Anda di halaman 1dari 6

Jurnal Natur Indonesia, 4 (1) ISSN 1410-9379

(2002)

GALLOKATEKIN : SENYAWA FLAVONOID LAINNYA DARI KULIT BATANG RENGAS (Gluta renghas Linn.)
Jimmi Copriady*, Miharty, Herdini Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau Diterima tanggal : 20-8-2001 Disetujui tanggal: 18-9-2001

ABSTRACT
Isolation and identification the flavonoid compound have been conducted. Extraction was done by maseration, followed by chromatographic separation on silica gel colomn using various eluent systems. The result of purification was an oranye amorphous solid (fraction C3.3) with melting point of 213-215oC. This Compound identified as ,7,3,4,5-pentahidroksiflavan-3-ol (gallokatekin). The specific rotation gave []D25 +66,7 in aceton-water 1:1 v/v. Elucidation for structur determination was done by spectroscopy techniques such as ultraviolet spectrometry, infrared spectrometry, nuclear magnetic resonance (NMR-1H and NMR-13C) Keywords: Gluta renghas .Linn, flavonoid, gallokatekin, isolation, Identification

PENDAHULUAN Tumbuhan merupakan salah satu sumber daya alam penting, yang memiliki nilai khusus baik dari segi ekonomi maupun sebagai paru-paru planet bumi. Tumbuhan merupakan tempat terjadinya sintesis senyawa organik yang kompleks menghasilkan sederet golongan senyawa dengan berbagai macam struktur. Usaha pencarian senyawa baru terhadap tumbuhan yang belum banyak diteliti akan lebih me Penulis untuk korespondensi HP. 08127537668, E-mail : Jimmi@unri.ac.id

narik dan prospektif karena kemungkinan lebih besar menemukan senyawa baru atau mungkin senyawa eksotis. Tumbuhan rengas termasuk famili Anacardiaceae merupakan sumber kayu yang penting di Indonesia. Spesies ini dikenal karena getahnya sangat beracun yang dapat menyebabkan iritasi berat pada kulit dan dapat melumpuhkan orang. Kadang-kadang penduduk asli menggunakan getahnya sebagai racun untuk berburu binatang (Heyne, 1987).

Jurnal Natur Indonesia, 4 (1) ISSN 1410-9379

(2002)

Berdasarkan studi pustaka, tumbuhan ini belum banyak diteliti. Penelitian sebelumnya pada getah rengas dilaporkan senyawa ursiol, rengol, glutarengol, laccol dan thitsiol (Backer, 1941). Penelitian pada kayu rengas dilaporkan senyawa golongan steroid, lipid, benzenoid dan flavonoid (Imamura, et.al.,1979), sedangkan penelitian pada bagian tumbuhan lainnya seperti akar, buah, bunga, kulit batang dan lain-lain belum banyak dilaporkan. BAHAN DAN METODE Bahan tumbuhan yang akan diteliti adalah kulit batang rengas, dikumpulkan pada bulan Maret tahun 2001 dari pinggiran sungai Siak Pekanbaru, Riau. Spesies ini dideterminasi di Herbarium Bandungense Institut Teknologi Bandung dan spesimennya disimpan disana. Peralatan yang digunakan untuk keperluan ekstraksi yaitu: seperangkat alat destilasi, maserator, pengisat gasing hampa, pemanas air elektrik, kolom kromatografi berbagai ukuran, pengukur titik leleh Fisher Jhon, lampu UV dan alat-alat gelas yang biasa digunakan di laboratorium kimia organik. Untuk penentuan struktur digunakan alat-alat sebagai berikut,

spektrometri ultraviolet (UV), spektrometri FTIR 8501 Shimadzu, spektrometri resonansi magnet inti proton (RMI-1H) dan spektrometri resonansi magnet inti karbon-13 (RMI-13C). Sebanyak 1,2 kg kulit batang rengas yang telah dibersihkan dan dikeringkan di udara terbuka (kadar air 8,5% dan kadar abu 5,2 %) digiling halus (100 mesh), dimaserasi dengan heksen selama 3x24 jam. Ekstrak heksen dikisatkan dan residu dikeringkan di udara terbuka sampai bau heksen hilang. Dengan cara yang sama residu dimaserasi kembali masing-masing dengan pelarut diklorometan dan metanol. Fraksi metanol kemudian difraksinasi menggunakan kromatografi kolom cair vakum (KCV) pada silika gel 60 (230-400 mesh) dengan eluen: A.Heksen-aseton (7:3); B. Heksen-aseton (1:1); C. Heksan - aseton (3:7) ; D. Aseton 100%; dan E. Metanol 100%.Fraksi fraksi yang diperoleh dipekatkan dan diuji flavonoid. Fraksi C (heksan-aseton 3:7) dipisahkan dengan kromatografi kolom gravitasi (KKG) dengan eluen kloroform-etil asetat-aseton, ditampung 70 fraksi @ 5 ml. Dari pemisahan tadi dianalisis KLT dan diperoleh empat fraksi utama yaitu fraksi Cl (1-19) 62,5 mg, C2 (20-29)

