Anda di halaman 1dari 25

Etika Profesi Islam

(Abu Sulthan Al-Ahkam)

I.

Pendahuluan Etika Profesi merupakan bagian dari Filsafat sehingga secara garis besar pengertian Filsafat, Etika, dan Etika Profesi saling berhubungan erat satu sama lain. Filsafat dalam arti luas adalah suatu usaha sistematis untuk memahami pengalaman manusia secara pribadi dan kolektif. Dalam pelaksanaanya filsafat menggunakan rasio (Pandangan Dunia) untuk menafsirkan atau memberi penafsiran pengalaman manusia dan tidak mengandalkan wahyu sebagaimana halnya pandangan teologi yang lebih merujuk pada wahyu.

Riwayat dan Pengertian Filsafat Al-Farabi, seorang filsuf muslim besar sebelum Ibnu Sina yang terkenal sebagai penafsir Aristoteles menganalisa, falsafah atau filsafat berasal dari kata Yunani yang menjadi bahasa arab, asal katanya adalah philosophia, yang merupakan penggabungan kata Philo yang berarti cinta, dan shopia yang berarti Hikmah sehingga Philosophia berarti cinta akan hikmah atau cinta kebenaran. Lebih lanjut al-Farabi menagatakan bahwa Filsafata ialah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertjuan mneyelidiki hakekatnya yang sebenarnya. Harold H. Titus mengemukakan empat pengertian tentang filsafat: 1. semseta 2. Filsafat ialah suatu metode pemikiran reflektif dan penyelidikan aqliah Filsafat adalah suatu sikap tentang hidup dan tentang alam

3. 4.

Filsafat adalah suatu perangkat masalah Filsafat adalah perangkat teori atau system pikiran

Drs Hasbullah Bakry menyampaikan rumusannya mengenai filsafat ialah suatu ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana manusia itu seharusnya mencapai penetahuan itu. Tentulah masih banyak pendapat para ahli filsafat yang tidak kita cantumkan dalam penulisan ini, namun bila kita coba rumuskan maka, a. karena b. Filsafat adalah ilmu yang mencoba menjawab masalahmasalah-masalah Filsafat adalah yang hasil termaktub daya upaya didalamnya manusia diluar dengan masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa, jangkauan ilmu pengetahuan. akalbudinya untuk memahami, mendalami dan menyelami secara radikal dan integral serta sistematik hakikat segala yang ada, Hakihat Tuhan, Hakikat Alam Semesta, Hakikat Manusia, serta sikap manusia sebagai konsekuensinya terhadapa pemahamn-nya tersebut. Sebagaimana halnya Ilmu pengetahuan, filsafat pun memiliki object material dan object formal, OM dari Filsafat adalah Manusia, Tuhan dan Alam Semesta sedangkan Object Fomalnya adalah kegiatan akal budi untuk secara terus menerus mencari keterangan tentang object materianya. Perbedaan Asasi antara Manusia dan Hewan Karena salah satu Object material dari filsafat adalah Manusia, maka akan muncul pertanyan tentang manusia itu sendiri, apa itu manusia?

