Anda di halaman 1dari 26

TUGAS KELOMPOK MANAJEMEN KEUANGAN

Dosen : Dr. Mudjilah Rahayu, SE., MM.

Oleh:
MM 37 Akhir Pekan Dwi Mukti Kusumawijaya Dyah Isnaini Puspitasari Ricko Mardinsyah Wahyu Ediningtias Aditia Dian P (041143038) (041143041) (041143044) (041143048) (041143027)

Program Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga 2012

DAFTAR PUSTAKA

LATAR BELAKANG MERGER DARI DAIMLER CHRYSLER.................................. 2 1.1 1.2 1.3 1.4 Kondisi Industri Otomotif Secara Global......................................................................... 2 Kondisi Daimler-Benz AG (DB)...................................................................................... 2 Kondisi Chrysler Corporation .......................................................................................... 4 Sejarah Penggabungan 1998 ...........................................Error! Bookmark not defined.

2 3

RUMUSAN MASALAH ....................................................................................................... 5 KAJIAN TEORI .................................................................................................................... 5 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 3.7 Pengertian Merger dan Akuisisi ....................................................................................... 5 Jenis-jenis Merger dan Akusisi ........................................................................................ 5 Alasan-alasan Melakukan Merger dan Akuisisi............................................................... 7 Efek dari Sebuah Merger.................................................Error! Bookmark not defined. DASAR PENILAIAN MERGER SECARA POTENSIAL ............................................. 9 PERMASALAHAN UTAMA DALAM MERGER ........................................................ 9 CONTOH PERHITUNGAN AKUISISI ........................................................................ 10

ANALISIS PEMBAHASAN ............................................................................................... 15 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 Terbentuknya Merger ..................................................................................................... 15 Motivasi Melakukan Merger .......................................................................................... 17 Tujuan Merger ................................................................................................................ 18 Tahap Tahap Dalam Proses Merger ............................................................................... 18 Kendala Atas Terbentuknya Merger .............................................................................. 21 Analisis Keuangan.......................................................................................................... 22

KESIMPULAN .................................................................................................................... 25

LATAR BELAKANG MERGER DARI DAIMLER CHRYSLER 1.1 Keadaan Industri Otomotif Secara Global Industri otomotif mengalami perubahan yang cukup signifikan setelah perang dunia II

akibat munculnya perusahaan otomotif Jepang di kawasan Amerika bahkan Eropa. Perusahaan Jepang mampu menciptakan otomotif yang irit bahan bakar, memiliki kualitas dan teknologi yang hampir sama namun harga jual yang lebih murah dibandingkan dengan otomotif buatan Amerika maupun Eropa. Tidak mengherankan bila Jepang dapat menguasai pangsa pasar Amerika sebesar 30% serta Eropa. Hal ini mengakibatkan industri otomotif di benua Amerika maupun Eropa ikut terancam. Industri mobil tidak pernah sama dengan merger monumental dua perusahaan terbesar di dunia: Chrysler dan Daimler Benz. Merger yang terjadi di akhir 1990-an telah menciptakan salah satu perusahaan terbesar di industri. Ini menciptakan sebuah pijakan bahwa perusahaan dapat digunakan di pasar mobil. Makalah ini akan mencoba untuk memberikan analisis mendalam tentang kondisi di sekitarnya merger. Secara khusus, studi ini akan menetapkan seberapa efektif aliansi strategis kedua perusahaan telah menjadi atas merger. Diskusi dan argumen yang diselenggarakan dalam makalah ini akan didukung oleh artikel-artikel ilmiah masa lalu dan ada yang terkait dengan merger, 1998 aliansi strategis, dan manajemen bisnis.

1.2

Latar Belakang Perusahaan Pada tanggal 6 Mei 1998, di London, Daimler-Benz Jerman menandatangani perjanjian

merger dengan Chrysler Corporation Amerika Serikat. Menggunakan merger DaimlerChrysler sebagai studi kasus, makalah ini difokuskan pada penciptaan nilai dan analisis berbagai masalah dalam transaksi internasional. Pasar merespon dengan sangat baik atas penggabungan usaha tersebut, dan kami meninjau potensi sumber penciptaan nilai di merger serta menguraikan langkah-langkah yang dilakukan untuk dapat menyelesaikan merger. Hal hal yang perlu dipertimbangkan adalah perbedaan dalam perusahaan budaya, kompensasi kebijakan, struktur kepemilikan, dan lingkungan hukum yang menimbulkan tantangan signifikan

untuk semua merger. Jurgen Schrempp, Chairman Daimler-Benz Manajemen Board, berada di balik perubahan dramatis di Daimler, mengubah perusahaan menjadi global yang semakin kompetitif.

Pada tanggal 12 Januari 1998, Schrempp mengunjungi Robert J. Eaton, Chairman dan CEO Chrysler Corporation, untuk menyarankan diskusi tentang kemungkinan merger. Kurang dari empat bulan kemudian, terjadi merger, dan ditandatanganilah perjanjian. Langkah-langkah utama dalam proses merger termasuk diskusi awal tentang kelayakan merger,

diskusi struktur organisasi pemerintahan dan bisnis, menandatangani perjanjian merger, dan menutup transaksi merger tersebut setelah mendapatkan persetujuan dari yang berkepentingan pihak: dewan direksi, pemegang saham, dan badan pengatur. Daimler-Benz AG, merupakan kelompok industri terbesar di Jerman dimana tahun 1997 pendapatan sebesar DM 124 milyar ($ 68900000000). Meskipun dikenal mobil mewah Mercedes-nya, Daimler mengoperasikan di empat segmen bisnis: Otomotif (Penumpang dan Kendaraan Komersial), Aerospace, Jasa, dan Directly Managed Businesses. Chrysler Corporation, yang didirikan di Delaware, dioperasikan dalam dua segmen utama: Operasi Otomotif dan Jasa Keuangan. Operasi utama termasuk penelitian, desain, manufaktur, perakitan, dan produk penjualan (termasuk truk dan aksesoris), serta layanan keuangan yang menyediakan konsumen pembiayaan untuk Chrysler products. 1.3 Daimler-Benz AG (DB) Kondisi yang dihadapi Daimler-Benz sebelum melakukan merger adalah sebagai berikut : a. Sebagian besar perusahaan otomotif yang memproduksi mobil mewah telah melakukan merger ataupun akuisisi b. Perusahaan otomotif terbesar di Eropa c. Mempekerjakan 300.000 orang

d. Daimler AG adalah salah satu perusahaan paling sukses di dunia otomotif. e. Dengan divisi Mercedes-Benz Cars, Daimler Truk, Mercedes-Benz Vans, Daimler Bus dan Jasa Keuangan Daimler. f. Grup Daimler adalah salah satu produsen terbesar mobil premium dan dunia produsen terbesar kendaraan komersial dengan jangkauan global. g. Daimler Jasa Keuangan menyediakan pelanggan dengan berbagai layanan keuangan otomotif termasuk pembiayaan, asuransi leasing, dan manajemen armada. h. Jumlah merk mobil yang bersaing di segmen mobil mewah semakin meningkat sejak tahun 1980 yakni dari 9 perusahaan menjadi 19 perusahaan.

