Anda di halaman 1dari 15

1

Modul 1 Motivasi dan Emosi


I.Motives Kelangsungan Hidup dan Homeostatis
Motives dasar merupakan motives yang tidak dipelajari yang dimiliki oleh manusia dan hewan. Organisme yang lapar akan mengarahkan perilakunya ke arah makanan dan organisme yang haus akan ke arah minum . Motives dasar tersebut tampaknya terdapat dalam beberapa jenis : satu kesesuaian dengan kebutuhan untuk mempertahankan hidup organisme, seperti lapar dan haus. Kedua berkaitan dengan kebutuhan sosial yang berdasarkan biologis seperti seks dan perilaku maternal. Ketiga, melibatkan motives ingin tahu, yang tidak secara langsung berhubungan dengan kesehatan organisme Banyak motives kelangsungan hidup bekerja sejalan dengan prinsip homeostatis. Prinsip homeostatis, yaitu kecenderungan tubuh untuk mempertahankan lingkungan internal tetap konstan saat menghadapi lingkungan eksternal yang selalu berubah. Individu yang sehat mempertahankan temperatur tubuh yang hanya bervariasi satu atau dua derajat, walaupun temperatur lingkungan dapat bervariasi lebih dari 100 derajat. Demikian pula, orang yang sehat mempertahankan jumlah cairan yang relative konstan didalam tubuhnya walaupun kesediaan air di lingkungan mungkin bervariasi secara drastis.

II. Sifat dari Homeostatis


Suatu termostat adalah contoh dari sistem homeostatis mekanis. Fungsi termostat adalah mempertahankan temperatur di lingkungan internal relatif konstan sementara temperatur di lingkungan eksternal bervariasi. Kerja pada termostat menjelaskan banyak hal tentang prinsip homeostatis. Temperatur ruang bertindak sebagai masukan bagi termostat, suatu nilai ideal untuk mempresentasikan temperatur yang dikehendaki, dan suatu komparator untuk membandingkan temperatur yang dirasakan dengan nilai ideal. Jika temperatur yang dirasakan lebih tinggi dari nilai ideal, mekanisme menyalakan alat pendingin ruangan. Hal ini menurunkan temperatur ruang sampai cocok dengan nilai ideal, pada titik mana termostat mematikan alat pendingin.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Sitawaty Tjiptorini MBA, M.PSi PSIKOLOGI UMUM II

2 Inti dari sistem adalah variabel tertentu yang diatur (seperti temperatur ruang dalam contoh termostat). Untuk mengatur regulasi variable ini, system memiliki nilai ideal dari variable, sensor yang mengukur variable, komparator (atau control sentral) dan penyesuaian terprogram yang dibuat oleh system jika variable memiliki nilai diatas atau dibawah ideal (seperti mematikan atau menyalakan alat pendingin ). Kerangka kerja ini memungkinkan kita memahami sejumlah motives manusia. Pada pengendalian temperature tubuh, variable yang diregulasi adalah temperature tubuh; untuk rasa haus, jumlah air didalam sel dan di darah adalah variable yang diregulasi ; untuk rasa lapar, beberapa variable yang diregulasi bersesuaian dengan berbagai sumber energy ( gula darah, lemak, dsb) Kita dapat menggunakan kerangka homeostatis untuk membedakan 2 konsep yang sering diungkapkan dalam diskusi tentang motivasi, yaitu : kebutuhan (need) dan dorongan (drive). Kebutuhan adalah pergeseran fisiologis yang cukup besar dari nilai ideal. Dorongan adalah suatu keadaan sadar yang terjadi akibat kebutuhan. Regulasi temperature merupakan contoh homeostatis. Variabel yang diregulasi adalah temperature darah dan sensornya terletak diberbagai daerah tubuh termasuk hipotalamus. Nilai ideal dan komparator terletak di hipotalamus. Penyesuaian tersebut merupakan respon fisiologis otomatis (misalnya :menggigil) atau perilaku volunteer (seperti memakai pakaian hangat).

