Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

Searah dengan pembagian urusan kewenangan

antara Pemerintah dan

Pemerintah Daerah, Kementerian Perumahan Rakyat melimpahkan sebagian urusan yang menjadi kewenangannya kepada Gubernur melalui kegiatan Dekonsentrasi. Untuk Tahun 2010 ini, kegiatan yang dilimpahkan tersebut meliputi kegiatan Pendataan dan Monitoring Pembangunan Perumahan dan Pemukiman, dan kegiatan Sosialisasi Kebijakan di Bidang Perumahan dan Pemukiman.

Ketersediaan data sangat di perlukan khususnya dalam perencanaan dan penyiapan Kebijakan Pembangunan di Bidang Perumahan dan Pemukiman. Selama ini data yang tersedia belum sepenuhnya menunjang dan sangat terbatas. Undang undang no. 4 Tahun 1992 tentang perumahan dan pemukiman pada pasal 11 ayat (1) mengamanatkan bahwa pemerintah melakukan pendataan rumah untuk menyusun kebijaksanaan di bidang perumahan dan pemukiman.

Kenyataan yang sering dirasakan di daerah adalah adanya persepsi yang berbeda diantara para pemangku kepentingan di dalam penyelenggaraan

pembangunan perumahan. Tidak jarang masalah ini menimbulkan kebingungan. Masalahnya terkadang bukan saja oleh persepsi yang berbeda tapi juga oleh karena ketidaktahuan akan kebijakan di bidang perumahan dan permukiman ini Umumnya permasalahan tersebut disebabkan oleh keterbatasan akses ke berbagai sumberdaya, cenderung menghasilkan perumahan yang tidak teratur dan kurang layak huni. Mengingat daerah kita merupakan daerah tertinggal, dengan komunitas penduduk tersebar di daerah pesisir pantai dan pengunungan, banyak hal yang dapat kita lakukan melalui monitoring dan pendataan kalau di bidang pembangunan perumahan dan

permukiman ini kita ketahui. Karena itu akan membuka peluang dan kesempatan bagi Pemerintah melalui Pemerintah Daerah untuk menata wilayah komunitas tersebut agar pembangunan perumahan dan permukimannya tidak kumuh, tidak teratur dan tidak layak huni. serta dapat didukung oleh sarana dan prasarana yang bermanfaat.

Selain itu dalam serangkaian proses pelaksanaan pembangunan perumahan kegiatan monitoring merupakan salah satu tahap yang harus dilaksanakan agar pelaksanaan pembangunan perumahan dapat terlaksanakan sesuai dengan kriteria dan sasaran yang telah di tetapkan ,pendataan monitoring ini dilakukan di Provinsi Sulawesi barat sesuai dengan program dari kementrian perumahan rakyat.

Laporan Pendataan dan Monitoring

BAB II PROFIL PERUMAHAN DI PROV/KAB/KOTA

2.1

Provinsi Sulawesi Barat

Provinsi Sulawesi

Barat

adalah pemekaran dari provinsi Sulawesi

selatan yang terbentuk berdasarkan undang undang no 26 tahun 2004 pada 5 oktober 2004 sebagai provinsi yang ke33 di Indonesia dengan 5 kabupaten, 69 kecamatan, 603 kelurahan/Desa, Luas wilayah darat : 16,990,77 km2, Luas Perairan Petani 20,342.00 km2 panjang pantai : 677 km Jumlah Pulau : 31 Pulau 61,57% Nelayan : 4,77%, Dengan ibu kota Mamuju dengan Jumlah 1,158.336 jiwa, Strategi pembangunan untuk meningkatkan

penduduk

kesejahteraan masyarakat melalui : Pemenuhan kebutuhan dasar Pengembangan SDM Mengoptimalkan pemanfaatan sumber pembangunan secara berkelanjutan. Pada dasarnya kondisi perumahan yang ada di Provinsi Sulawesi Barat sangat bervariasi, hampir setiap perumahan yang ada mengikuti kondisi tofografi masing masing wilayah, seperti halnya yang ada di Kabupaten Polman dan Kabupaten Majene mengikuti pola jalan yang membentang mengikuti bentangan pantai, Namun perumahan yang berada di daerah yang tofografinya landai biasanya membentuk suatu kawasan perumahan yang biasa di identikkan dengan pola grid. Untuk kondisi perumahan tiap tiap kabupaten ; Kabupaten Mamuju rumah yang tersedia 74,906 unit yang tidak layak huni 1100 unit, Kabupaten Polman rumah yang tersedia 80,162 unit, yang tidak layak huni 9,122, jumlah rumah yang tersedia di Kabupaten Mamuju Utara 32.830 unit dan jumlah rumah tidak layak huni sebanyak 2.146 unit, sementara di Kabupaten Mamasa jumlah rumah yang tersedia 24.460 unit dengan jumlah rumah yang tidak layak huni sebesar 11.801 unit dari 30.911 KK, dan Kabupaten Majene dengan jumlah rumah 38.690 unit daya alam untuk menunjang

2.2

Kabupaten Mamuju

Kabupaten mamuju terletak pada Provinsi Sulawesi Barat pada Provinsi Posisi 1308110-2054552 Lintang Selatan dan 1103847 - 130535 Bujur Timur

Laporan Pendataan dan Monitoring

dari Jakarta ; (0000 Jakarta = 16004828 Bujur Timur Green Wich), Kabupaten yang beribukota di Mamuju mempunyai batas wilayah sebagai berikut : Sebelah Utara Sebelah Timur Sebelah Selatan Sebelah Barat : Kabupaten Mamuju : Kabupaten Luwu Utara Provinsi Sulawesi Selatan : Kab. Majene, Kab. Tana Toraja dan Kab. Mamasa : Selat Makassar Km2 dan luas laut Km2