i. Mercedes-Benz ingin melakukan perluasan pangsa pasar di luar dari pangsa pasarnya saat itu j. Produksi mobil mewah mengalami overcapacity (pasar jenuh karena permintaan lebih kecil) k. Biaya R&D Mercedes-Benz sangat besar, jauh diatas rata-rata industri. l. Mercedes-Benz berhasil mengakuisisi Freightliner Trucks di Amerika dengan baik dimana perusahaan tersebut dapat menaikkan penjualan hingga 3 kali lipat hanya dalam satu dekade dan itu dilakukan tanpa campur tangan dari Mercedes. 1.4 Chrysler Corporation a. Perusahaan otomotif yang berbasis di AS yang berbasis di Detroit, Michigan, AS b. Memproduksi mobil sedan, Minivan, Sport dan Truk, Chrysler Group memproduksi Chrysler, Jeep, Dodge, Ram, SRT, Fiat dan Mopar. c. Jajaran produk Chrysler Group memiliki beberapa kendaraan di dunia yang paling dikenal, termasuk, Chrysler 300 Jeep Wrangler, Dodge Challenger dan Ram 1500. d. Fiat memberikan kontribusi teknologi kelas dunia, platform dan powertrains untuk mobil kecil dan menengah, yang memungkinkan Chrysler Group untuk menawarkan lini produk diperluas termasuk kendaraan ramah lingkungan e. Chrysler mempunyai obsesi untuk mewujudkan cost effectiveness f. Chrysler merupakan perusahaan yang cepat mengadopsi perkembangan teknologi dan memiliki design mobil yang trendy serta fashionable sehingga Chrysler berpeluang untuk sukses di pasar g. Chrysler adalah perusahaan otomotif kecil, sehingga pada saat perekonomian Amerika mengalami penurunan, Chrysler terkena dampaknya h. Persaingan pada segment minivans dan sport utility vehicles (SUV) yang merupakan segmen yang dikuasai oleh Chrysler menjadi semakin ketat sehingga posisi Chrysler saat itu melemah i. Sistem distribusi yang sedang berkembang dalam industri otomotif Amerika memiliki kekuatan distribusi yang tinggi. Mereka lebih memilih untuk mendistribusikan produk dari perusahaan otomotif kompetitor yang memiliki pangsa pasar yang lebih besar.

Adapun beberapa kondisi yang dihadapi oleh Chrysler antara lain :

RUMUSAN MASALAH

Pada kasus ini akan memberikan analisis mendalam tentang kondisi di sekitar merger. Secara khusus, studi ini akan menetapkan seberapa efektif aliansi strategis kedua perusahaan telah menjadi atas merger. Diskusi dan argumen yang diselenggarakan dalam makalah ini akan didukung oleh artikel-artikel ilmiah masa lalu dan ada yang terkait dengan merger, 1998 aliansi strategis, dan manajemen bisnis. Maka yang menjadi permasalahan adalah: a. Bagaimanakah terbentuknya merger antara Daimler dan Chrysler ? b. Apa yang menjadi kendala atas terbentuknya merger?

3 3.1

KAJIAN TEORI Pengertian Merger dan Akuisisi Merger merupakan penggabungan dua perusahaan menjadi satu, dimana perusahaan

yang me-merger mengambil/membeli semua assets dan liabilities perusahaan yang di-merger dengan begitu perusahaan yang me-merger memiliki paling tidak 50% saham dan perusahaan yang di-merger berhenti beroperasi dan pemegang sahamnya menerima sejumlah uang tunai atau saham di perusahaan yang baru Definisi merger yang lain yaitu sebagai penyerapan dari suatu perusahaan oleh perusahaan yang lain. Dalam hal ini perusahaan yang membeli akan melanjutkan nama dan identitasnya. Perusahaan pembeli juga akan mengambil baik aset maupun kewajiban perusahaan yang dibeli. Setelah merger, perusahaan yang dibeli akan kehilangan/berhenti beroperasi (Harianto dan Sudomo, 2001, p.640). Akuisisi adalah pengambil-alihan (takeover) sebuah perusahaan dengan membeli saham atau aset perusahaan tersebut, perusahaan yang dibeli tetap ada. 3.2 Jenis-jenis Merger dan Akusisi Menurut Damodaran 2001, suatu perusahaan dapat diakuisisi perusahaan lain dengan beberapa cara, yaitu : a. Merger Pada merger, para direktur kedua pihak setuju untuk bergabung dengan persetujuan para pemegang saham. Pada umumnya, penggabungan ini disetujui oleh

paling sedikit 50% shareholder dari target firm dan bidding firm. Pada akhirnya target firm akan menghilang (dengan atau tanpa proses likuidasi) dan menjadi bagian dari bidding firm. b. Konsolidasi Setelah proses merger selesai, sebuah perusahaan baru tercipta dan pemegang saham kedua belah pihak menerima saham baru di perusahaan ini. c. Tender offer Terjadi ketika sebuah perusahaan membeli saham yang beredar perusahaan lain tanpa persetujuan manajemen target firm, dan disebut tender offer karena merupakan hostile takeover. Target firm akan tetap bertahan selama tetap ada penolakan terhadap penawaran. Banyak tender offer yang kemudian berubah menjadi merger karena bidding firm berhasil mengambil alih kontrol target firm. d. Acquisistion of assets Sebuah perusahaan membeli aset perusahaan lain melalui persetujuan pemegang saham target firm.

