Anda di halaman 1dari 13

PENDAHULUAN

Dewasa ini, masyarakat mulai mengenal istilah Euthanasia. Euthanasia merupakan perbuatan yang dengan sengaja memperpendek kehidupan atau dengan sengaja tidak memperpanjang hidup demi kepentingan pasien oleh dokter. Mungkin beberapa mayarakat masih awam dengan istilah Euthanasia dan lebih mengenal istilah Suntik Mati. Masyarakat memahami Suntik Mati sebagai suatu usaha yang dilakukan dokter untuk mengakhiri hidup pasien dengan menyuntikkan zat-zat kimia tertentu ke dalam tubuh pasien sehingga pasien meninggal. Suntik Mati hanyalah salah satu dari sekian banyak jenis Euthanasia. Dalam skenario 4, keluarga pasien meminta dokter agar melakukan suntik mati kepada pasien. Hal ini disebut sebagai Euthanasia Aktif Tidak Langsung, yaitu Euthanasia dimana dokter member obat (dalam hal ini suntikan) kepada pasien yangdiketahui akan mempercepat kematiannya. Ada juga jenis Euthanasia yang dilakukan dengan member ikan obat dengan dosis yang tidak tepat, dengan sengaja tidak melakukan tindakan medis kepada pasien ataupun pasien dibiarkan begitu saja hingga meninggal. Dalam skenario 4, yang menjadi permasalahan adalah ketika keluarga pasien meminta dokter untuk melakukan suntik mati sedangkan pihak dokter menolak melakukan suntik mati. Keluarga pasien beralasan bahwa mereka sudah tidak mempunyai biaya untuk pengobatan pasien dan putus asa atas tindakan medis yang dirasa tidak akan memberikan kemajuan yang berarti bagi kondisi pasien. Pihak dokter menolak melakukan suntik mati karena mereka beranggapan bahwa urusan nyawa adalah ketentuan Tuhan Yang Maha Esa dan profesi dokter berkewajiban untuk mempertahankan kehidupan bagaimanapun caranya. Disinilah terjadi konflik antara keluarga pasien dengan dokter. Keluarga pasien merasa bahwa pasien mempunyai hak untuk menghentikan serta menolak pengobatan dan perawatan. Sementara itu, dokter berhak memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur operasional. Sedangkan di sisi lain dokter wajib menghormati hak-hak pasien yang bersumber dari hak-hak asasi dalam bidang kesehatan. Dokter harus memiliki kemampuan berkomunikasi dengan pasien serta anggota keluarganya dan mampu menjelaskan hak pasien dan hak asasi manusia yang paling dasar yaitu hak untuk hidup. Hokum yang berlaku di Indonesia belum mengatur secara jelas

mengenai Euthanasia. Namun, dokter dan pasien dapat merujuk pada pasal KUHP pasal 304, pasal 306 ayat 1 dan 2, pasal 344, dan pasal 345 mengenai pengakhiran hidup seseorang. Jadi, ketika suntik mati akan diputuskan, hendaknya dokter dan keluarga pasien mengacu pada hukum yang berlaku dan kemajuan IPTEK di bidang kedokteran dalam usaha mempertahankan hidup pasien. Biaya pengobatan adalah tanggung jawab pasien dan keluarga pasien. Namun, perlu diingat bahwa biaya kesehatan adalah tanggung jawab pemerintah dalam rangka memenuhi tuntutan UU dalam hal kesejahteraan rakyat.

