Anda di halaman 1dari 19

Paper Pengauditan 1

Enron Case: The Crime, Scandal, and Controversy

Disusun oleh: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Rizal Helga S.F. Maylia Nur R. Nitiya Aryanti Sita Uswatun K. Ratna Yudhiyati Yuanda Sari 10 / 297127 / EK / 17895 10 / 297235 / EK / 17912 10 / 297805 / EK / 17950 10 / 299625 / EK / 18039 10 / 302221 / EK / 18071 10 / 302605 / EK / 18087

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS GADJAH MADA 2012

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Akuntansi, pada dasarnya merupakan sebuah jasa penyedia informasi berupa laporan keuangan yang akan digunakan sebagai alat pengambilan keputusan yang melaui berbagai tahap atau proses yang panjang. Sementara pengauditan meupakan proses asersi, pencocokan antara laporan keuangan dengan standar (kriteria) yang dilakukan secara sistematis dan objektif, yang melalui tahapan atau proses yang lebih panjang dan lebih kompleks. Proses atestasi yang dilakukan dalam pengauditan haruslah reliable, relevant, dan objective. Reliable mengacu pada independensi dan less judgement. Relevant mengacu pada tujuan pengauditan yang dapat diprediksi dan digunakan untuk mengevaluasi. Sedangkan objective mengarah kepada sifat netral, tidak memihak, tidak bias, tidak berprasangka/menduga-duga, dan mampu menghasilkan suatu fakta. Kasus yang terdapat di Perusahaan Enron merupakan salah satu kontroversi dalam proses atestasi dalam pengauditan. Proses pengauditan yang seharusnya indenden, namun dalam kasus Enron justru terdapat banyak keganjilan-keganjilan yang dilakukan oleh auditor eksternalnya, yaitu Arthur Andersen. Fakta yang sesungguhnya terjadi di Perusahaan Enron kemudian mencuat pada akhir tahun 2001, yang menyebabkan kehancuran Arthur Andersen dan ketidakpercayaan publik terhadap independensi auditor menurun drastis.

1.2. Rumusan Masalah 1. Apa peran auditor internal maupun auditor eksternal dalam kebangkrutan Perusahaan Enron? 2. Apa saja kesalahan atau pelanggaran prinsip yang telah dilakukan oleh auditor eksternal dalam kasus Enron? 3. Apa saja dampak kasus Enron terhadap aturan akuntansi maupun audit?

1.3. Tujuan Penulisan 1. Mengetahui peran auditor, baik dari pihak auditor internal maupun auditor eksternal dalam hal kebangkrutan Perusahaan Enron. 2. Mengetahui kesalahan atau pelanggaran prinsip yang dilakukan oleh auditor eskternal dalam kasus Enron. 3. Mengetahui dampak dari kasus yang menimpa Enron baik dari segi akuntansi juga audit.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Hubungan antara akuntansi dan audit Akuntansi melibatkan proses mengidentifikasi, mengukur, merekam, mengklasifikasi, mempengaruhi meringkas, suatu entitas dan melaporkan laporan kejadian-kejadian keuangan. yang

dalam

Manajemen

bertanggung jawab untuk melaporkan dan mengungkapkan peristiwa dan transaksi dalam laporan keuangannya. Audit melibatkan bukti terkumpul untuk memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar dalam semua hal yang material. Auditor bertanggung jawab untuk laporan mereka pada penyajian secara wajar dalam laporan keuangan.

2.2 Sepuluh standar auditing Standar auditing yang dibagi menjadi tiga kelompok: standar umum, standar lapangan kerja, dan standar pelaporan. Poin-poin standar umum auditor 1. pelatihan teknis dan kecakapan 2. independensi 3. perhatian secara profesional Poin-poin standar pekerjaan lapangan 1. perencanaan audit 2. evaluasi entitas dan lingkungannya, termasuk pengawasan internal 3. memperoleh cukup, bukti yang kompeten Poin-poin standar pelaporan 1. apakah laporan keuangan sesuai dengan GAAP 2. apakah prinsip akuntansi yang digunakan adalah sesuai dengan yang digunakan pada tahun-tahun sebelumnya 3. kecukupan pengungkapan 4. ekspresi pendapat oleh auditor

2.3 Tanggung jawab auditor yang disampaikan melalui laporan audit. Auditor harus menggunakan pertimbangan profesional ketika

membuat keputusan mengenai pemilihan bukti untuk mendukung pendapat atas laporan keuangan. Membahas tanggung jawab auditor untuk mendeteksi dan melaporkan baik penipuan dan tindakan ilegal. Tanggung jawab tahunan auditor untuk mengevaluasi sistem entitas pengendalian internal dan ketika keraguan substansial timbul, tentang apakah suatu entitas adalah

mempertahankan kelangsungan hidupnya.