Pembagian akuisisi tersebut berbeda menurut Ross, Westerfield, dan Jaffe 2002. Menurut mereka hanya ada tiga cara untuk melakukan akuisisi, yaitu : a. Merger atau konsolidasi Merger adalah bergabungnya perusahaan dengan perusahaan lain. Bidding firm tetap berdiri dengan identitas dan namanya, dan memperoleh semua aset dan kewajiban milik target firm. Setelah merger target firm berhenti untuk menjadi bagian dari bidding firm. Konsolidasi sama dengan merger kecuali terbentuknya perusahaan baru. Kedua perusahaan sama-sama menghilangkan keberadaan perusahaan secara hukum dan menjadi bagian dari perusahaan baru itu, dan antara perusahaan yang di-merger atau yang me-merger tidak dibedakan. b. Acquisition of stock Akuisisi dapat juga dilakukan dengan cara membeli voting stock perusahaan, dapat dengan cara membeli sacara tunai, saham, atau surat berharga lain. Acquisition of stock dapat dilakukan dengan mengajukan penawaran dari suatu perusahaan terhadap perusahaan lain, dan pada beberapa kasus, penawaran diberikan langsung kepada pemilik

perusahaan yang menjual. Hal ini dapat disesuaikan dengan melakukan tender offer. Tender offer adalah penawaran kepada publik untuk membeli saham target firm, diajukan dari sebuah perusahaan langsung kepada pemilik perusahaan lain. c. Acquisition of assets Perusahaan dapat mengakuisisi perusahaan lain dengan membeli semua asetnya. Pada jenis ini, dibutuhkan suara pemegang saham target firm sehingga tidak terdapat halangan dari pemegang saham minoritas, seperti yang terdapat pada acquisition of stock

Sedangkan berdasarkan jenis perusahaan yang bergabung, merger atau akuisisi dapat dibedakan : a. Horizontal merger terjadi ketika dua atau lebih perusahaan yang bergerak di bidang industri yang sama bergabung. b. Vertical merger terjadi ketika suatu perusahaan mengakuisisi perusahaan supplier atau customernya. c. Congeneric merger terjadi ketika perusahaan dalam industri yang sama tetapi tidak dalam garis bisnis yang sama dengan supplier atau customernya. Keuntungannya adalah perusahaan dapat menggunakan penjualan dan distribusi yang sama. d. Conglomerate merger terjadi ketika perusahaan yang tidak berhubungan bisnis melakukan merger. Keuntungannya adalah dapat mengurangi resiko. 3.3 Alasan-alasan Melakukan Merger dan Akuisisi Ada beberapa alasan perusahaan melakukan penggabungan baik melalui merger maupun akuisisi, yaitu : a. Pertumbuhan atau diversifikasi. Perusahaan yang menginginkan pertumbuhan yang cepat, baik ukuran, pasar saham, maupun diversifikasi usaha dapat melakukan merger maupun akuisisi. Perusahaan tidak memiliki resiko adanya produk baru. Selain itu, jika melakukan ekspansi dengan merger dan akuisisi, maka perusahaan dapat mengurangi perusahaan pesaing atau mengurangi persaingan. b. Sinergi Sinergi dapat tercapai ketika merger menghasilkan tingkat skala ekonomi (economies of scale). Tingkat skala ekonomi terjadi karena perpaduan biaya overhead meningkatkan

pendapatan yang lebih besar daripada jumlah pendapatan perusahaan ketika tidak merger. Sinergi tampak jelas ketika perusahaan yang melakukan merger berada dalam bisnis yang sama karena fungsi dan tenaga kerja yang berlebihan dapat dihilangkan. c. Meningkatkan dana Banyak perusahaan tidak dapat memperoleh dana untuk melakukan ekspansi internal, tetapi dapat memperoleh dana untuk melakukan ekspansi eksternal. Perusahaan tersebut menggabungkan diri dengan perusahaan yang memiliki likuiditas tinggi sehingga menyebabkan peningkatan daya pinjam perusahaan dan penurunan kewajiban keuangan. Hal ini memungkinkan meningkatnya dana dengan biaya rendah. d. Menambah ketrampilan manajemen atau teknologi Beberapa perusahaan tidak dapat berkembang dengan baik karena tidak adanya efisiensi pada manajemennya atau kurangnya teknologi. Perusahaan yang tidak dapat mengefisiensikan manajemennya dan tidak dapat membayar untuk mengembangkan teknologinya, dapat menggabungkan diri dengan perusahaan yang memiliki manajemen atau teknologi yang ahli. e. Pertimbangan pajak. Perusahaan dapat membawa kerugian pajak sampai lebih 20 tahun ke depan atau sampai kerugian pajak dapat tertutupi. Perusahaan yang memiliki kerugian pajak dapat melakukan akuisisi dengan perusahaan yang menghasilkan laba untuk memanfaatkan kerugian pajak. Pada kasus ini perusahaan yang mengakuisisi akan menaikkan kombinasi pendapatan setelah pajak dengan mengurangkan pendapatan sebelum pajak dari perusahaan yang diakuisisi. Bagaimanapun merger tidak hanya dikarenakan keuntungan dari pajak, tetapi berdasarkan dari tujuan memaksimisasi kesejahteraan pemilik. f. Meningkatkan likuiditas pemilik Merger antar perusahaan memungkinkan perusahaan memiliki likuiditas yang lebih besar. Jika perusahaan lebih besar, maka pasar saham akan lebih luas dan saham lebih mudah diperoleh sehingga lebih likuid dibandingkan dengan perusahaan yang lebih kecil. g. Melindungi diri dari pengambilalihan

Hal ini terjadi ketika sebuah perusahaan menjadi incaran pengambilalihan yang tidak bersahabat. Target firm mengakuisisi perusahaan lain, dan membiayai

pengambilalihannya dengan hutang, karena beban hutang ini, kewajiban perusahaan menjadi terlalu tinggi untuk ditanggung oleh bidding firm yang berminat

3.4

EFEK DARI SEBUAH MERGER Disamping alasan yang menguntungkan bagi korporasi yang melakukan merger, terdapat

juga kerugian-kerugian yang akan dialami korporasi yang melakukan merger, antara lain: a. Suatu merger tidak dapat memperhitungkan hanya secara finansial, seperti tidak mungkin akan terjadi penurunan biaya. b. Kemungkinan terjadinya friksi di anara kedua manajemen korporasi yang melakukan merger. c. Diantara pemilik saham minoritas dan mayoritas, tidak tertutup kemungkinan terjadi perselisihan paham. d. Keterlibatan dari pihak pemerintah terhadap merger yang dilakukan kemungkinan tidak dapat terhindarkan, khususnya menyangkut kepentingan persatauan antitrust.

3.5

DASAR PENILAIAN MERGER SECARA POTENSIAL Didalam melakikan penilaian terhadap merger yang potensial, finansial manajer

korporasi haris mempertimbangkan pengaruh merger atas performa korporasi melalui hal-hal berikut ini. a. Earning per share b. Dividends pershare c. Market price pershare d. Resiko

3.6

PERMASALAHAN UTAMA DALAM MERGER a. Jumlah absolut dari penghasilan (earnings), demikian juga tingkat pertumbuhan dari penghasilan tersebut (earning growth rate). b. Dividen

Mempengaruhi masalah akuisisi, karena hal itu merupakan penghasilan bagi pemegang saham. c. Nilai buku per saham (book value per share) Pada umumnya nilai tidak penting dalam proses merger, disebabkan hal itu didasarkan pada nilai biaya historis (historical cost), bukan nilai saat ini (current values). d. Modal kerja bersih per saham (net working capital per share) Net working capital per share akan mempengaruhi masalah-masalah merger disebabkan masalah likuiditas suatu korporasi yang diakuisisi memiliki posisi utang yang sangat rendah (very low dept position). korporasi yang mengakuisisi mungkin akan meminjam dana yang diperlukan untuk akuisisi dengan menjaga likuiditas yang baik dari perusahaan yang akan diakuisisi untuk dapat memenuhi pinjaman setelah periode merger. Harga yang likuid dari korporasi yang di akuisisi dapat digunakan sebagai jaminan untuk memperoleh atau menerbitkan pinjaman.