SKENARIO 4
EUTHANASIA

Keluarga pak Duka nestapa sedih tak terkira, anak semata wayangnya Desi Ayu Ayu yang anggun yang baru berusia 16 tahun mengalami kecelakaan lalu lintas, yang membuatnya harus berada di ICU. Desi Ayu Ayu koma sudah hampir 12 minggu sementara tidak ada tanda-tanda yang positif untuk kemajuan kondisinya. Desi Ayu Ayu bergantung pada alat-alat di ICU termasuk alat bantu pernapasan. Dokter Bagus nang ganteng mengatakan kalu Desi Ayu terbangun dari komanya dia hanya seperti boneka, hanya di tempat tidur tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Karena batang otaknya terkena benturan yang membuatnya lumpuh. Awalnya keluarga pak Duka Nestapa bertahan untuk terus membiayai Desi Ayu, termasuk menjual tanah warisan. Tetapi di bulan ke 6 mereka sudah tak sanggup bertahan, sambil berurai air mata pak Duka nestapa ingin agar putrinya di SUNTIK MATI karena selain sudah tidak punya harta untuk biaya mereka sudah lelah, mereka putus asa. Dokter Bagus mengatakan dia masih ingin berdiskusi dengan pihak komite medis, dan akan member jawaban dalam beberapa hari. Setelah beberapa hari, dokter Bagus menyampaikan sebagai dokter beliau mempunyai hak untuk menolak apa yang diminta pak Duka, mereka tidak berhak untuk melakukan EUTHANASIA karena urusan nyawa adalah Allah yang menentukan. Keluarga Pak Duka tidak bias menerima keputusan itu. Mereka tetap meminta secara paksa agar segera dilakukan, pak Duka mengatakan ini adalah hak mereka sebagai pasien untuk memutuskan, karena adalah orang tua Desi Ayu, pak Duka mengancam akan meninggalkan Desi Ayu di RS karena mereka sudah menyerah. Hal ini membuat dilemma buat dokter Bagus dan pihak rumah sakit. Bagaimana pendapat saudara bisakah permintaak Pak DUKA Nestapa dikabulkan oleh pihak RS, bagaimana dengan hukum yang berlaku di Negara ini?

PROBLEM
1. Apakah Euthanasia dilegalkan di Indonesia secara hukum dan agama ? 2. Pandangan euthanasia di beberapa negara ! 3. Apakah pihak rumah sakit berhak melakukan eythanasia secara tidak langsung karena alasan biaya ? 4. Apakah dokter berhak menolak dilakukan suatu euthanasia ? 5. Apakah keluarga pasien berhak meminta pihak rumah sakit untuk memberikan ijin rawat jalan bagi pasien meskipun pasien dalam keadaan sakit parah (koma) ?

KATA KUNCI

ICU Koma Alat Bantu Pernapasan Batang Otak Komite Medis Suntik Mati Euthanasia Perawatan Paliatif

DISKUSI

ICU KOMA ALAT BANTU PERNAPASAN Alat yang digunakan untuk menolong pasien yang sistem pernapasannya terganggu

agar nyawa pasien terselamatkan.

BATANG OTAK Batang otak adalah bagian yang menghubungkan otak dengan spinal dan mengenai

tulang belakang, meliputi bagian otak belakang.

KOMITE MEDIS Komite Medis adalah kelompok fungsional yang terdiri dari tenaga medis fungsional

dan mempunyai integritas dan profesionalisme yang tinggi sesuai bidang keahliannya.

LUMPUH OTAK EUTHANASIA

Menurut Commisie dari Gezondheidsraad (Belanda) merumuskan EUTHANASIA adalah perbuatan yang dengan sengaja memperpendek hidup ataupun dengan sengaja tidak memperpanjang hidup demi kepentingan si pasien oleh seorang dokter ataupun bawahan yang bertanggungjawab kepadanya Euthanasia menurut Kode Etik Kedokteran Indonesia adalah : 1. Berpindah kea lam baka dengan tenang dan aman tanpa penderitaan dan bagi mereka yang beriman dengan menyebutkan nama Allah di bibir.

2. Waktu hidup akan berakhir, diringankan penderitaan si sakit dengan memberinya obat penenang. 3. Mengakhiri penderitaan hidup orang sakit dengan sengaja atas permintaan pasien sendiri dan keluarganya. Menurut Franz-Magnis Suseno menyebutkan ada tiga macam bentuk euthanasia berdasarkan cara pelaksanaannya, yaitu : 1. EUTHANASIA PASIF Yaitu tindakan atau perbuatan membiarkan pasien meninggal dengan cara dokter tidak menggunakan semua kemungkinan teknik kedokteran yang bias dipakai untuk memperpanjang kehidupan pasien misalnya : tidak melakukan intervensi medic, melakukan penundaan operasi

2. EUTHANASIA AKTIF LANGSUNG Dimana dokter secara langsung memperpendek hidup pasien, disinilah yang disebut dengan mercy killing. Ia memberikan obat yang terlalu rendah atau tinggi sehingga penderita meninggal dunia Ia memberikan obat yang tidak sesuai peruntukkannya

3. EUTHANASIA AKTIF TIDAK LANGSUNG Dimana dokter member obat kepada pasien yang diketahui akan mempercepat kematiannya.

BERDASARKAN PERMINTAAN, EUTHANASIA DIBAGI MENJADI : 1. EUTHANASIA VOLUNTARY / EUTHANASIA SUKARELA

Adalah penghentian tindakan pengobatan atau mempercepat kematian atas permintaan pasien.

