Anda di halaman 1dari 9

16/10/2012

UJIAN TENGAH SEMESTER GANJIL 2012/2013


Diajukan sebagai tugas mata kuliah

Pendidikan Kewarganegaraan

Oleh:

Indani Ambarsari
Kelas 2B

111511041

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK INFORMATIKA JURUSAN TEKNIK KOMPUTER DAN INFORMATIKA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG 2012

1) Pengantar Pendidikan Kewarganegaraan


Apakah tujuan dari diadakannya mata kuliah PKn di Perguruan Tinggi? Pendidikan Kewarganegaraan dikenal dengan berbagai istilah misalnya seperti Civic Education, yaitu suatu mata pelajaran dasar yang dirancang untuk mempersiapkan warga negara muda, agar kelak setelah dewasa dapat berperan aktif dalam masyarakatnya. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan kemudian dirumuskan dalam visi, misi dan kompetensi , antara lain : 1. Visi PKn di perguruan tinggi yaitu merupakan sumber nilai dan pedoman dalam pengembangan dan penyelenggaraan program studi, guna mengantarkan mahasiswa menatapkan kepribadiannya sebagai manusia seutuhnya. 2. Misi PKn di perguruan tinggi yaitu untuk membantu mahasiswa memantapkan kepribadiannya agar secara konsisten mampu mewujudkan nilai-nilai dasar Pancasila, rasa kebangsaan dan cinta tanah air sepanjang hayat dalam menguasai, menerapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang dimilikinya dengan rasa tanggung jawab. 3. Dan standar kompetensi yang wajib dikuasai mahasiswa meliputi pengetahuan tentang nilai-nilai agama, budaya dan kewarganegaraan dan mampu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari; memiliki kepribadian yang mantap; berpikir kritis; bersikap rasional, etis, estetis dan dinamis; berpandangan luas dan bersikap demokratis yang berkeadaban. Apa yang melandasi PKn di Perguruan Tinggi? Menurut Muhammad Erwin (2010: 4) ada beberapa landasan pendidikan kewarganegaraan antara lain: 1. Landasan Filosofis Hakekat manusia sebagai warga negara senantiasa diukur dari kemanfaatnya, yakni dari apa yang bisa ia berikan kepada bangsa dan negaranya. Peradaban bangsa dan negara memerlukan ilmu dan teknologi, namun itu saja tidak cukup. Negara juga harus memiliki integritas dan nasionalisme, agar negara tidak terjual. Untuk mengalirkan integritas dan nasionalisme diperlukan nilai dan etika kebangsaan sebagaimana yang dirumuskan di dalam ranah pendidikan kewarganegaraan sebagai cabang ilmu yang mengajarkan tentang kebangsaan dan kewarganegaraan yang berhubungan dengan negara, demokrasi, HAM, masyarakat madani, yang dalam implementasinya dilakukan dengan menggunakan prinsip demokratis dan humanis. 2. Landasan Sosiologis Sebagai landasan sosiologis diperlukan Pendidikan Kewarganegaraan dilatarbelakangi oleh karena memperhatikan situasi cara hidup sehari-hari orang indonesia saat ini yang telah begitu pudar identitas aslinya, tergerus oleh faham globalisasi dengan instrumennya yang berupa kapitalisme. Bangsa Indonesia yang dulunya dikenal sebagai bangsa yang religius, toleransi, ramah-tamah, gotongroyong, nasionalis, dan memiliki solidaritas sosial, saat ini lebih dekat kepada bentuk-bentuk kekerasan dan individualistik.