Kabupaten Mamuju dengan luas wilayah 1602,812 Ha atau 8014,06 Km2 yang terbagi atas luas daratan 6,252.91 1,761.25

memiliki jumlah penduduk Tahun 2009 sebesar 315. 053 jiwa dengan kepadatan 26,3 jiwa/Km2. Kabupaten Mamuju secara administrasi Pemerintahan terbagi atas 16 Kecamatan, terdiri dari 142 Desa, 10 Kelurahan dan 2 UPT. Sementara jumlah Rumah tangga pada tahun 2008 sebanyak 74,906 jiwa dengan luas wilayah Permukiman 3.818,755 Ha2 Kondisi dan Tantangan RTRW Belum ada 1. RDTR masih dalam bentuk Draf. 2. RP4D belum ada. 3. SPPIP belum ada 4. Dll Rumah Tidak Layak Huni Dari 6 kecamatan yang sudah di survey rata-rata 1100 rumah per kecamatan namun selebihnya belum dilakukan pendataan Estimasi berkisar 10-15 ribu unit rumah Kondisi Eksisting Perumahan Bangunan Rumah susun dan Tidak Bersusun 1. Rumah Tinggal 2. Rumah Campuran Total Tipe Rumah 1. Rumah Sederhana 2. Rumah Menengah 3. Rumah Mewah Total Jenis Bangunan Rumah 1. Rumah Permanen 2. Rumah Semi Permanen 3. Rumah Tidak Permanen Total : : : : 552430 18.726 750 74.906 : : : 71.161Unit 3745 Unit 74.906

; : ; :

70.411 3970 525 74.906


3

Laporan Pendataan dan Monitoring

2.3

Kabupaten Majene ` Secara geografis kabupaten Majene kabupaten terletak antara 2003845 3003815 Lintang Selatan dan antara 118 04500 - 1190445 BT. Kabupaten Majene merupakan salah satu dari 5 kabupaten dalam wilayah Propinsi Sulawesi Barat yang terletak di pesisir pantai barat propinsi sulawesi barat memanjang dari selatan ke utara. Luas wilayah kabupaten Majene adalah 947,84 Km 2 atau 5,6% dari luas Provinsi Sulawesi Barat, terdiri atas 8 Kecamatan dan 40 Desa/Kelurahan, dengan luas wilayah permukiman 2.616 ha 2 atau 2,76% dari luas wilayah Kabupaten Majene. Secara administratif Kabupaten Majene berbatasan dengan wilayah-wilayah sebagai berikut :

Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten mamuju Sebelah Timur Berbatasan dengan Kabupaten Polewali mandar dan Mamasa Sebelah Selatan Berbatasan dengan teluk Mandar Sebelah barat berbatasan dengan Selat Makassar.

Kabupaten Majene pada akhir tahun 2009 memiliki jumlah penduduk sekitar 148.647 jiwa yang terdiri dari 29.729 RT yang tersebar di kawasan permukiman yang ada di Kabupaten Majene dengan pertumbuhan penduduk sekitar 0,37 %/ tahun. Kabupaten Majene pada lima tahun terakhir untuk sektor perumahan dan permukiman mengalami berbagai peningkatan dan memunculkan berbagai isu yang antara lain : a. Isu kesenjangan Pelayanan Isu ini muncul karena terbatasnya peluang untuk memperoleh pelayanan dan kesempatan berperan dibidang perumahan dan permukiman, khususnya bagi kelompok masyarakat miskin dan berpendapatan rendah. Oleh karenanya kedepan perlu dikembangkan kepranataan dan instrumen penyelenggaraan perumahan dan permukiman yang berorientasi kepada kepentingan seluruh lapisan masyarakat secara berkeadilan sosial dan berkelanjutan. b. Isu Lingkungan Isu lingkungan pada umumnya muncul karena dipicu oleh tingkat urbanisasi dan industrialisasi yang tinggi, serta dampak pemanfaatan sumber daya teknologi yang kurang terkendali.

Laporan Pendataan dan Monitoring

c. Isu Urbanisasi Urbanisasi muncul disentra-sentra pertumbuhan kawasan yang tumbuh cepat dan merupakan tantangan bagi pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah untuk menjaga agar pertumbuhannya lebih mereta dan terkendali termasuk upaya pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukiman. 2.4 Kabupaten Polman Kabupaten Polewali Mandar terletak 195 km sebelah selatan Mamuju ibukota Sulawesi Barat atau 250 km, Sebelah Utara Kota Makassar Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Berada pada posisi 11804027-11903227 Bujur Timur dan 0204000303200 Lintang Selatan, dengan batasbatas administrasi Sebagai Berikut : Utara berbatasan dengan kabupaten Mamasa Timur Berbatasan dengan Kabupaten Pinrang Selatan Berbatasan dengan Teluk Mandar / Selat Makassar Barat Berbatasan dengan Kabupaten Majene. Luas Wilayah Kabupaten Polewali Mandar sekitar 2.022,30 km2 Secara administratif terdiri dari enambelas kecamatan, Yaitu Kec. Tubbi Taramanu, Alu, Limboro, Tinambung, Balanipa, Luyo, Campalagian, Mapilli, Matangnga, Tapango, Wonomulyo, Matakali, Anreapi, Polewali, Binuang dan kecamatan Bulo. Dari enam belas kecamatan tersebut Kecamatan Tubbi Tammaranu adalah merupakan kecamatan wilayah terluas, yakni sekitar 356.95 Km2 atau sekitar 17.38% dari luas wilayah kabupaten, sedangkan kawasan polewali merupakan kecamatan yang mempunyai luas wilayah terkecil, yakni sekitar 1.02% dari luas wilayah kabupaten Polewali Mandar.

Kondisi topografi kabupaten Polewali Mandar relatif

ekstrim, sebagian

besar wilayahnya (>78%) memiliki topografi berbukit atau bergunung kemiringan antara 41 % sampai dengan 60%, serta sebagian diatas 60% sisanya memiliki topografi datar atau landai dengan kelas lereng rata rata 2%, yang luasanya sekitar 38.300 hektar (18,505 dari total luas wilayah kabupaten)

Penduduk kabupaten Polewali Mandar pada tahun 2009 jumlah meningkat menjadi 373.263. Jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk pertahun 0,050%. Kecamatan Campalagian merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk terbesar yaitu 51.165 jiwa, Sedangkan yang terkecil adalah kecamatan Matangnga yaitu sebesar 4.932 jiwa.