2. EUTHANASIA INVOLUNTARY Adalah jenis Euthanasia yang dilakukan pada pasien dalam keadaan tidak sadar dan dilakukan oleh dokter atas pertimbangan keterpaksaan

EUTHANASIA AKTIF DIBEDAKAN EUTHANASIA AKTIF SUKARELA Pengakhiran kehidupan yang dilakukan melalui intervensi aktif seorang dokter, hal itu disetujui dan sepengetahuan penderita dan keluarganya.

EUTHANASIA AKTIF TERPAKSA Tindakan mengakhiri kehidupan tanpa sepengetahuan dan tanpa persetujuan penderita dan keluarganya.

EUTHANASIA PASIF DIBEDAKAN EUTHANASIA PASIF SUKARELA Atas permintaan dan keluarganya untuk menghentikan tindakan pengobatan

EUTHANASIA PASIF TERPAKSA Penderita dan keluarganya tidak mengetahui hal ini, dan dokter tidak melakukan pengobatan kepada penderita yang dipandang tidak mempunyai harapan untuk sembuh. Penderita dibiarkan begitu saja sampai ajalnya tiba dengan sendirinya.

PERAWATAN PALIATIF Perawatan paliatif adalah perawatan kesehatan terpadu yang bersifat aktif dan

menyeluruh, dengan pendekatan multidisiplin yang terintegrasi. Tujuannya untuk mengurangi penderitaan pasien, memperpanjang umurnya, meningkatkan kualitas hidupnya, juga memberikan support kepada keluarganya. Meski pada akhirnya pasien meninggal, yang terpenting sebelum meninggal dia sudah siap secara psikologis dan spiritual, serta tidak stres menghadapi penyakit yang dideritanya.

ANALISA / HASIL DISKUSI

Contoh Kasus Euthanasia yang terjadi di Negara Perancis : Kapanlagi.com - Pengadilan Perancis memutuskan seorang dokter bersalah namun memberikan hukuman yang jauh diperingan yaitu penjara satu tahun karena dokter tersebut memberikan resep melebihi dosis dan berakibat kematian kepada seorang pasiennya yang didiagnosa secara medis sakit kanker pada tahap lanjut sehingga tidak memiliki harapan hidup. Menjelang akhir persidangan terjadi debat sengit di seluruh negri Perancis mengenai kasus tenaga medis yang dikatakan bertujuan menolong pasien untuk mengakhiri hidupnya. Pengadilan memutuskan dokter Laurence Tramois, 35, bersalah meracuni pasiennya dengan cara memberikan obat melebihi dosis sesungguhnya, namun memutuskan perawat Chantal Chanel, 40, yang menjalankan pemberian obat berdosis tinggi dan menyebabkan kematian pasien tersebut, tidak bersalah dan bebas Pengadilan memutuskan pula tindakan Tramois tersebut tidak akan disimpan dalam catatan berkas pengadilan , merupakan keputusan yang memberikan kepastian dokter tersebut dapat melanjutkan pekerjaannya berpraktik dikemudian hari. Hukuman tersebut adalah hukuman teringan yang diberikan berdasarkan hukum Perancis "Saya tidak merasa kecewa karena menurut saya keputusan tersebut adil, dan saya merasa lega atas kebebasan Chantal," kata Tramois setelah sidang usai. Kedua wanita (dokter dan perawat) dituduh telah meracuni Paulette Druais dengan memberikan potassium khlorida pada saat Druais menderita kanker pankreas stadium lanjut pada tahun 2003. Kedua wanita tersebut yang bekerja di sebuah rumah sakit daerah di wilayah Perancis selatan mengakui perbuatan mereka namun mengatakan hal itu dilakukan demi alasan kemanusiaan semata, untuk mengakhiri penderitaan pasien usia 65 tahun yang telah dinyatakan secara medis tak lagi memiliki harapan hidup Keluarga Druais membela kedua wanita tersebut namun jajaran direksi rumah sakit membawa masalah tersebut ke pengadilan. Keduanya terancam hukuman penjara 30 tahun

