Anda di halaman 1dari 24

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1.

Dasar teori Dalam teknologi pengerjaan logam dalam suatu proses industri kita mengenal istilah Electroplating. Electroplating dalam suatu proses industri pengolahan logam dikategorikan sebagai suatu proses pengerjaan akhir atau yang dikenal dalam bahasa inggris metal finishing. Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan electroplating itu sendiri? Electroplating adalah suatu proses dalam industri yang memanfaatkan logam. Dalam hal ini electroplating melapisi suatu material dengan partikel suatu logam dengan bantuan arus listrik, atau yang dikenal sebagai pelapisan logam. Pelapisan logam dapat berupa lapis seng (zink), galvanis, perak, emas, brass, tembaga, nikel dan krom. Penggunaan lapisan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan kegunaan masing-masing material. Perbedaan utama dari pelapisan tersebut selain anoda yang digunakan, adalah larutan elektrolisisnya. Dalam penelitian yang baru belakangan ini (tahun 2004), dilakukan oleh Tadashi Doi dan Kazunari Mizumoto, mereka menemukan larutan baru (elektrolisis) yang dinamakan larutan citrate ( kekerasan deposit mencapai 440 VHN) Proses electroplating mengubah sifat fisik, mekanik, dan sifat teknologi suatu material. Salah satu contoh perubahan fisik ketika material dilapis dengan nikel adalah bertambahnya daya tahan material tersebut terhadap korosi, serta bertambahnya kapasitas konduktifitasnya. Adapun dalam sifat mekanik, terjadi perubahan kekuatan tarik maupun tekan dari suatu material sesudah mengalami pelapisan dibandingkan sebelumnya. Karena itu, tujuan pelapisan logam tidak luput dari tiga hal, yaitu untuk meningkatkan sifat teknis/mekanis dari suatu logam, yang kedua melindungi logam dari korosi, dan ketiga memperindah tampilan (decorative). II-1

II-2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Ilmu Pelapisan logam memiliki praktek dan teori yang berasal dari banyak cabang ilmu pengetahuan dan teknologi. Didalam elektrokimia terdapat banyak cabang-cabangnya dan pelapisan logam ternasuk didalamnya yang merupakan proses kimia yang menimbulkan listrik. Lapisan logam merupakan susunan logam yang didalamnya terdapat berbagai lapisan yang juga mempunyai sifat berbeda-beda. Logam merupakan semua bahan tambang yang sulit bersenyawa dengan asam dan bersifat keras. Selain logam mudah mengalami korosi, logam juga berasal dari mineral. Elektrokimia mempelajari reaksi redoks ( perpindahan elektron ). Reaksi redoks selalu disertai pembebasan energi berupa panas yang ditandai oleh naiknya suhu larutan. Contohnya bila dua buah lempeng logam misalnya besi dan tembaga yang dimasukkan dalam larutan elektrolit ( misalnya CuSO4) akan terjadi antara logam dan besi, tembaga dan larutan elektrolit CuSO4 yang disebut element elektokimia. 1. PENYEPUHAN Penyepuhan (elektroplating) bertujuan untuk melindungi logam terhadap korosi atau untuk memperbaiki penampilan. Ketika proses penyepuhan terjadi, logam yang disepuh dijadikan katoda sedangkan logam penyepuhnya sebagai anoda lalu kemudian dicelupkan ke dalam larutan garam dari logam penyepuh. Contoh penyepuhan yaitu proses penyepuhan sendok aluminium oleh perak. Logam yang akan dilapisi (sendok) dipakai sebagai katode, sedangkan logam pelapis (perak) dipakai sebagai anode. Suatu larutan garam perak, misalnya larutan AgNO3, dipakai sebagai elektrolit. Perak (anode) akan teroksidasi menjadi ion Ag+ yang larut. Kemudian, ion Ag+ ini mengalami reduksi menjadi logam perak kembali, yang kini diendapkan pada permukaan sendok (katode). 2. SEL ELEKTROKIMIA Sel elektrokimia digunakan untuk dua hal : - mengubah energi kimia menjadi energi listrik LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA - mengubah energi listik menjadi energi kimia sebagai suatu contoh yang pertama, baterai dan aki pada kendaraan bermotor merupakan dua dari berbagai macam contoh penggunaan sel elektrokimia dalam mengubah energi kimia menjadi energi listrik, serta proses Strom accu yang biasa dilakukan di bengkel kendaraan bermotor yang berguna untuk mengaktifkan atau memperbaiki aki yang telah rusak merupakan contoh dari penggunaan sel elektrokimia dalam mengubah energi listrik menjadi energi kimia. Dalam mempelajari sel elektrokimia perlu diperhatikan tentang pengertian dari perbedaan sel dan baterai. Sebuah sel dalam elektrokimia terdiri dari 2 elektroda, energi listrik yang dihasilkan dari sel bergantung pada reaksi kimia antara kedua elektroda. Dan sebaliknya energy kimia yang dihasilkan dari sel bergantung pada electron yang bergerak dalam kedua elektroda itu. Baterai dalam hal ini merupakan kombinasi dari 2 atau lebih sel yang dirangkai seri maupun pararel. Jadi semisal terdapat baterai bertegangan 6 volt itu setara dengan 3 sel bertegangan 2 volt yang dirangkai seri. a. Reversible dan irreversible sel Dalam memehami energy yang dihasilkan dari sel dikenal istilah reversible dan irreversible. Reaksi sel elektrokimia yang disebut reversible adalah reaksi elektrokimia yang bias dibalik bila ada tenaga luar yang sedikit sekali lebih besar. Contoh: Zn/Zn Cl2/Ag Cl/Ag Diketahui sel terdiri dari zinc dan perak klorida dalam kedua elektrodanya, keduanya akan membentuk larutan zinc klorida. Ketika kedua elektroda dihubungkan menjadi suatu sistem sel maka akan terjadi aliran elektron dari elektroda zinc menuju elektroda perak klorida, selama proses ini zinc berubah menjadi ion zinc dan pada elektroda lain terjadi reaksi AgCl = Ag+ + ClLABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dan reaksi pada kedua elektroda adalah: 0.5 Zn(s) + AgCl = Ag(s) + 0.5 Zn2+ + ClReaksi ini akan berlangsung selama energi aliran elektron dalam elektroda tetap seperti itu. Namun bila aliran elektron berubah arah maka reaksi akan berlangsung sebaliknya. Ag(s) + 0.5 Zn2+ + Cl- = 0.5 Zn(s) + AgCl Dan reaksi sel elektrokimia yang disebut dengan reaksi irreversible adalah reaksi yang membutuhkan tenaga yang besar untuk agar reaksinya berbalik. Contoh : Zn + H2SO4 ZnSO4 + H2 Bila ada tenaga luar : 2Ag (s) + + H2SO4 Ag2SO4n + H2 ini berarti tidak dapat berjalan reversibel meskipun adanya tenaga luar menyebabkan terjadinya reaksi. Electromotive Force (EMF) Dalam pelajaran elektronika kita telah mengetahui sifat atau suatu kondisi dimana suatu aliran listrik terjadi atau bagaimana suatu electron dapat berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Hal ini dikarenakan perbedaan energy potensial antara kedua tempat itu. Jika tidak ada suatu perbedaan energy potensial maka tidak aka nada electron atau aliran listrik yang mengalir. Dalam sel elektrokimia agar electron dapat mengalir dari elektroda yang satu ke elektroda lainya haruslah ditimbulkan suatu perbedaan energy potensial dari kedua electron itu. Dan alasan mengapa electron mau mengalir antara kedua