3.7

CONTOH PERHITUNGAN AKUISISI Akuisisi dari suatu korporasi yang sedang berjalan dapat dinilai dengan menggunakan

teknik anggaran modal (capital budgeting technique). Apabila suatu korporasi membeli korporasi lain yang secara material susunan finansialnya (financial structure) dari keseluruhan biaya modal (overall cost of capital) harus di proyeksikan. Sebagai contoh dapat dilihat pada kasus berikut ini. Contoh: Intercontinental Corp. mempertimbangkan untuk membeli ABC korporasi degan harga $800.000 secara . Cost of capital ABC pada saat ini adalah 15%. ABC korporasi memperkitakan overall cost of capital uang diharapkan setelah akuisisi adalah 12%. Cash flow yang diperkirakan dari tahun ke-1 sampai ke-2 secara total adalah $ 100.00. apakah intercontinental Corp. perlu mengakuisisi ABC korporasi?

Perhitungan Tahun 0: Tahun 1-12 $ 800.000 + $ 100.000

PVIFA 12%;12 tahun 1 kali 6.194 kali NPV:

Present value =($800.000) =$ 610.940 -($ 180.600)

Oleh Karena NPV negative, maka akuisisi tidak perlu dilakukan.

Akuisisi harta dengan tunai (acquisition of assets for cash) Apabila suuatu korporasi akan mengakusisi korporasi lain secara tunai (cash), maka dapat digunakan capital budgeting untuk menguji kelayakan finansialnya dari segi akuisisi(financial fesibility of the acquisition). Sebagai aplikasi nya dapat dilihat pada kasus Fast Corp. berikut ini Fast Corp berkehendak untuk membeli harta tetap tertentu dari Lcuky Corp. adapun neraca (balance Sheet dari Lucky Corp. adalah sebgai berikut.

Lucky Corp. Balance Sheet Per Dec, 31th 2003 ($000) aset Cash Account receivable(A/R) Inventories Plant & Equipment 1 Plant & equipment 2 Plant & Equipment 3 Building Total aset Liabilities and stockholders: Total liabilities Stockholders equity Total Liabilities &stockholders Equity $4.000 7.000 12.000 15.000 25.000 40.000 100.000 202.000

$90.000 112.000 $202.000

Fast Corp. hanya membutuhkan equipment 2 dan 3 serta building, harta lainnya tidak termasuk cash dapat dujual dengan $ 30.000.000. jumlah cash yang diterima dari penjualan itu $ 33.000.000 ($30.000.000 + $3.000.000). Lucky Corp. ingin menjual korporasinya dengan harga $ 45.000.000, sehingga Fast Corp. harus membayar $ 135.000.000, yaitu $ 90.000.000 untuk total liabilities dan $ 45.000.0000 untuk pemegang saham (pemilik). Dengan demikian, pengeluaran kas bersih sebernarnya (actual net cash flow) adalah $ 135.000.000 - $33.000.000= $102.000.000. diharapkan pemasukan cash setelah pajak (after tax cash inflow) dari equipment

baru sebesar $25.000.000 pertahun, selama 6 tahun kemudian. Biaya modal (cost Of capital) sebesar 10%. Dengan demikian, present value yang berhubungan dengan akuisisi adalah: Perhitungan Tahun 0: Tahun 1-6 $ 102.000.000 + $ 25.000.000 PVIFA 12%;12 tahun 1 kali 4,355 kali NPV: Oleh karena NPV positif, maka akuisisi dapat dilakukan Present value =($102.000.000) =$ 108.875.000 =$ 6.875.000

Akuisisi dengan penukaran saham Sering terjadi dimana suatu korporasi melakukan akuisisi dengan pertukaran saham (common stock). Pertukaran akan disesuaikan dengan rasio uang ditentukan terlebih dahulu (predetermine ratio). jumlah yang ditwarkan oleh korporasi yang mengakuisisi biasanya lebih besar dari harga pasar saat ini dari saham-saham yang di perdagangkan. Rasio pertukaran dapat dihitung dengan mempergunakan formula sebagai berikut.

Sebagai aplikasinya dapat dilihat pada contoh kasus dibawah ini Contoh: Azteg korporasi hendak mengakuisisi Nadir korporasi, dimana saham Azteg terjual dengan harga $ 80 per saham serta saham Nadir terjual seharga $ 35 persaham. Di dalam perjanjian akuisisi, Azteg korporasi menawarkan $ 60 per saham, baru akuisisi dapat dilakukan melalui pertukaran saham-saham. Perhitungannya : Ratio Of exchange= Dengan demikian, azteg korporasi harus menukarkan 0,75 dari sahamnya dengan satu saham Nadir Korporasi. Pengaruh akuisisi atas EPS dan market price per saham

apabila terjadi merger, maka pengaruh yang sangat menguntungkan (favourable) dan tidak menguntungkan (unfavourable) atas net income dan market price per share of stock. Sebagai ilustrasi dapat dilihat pada kasus di bawah ini. 1. Korporasi A Net income Share Outstanding EPS P/E Ratio Market Price $30 4 $7,5 10 kali $ 75 Korporasi B $54 9 $6,0 12,5 kali $ 75

Korporasi B yang mengakuisisi dan ingin menukar sahamnya dengan saham korporasi A atas dasar satu dengan satu. Exchange ratio didasarkan atas harga pasar dari saham-saham A dan B. pengaruh terhadap EPS saham dapat dilihtan sebagai berikut. B korporasi yang dimilikinya Saham A Saham B 4.000 9.000 13.000 $7,50 $6,00 $6,46(I) $6,64(II) EPS sebelum akuisisi EPS setelah Diakuisisi

I.

