Anda di halaman 1dari 29

PENATALAKSAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI DELAYED DEVELOPMENT ET CAUSA TB MENINGITIS RSUP PERSAHABATAN

Disusun oleh :
Husna ( 1006778163) I Komang Yudhistira (1006778176 ) Muthia Ambar K (1006778283 ) Lidya Pramudiantari (1006720093 )

PROGRAM STUDI FISIOTERAPI BIDANG STUDI KEDOKTERAN PROGRAM VOKASI UNIVERSITAS INDONESIA September 2012

LEMBAR PENGESAHAN

Makalah konferensi kasus ini telah dikoreksi, disetujui dan diterima Pembimbing Praktik Klinik Proram Studi Fisioterapi Pediatric untuk melengkapi tugas Praktik Klinik dan memenuhi persyaratan untuk mengikuti Ujian Tengah Semester 2012.

Pada hari Tanggal

: Selasa : 25 September 2012

Nama Pembimbing

(Tanda Tangan)

1. dr. Anitta Paulus, SpKFR.

..

2. I b u H i n d u n C h o t a m i , A m d . F T

..

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan segala rahmat-Nya sehingga penulis dapat menuliskan makalah laporan kasus ini yag berjudul Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Delayed Development Et Causa TB Meningitis RSUP Persahabatan. Makalah laporan kasus ini merupakan kewajiban mahasiswa Program Studi Fisioterapi Bidang Studi Kedokteran Program Vokasi Universitas Indonesia. Dalam hal ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. 2. 3. 4. 5. dr. Anitta Paulus, SpKFR, Ka Instalasi SMF Rehabilitasi Medik RSUP Persahabatan dr. Anita Ratnawati SpKFR, Dokter Rehabilitasi Medik RSUP Persahabatan dr. Dina Savitri, SpKFR, Dokter Rehabilitasi Medik RSUP Persahabatan dr. Siti Chandra, SpKFR, Dokter Rehabilitasi Medik RSUP Persahabatan Ibu Hindun Chotami, Amd.FT, pembimbing praktek klinik Fisioterapi RSUP Persahabatan 6. Nuring Robbi Rodhiyya Amd.FT, pembimbing praktek klinik Fisioterapi RSUP Persahabatan 7. 8. Seluruh staff Fisioterapi RSUP Persahabatan An. Syaiful Syawal Fawzi yang telah bersedia menjadi pasien dalam laporan kasus ini

Penulis menyadari masih banyaknya kekurangan dalam penulisan makalah ini, untuk itu diharapkan masukan dan saran demi penyempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermafaat bagi pembaca dan bagi mahasiswa fisioterapi khususnya. Jakarta, 25 September 2012

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................................. i KATA PENGANTAR .................................................................................................... ii DAFTAR ISI..................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG ........................................................................................... 1 1.2. PERUMUSAN MASALAH .................................................................................. 3 1.3. TUJUAN ................................................................................................................ 4 1.4. MANFAAT ............................................................................................................ 4 1.5. METODE PENULISAN ........................................................................................ 4 BAB II KAJIAN TEORI 2.1. ANATOMI dan FISIOLOGI OTAK MANUSIA.................................................... 5 2.2. PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR ANAK ................................................. 9 2.3. DELAY DEVELOPMENT ..................................................................................... 9 2.3.1. DEFINISI ............................................................................................................ 10 2.3.2. EPIDEMIOLOGI ................................................................................................ 10 2.3.3. ETIOLOGI .......................................................................................................... 11 2.3.4. PEMERIKSAAN PENUNJANG........................................................................ 12 2.3.5. PENCEGAHAN DELAY DEVELOPMENT .................................................... 13 2.4. PENATALAKSANAAN DELAY DEVELOPMENT .......................................... 13

BAB III PEMBAHASAN KASUS ............................................................................................. 19

BAB IV PENUTUP 1. KESIMPULAN ......................................................................................................... 25 2. SARAN ..................................................................................................................... 25 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... v

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Setiap manusia pasti mengalami proses tumbuh kembang. Tumbuh kembang adalah proses yang berkesinambungan mulai dari konsepsi sampai dewasa. Tumbuh kembang mempunyai dua arti yaitu; 1. Pertumbuhan, yang mempunyai dampak terhadap aspek fisik, sifatnya bisa dihitung. 2. Perkembangan yang mempunyai kaitan dengan pematangan fungsi organ/individu. [1] Tumbuh kembang adalah proses yang kontinu sejak dari konsepsi sampai maturitas/dewasa yang dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan. Lingkungan yang baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya. Tumbuh kembang mengikuti pola yang sama dan tertentu, tetapi kecepatannya berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya. Dalam periode tertentu pasti terdapat masa percepatan dan perlambatan serta laju pertumbuhan yang berlainan diantara organ organ. Terdapat tiga periode pertumbuhan tercepat adalah pada masa janin, masa bayi 0 1 tahun, dan masa pubertas. Pola perkembangan anak adalah sama pada semua anak, tetapi kecepatannya berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya.[1] Perkembangan erat hubungannya dengan maturasi sistem susunan saraf

karena menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel sel tubuh, jaringan tubuh, organ organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masingmasing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. Aktivitas dari seluruh tubuh diganti dengan respon yang khas. Arah dari perkembangan anak adalah dari cephalo ke caudal. Refleks Primitif yang terdapat pada anak akan menghilang dengan sendirinya sebelum anak dapat mencapai gerakan volunter. Setiap anak adalah individu yang unik, karena faktor bawaan dan lingkungan yang berbeda, tetapi tetap akan mengikuti patokan umum. Sehingga dibutuhkan kriteria sampai seberapa jauh keunikan seorang anak tersebut, apakah masih dalam