Laporan Pendataan dan Monitoring

Kepadatan Penduduk rata rata di kabupaten Polewali Mandar sebesar 185 jiwa per km2. Penduduk terpadat berada di kecamatan Polewali Mandar 1.844 jiwa/km2, sedangkan kepadatan penduduk terendah adalah kecamatan Matangnga yakni sebesar 21 jiwa/km 2. Berdasarkan data badan pusat statistik jumlah masyarakat berpenghasilan rendah di kabupaten Polewali Mandar

sebesar 33.977 KK,atau 79.375 % dari jumlah KK dikabupaten Polewali Mandar.

Program/Kegiatan Pembangunan Bidang Perumahan Bantuan Stimulan Pembangunan Perumahan Swadaya (BSP2S) Tahun 2008-2010 Bantuan Stimulan Pembangunan Perumahan Kawasan Khusus Nelayan Desa Tangngatangnga Tahun 2008 sebanyak 22 unit Program Pembangunan Rumah Nelayan Ramah Bencana sebanyak 40 unit Program Neighborhood Upgrading Shelter Sector Project Plus (NUSSP PLUS) New Site Developmrent (NSD) Tahun 2009 KPR bersubsidi dan KPR sederhana. Tahun 2009

2.5

Kabupaten Mamasa A. Gambaran Umum Kabupaten Mamasa. Kabupaten Mamasa secara geografis terletak pada koordinat 2 0 40 00 30 12 00 Lintang Selatan dan 1190 00 49 1190 32 27 Bujur Timur. Luas wilayah sekitar 3005,88 Km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2009 sebanyak 126.134 jiwa yang tersebar pada 17 kecamatan dan 178 desa/kelurahan. Batas - batas wilayah kabupaten Mamasa adalah: Sebelah Utara dengan Kabupaten Mamuju Sebelah Timur dengan Prov. Sulawesi Selatan (Kab. Tana Toraja) Sebelah Selatan dengan Kab. Polewali Mandar Sebelah Barat dengan Kab. Mamuju dan Kabupaten Majene.

B. Kebijakan Pembangunan Perumahan Kabupaten Mamasa Berdasarkan Kekuatan, kelemahan, peluang, dan permasalahan yang dihadapi oleh Pemerintah dan Masyarakat Kabupaten Mamasa,

ditetapkannlah Visi, Misi, dan Strategi Pemerintah Kabupaten Mamasa Tahun 2008 - 2013, yaitu : Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Mamasa Yang Madani Dalam Ikatan Kondosapata Wai Sapalelean.

Laporan Pendataan dan Monitoring

Makna dari konsep ini diangkat dari komitmen moral ikatan masyarakat Kabupaten Mamasa yang oleh masyarakat Kabupaten Mamasa digelar dengan Bumi Kodosapata Wai Sapalelean yang senantiasa

mengutamakan persatuan dan kesatuan dan mencegah perpecahan dalam masyarakat. Komitmen kebersamaan ini tercermin dari semboyan: mesa kada dipotuo pantan kada dipomate yang bermakna: bersatu kita teguh bercerai kita runtuh Makna yang terkandung didalam visi di atas, adalah : Kondosapata; mengandung makna masyarakat yang memiliki ikatan yang sangat solit dalam mendorong terwujudnya ekonomi yang bertumpuh kepada kepentingan masyarakat, sehingga tercipta

masyarakat yang memiliki kesejahteraan yang setaraf dan berkeadilan, saling peduli dan saling mendorong serta mencegah timbulnya kesenjangan ekonomi dalam suatu wilayah. Makna ini kita kenal dengan masyarakat madani. Wai Sapalelean; mengandung makna saling mempengaruhi, saling memberi dorongan untuk maju secara bersama, tanpa ego lokal dan generasi tetapi saling ketergantungan dan saling menerima antar generasi. Makna ini dikenal dengan pembangunan berkelanjutan dan berkeadilan.

Dalam rangka pencapaian visi tersebut di atas, maka di ditetapkan 4 (empat) Misi Pemerintahan, yaitu : 1. Mewujudkan Tata Pemerintahan Yang Baik (Good Governance) 2. Mewujudkan Gerakan Pembangunan Berbasis Masyarakat 3. Mewujudkan Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Daerah 4. Mewujudkan Peranan Agama, Norma, dan Budaya Dalam Kehidupan Bermasyarakat

Untuk mencapai visi dan misi tersebut di atas Pemerintah menempuh 2 (dua) strategi pokok pembangunan, yaitu : 1. Strategi gerakan pembangunan terpadu. Strategi ini diarahkan pada usaha perwujudan pembangunan ekonomi kerakyatan dengan

mengusahakan keserasian dan keselarasan antara pembangunan sektor dan pembangunan wilayah melalui metode penetapan pusat-pusat pertumbuhan.

Laporan Pendataan dan Monitoring

2. Strategi gerakan pembangunan berbudaya. Strategi ini dilakukan melalui pendekatan kultur sosial (Socio cultural) terhadap sumber daya yang berada dalam masyarakat, baik sumberdaya alam (natural recources) maupun sumber daya manusia (human recources). Selain itu strategi ini diarahkan pada pendekatan berdasarkan pada kebutuhan dengan harapan pembangunan akan membawah perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku yang akan berdampak pada keberlanjutan budaya masyarakat. Sedang pembangunan kebijakan perumahan umum dan yang akan dilaksakan adalah dibidang

permukiman

pembangunan

perumahan dan permukiman diarahkan pada penyediaan, dan peningkatan serta pemeliharaan sarana dan prasarana perumahan dan permukiman dalam rangka mendukung peningkatan kesejahteraan Masyarakat. Selain itu juga beberapa tempat pemukiman masyarakat dapat dikembangkan menjadi kawasan khusus, baik untuk kepentingan ekonomi maupun kepentingan non ekonomi, yaitu : 1. Kawasan khusus pariwisata, yaitu perkampungan-perkampungan tradisinil atau perkampungan Adat serta makam-makam tua (tradisionil). 2. Kawasn Khusus cagar budaya 3. Kawasan khusus laboratorium social 4. Kawasan khusus tertinggal terpencil 5. Kawasan khusus penelitian dan pengembangan sumber daya nasional 6. Kawasan khsus dampak/ pasca bencana.