Dalam Al-Quran terdapat dua surat yang berarti manusia , Al-Insan dan An-Nas yang mengandung makna yang berbeda, Al-Insan berhubungan dengan Jasmaniah sedangkan An-Nas mengandung makna manusia secara Ruhaniah. Seorang filsuf besar bangsa yunani, Aristoteles (384-322 SM) memberikan definisi bahwa: manusia itu adalah hewan yang berakal sehat, yang mengeluarkan pendapatnya, yang berbicara berdasarkan akal-pikirannya. Bapak sosiologi dan sarjana ilmu politik muslim kelahiran Tunisia yang hidup pada 1332-1406 M, Ibnu Khaldun, dalam karya utamanya Muqadimmah menuliskan: Kemudian ketahuilah, bahwa membedakan manusia dari lain-lain hewan dengan kesanggupan berfikir, sumber dari segala kesempurnaan dan puncak dai segala kemulian dan ketinggian diatas mahluk lain. Sebabnya adalah pengertian, yaitu kesadaran dalam diri tentang yang terjadi diluarnya, hal ini hanya ada pada hewan dengan perantara panca indera yang diberikan kepanya. Manusia memahami ini dengan perantaraan pikirannya yang ada dibalik panca indera. Pikiran bekerja dengan perantara kekuatan yang ada ditengah-tengah otak yang memberi kesanggupan menangkap benda yanang yang bias diterima panca indera dan kemudia mengembalikannya kedalam ingatan sambil meringkas banyangan lain dari benda itu. As Syaikh Mustafa Al-Maraghi, seorang mufassir besar Islam, menafsirkan makna hidayat sebagai berikut: ada lima macam dan tingkatan hidayat yang dianugrahkan kepada manusia, yaitu: 1. Hidayat al-Ilhami, garizah atau instink. 2. Hidayat alHawasi, Indera . 3. Hidaya al-Aqli, akal dan Budi. 4. Hidayat al-Adyani, agama. 5. Hidayat al-Taufiqi.

Hidayat yang ketiga lebih tinggi tingkatannya dari hidayat ke-1 dan 2 yang juga diberikan kepada Hewan, sehingga hidayat tersebutlah yang membedakan antara manusia dan Hewan. Satre, seorang Filsuf Prancis mengatakan bahwa kesadaran manusia adalah bersifat bertanya yang sebenar-benarnya. Dari beberapa pemikiran diatas maka dapat disimpulkan bahwa: a. b. Secara jasmaniah perbedaan manusia dan hewan adalah gradual, dengan kata lain tidak asasi atau dapat dikatakan sejenis hewan. Manusia secara ruhaniah memliki perbedaan yang asasi, fundamental dan prinsipil

ETIKA DAN AGAMA 1. Etika Dalam Kamus Bahasa Indonesia Kata Etika berarti suatu ilmu tentang budi pekerti, kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlaq, atau nilai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Dalam hidupnya seorang manusia pastilah akan mencari orientasi sebelum ia melakukan sesuatu, ia harus tahu dimana ia berada, kearah mana ia menuju, bagaimana ia harus hidup dana bagaiman ia bertindak, dalam situasi tersebut maka etika berperan dalam usaha pencarian orientasi tersebut bukan hanya sekedar ikut-ikutan (taqlid),etika membantu kita memahami sendiri bagaimana bersikap begini atau begitu, dan agar manusia mampu untuk mempertanggung jawabkan kehidupan. Aliran-aliran Etika a. Etika Naturalisme, ialah aliran yang beranggapan bahwa kebahagian manusia didapatkan dengan menurutkan panggilan natura (fitrah) kejadian manusia sendiri. b. Etika Hedonisme, aliran yang berpendapat bahwa perbuatan susila ialah perbuatan yang menimbulkan hedone (kenikmatan dan kelezatan) c. Etika Utilitarianisme, aliran yang menilai baik dan buruknya perbuatan manusia ditinjau dari kecil dan besarnya manfaatnya bagi manusia d. Etika Idealisme, aliran yang berpendirian bahwa perbuatan manusia janganlah terikat pada sebab-musabab lahir, tetapi haruslah berdasarkan pada prinsip kerohanian yang lebih tinggi. e. Etika Vitalisme, aliran yang menilai baik/buruknya perbuatan manusia sebagai ukuran ada tidak adanya daya hiudp yang mengendalikan perbuatan itu

