Anda di halaman 1dari 4

Penjelasan unsur unsur peta Topografi : a.

. Judul Peta Judul peta menunjukkan lokasi yang terkenal/umum pada daerah yang terpetakan. Judul peta ada dibagian tengah atas. judul peta menyatakan lokasi yang ditunjukkan oleh peta yang bersangkutan, sehingga lokasi yang berbeda akan mempunyai judul yang berbeda pula b. Nomor Peta Nomor peta selain sebagai nomor registrasi dari badan pembuat, juga merupakan petunjuk untuk mencari daerah lain di sekitar suatu daerah yang terpetakan. Dicantumkan di bagian kanan atas peta, dan di bagian bawah disertakan indeks lembar peta yang mencantumkan nomor-nomor peta yang ada di sekeliling peta tersebut. c. Koordinat Peta Koordinat peta mempermudah kita untuk menentukan suatu titik pada peta. Koordinat menggunakan sistem sumbu, yaitu garis-garis yang saling berpotongan tegak lurus. Sistem koordinat ini mengenal sistem penomoran dengan 4, 6 atau 8 angka. Untuk daerah yang luas dipakai penomoran 4 angka, dan untuk daerah yang lebih sempit dengan penomoran 6 atau bahkan 8 angka. 1. Koordinat Geografis (Geographical Coordinate) ; Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (bujur barat dan bujur timur) yang tegak lurus dengan garis khatulistiwa, dan garis lintang (lintang utara dan lintang selatan) yang sejajar dengan garis khatulistiwa. Koordinat geografis dinyatakan dalam satuan derajat, menit dan detik. Pada peta Bakosurtanal, biasanya menggunakan koordinat geografis sebagai koordinat utama. Pada peta ini, satu kotak (atau sering disebut satu karvak) lebarnya adalah 3.7 cm. Pada skala 1:25.000, satu karvak sama dengan 30 detik (30"), dan pada peta skala 1:50.000, satu karvak sama dengan 1 menit (60"). 2. Koordinat Grid (Grid Coordinate atau UTM) ; Dalam koordinat grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak setiap titik acuan. Untuk wilayah Indonesia, titik acuan berada disebelah barat Jakarta (60 LU, 980 BT). Garis vertikal diberi nomor urut dari selatan ke utara, sedangkan horizontal dari barat ke timur. Sistem koordinat mengenal penomoran 4 angka, 6 angka dan 8 angka. Pada peta AMS, biasanya menggunakan koordinat grid. Satu karvak sebanding dengan 2 cm. Karena itu untuk penentuan koordinat koordinat grid 4 angka, dapat langsung ditentukan. Penentuan koordinat grid 6 angka, satu karvak dibagi terlebih dahulu menjadi 10 bagian (per 2 mm). Sedangkan penentuan koordinat grid 8 angka dibagi menjadi sepuluh bagian (per 1 mm).

d.

Kontur Kontur adalah garis khayal yang menghubungkan titik-titik berketinggian sama dari muka laut. Sifat-sifat garis kontur adalah sebagai berikut: Garis kontur selalu merupakan garis lengkung yang tertutup/ tidak terputus. Garis kontur tidak pernah berpotongan atau menjdai satu. Garis kontur tidak mungkin pecah atau bercabang. Garis kontur dengan ketinggian yang lebih rendah selalu mengelilingi garis kontur yang lebih tinggi, kecuali bila disebutkan khusus untuk hal-hal tertentu seperti kawah. Beda ketinggian antara dua garis kontur adalah tetap walaupun kerapatan garis berubah-ubah. Untuk daerah yang landai terlihat bahwa jarak antara garis kontur jarang-jarang. Untuk daerah yang curam jarak antara garis-garis kontur terlihat rapat. Punggungan gunung/bukit terlihat di peta sebagai rangkaian kontur berbentuk U yang ujungnya mlengkung menjauhi puncak. Lembah terlihat di peta sebagai rangkaian kontur berbentuk V yang ujungnya tajam dan menjorok ke arah puncak.

e.

Skala Peta Perbandingan ukuran dalam peta dikenal dengan istilah skala, unsur pertama yang selayaknya diperhatikan dalam membaca peta. Dalam peta dikenal dua macam skala yang seringkali dicantumkan berdampingan, yaitu skala angka dan skala garis. Skala angka 1:100.000 artinya satu cm di atas peta sama dengan 100.000 cm pada medan sesungguhnya untuk lebih mudah menghitungnya, maka skala 1:100.000 diartikan sebagai 1 cm pada peta adalah 1 km pada medan sesungguhnya. Skala garis atau skala jarak dicantumkan dengan cara menggambarkan garis dengan jarak-jarak tertentu pada peta. Pemakaian skala garis agak menguntungkan terutama jika peta bersangkutan diperkecil atau diperbesar dengan dicetak atau difoto. Hasil cetakan atau foto yang memperkecil atau memperbesar tidak akan mengubah pembacaan skala garis yang tercantum.