batas normal atau tidak. Normal dikenal dalam arti medis dan arti statistik. Normal dalam arti medis yaitu apabila pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun intelektual dan kepribadian berlangsung harmonis yang meningkat dan dapat diramalkan kecepatan serta hasil akhirnya, sesuai dengan kemampuan

genetik/bawaannya. Normal dalam arti statistik adalah apabila anak tersebut berada dalam batas dua Standard Deviasi dibawah atau diatas mean kurva sebaran normal menurut Gauss, dimana seorang anak dibandingkan dengan anak sebayanya. Jadi, mungkin saja seorang anak termasuk abnormal dalam arti statistik tetapi sesungguhnya masih normal dalam arti medis. Oleh karena itu sangat diperlukan deteksi dini pada proses tumbuh kembang anak agar mengetahui kelainan kelainan yang terdapat didalamnya. Penanganan dini perlu secepatnya dilakukan sebagai tindakan antisipatif kita untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Perkembangan yang terlambat (Delay Development) adalah ketertinggalan secara signifikan pada fisik, kemampuan kognitif, perilaku, emosi, atau

perkembangansosial seorang anak biladibandingkan dengananak normal seusianya. Seorang anak dengan dengan delay development akan tertunda dalam mencapai satu atau lebih perkembangankemampuannya. Tumbuh kembang dikatakan terlambat jika seorang anak tidak mencapai tahap pertumbuhan dan perkembangan yang diharapkan pada umur yang semestinya, dengan ketertinggalan dalam populasi yang normal (Sacker, 2011). Prevalensi keterlambatan di suatu populasi sangat bervariasi, studi yang dilakukan Dudley mencatat 3,3% - 17% anak mengalami keterlambatan (Dudley, 2010). Keterlambatan dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti masalah genetik, misalnya sindrom Down, karena masalah kehamilan seperti infeksi saat hamil, masalah ketika ibu melahirkan prematur. Selain itu ada juga masalah ketika bayi lahir mengidap meningitis atau bayi cedera kepala. Selain faktor kelainan di dalam tubuh si anak, keterlambatan perkembangan motorik anak juga bisa disebabkan oleh sedikitnya rangsangan yang diterima si kecil baik oleh pengasuh, orangtua atau melalui mainannya. Pola asuh dari orangtua juga berpengaruh, orangtua yang sangat berhati-hati atau protektif bisa berkontribusi

terhadap keterlambatan motorik anak, seperti tidak membiarkan anak bergerak dengan bebas atau terlalu sering menggendong anaknya terutama pada bayi yang sudah berusia 8 bulan. Kondisi ini akan membuat anak menjadi terlambat merangkak atau berjalan serta jika ia terjatuh akan takut untuk mencobanya lagi. Karenanya orangtua harus membiarkan anaknya untuk bergerak bebas serta tidak terlalu sering menggendong, sebatas tidak membahayakan si anak. Tidak ada atau kurangnya pengalaman yang dialami si kecil bisa menyebabkan keterlambatan perkembangan motorik baik yang ringan maupun yang signifikan. Jika keterlambatan motorik ini tidak segera diatasi, cenderung akan diikuti oleh keterlambatan motorik visual, motorik halus atau komunikasi.[2] Pada kasus Delay development, Fisioterapi mempunyai peran dalam meningkatkan kemampuan fungsional agar penderita mampu hidup mandiri sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap orang lain (Sheperd, 1995). Salah satu pendekatan yang telah dikembangkan untuk menangani kondisi Delay Development adalah NEURO DEVELOPMENT TREATMENT atau yang lebih dikenal dengan metoda Bobath. Dari evidence di atas, maka penulis menyusun makalah konferensi kasus dengan judul Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Delay Development.

1.2 Perumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan Delay Development ? 2. Apakah Etiologi dari Delay Development? 3. Apakah Pencegahan dari Delay Development? 4. Apakah problematik fisioterapi pada Delay Development? 5. Apakah penatalaksanaan fisioterapi yang dilakukan pada Delay Development?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah konferensi kasus ini dibagi menjadi dua, yaitu: 1. Tujuan Umum : 1.1. Makalah ini dibuat untuk memenuhi persyaratan kelulusan dalam praktek klinik.

1.2. Untuk menerapkan pengetahuan penulis dalam penatalaksanaan fisioterapi pada kondisi Delay Development. 2. Tujuan Khusus : 2.1. Mengetahui definisi dari Delay Development. 2.2. Mengetahui anatomi dan fisiologi otak manusia 2.3. Mengaetahui Etiologi Delay Development. 2.4. Mengetahui Pencegahan Delay Development.

1.4 Manfaat penulisan


1. Bagi penulis Dapat lebih mengenal tentang Delay Development sehingga dapat menjadi bekal bagi penulis setelah lulus nanti. 2. Bagi masyarakat Dapat memberikan informasi yang benar kepada paien, keluarga, masyarakat sehingga dapat lebih mengenal dan mengetahui gambaran tentang Delay Development 3. Bagi pendidik Memberikan informasi ilmiah bagi penelitian mengenai Delay Development selanjutnya.

1.5 Metode Penulisan


Dalam penyusunan makalah ini, metode yang penulis gunakan adalah Metode Studi Pustaka.