f. Etika Theologis, aliran yang berkenyakinan bahwa ukuran baik/buruknya perbuatan manusia itu dinilai dengan sesuai dan tidaknya dengan perintah Tuhan (H. ending Saifudin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, PT. Bina Ilmu, Hal.96-97) Tahapan Etika dalam studi etika sebagai suatu cabang filsafat para ahli telah melakukan analisa dan sintesa yang hasilnya adalah Tiga tahapan etika yang saling berhubungan yang biasa disebut dengan Etika Deskriptif, Normatif, dan Meta Etika, yang juga disebut Etika Umum yang merupakan kebalikan dari Etika Khusus. Etika Deskriptif Erat hubungan nya dengan antroplogi, sosiologi dan psikologi dan bersandar pada ketiganya. Mempelajari dan menguraikan moral suatu masyarakat, kebudayan dan bangsa. Pendekatan etika deskripitf dipastikan oleh fakta moral yang menggambarkan bagaimana bentuknya dibandingkan dengan bentuknya dalam masyarakat yang berlainan, diselidiki sejarahnya, jangkauannya, dan seterusnya. b. Etika Normatif Secara sistematis berusaha menyajikan serta membenarkan suatu system moral, berusaha mengembangkan serta membenarkan prinsip dasar moral atau nilai-nilai dasar suatu system moral. Dimana system itu sendiri merupakan prinsip atau nilai dasar moral dan aturan moral yang khusu menguasai perilaku manusia dalam arti mengahapuskan tindakan-tindakan yang buruk atau tidak bermoral, dan mengajurkan perilaku yang bermoral.

c. Meta Etika Merupaka studi tentang etika normative, ia kadang kala disebut etiaka analistis, meta etika mengkaji makna istilah-istilah ,oral dan logika dari penalaran moral. 2. AGAMA Agama yang dalam Bahasa Arab disebut Din dan dalam Bahasa Inggris disebut sebagai Religion tidak ada satupun definisi spesifik yang dapat diterima secara umum (penulis, Secera universal) karena ia merupakan pengalaman bathin, bersifat subyektif dan individual, sehingga setiap pembicaraan mengenai agama sering kali akan terjadi luapan emosi dalam pendefinisiannya,.namun walaupun secara spesifik sulit didefinisikan dapat disepakati bahwa Agama adalah yang didalamya terdapat kepercayaan pada Tuhan, Dewa, penerimaan atas Wahyu, Pencarian keselamatan, kebaktian, ritual dan pemisahan antara yang sacral dan non sacral. atau dalam Everymans Encyclopedia dikatakan bahwa Religion .may broadly be defined as acceptances of obligation toward power higher than man himself ( Agama dalam arti luas dapat didefinisikan sebagai penerimaan atas tata aturan daripada kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi dari pada manusia itu sendiri) a. Agama/Ad-Din Dalam Pandangan Islam Secara etimologis kata Din bermakna taat, tunduk, patuh, berutang, memiliki, menghukum, memaksa. Kalau diperhatikan masing-masing makna ad Din, ia mempunyai dua pihak. Misalnya kata taat artinya ada orang yang taat atau tunduk dan patuh sekaligus adal yang ditaati, dipatuhi. Makna din dalam arti hutung juga mempunyai dua unsur yaitu orang yang berhutang dan orang yang memberi hutang.Din dalam arti memiliki tentu ada yang memikili dan ada yang dimiliki, demikian pula din dalam arti

memaksa, menghukum dan membalas semua itu mempunyai dua aspek yang memaksa dan yang dimaksa, yang menghukum dan dihukum, yang dibalas dan yang dibalas. Ayat-ayat yang menggunakan kata al din dalam al Quran:


Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya. (QS al Nisa/4: 125)


Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (QS ali Imran/3:19)

dalam hubungan dengan ini, yaitu

menurut hemat penulis perlu

disajikan konsepsi atau unsur al din (agama).Unsur agama ada tiga

1. 2. 3. b.

Beriman kepada yang ghaib (

Beriman kepada hari kebangkitan dan pembalasan (

)
Beramal shalih (

Fungsi Ad-Din Agama mempunyai fungsi dapat membimbing manusia menuju kehidupan yang lebih baik. Dan menurut Muhammad Abdullah Darraz fungsi al din atau agama ada tiga yaitu: 1. Menunjuki menusia kepada kebenaran sejati. Manusia telah diberikan oleh Allah potensi batin berupa akal, hati dan indra, namun segala potensi yang dimilikinya itu sangat tergantung kepada apa yang dilihat, apa yang dirasa dan pengalaman sosialnya. Dengan berbagai potensi itu manusia mencari kebenaran, namun tidak dapat mencapai hasil maksimal. Maka melalui agama kebenaran hakiki atau sejati dapat dicapai.