b.

LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA elektroda karena perbedaan energy potensial disebut dengan electromotive force atau EMF. Dalam mengukur energy potensial pada umumnya kita menggunakan volt meter yang dihubungkan pada dua tempat untuk mengetahui energy potensial dari kedua tempat itu, dan nilai perbedaan energy potensial dapat dilihat langsung dari voltmeter, bila kita melakukan hal ini pada kabel listrik. Bila hal ini kita lakukan pada suatu sel elektrokimia maka hal yang perlu diperhatikan mengapa voltmeter dapat mengukur perbedaan energy potensial adalah dia menggambarkan suatu perubahan EMF yang bergantung pada formasi dari reaksi produk dan perubahan konsentrasi dalam kedua elektroda. Hukum Faraday Pada tahun 1831-1832, Michael faraday menemukan hubungan kuantitatif antara massa zat yang dibebaskan pada elektrolisis dengan jumlah listrik yang digunakan Hukum Faraday I : Massa zat yang dibebaskan pada elektrolisis (G) berbanding lurus dengan jumlah listrik yang digunakan (Q) G = Q = i.t (hokum coulumb)

c.

Hukum Faraday II : Massa zat yang dibebaskan pada elektrolisis (G) berbanding lurus dengan massa ekuivalen zat itu (ME)

Apabila listrik yang sama banyak dialirkan ke dalam dua atau lebih sel elektrolisis yang berbeda, maka perbandingan massa ekuivalennya. LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Penggabungan hokum menghasilkan persamaaan : faraday I dan II

Faraday menemukan harga faktor pembanding

Jad ipersamaan diatas dapat dinyatakan sebagai berikut :

d.