III. Rasa Haus sebagai Sistem Homeostatik


Rasa haus adalah motives homeostatis yang lain. Terdapat 2 variabel yang diregulasi yaitu: 1. Cairan Intraseluler; merupakan jumlah air didalam sel tubuh. Penyebab tipikal kehilangan cairan intraseluler adalah lebih tingginya konsentrasi natrium dalam cairan diluar sel dibandingkan didalam sel. Karena natrium tidak dapat menembus membran sel, tekanan untuk menyeimbangkan konsentrasi natrium di kedua sisi membrane menyebabkan air meninggalkan sel (ini dinamakan osmosis). Sel menjadi dehidrasi. Hilangnya cairan intraseluler dideteksi oleh osmoreseptor yang terletak di hipotalamus dan area praoptik yang terletak didepan hipotalamus. Hal ini selanjutnya menyebabkan

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Sitawaty Tjiptorini MBA, M.PSi PSIKOLOGI UMUM II

3 pelepasan hormon antidiuretik (ADH), yang meregulasi ginjal sehingga menyebabkan air direabsorpsi ke aliran darah. 2. Cairan Ekstraseluler, merupakan jumlah air diluar sel tubuh. Cairan ekstraseluler dideteksi oleh sensor tekanan darah dan ginjal.

IV. Rasa Lapar


Rasa lapar merupakan motivator yang kuat. Untuk dapat bertahan hidup manusia harus makan dan manusia makan dengan cara yang sedemikian rupa untuk mempertahankan berat badan. Jadi, sebenarnya apa yang merupakan determinan utama makan ? Riset terakhir mengatakan bahwa manusia secara otomatis memantau jumlah berbagai berbagai nutrien yang dibutuhkan sedang dalam perjalanan dan proses makan dapat dihentikan. Dengan demikian pengakhiran makan ditangani oleh sistem yang berbeda terletak dibagian depan sistem pencernaan dari yang bertanggungjawab untuk pengawalan makan. Dimanakah sensor kenyang untuk rasa lapar ? Sensor kenyang untuk rasa lapar ada di bagian tubuh : 1. Mulut 2. Tenggorokan 3. Lambung 4. Duodenum (bagian usus kecil yang berhubungan langsung dengan lambung) 5. Hati Penelitian mengenai sensor kenyang pada mulut dan tenggorokan dilakukan pada tikus dengan merusak esophagus pada titik persambungannya dengan lambung dan membawa ujung potongan itu keluar tubuh melalui insisi dikulit. Jika hewan tersebut makan, makanan yang ditelannya tidak dapat masuk ke lambung. Dengan demikian sensor kenyang di lambung dan seterusnya tidak terpengaruh. Hewan tersebut akan menelan makanan dengan jumlah yang agak banyak dari normalnya kemudian berhenti makan yang menyatakan bahwa sensor kenyang pastilah ada di mulut dan tenggorokan.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Sitawaty Tjiptorini MBA, M.PSi PSIKOLOGI UMUM II

4 Lambung dan duodenum, memiliki sinyal kenyang. Jika zat makanan diinjeksikan langsung ke lambung seekor hewan yang lapar sebelum diberi makanan, ia akan makan lebih sedikit dari biasanya. Zat makanan yang diinjeksikan langsung ke dalam duodenum juga menyebabkan penurunan makan. Disini sensor kenyang adalah hormone kolesistokinin (CCK). Jika makanan memasuki duodenum, mukosa usus halus bagian atas menghasilkan CCK, yang membatasi kecepatan lewatnya makanan dari lambung ke duodenum. Kadar CCK darah dapat dipantau oleh otak sebagai sinyal kenyang. Hati merupakan organ utama yang menerima nutrien larut dalam air yang berasal dari sistem pencernaan dan dengan demikian reseptor di hati memberikan petunjuk yang akurat bahwa nutrien sedang dicerna. Jika glukosa diinjeksikan langsung ke hati hewan yang lapar, hewan akan makan lebih sedikit. Sensor hati memantau kadar nutrien dalam yang berada di usus dan kemudian mengirimkan informasi ini ke otak.