BAB II KAJIAN TEORI

2.1

ANATOMI DAN FISIOLOGI OTAK DAN SELAPUT OTAK MANUSIA

Anatomi Otak

Otak mengatur Sistem Saraf Pusat, Sistem Saraf Perifer dan Sistem Saraf Otonom.Walaupun merupakan suatu keseluruhan fungsi, otak disusun menjadi beberapa daerah yang berbeda yang mempunyai tugasnya masing masing.Bagian otak dapat secara bebas dikelompokkan ke dalam berbagai cara berdasarkan perbedaan anatomis, spesialisasi fungsional, dan perkembangan evolusi.Bagian bagian tersebut terdiri dari: 1. 2. 3. Batang Otak Serebelum Otak Depan (Forebrain) a. Diensefalon i. Hipotalamus ii. Thalamus b. Serebrum i. Nukleus Basal ii. Korteks Serebrum

Berikut penjelasan komponen otak dan fungsi

utamanya:

1. Korteks Serebrum : a. Persepsi Sensorik b. Kontrol gerakan volunter c. Bahasa d. Sifat Pribadi e. Proses mental canggih, misalnya berfikir, mengingat, membuat keputusan, kreativitas, dan kesadaran diri. 2. Nukleus Basal

a. Inhibisi tonus otot b. Koordinasi gerakan yang lambat dan menetap c. Penekanan pola pola gerakan yang tidak berguna 3. Thalamus a. Stasiun pemancar untuk semua masukan sinaps b. Kesadaran kasar terhadap semua sensasi c. Beberapa tingkat kesadaran d. Berperan dalam kontrol motorik 4. Hipothalamus a. Mengatur banyak fungsi homeostatik, misalnya kontrol suhu, rasa haus, pengeluaran urin, dan asupan makanan. b. Penghubung penting antara sistem saraf dan endokrin c. Sangat terlibat dalam emosi dan pola perilaku dasar. 5. Serebelum a. Memelihara keseimbangan b. Peningkatan tonus otot c. Koordinasi dan perencanaan otot volunteer yang terlatih 6. Batang otak a. Asal dari sebagian besar saraf kranialis perifer b. Pusat pengaturan kardiovaskuler, respirasi, dan pencernaan c. Pengaturan refleks otot yang terlibat dalam keseimbangan dan postur d. Penerimaan dan integrasi semua sinaps dari korda spinalis; kedaan terjaga dan pengaktifan korteks serebrum e. Pusat tidur

Anatomi Selaput Otak

Meningen adalah selaput yang membungkus otak dan sumsum tulang belakang melindungi struktur halus yang membawa pembuluh darah dan cairan sekresi (cairan serebro spinal), memperkecil benturan atau getaran (Syaifudin,1997:124).

Meningen adalah jaringan serabut penghubung yang melindungi, mendukung dan memelihara otak. (Smeltzer dan Bare, alih bahas Agung Nugroho, 2001:2074).

Tiga bagian meningen:

Durameter Lapisan paling luar ; menutup otak dan medula spinalis . Sifat durameter liat, tebal, tidak elastis, berupa serabut dan berwarna abu-abu. Bagian pemisah dura: falx serebri yang memisahkan kedua hemisfer di bagian longitudinal dan tentorium yang merupakan lipatan dari dura yang membentuk jaring-jaring membran yang kuat. Jaring ini mendukung hemisfer dan memisahkan hemisfer dengan bagian bawah otak (fossa posterior). Arachnoid Merupakan membran bagian tengah ; memran yang bersifat tipis dan lembut ini menyerupai sarang laba-laba, oleh lkarena itu disebut arakhnoid. Membran ini berwarna putih karena tidak dialiri darah. Pada dinding arachnoid terdapat flexus khoroid yang bertanggung jawab memproduksi cairan serebro spinal (CSS). Membran ini mempunyai bentuk seperti jari tangan yang disebut arakhnoid villi, yang mengabsorpsi CSS. Pada usia dewasa normal CSS diproduksi Piameter Membran yang paling dalam, berupa dinding yang tipis,transparan,yang menutupi otak dan meluas ke setiap lapisan daerah otak.Piameter berhubungan dengan arakhnoid melalui struktur jaringan ikat yang disebut trabekel. 500 cc dan diabsorpsi oleh villi 150 cc.

Fisiologi Cairan SerebroSpinal (CSF) Cairan serebrospinal adalah hasil sekresi plexus khoroid . Cairan ini bersifat alkali, bening mirip plasma. Tekanannya 60-140 mm air.. Cairan ini disalurkan oleh plexus khoroid ke dalam ventrikel-vntrikel yang ada dalam otak; cairan itu masuk kedalam kanalis sentralis sumsum tulang belakang dan juga ke dalam ruang subarakhnoid melalui celah-celah yang terdapat pada vntrikel ke empat. Setelah cairan ini dapat melintasi ruangan diseluruh permukaan sumsum tulang belakang hingga akhirnya kembali ke sirkulasi vena melalui granulasi arakhnoid (granulatio arfachnoidalis) pada sinus sagitalis superior. Oleh karena itu susunan ini maka bagian saraf otak dan sumsum tulang belakang yang sangat halus, terletak diantara dua lapisan cairan-lapisan cairan sebelah dalam yang merupakan isi dari ventrikel-ventrikel otak dan saluran sumsum tulang belakang, dan cairan sebelah luar yang berada dalam ruang subarakhnoid. Dengan adanya kedua bantalan air ini, maka sistem persyarafan terlindung baik. Fungsi dari cairan ini bekerja sebagai buffer,

melindungi otak dan sumsum tulang belakang. Menghantarkan ke jaringan sistem persayarafan pusat.