Jurnal Natur Indonesia, 4 (1) ISSN 1410-9379

(2002)

48,2 mg, C3 (30-46) 340,8 mg dan fraksi C4 (47-70) 525,0 mg. Fraksi C3 selanjutnya dipisahkan kembali dengan KKG, ditampung 60 fraksi @ 2,5 ml dan dianalisis KLT. Hasil analisis KLT dikelompokkan menjadi tiga fraksi yaitu C3.1 (15-24) 45,1 mg, C3.2 (29-42) 87,9 mg dan fraksi C3.3 (45-60) 73,2 mg. Dari pengamatan KLT terlihat fraksi C3.3 menunjukkan satu noda (dengan sedikit pengotor) selanjutnya dimurnikan dengan penambahan arang aktif. Hasil pemurnian fraksi C3.3 diperoleh padatan amorf berwarna jingga seberat 41,1 mg. HASIL DAN PEMBAHASAN Gallokatekin diperoleh sebagai padatan amorf berwarna jingga, titik leleh 213-215oC terurai, uji FeCl3 memberikan warna hijau tua dan uji Mg-HCl negatif yang menunjukkan senyawa fenol , [] D25 = +66,7 dalam aseton-air 1:1 v/v, UV (MeOH) maks nm (log ) 272 (2,70) dan 306 (bh, 2,48), menunjukkan senyawa ini mempunyai kerangka flavan (Markham,1988). Analisis ini didukung oleh data spektrum IR yang tidak memperlihatkan serapan gugus karbonil di daerah 16501700 cm-1. Data spektrum IR menunjukkan adanya serapan gugus hidroksi pada maks 3200-3400 cm-1, dan cincin benzen pada 1626, 1520,

1462 cm-1, sedangkan vibrasi ulur C-H alifatik ditandai dengan munculnya puncak serapan di daerah 2923 & 2852 cm-1. Spektrum RMI-1H (aseton d6, 270 MHz) menunjukkan adanya sinyal pada ppm. 4,51 (1H, d, J = 7,6), 3,96 (1H, bs), 2,87 (1H,dd, J = 5,1 dan 16,2 Hz), 2,52 (1H, dd, J = 8,1 dan 16,2 Hz) yang merupakan karakteristik dari suatu kerangka flavan-3-ol, masing-masing untuk resonansi proton pada H-2,H-3, H4 dan H-4 (Markham, et. al, 1994). Dua sinyal yang muncul pada ppm 5,87 (1H,d, J = 2,4 Hz), 6,02 (1H, d, J = 2,4 Hz) berasal dari proton H-8 dan H-6 pada cincin A, yang bere-sonansi meta. Satu sinyal yang muncul pada pergeseran kimia 6,45 (2H, s) berasal dari proton aromatik yaitu H-2 dan H-6 yang setara lingkungan kimia. Spektrum RMI-13C (aseton d6, 67,5 MHz) senyawa gallokatekin memperlihatkan adanya 13 atom karbon, yang terdiri dari tiga karbon sp3 dan sepuluh karbon sp2 yang teroksigensi maupun tidak. Ketiga atom karbon sp3 beresonansi pada 82,5, 68,2 dan 28,7 masing-masing untuk C-2 (-CH-O-), C-3 (-CH-O-) dan C-(-CH2-), karakteristik suatu flavan-3-ol ( Markham,et.al, 1994 ). Sinyal pada 106 dan 146,5 ppm diduga berasal dari dua pasang

Jurnal Natur Indonesia, 4 (1) ISSN 1410-9379

(2002)

atom karbon aromatik yang mempunyai kedudukan ekivalen geseran kimia yaitu C-2 dan C-6 serta C-3 dan C-5. Dari analisis spektrum RMI-13C dapat diambil kesimpulan bahwa jumlah atom karbon adalah 15 sesuai dengan kerangka

flavan-3-ol. Berdasarkan analisis UV, IR, RMI-1H dan RMI-13C dapat diambil kesimpulan bahwa senyawa turunan flavan-3-ol yang teroksigensi pada C-5, 7, 3, 4, 5. Data RMI-13C dari senyawa dihidromirisetin (Gambar. 1) yang