Katakanlah: "Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran?" Katakanlah: "Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran". Maka apakah orangorang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak

diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan? (QS Yunus/10:35) 2. Menunjukkan manusia kepada kebahagiaan hakiki. Dalam mengarungi bahtera kehidupan di dunia ini, Allah telah memberikan berbagai fasilitas hidup. Dan dengan segala sarana itu manusia berharap dan mencari kebahagiaan, namun kebahagiaan yang hakiki tidak dapat dicapai. Maka melalui agama inilah kebahagiaan hakiki itu dapat terwujud.


(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS al Rad/13 : 28) 3. Agama sebagai pengatur kehidupan. Sebagai makhluk sosial yang selalu berubah sesuai dengan perubahan waktu dan tempat dan manusia adalah makhluk yang saling berintraksi dengan sesama manusia dan alam disekitarnya, maka diperlukan peraturan yang permanen dan universal. Peraturan yang langgeng dan universal itu adalah agama.

10


Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orangorang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.(QS al Baqarah/2: 213) III. Etika dan Agama, suatu yang terpisahkan? Teori filsafat yang menggunakan Rasio (pandangan Dunia) untuk menafsirkan atau memberi penafsiran pengalaman manusia apakah akan berseberangan dengan wahyu? Seperti tertulis pada sebelumnya, filsafat dalam arti luas adalah suatu usaha sistematis untuk memahami pengalaman manusia secara pribadi

11

dan kolektif. Dalam pelaksanaanya filsafat menggunakan rasio (Pandangan Dunia) untuk menafsirkan atau memberi penafsiran pengalaman manusia dan tidak mengandalkan wahyu sebagaimana halnya pandangan teologi yang lebih merujuk pada wahyu. Namun apakah hal tersebut menjadi sesuatu yang baku?, dalam pengoptimalisasi rasio ternyata ada hal tertentu yang tidak dapat keseluruhan terjawab oleh rasio manusia, karena terbentur oleh keterbatasan manusia itu sendiri. Salah satu contoh, sampai saat ini manusia belum mampu mencari jawaban tentang Ruh, manusia hanya mampu pada batasan ruh sebagai suatu zat atau energi, namun bagaimana ia bisa ada dalam tubuh manusia dan bagaimana ia dapat lepas dari tubuh manusia belum dapat diketahui, dari hal tersebut dapat kita pahami bahwa dalam filsafat ada batasan-batasan yang tak mampu dilampaui, dan hal tersbut hanya dapat dipahami dengan Agama. Sebagai salah satu cabang filsafat, etika memiliki sasaran moralitas yang mencakup praktek dan kegiatan yang membedakan yang baik dan buruk, aturan-aturan yang mengendalikan kegiatan tersebut dan nilainilai yang tersimbul didalamnya yang dipelihara atau dijadikan sasaran oleh kegiatan dan praktek tersebut. Apakah Agama dapat dijadikan sebagai satu aturan normative yang dapat menghasilkan moralitas? Dilhat dari tujuan etika dan fungsi agama maka dapatlah kita pahami bahwa antara etika dan agama suatu yang tak berbenturan, karena etika menjuru pada praktek-praktek kehidupan manusia, hubungan antara manusia dengan manusia lain yang secara tegas terdapat dalam ajaran agama yang dalam islam disebut sebagai akhlaq.. Bahkan dalam Islam sendiri masalah akhlaq mempunyai kekhususan dengan adanya sabda Rasulullah Saww : Sesungguhnya aku diutus untuk memperbaiki akhlaq manusia

12

IV.

