio =
Utang Lancar (Current Liablities)

Rasio cepat adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam
memenuhi atau membayar kewajiban atau utang lancar dengan aset lancar tanpa
memperhitungkan nilai persediaan. Artinya nilai persediaan kita abaikan, dengan cara
dikurangi dari total aset lancar. Hal ini dilakukan karena persediaan dianggap memerlukan
waktu relatif lebih lama untuk diuangkan, apabila perusahaan membutuhkan dana cepat untuk
membayar kewajibannya dibandingkan dengan aset lancar lainnya.


Rumus untuk menghitung rasio cepat adalah sebagai berikut :
Current Assets-Inventory
Quick Rasio =
Current Liablities

Atau

Kas + Bank + Efek + Piutang
Quick Rasio =
Current Liablities

Rasio kas adalah alat yang digunakan untuk mengukur seberapa besar uang kas yang
tersedia untuk membayar utang. Ketersediaan uang kas dapat ditunjukkan dari tersedianya
dana kas atau yang setara dengan kas seperti rekening giro atau tabungan di bank ( yang
dapat ditarik setiap saat ). Dapat dikatakan rasio ini menunjukkan kemampuan sesungguhnya
bagi perusahaan untuk membayar utang utang jangk pendeknya.
Rumus untuk menghitung rasio kas atau cash ratio adalah sebagai berikut :
Cash + bank
Cash Ratio =
Current Liablities

Rasio perputaran kas menurut James O. Gill ( 2009 : 140) berfungsi untuk mengukur
tingkat kecukupan kerja perusahaan yang dibutuhkan untuk membayar tagihan dan
membiayai penjualan. Artinya rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat ketersediaan kas
untuk membayar utang dan biaya biaya yang terkait dengan penjualan.
Untuk mencari modal kerja, kurangi aset lancar dengan utang lancar. Modal kerja
dalam pengertian ini dikatakan sebagai modal kerja bersih yang dimiliki perusahaan.
Sementara itu, modal kerja kotor atau modal kerja saja merupakan jumlah dari aset lancar.
Hasil perhitungan rasio perputaran kas dapat di artikan sebagai berikut :

1. Apabila rasio perputaran kas tinggi, ini berarti ketidakmampuan perusahaan dalam
membayar tagihannya.
2. Sebaliknya apabila rasio perputaran kas rendah, dapat dikatakan kas yang tertanam
dalam aset yang sulit dicairkan dalam waktu singkat sehingga perusahaan harus
bekerja keras dengan kas yang lebih sedikit.
Rumus untuk menghitung rasio perputaran kas adalah sebagai berikut :
Penjualan bersih
Rasio perputaran kas =
Modal kerja bersih

Inventory to net working capital merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur
atau membandingkan antara jumlah persediaan yang ada dengan modal kerja perusahaan.
Modal kerja tersebut terdiri dari pengurangan antara aset lancar dengan utang lancar.
Rumus untuk menghitung inventory to net working capital adalah sebagai berikut :
Inventory
Inventory to NWC =
Current Assets - Current Liablities

2.2.2.4 Faktor faktor yang mempengaruhi tingkat likuiditas
Menurut Agnes Sawir ( 2005 : 148 ) ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi
tingkat likuiditas suatu perusahaan yaitu :
1. Faktor intern
Faktor intern berasal dari perusahaan itu sendiri, hal ini dapat mempengaruhi besar
kecilnya fluktuasi likuiditas perusahaan tersebut. Faktor intern ini dapat terjadi
karena situasi tertentu, antara lain :
a. Pergantian pimpinan perusahaan
Kelangsungan hidup suatu perusahaan banyak tergantung dari pimpinan
perusahaan tersebut. Seorang pimpinan selain harus memiliki kemampuan
manajerial juga harus memiliki hubungan kerja yang luas, sehingga
perusahaan dapat memiliki customer di berbagai tempat. Apabila hal tersebut
dapat terwujud, maka pergantian pimpinan perusahaan tidak akan menjadi
kekhawatiran perusahaan dalam mempertahankan customer, tetapi apabila
sebaliknya, maka pergantian pimpinan perusahaan dapat menjadi penyebab
perusahaan kehilangan customernya.
b. Jangka waktu kredit
Jangka waktu kredit yang diberikan juga mempengaruhi tingkat likuiditas
suatu perusahaan. Semakin lama jangka waktu kredit yang diberikan akan
semakin kecil peredaran dari jumlah dana yang dapat digunakan oleh
perusahaan.
c. Organisasi / administrasi
Setiap perusahaan harus memiliki organisasi / administrasi yang rapi dan
teratur, sehingga akan lebih mempermudah segala pencatatan dalam perubahan
piutang dan hutang setiap saat sesuai yang dimiliki perusahaan. Karena
piutang merupakan harta yang menjadi modal kerja bagi perusahaan,
sedangkan utang merupakan kewajiban yang harus dibayar.