V. Mekanisme Otak
Terdapat 2 daerah di otak yang penting untuk rasa lapar yaitu : 1. Hipotalamus lateral 2. Hipotalamus ventromedial Kerusakan pada hipotalamus lateral menyebabkan undereating, sedangkan kerusakan pada hipotalamus ventromedial menyebabkan overeating. Salah satu interprestasi efek tersebut adalah daerah ventromedial dan lateral memiliki efek timbal balik pada set point badan. Kerusakan pada ventromedial akan menaikkan set point sedangkan kerusakan pada pada lateral akan menurunkan set point. Interpretasi lain menyatakan bahwa efek tersebut disebabkan karena gangguan traktus saraf yang melewati hipotalamus tersebut.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Sitawaty Tjiptorini MBA, M.PSi PSIKOLOGI UMUM II

VI. Obesitas
Berat badan orang tidak terlalu konstan seperti yang dinyatakan dalam sudut pandang homeostatis. Penyimpangan yang paling sering ditemukan dari regulasi homeostatis makan yang terjadi pada manusia adalah Obesitas. Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan.Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi, sebagai penyekat panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya. Rata-rata wanita memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria. Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria. Wanita dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan pria dengan lemak tubuh lebih dari 25% dianggap mengalami obesitas. Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badannya yang normal dianggap mengalami obesitas. Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok:

Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40% Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100% Obesitas berat : kelebihan berat badan >100%.

Obesitas berat ditemukan sebanyak 5% dari antara orang-orang yang gemuk. Perhatian tidak hanya ditujukan kepada jumlah lemak yang ditimbun, tetapi juga kepada lokasi penimbunan lemak tubuh. Pola penyebaran lemak tubuh pada pria dan wanita cenderung berbeda. Wanita cenderung menimbun lemaknya di pinggul dan bokong, sehingga memberikan gambaran seperti buah pir. Sedangkan pada pria biasanya lemak menimbun di sekitar perut, sehingga memberikan gambaran seperti buah apel. Tetapi hal tersebut bukan merupakan sesuatu yang mutlak, kadang pada beberapa pria tampak seperti buah pir dan beberapa wanita tampak seperti buah apel, terutama setelah masa menopause. Seseorang yang lemaknya banyak tertimbun di perut mungkin akan lebih mudah mengalami berbagai masalah kesehatan yang berhubungan dengan obesitas. Mereka memiliki

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Sitawaty Tjiptorini MBA, M.PSi PSIKOLOGI UMUM II

6 resiko yang lebih tinggi. Gambaran buah pir lebih baik dibandingkan dengan gambaran buah apel. Untuk membedakan kedua gambaran tersebut, telah ditemukan suatu cara untuk menentukan apakah seseorang berbentuk seperti buah apel atau seperti buah pir, yaitu dengan menghitung rasio pinggang dengan pinggul. Pinggang diukur pada titik yang tersempit, sedangkan pinggul diukur pada titik yang terlebar; lalu ukuran pinggang dibagi dengan ukuran pinggul. Seorang wanita dengan ukuran pinggang 87,5 cm dan ukuran pinggul 115 cm, memiliki rasio pinggang-pinggul sebesar 0,76. Wanita dengan rasio pinggang:pinggul lebih dari 0,8 atau pria dengan rasio pinggang:pinggul lebih dari 1, dikatakan berbentuk apel. Obesitas biasanya lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pada pria. Obesitas merupakan bahaya kesehatan yang besar. Ia dapat menyebabkan tingginya insidensi diabetes, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung. Di kultur barat, obesitas juga dapat menjadi stigma sosial karena orang gemuk seringkali dianggap malas dan tidak memiliki kemauan diri.