Etika Profesi dalam Perspektif Islam Bisnis atau usaha perniagaan/perdagangan atau usaha komersial merupakan salah satu hal penting bagi kehidupan manusia, oleh karena bisnis beroperasi dalam rangka suatu system ekonomi, maka sebagaian dari tugas etika bisnis sesungguhnya ialah mengemukakan pertanyaanpertanyaan tentang system ekonomi yang umum dan khusus, yang pada gilirannya akan berbicara tentang tepat atau tidaknya pemakaian bahasa moral untuk menilai system tersebut. Al-quran memberikan informasi yang cukup banyak berkaitan dengan hal tersebut. Diantaranya QS. An Nisa:29


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan disisi lain Rasulullah mempunyai misi penting dalam penyempurnaan Akhlaq, sehingga dalam berniaga/berbisnis pun ada aturan perilaku dalam melaksanakannya., salah satunya sabda Rasulullah saww:

13


Diriwayatkan daripada Ibnu Umar r.a katanya: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w melarang menahan barang dagangan sebelum tiba di pasaran. Ini adalah lafaz dari Ibnu Numair. Sedangkan menurut perawi yang lain, sesungguhnya Nabi s.a.w melarang pembelian barang dagangan sebelum dipasarkan Dalam pandangan moral manusia manapun pastilah tidak membenarkan seorang mengambil milik orang lain dengan cara merampas, atau dalam sebuah perusahaan seorang pejabat ataupun pekerja tidak dibenarkan memiliki barang/uang milik perusahaan menjadi milik pribadi. Seorang pekerja yang sadar akan etika bisnis, yang terlanjur mengambil milik perusahan , maka ia wajib mengembalikan, kesadaran inilah yang disebut sebagai kesadaran moral, karena ia harus mempertanggung jawabkan hal tersebut bukan hanya ia seorang karyawan tetapi ia sadar bahwa ia juga seorang hamba Tuhan. Seorang yang menimbun barang dagangan akan dianggap sebagai seorang yang dzalim dengan melakukan monopoli padahal rakyat sangat sulit mencari barang tersbut. Dari ayat dan hadits tersebut sudah cukup jelaslah bahwa dalam Islam berbisnis adalah seuatu yang dibenarkan dan dalam mejalankannya pun terdapat aturan berperilaku yang harus diperhatikan oleh pelaku bisnis tersebut. Dalam mejalankan usaha tersebut pastilah dibutuhkan bekerja untuk mencapai tujuan dari usaha/niaga/bisnis, apakah itu dengan cara pribadi, kelompok kecil atau kelompok besar. 1. Etika dalam Bekerja

14

Dalam melakukan bisnis atau usaha tentulah seseorang perlu bekerja. Bekerja adalah sebuah aktivitas yang menggunakan daya yang dimiliki oleh manusia yang merupakan pemberian ,.secara garis besar ada empat daya pokok yang dimiliki manusia, pertama daya fisik yang menghasilkan kegiatan gerak tubuh dan keterampilan, kedua daya fikir yang mendorong manusia untuk melakukan telaah atas apa yang ada dialam semesta dan menghasilkan ilmu pengetahuan, ketiga daya Qalbu yang menjadikan manusia mampu berimajinasi, beriman, merasa serta berhubungan dengan manusia lain dan sang Khaliq, dan keempat daya hidup yang mengahasilkan daya juang, kemampuan menghadapi tantangan dan kesulitan.1 a. Bekerja Sebagai Ibadah Bekerja dalam pandangan Islam memilki nilai ibadah, firman dalam surat Adzariyat:56: sesungguhnya tidak aku ciptakan Jin dan Manusia kecuaali agar beribadah kepada-Ku, kata Li Yabudun dalam surat tersbut mengandung arti dampak atau akibat atau kesudahan, bahakan dalam melaksanakan shalat kita selalu bersumpah dan berpasrah bahwa hidupku, matiku lillahi rabbil alamiin. Namun kerja yang diluar ibadah ritual bagaimana yang akan berdampak ibadah? Kerja bernilai ibadah apabila ia didasari keikhlasan dan menjadikan si pekerja tidak semata-mata mengharapkan imbalan duniawi saja tetapi ia juga berharap akan balasan yang kekal diyaumil akhirah. Dengan niatan bahwa ia bekerja untuk mendapatkan harta yang akan ia jadikan sebagai sarana bagi dirinya untuk menyelamatkan dirinya dan keluarganya sehingga dapat melakukan perintah yang lain. b.
1