A. Reasonable asurance Konsep keyakinan memadai menyiratkan audit yang melibatkan tes dan juga menyiratkan bahwa laporan keuangan manajemen mencakup perkiraan akuntansi dan tidak tepat.

B.

Mendeteksi dan melaporkan penipuan Pengguna laporan keuangan mengharapkan auditor untuk mencari dan

mendeteksi penipuan. Penipuan, bagaimanapun, adalah tindakan curang yang menyebabkan salah saji material dalam laporan keuangan keuangan statements. Sudah merupakan tugas auditor untuk mendeteksi kemungkinankemungkinan itu. Fraudulent mungkin melibatkan tindakan seperti: Manipulasi, pemalsuan, atau perubahan catatan akuntansi atau dokumen pendukung dari mana laporan keuangan disusun. Keliru dalam, atau kelalaian yang disengaja dari, laporan keuangan peristiwa, transaksi, atau informasi penting lainnya. Disengaja kesalahan penerapan prinsip akuntansi yang berkaitan dengan jumlah, cara klasifikasi, presentasi, atau pengungkapan. Auditor juga memiliki tanggung jawab untuk mengkomunikasikan penemuan penipuan kepada manajemen dan mungkin kepada orang lain. tanggung jawab utama auditor untuk mengkomunikasikan penemuan penipuan adalah sebagai berikut: Setiap kali auditor menentukan bahwa ada bukti bahwa bahkan penipuan kecil ada, masalah ini harus dibawa ke perhatian manajemen, umumnya

setidaknya satu tingkat lebih tinggi daripada tingkat di mana penipuan terjadi. Setiap penipuan yang melibatkan manajemen senior, dan penipuan yang dilakukan pada setiap tingkat yang menyebabkan salah saji material atas laporan keuangan, harus dilaporkan oleh auditor secara langsung kepada komite audit atau dewan direksi. Auditor umumnya dilarang oleh kewajiban etis dan hukum untuk mengungkapkan penipuan luar Entitas. Namun, auditor mungkin diperlukan untuk melakukannya: 1. Dalam menanggapi surat perintah pengadilan pengadilan 2. Dalam menanggapi SEC ketika auditor telah ditarik atau telah dipecat dari pertunangan, atau ketika auditor telah melaporkan penipuan atau tindakan ilegal (didefinisikan di bawah) kepada komite audit atau dewan direksi dan komite atau dewan gagal untuk mengambil tindakan yang tepat. Untuk auditor pengganti yang membuat pertanyaan sesuai dengan persyaratan audit untuk entitas yang menerima bantuan keuangan pemerintah.

C. Mendeteksi dan melaporkan tindakan ilegal Tindakan ilegal mengacu pada tindakan seperti pembayaran suap, pembuatan sumbangan politik ilegal, dan pelanggaran undang-undang khusus lainnya dan peraturan pemerintah. Akan tetapi, tidak semua tindakan ilegal masuk dalam ranah pengawasan auditor. Oleh karena itu, kewajiban auditor hanya mendeteksi tindakan ilegal yang dapat mempengaruhi kualitas informasi keuangan.

D. Evaluasi pengendalian internal Tanggung jawab auditor untuk (1) mengevaluasi pengendalian internal atas pelaporan keuangan dan (2) melaporkan evaluasi ini kepada pemegang saham dan pengguna laporan keuangan lainnya berbeda untuk perusahaan publik versus perusahaan swasta.