d. Pembelian aset tetap atau pembelian jangka panjang
Pembelian aset tetap yang melebihi kemampuan keuangan perusahaan yang
dimiliki oleh perusahaan akan mengakibatkan kesulitan likuiditas. Terkadang
suatu perusahaan tidak memperhitungkan kondisi keuangan yang dimiliki,
akan tetapi tetap berusaha mencapai standar yang lebih tinggi dari kemampuan
yang ada, sehingga hal ini menyebabkan tingkat likuiditas yang menurun.
2. Faktor ekstern
Faktor ini berasal dari pengaruh yang ditimbulkan dari luar perusahaan. Hal ini
juga banyak menentukan berhasil atau tidaknya suatu perusahaan dalam
mengendalikan likuiditas yang dimilikinya. Faktor faktor ini antara lain berupa
peraturan peraturan dibidang ekonomi atau moneter, kebiasaan masyarakat, dan
hubungan antara perusahaan.
2.2.3 Pengaruh antara modal kerja dengan tingkat likuiditas
Modal merupakan syarat sah utama seluruh perusahaan untuk menjalankan
aktivitas perusahaan, mustahil tanpa modal sebuah perusahaan akan dapat terus berjalan dari
waktu ke waktu disertai dengan persaingan usaha yang semakin kompetitif dari waktu ke
waktu. Modal sebuah perusahaan bisa berupa dana, tenaga kerja, pemikiran, dan lain lain.
Semakin banyak kepemilikan modal suatu perusahaan, akan semakin baik pula jalannya
perusahaan tersebut apabila disertai dengan pengalokasian yang baik dan benar modal itu
sendiri ke dalam pos pos yang telah ditentukan.
Modal harus dikelola dengan tepat, khususnya aset lancar yang merupakan
modal kerja sebuah perusahaan. Dengan pengelolaan yang baik, perusahaan dapat membiayai
keseluruhan aktivitas operasionalnya dan membayar kewajiban kewajiban yang sudah jatuh
tempo. Mengapa aset lancar yang harus menjadi perhatian khusus? Dikarenakan aset lancar
memiliki tingkat likuiditas yang tinggi, yang artinya dapat dengan cepat dicairkan untuk
membiayai aktivitas perusahaan, meskipun dalam aset lancar tersebut juga terdapat akun
akun yang relatif kurang cepat untuk dicairkan, tapi masih mempunyai tingkat likuid
melebihi aset tetap yang mempunyai umur lebih dari satu tahun.

Modal kerja merupakan jumlah aset lancar yang selalu berputar selama perusahaan
masih berdiri. Periode modal kerja dimulai dari kas yang diinvestasikan dalam bahan baku
yang kemudian menjadi output berupa barang dagang yang dijual secara tunai maupun kredit
yang nantinya hasil penjualan tersebut akan menjadi kas kembali, dan keadaan ini akan
terjadi secara terus menerus selama perusahaan itu tetap berdiri. Hal ini menyebabkan
modal kerja yang dimiliki perusahaan bersifat fluktuatif, yang juga berpengaruh pada
kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban lancarnya. Semakin baik peningkatan
modal yang diperoleh perusahaan, maka perusahaan akan dengan cepat memenuhi kewajiban
lancarnya.
Kesimpulan yang dapat kita ambil dari uraian tersebut adalah kenaikan modal kerja
perusahaan dapat berakibat pada kesiapan dan ketersediaan dana perusahaan untuk membayar
kewajiban lancarnya, dan sebaliknya penuruan modal kerja perusahaan dapat berakibat pada
lemahnya kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban lancarnya.

