2.2 PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR ANAK


MILESTONE DENVER II Skrining perkembangan khususnya untuk motorik kasar yang sering digunakan ialah Denver II. Hal ini dikarenakan metode tersebut mempunyai rentang usia yang cukup lebar yaitu mulai dari neonatus sampai anak berusia 6 tahun. Sampai tahun 1990 metode ini telah digunakan lebih dari 54 negara dan telah dimodifikasi lebih dari 15 negara (Frankenburgh dkk, 1990). Dalam Denver II terdapat 4 domain tumbuh kembang yang mendasari perkembangan anak yaitu perilaku sosial, motorik halus, bahasa dan motorik kasar. Dalam kaitannya dengan bidang ilmu fisioterapi yang membahas fungsi gerak tubuh maka akan lebih ditekankan pada domain motorik kasar. Urutan perkembangan motorik kasar menurut Denver II dapat dilihat pada uraian dibawah ini.

TAHAPAN PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR

USIA Baru lahir 1 bulan 2 bulan 3-4 bulan 5-6 bulan 6-7 bulan 8-9 bulan 10-11 bulan 12-14 bulan 17-18 bulan

KETERAMPILAN Tonus fleksor dominan telungkup kepala menoleh Terlungkup: angkat kepala sebentar Terlungkup: angkat kepala 450 Angkat kepala 900 Terlungkup ke telentang Didudukkan Merayap Merangkak Jalan dipegang 1 tangan Jalan mundur

19-20 bulan 21-22 bulan 2 tahun 2,5 tahun 3 tahun 4 tahun 5 tahun 6 tahun

Jalan ke samping Turun tangga di depan Lari Loncat pada 1 kaki Naik tangga kaki bergantian Turun tangga Jalan jinjit Bisa mengendarai sepeda roda dua

2.3 Delay Development 2.3.1 Definisi


Delay Development adalah penurunan yang signifikan dari fisik, menta, dan/atau sensori ditemukan dalam berbagai kombinasi dari sebuah visual- perceptual-motor, bahasa atau perilaku sehari-hari yang dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Keadaan ini

biasanya disebabkan karena adanya disfungsi central nervous system atau tekanan dari faktor biologis yang terjadi selama kehamilan, tenaga kerja atau setelah kelahiran. Keadaan social ekonomi dan lingkungan sehari-hari juga dapat mempengaruhi [3]. Walaupun prevalensi adanya Delay Development hanya 10% [4], deteksi dini untuk penyakit ini tetap sulit. Meski gangguan yang parah dapat dideteksi dalam masa kehamilan, hal ini tetap sulit untuk mengetahui adanya gangguan berbicara, hiperaktif, dan gangguan mental sebelum anak memasuki usia 3 atau 4 tahun, dan gangguan belajar biasanya jarang terdeteksi jika anak belum memasuki waktu sekolah[5]. Anak dikatakan mengalami Delay Development jika seorang anak tidak mencapai milestone perkembangan di level yang seharusnya. Kondisi klinis yang dapat menyebabkan

delay Development adalah cerebral palsy, mentar retardasi, epilepsy, penurunan penglihatan dan pendengaran, sindrom down, infantile autism, dan kelainan kromosom.

myelomeningoceles, myopathies, muscular dystrophies, dan hereditodegenerative disorders juga termasuk di dalamnya. Semua kondisi ini dapat mengakibatkan kecacatan yang besar[5]. Ada juga beberapa disfungis kecil yaitu hiperaktif, gangguan bahasa dan visual-perceptualmotor, serta gangguan belajar. Kondisi ini adalah klasifikasi dari gangguan perkembangan kecil[5].

2.3.2 Epidemiologi
Total 1161 pasien yang diidentifikasi terkena Delay Development, terdiri atas lakilaki (54%) dan wanita (46%). Sedangkan 165 kasus lainnya (14%) tidak terdapat neurodevelopment. 356 (31%) kasus menunjukkan Delay Development ringan, 398 (34%) terkena Delay Development sedang, dan 342 (29%) menunjukkan Delay Development berat. Sebuah penelitian menunjukkan terdapat 742 kasus (65%) dari 1161 kasus yang menyebaban Delay Development. Kategori penyebab itu antara lain hypoxic ensefalopati ischemic (16%), kernicterus (9%), sindrom down (6%), sindrom epileptic (6%), dysgenesis serebral (5%), meningoencephalitis (5%), penyakit infeksi bawaan (4%), ICH (4%), autism (2%). Jumlah insiden yang tinggi saat perinatal dalam kasus ini menandakan pentingkan perawatan yang baik pada saat kehamilan dan neonatal. Pengukuran profilaksis harus dilakukan terhadap neonatal hyperbilirubinaemia. Serta konseling tentang genetic penting dilakukan pada pernikahan consanguine. Bayi yang mempunyai resiko yang tinggi mengalami masalah ini harus dipantau secara berkala agar cepat terdeteksi apakah mengalami Delay Development atau tidak dan cepat mendapatkan penanganan. (Int. J. Ch. Neuropsychiatry, 2004, 1(1): 29-40)

2.3.3 Etiologi
Delay development biasanya disebabkan karena central nervous system yang mengalami disfungsi dari faktor biologis yang tidak biasa selama masa kehamilan, melahirkan, dan setelah melahhirkan. Situasi sosio ekonomi dan lingkungan juga dapat menyebabkan hal ini. Dari hasil penelitian didapat 36% kasus Delay Development terjadi tanpa diketahui penyebabnya, 16% disebabkan karena hypoxic ischemic enchelopaty, 9% disebabkan oleh kernictrus, 6% disebabkan oleh meningoencephalitis, 8% disebabkan oleh

premature, 6% disebabkan oleh TORCH infection, 6% disebabkan oleh IC He, 6% disebabkan oleh convulsion, dan 7% disebabkan oelh maternal causes.

