Anda di halaman 1dari 3

PERPAJAKAN

Permasalahan : Kelompok saudara suatu hari didatangi oleh pimpinan perusahaan XXX yang sedang dihadapkan pada kasus dugaan penggelapan pajak hingga triliunan rupiah sehingga negara dirugikan.

Diminta : Buat rekomendasi kelompok secara tertulis terhadap kasus perusahaan XXX

Pembahasan : Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Wajib pajak adalah orang pribadi / badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan perundangan perpajakan. Penggelapan pajak disini dapat berarti merupakan tindakan melanggar peraturan perpajakan dimana wajib pajak melaporkan dengan tidak benar obyek pajak dengan maksud untuk menghindari pajak secara ilegal. Berdasarkan kasus diatas, menurut kelompok kami, pimpinan perusahaan XXX tidak perlu panik dan takut. Malah sebaiknya berkonsultasi dengan orang yang mengerti tentang pajak, bisa dengan konsultan pajak. Karena dalam kasus ini perusahaan masih diduga melakukan penggelapan pajak. Dalam hal ini dugaan berarti bahwa Direktorat Jenderal Pajak belum melaksanakan pemeriksaan pajak terhadap dokumen-dokumen yang dimiliki klien dan menerbitkan Surat Ketetapan Pajak dan Surat Tagihan Pajak kepada perusahaan klien. Dugaan tersebut bisa datang dari pihak ketiga atau pihak-pihak yang berada di luar perusahaan klien. Dengan adanya dugaan itu, Direkturat Jenderal Pajak kemudian akan menindaklanjuti dengan mengutus Pemeriksa Pajak untuk melakukan Pemeriksaan terhadap perusahaan klien. Dalam proses Pemeriksaan tersebut, Pemeriksa Pajak akan memeriksa Bukti Permulaan untuk memastikan benar atau tidaknya dugaan penggelapan pajak yang dilakukan oleh klien. Hasil dari Pemeriksaan Bukti Permulaan tersebut nantinya akan dilaporkan dalam Laporan Pemeriksaan Pajak. Hal ini tertera di dalam UU KUP Pasal 1 ayat 26 dan KMK no. 545 Pasal 1 Tentang Tata Cara Pemeriksaan.

Sebagai konsultan pajak, kami menyarankan klien kami untuk memeriksa kembali dan menghitung ulang pajaknya berdasarkan sistem self assestment. Sesuai dengan UU KUP No 28 tahun 2008 dalam pasal 8 ayat 1 disebutkan Wajib Pajak dengan kemauan sendiri dapat membetulkan Surat Pemberitahuan yang telah disampaikan dengan menyampaikan pernyataan tertulis, dengan syarat Direktorat Jenderal Pajak belum melakukan tindakan pemeriksaan. Selain itu klien juga diharapkan untuk memeriksa dokumen-dokumen Surat Pemberitahuan Tahunan dan pembayaran pajak yang telah dilakukan pada periode-periode sebelumnya sebagai bukti untuk memperkuat bahwa klien tidak melakukan penggelapan pajak. Dalam penyiapan dokumen ini klien juga hendaknya memastikan bahwa data-data akuntansi yang berkaitan dengan perhitungan pajak telah disajikan dan dihitung dengan benar dan sesuai dengan kondisi sebenarnya yang terjadi di perusahaan. Namun, apabila di dalam proses penghitungan sendiri tersebut dan pemeriksaan dokumen memang diketemukan adanya kurang bayar, dianjurkan klien untuk segera memperbaiki Surat Pemberitahuan sebelum Direktorat Jenderal Pajak melakukan Pemeriksaan. Hal ini untuk mengantisipasi dilakukannya Pemeriksaan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Karena seperti yang diatur di dalam UU KUP Pasal 8 ayat 1 dan 2 yang menyebutkan bahwa apabila Wajib Pajak dengan kemauan sendiri dapat membetulkan Surat Pemberitahuan yang telah disampaikan dengan syarat bahwa Direktorat Jendral Pajak belum melakukan tindakan pemeriksaan, kepadanya akan dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% per bulan atas jumlah pajak yang kurang bayar. Hal ini merupakan salah satu upaya untuk menghindari kerugian yang terlalu besar yang terjadi pada perusahaan klien akibat dari kesalahan penghitungan dan pelaporan pajak. Apabila dalam jangka waktu yang akan datang Direktorat Jenderal Pajak melaksanakan Pemeriksaan terhadap klien dan Direktorat Jenderal Pajak mengirimkan Surat Ketetapan Pajak dan Surat Tagihan Pajak kepada klien, klien dianjurkan untuk mengirimkan Surat Keputusan Keberatan atas Surat Ketetapan Pajak yang diterima, dengan dasar bahwa klien merasa bahwa data akuntansi dan perhitungan pajak yang telah dilakukan oleh klien itu benar adanya dan seuai dengan peraturan perpajakan serta dilengkapi dengan Surat Pemberitahuan Tahunan pajak dan tidak terdapat upaya untuk menghindari pajak secara ilegal. Setelah itu klien pun dapat memohon untuk dilakukan Peninjauan Kembali kepada Mahkamah Agung terhadap data-data akuntansi dan data-data Pajak Terutang yang dibayarkan oleh klien selama periode yang diduga telah dilakukan penggelapan pajak.

Dalam hal telah dilaksanakan Pemeriksaan oleh Direktorat Jenderal Pajak, ada 2 kemungkinan yang dapat dilakukan oleh klien : 1. Dalam hal telah dilaksanakan pemeriksaan tetapi direktorat Jenderal Pajak belummenerbitkan surat ketetapan pajak, wajib pajak dengan kesadaran sendiri mengungkapkan ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan dengan pelunasan kekurangan pembayaran jumlah pajak beserta sanksi administrasi berupa kenaikan 50% dari pajak yang kurang bayar 2. Dalam hal telah dilakukan pemeriksaan namun belum dilakukan penyidikan, Klien sebagai wajib pajak dapat mengungkapkan ketidakbenaran yang terjadi dan melakukan pelunasan kekuarngan pembayaran jumlah pajak yang sebenarnya terutang beserta sanksi administrasi berupa denda 150% dari jumlah pajak yang kurang bayar.

Sumber : Undang-Undang no 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum Perpajakan Keputusan Menteri Keuangan no.545/KMK 04/2002 tentang Tata Cara Pemeriksaan