Anda di halaman 1dari 22

REAKSI OKSIDASI - REDUKSI Jika Anda membelah buah apel, kemudian membiarkannya di ruang terbuka, buah apel tersebut

akan berubah warna menjadi kecokelat-cokelatan. Tahukah Anda, mengapa hal tersebut dapat terjadi? Perubahan warna pada buah apel diakibatkan reaksi oksidasi yang dialami senyawa kimia yang terkandung dalam buah apel. Demikian juga Jika sepotong besi diletakkan di udara terbuka, ternyata lama-kelamaan logam besi tersebut berkarat. Mengapa logam besi dapat berkarat dan reaksi apa yang terjadi pada logam besi tersebut? Peristiwa perkaratan besi merupakan salah satu contoh dari reaksi reduksi-oksidasi (redoks). Di sekitar kita sering dijumpai peristiwa kimiawi seperti pembuatan besi dari bijih besi, penyepuhan logam, terjadinya arus listrik pada aki atau baterai, buah masak, buah busuk, mercon meledak, kembang api dibakar,dan lain sebagainya. Perkaratan pada logam, pembakaran, pembusukan oleh mikroba, fotosintesis pada tumbuhan, dan metabolisme Perubahan kimia yang terjadi di sekitar kita beragam jenisnya, seperti pembusukan, fermentasi, reaksi penggaraman atau penetralan, reaksi hidrolisis, reaksi pembakaran/oksidasi atau reaksi reduksi. Konsep redoks berdasarkan pengikatan dan pelepasan oksigen Konsep reaksi oksidasi dan reduksi mengalami perkembangan dari masa ke masa sesuai cakupan konsep yang dijelaskan. Pada mulanya konsep reaksi oksidasi dan reduksi ditinjau dari penggabungan dan pelepasan oksigen. Reaksi oksidasi didefinisikan sebagai reaksi penggabungan/pengikatan suatu zat dengan oksigen. Sebaliknya reaksi pelepasan oksigen oleh suatu zat disebut reaksi reduksi. Reduksi adalah reaksi pelepasan oksigen dari suatu senyawa. Reduktor adalah: 1) Zat yang menarik oksigen pada reaksi reduksi. 2) Zat yang mengalami reaksi oksidasi. Contoh:

Fe2O3 + 3 CO 2 Fe + 3 CO2 Cr2O3 + 2 Al 2 Cr + Al2O3 2 SO3(g) 2 SO2(g) + O2(g) 2 KClO3(s) 2 KCl(s) + 3 O2(g) 2 KNO3(aq) 2 KNO2(aq) + O2(g)

Oksidasi adalah reaksi pengikatan (penggabungan) oksigen oleh suatu zat.

Oksidator adalah: 1) Sumber oksigen pada reaksi oksidasi. 2) Zat yang mengalami reduksi. Contoh: 1) Oksidasi Fe oleh O2 4 Fe + 3 O2 2 Fe2O3 2) Pemangggangan ZnS 2 ZnS + 3 O2 2 ZnO + 2 SO2 C(s) + O2(g) CO2(g) 4 Fe(s) + 3 O2(g) 2 Fe2O3(s) Cu(s) + O2(g) CuO(s) S(s) + O2(g) SO2(g) SO2(g) + O2(g) SO3(g) Perhatikan reaksi di atas, SO3 melepaskan oksigen membentuk SO2, demikian juga KClO3 dan KNO3 masing-masing melepaskan oksigen menjadi KCl dan KNO2. Jadi, SO3, KClO3, dan KNO3 mengalami reaksi reduksi. Pada reaksi termit menghasilkan besi cair yang sering digunakan untuk mengelas bendabenda dari besi, reaksi-nya adalah 2 Al(s) + Fe2O3(s) 2 Fe(l) + Al2O3(s) Al mengikat oksigen membentuk Al2O3 berarti Al mengalami oksidasi. Fe2O3 melepaskan oksigen membentuk Fe. Jadi, Fe2O3 mengalami reduksi. Pada reaksi termit tersebut oksidasi dan reduksi terjadi bersamaan, reaksi seperti ini disebut reaksi redoks.

Konsep redoks berdasarkan Pengikatan dan Pelepasan Elektron Pada reaksi Na(s) + S(s) Na2S(s) tidak melibatkan gas oksigen, maka konsep redoks berdasarkan pengikatan dan pelepasan oksigen tidak dapat digunakan. Konsep redoks berkembang, bukan lagi pengikatan dan pelepasan oksigen tetapi pengikatan dan pelepasan elektron. Reduksi adalah reaksi pengikatan elektron. Reduktor adalah: 1) Zat yang melepaskan elektron. 2) Zat yang mengalami oksidasi.