Kehadiran pendidikan kewarganegaraaan diharapkan dapat membangkitkan dan meningkatkan kembali rasa kebangsaan dan nasionalisme terhadap bangsa Indonesia, sehingga dapat memulihkan kondisi identitas nasional yang sesuai dengan nilai-nilai yang hidup di masyarakat Indonesia sendiri. 3. Landasan Yuridis Untuk landasan konstitusional bagi keberadaaan pendidikan kewarganegaraan di Indonesia senantiasa berpijak pada UUD 1945, mulai dari pembukaannya sebagaimana telah diamanatkan oleh alenia kedua dan keempat yang memuat tentang aspirasi, tujuan, dan cita-cita bangsa Indonesia. Dalam batang tubuh UUD 1945 maka disana ditemui di dalam pasal 27 ayat 1 yang menyatakan bahwa Segala warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan serta wajib menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya dan pasal 30 ayat 1 yang menyatakan bahwa Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara serta pasal 31 ayat 1 yang merumuskan bahwa Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran. Kemudian yang menjadi landasan hukum bagi keberadaan Pendidikan kewarganegaraan pada konstitusi Indonesia (UUD 1945) tersebut diteruskan keperaturan yang lebih konkrit, dalam hal ini terkandung pada UU No 20 Tahun 1982 Tentang Ketentuan-ketentuan pokok pertahanan keamanan negara republik Indonesia. Selain itu yang berperan sebagai landasan hukum tentunya juga diatur dalam UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan nasional dan berdasarkan pada Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No 232/U/2000 tentang pedoman penyusunan kurikulum Pendidikan tinggi dan penilaian hasil belajar mahasiswa.

2) Kesadaran berbangsa dan bernegara Indonesia


Apa saja permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia mengenai kepentingan nasional? Tuliskan solusi untuk menghadapi persoalan tersebut! Salah satu contoh permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia yaitu konflik antara kepentingan nasional dan hak asasi manusia. Konflik kepentingan nasional dan HAM ini sudah terjadi sejak awal pertama fondasi HAM, yakni saat UDHR di ratifikasi oleh 5 negara besar. Konflik kepentingan ini terjadi di negara-negara baik yang telah meratifikasi isi dari UDHR itu sendiri atau negara lain yang telah bergabung ke PBB. Alasan dari konflik antara kepentingan nasional dan HAM ini sebenarnya cukup sederhana, yaitu ketiadaan sinkronisasi antara kebutuhan suatu negara untuk menjaga kedaulatan beserta tujuantujuan nasionalnya dengan kebebasan (atau kepentingan) individu warga negara yang bersangkutan yang merupakan salah satu unsur dalam HAM. Perbedaan tersebut menimbulkan gesekan bahkan benturan antara negara (Aparat) dengan warga atau rakyat. Gesekan atau benturan tersebut biasanya dimenangkan oleh negara karena kepemilikan negara atas persenjataan, baik yang bersifat melumpuhkan ataupun yang bersifat mematikan.

3) Konstitusi dan sistem politik kenegaraan Indonesia


Apa yang dimaksud dengan hakikat konstitusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara? Hakikat dari suatu konstitusi ialah mengatur pembatasan kekuasaan dalam negara. Pembatasan kekuasaan yang tercantum dalam konstitusi itu pada umumnya menyangkut dua hal, yaitu pembatasan kekuasaan yang berkaitan dengan isinya, dan pembatasan kekuasaan yang berkaitan dengan waktu. Pembatasan kekuasaan yang berkaitan dengan isi ialah pembatasan yang berkenaan dengan tugas, wewenang serta berbagai macam hal yang diberikan kepada masing-masing lembaga, sedangkan pembatasan kekuasaan yang berkaitan dengan waktu ialah pembatasan yang berkenaan dengan masa jabatan yang diberikan kepada pemangku jabatan tertentu serta berapa kali seorang pejabat dapat dipilih kembali dalam jabatan itu. Jelaskan hubungan dan tata kerja antar lembaga di Indonesia menurut UUD 1945! MPR dengan DPR, DPD Keberadaan MPR dalam sistem perwakilan dipandang sebagai ciri yang khas dalam sistem demokrasi di Indonesia. Keanggotaan MPR yang terdiri atas anggota DPR dan anggota DPD menunjukan bahwa MPR masih dipandang sebagai lembaga perwakilan rakyat karena keanggotaannya dipilih dalam pemilihan umum. Unsur anggota DPR merupakan representasi rakyat melalui partai politik, sedangkan unsur anggota DPD merupakan representasi rakyat dari daerah untuk memperjuangkan kepentingan daerah. Sebagai lembaga, MPR memiliki kewenangan mengubah dan menetapkan UUD, memilih Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam hal terjadi kekosongan jabatan Presiden dan/atau Wakil Presiden, melantik Presiden dan/atau Wakil Presiden, dan kewenangan memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut UUD. Khusus mengenai penyelenggaraan sidang MPR berkaitan dengan kewenangan untuk memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden, proses tersebut hanya bisa dilakukan apabila didahului oleh pendapat DPR yang diajukan pada MPR. DPR dengan Presiden, DPD, dan MK. Berdasarkan UUD NRI tahun 1945, kini MPR terdiri dari anggota DPR dan anggota DPD. Perbedaan keduanya terletak pada hakikat kepentingan yang diwakilinya, anggota DPR untuk mewakili rakyat sedangkan anggota DPD untuk mewakili daerah. Pasal 20 ayat (1) menyatakan bahwa DPR memegang kekuasaan membentuk undang-undang. Selanjutnya untuk menguatkan posisi DPR sebagai pemegang kekuasaan legislatif, maka pada Pasal 20 ayat (5) ditegaskan bahwa dalam hal RUU yang disetujui bersama tidak disahkan oleh Presiden, dalam waktu 30 hari semenjak RUU tersebut disetujui, secara otomatis sah menjadi UU dan wajib diundangkan. Dalam hubungan DPR dengan DPD, terdapat hubungan kerja dalam hal ikut membahas RUU yang berkaitan dengan bidang tertentu. DPD dapat mengajukan kepada DPR RUU yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya

alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah (Lihat Pasal 22 D). Dalam hubungannya dengan Mahkamah Konstitusi, terdapat hubungan tata kerja yaitu dalam hal permintaan DPR kepada MK untuk memeriksa pendapat DPR mengenai dugaan bahwa Presiden bersalah. Di samping itu terdapat hubungan tata kerja lain, misalnya dalam hal apabila ada sengketa dengan lembaga negara lainnya, dan proses pengajuan pendapat DPR yang menyatakan bahwa Presiden bersalah untuk diperiksa oleh MK. DPD dengan BPK Berdasarkan ketentuan UUD NRI 1945, DPD menerima hasil pemeriksaan BPK dan memberikan pertimbangan untuk pemilihan anggota BPK. Ketentuan ini memberikan hak kepada DPD untuk menjadikan hasil laporan keuangan BPK sebagai bahan dalam rangka melaksanakan tugas dan kewenangan yang dimilikinya, dan untuk turut menentukan keanggotaan BPK dalam proses pemilihan anggota BPK. Di samping itu, laporan BPK akan dijadikan sebagai bahan untuk mengajukan usul dan pertimbangan berkenaan dengan RUU APBN. MA dengan lembaga negara lainnya Pasal 24 ayat (2) menyebutkan bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya serta oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. Ketentuan tersebut menyatakan puncak kekuasaan kehakiman dan kedaulatan hukum ada pada MA dan MK. Mahkamah Agung merupakan lembaga yang mandiri dan harus bebas dari pengaruh cabang-cabang kekuasaan yang lain. Dalam hubungannya dengan Mahkamah Konstitusi, MA mengajukan 3 (tiga) orang hakim konstitusi untuk ditetapkan sebagai hakim di Mahkamah Konstitusi. Mahkamah Konstitusi dengan Presiden, DPR, BPK, DPD, MA, KY Selanjutnya, Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 menyebutkan bahwa salah satu wewenang Mahkamah Konstitusi adalah untuk memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan UUD. Karena kedudukan MPR sebagai lembaga negara, maka apabila MPR bersengketa dengan lembaga negara lainnya yang sama-sama memiliki kewenangan yang ditentukan oleh UUD, maka konflik tersebut harus diselesaikan oleh Mahkamah Konstitusi. Kewenangan Mahkamah Konstitusi sesuai dengan ketentuan Pasal 24C ayat (1) dan (2) UUD NRI tahun 1945 adalah untuk mengadili pada tingkat pertama dan terakhir untuk menguji UU terhadap UUD, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan UUD, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. Di samping itu, MK juga wajib memberikan putusan atas pendapat DPR mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut UUD.