BAB 3

PEMBAHASAN

3.1 Profil Perusahaan A. Profil Enron Corporation Enron merupakan suatu perusahaan yang bergerak di sektor energi yang didirikan pada tahun 1985 di Omaha, Nebraska dan berpusat di Houston, Texas, Amerika Serikat oleh Kenneth Lay. Pada awalnya, yaitu tahun 1930 Enron dikenal dengan nama Natural Gas Company, bagian dari Northern American Power ang Light Company, Lone Star Gas Company, dan United Lights and Railways Corporation. Sebelum masa kebangkrutannya, Enron merupakan perusahaan yang sangat terkenal terutama di bidang gas alam, listrik, bubur kertas dan kertas, serta komunikasi dengan jumlah penghasilan yang mencapai $101 Miliar pada tahun 2000. Bahkan, Fortune menobatkan Enron sebagai Perusahaan Amerika Paling Inovatif selama 6 tahun berturut-turut. Enron memproduksi lebih dari 30 jenis produk, future contract untuk beberapa komoditi seperti gula, kopi dan daging, serta jasa pelayanan pengelolaan resiko dan modal baik yang diperdagangkan secara konvensional maupun secara online.

B. Profil Kantor Akuntan Publik Arthur Andersen Kantor Akuntan Publik Arthur Andersen merupakan salah satu firma akuntansi terbesar di Amerika Serikat yang berdiri sejak 1913. Kantor Akuntan Publik tersebut termasuk dalam The Big Five bersama dengan PricewaterhouseCoopers, Deloitte, Ernst & Young, dan KPMG. Arthur Andersen menjadi auditor eksternal Enron sekaligus konsultan

manajemennya dengan bayaran $5 juta untuk biaya audit dan $50 juta untuk biaya konsultasi. Hal inilah yang menyebabkan konflik kepentingan ditubuh Arthur Andersen sendiri, karena pembayaran atas jasa yang dilakukannya terlampau besar, sehingga memunculkan kurangnya independensi dalam proses pengauditan laporan keuangan Enron.

3.2 Kronologi Kebangkutan Enron Pada bagian sebelumnya sudah dibahas tentang profil Enron sebagai salah satu perusahaan terkemuka di bidang energi. Prestasi ini membuat Enron dianggap sebagai salah satu blue chip stock di semua bursa efek dimana ia terdaftar. Pertanyaan yang muncul mungkin adalah bagaimana sebuah perusahaan yang memiliki prestasi baik dapat bangkrut dengan cepat. Akan lebih mudah bagi kita memahami hal ini jika kita mengetahui alur skandal Enron ini. Berikut adalah kronologi kebangkrutan Enron. Pada tahun 1985, Houston Natural Gas bergabung dengan InterNorth, sebuah perusahaan gas alam yang berbasis di Omaha, Neb, membentuk perusahaan modern bernama ENRON. ENRON bergerak dalam bidang listrik, gas alam, dan perusahaan komunikasi dan Kenneth Lay ditunjuk ketua dan kepala eksekutif Enron. Enron mulai perdagangan komoditas gas alam pada tahun 1989. Selama bertahun-tahun, perusahaan ini menjadi pedagang gas alam terbesar di Amerika Utara dan Inggris. Pada bulan Agustus 2000, ENRON mengumumkan harga sahamnya yang mencapai $90,56 dolar dan merupakan harga saham tertinggi sejak ENRON berdiri lima tahun sebelumnya. Gambar 3.1 Kenaikan Nilai Saham Enron

Ternyata, pada Agustus 2001, Jeffrey Skilling mengundurkan diri dari jabatan sebagai CEO di perusahaan ENRON. Pada bulan tersebut juga saham perusahaan ini mengalami penurunan yang sangat drastic dari $90,56 menjadi tidak lebih dari setengahnya.

Gambar 3.2 Penurunan Drastis Nilai Saham Enron

Sherron Watkins, wakil CEO Kenneth Lay, sempat memperingatkan Lay bahwa perusahaan mungkin akan mengalami masalah yang sangat serius pada bidang akuntansi perusahaan. Ia juga mempertanyakan mengapa ENRON mendorong mereka untuk membeli saham perusahaan dan mencegah karyawannya menjual saham mereka. Pada Oktober 2001, Enron menerbitkan laporan keuangan kuarter ketiga. Dalam laporan itu disebutkan bahwa laba bersih Enron telah meningkat menjadi $393 juta, naik $100 juta dibandingkan periode sebelumnya. CEO Enron, Kenneth Lay, menyebutkan bahwa Enron secara berkesinambungan memberikan prospek yang sangat baik. Ia juga tidak menjelaskan secara rinci tentang pembebanan biaya akuntansi khusus (special accounting charge/expense) sebesar $1 miliar yang sesungguhnya