f. Tahun Peta Peta topographi juga memuat keterangan tentang tahun pembuatan peta tersebut. Semakin baru tahun pembuatannya, data yang disajikan akan semakin akurat g. Arah Peta Deklinasi. Di bawah lembar peta selalu dicantumkan tanda arah tiga macam utara. Utara Sebenarnya (True North). Tanda ini tepat mengarah pada kutub utara, dan sesungguhnya menggambarkan garis lintang bola dunia. Dalam penggunaan praktis peta dalam suatu perjalanan penjelajahan, tanda tesebut tidak perlu diperhatikan. Dalam hal ini utara peta yang kerap digunakan. Utara Peta (Grid North). Utara ini digambarkan sebagai garis vertikal pada lembar peta. Arah utara ini sebetulnya hasil proyeksi garis bujur dan lintang dunia pada bidang datar (peta), yang terbentuk pada pola koordinat (grid). Proyeksi tersebut dilakuakan karena bumi berbentuk elipsoid (bulat lonjong) sehingga untuk melihat semua bagian bumi dalam hubungan secara keseluruhan tidak dapat dilakukan. Utara Magnetis (Magnetic North). Utara ini adalah utara yang ditunjukkan oleh arah jarum kompas, tidak tepat pada kutub utara, tetapi di jazirah Bothia di utara Canada. Utara magnetis pada setiap tempat dimuka bumi arahnya tidak sama, tergantung pada letaknya di garis lintang dan bujur bola dunia. Dan karena pengaruh rotasi bumi, kutub magnetis tersebut selalu bergeser. Di Indonesia, utara magnetis bergeser kearah timur. h. Legenda Peta Legenda adalah tanda-tanda konvensional pada peta, keterangannya tercantum pada lembar bawah. Unutk kepentingan navigasi darat simbol-simbol yang penting diketahui adalah: triangulasi, jalan setapak, jalan raya, sungai, desa dan pemukiman dan lain-lain. Membaca Peta a. Ketinggian Tempat Seperti yang dibahas sebelumnya bahwa antar kontur mempunyai interval yang sama. Jika titik ketinggian yang dicari tersebut tepat berada pada garis kontur, maka ketinggian tempat tersebut dapat

ditentukan dengan menentukan dahulu garis kontur tersebut mempunyai harga ketinggian berapa. Jika titik yang dicari ketinggiannya berada diantara garis kontur, maka dicari terlebih dahulu dua garis kontur yang mengapit titik tersebut, kemudian menentukan ketinggian garis kontur masingmasing. Ketinggian titik tersebut dapat dihitung dengan teknik interpolasi. b. Titik Triangulasi Kita dapat mengetahui tinggi suatu tempat dengan pertolongan titik ketinggian. Titik ketinggian ini biasanya disebut titik triangulasi, yaitu suatu titik atau benda berupa pilar/tonggak yang menyatakan tinggi relatif suatu tempat dari permukaan laut. Titik triangulasi digunakan oleh jawatan-jawatan atau topografi untuk menentukan ketinggian suatu tempat dalam pengukuran ilmu pasti pada waktu pembuatan peta. c. Orientasi Medan Disamping tanda pengenal yang terdapat pada legenda peta topografi, kita biasa menggunakan bentuk-bentuk atau bentang alam yang menyolok di lapangan dan mudah dikenali di peta, yang akan kita sebut sebagai tanda medan. Beberapa tanda medan dapat dibaca dari peta sebelum berangkat ke lokasi. Beberapa tanda medan, antara lain: Puncak gunung atau bukit, punggungan gunung, lembah antara dua puncak, dan bentuk-bentuk tonjolan lain yang menyolok Lembah yang curam, sungai, pertemuan anak sungai, kelokan sungai, tebing-tebing di tepi sungai Belokan jalan, jembatan (perpotongan sungai dengan jalan). Ujung desa, simpang jalan Bila berada di pantai, muara sungai dapat menjadi tanda medan yang sangat jelas, begitu juga tanjung yang menjook ke laut, teluk-teluk, pulau-pulau kecil, delta dan sebagainya Di daerah dataran atau rawa-rawa biasanya sukar mendapat tonjolan permukaan bumi atau bukit-bukit yang dapat dipakai sebagai tanda medan. Pergunakanlah belokan-belokan sungai, cabang-cabang sungai, muara-muara sungai kecil Dalam penyusuran di sungai, kelokan tajam, cabang sungai, tebing-tebing, delta dan sebagainya, dapat dijadikan sebagai tanda medan.