Dengan, G = Massa zat yang dibebaskan (gr) I = Kuat arus (A) T = Waktu (s) ME= massa ekuivalen Sel reaksi dan EMF dalam mempelajari sel elektrokimia yang dipelajari tidak hanya EMF dari sel elektrokimia tersebut melainkan juga reaksi yang ada didalamnya. Jenis reaksi yang terjadi dalam suatu sel elektrokimia dapat disimpulkan dari penghubungan kedua elektroda secara standart di dalam sel elektrokimia untuk mendapatakan keseimbangan di potensiometer. Dalam kondisi ini perlu diperhatikan bahwa elektroda yang dipasang di posisi negative disebut elektroda negative, dan sebaliknya bila elektroda yang dipasang di posisi positive maka disebut dengan elektroda positive. Dan karena elektroda negative memiliki lebih banyak electron daripada elektroda positif maka electron mengalir dari elektroda negative menuju positive. Jenis reaksi yang berlasung dalam sel elektrokimia adalah tergantung pada jenis elektroda yang dipakai, namun dalam sel elektrokimia terjadi perpindahan electron dari LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA negative menuju positive. Dalam pelajaran kimia reaksi yang melibatkan perpindahan electron disebut dengan reaksi redoks, atau reaksi oksidasi dan reduksi. Dalam reaksi di sel elektrokimia oksidasi berada pada elektroda negative yang melepaskan electron menuju elektroda positif, dan reduksi berada pada elektroda positif dimana electron diterima. dengan menambahkan elektroda negative yang mengalami oksidasi dengan elektroda positif yang mengalami reduksi kita bias mendapatkan reaksi dari sel. Dalam sel elektrokimia EMF dikenal dengan nama Esel, Esel adalah nilai dari perbedaan energy potensial dalam reaksi di sel elektrokimia. Esel setiap zat berbeda tergantung pada zat itu sendiri, sebagai suatu contoh Esel Zn (Zinc) bernilai Esel = 0.3590 dalam suhu 25oC. dalam sel elektrokimia terdapat dua elektroda yang berbeda rumus kimianya yang akan direaksikan dalam sel, dalam hal ini penghitunggan Esel total adalah sebagai berikut : Misal Reaksi adalah : Zn/Zn Cl2/Ag Cl/Ag Atau dalam reaksi kimia : Zn(s) + AgCl = Ag(s) + ZnCl2 Dalam reaksi ini Zn yang memiliki biloks nol berubah menjadi ZnCl2 yang memiliki biloks 2+. Sedangkan AgCl yang memiliki biloks 1+ berubah menjadi Ag yang memiliki biloks nol. Dalam hal ini Zn mengalami oksidasi dan Ag mengalami reduksi. Ag dan Zn memiliki nilai Esel yang berbeda dan untuk mendapatakan nilai Esel reaksi digunakan : Esel = Esel Reduksi - Esel Oksidasi Bila Esel Ag adalah A dan Esel Zn adalah B maka : Esel = A-B LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA e. Penurunan energy bebas (G) Dalam reaksi sel elektrokimia terdapat penurunan energy yang bebas saat reaksi. Energy ini dinyatakan dalam G yang mana G bernilai sebagai : G = -n F Esel Nilai penurunan energi yang bebas harus sebanding dengan elektron yang digunakan dalam satuan coloumb atau Q. menurut hukum Faraday Q = nF dengan F adalah bilangan Faraday yang telah dijelaskan diatas. Nilai minus hanya berlaku pada saat reaksi sel elektrokimia berlangsung reversible dan berlangsung secara spontan. Jika reaksi berlangsung spontan maka nilai Esel adalah + dan nilai penurunan energi bebas akan negatif. Namun bila reaksi tidak berjalan spontan maka nilai Esel bernilai negatif dan nilai penurunan energi bebas akan positif. Namun dalam reaksi kesetimbangan baik Esel maupun penurunan energi bebas bernilai = 0.

3. ELEKTROLISIS Penguraian suatu elektrolit oleh arus listrik disebut elektrolisis.Reaksi elektrolisis tergolong reaksi redoks tidak spontan. Reaksi itu dapat berlangsung karena pengaruh energi listrik. Jadi, pada elektrolisis terjadi perubahan energi listrik menjadi energi kimia. Elektron (listrik memasuki ) larutan melalui kutub negatif (katoda). Spesi tertentu dalam larutan menyerap elektron dari katoda dan mengalami reduksi. Sementara itu, spesi lain melepas elektron di anoda dan mengalami oksidasi. Jadi sama seperti sama sel volta, reaksi di katoda adalah reduksi sedangkan reaksi di anoda adalah oksidasi. Akan tetapi muatan elektrodanya berbeda. Pada sel volta, katoda bermuatan positif sedangkan anoda bermuatan negatif. Pada sel elektrolisis katoda

LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA bermuatan negatif sedangkan anodanya bermuatan positif . Adapun reaksi-reaksi pada elektrolisis adalah : Reaksi-reaksi di katoda Reaksi dikatoda tergantung pada jenis kation dalam larutan. Jika kation berasal dari logam-logam aktif (logam golongan IA, IIA, Al atau Mn ) yaitu logam-logam yang potensial elektrodenya lebih kecil (lebih negatif dari pada air) maka air yang tereduksi. Contohnya : Pada elektrolisis larutan NaCl (kation Na+), air yang tereduksi bukannya ion Na+ Pada elekrolisis larutan CuSO4 (kation Cu2+). Ion Cu2+ yang tereduksi.
(Kimia 2000, Michael purba, 2003. halaman 74)