menyebabkan hasil aktual pada periode tersebut menjadi rugi $644 juta. Para analis dan reporter kemudian mencari tahu lebih jauh mengenai beban $1 miliar tersebut, dan ternyata berasal dari transaksi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang didirikan oleh CFO Enron. Akhir Oktober 2001, ENRON mengungkapkan bahwa perusahaan sedang dalam penyelidikan resmi oleh Securities and Exchange Commission dan telah membentuk panitia khusus untuk menangani masalah yang terjadi. Pengungkapan tersebut menyebabkan saham ENRON turun hampir dua pertiga, saham turun kembali menjadi $ 13,90. Satu jam kemudian, saham turun 75 sen menjadi $ 13,15. Pada 14 Maret 2002, departemen kehakiman Amerika memvonis KAP Andersen bersalah atas tuduhan melakukan penghambatan dalam proses

peradilan karena telah menghancurkan dokumen-dokumen yang sedang di selidiki. KAP Andersen saat itu mungkin menjadi sorotan setelah mengungkapkan tentang dokumen yang berkaitan dengan kebangkrutan ENRON. Perusahaan-perusahaan yang dulunya menjadi partner dari Andersen, satu per satu menghentikan kerjasama mereka dan berpindah ke KAP lainnya. Pada 8 April 2002, seorang partner KAP Andersen, David Duncan, yang bertindak sebagai penanggungjawab audit Enron mengaku bersalah atas tuduhan melakukan hambatan proses peradilan dan setuju untuk menjadi saksi kunci dipengadilan bagi kasus KAP Andersen dan Enron. Pada akhirnya, ENRON bangkrut dengan harga saham hanya 26 sen per lembar saham dan juri federal di Houston menyatakan KAP Andersen bersalah telah melakukan hambatan terhadap proses peradilan. 3.3 Peran Auditor Internal maupun Eksternal dalam Kasus Enron Enron telah memanipulasi laporan keuangannya agar kinerja perusahaan terlihat bagus. Salah satu awal pengungkapan fakta ini adalah ketika Sherron Watskin, salah satu eksekutif Enron melaporkan praktek tidak terpuji itu. Dari laporan itu maka yang pertama kali dipersalahkan adalah auditor eksternal Enron, Arthur Andersen, karena dinilai ikut membantu proses rekayasa keuangan tingkat tinggi itu. Peran yang dilakukan oleh Andersen selaku auditor adalah dia mengetahui bagaimana manajemen Enron memarkup laporan tersebut, tetapi Andersen justru menghancurkan berkas-berkas pengauditan yang ada. Hal ini tentu saja menghambat penyelidikan karena bukti-bukti laporan audit menjadi sedikit. Selain itu, Andersen juga dituduh tidak independen dalam melakukan proses audit karena adanya konflik kepentingan. Karena peran auditor internal Enron juga adalah Andersen, dapat dipahami bahwa semua masalah di atas juga terjadi. Kondisi audit internal Enron juga semakin buruk karena komite audit yang ada tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Komite audit hanya bertemu selama beberapa jam setiap tahun walaupun sebenarnya ada banyak masalah yang harus

dibicarakan. Selain itu, komite audit juga tidak dapat bertanya dengan bebas kepada pihak manajemen karena adanya berbagai tekanan.

3.4 Berbagai Kesalahan yang Dilakukan Oleh Auditor Eksternal dalam Kasus Enron Para pengguna laporan keuangan seringkali tergantung kepada laporan auditor independen dalam menilai laporan keuangan sebuah perusahaan. Ketergantungan ini muncul karena seringkali laporan keuangan perusahaan cukup rumit dan memakan waktu untuk dipahami. Oleh karena itu, sudah seharusnya auditor memberikan jaminan kepada setiap pengguna laporan keuangan ketika ia mengeluarkan sebuah laporan audit independen sesuai dengan standar. Pada pembahasan ini kita akan membahas bagaimana Arthur Andersen, dahulu satu dari Big 5 kantor akuntan publik di dunia, melanggar hak para pengguna laporan keuangan Enron karena telah memberikan jaminan palsu dalam laporan auditor independen mereka. Berikut adalah beberapa jaminan penting yang seharusnya diberikan, tetapi ternyata tidak dipenuhi oleh Arthur Andersen sehubungan dengan kasus Enron.