Gambar 1. Struktur senyawa gallokatekin (A), dihidromirisetin (B) dan katekin (C) Tabel 1. Geseran kimia ( ppm ) spektrum RMI-13C senyawa gallokatekin hasil isolasi karbon adalah 15 dengan senyawa dihidromirisetin yang dilaporkan Chien-Chang Shen (1993) C Gallokatekin Dihirdomirisetin 1 131,3 127,1 2 107,0 106,9 3 146,0 145,6 4 133,1 133,4 5 146,0 145,6 6 107,0 106,9 Tabel 2. Geseran kimia ( ppm) spektrum RMI-13C senyawa gallokatekin hasil isolasi dengan senyawa katekin yang dilaporkan (Achmad, S.A.,1999) C Gallokatekin Dihirdomirisetin 2 82,6 82,7 3 68,2 68,3 4 28,4 29,7 5 156,9 157,2 6 95,8 96,1 7 157,4 157,7 8 85,2 95,4 9 156,5 156,9 10 100,4 100,6

Jurnal Natur Indonesia, 4 (1) ISSN 1410-9379

(2002)

mempunyai pola oksigensi yang sama dengan gallokatekin mempertegas posisi atom karbon pada cincin B kerangka senyawa hasil isolasi. Perbandingan pergeseran untuk setiap atom karbon pada cincin B dari hasil isolasi dengan senyawa dihidromirisetin memperlihatkan kesamaan, seperti yang terlihat pada tabel 1, sedangkan untuk cincin A dan C, sebagai pembanding adalah senyawa katekin yang mempunyai kerangka dan pola oksigenasi yang sama (Tabel 2.). Pada Tabel 2 terlihat adanya kesamaan pergeseran untuk setiap atom karbon pada cincin A dan C dari kedua senyawa ini. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa senyawa ini adalah gallokatekin (5,7,3,4,5,-pentahidroksiflavan-3-ol). Penentuan sementara struktur molekul ini sebenarnya harus dibuktikan dengan pengukuran spektrum massa (MS), namun dari analisis data yang ada dan segi perolehan struktur dirasa sudah cukup. Senyawa gallokatekin ditunjukkan oleh struktur pada Gambar 1. KESIMPULAN Berdasarkan analisis data yang diperoleh, dari ekstrak MeOH kulit batang Gluta renghas Linn

telah berhasil diisolasi senyawa flavonoid 5,7,3,4,5,-pentahidroksiflavan-3-ol atau gallokatekin sebanyak 41,1 mg. Dari studi literatur yang kami lakukan senyawa ini (gallokatekin) belum pernah dilaporkan sebelumnya pada spesies Gluta renghas Linn. Penentuan struktur gallokatekin hasil isolasi dilakukan dengan metode spektroskopi antara lain: spektrometri ultraviolet (UV), spektrometri infra-merah (IR), spektrometri resonansi magnet inti proton (RMI-1H) dan spektrometri resonansi magnet inti karbon (RMI13 C). UCAPAN TERIMA KASIH Penelitian ini sebahagian didukung oleh dana Dik Suplemen (DPP-SPP) tahun anggaran 2001 Lembaga Penelitian Univesitas Riau. Terima kasih kami sampaikan kepada Prof. Dr. Hideo Hayashi dan Dr. Unang Supratman dari Osaka Prefecture University, Sakai-Osaka, Jepang, atas bantuan pengukuran spektrum NMR-1H dan NMR-13C. DAFTAR PUSTAKA
Achmad, S.A., Agustini, D.M., Mak mur, L., Ghisalberti, E.L., Hakim, E.H., Syah, Y.M., (1999), Prosiding Seminar Nasional Kimia Bahan Alam 99, Universitas Indonesia, Jakarta.

Jurnal Natur Indonesia, 4 (1) ISSN 1410-9379

(2002)

Backer, H.J., Hack, N.H. (1941), Le Principle toxique du Gluta renghas Linn., Rec. Trav. Chim., Pays-Bas, Netherland, 60, 656660. Heyne, K. (1987), Tumbuhan Berguna Indonesia, a.b. Badan Litbang Kehutanan Jakarta, Jilid III, Yayasan Sarana Warna Jaya, Jakarta. Imamura,H. Ohta,H. Kiriyama, S.Ohashi, H. (1979), Heart Wood constituent of Rengas, gluta sp., Res. Bull. Agr. Gifu. Univ. Japan, Japan, 117-122.

Markham,K.R.,and Geiger,H. (1994), H Nuclear magnetic resonance spectroscopy of flavonoids and their glycosides in heksadeuterodimethylsulfoxide. Didalam Harborn J.B., The Flavonoids: Advances in Reseacsh Scince, Chapman and Hall Limited London. Shen.C-C,Chang.Y-S,Ho L-K. (1993), Nuclear magnetic resonance studies of 5,7 dihidroxyflavonoids, Phytochemistry, 34 (3), 843-845.