Total net income dihitung sebagai berikut. 4.000 saham x $ 7.50 9.000 saham x $ 6.00 = $30.000 = $54.000 $84.000 EPS= = = $ 6.46

Dengan demikian, EPS turun $1,04 untuk saham A dan naik $ 0,45 untuk saham B. Pengaruh atas harga pasar yang tidak jelas, maka di umpamakan korporasi yang bergabung harus mempunyai P/E rasio yang sama dengan B korporasi, maka harga saham Per share menjadi

$80,75 (dari 12,50x $6,46). Dengan contoh demikian, pemegang saham masing-masing korporasi akan menikmati harga pasar yang tinggi untuk setiap saham. 2. EXXE Corp. menginginkan untuk mengakuisisi AYE Corp. dengan memakai 1,5 saham

EXXE Corp. atas 1 saham AYE Corp. EXXE Corp mengharap Perolehan P/E rasio yang sama setelah di akuisisi. Data finansial keduia korporasi adalah sebgai berikut Korporasi A Net income Share Outstanding Market Price Per share $400.000 200.000 $40 Korporasi B $100.000 25.000 $48

Metode Pelepasan Dalam merger,di sisi lain perusahaan lain juga dapat melepaskan sebagian perusahaan atau melakukan liquidasi keseluruhan. Dapat dilihat diberbagai metode pelepasan: a. LIKUIDASI Liquidasi yaitu penjualan aktiva perusahaan,baik secara sukarela maupun disebabkan kebangkrutan. b. SELL-OFFS Yaitu menjual sebagian atau keseluruhan dikenal dengan likuidasi sukarela. Ada dua tipe utama yang dilakukan dengan menjual sekuritas, yaitu menerbitkan saham dan melepas sekuritas. c. Spin-Offs Yaitu bentuk pelepasan yang berakibat pada divisi atau bagian perusahaan menjadi perusahaan yang mandiri. Umumnya, saham pada perusahaan baru didistribusikan pada perusahaan indk menurut dasar pro-rata. Rata-rata ukuran spin offs adalah 20% dari saham induk. d. Divestitures Alexander Benson dan krampmeyer ketika melakukan studi Divestitures menguraikan secara signifikan positif ketidaknormalan setelah periode dua hari pengumuman return di antara 1 dan 2% atas penjualan saham. Studi tersebut menemukan bahwa efek dari pengumuman atas return terhadap pembelian saham tidak signifikan secara statistik. e. Ekuitas Carve-out

Penjualan saham kepada masyarakat dimana perusahaan induk biasanya tetap memiki kendali utamanya.

4 4.1

ANALISIS PEMBAHASAN Terbentuknya Merger Beberapa alasan untuk merger. Daimler berasal dari 63% penjualan dari

Eropa, sementara Chrysler tergantung hampir secara eksklusif pada Amerika Utara, dengan 93% saham dari seluruh penjualan. Seperti yang Robert Eaton bahwa kedua perusahaan memiliki rentang produk dengan merek-merek kelas dunia yang saling melengkapi dengan sempurna. Kami akan terus mempertahankan merek saat ini dan identitas yang berbeda.Selain itu, kedua perusahaan sedang mencoba untuk memperluas geografis di pasar masing-masing, dan peluang pertumbuhan akan segera ada dengan menggunakan fasilitas masing-masing, kapasitas, dan infrastruktur. Selama (merger) diskusi, perwakilan dari Chrysler menyatakan bahwa penting untuk Chrysler bahwa setiap transaksi potensial memaksimalkan nilai untuk pemegang saham, bahwa itu bebas pajak untuk pemegang saham Chrysler AS dan pajak yang efisien untuk DaimlerChrysler AG, yang memiliki struktur pemerintahan pasca-merger dari "Merger-ofEqual," yang memiliki kemampuan optimal untuk diperhitungkan sebagai penyatuan kepentingan, sehingga menghasilkan kombinasi dari usaha masing-Daimler-Benz dan Chrysler menjadi satu perusahaan publik. Menurut persepsi sebagian besar publik, penggabungan tersebut lebih ke arah akuisisi daripada merger dimana perusahaan Chrysler diakuisi oleh perusahaan otomotif Jerman, Daimler berdasarkan porsi saham 57 : 43 untuk Daimler.

Perwakilan dari Daimler-Benz menunjukkan bahwa perusahaan yang dipertahankan dari kombinasi apapun menjadi sebuah perusahaan saham Jerman, sehingga meningkatkan kemungkinan penerimaan transaksi. Dari situasi yang dihadapi oleh Daimler dan Chrysler serta kondisi otomotif secara global, CEO Daimler (Juergen Schrempp) mendekati CEO Chrysler (Bob Eaton) pada bulan Januari 1998 dan membahas kemungkinan dilakukannya merger. Dewan Chrysler menyetujui merger dan merekomendasikan transaksi sebagaimana adil dan dalam kepentingan terbaik pemegang saham Chrysler. Beberapa faktor yang menyebabkan persetujuan tersebut: a) Kemungkinan bahwa industri otomotif akan mengalami konsolidasi signifikan, menghasilkan sejumlah kecil perusahaan besar yang masih hidup sebagai pesaing global yang efektif b) Kekuatan yang saling melengkapi dua perusahaan: Daimler-Benz lebih kuat dalam kemewahan dan mobil akhir yang lebih tinggi, dan Chrysler lebih kuat pada kendaraan sport dan minivan; Daimler lebih kuat di Eropa, Chrysler di Amerika Utara; reputasi Daimler untuk teknik melengkapi, reputasi Chrysler untuk pengembangan produk c) Peluang untuk sinergi yang signifikan diberikan oleh kombinasi tidak didasarkan pada penutupan pabrik atau PHK, tetapi faktor-faktor seperti berbagi teknologi, distribusi, pembelian, dan pengetahuan d) Dewan Chrysler juga mempertimbankan potensi risiko, termasuk kesulitan yang melekat dalam mengintegrasikan dua perusahaan besar yang beroperasi secara geografis dimasukkan di berbagai negara, dan risiko bahwa sinergi dan manfaat mungkin tidak sepenuhnya tercapai.

Dewan Daimler-Benz Manajemen juga menyetujui merger dengan mempertimbangkan faktor materi beberapa lainnya seperti: (a) Daimler diperkuat dalam posisi kompetitif melalui perluasan langsung dari berbagai produk otomotif dan melalui ekspansi geografis di AS, dan dengan demikian mengurangi risiko terkait dengan ketergantungan pada segmen premium dari pasar mobil

(b) Meningkatkan likuiditas bagi pemegang saham Daimler dengan menciptakan perusahaan otomotif terbesar ketiga dalam hal pendapatan, kapitalisasi pasar, dan pendapatan (c) Potensi jangka pendek sinergi dalam pembelian, distribusi, dan penelitian dan pengembangan,dan jangka panjang potensi pertumbuhan pasar. sinergi dalam pengembangan dan