Penyebab Obesitas
Secara ilmiah, obesitas terjadi akibat mengkonsumsi kalori lebih banyak dari yang diperlukan oleh tubuh. Penyebab terjadinya ketidakseimbangan antara asupan dan pembakaran kalori ini masih belum jelas. Terjadinya obesitas melibatkan beberapa faktor: Faktor genetik. Obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab genetik. Tetapi anggota keluarga tidak hanya berbagi gen, tetapi juga makanan dan kebiasaan gaya hidup, yang bisa mendorong terjadinya obesitas. Seringkali sulit untuk memisahkan faktor gaya hidup dengan faktor genetik. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rata-rata faktor genetik memberikan pengaruh sebesar 33% terhadap berat badan seseorang. Orang menjadi gemuk terutama karena : a. Mereka terpredisposisi secara genetik mengalami kegemukan. Berdasarkan data

statistik menyatakan adanya dasar biologis untuk obesitas. Didalam keluarga dimana kedua orangtua tidak gemuk hanya sekitar 10 % anak yang akan menjadi gemuk; jika salah satu orang tua gemuk sekitar 40 % anak akan gemuk dan juka kedua orangtuannya gemuk, kira-kira 70% anak akan menjadi gemuk.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Sitawaty Tjiptorini MBA, M.PSi PSIKOLOGI UMUM II

Faktor lingkungan. Gen merupakan faktor yang penting dalam berbagai kasus obesitas, tetapi lingkungan seseorang juga memegang peranan yang cukup berarti. Lingkungan ini termasuk perilaku/pola gaya hidup (misalnya apa yang dimakan dan berapa kali seseorang makan serta bagaimana aktivitasnya). Seseorang tentu saja tidak dapat mengubah pola genetiknya, tetapi dia dapat mengubah pola makan dan aktivitasnya.

b. Faktor psikis. Apa yang ada di dalam pikiran seseorang bisa mempengaruhi kebiasaan makannya. Banyak orang yang memberikan reaksi terhadap emosinya dengan makan. Mereka makan terlalu banyak (karena faktor psikologis ). Banyak faktor emosional yang membuat orang banyak makan. Biasanya orang yang mengalami kecemasan atau ketegangan akan membuat orang cenderung makan lebih banyak. Salah satu kemungkinan yang tersebut terjadi adalah saat mereka bayi, pengasuhnya menginterpretasikan semua tanda distress sebagai permintaan akan makan, dengan demikian mereka gagal berespons secara diferensial terhadap kebutuhan dan perasaan yang berbeda misalnya : lapar atau kecemasan. Saat telah dewasa, orang tersebut mengalami kesulitan membedakan rasa lapar dari perasaan lain, termasuk kecemasan dan mereka makan bilamana merasakan emosi. Kemungkinan yang kedua adalah sebagian orang gemuk mungkin berespons terhadap situasi yang mencemaskan dengan melakukan sesuatu yang mereka pelajari sebelumnya dapat memberikan kenyamanan yaitu makanan. Orang tersebut akan makan bila cemas. Salah satu bentuk gangguan emosi adalah persepsi diri yang negatif. Gangguan ini merupakan masalah yang serius pada banyak wanita muda yang menderita obesitas, dan bisa menimbulkan kesadaran yang berlebihan tentang kegemukannya serta rasa tidak nyaman dalam pergaulan sosial. Ada dua pola makan abnormal yang bisa menjadi penyebab obesitas yaitu makan dalam jumlah sangat banyak (binge) dan makan di malam hari (sindroma makan pada malam hari). Kedua pola makan ini biasanya dipicu oleh stres dan kekecewaan. Binge mirip dengan bulimia nervosa, dimana seseorang makan dalam jumlah sangat banyak, bedanya pada binge hal ini tidak diikuti dengan memuntahkan kembali apa yang telah dimakan. Sebagai akibatnya kalori yang dikonsumsi sangat banyak. Pada sindroma makan pada malam hari, adalah berkurangnya nafsu makan di pagi hari dan diikuti dengan makan yang berlebihan, agitasi dan insomnia pada malam hari.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Sitawaty Tjiptorini MBA, M.PSi PSIKOLOGI UMUM II

Faktor kesehatan. Beberapa penyakit bisa menyebabkan obesitas, diantaranya:


o o o o

Hipotiroidisme Sindroma Cushing Sindroma Prader-Willi Beberapa kelainan saraf yang bisa menyebabkan seseorang banyak makan.

