P. 1
perlindungan TKI

perlindungan TKI

|Views: 29|Likes:
Dipublikasikan oleh Ryan Prasdinar

More info:

Published by: Ryan Prasdinar on Feb 24, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/07/2013

pdf

text

original

STRATEGI PERLINDUNGAN TKI

Dari tahun ke tahun, pelanggaran atas hak-hak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) terus meningkat. Sikap pemerintah selama ini ambigu: di satu sisi mengakui peran TKI sebagai penghasil devisa negara, namun di sisi lain penikmatan hak-hak TKI masih jauh panggang dari api. Pelanggaran hak-hak TKI terjadi mulai dari prapenempatan, penempatan, dan pascapenempatan. Kebijakan pemerintah selama ini masih terlalu menekankan pada dimensi penempatan ketimbang perlindungan. Secara umum, kebijakan pemerintah masih berwatak parsial, sektoral, dan reaktif. Oleh karena itu, pemerintah perlu menyusun strategi dan langkah-langkah yang visioner dalam rangka perlindungan TKI.

Pemantauan Komnas HAM

Pada 2008-2009, Komnas HAM menerima sekitar 80 pengaduan, baik dari keluarga korban maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang fokus pada isu tenaga kerja migran. Pengaduan tersebut umumnya berkenaan dengan kesulitan TKI untuk pulang ke Indonesia, pembayaran gaji yang tertunda, hilangnya kontak dengan TKI, tindakan penganiayaan, dan lainlain. Menindaklanjuti berbagai pengaduan itu, Komnas HAM melakukan pemantauan dan menyampaikan rekomendasi perlindungan yang lebih baik terhadap TKI kepada pihak-pihak terkait, antara lain: (a) Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI; (b) Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI); (c) Direktorat Jenderal Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri, (d) Kedutaan Besar RI di negara penempatan; dan (e) Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta. Pada Oktober-November 2009 Komnas HAM juga melakukan pemantauan di beberapa tempat, yaitu beberapa desa di Kabupaten Cirebon (Jawa Barat), Kabupaten Jember, Kabupaten Sampang, Kabupaten Nunukan (Kalimantan Timur), Tawau (Malaysia), Terminal TKI Selapajang atau Terminal IV Bandara Soeta di Cengkareng. Kawasan Cirebon, Jember, dan Sampang dipilih karena tiga kabupaten ini merupakan kantong-kantong tempat perekrutan calon

sehingga cukup banyak TKI yang dikirim berusia di bawah umur. Nunukan dipilih karena merupakan gerbang lalu lintas pemberangkatan TKI. e. hak atas rasa aman. Komnas HAM menyimpulkan adanya bentuk-bentuk pelanggaran atas hak-hak TKI. mulai dari perekrutan sampai penempatan TKI. Komnas HAM menyimpulkan beberapa hal: a. hak untuk bebas dari penyiksaan.tenaga kerja migran yang banyak mengalami penipuan dan mengalami eksploitasi di tempat kerjanya. Akibatnya banyak terjadi pelanggaran yang dilakukan PPTKIS yang merugikan TKI. Jakarta Timur. di antaranya hak hidup. hak atas kesehatan. b. Komnas HAM merekomendasi pihak Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia menggunakan auditor independen untuk . seperti menempatkan TKI tanpa melalui pelatihan 200 jam. Berdasarkan temuan tersebut (poin a-d). hak-hak ketenagakerjaan. Pada 25 Februari 2010 Komnas HAM melakukan pemantauan terhadap Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) di Condet. hak untuk berserikat. hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. singgah sementara ataupun gerbang pemulangan TKI. dan hak atas identitas yg sah. penyalahgunaan ijin dan terindikasi melakukan penipuan terhadap calon TKI. Sedangkan Tawau dan Terminal TKI Selapajang dipilih karena merupakan tempat baru pengganti Terminal III yang kini difungsikan sebagai terminal keberangkatan dan kedatangan untuk beberapa maskapai penerbangan domestik. padahal PPTKIS memegang peranan penting. Berdasarkan data dan fakta yang diperoleh dari pemantauan situasi di beberapa PPTKIS di Condet tersebut. Berkurangnya calon TKI dan mahalnya biaya operasional yang harus dikeluarkan PPTKIS sehingga tidak lagi memperhatikan kelayakan tempat penampungan. hukuman kejam dan perlakuan tak manusiawi lainnya. Berdasarkan pemantauan tersebut. Ketatnya persaingan antar-PPTKIS menyebabkan PPTKIS memberikan kelonggaran pada syarat usia calon TKI. tempat penampungan yang tidak layak. c. d. Jumlah PPTKIS yang terlalu banyak menyebabkan persaingan proses rekrutmen semakin tidak sehat. Data terakhir dari Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia pada tahun 2009 tercatat 580 PPTKIS yang tersebar di dua puluh propinsi di Indonesia.