4.2

Motivasi Melakukan Merger Hal- hal yang memotivasi Daimler Chrysler dalam melakukan merger: a. Kelebihan kapasitas: "Daimler-Chrysler dimulai sebagai sebuah penggabungan yang sama dalam suatu industri. Pasar Daimler-Benz AG telah matang dan melakukan merger dengan Chrysler adalah solusi untuk ekspansi yang terbatas. Kedua perusahaan tersebut dianggap sangat cocok secara bersama-sama dan merger memberikan kesempatan untuk memanfaatkan kekuatan masing-masing perusahaan dalam produksi, dll pasar, dan karena itu mengeksploitasi pasar baru sekaligus mengoptimalkan produksi. b. Peningkatan kekuatan pasar: "Chrysler membuat mobil dengan harga moderat dan truk ringan. Daimler membuat mobil mewah Mercedes dan truk berat. Chrysler yang kuat di Amerika Utara dan lemah di Eropa Barat; Daimler hanya sebaliknya. Chrysler sangat mampu dalam hal desain dan pengembangan produk; Daimler memegang tangan atas di bidang teknik dan teknologi ". Integrasi antara dua perusahaan seharusnya "mengubah wajah industri otomotif" dan membuat "posisi unggulan di pasar global" c. Biaya sinergi: Para manajer puncak dari dua perusahaan yang memperhatikan biaya substansial sinergi dalam merger (dalam pembelian, riset dan teknologi, infrastruktur distribusi dan jasa keuangan). Berkat kekuatan dari tiap perusahaan di divisi yang berbeda (desain dan pengembangan produk vs teknik dan teknologi), mereka dapat saling melengkapi dan menghemat biaya. d. Penyusunan Kembali lingkup kompetitif perusahaan: Integrasi antara keduanya membantu Daimler-Benz mengurangi ketergantungannya pada pasar Amerika Utara dan dapat memperluas ke Eropa Barat dan juga membantu pendekatan Chrysler untuk pasar luar negeri.

e. Pembelajaran dan pengembangan kemampuan baru: kedua perusahaan bisa belajar dari operasi manufaktur satu sama lain (desain produk dan pengembangan, rekayasa dan teknologi)

4.3

Tujuan Merger

Adapun tujuan yang ingin dicapai oleh kedua perusahaan otomotif raksasa tersebut melalui merger adalah sebagai berikut : a. Meningkatkan keuntungan yaitu dari sector potensi sinergi dalam hal penghematan biaya operasi. DaimlerChrysler berharap dengan dilakukannya merger, perusahaan mampu menghemat biaya operasional hingga 1,4 milyar US dollar pada tahun pertama operasinya. b. Dengan melakukan merger bisa menciptakan pertumbuhan dalam industri otomotif yaitu meraih pangsa pasar yang lebih luas. c. Mengurangi ancaman kompetitor. Dengan bergabungnya Daimler dan Chrysler maka diprediksikan kekuatan kedua perusahaan tersebut akan semakin tak tergoyahkan dan ancaman dari kompetitor lebih bisa diatasi.

4.4

Tahap Tahap Dalam Proses Merger

Tahapan-tahapan yang seharusnya dilalui oleh perusahaan dalam proses mergernya yaitu : 1) Idea Ide tentang merger sesungguhnya telah ditentukan pada saat penentuan strategi perusahaan. Dimana dalam strategi tersebut, telah dinyatakan bahwa merger-akuisisi merupakan vehicle untuk mencapai kesuksesan bagi perusahaan. Merger-akuisisi merupakan bagian dari strategi perusahaan, sedangkan idea adalah pendorong untuk dilakukannya akuisisi-merger tersebut. Perusahaan yang telah menentukan starateginya dengan baik, akan menyatakan bahwa akuisisimerger merupakan suatu cara yang bisa diambil untuk menjalankan strategi yang telah direncanakan. Daimler Chrysler : CEO Daimler (Jurgen Schrempp) berinisiatif melakukan pendekatan dengan CEO Chrysler (Bob Eaton) untuk membahas masalah merger. Tindakan ini dilakukan untuk mengantisipasi kondisi industry otomotif yang semakin jenuh.

2) Justification, Due Diligence, Negotiation Tahapan penting yang perlu dilakukan dalam proses akuisisi-merger adalah proses dimana perusahaan harus mempertimbangkan tentang keadaan internal dan external perusahaan dalam melakukan akuisisi-merger. Hal-hal penting yang harus dilakukan dalam tahapan ini adalah: 1) Strategic assesment Proses penentuan apakah keputusan untuk melakukan akuisisi-merger dapat memberikan kontribusi terhadap pelaksanaan strategi perusahaan sehingga mampu menciptakan posisi yang lebih kompetitif dan harus menggambarkan sejauh mana akuisisi-merger berpengaruh terhadap pencapaian tujuan utama perusahaan. 2) Proses akuisisi-merger melibatkan berbagai pihak di dalam perusahaan. Karenanya, tujuan dan strategic logic dari akuisisi-merger harus dipahami oleh seluruh bagian dari perusahaan. 3) Manager perusahaan harus bisa mengidentifikasikan segala bentuk kemungkinan positif maupun permasalahan yang dapat timbul dari akuisisi-merger ini bagi perusahaan. 4) Manager perusahaan harus mengetahui bentuk synergy apa yang dapat implementasikan dari akuisisi-merger ini. 5) Perusahaan harus mempertimbangkan timing (waktu yang tepat) dalam melakukan proses akuisisi-merger. Hal ini dianggap penting karena timing akan berpengaruh terhadap time value of money dari nilai perusahaan, baik sebelum atau setelah dilakukannya akuisisimerger. 6) Manager perusahaan harus dapat menetapkan berapa harga maksimum yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk melakukan proses akuisisi-merger tersebut dengan mempertimbangkan segala bentuk manfaat atau penigkatan value perusahaan dari proses synergy yang terjadi pada proses akuisisi-merger. Daimler Chrysler : DaimlerChrysler dalam proses merger sesungguhnya telah mempertimbangkan hal-hal penting di atas. Namun ada beberapa hal yang mereka terabaikan misalnya, DaimlerChrysler tidak mempertimbangkan perbedaan culture yang sesungguhnya mempengaruhi operasional perusahaan ke depannya. Selain itu target cost saving yang awalnya ditargetkan oleh kedua pihak akan dapat terealisasi dalam setahun tidak tercapai.