Contoh: 1. Cl2 + 2 e 2 Cl S2(aq) 2. Ca2+ + 2 e Ca 3. S(s) + 2 e

Oksidasi adalah reaksi pelepasan elektron. Oksidator adalah: 1) Zat yang mengikat elektron. 2) Zat yang mengalami reduksi. Contoh: 1. K K+ + e 2. Cu Cu2+ + 2 e 3. 2 Na(s) 2 Na+(aq) + 2 e Reaksi redoks adalah reaksi yang terjadi di mana reaksi oksidasi dan reduksi terjadi bersama-sama. 2 Na(s) + S(s) Na2S(s) Reaksi di atas dapat ditulis menjadi 2 tahap yaitu: Reaksi oksidasi : 2 Na(s) 2 Na+(aq) + 2 e Reaksi reduksi : S(s) + 2 e S2(aq) Reaksi redoks : 2 Na(s) + S(s) Na2S(s) Ternyata tidak semua reaksi oksidasi dengan senyawa organik dapat dijelaskan dengan pemberian dan penerimaan oksigen. Misalnya, walaupun reaksi untuk mensintesis anilin dengan mereaksikan nitrobenzen dan besi dengan kehadiran HCl adalah reaksi oksidasi reduksi dalam kerangka pemberian dan penerimaan oksigen, pembentukan CH3CH3 dengan penambahan hidrogen pada CH2=CH2, tidak melibatkan pemberian dan penerimaan oksigen. Namun, penambahan hidrogen berefek sama dengan pemberian oksigen. Jadi, etena direduksi dalam reaksi ini. Dengan kata lain, juga penting mendefinisikan oksidasi-reduksi dalam kerangka pemberian dan penerimaan hidrogen. Oksidasi-reduksi dan hidrogen Oksidasi: mendonorkan hidrogen Reduksi: menerima hidrogen

Konsep Redoks berdasarkan Pertambahan dan Penurunan Bilangan Oksidasi Reduksi adalah reaksi penurunan bilangan oksidasi. Reduktor adalah: 1) Zat yang mereduksi zat lain dalam reaksi redoks. 2) Zat yang mengalami oksidasi. Contoh: 2 SO3 2 SO2 + O2

Bilangan oksidasi S dalam SO3 adalah +6 sedangkan pada SO2 adalah +4. Karena unsur S mengalami penurunan bilangan oksidasi, yaitu dari +6 menjadi +4, maka SO3 mengalami reaksi reduksi. Oksidatornya adalah SO3 dan zat hasil reduksi adalah SO2 .Oksidasi adalah reaksi pertambahan bilangan oksidasi. Oksidator adalah: 1) Zat yang mengoksidasi zat lain dalam reaksi redoks. 2) Zat yang mengalami reaksi reduksi. Contoh: 4 FeO + O2 2 Fe2O3 Bilangan oksidasi Fe dalam FeO adalah +2, sedangkan dalam Fe2O3adalah +3. Karena unsur Fe mengalami kenaikan bilangan oksidasi, yaitu dari +2 menjadi +3, maka FeO mengalami reaksi oksidasi. Reduktornya adalah FeO dan zat hasil oksidasi adalah Fe2O3 .(James E. Brady, 1999)

Konsep Bilangan Oksidasi Menurut Purba (1994:81) bilangan oksidasi suatu unsur dalam senyawa adalah muatan yang diemban oleh atom unsur itu jika semua elektron ikatan didistribusikan kepada unsur yang lebih elektronegatif, dengan kata lain bilangan oksidasi adalah tingkat oksidasi suatu unsur atau bilangan yang menunjukkan muatan yang disumbangkan oleh atom unsur tersebut pada molekul atau ion yang dibentuknya. Anwar (2007:169) aturan penentuan bilangan oksidasi suatu unsur dalam senyawa adalah sebagai berikut : 1. Bilangan oksidasi unsur bebas (monoatomik, diatomik, atau poliatomik) sama dengan 0 (nol). Misalnya : bilangan oksidasi Na, Mg, Fe, O, Cl2, H2, P4 dan S8 = 0 2. Bilangan oksidasi unsur H dalam senyawa = +1, kecuali pada senyawa hidrida = 1 (misalnya : NaH)

3. Bilangan oksidasi unsur O dalam senyawa = 2, kecuali pada senyawa peroksida = 1 (misalnya : Na2O2, H2O2, Ba2O2), dan pada senyawa oksifluorida (OF2) = +2 4. Bilangan oksidasi unsur logam dalam senyawa selalu positif dan nilainya sama dengan valensi logam tersebut. ( Misalnya : Biloks logam gol.IA= +1, gol.IIA=+2, gol.IIIA=+3) 5. Bilangan oksidasi unsur golongan VIIA dalam senyawa = 1 6. Bilangan oksidasi unsur dalam bentuk ion tunggal sama dengan muatannya. (Misalnya Biloks Na pada Na+= +1, Cl pada Cl-=1, Mg pada Mg2+=+2) 7. Jumlah bilangan oksidasi unsur-unsur dalam suatu senyawa sama dengan 0 (nol),