Obat-obatan. Obat-obat tertentu (misalnya steroid dan beberapa anti-depresi) bisa menyebabkan penambahan berat badan. Faktor perkembangan. Penambahan ukuran atau jumlah sel-sel lemak (atau keduanya)

menyebabkan bertambahnya jumlah lemak yang disimpan dalam tubuh. Penderita obesitas, terutama yang menjadi gemuk pada masa kanak-kanak, bisa memiliki sel lemak sampai 5 kali lebih banyak dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal. Jumlah sel-sel lemak tidak dapat dikurangi, karena itu penurunan berat badan hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah lemak di dalam setiap sel. Aktivitas fisik. Kurangnya aktivitas fisik kemungkinan merupakan salah satu penyebab utama dari meningkatnya angka kejadian obesitas di tengah masyarakat yang makmur. Orangorang yang tidak aktif memerlukan lebih sedikit kalori. Seseorang yang cenderung mengkonsumsi makanan kaya lemak dan tidak melakukan aktivitas fisik yang seimbang, akan mengalami obesitas. Pengaruh gen diperantarai oleh efeknya pada sel lemak, kecepatan metabolism dan set point. Seperti untuk kerakusan dan obesitas, orang cenderung makan berlebihan bila mereka menghentikan diet, makan lebih banyak jika mendapatkan rangsangan emosional dan lebih responsive dibandingkan individu berat normal terhadap isyarat lapar eksternal.

VII. Anoreksia Nervosa dan Bulimia


Anoreksia dibedakan dengan adanya penurunan berat badan yang ekstrim dan disebabkan oleh diri sendiri. Berdasarkan standar yang dibuat oleh APA (1987), individu harus didiagnosis sebagai anoreksia hanya jika memiliki berat badan sekurang-kurangnya 15 % dari berat badan minimum normalnya. Sebagian penderita anoreksia dalam faktanya memiliki berat badan kurang dari 50 % berat badan normalnya.Untuk wanita dapat didiagnosis sebagai penderita anoreksia selain penurunan berat badan, mereka juga mengalami menstruasi yang Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Sitawaty Tjiptorini MBA, M.PSi PSIKOLOGI UMUM II

9 terhenti. Penurunan berat badan dapat menyebabkan sejumlah efek samping berbahaya termasuk kurus, kerentanan terhadap infeksi dan gejala kurang gizi lainnya. Pada kasus yang ekstrim, efek samping dapat menyebabkan kematian. Anoreksia dua puluh kali lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Penurunan berat badan mungkin diperantarai oleh distorsi citra tubuh, penderita anoreksia secara keliru percaya bahwa ia tampak terlalu gemuk. Kemungkinan penyebab anoreksia antara lain factor kepribadian, penekanan pada masyarakat yang berlebihan pada kekurusan seorang wanita, factor biologis sebagai contoh : disfungsi hipotalamus. Bulimia ditandai oleh episode rekuren pesta makan (binge eating; mengkonsumsi sejumlah besar makanan dalam periode waktu tertentu), diikuti oleh upaya untuk mencahar makan yang berlebihan dengan cara merangsang muntah atau menggunakan laktasif. Berdasarkan survey wanita penderita bulimia menemukan bahwa sebagian besar penderita melakukan pesta makan sekurangnya 1 kali dalam sehari dan rata-rata satu kali makan mengkonsumsi sekitar 4800 kalori. Tetapi karena mereka mencahar setelah pesta makan, berat badan penderita bulimia relative normal; hal ini memungkinkan penderita bulimia menyembunyikan gangguan makan mereka. Tetapi terdapat beban fisiologis yang besar bagi perilaku bulimic; muntah dan pemakaian laksatif dapat mengganggu keseimbangan elektrolit kalsium di dalam tubuh, yang dapat menyebabkan masalah seperti dehidrasi, aritmia jantung dan infeksi saluran kemih. Bulimia lebih sering terjadi dbandingkan anoreksia, diperkirakan 5 sampai 10 persen wanita Amerika mengalami bulimia dalam suatu tingkatan. Kemungkinan penyebab terjadinya bulimia adalah dari faktor kepribadian, biologis dan sosial. Berkaitan dengan factor kepribadian, dokter yang merawat penderita bulimia sering melihat penderita tidak memiliki rasa percaya diri dan rasa identitas. Depresi tampaknya sering ditemukan pada penderita bulimia. Penderita mungkin menggunakan makanan untuk memuaskan perasaan kehampaan dan kekosongan dalam diri mereka. Dilihat dari factor biologis dalam bulimia ditemukan adanya keterkaitan antara bulimia dan depresi. Diduga bahwa suatu gangguan kimiawi tertentu yang sama yang mendasari depresi mungkin pula menjadi dasar beberapa kasus bulimia; sebagai contohnya deficit neurotransmitter serotonin mungkin berada dibelakang depresi dan bulimia.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Sitawaty Tjiptorini MBA, M.PSi PSIKOLOGI UMUM II