3) Merger Integration Supaya proses integrasi perusahaan berjalan lancar dan efektif maka : 1) Perusahaan harus melihat integrasi sebagai sebuah proses yang berkesinambungan dan bukan sebuah kejadian sesaat (one event). Proses integrasi sebaiknya dimulai sejak awal negosiasi dan uji tuntas, dan berlanjut lagi setelah kedua perusahaan sepakat dengan keputusan merger. Daimler Chrysler : DaimlerChrysler lebih melihat proses integrasi sebagai one event. Hal ini terlihat dari manajemen yang kurang mempedulikan bagaimana penggabungan yang akan terjadi nantinya, apakah lebih ke gaya perusahaan American, German, ataukah yang lainnya. Manajemen mengambil sikap let the facts speak for the decision. Akibatnya perusahaan DaimlerChysler memakan waktu 5 tahun dari target 3 tahun dalam proses integrasinya. 2) Perusahaan harus melihat integrasi manajemennya sebagai pekerjaan full-time. Banyak perusahaan melakukan kesalahan dengan beranggapan bahwa individu di setiap level di dalam perusahaannya bisa dengan sendirinya bekerja dengan baik. Kenyataannya para manajer lini sering tidak bisa mengatasi banyak isu yang dihadapi oleh perusahaan merger. DaimlerChrysler : Manajemen dari kedua perusahaan sebenarnya telah dipertemukan sebelum pengumuman merger, namun kenyataannya proses integrasi memakan waktu yang lebih lama. Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan yang terjadi adalah : komitmen yang kurang dari para manajer dalam menjalankan kesepakatan sebelumnya, perusahaan sendiri masih belum jelas dalam menentukan arah kepemimpinan perusahaan dan budaya yang berbeda. 3) Isu teknis dan budaya perlu dibahas. DaimlerChrysler : Sebelum merger, kedua perusahaan tidak membahas bagaimana menghadapi benturan budaya di dalam organisasinya. Pegawai dalam perusahaan membutuhkan waktu yang lama untuk beradaptasi dengan budaya yang berbeda. Hal ini tentunya menghambat proses integrasi.

4.5

Kendala Atas Terbentuknya Merger Dalam tahapan proses integrasi ini DaimlerChrysler menghadapi kendala-kendala sebagai

berikut : a. Budaya yang berbeda Budaya Eropa dikenal lebih konservatif. Perusahaan Eropa lebih risk averse, struktur organisasinya hirarki dan lebih enggan menerima perubahan. Berbeda dengan gaya Amerika yang lebih liberal, risk taker, suka menerima perubahan serta agresif. Latar belakang budaya yang berbeda membuat proses integrasi merger lebih sukar dan DaimlerChrysler membutuhkan waktu yang lama hingga proses integrasinya tercapai. Mereka telah beradaptasi dengan budaya baru hasil dari culture blending yang kelihatan lebih American dari luar, namun pegawai di dalam perusahaan meyakini bahwa perusahaan DaimlerChrysler sebenarnya lebih seperti sebuah perusahaan Jeman. b. Komitmen yang kurang Hal ini terlihat dari keputusan yang belum diambil saat pengumuman merger kedua perusahaan, apakah perusahaan hasil merger (DaimlerChrysler) nantinya akan lebih mengarah ke perusahaan Eropa ataukah Amerika ataukah bersifat netral (misalnya mengambil bentuk perusahaan Belanda). Kedua perusahaan menyatakan ke publik Let the facts speak for the decision, yang artinya kira-kira Biarkan nanti kenyataan yang menentukan. c. Segmentasi pasar berbeda Tujuan perusahaan untuk melakukan cost savings misalnya dalam hal pembelian tentunya sulit tercapai karena tidak ada produk mereka yang saling melengkapi. Daimler sangat dominan pada segmen kelas atas sedangkan Chrysler lebih menguasai middle level.

4.6

Analisis Keuangan Operating profit


In Million DM 1997 1996 Passenger Car 3132 3090 Commercial Vehicles 481 -354 Aerospace 432 -196 Services 457 288 Directly managed business -129 -585

Daimler-Benz

Berdasarkan laporan laba rugi, total pendapatan Daimler meningkat dari tahun 1996 sampai tahun 1997, sebelum merger. Ini mengindikasikan bahwa kondisi keuangan Daimler baik baik saja sehingga dapat dilakukan merger. Chrysler
Chrysler Corporation Income Statement
Projected

Revenues COGS (excluding Depreciation) Selling, General, & Administrative EBITDA Depreciation Amortization of Goodwill & Intangibles Other Expense (Income) EBIT Interest (Income) Interest Expense - Straight Debt Interest Expense Convertible Debt Interest Expense Revolver Pre-Tax Income Income Taxes Minority Interest Extraordinary Item (Income) Net Income Straight Preferred Dividends Convertible Preferred Dividends Net Income to Common Earnings per Share: Basic Fully Diluted

1995 $53,19 5.0 41,304. 0 5,227.0 6,664.0 2,220.0 0.0 0.0 4,444.0 0.0 995.0 0.0 0.0 3,449.0 1,328.0 0.0 96.0 2,025.0 0.0 21.0 2,004.0

1996 $61,39 7.0 45,842. 0 6,144.0 9,411.0 2,312.0 0.0 0.0 7,099.0 0.0 1,007.0 0.0 0.0 6,092.0 2,372.0 0.0 191.0 3,529.0 0.0 3.0 3,526.0

1997 $61,14 7.0 46,743. 0 6,145.0 8,259.0 2,696.0 0.0 0.0 5,563.0 0.0 1,006.0 0.0 0.0 4,557.0 1,752.0 0.0 0.0 2,805.0 0.0 1.0 2,804.0

1998 $64,81 5.8 49,547. 6 6,513.7 8,754.5 3,194.7 39.3 0.0 5,520.5 (495.6) 1,014.4 0.0 0.0 5,001.7 1,920.7 0.0 0.0 3,081.1 0.0 0.0 3,081.1

1999 $68,70 4.8 52,520. 4 6,904.5 9,279.8 3,406.7 38.3 0.0 5,834.8 (641.0) 995.3 0.0 0.0 5,480.5 2,104.5 0.0 0.0 3,376.0 0.0 0.0 3,376.0

2000 $72,82 7.1 55,671. 7 7,318.8 9,836.6 3,631.4 37.4 0.0 6,167.8 (738.5) 963.8 0.0 0.0 5,942.5 2,281.9 0.0 0.0 3,660.6 0.0 0.0 3,660.6

2001 $77,19 6.7 59,012. 0 7,757.9 10,426. 8 3,869.7 36.4 0.0 6,520.7 (833.9) 932.4 0.0 0.0 6,422.3 2,466.1 0.0 0.0 3,956.1 0.0 0.0 3,956.1

2002 $81,82 8.5 62,552. 7 8,223.4 11,052. 4 4,122.2 35.5 0.0 6,894.7 (932.7) 900.9 0.0 0.0 6,926.5 2,659.8 0.0 0.0 4,266.7 0.0 0.0 4,266.7