2.6.

Kabupaten Mamuju Utara Kabupaten Mamuju Utara yang beribukota di Pasangkayu terletak di bagian utara Provinsi Sulawesi Barat atau pada bagian barat dari Pulau Sulawesi. Secara geografis terletak pada posisi : 00 40 10 5012 Lintang selatan 1190 25 26 1190 5020 Bujur Timur dari Jakarta (00 00Jakarta = 1600 4828 Bujur Timur Green Wich). Kabupaten Mamuju Utara mempunyai batas wilayah sebagai berikut: Sebelah Utara dan sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Mamuju Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar. Pada tahun 2008 ,dengan luas wilayah 304.375 Ha. Kabupaten Mamuju Utara secara administrasi pemerintahan terbagi atas 12 kecamatan ,terdiri dari

Laporan Pendataan dan Monitoring

63 desa. Kecamatan Baras merupakan kecamatan terluas dengan luas 43.343 Ha atau 14,24 persen dari seluruh luas wilayah kabupaten Mamuju Utara, sedangkan kecamatan dengan luas terkecil adalah kecamatan Sarjo dengan luas 3.011 Ha (0,69). Kecamatan dengan jarak yang paling jauh dari ibukota kabupaten adalah Kecamatan Duripoku, dengan ibukota Tammarunang, mempunyai jarak sekitar 101 km dari Pasangkayu, sedangkan kecamatan yang terdekat adalah Kecamatan Pedongga yang jarak sekitar 15 km dari Pasangkayu. Rumah tangga menurut data statistik Kabupaten Mamuju Utara dalam angka tahun 2009 adalah 32.830 sedangkan rumah tidak layak huni yang ada di Kabupaten Mamuju Utara sebanyak 2,146 kk Kota Pasangkayu berdasarkan data kecamatan dalam angka dari jenis bangunan dapat dilihat pada tebel di bawah ini : Jumlah Unit (3) 594 790 2,555 3,939 beribukota di Malei mempunyai

No (1) 1. 2. 3.

Jenis Bangunan Rumah (2) Rumah Permanen Rumah Semi Permanen Rumah Tidak Permanen Total

Pelaksanaan survei untuk mendapatkan data sekunder dan data primer atau menguji validitas data. Pengumpulan datadata yang di butuhkan dilakukan dengan chek list data maupun observasi lapangan.

Laporan Pendataan dan Monitoring

BAB III RANGKAIAN KEGIATAN 3.1 Rapat Kerja Rapat kerja dilaksanakan untuk mempersiapkan penyelenggaraan acara Konsinyasi, yang dilaksanakan oleh Tim pelaksana Konsinyasi pendataan dan monitoring. Rangkaian pelaksanaan Rapat Kerja diisi dengan identifikasi bahan dan rangkaian kegiatan persiapan yang perlu dilakukan, pembagian tugas bagi setiap rangkaian penyiapan bahan dan kegiatan, dan monitoring serta evaluasi perkembangan pelaksanaan tugas. Disamping itu dalam Rapat Kerja juga dilakukan pengaturan jadwal kegiatan, pengaturan narasumber dan moderator, serta persiapan gedung, konsumsi dan akomodasi, serta persiapan administrasi peserta. Guna persiapan pelaksanaan kegiatan konsinyasi pendataan dan monitoring ini telah dilakukan Rapat Kerja sebanyak empat kali dengan waktu

sebagai berikut : a. Rapat Kerja Pertama pada tanggal 02 September 2010 bertempat di Ruang Rapat Bappeda Provinsi Sulawesi Barat dengan dihadiri oleh Tim Pelaksana sesuai daftar hadir terlampir dengan agenda rapat persiapan pelaksanaan berupa inventarisasi kebutuhan dan pembagian tugas. b. Rapat Kerja Kedua pada tanggal 06 oktober 2010 dilaksanakan di Ruang Rapat Bappeda Provinsi Sulawesi Barat dihadiri oleh keseluruhan Tim Pelaksana dengan agenda rapat ke II untuk pemantapan persiapan kegiatan pendataan monitoring pembangunan sesuai dengan pembagian tugas yang telah dibagi pada rapat kerja pertama. c. Rapat Kerja Ketiga pada tanggal 10 November 2010 dilaksanakan di Ruang Rapat Bappeda Provinsi Sulawesi Barat dihadiri oleh keseluruhan Tim Pelaksana dengan agenda rapat utama adalah Lanjutan persiapan evaluasi pelaksanaan kegiatan Konsinyasi Pendataan dan Monitoring. d. Rapat Kerja Keempat pada tanggal 30 November 2010 dilaksanakan di Ruang Rapat Bappeda Sulawesi Barat dihadiri oleh seluruh tim pelaksana dengan agenda rapat utama adalah Membahas tentang hasil pelaksanaan konsinyasi 3.2 Rapat Koordinasi Guna memantapkan pelaksanaan kegiatan Konsinyasi Pendataan dan Monitoring agar dapat berjalan dengan lancar maka perlu dilaksanakan Rapat Koordinasi yang membahas persiapan pelaksanaan secara menyeluruh. Rapat koordinasi ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 22 November 2010
10

Laporan Pendataan dan Monitoring

bertempat di Hotel dMaleo yang dihadiri oleh seluruh Tim Pelaksana. Dalam Rapat koordinasi ini beberapa hal yang dibahas adalah sebagai berikut : a. Mengecek pengiriman surat panggilan, konfirmasi, dan kesiapan kehadiran peserta kabupaten; b. Mempersiapkan petugas yang akan mengatur pembagian kamar peserta di hotel tempat penginapan. c. Mengecek surat pemberitahuan, kesiapan kehadiran, waktu kedatangan, dan petugas penjemput narasumber dari Kementerian Perumahan Rakyat; d. Mengecek penggandaan materi untuk peserta; e. Mengecek persiapan kamar peserta, kamar narasumber, gedung tempat acara, dan konsumsi acara; f. Mengecek penggandaan panduan dan jadwal acara;