Kasus itu menimbulkan kontroversi di Perancis dimana lebih dari 2 ribu dokter dan perawat menanda tangani petisi pekan lalu, mengatakan mereka juga akan melakukan hal yang sama apabila hal itu terjadi pada mereka, sambil meminta agar dilakukan perobahan undangundang yang mengijinkan euthanasia. Euthanasia aktif tidak dibenarkan menurut hukum yang berlaku di Perancis namun pada tahun 2005 hukum di negeri itu membolehkan para dokter untuk menghentikan perawatan dan terapi serta pengobatan pasien dalam kondisi tertentu. "Pihak politisi kini harus mau menerima apa yang menjadi tanggung jawab mereka," kata penasihat hukum Tramois Benoit Ducos Sader kepada pers. Kasus tersebut juga mewarnai kampanye pemilihan presiden dimana pihak oposisi yaitu Partai Sosialis mengatakan mereka setuju dengan keputusan untuk membolehkan para dokter mengakhiri hidup pasien dengan syarat pada kondisi tertentu. Calon dari Partai Sosialis Segolene Royal mengatakan pada stasiun televisi Perancis saluran 2 keputusan tersebut harus diambil berdasarkan keputusan bersama yang melibatkan dua pihak yaitu pihak rumah sakit dan keluarga pasien untuk mencegah penyalah gunaan Kasus di Perancis itu hampir serupa dengan kasus kontroversi di Italia dimana pengadilan membebaskan seorang dokter yang melakukan tindakan mematikan alat penunjang hidup kepada seorang pasien yang dinyatakan sakit tanpa memiliki harapan hidup dan pihak keluarga telah meminta agar pasien tersebut diakhiri penderitaanya, dibiarkan meninggal Kelompok penentang euthanasia yang utama adalah kelompok agama dan di Italia dalam hal ini Gereja Roma Katholik yang mengatakan walau ada berbagai alasan memberikan wewenang kepada para tenaga medis untuk mengakhiri nyawa pasien dalam situasi dan kondisi tertentu , tak dapat dibenarkan dari sudut pandang agama manapun dan hal itu berpeluang besar untuk disalah gunakan Euthanasia aktif merupakan hal yang legal di Belanda, Belgia dan Switzerland.

KESIMPULAN

1. - Euthanasia dikatakan sah atau tidak sah tergantung situasi dan kondisi - Euthanasia tidak bisa dilakukan sembarangan. Harus ada pihak pasien atau

keluarga yang memberikan persetujuan dan pihak dari luar (organisasi profesi,badan hukum ) untuk mengawasi. Namun di Indonesia hal tersebut tidak dilegalkan. 2. Di beberapa negara yang menganut paham liberal (kebebasan) hak asasi tiap individu sangat dihargai termasuk hak untuk hidup dan hak untuk mengakhiri hidupnya sendiri.Sehingga euthanasia dilegalkan.
3. Tidak dapat dilakukan dengan suntik mati. Euthanasia secara pasif tidak langsung dapat

dilakukan karena keterbatasan biaya untuk melaksanakan perawatan di rumah sakit.Apalagi bila dilakukan suntik mati akan dapat menimbulkan kontroversi dan reaksi yang berlebihan dari lingkungan sekitar 4. Dilihat menurut pedoman yang dianut : menurut sumpah dokter,dokter tidak boleh melakukan euthanasia.Tergantung situasi : Ketika pasien tidak bisa diselamatkan lagi.Bila pasien setuju untuk melakukan euthanasia ,maka diperlukan informed consent ( perjanjian ) untuk melindungi profesi dokter secara hukum(di beberapa negara), namun di indonesia segala bentuk euthanasia tidak di izinkan sehingga biasanya dilakukan secara pasif tidak langsung. 5. Keluarga pasien berhak untuk meminta rumah sakit memberikan izin rawat jalan bagi pasien meskipun karena pembiayaan ditanggung pasien. Namun pihak rumah sakit memberikan inform consent (perjanjian) yang menyatakan baahwa rumah sakit sudah tidak bertanggung jawab lagi atas kondisi pasien.

DAFTAR PUSTAKA

dr. Ratna Winahyu Lestari Dewi, SH dan dr. Meivy Isnoviana, SH. 2006. Hukum Kedokteran. Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Surabaya http://zano-afaozan.blogspot.com/2008/09/komite-medik.html http://f4bregaz.blogspot.com/2008/12/pengertian-otak.html http://rumahkanker.com/content/view/24/79/ http://nursingbrainriza.blogspot.com/2007/05/perawatan-paliatif-apa-sih-perawatan.html http://www.euthanasia.com/