10 Untuk factor social sering kali gangguan ini sering diduga sebagai penekanan berlebihan kultur masyarakat sekarang terhadap wanita yang lebih kurus. Namun, sebagian wanita penderita bulimia sangat eksplisit bahwa gangguan mereka merupakancara untuk memecahkan masalah bagaimana makan banyak makanan kalori tinggi namun tetap ramping sesuai dengan kecenderungan norma cultural sekarang.

VIII. Seksualitas Dewasa


Dorongan seksual dan dorongan maternal merupakan motivator yang sangat kuat. Dorongan seksual kadang-kadang sangat kuat sehingga menjadi suatu obsesi dan dorongan keinginan ibu/ayah untuk melindungi keturunannya dapat sangat kuat sehingga membuatnya tidak sensitive terhadap nyeri. Berkaitan dengan seks, 2 perbedaan penting harus diketahui, yaitu : 1. Berasal dari fakta bahwa walaupun kita mulai mengalami kedewasaan seksual pada saat pubertas, dasar-dasar untuk identitias seksual telah dibentuk sejak dalam kandungan. Dengan demikian kita membedakan antara seksualitas dewasa (dimulai dengan perubahan-perubahan yang terjadi saat pubertas) dan perkembangan seksual dini. 2. Perbedaan antara determinan biologis dan lingkungan dari perilaku atau perasaan seksual. Bagi banyak aspek perkembangan seksual dan seksualitas dewasa, pertanyaan dasar adalah bagaimana besarnya perilaku atau perasaan tersebut sebagai produk biologi terutama hormone atau lingkungan dan belajar pengalaman awal dan norma seksual atau interaksi antara keduanya.

PERUBAHAN PERUBAHAN SAAT PUBERTAS Saat pubertas kira kira usia 11 14 tahun, perubahan hormon menyebabkan perubahan tubuh yang berfungsi membedakan pria dari wanita. Sistem hormonal yang terlihat di ilustrasikan dalam gambar 1.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Sitawaty Tjiptorini MBA, M.PSi PSIKOLOGI UMUM II

11

Ide umum adalah bahwa kelenjar endokrin membuat hormone (kurir kimiawi), yang Gambar 1 berjalan melalui aliran darah ke organ sasaran. Proses dimulai dari hipotalamus saat ia mensekresikan gonadotropin-releasing factors, kurir kimia tersebut menyebabkan kelenjar hipofisis memproduksi gonadotropin yang merupakan hormone dengan sasaran adalah Gonad ovarium dan testis. Terdapat dua jenis gonadotropin. Salah satunya dinamakan : Follicle Stimulating Hormone (FSH). Pada wanita, FSH mempengaruhi perkembangan folikel, kelompok sel di ovarium yang mendukung pertumbuhan sel telur dan yang mmensekresikan hormone wanita estrogen. Pada pria, FSH menstimulasi produksi sperma di testis. Gonadotropin lainnya yng dihasilkan oleh kelenjar hipofisis dinamakan Luteinizing Hormone (LH) pada wanita dan Interstitial cell Hormone (ICSH) pada pria. Sekresi LH menyebabkan ovulasi, pelepasan sel telur matur dari folikrel dan kemudian menyebabkan folikel yang telah ruptur untuk mensekresikan progesteron, homon wanita lainya. ICSH ekuivalen pada pria, menstimulasikan produksi hormone pria angdrogen. Walaupun sejumlah istilah teknik telah disebutkan disini, skema dasarnya sederhana : melalui hormon, hipotalamus mengatur kelenjar hipofisis, yang selanjutnya mengatur gonad.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Sitawaty Tjiptorini MBA, M.PSi PSIKOLOGI UMUM II