Alasan pengecualian Hidrogen dalam hidrida logam Yang termasuk hidrida logam antara lain natrium hidrida, NaH. Dalam senyawa ini, hidrogen ada dalam bentuk ion hidrida, H-. Biloks dari ion seperti hidrida adalah sama dengan muatan ion, dalam contoh ini, -1. Dengan penjelasan lain, biloks senyawa netral adalah nol, dan biloks logam golongan I dalam senyawa selalu +1, jadi biloks hidrogen haruslah -1 (+1-1=0). Oksigen dalam peroksida Yang termasuk peroksida antara lain, H2O2. Senyawa ini adalah senyawa netral, jadi jumlah biloks hidrogen dan oksigen harus nol. Karena tiap hidrogen memiliki biloks +1, biloks tiap oksigen harus -1, untuk mengimbangi biloks hidrogen. Oksigen dalam F2O Permasalahan disini adalah oksigen bukanlah unsur paling elektronegatif. Fluorin yang paling elektronegatif dan memiliki biloks -1. Jadi biloks oksigen adalah +2. Klorin dalam persenyawaan dengan fluorin atau oksigen Klorin memiliki banyak biloks dalam persenyawaan ini. Tetapi harus diingat, klorin tidak memiliki biloks -1 dalam persenyawaan ini. Contoh soal bilangan oksidasi Apakah bilangan oksidasi dari kromium dalam Cr2+? Untuk ion sederhana seperti ini, biloks adalah jumlah muatan ion, yaitu +2 (jangan lupa tanda +) Apakah bilangan oksidasi dari kromium dalam CrCl3? CrCl3 adalah senyawa netral, jadi jumlah biloksnya adalah nol. Klorin memiliki biloks -1. Misalkan biloks kromium adalah n:

n + 3 (-1) = 0 n = +3 Apakah bilangan oksidasi dari kromium dalam Cr(H2O)63+? Senyawa ini merupakan senyawa ion, jumlah biloksnya sama dengan muatan ion. Ada keterbatasan dalam mengerjakan biloks dalam ion kompleks seperti ini dimana ion logam dikelilingi oleh molekul-molekul netral seperti air atau amonia. Jumlah biloks dari molekul netral yang terikat pada logam harus nol. Berarti molekulmolekul tersebut dapat diabaikan dalam mengerjakan soal ini. Jadi bentuknya sama seperti ion kromium yang tak terikat molekul, Cr3+. Biloksnya adalah +3. Apakah bilangan oksidasi dari kromium dalam ion dikromat, Cr2O72-?

Biloks oksigen adalah -2, dan jumlah biloks sama dengan jumlah muatan ion. Jangan lupa bahwa ada 2 atom kromium. 2n + 7(-2) = -2 n = +6 Apakah bilangan oksidasi dari tembaga dalam CuSO4? Dalam mengerjakan soal oksidasi tidak selalu dapat memakai cara sederhana seperti diatas. Permasalahan dalam soal ini adalah dalam senyawa terdapat dua unsur (tembaga dan sulfur) yang biloks keduanya dapat berubah. Ada dua cara dalam memecahkan soal ini: Senyawa ini merupakan senyawa ionik, terbentuk dari ion tembaga dan ion sulfat, SO42-, untuk membentuk senyawa netral, ion tembaga harus dalam bentuk ion 2+. Jadi biloks tembaga adalah +2. Senyawa ini juga dapat ditulis tembaga(II)sulfat. Tanda (II) menunjukkan biloksnya adalah 2. Kita dapat mengetahui bahwa biloksnya adalah +2 dari logam tembaga membentuk ion positif, dan biloks adalah muatan ion.

Contoh soal Biloks S pada H2SO4 ditentukan dengan cara : H2SO4 = 0 ( 2 x biloks H) + S + (4 x biloks O) = 0 ( 2 X 1) + S + (4 X (-2) ) 2+S8 =0 S =82 =0

= +6

Contoh soal Jumlah bilangan oksidasi unsur-unsur dalam suatu ion poliatom sama dengan muatannya. Misalnya : Biloks Cr pada Cr2O72Cr2O72= 2 = 2 = 2 Cr2 + ( 7 x biloks O ) Cr2 + ( 7 x (-2) ) Cr2 14 Cr2 Cr Cr Contoh soal Dengan memakai aturan penentuan bilangan oksidasi di atas, maka dapat ditentukan bilangan oksidasi unsur-unsur baik sebagai unsur bebas maupun senyawanya. Sebagai contoh : Bilangan oksidasi S dan Mn pada senyawa dibawah ini : 1) H2SO4 2) KMnO4 3) K2SO4-3 = 2 = 14 2 = 12 / 2 = +6

Penyelesaian : Biloks S pada H2SO4 H2SO4 = 0 ( 2 x Biloks H) + S + ( 4 x Biloks O ) = 0 ( 2 x 1 ) + S + ( 4 x (-2) ) = 0 2+S8 S S =0 = 82 = +6

Biloks Mn pada KMnO4 KMnO4 = 0 = 0 ( 1 x Biloks K) + Mn + ( 4 x Biloks O ) ( 1 x 1 ) + Mn + ( 4 x (-2) ) = 0 1 + Mn 8 = 0 Mn = 8 1 Mn = +7 Biloks S pada K2SO4 K2SO4-3 = 3