Pengaruh dari luar atau lingkungan yang dapat menyebabkan masalah tumbuh kembang, yaitu:

Birth trauma or distress, low birth weight, premature birth Drugs such as cancer or leukemia treatments in children Injury or harm in utero or after birth Poor nutrition

Kelainan neurologi yang dapat menyebabkan masalah tumbuh kembang, yaitu:


Central nervous system infections Chronic medical illnesses (asthma, diabetes, seizures) Neurobiologic aberrations in brain structure or function Neurologic hearing loss or auditory processing disorders Premature birth

Faktor lain yang dapat menyebabkan kelainan tumbuh kembang, yaitu :


Cerebral palsy (disorder of the brain and nervous system function) Autism Degenerative disorders such as Rett syndrome Down syndrome or fragile X syndrome (genetic causes of mental retardation) Infantile seizure disorders Metabolic disorders (such as phenylketonuria)

Muscular dystrophy (inherited disorder that causes a progressive loss of muscle tissue and muscle weakness)

Traumatic brain injury

2.3.4 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan sebagai berikut : 1. 2. Pemerikasaan mata dan pendengaran CT Scan untuk mengetahui etiologi

2.3.5 Pencegahan Delay Development


Pencegahan yang dapat dilakukan oleh inu atau keluarga antara lain : 1. Sebelum mengandung, ibu harus menjaga kondisi tubuh dan menjaga kesehatannya dengan baik 2. Saat ibu mengandung, ibu melakukan kontrol rutin dan melakukan perawatan kesehatan dengan baik sesuai dengan anjuran dokter kandungan. 3. Mengontrol diabetes, anamia, hypertension, seizures dan nutrisi selama mengandung guna mencegah kelahiran prematur yang dapat mengakibatkan DD 4. Setelah bayi dilahirkan, orang tua mengurangi resiko yang dapat menyebabkan kerusakan otak seperti tidak menggoncang-goncangkan bayi dan menjaga keamanan bayi dari resiko jatuh. 5. Selau waspada dengan keadaan di lingkungan rumah 6. Memberikan imunisasi lengkap dan tepat waktu pada bayi untuk melawan infeksi yang serius

2.4. Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Delay Development


Berbagai macam terapi dapat membantu anak DD umtuk memaksimalkan kemampuan dari perkembangan yang sudah dicapainya. Sejak didiagnosa mengalami DD, seorang anak dapat menjalani terapi untuk membantu perkembangan gerak, berbicara, belajar, bermain dan emosi. Penanganan yang dapat diberikan antara lain : 1. Obat-obatan dan bedah

Untuk membantu mengatasi kejang berulang dapat diberikan obat anti kejang (diazepam). Sedangkan pembedahan dilakukan untuk mengurangi cairan cerebral spinal berlebih. 2. Fisioterapi dini dan intensif Program terapi fisik memiliki beberapa tujuan utama yaitu mencegah kelemahan dan kemunduran fungsi otot yang akan menyebabkan athropi otot yang keduanya bertujuan untuk menghindari kontraktur, dimana otot akan menjadi kaku yang pada akhirnya menimbulkan bentuk abnormal. Tujuan ketiga dari program terpi fisik adalah meningkatkan perkembangan motorik anak. Cara kerja untuk mendukung tujuan tersebut dengan teknik Bobath. Penanganan Bobath pada penderita DD didasarkan pada : 1) Tindakan yang bersifat inhibisi terhadap aktifitas reflek posturalyang tidak normal untuk megurangi hipertonus, terutamapada penderita dengan spastisitas dan athetoid 2) Tindakan yang bersifat fasilitasi dan stimulasi terhadap pola-pola postural dan gerakan normal. Bobath juga menekankan bahwa perkembangan latihan postur harus dimulai dari aktifitas yang sederhana sampai yang lebih kompleks sesuai dengan urutan perkembangan. [5] Untuk menentukan masalah pada kasus ini terlebih dahulu fisioterapis melakukan pemeriksaan yang tercantum dalam sistem pelayanan fisioterapi yang tersiri atas : Anannesis Adalah tanya jawab antara pasien dan terapis dengan tujuan untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya berkaitan dengan riwayat perjalanan penyakit. 1. Pengumpulan Data Pasien Meliputi nama jelas, tempat tanggal lahir/usia, jenis kelamin, pendidikan ornag tua, pekerjaan orang tua, alamat, tanggal pemeriksaan, diagnosa medis. 2. Data Riwayat Penyakit Meliputi keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, riwayat kelahiran (prenatal, natal, post natal), riwayat tumbuh kembang, riwayat psikososial dan riwayat imunisasi.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik terbagi menjadi dua, yaitu : 1.) Pemeriksaan Umum : Heart Rate, Respiratory Rate, lingkar kepala, status gizi dan suhu 2.) Pemeriksaan Khusus : Pemeriksaan Motorik Kasar dan Pola Gerakan

Pada pemeriksaan ini, ada beberapa posisi yang harus diinspeksi sesuai kemampuan pasien, posisi-posisi tersebut,antara lain : a.) Terlentang Pada posisi ini dapat dilihat kemampuan pasien mengangkat kepala dan posisi dominan yang ada pada pasien. b.) Telungkup Pada posisi ini dapat dilihat kemampuan pasien mengangkat kepala dan kemampuan pasien menumpu tubuhnya menggunakan lengan dan tangan. c.) Berguling Dilihat kemampuan pasien mengubah posisi dari telentang ke telungkup atau sebaliknya. Dapat dilihat kualitas rotasi trunk pasien saat melakukan pola gerak ini. d.) Duduk Pada posisi ini dapat dilihat kemampuan pasien mengangkat kepala, letak tumpuan saat duduk, keseimbangan saat duduk dan reaksi mempertahankan tubuh agar tidak jatuh. e.) Ke duduk Dilihat kemampuan pasien untuk mengubah posisi dari telentang atau telungkup ke duduk f.) Berdiri Pada posisi ini dapat dilihat letak tumpuan pada kaki dan kekuatan trunk yang membuat pasien tetap tegak. g.) Ke berdiri Dilihat kemampuan pasien untuk mengubah posisi dari duduk ke posisi berdiri.