termasuk kurangnya perhatian terhadap hak-hak dasar TKI dan perlindungan terhadap TKI perempuan. (c) Pekerja rumah tangga kurang diakui sebagai TKI padahal dalam realitasnya mayoritas TKI bekerja sebagai pekerja rumah tangga. sektoral. Kebijakan pemerintah belum beranjak dari paradigma lama yang memandang TKI sebagai komoditi dan penopang devisa negara. dan bukan semata-mata masalah . Padahal MoU sebetulnya bersifat bilateral dan tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat sebagaimana hukum perjanjian internasional. sehingga TKI ilegal yang jumlahnya lebih banyak justru tidak terlindungi.melakukan audit berkala terhadap manajemen dan kinerja PPTKIS dan memberikan sanksi tegas terhadap PPTKIS yang terbukti melakukan pelanggaran. Menanggapi isu-isu tenaga kerja migran. Kebijakan utama pemerintah tentang TKI tertuang dalam (a) UU 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri. (b) Instruksi Presiden (Inpres) No. Beberapa kelemahan utama UU PPTKILN. pemerintah berupaya untuk meneken nota kesepahaman (MoU) dengan negara penerima. Masalah tenaga kerja migran merupakan masalah multilateral. barulah pemerintah bergerak untuk membangun nota kesepahaman dengan negara penempatan TKI: suatu langkah yang reaktif dan berjangka pendek. Kebijakan-kebijakan pemerintah disebut lebih menekankan pada aspek penempatan ketimbang perlindungan TKI. baru bergerak. (b) Tiadanya pengaturan soal organisasi TKI sehingga posisi TKI lemah. dan sporadis: ketika ada kasus. 6 Tahun 2006 tentang Kebijakan Reformasi Sistem Penempatan dan Perlindungan TKI dan pembentukan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI). (e) Definisi tenaga kerja migran tidak mengacu pada ketentuan konvensi Internasional tentang Perlindungan hak-hak Tenaga Kerja Migran dan Anggota Keluarganya 1990 (selanjutnya: Konvensi Tenaga kerja Migran). Penekanan pada hal itu kemudian bermuara pada fokus yang sesat: lebih mengatur soal teknis pengiriman dan penempatan TKI ketimbang perlindungan TKI. antara lain: (a) UU ini hanya mengatur TKI yang sah dan berdokumen. Berbagai kebijakan dan langkah pemerintah dalam menyikapi masalah TKI masih reaktif. Misalnya ketika ada TKI yang dihukum pancung dan menyedot perhatian public. (d) Mendorong maraknya praktik perdagangan manusia.