( 2 x Biloks K) + S + ( 4 x Biloks O ) = 3 ( 2 x 1 ) + S + ( 4 x (-2) ) = 3 2 + S 8 = 3 S 8 = 3 2 S 8 = 5 S = 85 S = +3 Konsep Reaksi Redoks Berdasarkan Bilangan Oksidasi Dengan menggunakan harga bilangan oksidasi, pengertian oksidasi dan reduksi berdasarkan konsep oksigen dan konsep transfer elektron dapat kita tinjau kembali. Perhatikanlah reaksi redoks berikut. Pada reaksi H2SO4 + HI H2SO4 + HI -1 +6 -2 H2S + I2 + H2O 0

H2S + I2 + H2O

Pada reaaksi di atas bilangan oksidasi S mengalami penurunan dari +6 menjadi -2 . Sebaliknya bilangan oksidasi I mengalami penaikan dari -1 menjadi 0 Beberapa hal penting yang harus diperhatikan antara lain: 1. Reaksi redoks adalah reaksi yang disertai perubahan bilangan oksidasi 2. Jika dalam suatu reaksi terjadi perubahan suatu unsur menjadi senyawa, maka dapat dipastikan reaksi itu adalah reaksi redoks, sebab perubahan unsur menjadi senyawa atau sebaliknya selalu disertai perubahan bilangan oksidasi 3. Jika dalam suatu reaksi tidak terjadi perubahan bilangan oksidasi (semua atom memiliki biloks tetap), maka reaksi itu bukan reaksi redoks. Contoh soal: Tentukan perubahan bilangan oksidasi dari reaksi berikut ini: MnO2 (s) + 4 HCl (aq) MnCl 2 (aq) + 2 H2O (1) + Cl 2 (g) +4 -1 +2 0

Mn mengalami perubahan oksidasi dari +4 menjadi +2 sedangkan Cl- mengalami perubahan biloks dari -1 menjadi 0

Reaksi Autoredoks (Reaksi Disproporsionasi) Mungkinkah dalam satu reaksi, suatu unsur mengalami reaksi reduksi dan oksidasi sekaligus? Satu unsur dalam suatu reaksi mungkin saja mengalami reaksi reduksi dan

oksidasi sekaligus. Hal ini karena ada unsur yang mempunyai bilangan oksidasi lebih dari satu jenis. Reaksi redoks di mana satu unsur mengalami reaksi reduksi dan oksidasi sekaligus disebut reaksi autoredoks (reaksi disproporsionasi). Contoh: Cl2 0 + 2 KOH KCl + KClO + H2O 1 +1

reduksi
Oksidasi

Tata Nama Senyawa Berdasarkan Bilangan Oksidasi Pada semester I telah kita pelajari tata nama senyawa, sekarang akan kita pelajari tata nama senyawa alternatif menurut IUPAC berdasarkan bilangan oksidasi. Perhatikan tabel berikut ini! Tabe beberapa senyawa dengan nama alternatif berdasarkan biloks Rumus Kimia Nama Nama Alternatif Berdasarkan Biloks N2O N2O3 HClO HClO2 HClO3 HClO4 Dinitrogen monoksida Dinitrogen trioksida Asam hipoklorit Asam klorit Asam klorat Asam perklorat Nitrogen(I) oksida Nitrogen(III) oksida Asam klorat(I) Asam klorat(III) Asam klorat(V) Asam klorat(VII)

Pemecahan Masalah Lingkungan dengan Konsep Redoks Kemajuan industri tekstil, pulp, kertas, bahan kimia, obat-obatan, dan industri pangan di samping membawa dampak positif juga berdampak negatif. Dampak negatif yang ditimbulkan antara lain menghasilkan air limbah yang membahayakan lingkungan, karena mengandung bahan-bahan kimia dan mikroorganisme yang merugikan. Cara mengatasi air limbah industri adalah dengan melakukan pengolahan air limbah tersebut sebelum dibuang ke lingkungan. Salah satu penerapan konsep redoks adalah pengolahan air kotor atau limbah dengan metode lumpur aktif.

Metode lumpur aktif memanfaatkan mikroorganisme (terdiri 95% bakteri dan sisanya protozoa, rotifer, dan jamur) sebagai katalis untuk menguraikan material yang terkandung di dalam air limbah. Proses lumpur aktif merupakan proses aerasi (membutuhkan oksigen). Pada proses ini mikroba tumbuh dalam flok (lumpur) yang terdispersi sehingga terjadi proses degradasi. Proses ini berlangsung dalam reactor yang dilengkapi recycle/umpan balik lumpur dan cairannya. Lumpur secara aktif mereduksi substrat yang terkandung di dalam air limbah. Tahapan-tahapan pengolahan air limbah dengan metode lumpur aktif secara garis besar adalah sebagai berikut: 1. Tahap awal Pada tahap ini dilakukan pemisahan benda-benda asing seperti kayu, bangkai binatang, pasir, dan kerikil. Sisa-sisa partikel digiling agar tidak merusak alat dalam sistem dan limbah dicampur agar laju aliran dan konsentrasi partikel konsisten. 2. Tahap primer Tahap ini disebut juga tahap pengendapan. Partikel-partikel berukuran suspensi dan partikel-partikel ringan dipisahkan, partikel-partikel berukuran koloid digumpalkan dengan penambahan elektrolit seperti FeCl3, FeCl2, Al2(SO4)3, dan CaO. 3. Tahap sekunder Tahap sekunder meliputi 2 tahap yaitu tahap aerasi (metode lumpur aktif) dan pengendapan. Pada tahap aerasi oksigen ditambahkan ke dalam air limbah yang sudah dicampur lumpur aktif untuk pertumbuhan dan berkembang biak mikroorganisme dalam lumpur. Dengan agitasi yang baik, mikroorganisme dapat melakukan kontak dengan materi organik dan anorganik kemudian diuraikan menjadi senyawa yang mudah menguap seperti H2S dan NH3 sehingga mengurangi bau air limbah. Tahap selanjutnya dilakukan pengendapan. Lumpur aktif akan mengendap kemudian dimasukkan ke tangki aerasi, sisanya dibuang. Lumpur yang mengendap inilah yang disebut lumpur bulki.