Dengan kewenangan tersebut, jelas bahwa MK memiliki hubungan tata kerja dengan semua lembaga negara yaitu apabila terdapat sengketa antar lembaga negara atau apabila terjadi proses judicial review yang diajukan oleh lembaga negara pada MK. BPK dengan DPR dan DPD BPK merupakan lembaga yang bebas dan mandiri untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara dan hasil pemeriksaan tersebut diserahkan kepada DPR, DPD, dan DPRD. Dengan pengaturan BPK dalam UUD, terdapat perkembangan yaitu menyangkut perubahan bentuk organisasinya secara struktural dan perluasan jangkauan tugas pemeriksaan secara fungsional. Karena saat ini pemeriksaan BPK juga meliputi pelaksanaan APBN di daerah-daerah dan harus menyerahkan hasilnya itu selain pada DPR juga pada DPD dan DPRD. Selain dalam kerangka pemeriksaan APBN, hubungan BPK dengan DPR dan DPD adalah dalam hal proses pemilihan anggota BPK. Komisi Yudisial dengan MA Pasal 24A ayat (3) dan Pasal 24B ayat (1) menegaskan bahwa calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada DPR untuk mendapat persetujuan. Keberadaan Komisi Yudisial tidak bisa dipisahkan dari kekuasaan kehakiman. Ketentuan ini menjelaskan bahwa jabatan hakim merupakan jabatan kehormatan yang harus dihormati, dijaga, dan ditegakkan kehormatannya oleh suatu lembaga yang juga bersifat mandiri. Dalam hubungannya dengan MA, tugas KY hanya dikaitkan dengan fungsi pengusulan pengangkatan Hakim Agung, sedangkan pengusulan pengangkatan hakim lainnya, seperti hakim MK tidak dikaitkan dengan KY.

4) Persoalan demokrasi apa saja yang ada dalam kehidupan berbangsa Indonesia dewasa ini dan berikan solusi alternatif pemecahannya!
Permasalahan yang muncul diantaranya yaitu : Belum tegaknya supermasi hukum. Kurangnya partisipasi masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pelanggaran terhadap hak-hak orang lain. Tidak adanya kehidupan berpartisipasi dalam kehidupan bersama (musyawarah untuk mencapai mufakat). Solusi alternatif yang diusulkan : Penerapan Budaya Demokrasi Dalam Kehidupan Sehari-hari Di Lingkungan Keluarga Penerapan Budaya demokrasi di lingkungan keluarga dapat diwujudkan dalam bentuk sebagai berikut: Kesediaan untuk menerima kehadiran sanak saudara; Menghargai pendapat anggota keluarga lainya; Senantiasa musyawarah untuk pembagian kerja; Terbuka terhadap suatu masalah yang dihadapi bersama. Di Lingkungan Masyarakat Penerapan Budaya demokrasi di lingkungan masyarakat dapat diwujudkan dalam bentuk sebagai berikut: Bersedia mengakui kesalahan yang telah dibuatnya; Kesediaan hidup bersama dengan warga masyarakat tanpa diskriminasi; Menghormati pendapat orang lain yang berbeda dengannya; Menyelesaikan masalah dengan mengutamakan kompromi; Tidak terasa benar atau menang sendiri dalam berbicara dengan warga lain. Di Lingkungan Sekolah Penerapan Budaya demokrasi di lingkungan sekolah dapat diwujudkan dalam bentuk sebagai berikut: Bersedia bergaul dengan teman sekolah tanpa membeda-bedakan; Menerima teman-teman yang berbeda latar belakang budaya, ras dan agama; Menghargai pendapat teman meskipun pendapat itu berbeda dengan kita; Mengutamakan musyawarah, membuat kesepakatan untuk menyelesaikan masalah; Sikap anti kekerasan. Di Lingkungan Kehidupan Bernegara Penerapan Budaya demokrasi di lingkungan kehidupan bernegara dapat diwujudkan dalam bentuk sebagai berikut: Besedia menerima kesalahan atau kekalahan secara dewasa dan ikhlas; Kesediaan para pemimpin untuk senantiasa mendengar dan menghargai pendapat warganya; Memiliki kejujuran dan integritas; Memiliki rasa malu dan bertanggung jawab kepada publik;

Menghargai hak-hak kaum minoritas; Menghargai perbedaan yang ada pada rakyat; Mengutamakan musyawarah untuk kesepakatan berrsama untuk menyelesaikan masalah-masalah kenegaraan.