A. Independensi Auditor Independensi adalah jaminan pertama dan utama yang harus diberikan oleh auditor independen. Para pengguna laporan keuangan mempercayai penilai auditor karena jaminan bahwa auditor bertindak secara independen sehingga penilaian yang mereka berikan seharusnya objektif. Namun, pada kenyataannya Arthur Andersen ternyata tidak menjaga independensi antara pihak mereka dengan pihak Enron. Ketidakpercayaan terhadap independensi Arthur Andersen ini dilandasi oleh beberapa fakta yang terungkap ataupun kegiatan yang dilakukan oleh Arthur Andersen sendiri. Berikut adalah beberapa alasannya. Peran Arthur Andersen sebagai konsultan, auditor eksternal, dan auditor internal Enron. Penerimaan Andersen dari jasa audit terhadap Enron ternyata hanya sebesar kurang dari 30% keseluruhan penerimaan yang

10

diperoleh Andersen dari Enron. Sisa 70% ternyata berasal dari jasa konsultan. Auditor seharusnya independen dalam menilai laporan
keuangan perusahaan. Pertanyaannya: apakah Andersen dapat bersikap independen dalam menilai laporan keuangan Enron yang dihasilkan dari jasa Andersen sendiri sebagai konsultan. (Cunningham & Harris, 2006)

Langkah Arthur Andersen menghancurkan berbagai dokumen yang berhubungan dengan proses audit terhadap Enron. Perintah penghancuran dokumen ini dicetuskan pada pertemuan di kantor Houston yang diadakan pada 23 Oktober 2001, sehari setelah Enron menyatakan bahwa S.E.C. telah memulai investigasi mereka. (Oppel, 2002)
Memang tidak ada aturan yang baku tentang berapa lama sebuah kantor akuntan publik seharusnya menyimpan dokumen mereka. Akan tetapi, seharusnya mereka tetap menyimpannya selama beberapa tahun.

Penghancuran dokumen yang merupakan barang bukti dari sebuah kasus adalah sebuah perbuat yang ilegal. (Kadlec, et al., 2002)

B. Jaminan yang Wajar (Reasonable Assurance) Salah satu tanggung jawab auditor yang terpenting dalam melakukan audit adalah memberikan jaminan yang wajar bahwa laporan keuangan tersebut bebas dari kesalahan yang materiil. Perlu dicatat di sini bahwa auditor memberikan jaminan tentang ketiadaan kesalahan materiil, berarti mungkin saja masih ada kesalahan-kesalahan immateriil yang terlewat dari pemeriksaan auditor. Dalam kasus Enron, laporan auditor independen yang dikeluarkan oleh Arthur Andersen ternyata tidak dapat memberikan jaminan tersebut. Berikut adalah deskripsinya. Laporan auditor independen yang disertakan pada Laporan Keuangan Enron Tahun 2000 menyatakan bahwa Arthur Andersen memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian dengan bahasa penjelasan untuk Enron (unqualified opinion with explanatory). Laporan ini tertanggal 23 Februari 2001. Lalu, seperti yang kita ketahui pada tanggal 16 Oktober 2001 Enron melaporkan kerugian pada kuartal ketiga sebesar US$ 638 juta, dimana

11

US$586 juta adalah restatement laporan keuangan lima tahun ke belakang (Roach, 2006). Potongan laporan auditor independen Enron tahun 2000 tercantum di bawah ini. Gambar 3.3 Potongan Laporan Auditor Independen Enron tahun 2000 berkenaan dengan reasonable assurance

Sebelum kepercayaan investor mulai goyah, Andersen menyatakan bahwa berbagai kesalahan yang dilakukan Enron adalah kesalahan immateriil. Pernyataan ini akhirnya terbantahkan bersama dengan pengumuman Kuartal Ketiga tahun 2001 oleh Enron. Deskripsi di atas menjabarkan dengan jelas bagaimana Arthur Andersen telah memberikan jaminan yang keliru pada laporan auditor independen yang dikeluarkan. Kasus ini memberikan contoh saat auditor gagal memberikan reasonable assurance pada pengguna laporan keuangan.