4. Tahap tersier Tahap ini disebut tahap pilihan. Tahap ini biasanya untuk memisahkan kandungan zat-zat yang tidak ramah lingkungan seperti senyawa nitrat, fosfat, materi organik yang sukar terurai, dan padatan anorganik. Contoh-contoh perlakuan pada tahap ini sebagai berikut: a. Nitrifikasi/denitrifikasi Nitrifikasi adalah pengubahan amonia (NH3 dalam air atau NH4+) menjadi nitrat (NO3-) dengan bantuan bakteri aerobik. Reaksi: 2 NH4+(aq) + 3 O2(g) -> 2 NO2-(aq) + 2 H2O(l) + 4 H+(aq)

2 NO2- (aq) +O2(g)2 NO3- (aq) Denitrifikasi adalah reduksi nitrat menjadi gas nitrogen bebas seperti N2, NO, dan NO2.Senyawa NO3 gas nitrogen bebas b. Pemisahan fosfor Fosfor dapat dipisahkan dengan cara koagulasi/ penggumpalan dengan garam Al dan Ca, kemudian disaring. Al2(SO4)3+14H2O(s) + 2 PO43-(aq)2 AIPO4(s) + 3 SO42-(aq) + 14 H2O(l) 5 Ca(OH)2(s) + 3 HPO42-(aq) Ca5OH(PO4)3(s) + 6 OH-(aq) + 3 H2O(l) c. Adsorbsi oleh karbon aktif untuk menyerap zat pencemar, pewarna, dan bau tak sedap. d. Penyaringan mikro untuk memisahkan partikel kecil seperti bakteri dan virus. e. Rawa buatan untuk mengurai materi organik dan anorganik yang masih tersisa dalam air limbah. 5. Disinfektan Disinfektan ditambahkan pada tahap ini untuk menghilangkan mikroorganisme seperti virus dan materi organic penyebab bau dan warna. Air yang keluar dari tahap ini dapat digunakan untuk irigasi atau keperluan industri, contoh: Cl2. Reaksi: Cl2(g) + H2O(l)HClO(aq) + H+(aq) + Cl-(aq) 6. Pengolahan padatan lumpur Padatan lumpur dari pengolahan ini dapat diuraikan bakteri aerobik atau anaerobik menghasilkan gas CH4 untuk bahan bakar dan biosolid untuk pupuk. Akan tetapi dalam pelaksanaannya metode lumpur aktif menemui kendala-kendala seperti: 1. Diperlukan areal instalasi pengolahan limbah yang luas, karena prosesnya berlangsung lama. 2. Menimbulkan limbah baru yakni lumpur bulki akibat pertumbuhan mikroba berfilamen yang berlebihan. 3. Proses operasinya rumit karena membutuhkan pengawasan yang cukup ketat. Berdasarkan berbagai penelitian, kelemahan metode lumpur aktif tersebut dapat diatasi dengan cara: Menambahkan biosida, yaitu H2O2 atau klorin ke dalam unit aerasi. Penambahan 15 mg/g dapat menghilangkan sifat bulki lumpur hingga dihasilkan air limbah olahan cukup baik. Klorin dapat menurunkan aktivitas mikroba yang berpotensi dalam proses lumpur aktif. Metode ini hasil penelitian Sri Purwati, dkk. dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Selulosa, Bandung

RANGKUMAN 1. Konsep reaksi oksidasi-reduksi mengalami perkembangan mulai dari berdasar penerimaan dan pelepasan oksigen, penerimaan dan pelepasan elektron, serta perubahan bilangan oksidasi. 2. Reaksi redoks merupakan peristiwa oksidasi dan reduksi yang berlangsung bersamaan. 3. Pada reaksi redoks, oksidator adalah zat yang menyebabkan terjadinya oksidasi dan zat ini sendiri mengalami reduksi. Sedangkan reduktor adalah zat yang dapat menyebabkan terjadinya reduksi dan zat ini sendiri mengalami oksidasi. 4. Reaksi redoks banyak berperan dalam kehidupan sehari-hari, salah satu contohnya adalah untuk mengatasi limbah industri dengan menggunakan metode lumpur aktif.