3.3

Asistensi/Konsultasi

Pelaksanaan Pendataan Monitoring ini sering melakkukan Konsultasi dengan Kementerian Perumahan Rakyat dalam teknis pelaksanaan, mengenai

pengaturan jadwal, pembayaran honorarium dan pengaturan administrasi. Konsultasi dilakukan melalui telepon, email dan pada saat acara pertemuan yang diadakan oleh Kemenpera. 3.4. Pelaksanaan Pendataan dan Monitoring Supervisi I (3 - 4 September 2010, Penjelasan Ke tim Kabupaten Tentang Kegiatan pendataan & monitoring) Koordinasi pelaksanaaan awal pendataan dan monitoring Supervisi II (9 - 10 Oktober 2010, pemantauan Kemajuan hasil pendataan dan monitoring) Supervisi III (11-12 November 2010, Finalisasi pendataan dan

monitoringdata/Rapat Tim Kabupaten ) 3.5 Pelaksanaan Konsinyasi Acara Konsinyasi Pendataan dan Monitoring yang di laksanakan pada tanggal 25 s/d 27 November 2010 Hari Jumat Sabtu di Hotel dMaleo Jl. Yos Sudarso No.51 Mamuju ,Sulbar .Peserta dari TIM Pelaksana Kegiatan Konsinyasi Pendataan dan monitoring dari Kabupaten,Narasumber dari Tim

Provinsi dan Kemenpera dan cek in tgl 25 November 2010 jam 12.00 agenda yang di bahas Hasil Pendataan dan Monitoring di tiap tiap kabupaten . waktu dan tempat,peserta ,narasumber/agendaacara Laporan Pendataan dan Monitoring
11

1. Akomodasi peserta Peserta dan narasumber di berikan akomodasi di Hotel dMaleo, menyatu dengan tempat pelaksanaan Konsinyasi Pendataan dan Monitoring. Aula tempat pelaksanaan sosialisasi terletak di lantai 2 Hotel dMaleo. Suasana hotel, baik kamar peserta maupun aula tempat Konsinyasi begitu tenang karena aulanya menghadap ke pantai Mamuju, yang jalan disekitarnya jarang dilalui kendaraan, sehingga suasananya tenang dan tidak ribut. Kondisi kamar hotel yang ditempati para peserta juga memadai dilihat dari fasilitas dan furniture yang ada di kamar.. Akomodasi narasumber 2. Peserta Konsinyasi Pendataan dan monitoring Karena kegiatan ini adalah Konsinyasi pendataan dan monitoring di bidang perumahan, maka yang diundang adalah para pejabat yang menjadi anggota Tim Pendataan & Monitoring Provinsi dan Kabupaten sesuai SK Kepala Bappeda Sulbar No 06. C / IV / Bappeda tanggal 19 April 2010. 3. Acara pembukaan dan Penutupan Seremoni pembukaan dilaksanakan oleh Sekertaris Bappeda Provinsi Sulawesi Barat, dan Penutupan dilakukan oleh Sekretaris Bappeda Provinsi Sulawesi Barat. Acara Pembukaan dan Penutupan dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar. 4. Pelaksanaan Pemaparan hasil pendataan Tiaptiap kabupaten pertama. Pemaparan di hari pertama dilaksanakan setelah hari acara

pembukaanmalam hari tgl 25 November 2010 dan pagi hari tgl 26 November 2010 Dimulai sesi pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya sampai sore hari. Pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik dan lancar. 5. Pelaksanaan kesepakatan hasil pendataan hari kedua Kesepakatan hasil pendataan di hari kedua juga dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar dimulai dari pagi sampai siang hari, sampai acara penutupan. 6. Narasumber Seluruh Narasumber Konsinyasi pendataan dan perumahan ini berasal dari Kementerian Perumahan Rakyat. Sangat dirasakan oleh Peserta, baik yang berasal dari Provinsi maupun dari Kabupaten, bahwa para Narasumber sangat memahami dan menguasai tujuan dari pemaparan tiap-tiap kabupaten dari hasil pendataan daerahnya yang dibawakan. Wawasan para narasumber juga cukup luas dalam memberi keterangan, penjelasan maupun contoh-contoh terhadap hasil pendataan & monitoring yang dibawakan. Sehingga para peserta dapat memahami dengan baik masukan yang dibawakan oleh para narasumber. Laporan Pendataan dan Monitoring
12

7. Moderator Para moderator yang terdiri dari tiga orang, berasal dari Pejabat Bappeda Provinsi Sulawesi Barat. Keseluruhan moderator dapat menjalankan tugasnya dengan baik, sehingga pelaksanaan pemberian materi dari sesi ke sesi dapat berjalan dengan lancar. Kerjasama juga terjalin dengan baik diantara moderator. Sehingga pelaksanaan keseluruhan kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan lancar. 8. Pelaksanaan Diskusi dan tanya jawab. Diakhir setiap sesi para narasumber memberi ruang dan waktu yang cukup bagi para peserta, untuk mengajukan pendapat mengenai halhal yang

kurang jelas atau bentuk-bentuk kasus yang terjadi daerah masing-masing peserta, untuk di konfirmasi atau minta penjelasan berdasarkan sudut pandang kebijakan. Para peserta juga relatif dapat memanfaatkan waktu diskusi ini dengan baik. Moderator dan narasumber juga dapat mengatur pemberian waktu bertanya kepada para peserta dengan baik. 9. Administrasi peserta Administrasi peserta baik berupa perlengkapan maupun pengaturan lainnya seperti pengaturan kamar, registrasi, daftar hadir, uang saku, dan lainnya dapat dilaksanakan dengan baik. Hal ini karena telah dipersiapkan dengan baik jauh hari sebelumnya dalam beberapa rapat kerja dan dimantapkan persiapannya dalam rapat koordinasi. 10. Konsumsi Para peserta dan narasumber selama kegiatan berlangsung mendapatkan konsumsi yang merupakan satu kesatuan anggaran kegiatan. para narasumber dan para peserta memberikan apresiasi yang positif terhadap konsumsi yang disiapkan oleh pihak hotel. Selama pelaksanaan berlangsung tidak ada keluhan terhadap penyediaan konsumsi ini. Hal ini dikarenakan penyediaan konsumsi dapat dilaksanakan tepat waktu, dengan menu variatif.