Katoda merupakan kutub negatif yang terjadi reaksi reduksi yang dapat berupa pengendapan logam atau timbulnya gas H2. Bila untuk reaksi ini diperlukan E lebih rendah dari pada untuk timbulnya H2 maka gas tersebut tidak timbul dan zat yang tadi disebut depolarisator. Kecuali ion dengan bilangan oksidasi diatas ada depolarisator yang bereaksi dengan H seperti : NaNO3 + 2 H NaNO3 + H20 C6H5NO2 + 6H C6H5NH2 + 2H2O Reaksi yang lain di katoda : MnO4- MnO42CrO42- Cr3+ Quinone Hidroquinone Nitrobenzena Anilin, dan sebagainya. (Kimia Fisika, Sukardjo, 2002 , halaman 436-437) Kation : - Logam aktif (Golongan IA, IIA, Al, Mn) : Air yang tereduksi Reaksinya : 2H2O (l) + 2e H2 (g) + 2OH- (aq) - Kation lain : Kation tereduksi yaitu 2H+ (aq) +2e H2 (g) LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Lx+ (aq) + Xe L (S)


(Kimia 2000, Michael Purba, 2003, halaman 74)

Reaksi-reaksi di anoda Elektroda negatif (katoda) tidak mungkin ikut bereaksi selama elektrolisis karena logam tidak ada kecenderungan menyerap electron ion negatif. Akan tetapi, elektrode positif (anoda) mungkin saja ikut bereaksi, melepas electron dan mengalami oksidasi kecuali Pt dan Au, pada umumnya logam mempunyai potensial iksidasi lebih besar daripada air atau anion sisa asam. Oleh karena itu, jika anoda tidak terbuat dari Pt, Au atau grafit, maka anoda itu akan teroksidasi. L (s) LX+ (aq) + Xe Elektrode Pt, Au dan grafit (c) digolongkan sebagai electrode inert (sukar bereaksi). Jika anoda terbuat dari electrode inert, maka reaksi anoda bergantung pada jenis anion dalam larutan. Anion sisa asam oksidasi seperti SO42-, NO3- dan PO43- mempunyai potensial oksidasi lebih negatif daripada air. Anion-anion seperti itu sukar dioksidasi sehingga air yang teroksidasi. 2H2O (l) 4H+ (aq) + O2 (g) + 4e Jika anion lebih mudah dioksidasi dari pada air, seperti Brdan I- maka anion itu yang teroksidasi. Reaksi di anoda bergantung pada jenis anoda dan anion. -Jika anoda Inert (Pt, Au, C ) anion : sisa asam oksidasi air yang teroksidasi dan sisa asam lain atau OH- anion yang teroksidasi. -Jika anoda tak inert : Anoda yang teroksidasi L (s) LX+ (aq) +Xe Di anoda yang merupakan kutub positif terjadi oksidasi yang dapat berupa pelarutan logam tau timbulnya gas O2. Bila untuk reaksi ini diperlukan E lebih rendah dari pada untuk timbulnya O2 maka gas tersebut tidak timbul dan zat tadi di sebut depolarisator . LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Kecuali ion dengan bilangan oksidasi diatas, ada depolarisator yang bereaksi dengan O seperti :C2H5OH + 2O CH3COOH + H2O Oksidasi di anoda Fe 2+ Fe3+ Sn2+ Sn4+ MnO4- MnO4Cr3+ CrO42[Fe(CN)6]4- [Fe(CN)6]3Pelarutan logam dianoda Bila sebagai anoda di pakai Pt pada elektrolisis menghasilkan O2, yang timbul selalu gas ini. Tetapi bila logamnya lebih aktif ada dua kemungkinan : -Terjadinya O2 -Pelarutan logam Hal ini tergantung dari E logam dan E O2. Umumnya reaksi pelarutan logam reversible. Hanya untuk Fe, Ni dan Co terdapat overvoltage 0,3-0,4 volt. Bila rapat arus naik, E logam juga naik, arus dalam larutan turun dan pelarutan logam berhenti. Pada potensial yang tinggi O2 mulai timbul. Ni lebih mudah menjadi pasif dari pada CO dan CO lebih pasif dari pada Fe. Pasifnya logam-logam disebabkan karena lapisan oksida pada permukaan. (Kimia Fisika, Sukardjo, 2002 , halaman 435-437) Cell elektrokimia dapat mempunyai dua fungsi : a). Mengubah tenaga kimia menjadi tenaga listrik b). Mengubah tenaga listrik menjadi tenaga kimia Misalnya : a). Cell kering, accumulator b). Pengisian accu, elektrolosis Cell ialah susunan dua elektroda dengan elektrolit yang menghasilkan tenaga listrik akibat reaksi kimia dalam cell. LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-12 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Batery ialah gabungan dua cell atau lebih dalam susunan parallel atau seri. Cell dapat bersifat reversible dan irreversible. Cell disebut reversibel bila : - Reaksi dalam cell bersifat reversible - Proses dapat dibalik, hanya dengan tenaga luar yang sedikit lebih besar. Cell yang tidak memenuhi hal ini disebut irreversible. Contohnya : Zn / ZnCl2 / AgCl / Ag Zn Zn2+ + 2e 2AgCl (s) + 2e 2Ag- + 2ClZn + 2AgCl 2Ag + Zn2+ + 2ClReaksi dapat berjalan sebaliknya dengan tenaga luar sedikit lebih besar : 2Ag + Zn2+ + 2ClZn + 2AgCl Cell irreversible : Zn / H2SO4 / Ag Reaksi : Reaksi : Zn + H2SO4 ZnSO4 + H2