12 Hormon yang dihasilkan gonad, estrogen dan progesterone, dan androgen dinamakan hormone seks. Hormon hormon tersebut bertanggung jawab untuk perubahan tubuh saat pubertas.Pada wanita, strogen menyebabkan perkembangan payudara, perubahan distribusi lemak tubuh yang menghasilkan bentuk tubuh lebih feminine dan maturasi genitalia wanita. Pada pria testoteron (salah satu jenis androgen) bertanggung jawab untuk pertumbuhan rambut wajah, ketiak dan pubis juga menyebabkan merendahnya suara perkembangan otot yang menghasilkan bentuk tubuh lebih maskulin, dan pertumbuhan genetalia eksternal.

EFEK HORMON PADA GAIRAH DAN RANGSANGAN SEKSUAL Apa peran hormon dalam gairah dan rangsangan seksual dewasa? Pada spesies lain, dorongan seksual berhubungan erat dengan variasi kadar hormonal; pada manusia, hormon memiliki peranan yang lebih kecil. Salah satu cara untuk menilai kontribusi hormon dalam dorongan seksual adalah dengan mempelajari efek katrasi. Pada pria, katrasi biasanya dilakukan dengan mengangkat testis, yang menghilangkan produksi hormon seks. Katrasi menyebabkan penurunan cepat dan akhirnya menghilangnya aktivitas seksual. Cara lain untuk menilai kontribusi hormon terhadap dorongan seksual pada pria adalah mencari hubungan antara fluktuasi hormonal dan minat seksual. Sebagai contohnya apakah seorang pria lebih mungkin merasa terangsang jika kadar testosterone dalam tubuhnya sedang tinggi? Di ketahui bahwa kadar testostron mungkin tidak memiliki pengaruh pada rangsangan seksual yang dinyatakan dengan kemampuan untuk mengalami ereksi tapi berpengaruh pada gairah seksual yang dinyatakan dengan fantasi seksual.(Davidson, 1988). [Tetapi, determinan utama gairah seksual pada pria tampaknya faktor emosional, jadi bagi pria (serta wanita), penyebab tersering menurunnya gairah seksual pasangan yang mencari bantuan terapi seks adalah konfilik perkawinan (Goleman, 1988)]. Tidak adanya pengaruh hormonal pada rangsangan seksual bahkan lebih jelas lagi pada wanita. Setelah menopause (saat ovarium telah berhenti berfungsi), gairah seksual pada sebagian besar wanita tidak menurun. Dalam faktanya, sebagian wanita mengalami peningkatan gairah seks setelah mengalami menopause, karena mereka sudah tidak lagi mengkhawatirkan kehamilan. Hormon memiliki pengaruh pengendalian yang cukup kuat terhadap rangsangan pada spesies rendah tetapi tidak pada manusia.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Sitawaty Tjiptorini MBA, M.PSi PSIKOLOGI UMUM II

13 Pengalaman Awal Lingkungan memiliki pengaruh besar pada seksualitas dewasa, salah satu determinan adalah pengalaman awal. Pengalaman sedikit berpengaruh pada prilaku kawin mamalia yang lebih rendah tikus yanh tidak berpengalaman akan berkopulasi sama efektifnya dengan tikus yang berpengalaman tetapi merupakan determinan penting dalam perilaku seksual mamalia yang lebih tinggi. Penyimpangan Seks, pada manusia masalah seksual lain yang berkaitan dengan pengalaman awal adalah penyimpangan atau PARAFILIA. Banyak orang yang mungkin dianggap parafilia minor sebagai contohnya : menjadi terangsang dengan wangi wangian tertentu, atau oleh pakaian tertentu HOMOSEKSUALITAS Istilah homoseksual pada dapat diterapkan biasanya pada pria maupun wanita, tetapi

homoseksualitas

wanita

dinamakan

lesbian.