Laporan Pendataan dan Monitoring

13

BAB IV HASIL ANALISIS PENDATAAN DAN MONITORING

4.1

Provinsi Sulawesi Barat Berdasarkan hasil pendataan & monitoring yg dilaksanakan di tingkat Provinsi Sulawesi Barat, dapat disampaikan beberapa hal : Pembangunan Perumahan memanfaatkan dana APBD/APBN Belum pernah dilakukan survey kebutuhan rumah Sulitnya penyediaan lahan bagi kawasan perumahan Kurangnya kordinasi antara kelembagaan yang terkait Belum adanya perangkat hukum yang mengatur pelaksanaan pembangunan perumahan bagi para stakeholders Pemerintah Provinsi belum pernah melakukan survai kependudukan untuk mengetahui kebutuhan akan perumahan? kondisi penyediaan infrastruktur jaringan sarana dan prasarana umum (air bersih, listrik, akses jalan) pada kawasan perumahan dan permukiman belum memadai.

4.2

Kabupaten Mamuju Analisis Program BSP2S Untuk memenuhi kebutuhan pambangunan perumahan layak huni tersebut, dalam RPJM Nasional 20042009 pemerintah menargetkan fasilistas paembangunan rumah secara swadaya sebesar 3.600.000 unit. Untuk

membantu Masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) agar dapat memenuhi kebutuhan rumah yang sehat dan layak huni, melalui kegiatan pembangunan rumah baru (PB), Peningkatan kwalitas (PK) serta kegiatan peningkatan kwalitas Prasarana, sarana dan utilitas umum (PSU), Badan usaha Milik negara /Daerah (BUMN/BUMD), swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dan Development (CD) lainya serta swadaya masyarakat sendiri. Pemerintah melalui Kementerian perumahan rakyat memiliki komitmen untuk memberikan bantuan stimulan melalui program Bantuan Stimulan pembanguana perumahan swadaya (BSP2S) dan peningkatan kwalitas perumahan (PKP). Pada tahun 2009 kegiatannya dilaksanakan di 32 provinsi ,201 kabupaten/kota. Kabupaten Mamuju telah menerima BSP2S sejak tahun 2008 sampai saat ini (2010), namun demikian beberapa kendala yg di hadapi antara lain: Alokasi anggaran pusat yang diluncurkan ke daerah (Kab.Mamuju) sangat kecil di banding kebutuhan ,sementara alokasi APBD terbatas,

Laporan Pendataan dan Monitoring

14

Kemandirian masyarakat masih kurang atau pola pikir masyarakat masih tradisional Bimnbingan teknis aparat terkait dan masyarakat masih kurang LKM kurang profesional Keterlambatan pencairan anggaran dari pusat Bimbingan Konsultan Pendamping masih kurang Optimal Pokja kurang Optimal karna tidak didukung anggaran biaya operasional yang memadai Analisis Pendataan Perumahan Dewasa ini kebutuhan akan (rumah) semakin meningkat, sehingga antara permintaan (supplay) dan ketersediaan (Demand) sudah tidak seimbang, Sementara nilai propety semakin naik akibat perkembangan dan tuntutan ekonomi yang semakin meningkat .Sehingga konsikuensinya adalah munculnya rumahrumah sewa (rent haouse) dan pemukiman kumuh yang memiliki timbulan sampah yang cukup tinggi dan pemanfaatan ruang yang tidak teratur. Bebarapa hal yang menjadi kendala dalam pemenuhan tuntutan kebutuhan tempat tinggal (rumah) di bidang perumahan, antara lain ; 1. RTRW belum ada saat ini masih dalam pembahasan tingkat provinsi 2. Akibat belum terselesainya RTRWP yang menjadi turunan RTRW Kabupaten, maka semua dokumen perencanaan menyangkut penataan ruang dan pemukiman belum ada, seperti RP4D, RUTRK, RDTR, RTR, SPPIP dan sebagainya. 3. Belum ada lembaga/badan/dinas/SKPD tersendiri yang menangani bidang perumahan. 4. Alokasi anggaran perumahan dalam APBD sangat minim karna terplot ke infrastruktur dasar,seperti jalan,jembatan, drenaise dll. 5. Rasio perkembangan penduduk yang sangat tinggi (diatas 2,0% atau hampir sama dengan ratarata pertumbuhan penduduk kotakota metropolis di Indonesia) tiap tahuntidak berbanding dengan perkembangan bidang perumahan. 4.3 Kabupaten Majene Beradasarkan hasil analisis Permasalahan sektor perumahan dan pemukiman Kabupaten Majene yang ada pada saat ini adalah sebagai berikut: a. Sistem penyelenggaraan di bidang perumahan dan pemukiman masih belu sejalan dengan tujuan yang ada di tinjau dari segi dukungan prasarana serta sarananya Laporan Pendataan dan Monitoring
15

b. Akses terhadap tanah ,Belum mantapnya pelayanan dan akses taerhadap hak atas tanah untuk perumahan khususnya bagi kelompok masyarakat miskin dan berpendapatan rendah (MBR) . c. Tingkat kebutuhan perumahan tingginya kebutuhan perumahan yang layak dan terjangkau masih belum dapat di imbangi karna terbatasnya kemampuan penyediaan baik oleh masyarakat,dunia usaha pemerintah.Secara nasional kebutuhan perumahan masih relatif besar sebagai gambaran status keebutuhan perumahan pada tahu 2000 meliputi : kebutuhan rumah yang belum terpenuhi (backlog) sekitar 4,3 juta unit rumah : pertumbuhan kebutuhan rumah baru setiap tahunnya sekitar 800 ribu unit rumah serta kebutuhan peningkatan kualitas perumahan yang tidak memenuhi