Bila ada tenaga luar : 2Ag (s) + H2SO4 Ag2SO4 + H2

Ini berarti reaksi tidak dapat berjalan reversible meskipun adanya tenaga luar menyebabkan terjadinya reaksi.

LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-13 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4. POLARISASI Jenis Polarisasi Polarisasi dibagi menjadi dua : Polarisasi konsentrasi yang disebabkan oleh perubahan konsentrasi di sekitar elektroda Polarisasi over voltage atau tegangan tinggi lebih disebabkan oleh jenis elektroda dan proses yang terjadi dipermukaan. Perbedaab konsentrasi pada kedua elektroda akibat elektrolisis, menyebabkan timbulnya bedapotensial. Beda potensial ini dapat melawan E luar. Perbedaan ini diperkecil oleh adanya aliran ion dan difusi. Juga dengan jalan pengadukan polarisasi konsentrasi dapat dieleminir. Over voltage dapat terjadi di katoda atau anoda. Over voltage di katoda untuk logam hanya kecil. Over voltage logam Fe, Co, Ni, Zn, Cu, dan Cd, kecuali pengaruh logamnya, juga dipengaruhi oleh anion, adanya asam-asam, koloid dan sebagainya. Over voltage lebih besar pada larutan kompleks daripada larutan garam. Untuk hidrogen, bagi elektroda Pb dilapisi Pt hitam dengan rapat arus 0, besarnya voltase = 0. Dengan naiknya rapat arus, over voltage juga naik. Untuk logam lain lebih besar daripada Pt hitam. Pengaruh rapat arus dinyatakan rumus :

Eo a

2 x2,303.RT log I F

I = rapat arus Kecuali rapat arus over voltage juga dipengaruhi oleh temperatur, tekanan, halus kasarnya elektroda, ketidakmurnianelektroda. Over voltage untuk halogen pada anoda sangat kecil. Untuk rapat arus 1000 m amp/cm2 adalah sebagai berikut: Tabel 1.1 LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-14 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Unsur Pt-Pt hitam Pt halus Grafit Cl2 0.07 0.24 0.50 Br2 0.20 0.40 0.33 I2 0.20 0.22 0.70 Over voltage untuk oksigen ternyata besar. Dari tabel berikut ternyata over voltage lebih besar pada logam-logam seperti Pt dan Au daripada logam seperti Ag, Ni, hal ini berlawanan dengan hidrogen. Overvoltage juga dipengaruhi: Current density ( 1/cm2 naik maka 0 V naik) Temperatur ( t naik maka 0 V turun) Ion OH- pada larutan basa Dari larutan asam tidak tergantung pelarut Tabel 1.2 Tegangan lebih oksigen pada 25oC (volt) 1(m amp/cm2) Pt-Pt hitam Pt halus Ag Ni 1 0.40 0.72 0.58 0.35 10 0.85 0.85 0.73 0.52 50 1.16 1.16 0.91 0.67 100 0.64 1.28 0.98 0.73 Pengendapan Logam dan over voltase hidrogen di katoda Bila larutan garam di elektrolisis dapat terjadi: Pengendapan logam Gas hidrogen Mana yang terjadi tergantung besarnya potensial yang diperlukan untuk deposisi logam atau timbulnya gas H2. Bila : Potensial pelucutan logam < potensial pelucutan H2, maka logam mengendap lebih dulu. Bila : Potensial pelucutan logam < potensial pelucutan H2, maka logam mengendap lebih dulu. Keperluan tenaga untuk mengendapkan Ag lebih kecil daripada untuk menimbulkan gas H2, maka Ag mengendap lebih dulu. Demikian pula untuk logam-logam lain di bawah H pada seri elektrokimia makin sukar mengendap. LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-15 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Untuk logam di atas Hdalam elektrokimia, misal untuk ZnCl2 1 M : EZn = EoZn = - 0,76 V (reduksi) EH2 = - 0,41 V EZn lebih negatif daripada EH2, maka Zn2+ lebih sukar + dilucuti daripada H . Umumnya reaksi pelarutan logam reversibel, hingga tidak besar beda E yang dipakai dengan E logam. Hanya untuk Fem Ni, dan Co terdapat over voltage 0,3 0,4 V. Bila rapat arus naik, E logam juga naik, arus dalam larutan turun dan pelarutan berhenti. Pada potensial yang tinggi O2 mulai timbul. Ni lebih mudah menjadi pasif daripada Co, dan Co lebih pasif dari Fe. Pasifnya logam karena lapisan oksida pada permukaannya.
(Dr. Sukardjo, 1997,Kimia Fisika)