BAB III
PROSEDUR PENELITIAN


3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di Pusat Referensi Pasar Modal (PRPM) yang berada di
Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Tower 2 Lt. 1, Jalan Jendral Sudirman Kav. 52-53,
Jakarta 12190, Telfon 5153787, dengan cara mengumpulkan data sekunder tahun 2011.
Penelitian ini dilakukan selama maksimal 6 bulan. Sejak agustus 2012 januari 2012

3.2 Strategi Penelitian

Strategi penelitian ini menggunakan strategi penelitian asosiatif (hubungan) dengan
pendekatan korelasional/hubungan. Pendekatan assosiatif merupakan penelitian yang
bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh antara dua variable atau lebih, Tujuan dari
strategi ini adalah agar dapat memberikan penjelasan tentang pengaruh antara modal kerja
dengan likuiditas.

3.3 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian ex
post facto, yaitu pengumpulan data dari semua kejadian yang telah terjadi. Metode ini dipillih
karena sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin dicapai, yaitu untuk mengetahui hubungan
modal kerja dengan likuiditas perusahaan selama waktu periode yang telah ditentukan,
sehingga peneliti dapat melihat akibat dari suatu keadaan dan menguji hubungan sebab
akibat dari data data yang tersedia dari perusahaan tersebut.
3.4. Populasi dan Sample Penelitian

3.4.1 Populasi Penelitian

Menurut Sugiyono (2008:115) Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas
objek,subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Adapun populasi tersebut dapat
berupa orang atau subjek, objek, dan transaksi atau kejadian. Sedangkan populasi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Laporan Keuangan berupa neraca Perusahaan Industri
Makanan dan Minuman di BEI selama 1 periode (2011) yaitu terdiri dari 33 perusahaan.

3.4.2 Sample Penelitian

Menurut Sugiyono (2008:116) Sample adalah bagian dari jumlah dan karakteristik
yang dimiliki oleh populasi tersebut. Dalam sebuah penelitian, penentuan sampel merupakan
hal yang penting terutama yang mempunyai populasi yang cukup luas, yang sulit untuk
diteliti secara keseluruhan. Untuk itu melihat jumlah populasi dalam penelitian ini cukup
banyak.

Diantara jenis jenis perusahaan yang ada, peneliti memilih untuk mengambil sample
dalam industri telekomunikasi karena peneliti melihat dalam beberapa tahun terakhir industry
ini sangat penting dan sangat berkembang. Hal tersebut dapat dilihat dari hampir setiap
orang memiliki alat telekomunikasi berupa alat telfon genggam dari kalangan bawah hingga
kalangan atas. Karena komunikasi pada saat ini memiliki peran yang sangat penting.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Non
Probability Sampling, yaitu merupakan teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan
peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi
sampel, teknik ini menggunakan Purposive Sampling. Teknik Purposive Sampling ini
bertujuan untuk mengambil subjek yang memenuhi kriteria dan bukan didasarkan atas
random tetapi didasarkan atas adanya pertimbangan tertentu. Adapun kriteria dan
pertimbangan yang ditetapkan sebagai sampel dalam penelitian ini adalah:
1. Perusahaan perusahaan tersebut terdaftar di Burs Efek Indonesia ( BEI) pada tahun
2011.
2. Menerbitkan dan mempublikasikan laporan keuangan pada periode tahun 2011
lengkap dengan variable yang akan diteliti.
3. Perusahaan memiliki aset lancar yang lebih besar dari pada hutang lancarnya.
4. Laporan keuangan perusahaan telah diaudit oleh akuntan publik.