Angka ini bisa melonjak hingga dua sampai empat kali lipat jika menghitung jumlah tenaga kerja migran tak berdokumen. Pemerintah Indonesia mengirim TKI berdokumen ke luar negeri sekitar 750 ribu orang. Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial (melalui UU No. Di samping itu. tetapi tidak melakukan ratifikasi. Nasib tenaga kerja . 7/1984). jumlah TKI mencapai 4. Secara keseluruhan. upaya ratifikasi Konvensi Tenaga kerja Migran menjadi satu langkah penting yang harus ditempuh pemerintah. Pada 2005 Indonesia juga telah meratifikasi dua kovenan penting dalam HAM.5 juta orang. dan Budaya (UU No. Sosial. Konvensi Anti-Penyiksaan (diratifikasi melalui UU No. 36/1990. Dengan demikian. 29 Tahun 1999. serta menyusun Rencana aksi nasional HAM (RanHAM). Pada 2004. 11 Tahun 2005). Indonesia terikat dengan berbagai perjanjian internasional yang sudah diratifikasi tersebut. Konvensi tentang Hak-hak Anak (Keputusan Presiden No. yang dikuatkan dengan disahkannya UU No.bilateral. dikuatkan dengan UU No. Dalam konteks ini. • Lingkup Kewajiban HAM Internasional Indonesia terikat dengan sejumlah perjanjian internasional di bidang HAM. antara lain meratifikasi sejumlah perjanjian HAM internasional. TKI masih dihadapkan pada sejumlah persoalan yang mengakibatkan kualitas penikmatan hak-hak TKI masih belum beranjak jauh. yaitu Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (melalui UU No. 12 Tahun 2005) dan Kovenan Internasional Hak Ekonomi. 5/1998). khususnya hak-hak TKI. Indonesia menandatangani Konvensi Internasional tentang tentang Perlindungan hakhak Tenaga kerja Migran dan Keluarganya 1990. yaitu Konvensi CEDAW (diratifikasi melalui UU No. mengharmonisasi berbagai peraturan perundang-undangan dengan norma dan standar HAM internasional. Pemerintah Indonesia memang telah melakukan berbagai tindakan kebijakan. pemerintah telah meratifikasi Konvensi Internasional tentang Perlindungan terhadap Penyandang Disabilitas. Pada tingkat praktik. Namun semua itu ternyata belum cukup memberikan jaminan dan kepastian penikmatan HAM oleh warga negara. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak). 40 Tahun 2008). pada 2011.

jumlah TKI yang terancam hukuman mati di Malaysia mencapai 307 orang. segera setelah itu. Konvensi ini memasukkan semua kategori tenaga kerja migran. Konvensi ini memposisikan tenaga kerja migran sebagai mahluk sosial yang memiliki keluarga dan hak-haknya sebagai manusia. Pada 22 September 2004 pemerintah memang telah menandatangani Konvensi Tenaga kerja Migran dan memasukkan Konvensi ini untuk diagendakan dalam RanHAM 2004-2009. Namun demikian. • Pentingnya Ratifikasi Konvensi Pekerja Migran Komnas HAM merekomendasikan kepada pemerintah untuk meratifikasi Konvensi Pekerja Migran dan. sporadis. Data-data ini menunjukkan lemahnya perlindungan terhadap hak-hak TKI sebagaimana diatur dalam Konvensi Tenaga kerja Migran. Menurut data Migrant Care. e. termasuk menghentikan kegiatan-kegiatan ilegal seperti perdagangan manusia. dan reaktif Ada beberapa argumen mengapa Konvensi ini penting untuk diratifikasi. b. c. sektoral. Konvensi ini menciptakan standar minimum bagi perlindungan hak-hak tenaga kerja migran yang diterima secara universal. . Konvensi ini merupakan hukum perjanjian internasional yang memiliki posisi hukum yang diterima oleh komunitas internasional. Konvensi ini mencegah dan membatasi eksploitasi tenaga kerja migran. melakukan harmonisasi peraturan perundang-undangan yang ada dengan konvensi tersebut untuk menjamin perlindungan hak-hak TKI. termasuk tenaga kerja migran tak berdokumen. hingga kini pemerintah belum meratifikasi Konvensi tersebut. kekerasan fisik. dan menghadapi persoalan hukum atau terancam hukuman mati di negara penerima. antara lain: a. Langkah strategis ini akan membantu pemerintah untuk menghindari kebijakan-kebijakan yang cenderung parsial. dan kekerasan seksual. sedangkan di Arab Saudi 25 orang.migran di Indonesia sangat memprihatinkan karena acapkali mengalami penganiayaan. d.

Meratifikasi konvensi ini akan mendorong pemerintah Indonesia untuk melakukan harmonisasi semua peraturan perundang-undangan nasional yang ada. Dengan langkah ini. struktur dan kelembagaan yang memperkuat perlindungan TKI akan lebih terjamin. .f.

BENTUK PERLINDUNGAN TERHADAP TKI MUHAMAD ZULKARNAEN D1A010269 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM 2012 .BENTUK .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->