Anda di halaman 1dari 3

Disusun Oleh: Levi Hosea ( 6211005 ) Ferdian ( 6211087 )

Pengujian Boraks dalam Sediaan dan Bahan Makanan


A. Uji Kualitatif Beberapa uji kualitatif untuk boraks, antara lain: reaksi dengan H2SO4 dan metanol pada abu sampel; reaksi kertas tumerik dan amonia dengan penambahan H2SO4 dan etanol; dan reaksi H2SO4 pada larutan sampel. 1. Reaksi dengan H2SO4 dan metanol Reaksi dengan H2SO4 (P) dan metanol pada sampel yang telahdiabukan dalam tanur akan menghasilkan nyala berwarna hijau jika dibakar;reaksi dengan asam oksalat dan kurkumin 1% dalam metanol dengan penambahan amonia pada larutan abu yang bersifat asam akanmenghasilkan warna merah cemerlang yang berubah menjadi hijau tuakehitaman. Pencelupan kertas tumerik ke dalam larutan sampel yang bersifat asam. Jika terdapat Na2B4O7atau H3BO3, maka kertas berwarna merah akan berubah menjadi hijau biru terang. Pencelupan kertas tumerik ke dalam larutan asam dari sampel menghasilkan coklat merah intensif ketika kertas mengering, yang berubah menjadi hijau kehitaman jika diberi larutan amonia; reaksi dengan penambahan H2SO4 dan etanol pada sampel, akan menghasilkan nyala hijau jika dibakar. Reaksi dengan H2SO4 dan metanol pada larutan sampel dalam akuades bebas CO2 akan menghasilkan nyala hijau jika dibakar; dan penambahan phenolftalein ke dalam larutan sampel dalam akuades bebas CO2 menghasilkan warna merah yang hilang dengan penambahan 5ml gliserol. Reaksi dengan H2SO4 (P) dan metanol pada sampel yang telah disentrifugasi akan menghasilkan nyala berwarna hijau jika dibakar; reaksi dengan asam oksalat dan kurkumin 1% dalam metanol dengan penambahan amonia pada larutan abu yang bersifat asam akan menghasilkan warna merah cemerlang yang berubah menjadi hijau tua kehitaman. 2. Uji nyala Uji nyala adalah salah satu metode pengujian untuk mengetahui apakah dalam makanan terdapat boraks atau tidak. Disebut uji nyala karena sampel yang digunakan dibakar, kemudian warna nyala dibandingkan dengan warna nyala boraks asli. Serbuk boraks murni dibakar menghasilkan nyala api berwarna hijau. Jika sampel yang dibakar menghasilkan warna hijau maka sampel dinyatakan positif mengandung boraks. Prosedur dilakukan dengan melarutkan senyawa uji dengan metanol dalam wadah (cawan penguap) kemudian dibakar, warna api hijau menunjukkan terdapat senyawa boraks.

Uji warna dengan kertas turmerik

Kertas turmerik adalah kertas saring yang dicelupkan ke dalam larutan turmerik (kunyit) yang digunakan untuk mengidentifikasi asam borat. Prosedur : 1. Kurang lebih 10 g sampel di gerus masukkan ke kurs porselen, 2. Tambahkan 10 ml Natrium Karbonat 10% dan diaduk rata, 3. Diuapkan diatas tangas air sampai kering atau mengarang 4. Masukkan ke dalam tanur dan dipijarkan pada suhu 5500 sampai pengabuan sempurna,

5. Setelah dingin ditambahkan 10 ml air panas, panaskan 6. Tambahkan HCl (1:1) sampai asam, 7. Saring sampai didapat filtrat 8. Kertas turmerik dicelupkan kedalam filtrat 9. Jika berwarna merah maka positif mengandung boraks 10. Dan bila diberi uap ammonia berubah menjadi hijau-biru yang gelap maka sampel tersebut positif mengandung boraks.

B. Uji Kuantitatif Beberapa uji kuantitatif untuk boraks, yaitu: metode titrimetri; titrasi asam basa; titrasi dengan penambahan manitol; dan metode spektrofotometri. 1. Metode Titrimetri Penetapan kadar asam borat dalam pangan dengan metode titrimetri,yaitu dengan titrasi menggunakan larutan standar NaOH dengan penambahan gliserol akan menghasilkan warna merah muda yang mantap pada titik akhir titrasi. Penetapan kadar boraks dalam sampel berdasarkantitrasi asam basa dengan menggunakan larutan standar HCl. Penetapan Kadar boraks dalam sampel dengan penambahan manitol dan indikator phenolftalein dititrasi menggunakan larutan NaOH menghasilkan larutan merah muda pada titik akhir titrasi. Penetapan kadar boraks dengan spektrofotometri, dengan mengukur serapan dari destilasi larutan sampel yang diberi larutan kurkumin dan etanol menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang maksimum 542 nm. 2. Titrasi dengan penambahan manitol Semua senyawa organik dihilangkan pada proses pengarangan, kemudian sisa-sisa senyawa organik (C) dijadikan karbonat pada proses pengabuan setelah diberi air kapur. Semua karbonat diendapkan dalam keadaan alkalis dengan air kapur. Sisa-sisa karbonat dalam larutan diikat dengan H2SO4 sambil dipanaskan. Asam borat bebas direaksikan dengan manitol yang memberikan H yang dapat ditentukan secara acidimetri. Sumber : http://catatankimia.com/catatan/analisis-boraks.html http://www.scribd.com/doc/81521521/Makala-h

Kopresipitasi Kopresipitasi (Pengendapan ikut) adalah pencemaran endapan oleh zat yang secara normal larut dalam larutan induk. Dua hal penyebab kopresipitasi adalah adsorpsi partikel asing pada permukaan kristal yang sedang tumbuh dan oklusi partikel asing sewaktu proses pertumbuhan kristal. Dalam prakteknya, terkadang kopresipitasi ini menjadi sebuah metode untuk menghasilkan suatu endapan yang dikehendaki. Metode kopresipitasi merupakan salah satu metode sintesis senyawa anorganik yang didasarkan pada pengendapan lebih dari satu substansi secara bersamasama ketika melewati titik jenuh. Kopresipitasi merupakan metode yang menjanjikan karena prosesnya menggunakan suhu rendah dan mudah untuk mengontrol ukuran partikel sehingga waktu yang dibutuhkan relatif lebih singkat. Beberapa zat yang paling umum digunakan sebagai zat pengendap dalam kopresipitasi adalah hidroksida, karbonat, sulfat dan oksalat. Produk dari metode ini diharapkan memiliki ukuran partikel yang lebih kecil dan lebih homogen daripada metode solid state dan ukuran partikel yang lebih besar dari pada metode sol-gel. Sumber : http://www.scribd.com/doc/97330543/Metode-kopresipitasi http://www.scribd.com/doc/20354210/Pengendapan-Dan-Gravimetri