Individu

dianggap

homoseksual jika secara seksual tertarik terutama kepada individu berjenis kelamin sama. Pandangan Kinsey bahwa homoseksualitas bukan suatu masalah dan atau; perilaku seksual jatuh didalam suatu kesinambungan, dengan individu heteroseksual secara eksklusif dan homoseksual secara eksklusif diujung rangkaian, dan berbagai campuran prilaku seksual diantaranya. Menurut suatu perkiraan, hanya sekitar 4 persen pria yang menjadi homoseksual secara eksklusif.

Homoseksualitas dan kesehatan mental


Sampai munculnya revolusi seksual pada akhir 1960-an, homoseksualitas dianggap suatu penyakit mental atau penyimpangan abnormal. Dalam sebagian penelitian kesehatan mental, homoseksual dipandang sama baiknya seperti heteroseksual dalam bidang kehidupan lain (Bell & Weinberg, 1978). Stabilitas pekerjaan dan kepuasan pekerjaan sama dengan individual heteroseksual. Dibidang kehidupan lain, homoseksual kurang beruntung. Mereka melaporkan dirinya sering merasa tegang dan depresi dibandingkan kelompok heteroseksual yang setara. Interaksi seksual dengan individu berjenis kelamin sama tidak jarang terjadi selama masa anak- anak, tetapi hanya sebagian kecil individu yang menjadi homoseksual secara eksklusif saat dewasa. Wawancara luar dengan homoseksual menyatakan bahwa mereka

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Sitawaty Tjiptorini MBA, M.PSi PSIKOLOGI UMUM II

14 tidak berbeda dari heteroseksual dalam identifikasinya dengan orangtua lawan jenis. Bagi homoseksual eksklusif, mungkin terdapat predisposisi biologis. Hormon prenatal penting untuk perkembangan seksual. Jika kelenjar seks embrionik menghasilkan cukup androgen, bayi akan memiliki genitalia laki- laki; jika tidak terdapat cukup androgen bayi akan memiliki genetalia perempuan, walaupun secara genetik adalah laki laki. Pada kasus dimana ketidakseimbangan hormonal menghasilkan hermafrodit (individu yang lahir memiliki jaringan laki laki dan perempuan), label dan peran jenis yang dipilih saat membesarkan individu tersebut tampaknya memiliki pengaruh lebih besar terhadap identitas jenis dibandingkan gen dan hormon. Pada hewan yang lebih rendah, prilaku maternal tampaknya terprogram secara bawaan dan dipicu oleh hormon. Tetapi, pada primate dan manusia perilaku maternal sangat d pengaruhi oleh pengalaman. Kera yang dibesarkan dalam isolasi tidak menunjukkan perilaku maternal yang lazim saat mereka kemudian menjadi induk. Manusia dan hewan tampaknya memiliki motives ingin tahu bawaan untuk

nebgeksplorasi dan memanipulasi objek. Manupulasi objek memberikan kepada organism itu masukan sensorik yang berubah ubah, dan penelitian Deprivasi Stimulik Sensorik menunjukkan bahwa tidak adanya perubahan masukan dapat mengganggu fungsi persepsi dan intelektual normal. Ahli psikologi dahulu yakin bahwa semua motives dasar bekerja mengikuti prinsip penurunan dorongan, prinsip yang menyatakan bahwa semua motives diarahkan untuk menurunkan ketegangan. Tetapi penurunan dorongan tidak menawarkan penjelasan yang memuaskan terhadap motives seks atau motives ingin tahu. Prinsip yang lebih menjanjikan adalah organism mencari tingkat rangsangan yang optimal.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Sitawaty Tjiptorini MBA, M.PSi PSIKOLOGI UMUM II

15

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Sitawaty Tjiptorini MBA, M.PSi PSIKOLOGI UMUM II