Oksidasi dan Reduksi Elektrolisis Pada saat elektrolisis, peristiwa yang terjadi dielektroda ialah reaksi redoks. Di katode : Reaksi reduksi, ini dapat berupa pengendapan logam atau timbulnya gas H2 (kutub negatif) Di Anoda : Oksidasi,ini dapat berupa larutan logam atau timbulnya gas O2 (kutub positif) Peristiwayang terjadi tidak selalu hal di atas, tetapi dapat setiap reaksi reduksi seperti : Fe2+ Fe3+ + e Sn2+ Sn4+ + 2e Bila untuk reaksi ini diperlukan E lebih rendah daripada untuk timbulnya H+ atau O2-, maka gas tersebut tidak timbul dan zat tadi disebut depolarisator. Kecuali ion dengan oksidasi di atas ada depolarisator yang bereaksi dengan H dan O. Seperti : NaNO3 + 2H NaNO2 + H2O katoda

LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-16 BAB II TINJAUAN PUSTAKA C6H5NO2 + 2H C6H5NH2 + 2H2O katoda C2H5OH + 2O CH3COOH + H2O katoda 5. SEL-SEL PERDAGANGAN Sel primer adalah sel yang setelah mengeluarkan arus tidak dapat dipakai lagi. Sel sekunder adalah sel yang setelah mengeluarkan arus dapat dipakai lagi, setelah diisi dengan arus dari luar. Sel Kering atau leclanche (primer) Kutub Negatif (Logam Zn) Zn Zn2+ + 2e Kutub Positif (C dilapisi pasta NH4Cl dan ZnCl2 serta MnO2) 2MnO2 + H2O + 2e Mn2O3 + 2OHE = 1,5 V Total : Zn + 2MnO2 + H2O Mn2O3 + Zn2+ + 2OHOH- ditarik oleh NH4Cl 2OH- + 2NH4Cl 2NH3 + 2Cl- + 2H2O NH3 yang terjadi ditarik ZnCl2 ZnCl2 + 4NH3 [Zn(NH3)4]Cl2 Accumulator (Sekunder) Kutub negatif : Elektroda Pb Kurub positif : Elektroda Pb dilapisi PbO2 Elektrolit = H2SO4 20 %, BJ = 1,15 Reaksi di katoda : Pb Pb2+ + 2e Pb2+ + SO42- PbSO4 Total : Pb + PbO2 + SH2SO4 2PbSO4 + 2H2O E = 2,0 V Reaksi diatas reversibel dan setelah mengeluarkan arus accu dapat diisi kembali. LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-17 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sel Edison (Sekunder) Katoda = Fe Anoda = Ni dilapisi Ni2O3 (sesqui oksida) Elektrolit = larutan KOH 21% berat ditambah LiOH Reaksi : E = 1,3 V Fe + 2OH- FeO + H2O + 2e Ni2O3 + H2O + 2e 2NiO +2OH + Fe (s) + Ni2O3 (s) FeO (s) + 2NiO 6. PRINSIP DASAR PELAPISAN LOGAM Telah jelas dijelaskan diatas mengenai fungsi dan kegunaan elektroplating, serta pengertianya. Dan telah jelas pula bahwa elektroplating disini memanfaatkan ilmu sel elektrokimia dalam melakukan prosesnya. Maka hubungan antara ilmu sel elektrokimia dan elektroplating adalah dasar prinsip dari elektroplating. Perlu kita review sejenak tujuan dari elektroplating adalah untuk melapisi logam yang mudah rusak karena oksidasi udara sekitar agar tidak mengalami korosi. Dalam hubunganya yang perlu diperhatikan adalah : a. pelapisan logam adalah pelapisan logam kepada logam lain atau zat lain b. logam yang akan dilapisi diletakkan di katoda c. logam yang akan melapisi diletakkan di anoda d. larutan yang digunakan sebagai jembatan garam adalah garam dari logam anoda e. pengerjaan sebaiknya menggunakan elektroda yang tak inert seperti C Pt Au 7. MACAM PELAPISAN LOGAM a. Pelapisan tembaga Dalam pelapisan tembaga digunakan bermacam-macam larutan elektrolit : LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-18 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. 2. 3. 4. Larutan asam Larutan sianida Larutan fluoborat Larutan pyrophospat