C. Mendeteksi dan Melaporkan Fraud Tanggung jawab lain auditor yang diharapkan oleh pengguna laporan keuangan adalah mendeteksi dan terutama melaporkan fraud yang mungkin dilakukan oleh manajemen perusahaan. Salah satu kategori fraud yang seharusnya masuk dalam lingkup pengawasan auditor adalah kemungkinan Tanggung jawab ini juga yang ternyata gagal dipenuhi oleh Arthur Andersen dalam kasus Enron.

12

Berikut adalah beberapa perlakukan akuntansi yang ternyata memiliki kecenderungan dimanfaatkan Enron sehingga menjadi fraud. Mark-to-market accounting Enron memperdagangkan future contract atas komoditasnya dan mengklasifikasikannya sebagai derivatif. Dengan Mark-to-market

accounting, derivatif tersebut dinilai tidak dengan nilai historisnya, melainkan nilai wajarnya. Enron dapat memanipulasi ini dengan mudah karena ketiadaan pasar aktif untuk kontrak dengan jangka waktu lebih dari 20 tahun seperti yang dimiliki Enron. Akibatnya, Enron dapat mengestimasi nilai derivatif dengan sesuai keinginan. Selain itu, Enron juga mengakui penerimaan dari keseluruhan masa kontrak tersebut di awal masa kontrak, tepat setelah tanda tangan kontrak. Akibatnya, penerimaan yang dicatat Enron terlalu tinggi. Langkah yang dilakukan Enron terhadap komoditasnya seperti yang dijabarkan di atas memang telah disetujui oleh SEC. Akan tetapi, ada sebuah lubang yang tidak tereksploitasi. Penerapan mark-to-market accounting menuntut dilakukannya pengakuan kerugian dan penurunan nilai jika kondisi pasar tidak sesuai dengan harapan. Akan tetapi, Enron menunda atau menolak untuk melakukan penyesuaian tersebut. Andersen tidak mempertanyakan langkah ini maupun menyampaikannya pada pengguna laporan keuangan. (Cunningham & Harris, 2006) Laporan Keuangan sehubungan dengan Spesific Purpose Entity (SPE) Enron memiliki banyak SPE yang didirikan dengan berbagai tujuan. Beberapa memang dimaksudkan sebagai sarana manajemen resiko, tetapi lebih banyak yang digunakan sebagai sarana manipulasi laporan keuangan. Beberapa manipulasi yang dilakukan oleh Enron berhubungan dengan konsep entitas, yakni tentang bagaimana hubungan antara Enron dengan SPE-nya. Kenyataannya Enron melakukan banyak manipulasi. Pertama, Enron tidak mengakui utang SPE padahal utang tersebut digunakan untuk keuntungan Enron. Kedua, Enron mentransfer kerugian

13

investasi yang terjadi kepada SPE-SPE. Ketiga, masalah related-party transaction yang digunakan Enron untuk meningkatkan penerimaannya. (Cunningham & Harris, 2006)

D. Evaluasi terhadap Kontrol Internal Tugas auditor sehubungan dengan penilaian terhadap kontrol internal perusahaan adalah menilai sejauh apa sistem akuntansi klien dapat diandalkan. Hasil penilaian ini seharusnya disampaikan oleh auditor pada Laporan Auditor Independen sehingga pengguna laporan keuangan dapat mengetahui sebaik apa sistem akuntansi perusahaan sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang mereka butuhkan. Sayangnya, dalam kasus Enron lagi-lagi Arthur Andersen gagal memberikan jaminan kepada pengguna laporan keuangan tentang kontrol internal Enron. Untuk membahasnya lebih lanjut berikut adalah potongan Laporan Auditor Independen tentang Kontrol Internal Enron tahun 2000. Gambar 3.4 Potongan Laporan Auditor Independen untuk Kontrol Internal Enron tahun 2000

14

Potongan laporan di atas menunjukkan bahwa Arthur Andersen memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian (unqualified opinion) terhadap kontrol internal Enron. Kenyataannya, Enron memiliki banyak kelemahan dalam kontrol internal mereka. Dua kelemahan yang paling serius adalah tidak bebasnya CFO dari konflik kepentingan dan kebohongan tentang kontrol internal SPE yang ternyata nyaris tidak berfungsi. Selain itu, ternyata masih ada banyak kelemahan lain, seperti lemahnya kontrol terhadap kas kecil, utang off-the-balance-sheet yang berlebihan, dan masih banyak lagi. Sekali lagi, Andersen memilih untuk mengabaikan semua kelemahan ini.