Berdasarkan kriteria tersebut di atas, maka dapat ditentukan sampel yang digunakan
dalam penelitian ini, yaitu sebanyak 15 perusahaan makanan dan minuman yang go public
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2007 sampai dengan 2011.

Berdasarkan Setiap teknik pengambilan sampel memiliki kekuatan dan kelemahan
masing masing. Kekuatan dari teknik pengambilan sampel ini adalah lebih efisien dari segi
dana, waktu, tenaga serta relevan jika dikaitkan dengan tujuan penelitian ini. sedangkan
kelemahannya yaitu rendah nya tingkat keterwakilan (representative) karena pengambilan
sampel dengan cara ini tidak memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur atau anggota
populasi yang lain untuk dipilih menjadi sampel.



3.5 Unit Analisis Penelitian

3.5.1 Unit Analisi Data

Unit analisis dalam penelitian ini adalah industri. Yaitu perusahaan makanan dan
minuman yang ada di BEI. Dalam hal ini data penelitian berupa laporan neraca tahun 2011.
3.5.2 Desain Penelitian
Berdasarkan hipotesis asosiatif, hubungan antara modal kerja (X) dan likuiditas (Y)
dapat digambarkan dalam bentuk desain penelitian sebagai berikut :
X Y



Keterangan :
X = Modal Kerja Kuantitatif
= Arah Hubungan
Y = Likuiditas

3.6 Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang
diperoleh dalam bentuk jadi, dalam hal ini adalah berupa neraca perusahaan industri
makanan dan minuman dalam laporan tahunan yang dipublikasikan oleh Bursa Efek
Indonesia. Pengumpulan data sekunder tersebut dilakukan dengan cara mengunjungi Pusat
Referensi Penanaman Modal (PRPM).
Selain melakukan penelitian lapangan (field research), untuk melengkapi data
sekunder tersebut dalam penelitian ini penulis juga melakukan penelitian kepustakaan
(library research), yaitu dengan mengambil literatur berbagai buku yang berkaitan dengan
masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini untuk mendapatkan definisi, teori serta
analisis yang dapat digunakan dalam penelitian. Selain definisi, teori serta analisis juga
dilakukan pencarian melalui website serta berbagai literatur yang berkaitan masalah yang
diteliti.

3.7 Metode Analisis Data

3.7.1 Rencana Pengolahan Data

Data yang dikumpulkan kemudian akan diolah dan diproses lebih lanjut. Pengolahan
data dalam penelitian dilakukan secara manual dan menggunakan microsoft excel.


3.7.2. Rencana Penyajian Data

Pada penelitian ini, data yang dikumpulkan akan disajikan dalam bentuk tabel, yang
diharapkan akan mempermudah peneliti dan pembaca dalam menganalisis dan memahami
data, sehingga dapat disajikan secara sistematis.

3.7.3. Rencana Analisis Statistik

Data data yang terkumpul dalam penelitian ini akan di analisis untuk
menghasilkan informasi yang bermanfaat. Dengan analisis data, Peneliti dapat
memberikan jawaban dari masalah yang dibahas dalam penelitian ini serta temuan
temuan yang dapat dijadikan masukan bagi perusahaan.
Metode analisis data yang digunakan daam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Analisis Regresi Linier Sederhana
Analisis regresi linier sederhana merupakan suatu analisis yang menjelaskan
besarnya pengaruh variable bebas, yaitu modal kerja (x) terhadap variabel
terikat, yaitu likuiditas (y). adapun bentuk persamaan regresi linier sederhana
adalah sebagai berikut:

..(3.1)

Dimana :


( )

=
2
2
.
. .
X X n
Y X XY n
b ................(3.2)

Y = a + bX

n
X b Y
a

=
.
..(3.3)

Keterangan :
X = Variabel bebas
Y = Variabel terikat
a = Kostanta
b = Koefisien regresi

2. Uji Koefisien korelasi product Moment
Digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh antara variabel bebas
(modal kerja) dengan variabel terikat (likuiditas)
Rumus dari koefisien korelasi product moment a/ sebagai berikut :
( ) ( )
( ) ( ) { }( ) ( ) { }
2
2
2
2
. .
. .