Pemeriksaan Spasitisitas

Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara menggerakan lengan dan tungkai pasien dengan gerakan fleksi dan ekstensi secara pasif dan semakin cepat. Hasil pemeriksaan ini dilihat bedasarkan skala Ashworth dengan kriteria sebagai berikut :

SKALA KLINIS SPASTISITAS (ASHWORTH)

NILAI 0 1 1+ 2

KRITERIA Tidak ada peningkatan tonus postural Sedikit peningkatan tonus, tahanan minimal diakhir LGS Sedikit peningkatan tonus, tahanan pada LGS Peningkatan tonus lebih nyata hamper seluruh LGS, masih bisa digerakan

3 4

Peningkatan tonus bermakna, gerakan pasif sulit Sendi dalam posisi fleksi atau ekstensi (satu posisi)

Pemerikasaan Tujuh Refleks Primitif

REFLEKS PRIMITIF Ekstensor Trust (-) / (+) Neck Righting (-) / (+) ATNR (-) /(+) STNR (-) /(+) Moro (-) /(+) Paracute (-) /(+)

SCORE 0 /1 0/1 0/1 0/1 0/1 1/0

Foot Placement (-) /(+) Score : 0 (Prognosa berjalan baik) 1 (Berjalan dengan/tanpa alat bantu) 2 (Prognosa berjalan buruk)

0/1

Pemeriksaan Ankle Klonus

Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara menggerakan ankle ke arah dorso fleksi, jika positif maka akan terjadi semacam involuntary movement seperti bergetar pada ankle.

Pemeriksaan Tightness

Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada m.Hamstring, m.Illiopsoas, dan Tendon Achiles. Pemeriksaan Fungsi Bermain

Pemeriksaan fungsi bermain bertujuan untuk mengetahui tingkat kognisi pasien. Pemeriksaan ini dilakukan bedasarkan metode Denver II. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan tambahan meliputi pemeriksaan radiologi, x-ray, USG, dsb. Problematik Fisioterapi Gangguan-gangguan yang dapat ditemukan dalam tumbuh kembang anak berkaitan dengan ruang lingkup Fisioterapi. Diagnosa Fisioterapi Ditegakkan dari anamnesa, pemeriksaan umum dan khusus Tujuan Program Tujuan Jangka Pendek Tujuan Jangka Panjang Metode Pemberian Fisioterapi Intervensi Uraian tindakan fisioterapi Home Program Anjuran latihan yang bisa yang bisa dilakukan di rumah.

Evaluasi Prognosa Perkiraan tingkat perkembangan dari pasien. 3. Speech Therapy 4. Tim yang profesional akan bekerjasama untuk mengetahui kebutuhan medis anak, seperti psikolog, pendidik, perawat, pekerjaan sosial 5. Ortotis Prostetis Brace adalah perangkat yang menyangga ekstremitas dalam posisi stabil. Tujuan penggunaan brace adalah untuk meningkatkan fungsi, mencegah deformitas, menjaga sendi pada posisinya, mestabilkan trunk dan ekstremitas, memfasilitasi kontrol motorik, penurunan spastis, dan menjaga ekstremitas dari cidera . Orthotis biasanya diberi nama sesuai dengan bagian tubuh yang dilindungi, antara lain Ankle Foot Orthoses (AFOs), Knee-Ankle Foot Orthoses (KAFOs, hip abduction orthoses, Thoracolumbosacral Orthoses (TLSOs), Foot Orthoses (FSOs), dan Hand Splints.

BAB III PEMBAHASAN KASUS

DEPARTEMEN REHABILITASI MEDIK RSUP PERSAHABATAN JAKARTA

FORMULIR FISIOTERAPI

Nama Fisioterapi Nama Dokter

: Nuring Amd,FT : dr. Anita F. Paulus, SpKFR

Peminatan Ruangan

: FT A

: Klinik Tumbuh Kembang

Nomer Registrasi

: 0133.39.60

I.

PENGUMPULAN DATA IDENTITAS PASIEN (S)

Nama Jelas Tempat&Tanggal Lahir Alamat Diagnosa Medik


II.

: An. SSF : 6 September 2011 : Jl. Enim No. 148 RT 09/RW 10 Gang R : Post op hidrocefalus vp shunt delayed

PENGUMPULAN DATA RIWAYAT PENYAKIT (S)

KU : Anak umur 1 th belum bisa berjalan RPS : Saat os usia 3 bulan demam tinggi dan kejang, berobat ke pengobatan alternatif, 1 minggu kemudian tanggal 25 Desember 2011 di bawa ke RS Sukabumi dan didiagnosa terkena TB meningitis dan suspensi lambung, lalu pada 11 Januari 2012 di rujuk ke RSUP. Di PICU dan koma selama 2 bulan. Kemudian rawat jalan dari tanggal 25 Maret 2012 sampai sekarang. Saat ini os berusia 1 tahun belum bisa berguling hanya bisa terlentang, jari tangan menggenggam dan bagian tubuh yang cenderung lebih aktif bergerak adalah sisi sebelah kiri. R. Pre Natal: Usia ibu saat hamil adalah 23 th dengan kehamilan yang diinginkan. Terdapat riwayat jatuh tetapi tidak ada pendarahan, rutin kontrol ke PUSKESMAS. Saat hamil ibu sering demam dan meriang, minum obat yang diberikan oleh bidan, tidak pernah meminum jamu. R. Natal : Lahir pada usia kehamilan 39 minggu dengan spontan dan ditolong oleh bidan. Sebelum proses kelahiran terjadi ibu mengalami ketuban pecah dini. Bayi