DAFTAR PUSTAKA Anto, Tri Sugiarto. 2012. Daur Ulang Air Limbah. Kompas. Hendayani, Soetopo, Setiadji. 2006. Penanggulangan Permasalahan Lumpur Bulki dari Proses Lumpur Aktif Pada Pengolahan Air Limbah Pulp dan Kertas. Bandung: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Selulosa : Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Harnanto Ari, Ruminten. 2009. Kimia 1Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Contoh soal dan pembahasan 1. H2S dapat dioksidasi oleh KMnO4 menghasilkan antara lain K2SO4 dan MnO2. Dalam reaksi tersebut setiap mol H2S melepaskan . A. 2 mol elektron B. 4 mol elektron C. 5 mol elektron Jawaban : E SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun 1988 Penyelesaian : H2S K2SO4 SO42 + 8H+ + 8e D. 7 mol elektron E. 8 mol elektron

4H2O + S- .

2. Di antara reaksi-reaksi tersebut di bawah ini yang merupakan contoh reaksi redoks adalah

A. AgNO3(aq) + NaCl(aq) B. 2KI(aq) + Cl2(aq) C. NH3(aq) + H2O(l)

AgCl(s) + NaNO3(aq)

I2(s) + 2KCI(aq) NH4+(aq) + OH-(aq) CH3COONa(aq) + H2O(l) 2NaAlO2(aq) + H2O(l)

D. NaOH(aq) + CH3COOH(aq) E. Al2O3(S) + 2NaOH(aq) Jawaban : B SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun 1989 Penyelesaian :

Reaksi redok adalah reaksi yang mengalami oksidasi (kenaikan bilangan oksidasi) dan reduksi (penurunan bilangan oksidasi).

3. Sebagian dari daur nitrogen di alam, adalah sebagai berikut Urutan bilangan oksidasi nitrogen dimulai dari N2, adalah .

A. -3 ; 0 ; +1 ; +3 B. 0 ; +2 ; +4 ; 5

D. 0 ; 3 ; +4 ; +5 E. 0 , +1 ; +3 ; +5

C. -3 ; +1 ; +2 ; +3 Jawaban : B SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun 1989 Penyelesaian : N2 bilangan oksidasinya 0 N O bilangan oksidasi N = +2 +2 -2 N O3 bilangan oksidasi N = +5 5 -6 N O2 bilangan oksidasinya N = +4 +4 -4 4. Reaksi-reaksi di bawah ini yang termasuk reaksi redoks adalah . A. AgCl (s) + 2NH3 (aq) C. AgNO3 (aq) + NaCl (aq) D. OH (aq) + Al(OH)3 (s) E. Hg (NO3)2 (aq) + Sn (s) Jawaban : C SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun 1990 Penyelesaian : Ag NO3 (aq) + Na Cl (aq) 2 -2 1 -1 mengalami oksidasi 5. Reaksi berikut : 3Br (g) + a OH- (aq) b BrO3- + c Br- (aq) + d H2O (l) D. 5, 6, 3 dan 1 E. 4, 1, 5 dan 2 Harga koefisien a, b, c, d supaya reaksi di atas setara adalah . A. 2, 2, 5 dan 1 B. 6, 1, 5 dan 3 C. 6, 5, 1 dan 3 Jawaban : B SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun 1990 Penyelesaian : 3Br (g) + 6 OH- (aq) 1 BrO3- + 5 Br- (aq) + 3 H2O (l) Ag Cl (s) + Na NO3 (aq) 1 -1 1 -1
-

Ag(NH3)2Cl (aq) CH3COONa (aq) + H2O (l) AgCl (s) + NaNO3 (aq) AlO2- (aq) + 2H2O(l) Hg (s) + Sn(NO3)2 (aq)

B. NaOH (aq) + CH3COOH (aq)

a=6 ; b=1 ; c=5 ; d=3

6. Reaksi redoks : 2KMnO4 (aq) + 5H2C2O4 (aq) + 3H2SO4 (aq) 2MnO4 (aq) + 10 CO2 (g) + K2SO4 (aq) + 8H2O (l) Setengah reaksi oksidasi dari reaksi tersebut adalah . A. MnO4-(aq) + 8 H+ (aq) + 5e B. MnO4-(aq) + 2H2O (l) + 3e C. H2C2O4 (aq) E. 2H2SO4 (aq) Jawaban : A SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun 1991 Penyelesaian : 2KMnO4 (aq) + 5H2C2O4 (aq) + 3H2SO4 (aq) 2MnO4 (aq) + 10 CO2 (g) + K2SO4 (aq) + 8H2O (l) Setengah reaksi redoks : D. CO2- (aq) + 2H+ (aq) + 2e Mn2+ (aq) + 4H2O (l) MnO2 (s) + 4OH- (aq) H2C2O4 (aq)

2CO2 (g) + 2H+ (aq) + 2e 2H2O (l) + 2SO2 (g) + O2 (g)

7. Reaksi redoks berikut : a H2O2 (l) + b Fe2+ (aq) + c H+ (aq) A. 1,1,1 B. 1,2,3 C. 1,2,1 Jawaban : B SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun 1992 Penyelesaian : d Fe3+ (aq) + e H2O (l) Harga a, b, dari c berturut-turut ialah . D. 2,2,1 E. 2,1,2