Y Y n X X n
Y X XY n
rxy ........................(3.4)

Keterangan :
rxy = koefisien korelasi
n = jumlah sampel
X = nilai untuk variabel bebas
Y = nilai untuk variabel terikat
Ex = jumlah skor dalam sebutan X
Ey = jumlah skor dalam sebutan Y
Exy = jumlah skor dalam sebutan x dan y
Ex
2
= jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebutan x
Ey
2
= jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebutan y

Secara umum nilai koefisien korelasi terletak antara -1 dan 1 atau -1 < r <1 koefisien
korelasi mempunyai nilai paling kecil (-1 atau paling besar 1 ) dengan
kriteria sebagai berikut:
a. Jika r=1 atau mendekati 1 hubungan antara variabel x dan variabel y adalah kuat
dan searah (positif) dalam arti bahwa kenaikan atau penurunan variabel x terjadi
bersama-sama dengan kenaikan atau penurunan variabel y
b. Jika r = 0 atau mendekati 0, maka hubungan antara variabel x dan variabel y
adalah tidak ada atau dapat dikatakan lemah. Dengna demikian dapat dikatakan
pula antara variabel x dan variabel y tidak ada hubungan
c. Jika r = -1 atau mendekati -1 maka hubungan antara variabel x dan variabel y
adalah hubungan yang kuat tetapi negatif, artinya jika variabel x naik maka
variabel y akan turun dan sebaliknya jika variabel x turun maka variabel y akan
naik.
Sedangkan pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi dapat dilihat
pada tabel berikut ini :
Tabel 3.1.
Pedoman untuk memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi.
Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0,00 0,19
0,20 0,39
0,40 0,59
0,60 0,79
0,80 1,00
Sangat lemah
Lemah
Sedang
Kuat
Sangat kuat
Sumber : Sugiyono (2007 : 250)

3. Uji Hipotesis
Uji hipotesis ini berguna untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan
antara modal kerja (x) dengan likuiditas (y) pengujian hipotesis pada penelitian ini
dilakukan dengan menggunakan uji hitung dengan mencari besarnya t hitung yang
dibandingkan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a) Menentukan Ho dan Ha (bentuk uji)
Ho : = 0 (tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara modal kerja
dengan likuiditas)
Ha : 0 (terdapat pengaruh yang signifikan antara modal kerja dengan
likuditas)
b) Uji t
Untuk melihat keberartian koefisien korelasi antara produk moment
digunakan uji t . Uji t ini digunakan untuk mengetahui keberartian dua
variabel, yaitu modal kerja dan likuiditas, apakah signifikan atau tidak.
Rumus dari uji t adalah sebagai berikut :

( )
( )
2
1
2
rxy
n rxy
t
hitung


= .................................(3.5)

c) Melihat t tabel dengan menggunakan taraf signifikan o = 5%
- Ho diterima, Ha ditolak jika t (o/2 ; n-2) < t hitung < t (o/2 ; n-2)
- Ho ditolak, Ha diterima jika t hitung < -t (o/2 ; n-2) atau t hitung > t (o/2 ; n-
2)





d) Selanjutnya dibandingkan t hitung dengan t tabel
e) Menentukan daerah kritis (daerah penolakan Ho).
f)





Keterangan :
= Daerah terima Ho
= Daerah tolak Ho

g) Kesimpulan
- Apabila t hitung > t tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti
terdapat pengaruh yang signifikan diantara variabel bebas (Modal kerja)
dengan variabel terikat (likuiditas)
- Apabila t hitung < t tabel Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti terdapat
pengaruh yang signifikan antara variabel bebas (modal kerja) dengan variabel
terikat (likuiditas).

t (o/2 ; n-2) t (o/2 ; n-2)