persyaratan layak huni sekitar 13 juta unit rumah (25 %) d. Kemampuan ekonomi warga MBR, ketidak mampuan masyarakat miskin dan berpenghasilan rendah untuk mendapatkan rumah yang layak dan terjangkau serta memenuhi standar lingkungan pemukiman yang responsif (Sehat, Aman, Harmonis dan Berkelanjutan). e. Pembiayaan pengadaan perumahan, belum tersedianya dana jangka panjang bagi pembiayaan perumahan yang menyebabkan terjadinya mismatch pendanaan dalam pengadaan perumahan f. Prasarana pemukiman, sebagian besar kualitas perumahan dan pemukiman masih tebatas dan belum memenuhi standar pelayanan yang memadai sesuai skala kawasan yang ditetapkan, baik sebagai kawasan perumahan maupun sebagai kawasan pemukiman yang berkelanjutan. g. Kepadatan dan kapasitas daya tampung, masih banyak ditemui kawasan perumahan dan pemukiman yang telah melebihi daya tampung dan daya dikung lingkungan. h. Kondisi fisik lingkungan, terdapat kecenderungan yang kurang positif bahwa sebagian kawasan permahan dan pemukiman telah mulai bergeser menjadi lebih tidak teratur, kurang berjati diri dan kurang memperhatikan nilai-nilai kontekstual sesuai sosial budaya setempat serta nilai-nilai arsitektural yang baik dan benar. 4.4 Kabupaten Polman Kebutuhan rumah di kabupaten Polewali Mandar Hasil analisis sebagai berikut : 1. Jumlah kepala rumah tangga tahun 2009 sebanyak 90.496 KK 2. Jumlah yang memiliki rumah sebesar 51.571 KK atau sebesar 56,98% dan yang belum memiliki sebesar 38,925 KK atau sebesar 43,02%, Jumlah Laporan Pendataan dan Monitoring
16

masih sangat tinggi

tersebut

termaksuk di dalamnya 9,122 rumah yang tidak layak huni

menurut kondisi bangunan fisik (hasil olah data PDKBM tahun 2008). 3. Pada Tahun 2009 kabupaten polewali mandar telah menetapkan kawasan siap bangun/lingkungan siap bangun untuk pemukiman sebesar 52 hektar di kecamatan tinambung dan kecamatan binuang. 4. Kawasan Siap bangun kelurahan madette, kelurahan Darma dan Kelurahan Manding, tahun 2011 direncanakan akan di bangun 200 unit rumah sehat sederhana dan rusunawa untuk mahasiswa di kawasan pemukiman siap bangun NUSSP PlusNSD. 5. Khusus pemukiman yang terletak di kawasan perumahan nelayan

Tangngantanga dan kawasan relokasi korban bencana masih membutuhkan fasilitas berupa pembangunan jalan lingkungan, Drainase, Air bersih, Listrik dan MCK. 4.5. Kabupaten Mamasa Permasalahan Pembangunan Perumahan dan Permukiman Wilayah Kabupaten Mamasa pada umumnya merupakan daerah dataran tinggi/pegunungan, rawan longsor, dan dominan hutan sehingga relatif sulit dijangkau oleh jaringan transportasi maupun komunikasi. Kabupaten Mamasa merupakan wilayah yang masih sangat tertinggal dalam berbagai bidang pembangunan. Tingkat kesejahteraan masyarakat

masih sangat rendah sehingga memerlukan perhatian dan keberpihakan pembangunan yang besar dari Pemerintah. Permasalahan umum yang dihadapi pemerintah daerah dalam usaha pengembangan wilayah termasuk pembangunan perumahan adalah, antara lain; (1) terbatasnya akses transportasi antar wilayah baik Mamasa maupun ke kabupaten lain disekitarnya; (2) Aksesibilitas penduduk terhadap pembangunan dan sumber-sumber ekonomi masih sangat rendah; (3) Kapasitas sumberdaya manusia relatif masih rendah; (4) Infrastruktur dasar seperti jalan, energi listrik, pos dan telekomunikasi, sanitasi dan air bersih, serta lembaga keuangan masih sangat sulit; (5) Prsarana perekonomian berupa pasar belum memadai termasuk pasar kabupaten (Pasar Mamasa), (6) Akses terhadap pendidikan dan kesehatan masih sangat sulit, (7) Revitalisasi pertanian belum berjalan dengan baik, dan berbagai permasalahan lainnya yang secara simultan menghimpit tumbuh dan berkembangnnya kesejahteraan masyarakat. Laporan Pendataan dan Monitoring
17

dalam Kabupaten

Permasalahan khusus yang dihadapi dalam pembangunan perumahan adalah: a. Belum rampungnya RTRW Kabupaten Mamasa b. Belum adanya Dokumen RP4D Kabupaten Mamasa c. Belum adanya investor yang berminat menamkan modal di bidang perumahan d. Masih banyaknya Kepala Keluarga (KK) yang belum memiliki rumah sehingga dalam satu rumah tinggal lebih dari satu KK. e. Masih banyaknya rumah yang tidak layak huni. f. Fasilitas permukiman masyarakat masih jauh dari memadai baik dari kesehatan maupun dari segi aksesibilitas. g. Berdasarkan data tahun 2009 bahwa di kabupaten Mamasa terdapat 30.911 KK, sedangkan rumah yang tersedia hanya sekitar 24.460 unit atau hanya mencukupi 79,13 % KK. Sehingga terjadi Backlog perumahan mencapai sekitar 6.451 unit atau sekitar 20,87 %. Selain permasalahan kekurangan rumah masih banyak rumah masyakat yang tidak layak huni, yakni sekitar 11.801 unit atau sekitar 48, 25 %. Selain kondisi rumah yang tidak layak huni juga fasilitas lingkungan tidak sehat/kumuh.