8. Reaksi redoks yang sudah mengalami penyetaraan ialah .

A. I2 (s) + S2O3

(aq) 2I- (aq) + SO42- (aq) Al (s) + CO2 (g) Ag2+(aq) + H2O (l) H2O (l) + Cl2 (g) (aq) Mn2+(aq) + 2H2O (l) + Cl2 (g)

B. Al2O3 (s) + C (s) C. AgOH (s) + H+ (aq)

D. ClO- (aq) + Cl- (aq) + H+ (aq) E. MnO2(s) + 4H+ (aq) + 2ClJawaban : E SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun 1993

Penyelesaian : MnO2 (s) + 4H+ (aq) + 2Cl- (aq) Setara bila : 1. Jumlah muatan kiri = muatan kanan 2. Jumlah unsur sebelah kiri = jumlah unsur sebelah kanan. 9. Suatu unsur transisi memiliki konfigurasi elektron sebagai berikut : 1s22s22p63s23p63d54s2 Tingkat oksidasi tertinggi dari unsur tersebut adalah . A. +7 B. +5 C. +4 Jawaban : A SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun 1994 Penyelesaian : Elektron terluar menentukan jumlah bilangan oksidasi. 10. Reaksi berikut yang merupakan redoks adalah . A. AgNO3 + NaCl B. Cl2 + SO2 + H2O C. MgO + H2O D. CuO + 2H E. SO3 + KOH Jawaban : B SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun 1995 Penyelesaian : AgCl + NaNO3 HCl + H2SO4 Cu2 + H2O Cu2 + H2O K2SO4 + H2O D. +3 E. +2 Mn2+ (aq) + 2H2O (l) + Cl2 (g)

Karena dalam reaksi tersebut mengalami reaksi reduksi dan oksidasi.

11. Suatu reaksi redoks : aBr2 (aq) + bOH- (aq) A. 3, 6, 1, 5, 3 B. 3, 6, 5, 1, 3 C. 6, 1, 5, 3, 3 Jawaban : A SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun 1996 Penyelesaian : 3Br2 (aq) + 6OH- (aq) 1BrO3- (aq) + 5Br- (aq) + 3H2O (l) MnSO4(aq) + I2 aq) + K2SO4(aq) + H2O(l) D. -1 menjadi +2 E. -2 menjadi +2 cBrO3- (aq) + dBr- (aq) + eH2O (l) D. 6, 1, 3, 5, 3 E. 1, 5, 3, 6, 3 Harga a, b, c dan a berturut-turut agar reaksi di atas setara adalah .

12. Pada persamaan oksidasi reduksi berikut (belum setara), KMnO4(aq) + KI(aq) + H2SO4 A. +14 menjadi +8 B. +7 menjadi +2 C. +7 menjadi -4 Jawaban : B SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun 1997 Penyelesaian : Bilangan oksidasi Mn berubah dari .

KMnO4 = B.O K = +1 B.O Mn = x B.O O = -2 1+x-8=O x = +7

MnSO4 = Mn B.O = +2 13. Pada reaksi : 4HCl (aq) + 2S2O3-2 (aq) 2S (s) + 2SO2 (g) + 2H2O (l) + 4Cl- (aq) bilangan oksidasi S berubah dari .

A. +2 menjadi 0 dan +4 B. +3 menjadi 0 dan +4 C. +4 menjadi 0 dan +2 Jawaban : A SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun 1998 Penyelesaian :

D. +5 menjadi +2 dan 0 E. +6 menjadi -2 dan +4

14. Bilangan oksidasi klor dalam senyawa natrium hipoklorit, kalium klorit dan kalium klorat berturut-turut adalah . A. +3 +5 +7 B. +1 +5 +7 C. +1 +3 +5 Jawaban : C SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun 1998 Penyelesaian : Natrium hipoklorit, Kalium klorit, Kalium klorat. D. -1 +3 +5 E. -1 +1 +3

15. Perhatikan persamaan reaksi : K2Cr2O, (s) + 14HCl (aq) tersebut adalah . A. Cr dan Cl B. K dan Cl C. Cr dan H Jawaban : A SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun 1999 D. H dan O E. O dan Cl 2KCl(aq) + 2CrCl3 (aq) + 3Cl2 (g) + 7H2O(l).