E. Evaluasi terhadap Kemampuan Keberlangsungan Perusahaan (going concern) Seperti yang telah dibahas sebelumnya, Laporan Auditor Independen yang dikeluarkan Andersen memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian pada laporan keuangan Enron tahun 2000. Pengguna laporan keuangan yang mendapatkan informasi ini pastinya beranggapan bahwa Enron memiliki kemampuan untuk terus melanjutkan usahanya, setidaknya sampai satu tahun ke depan. Sayangnya, seperti yang kita ketahui, Enron mengumumkan telah menunjukkan tanda-tanda ketidakberesan selama tahun 2001 dan akhirnya mengumumkan kebangkrutan pada 2 Desember 2001. Permasalahan seperti ini tentunya merupakan muara dari berbagai permasalahan keuangan yang dihadapi Enron sejak tahun-tahun sebelumnya. Sayangnya, Andersen tidak memberikan peringatan tentang kemungkinan kebangkrutan yang dihadapi Enron, bahkan menjamin kemampuan keberlangsungannya. Sekali lagi, Andersen tidak memberikan jaminan yang seharusnya diberikan oleh auditor. Namun, ada hal menarik yang dapat kita bahas tentang masalah ini. Berikut adalah potongan Laporan Auditor Independen Enron tahun 2000.

15

Gambar 3.3 Potongan Laporan Auditor Independen Enron tahun 2000 berkenaan dengan Going Concern ability

Bagian menarik dapat dilihat pada paragraf penjelasan pada Laporan Auditor Independen ini. Auditor menginformasikan bahwa kita perlu memperhatikan beberapa bagian, yakni perilaku akuntansi terhadap kos proyek dan beberapa kontrak terkait transaksi energi dan manajemen resiko perusahaan. Seperti yang sudah dijelaskan panjang-lebar sebelumnya pada bahasan fraud yang dilakukan Enron, masalah-masalah tersebut adalah beberapa masalah utama pada manipulasi laporan keuangan Enron. Menarik mempertimbangkan kemungkinan bahwa Andersen mencoba

menginformasikan masalah-msalah utama yang dihadapi oleh Enron, tetapi tetap memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian.

3.5 Pengaruh Kasus Enron terhadap Dunia Akuntansi dan Pengauditan

16

BAB IV

SIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas, ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil: 1. Auditor eksternal Enron adalah Arthur Andersen. Kesalahn utama yang mereka lakukan adalah membiarkan praktek manipulasi akuntansi yang dilakukan oleh Enron dan memberikan jaminan palsu kepada para pengguna laporan keuangan lewat laporan auditor independen yang mereka keluarkan. Auditor internal Enron tidak dapat berfungsi dengan baik karena Andersen sendiri juga berperan sebagai auditor internal dan tidak berjalannya Komite Audit Enron. 2. Salah satu pelanggaran yang dilakukan Enron adalah memberikan tidak mampu memberikan jaminan standar kepada para pengguna laporan keuangan Enron. Padahal, pemberian jaminan tersebut adalah salah satu tugas terpenting auditor. 3. Kasus Enron ini membuat pengawasan dan penerapan aturan audit dan akuntansi menjadi semakin kuat. Terutama dengan dengan Sarbanes-Oxley Act.

17

DAFTAR PUSTAKA

Boynton, W. C., & Johnson, R. N. (2006). Modern Auditing, 8th edition. John Wiley & Son. Cunningham, G. M., & Harris, J. E. (2006). Enron and Arthur Andersen; The Case of the Crooked E and the Fallen E. Global Perspectives on Accounting Education, Vol.3 , 27-48. Kadlec, D., Weisskopf, M., Zagorin, A., Carney, J., Thomas, C. B., Baumohl, B., et al. (2002, January 13). Enron: Who's Accountable? Retrieved September 14, 2012, from Time: http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1001636,00.html Oppel, R. A. (2002, January 16). ENRON'S COLLAPSE: THE OVERVIEW; ARTHUR ANDERSEN FIRES AN EXECUTIVE FOR ENRON ORDERS. Retrieved September 14, 2012, from New York Times: http://www.nytimes.com/2002/01/16/business/ Roach, B. (2006, November 1). Enron Corporation. Retrieved September 14, 2012, from Eoearth: http://www.eoearth.org/article/Enron_Corporation

18