Usulan Pemecahan Masalah 1. Kabupaten Mamasa a. Penyusunan dokumen perencanaan pembangunan perumahan dan permukiman b. Penyediaan lokasi pembangunan perumahan c. Bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat tentang syarat rumah sehat d. Penyediaan dana untuk pembangunan perumahan dan permukiman 2. Provinsi Sulawesi Barat a. Fasilitasi Pembangunan perumahan dan permukiman di kab. Mamasa b. Penyediaan Dana Dekon pembangunan perumahan dan permukiman c. Bantuan perbaikan rumah tidak layak huni 3. Pusat/ Kementerian Perumahan Rakyat a. Bantuan pembangunan perumahan dan permukiman b. Dukungan kebijakan pembangunan perumahan dan permukiman c. Fasilitasi Pembangunan perumahan dan permukiman di kab. Mamasa

Laporan Pendataan dan Monitoring

18

4.6.

Kabupaten Matra Perumusan mengenai potensi dan kendala pembangunan kawasan didasari oleh : Hasil analisis kawasan yang meliputi analisis kependudukan, sektor potensi daya dukung lingkungan kebutuhan prasarana dan sarana. Sebagai kabupaten termuda di Provinsi Sulawesi Barat yang berumur 5 tahun kami menyadari bahwa masih banyak permasalahan yang kami hadapi seperti sumber daya manusia yang belum tercukupi sementara kami akan kaya sumber daya alam, kemudian jumlah toko material (buatan) bangunan yang terbatas di daerah kami membuat harga menjadi mahal dan harga mobilisasi material (alam) bangunan juga tinggi akibat terbatasnya jumlah armada pengankut material bangunan. Untuk memberikan hasil yang terbaik pada pendataan dan monitoring ini dilakukan pendekatan perencanaan wilayah sebagai daerah hunian, dengan mempertimbangkan beberapa aspek

perencanaan antara lain dari segi aksebilitas, kondisi topografi, kesetrategian lokasi, kondisi kontur tanah, kebisingan dan potensi alam dan buatan. Pendekatan participatory digunakan untuk memperoleh urutan proritas pengembangan dan masukanmasukan dari berbagai stekholder untuk

melengkapi peta potensi yang sudah di hasilkan. Selain melalui penyebaran kosioner dan wawancara, pendekatan participactory ini juga di lakukan dengan melalui pembahasanpembahasan yang di buat. Pertimbangan menggunakan participatory approach adalah, bahwa saat ini pemaksaan kehendak dan perencanaan dari atas sudah tidak relevan lagi. Di era reformasi perlu melibatkan berbagai pihak dalam setiap kegiatan pembangunan. Manfaat penggunaan pendekatan tersebut adalah untuk meminimalkan konflik berbagai kepentingan yang berarti juga mendapatkan hasil akhir yang menguntungkan untuk semua pihak. Keuntungan lainnya yang akan di peroleh adalah jaminan kelancaran implementasi hasil kajian ini di kemudian hari. Penggunaan participatory approach akan menimbulkan berbagai untuk mengkaji lebih lanjut hasil analisis

persoalan dalam prosesnya, terutama masalah keterbatasan waktu. Masalah ini akan di coba di minimalkan melalui persiapan materi dan pelaksanaan seminar yang matang,sehingga kesepakatan dapat dengan segera dicapai tanpa mengurangi kebebasan stakeholders untuk mengeluarkan pendapatnya.

Laporan Pendataan dan Monitoring

19

BAB V REKOMENDASI Evaluasi yang dilaksanakan di atas, telah memberikan catatan kepada Tim Pelaksana beberapa rekomendasi bagi perbaikan pelaksanaan kegiatan untuk berikutnya. Beberapa rekomendasi tersebut adalah sebagai berikut :

1. Waktu yang dibutuhkan lebih baik ditambah untuk pendataan bagi tim pedataan kabupaten sehingga data yang dihasilkan dari kegiatan pendataan lengkap, representatif dan sesuai yang diharapkan. 2. Para Peserta yang terlibat dalam kegiatan pendataan dan sosialisasi bidang perumahan sebaiknya diupayakan berasal dari para Pejabat yang lingkup tugas pokoknya berhubungan erat dengan bidang perumahan dan permukiman, atau para pejabat yang dapat merumuskan atau mempengaruhi kebijakan di tingkat Provinsi dan Kabupaten, serta tidak diwakilkan kepada Staf maupun pegawai baru. 3. Untuk lebih memperkaya wawasan dan sharing pengalaman para Peserta, sebaiknya dihadirkan pula narasumber yang berasal dari praktisi atau pihak developer. Sehingga pengalaman, permasalahan dan solusi yang mereka temui dan tawarkan selama ini dapat mereka sharing dengan para peserta yang notabene adalah para pejabat pengambil kebijakan. 4. Dana dari APBN di usahakan 100% dan sudah tidak ada dana pendamping dari APBD. 5. Pendataan di daerah di perlukan beberapa tenaga sehingga dana untuk

pendataan di daerah di perbasar mengingat lokasi pendataan sulit di jangkau.

Laporan Pendataan dan Monitoring

20

BAB VI PENUTUP Demikian Laporan Pelaksanaan kegiatan Pendataan dan monitoring Bidang Perumahan Rakyat ini dibuat, sebagai bahan untuk diketahui dan dipergunakan sebagaimana mestinya. Semoga dapat memberikan gambaran menyeluruh terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut, dan guna perbaikan maupun peningkatan

pelaksanaan selanjutnya, terima kasih.

Mamuju,

Desember 2010

Pejabat Pembuat Komitmen

Ir. H. Muh. Akhsan, MT

Laporan Pendataan dan Monitoring

21

Lampiran Lampiran : Lampiran A SK Tim Pelaksana Pendataan & Monitoring Lampiran B Surat undangan Rapat dan Absensi Rapat Lampiran C Surat Tugas Asistensi /Konsultasi Lampiran D Surat Surat Terkait Pelaksanaan Pendataan Lampiran E Surat surat terkait Pelaksanaan Konsinyasi Lampiran F Dokumentasi Lampiran G Hal hal lain yang dianggap perlu

Laporan Pendataan dan Monitoring

22