langsung menangis dengan berat badan 3 kg dan panjang badan 49 cm. Tidak terkena penyakit kuning dan tidak dalam kondisi kebiruan R. Post Natal : Pada Usia 3 bln os mengalami demam dan kejang. Tidak terkena penyakit kuning dan tidak dalam kondisi kebiruan. RPK :R. Psikososial : Anak ke 2 dari 2 bersaudara, diasuh kakek dan nenek, ibu bekerja di Sukabumi, ayah bekerja sebagai supir angkot R. Imunisasi : BCG R. Tumbang : (Sebelum sakit, berusia 3 bulan) Miring ke kanan & ke kiri (bisa) Terlungkup : angkat kepala sebentar (belum bisa) Terlungkup : angkat kepala 450 (belum bisa) Terlungkup angkat kepala 900 (belum bisa) (Setelah sakit) Hanya bisa terlentang dan menagis
III. PEMERIKSAAN (O)

Cara Datang : Digendong Kesadaran : Somnolen Koperatif Tensi :Lingkar kepala: 42 cm PEMERIKSAAN KHUSUS
1.

Nadi RR Status gizi Suhu

: 120X/menit : 48X/menit : normal : Afebris

Motorik Kasar dan Pola Gerakan Posisi Terlentang Bagian Kanan Kiri Bergerak aktif, lebih aktif sisi kiri Kepala Ekstensi, rotasi kanan Bahu Retraksi, cenderung ekstensi Elbow Fleksi fleksi Wrist Netral Netral Jari-jari tangan Flexi Flexi Hip Ekstensi, Ekstensi, Abduksi, Abduksi, Eksorotasi Eksorotasi Ankle Plantar fleksi Plantar fleksi Jari-jari kaki Fleksi Fleksi Head lifting (+) tidak adekuat Head control (-) Forearm supporrt (-) (-) Hand support (-) (-) Bahu Retraksi, cenderung ekstensi Elbow Semi fleksi Semi fleksi Wrist Netral Netral

Terlungkup

Jari-jari tangan Hip

Berguling Merayap Merangkak Keduduk Didudukan

Ankle (-) (-) (-) (-) Head control Trunk control Hand support Balance Protective reaction

fleksi Ekstensi, abduksi, eksorotasi Plantar fleksi

Fleksi Ekstensi, abduksi, eksorotasi Plantar fleksi

(-) (-) (-) (-) (-)

(-)

2.

3. 4.

5.

6. IV. V.

Tonus potural : UE kanan : 1+ UE kiri :1 LE kanan :1 LE kiri :0 Joint laxity : (-) Pemeriksaan Tujuh Refleks Ekstensor Trust : (-) / 0 Neck Righting : (-) / 0 ATNR : (+) / 1 STNR : (-) / 0 Moro : (+) / 1 Paracute : (-) / 1 Foot Placement : (-) / 1 Score : 4 (Prognosa berjalan buruk) Fungsi bermain : Mengikuti sumber bunyi (-) Meraih mainan (-) Menggenggam (-) Mengikuti objek (-) Hanya bisa menangis Clonus : (+) pada ankle kanan & kiri

PENGUMPULAN DATA TERTULIS PEMERIKSAAN PENUNJANG

CT-Scan
URUTAN MASALAH FISIOTERAPI BERDASARKAN PRIORITAS 1. Head lifting yang tidak adekuat 2. Head control belum ada 3. Forearm support belum ada 4. Hand Support belum ada

5. VI.

Tonus postural yang tinggi

DIAGNOSA FISIOTERAPI

Anak usia 1 th belum bisa berguling karena head lifting yang tidak adekuat, tidak ada head control, tidak ada forearm support, tidak ada hand support, tidak ada trunk control diakibatkan otot ekstensor neck lemah, otot fleksor bahu lemah, otot fleksor elbow, otot ekstensor trunk lemah terkait tonus postural yang tinggi.
PROGRAM PELAKSANAAN FISIOTERAPI (P) 1.

2.

3.

Pengumpulan data program fisioterapi dari dokter Rehabilitasi Medik Inhibisi spastis, penguatan otot-otot leher dan trunk, fasilitasi head lifting dan rolling Tujuan a) Tujuan Jangka pendek Membuat anak mampu berguling b) Tujuan Jangka panjang Membuat anak mampu duduk mandiri Metoda pemberian Fisioterapi No 1 JENIS Terapi latihan METODA Streaching DOSIS 3x seminggu KETERANGAN Otot Sternocledomastoid, schalenus, upper trapezius Inhibisi head dan trunk control Penguatan otot arm, trunk, leher Stimulasi propioseptive Fasilitasi ke berguling, head lifting, head control, trunk control

2 3 4 5

Terapi latihan Terapi latihan Terapi latihan Terapi latihan

Bobath Bobath Bobath Bobath

3x seminggu 3x seminggu 3x seminggu 3x seminggu

4.