Unsur-unsur yang mengalami perubahan bilangan oksidasi pada persamaan reaksi

Penyelesaian :

Cr dan Cl 16. Bilangan oksidasi Br tertinggi terdapat pada senyawa . A. Fe(BrO2)3 B. Ca(BrO)2 C. HBrO4 Jawaban : C SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun 1999 Penyelesaian : A. BrO2B. BrOC. BrO4D. Brx-4 = -1 x - 2 = -1 x=3 x = +1 Bilangan oksidasi Br dalam BrO2- = +3 Bilangan oksidasi Br dalam BrO- = +1 Bilangan oksidasi Br dalam BrO4- = +7 D. AlBr3 E. PbBr4

x - 8 = -1 x = +7 x = -1

Bilangan oksidasi Br dalam Br- = -1 Bilangan oksidasi Br dalam PbBr4- = -1 D. KClO3 E. KClO2

E. PbBr4 - x = -1 A. KCl B. KclO C. CaO2 Jawaban : D

17. Bilangan oksidasi atom Cl tertinggi di antara senyawa berikut adalah .

SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun 2000 Penyelesaian : Bilangan oksida Cl dalam : - KCl = -1 - KClO3= +5 - KClO = +1 - KClO2= +3 - CaCl2= -1 18. Perhatikan reaksi redoks :

Setelah reaksi disetarakan, perbandingan, banyak mol ion reaksi tersebut adalah . A. 1 : 3 B. 3 : 1 C. 2 : 3 Jawaban : A SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun 2000 Penyelesaian : D. 3 : 2 E. 1:6

dengan

dalam

Perbandingan mol

dengan

adalah 1 : 3

19. Persamaan reaksi berikut :

Mempunyai harga a, b, c, d berturut-turut . A. a = 14, b = 6, c = 2 d = 7 B. a = 6, b = 14, c = 2 d = 7 C. a = 6, b = 14, c = 1 d = 7 D. a = 2, b = 2, c = 5 d = 3 E. a = 3, b = 5, c = 1 d = 2 Jawaban : A SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun 2001 Penyelesaian :

20. Di antara persamaan reaksi berikut, yang merupakan reaksi redoks adalah .

A. NaOH (s) + HCl (aq)

NaCl (aq) + H2O (l) Ca(OH)2 (s) + Li2SO4 (aq) MgCl2 (aq) + 2 H2O (1) BaSO4 (s) + 2 HCl (aq) MnCl2 (aq) + 2 H2O (1) + Cl2 (g)

B. CaSO4 (aq) + 2 LiOH (aq) C. Mg(OH)2 (s) + 2 HCl (aq) D. BaCl12 (aq) + H2SO4 (aq) E. MnO2 (s) + 4 HCl (aq) Jawaban : E SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun 2002 Penyelesaian : Yang merupakan reaksi redoks : MnO2 (s) + 4 HCl (aq) 21. Suatu reaksi redoks : a Br2 (aq) + b OH- (aq) A. 3, 6, 1, 5, dan 3 B. 3, 6, 5, 1, dan 3 C. 6, 1, 5, 3, dan 3 Jawaban : A SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun 2002 Penyelesaian : a Br2 (aq) + b OH- (aq) Persamaan setaranya : 3 Br2 (aq) + 6 OH- (aq)

MnCl2 (aq) + 2 H2O (1) + Cl2 (g) c BrO3- (aq) + d Br- (aq) + e H2O (1) D. 6, 1, 3, 5, dan 3 E. 1, 5, 3, 6, dan 3

Harga a, b, c, d, dan e berturut-turut agar reaksi di atas setara adalah .

c BrO3- (aq) + d Br- (aq) + e H2O (1) BrO3- (aq) + 5 Br- (aq) + 3 H2O (1)

Jadi a = 3, b = 6, c = 1, d = 5 dan e = 3.

22. Diketahui persamaan reaksi redoks : Cr2O72- (aq) + a Fe2+ (aq) + H (aq) A. 6, 3 dan 6 B. 6, 2 dan 6 C. 4, 3 dan 5 Jawaban : B SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun 2002 Penyelesaian : Cr2O72- (aq) + a Fe2+ (aq) + H (aq) b Cr3+ (aq) + c Fe3+ (aq) + H2O (1) b Cr3+ (aq) + c Fe3+ (aq) + H2O (1) Jika persamaan reaksi disetarakan, harga koefisien a, b dan c masing-masing adalah . D. 3, 4 dan 3 E. 3, 2 dan 3

Disetarakan menjadi : 2 Cr2O72- (aq) + 6 Fe2+ (aq) + 14 H (aq) Jadi koefisien a = 6, b = 2, dan c = 6 23. Bilangan oksida Cl dari -1 sampai dengan +7. Ion atau molekul manakah di bawah ini yang tidak dapat mengalami reaksi disproporsionasi adalah . A. Cl2 dan HClO4 B. HCl dan HClO2 C. ClO2 dan HClO3 Jawaban : E SMU/Ebtanas/Kimia/Tahun 2003 Penyelesaian : Disproporsionasi atau auto redoks, Clor, Br dan I dapat mengalami auto redoks, artinya sebagian dioksidasi, sebagian lagi direduksi. Cl, Br dan I dapat memiliki Bilangan oksidasi dari -1 sampai dengan +7. Yang memiliki bilangan oksidasi -1 atau +7 tidak dapat mengalami auto redoks karena bilangan oksidasi -1 tidak dapat direduksi lagi dan bilangan oksidasi +7 tidak.dapat dioksidasi lagi. Jadi pasangan ion atau molekul yang tidak D. Cl2 dan KClO3 E. Cl- dan NaClO4 2 Cr3+ (aq) + 6 Fe3+ (aq) + 7 H2O (1)