Diantara empat macam larutan di atas yang paling banyak digunakan adalah larutan asam dan larutan sianida. b. Pelapisan timah putih Pelapisan timah putih pada besi dengan cara listrik (elektroplating) sudah sangat lama dilakukan untuk kaleng-kaleng makanan, minuman dan sebagainya. Pelapisan secara listrik pada umumnya sudah menggantikan pelapisan secara celup panas, karena pelapisan secara celup panas menghasilkan lapisan yang tebal dan kurang merata (kurang halus) sedangkan pelapisan secara listrik dapat menghasilkan lapisan yang tipis dan lebih merata/halus. Dengan keuntungan tersebut pada saat ini lebih banyak industri yang melakukan pelapisan timah putih secara listrik dari pada secara celup panas (Hot Dip Galvanizing). c. pelapisan seng Seng sudah lama dikenal sebagai pelapis besi yang tahan korosi, murah harganya, dan mempunyai tampak permukaan yang cukup baik. Pelapisan senga pada besi dilaksanakan dengan beberapa cara seperti galvanizing, sherardizing, atau metal spraying. Namun pelapisan secara listrik (elektroplating) lebih disukai karena mempunyai beberapa keuntungan bila dibandingkan dengan cara-cara pelapisan yang lain, diantaranya : a. Lapisan lebih merata b. Daya rekat lapisan lebih c. Tampak permukaan lebih baik LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-19 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Karena beberapa keuntungan itulah maka lebih banyak dilaksanakan pelapisan secara listrik daripada cara-cara lainnya. Pelapisan seng secara listrik kadang juga disebut elektro-galvanizing. Larutan elektrolit yang sering digunakan ada dua macam yaitu larutan asam dan larutan sianida. Bila kedua larutan tersebut dibandingkan maka permukaan lapisan hasil dari penggunaan larutan sianida adalah lebih baik jika dibandingkan dengan larutan asam. Namun larutan asam digunakan bila dikehendaki kecepatan pelapisan yang tinggi dan biaya lebih murah. Larutan lain yang sering digunakan pada pelapisan adalah larutan alkali zincat dan larutan pyrophospat. d. pelapisan nikel Pada saat ini, pelapisan nikel pada besi banyak sekali dilaksanakan baik untuk tujuan pencegahan karat ataupun untuk menambah keindahan. Dengan hasil lapisannya yang mengkilap maka dari segi ini nikel adalah yang paling banyak diinginkan untuk melapis permukaan. Dalam pelapisan nikel selain dikenal lapisan mengkilap, terdapat juga jenis pelapisan yang buram hasilnya. Akan tetapi tampak permukaan yang buram inipun dapat juga digosok hingga halus dan mengkilap. Jenis lain dari pelapisan nikel adalah pelapisan yang berwarna hitam. Warna hitam inipun tampak menarik dan digunakan biasanya untuk melapis laras senapan dan lainnya. e. pelapisan khrom Selain nikel, maka pelapisan khrom banyak dilaksanakan untuk mendapatkan permukaan yang menarik. Karena sifat khas khrom yang sangat tahan karat maka pelapisan khrom mempunyai kelebihaan tersendiri bila dibandingkan dengan pelapisan lainnya. Selain sifat dekoratif dan atraktif dari pelapisan khrom, keuntungan LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-20 BAB II TINJAUAN PUSTAKA lain dari pelapisan khrom adalah dapat dicapainya hasil pelapisan yang keras. Sumber logam khrom didapat dari asam khrom, tapi dalam perdagangan yang tersedia adalah khrom oksida (Cr O3) sehingga terdapatnya asam khrom adalah pada waktu khrom oksida bercampur dengan air. f. Pelapisan Tembaga Tembaga atau Cuprum (Cu) merupakan logam yang banyak sekali digunakan, karena mempunyai sifat hantaran arus dan panas yang baik. Tembaga digunakan untuk pelapisan dasar karena dapat menutup permukaan bahan yang dilapis dengan baik. Pelapisan dasar tembaga dipelukan untuk pelapisan lanjut dengan nikel yang kemudian yang kemudian dilakukan pelapisan akhir khrom. Aplikasi yang paling penting dari pelapisan tembaga adalah sebagai suatu lapisan dasar pada pelapisan baja sebelum dilapisi tembaga dari larutan asam yang biasanya diikuti pelapisan nikel dan khrom. Tembaga digunakan sebagai suatu lapisan awal untuk mendapatkan pelekatan yang bagus dan melindungi baja dari serangan keasaman larutan tembaga sulfat. Alasan pemilihan plating tembaga untuk aplikasi ini karena sifat penutupan lapisan yang bagus dan daya tembus yang tinggi. Sifat-sifat Fisika Tembaga 1. Logam berwarna kemerah-merahan dan berkilauan 2. Dapat ditempa, dibengkokan dan merupakan penghantar panas dan listrik 3. Titik leleh : 1.0830C, titik didih : 2.3010C 4. Berat jenis tembaga sekitar 8,92 gr/cm3

LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-21 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sifat-sifat Kimia Tembaga 1. Dalam udara kering sukar teroksidasi, akan tetapi jika dipanaskan akan membentuk oksida tembaga (CuO). 2. Dalam udara lembab akan diubah menjadi senyawa karbonat atau karat basa, menurut reaksi : 2Cu + O2 + CO2 + H2O 2Cu(OH)2 + CO3 3. Tidak dapat bereaksi dengan larutan HCl encer maupun H2SO4 encer 4. Dapat bereaksi dengan H2SO4 pekat maupun HNO3 encer dan pekat 5. Pada umumnya lapisan Tembaga adalah lapisan dasar yang harus dilapisi lagi dengan Nikel atau Khrom. Pada prinsipnya ini merupakan proses pengendapan logam secara elektrokimia,digunakan listrik arus searah (DC). Jenis elektrolit yang digunakan adalah tipe alkali dan tipe asam. Larutan Strike menghasilkan lapisan yang sangat tipis. Larutan strike dapat pula dipakai sebagai pembersih dengan pencelupan pada larutan sianida yang ditandai dengan keluarnya gas yang banyak pada benda kerja sehingga kotoran-kotoran yang menempel akan mengelupas. Larutan ini terutama digunakan pada komponen-komponen dari baja sebagai lapisan dasar, untuk selanjutnya dilakukan pelapisan tembaga dengan logam lain. Formula kecepatan tinggi atau efisiensi tinggi digunakan untuk plating tembaga tebal, smentara proses Rochelle digunakan untuk menghasilkan pelapisan yang bersifat antara strike dan kecepatan tinggi. Garam-garam Rochelle tidak terdekomposisi dan hanya berkurang melalui drag-out yaitu terikutnya larutan pada benda kerja pada saat pengambilan dari tanki tinggi disbanding larutan strike sebab kerapatan arus katoda dan efisiensi LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-22 BAB II TINJAUAN PUSTAKA penting dalam kecepatan plating. Larutan Rochelle dan kecepatan tinggi dapat dioperasikan pada temperatur relatif tinggi. Proses Pengolahan Awal adalah proses persiapan permukaan dari benda kerja yang akan mengalami proses pelapisan logam. Pada umumnya proses pelapisan logam itu mempunyai dua tujuan pokok adalah sifat dekorasi, sifat ini untuk mendapatkan tampak rupa yang lebih baik dari benda asalnya, dan aplikasi teknologi, sifat ini misalnya untuk mendapatkan ketahanan korosinya, mampu solder, kekerasan, sifat listrik dan lain sebagainya. 8. FUNGSI DARI BENDA YANG DILAPISI Sebelum menentukan jenis pelapis yang akan digunakan,terlebih dahulu perlu diketahui fungsi dari benda yang akan dilapisi tersebut. Ada beberapa faktor yang perlu mendapat perhatian antara lain. Faktor Lingkungan Logam pelapis harus disesuaikan dengan lingkungan dimana benda yang akan dilapisi tersebut berada. Umur pelayanan Pemilihan logam pelapis juga harus disesuaikan dengan umur pelayanan dari benda yang akan dilapisi. Logam dasar yang akan dilapisi Suasana lapisan harus sesuai dengan bendsa yang akan dilapisi. Bentuk dari ukuran benda yang akan dilapisi. Disain bak,rak dan anoda yang digunakan untuk pelapisan harus sesuai dengan bentuk ukuran dari benda yang akan dilapisi.

LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-23 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 9. PELAPISAN LOGAM DI INDUSTRI Setiap tahun, korosi yang terjadi diberbagai lingkungan menyebabkan kerusakan yang memakan biaya cukup besar. Untuk menanggulangi bahaya korosi, yang berarti juga memperkecil kerugian, perlu dicari cara-cara untuk melindungi logam yang mudah terkorosi.Salah satu cara perlindungan yang patut diketengahkan adalah memberikan suatu lapisan logam tertentu sebagai lapis pelindung.Ada bermacam-macam cara untuk memberikan logam pelapis pada logam yang akan dilindungi. Salah satu diantaranya adalah proses lapis listrik (electroplating). Lapis listrik menawarkan jasanya untuk memberikan suatu perlindungan dengan menggunakan logam-logam tertentu sebagai lapis pelindung, misalnya : nikel, khrom, seng, timah dan lainlain.Banyak orang yang tidak terjun langsung dalam industri lapis listrik mengira bahwa lapis listrik hanya untuk menbuat benda-benda tampak lebih menarik. Pada kenyataannya peranan lapis listrik jauh lebih luas lagi. Peranan utamanya adalah melindungi logam yang dilapisi dari bahaya korosi. Disamping itu peranan penting lainnya ialah dapat menambah daya tahan terhadap gesekan, memperbaiki sifat konduktivitas, memudahkan penyolderan, menambah kekerasan dan lain-lain. Sehingga memungkinkan para perancang dan ahli teknik untuk mendapatkan kombinasi sifat-sifat dari permukaan benda yang dilapisi dan logam pelapisnya.

LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-24 BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.2 Aplikasi Industri

LABORATORIUM KIMIA FISIKA