Uraian tindakan Fisioterapi a) Streaching SCM Posisi anak : tidur terlentang Posisi terapis : berada di belakang anak Penatalaksanaan : terapis memfiksasi shoulder kiri dan kanan anak bergantian sambil memegang ociput os. Pada streching SCM dextra, osisikan lateral fleksi ke kiri dan rotasi ke kanan kemudian ditahan selama 6 detik, dengan 6 kali repetisi. Begitu juga pada streaching SCM sinistra dilakukan pada arah sebaliknya.

b) Inhibisi head dan trunk control Posisi anak : anak diposisikan duduk diatas salah satu kaki terapis Posisi terapis : duduk dengan satu kaki diluruskan Penatalaksanaan : terapis memfiksasi dahi dan bagian abdominal anak, kemudian berikan tahanan berlawaan dengan arah spastis anak (arah spastis ke depan, arah tahanan ke belakang). c) Penguatan otot arm Posisi anak : anak di posisikan terlungkup diatas salah satu kaki terapis Posisi terapis : Duduk dengan salah satu kaki ditekuk. Penatalaksanaan : os diposisikan terlungkup pada salah satu kaki terapis. Tumpukan tangan os pada lantai, tahan beberapa menit untuk melatih kekuatan otot tangan. d) Fasilitasi keberguling via hip Posisi anak : terlentang Posisi terapis : duduk dibawah kaki anak dengan menghadap anak Penatalksanaan : utuk berguling ke kanan, fleksikan hip, knee kiri anak kemudian silangkan kearah kanan denagan sedikit membantu memberi dorongan pada hip anak dihaapkan anak dapat berguling. e) Fasilitasi duduk Posisi anak : diposisikan duduk diatan salah satu kaki terapis Posisi terapis : duduk dengan meluruskan salah satu kaki Penatalaksaan : os duduk diatas kaki terapis dengan posisi membelakangi terapis. Terapis memfiksasi hip anak sambil mengenalkan posisi duduk pada anak. f) Sitting balance Posisi anak : diposisikan duduk diatas salah satu kaki terapis Posisi terapis : duduk dengan meluruskan salah satu kaki Penatalaksanaan : anak diposisikan duduk diatas kaki terapis dengan posisi membelakangi terapis. Fiksasi pada hip os kemudian terapis menggerak-gerakkan badan os kekanan-kekiri, kedepankebelakang untuk melatih keseimbangan anak.
5.

Program untuk di rumah Orang tua disarankan untuk lebih sering mengajak bermain anak dari sebelah kiri Orang tua disarankan untuk sering menelungkupkan anak, sehari minimal 15menit

Orang tua disarankan ketika mengganti popok/celana memirinkan sebelah bokong anak baru memasukkan celana/popok secara bergantian Anak diposisikan duduk lalu ibu memegang perut dan dahi anak Orang tua disarankan untuk melatih kembali terapi yang telah diberikan pada anaknya dirumah selama 1 jam setiap hari.

VII.

EVALUASI

1. Evaluasi Hasil Terapi 23 September 2012 NO. PROBLEM 1. Hipertonus 2. Head Lifting 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Head Control Trunk Control Forearm Support Hand Support (didudukkan) Joint Laxity Involuntery Movement Sitting Balance Merayap Keduduk SEBELUM TERAPI SESUDAH TERAPI Ada Ada Ada tapi tidak adekuat Ada tapi tidak adekuat Ada tapi tidak adekuat Ada tapi tidak adekuat Ada tapi tidsk adekuat Ada tapi tidak adekuat Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

2. Jadual Evaluasi ke Dokter

Setelah 6 kali terapi

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

Delay Development adalah penurunan yang signifikan dari fisik, mental, dan/sensori. Sering ditemukan dalam berbagai kombinasi dari sebuah visual-perceptual-motor, bahasa atau perilaku sehari-hari yang dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Keadaan ini biasanya disebabkan karana adanya disfungsi central nervous system atau tekanan dari faktor biologis yang terjadi selama kehamilan, saat kerja atau setelah kelahiran. Keadaan sosial, ekonomi dan lingkungan sehari-hari juga dapat mempengaruhi. Delay Development memerlukan perhatian khusus dan tidak dianggap ringan karena bila tidak mendapatkan terapi secara intensif maka akan memperberat keadaan anak itu sendiri dimana kemampuan motor kasar mengalami kemunduran fungsinya sehingga dapat mengakibatkan kecacatan. Pada kasus Delay Development yang kami tangani, setelah mengikuti terapi selama 3 kali pertemuan belum mengalami perubahan yang signifikan.

SARAN Perlunya edukasi kepada orang tua dan keluarga pasien dalam upaya pencegahan Delay Development yang harus dimulai sejak dalam kandungan untuk menghindari resiko. Peningkatan peran dan dorongan positif keluarga di rumah untuk berlatih secara teratur untuk kemajuan perkembangan motorik agar program terapi berjalan lebih baik. Peningkatan sosialisasi mengenai masalah tumbuh kembang anak baik di masyarakat agar dapat dideteksi sedini mungkin keterlambatan perkembangan akibat Delay Development.

Delay Development ini bersifat non progresif, upaya tim medis dalam hal ini Fisioterapis sedapat mungkin dapat membuat pasien mempertahankan kualitas hidupnya dengan tetap melakukan aktivitas sehari hari tanpa ketergantungan pada orang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Sherwood, Lauralee; Edisi 2 ;Buku Ajar Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem;2001;Hal 115 -7. Kottke Fj. Therapeutic Exercise to develop Neuromuscular Coordinatio. 1990. In : Krussens handbook of Physical Medicine and Rehabilitation 4th and Philadelphia : WB Saunders Company. DenhoffE., Feldman SA. The Development Disabilities Management through Diet and Medication. MARCEL DEKKER.INC 1981;pp1-20. Palfrey JS, Singer JD, Walker DK, Butler JA. Early identification of childrens special needs: a study in five metropolitan communities. J Pediatri 1987; 111: 651659. Palfrey JS. Legislation for the education of children with disabilities. In: Levine MP, Carey WB, Crocker AC, eds. Developmental-behavioral pediatrics. 2nd ed. Philadelphia: W. B. Saunders, 1992: 782-511. Denhoff E., & stern L., Minimal Brain Dsyfunction-A Developmental Approach, Masson Publishing USA, Inc., New York, 1979, pp. 11-15.