$2.68 $2.56

$4.83 $4.74

$4.15 $4.09

$5.09 $4.83

$5.57 $5.29

$6.04 $5.74

$6.53 $6.20

$7.04 $6.69

Laporan keuangan Chrysler menunjukkan bahwa kondisi Chrysler baik. Walaupun pada tahun 1995 dan 1997 mengalami sedikit penurunan. penurunan earning semula pada tahun 1995 adalah hasil dari pengiriman minivan yang lebih rendah, biaya yang lebih besar terkait dengan peluncuran semua perusahaan minivan baru, lebih tingginya insentif penjualan, dan bahan yang dibutuhkan dalam produksi. Demikian pula halnya, pada tahun 1997 slump slowed (merosot melambat) karena peningkatan insentif penjualan rata-rata per kendaraan, mencerminkan lingkungan otomotif berdaya saing tinggi. Evaluasi finansial, didasarkan atas: analisis laporan keuangan perusahaan, berupa neraca dan laba rugi, baik yang berupa on atau off balance sheet, serta fee based income. Metoda yang digunakan bermacam-macam, salah satunya menitik beratkan pada cash flow, sebagai berikut: a. Analisis proyeksi arus kas dengan menggunakan diskon faktor sesuai biaya dana perusahaan (Discounted cash flow approach) Salah satu penilaian yang paling banyak digunakan dalam merger dan akuisisi adalah penilaian berdasarkan cash flow yang didiskontokan (Discounted cash flow/DCF). Teknik penilaian berdasarkan Discounted Cash Flow ini adalah mendiskontokan seluruh perkiraan cash flow dengan discounted tertentu. Discount rate yang digunakan adalah biaya modal. Kelebihan dari DCF adalah perkiraan arus kas dan laba dihitung secara lebih mendetail. b. Analisis yang didasakan atas ratio harga saham dengan pendapatan (Price Earning Ratio) dibandingkan dengan nilai P/E dari perusahaan sejenis Price Earning Ratio dilakukan untuk menentukan nilai ekuitas berdasarkan pendekatan ini hanya memerlukan satu periode yaitu perkiraan harga saham dan perkiraan harga per lembar saham. P / E Rasio (harga terhadap laba per saham) dapat digunakan sebagai indikator kasar untuk menilai dampak pada pendapatan. Semakin tinggi Rasio P / E perusahaan memperoleh dibandingkan dengan perusahaan target, semakin besar peningkatan Laba per Saham (EPS) untuk mengakuisisi perusahaan. Dilusi EPS terjadi ketika Rasio P / E Dibayar untuk target melebihi Rasio P / E perusahaan yang mengakuisisi. Ukuran laba target juga penting; pendapatan target yang lebih besar relatif terhadap perusahaan pengakuisisi, semakin besar peningkatan terhadap EPS untuk perusahaan gabungan

c. Penilaian atas dasar nilai buku,yang beberapa pos dari neraca disesuaikan dengan perkiraan risiko yang mungkin ada sehingga mengurangi nilai buku (Adjusted book value)

Dalam menentukan rasio pertukaran, ada beberapa teknik penilaian termasuk diskon arus kas teknik, P / E kelipatan, sebanding-perusahaan analisis (berdasarkan target harga ekuitas analis), dan teknik lainnya. Dari harga-harga saham yang tinggi, rendah, dan rata-rata dianggap dan disimpulkan bahwa rasio pertukaran yang diusulkan untuk saham DaimlerChrysler diwakili premi untuk pemegang saham Chrysler berkisar antara 15% sampai 37%. Rasio pertukaran mewakili premi sebesar 16% atas harga target rata rata. Untuk mengestimasi present value dari stand alone Chrysler, analisis discounted free cash flow (tanpa leverage) dilakukan untuk tahun 1998 hingga 2002. Analisis mendefinisikan unlevered free cash flow sebagai pendapatan bersih ditambah penyusutan ditambah amortisasi dikurangi modal dikurangi pengeluaran investasi dalam modal kerja. Dengan proyeksi dipengaruhi oleh penjualan kendaraan, tingkat insentif ritel, dan keberhasilan model produk baru, dua skenario bisnis yang terpisah dianggap: kasus dasar dan kasus sensitivitas. Kemudian dilakukan analisis terhadap analisis merger-of-equals (MOE) . Analisis ini menunjukkan bahwa rasio pertukaran yang dinegosiasikan terbatas di sekitar pra-pengumuman rasio pasar saham. Untuk transaksi preseden dua belas MOE, 15 di mana masing-masing konstituen perusahaan memiliki representasi, bahkan pada direksi perusahaan gabungan, premi yang berkisar antara 0,5% sampai 21,7%. Telah dijelaskan beberapa kriteria untuk merger. Namun, beberapa kriteria ini tampaknya bertentangan satu sama lain. Salah satu isu penting dari transaksi merger adalah bahwa ia memiliki kemampuan yang optimal untuk dicatat dalam pooling of interest. Direksi Chrysler dengan tegas mengakui bahwa perlakuan akuntansi pembelian akan tidak berdampak pada generasi tunai atau pada logika bisnis untuk transaksi, meskipun akan mengurangi laba yang dilaporkan karena kebutuhan untuk menjelaskan dan melakukan amortisasi goodwill (harga beli selisih lebih dari nilai buku

5. KESIMPULAN Dari pembahasan tersebut, studi kasus merger DaimlerChrysler ini difokuskan pada penciptaan nilai dan kehancuran, dan merupakan tantangan berbagai transaksi internasional. Meskipun reaksi awal pasar untuk penggabungan itu menguntungkan bagi kedua perusahaan, namun return menjadi negatif dan jauh di bawah indeks pasar. Oleh karena itu, melakukan merger sebenarnya berisiko. Tanpa perencanaan yang tepat dan pertimbangan tertentu dari unsur-unsur tertentu dari lingkungan, ada kemungkinan bahwa merger mungkin akan gagal. Dalam kasus Chrysler dan Daimler Benz, merger merupakan salah satu perusahaan yang membawa industri otomotif terkejut. Kekuatan gabungan mereka diadakan pada pangsa pasar yang pada dasarnya akan memerintah industri otomotif internasional. Namun, masalah seperti benturan budaya dan kurangnya inisiatif manajemen telah dibumbui perusahaan dengan masalah. Jika perusahaan DaimlerChrysler tidak mampu mengatasi kendala yang muncul pada saat proses integrasi yaitu masalah budaya, komitmen dan segmentasi pasar, maka dapat menyebabkan proses integrasi memakan biaya yang cukup besar dan waktu yang cukup lama. Hal penting yang perlu menjadi perhatian perusahaan yang akan melakukan penggabungan usaha adalah tahapan tahapan proses merger yang terdiri dari idea; justification, due diligence and negotiation; merger / acquisition integration; dan results . Bila tahapan proses merger dilalui dengan baik, maka sinergi yang memberikan value-added yang diharapkan sebelumnya saat kesepakatan dibuat dapat tercapai.