Bekerja sebagai sebuah Amanah

M. Quraish Shihab, Prof. DR, Secercah Cahaya Ilahi, Mizan, h.22

15

Kata amanah,aman dan iman berasal dari akar kata yang sama. Seorang disebut beriman bila ia telah menunaikan amanat.


tidak disebut beriman orang yang tidak menunaikan amanat. Seorang yang menunaikan amanat akan melahirkan rasa aman bagi dirinya dan orang lain. Di dalam al Quran banyak ayat yang memerintahkan agar manusia menunaikan amanat yang telah dipercayakan kepadanya. Diantaranya:


Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,(QS. al Ahzab/33:72) Menurut Murtadha Muthahhari amanat dalam ayat ini artinya taklif , tanggung jawab dan hukum 2. Artinya amanat manusia harus dibangun berdasarkan tugas dan tanggung jawab. Pendapat senada dikemukakan juga oleh Muhammad Ali al Shobumi, amanah dalam ayat ini adalah taklif syariat, keharusan mentaatinya dan meninggalkan kemaksiatan3. Itulah sebabnya, langit dan bumi tidak sanggup menerimanya.
2 3

Murtahda Muthahhari, Islam dan Tantangan Zaman, (Pustaka Hidayah: Bandung), hal.19 Muhammad Ali al Shobumi, Shofwah al Tafasir, (Daar al Fikr: Bairut), jilid. Ke-2, hal. 540

16

Makhluk-makhluk lain selain manusia, diberi oleh Allah instink termasuk bumi dan langit. Dengan instink ini langit dan bumi tidak dapat menerima amanat seperti tersebut diatas. Apabila amanat itu berupa materi mungkin ia dapat menerima, tanpa ada tanggungjawab ia hanya menerima saja. Seperti amanat Allah kepada Matahari agar ia beredar pada porosnya, demikian pula bumi dan bulan.


Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.(QS Yasiin/36:38-40) Dalam konteks ini, matahari, bumi dan bulan dalam menerima amanah, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka. Ia tidak mempunyai pilihan, yang ada hanya instink untuk mengikuti aturan yang telah ditetapkan.

17


Dan kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan (QS ali Imron/3:83) Berbeda dengan makhluk Allah SWT yang lain, manusia diberi potensi berupa akal. Dengan akal itu manusia sanggup dan mampu menerima amanat yang ditawarkan kepadanya. Sebagaimana dikemukakan oleh Abdul Wahab Kholaf bahwa seluruh aktivitas manusia, baik yang berkaitan dengan ibadah, muamalah, jinayat atau berbagai transaksi lainnya mempunyai konsekwensi hukum4 . Dan manusia mempunyai hak untuk memilih dan mengikuti atau tidak melaksanakan apa yang ditawarkan kepadanya. Tetapi mengapa manusia saat menerima tawaran Allah berupa amanat disebut sebagai dzaluman Jahula (amat zalim dan bodoh) ? Setelah manusia menerima amanah itu, manusia mempunyai tanggung jawab dan konsekwensi hukum dari semua yang diperbuatnya. Apabila ia menunaikan amanat dengan menggunakan akalnya, ia termasuk manusia yang cerdas, tetapi sebaliknya bila ia tidak sanggup menggunakan akal pikirannya untuk menunaikan amanat itu, maka manusia disebut sebagai menzalimi dirinya sendiri dan bersikap bodoh.

Abdul Wahab Kholaf, Ilmu Ushul al Fiqh, (maktabah al dakwah al Islamiyah:Kairo), hal.11

18

Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk disisi Allah adalah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mau menggunakan akalnya. (QS. al Anfal/8:22) Binatang yang paling buruk adalah manusia yang diberi akal dan hati, tetapi ia tidak memahami, diberi telinga, tetapi tidak mendengar dan dibekali mata, namun ia tidak sanggup melihat. Bahkan untuk mereka disediakan neraka Jahanam. Manusia yang tidak pandai memilih kebenaran yang ada dihadapannya, dan tidak sanggup memperjuangkan keadilan yang didengarnya dan matanya tidak dapat melihat kebenaran yang ada disekelilingnya itulah yang disebut dzaluman Jahula. Dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa siapa yang diberi kebebasan dan amanat yang jelas kebaikannya dan ia telah merasakan nikmat dari amanat itu, lalu ia memilih yang tidak sesuai dengan hati nurani, tempat yang layak baginya adalah neraka Jahannam.


Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai

19

binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. al Araf /7:179)

Para mufassirin sepakat bahwa makna amanat dalam ayat ini (al Ahzab/33:72) amanat dalam bentuk spiritual atau immateri. Yakni sebuah taklif atau tanggungjawab yang harus dipikul oleh orang yang diberi amanat dan juga bermakna hukum, yaitu ketentuan yang telah ditetapkan untuk dilaksanakan. Dalam kontek ini, amanat dapat disamakan dengan imarat al maknawiyah yakni mengisi dan meningkatkan kualitas dan intensitas bekerja sebagai sebuah gerakan yang terus menerus, dinamis dan inovatif 2. Profesional dalam Bekerja


Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya, orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapat keberuntungan. Ayat diatas menunjukkan kepada kita bahwa dalam melakukan sesuatu haruslah dengan kesungguhan dan kemampuan, hal ini berlaku bukan hanya bagi pribadi namun juga akan berlaku juga dalam kelompok atau dengan kata lain sebuah organisasi atau perusahaan. Sebuah kata bijak mengatakan bahwa :

20

kebaikkan kemampuan

yang akan

tidak dapat

terencana/terorganisasi/diadsari dikalahkan oleh kejahatan

oleh yang

terencana/terornaisasi dengan baik. Rasulullah saww pernah bersabda: sesungguhnya senang apabila salah seorang dianatara kamu mengerjakan suatu pekerjaan, bila dikerjakan dengan baik(jitu) Agar dapat melakukan pekerjaan dengan baik, ada 2 hal yang harus kita (secara pribadi/kelompok/perusahaan) lakukan: a. Menghargai Waktu Islam sangat istimewa dalam membicarakan tentang waktu, bahkan salah satu surat dalam Al-quran khusus menuliskan bagaiman apabila kita tidak mengahargai waktu, yaitu dalam surat Al-Ashr. Dalam surat ini dengan jelas memperingatkan kepada manusia (pribadi/kelompok) apabila ia tidak betul-betul memperhatikan waktu, dengan ancaman kerugian (dalam hal ini kerugian mencakup secara materi maupun immaterial) dan hal tersbut dapat terhindari apbila ia mampu menjaga komitmen (amanu) dengan konsekwen menjalankan aturan dan kewajiban (amliu Ash-sholihat) Imam Ali mengatakan Waktu adalah Pedang, apabila ia tidak tepat dimanfaatkan maka ia dapat melukai/membunuh diri sendiri b. Kerjasama Dalam ibadah shalat kita selalu membaca iyya kanabudu. Ayat tersebut dikemukakan secara jamak yang berati hanya kepadaMu kami menyembah, Islam begitu mengutamakan sesuatu yang dilakukan secara berjamaah. Dalam kesehariannya rasululahpun selalu mengingatkan untuk saling bekerjasama. Pernah pada suatu hari rasulullah dan para sahabat ingin melakukan makan bersama, salah seorang sahabat mengatakan aku akan mencari

21

kambingnya,

lalu dan

sahabat sahabat

kedua ketiga

mengatakan mengatakan

saya saya

akan akan

menyembilhnya,

mengulitinya, dan yang kempat mengatakan saya akan memasaknya. Maka Rasulullah saww bersabda: saya akan mengumpulkan kayu bakarnya. Dalam kisah lain, pada saat membangun masjid nabawi para sahabat menganjurkan Rasulullah untuk beristirahat/tidak perlu ikut turun tangan, namun rasulullah tetap ikut dalam pembangunan masjid tersebut. Dari sini jelaslah bahwa Islam sangat menganjurkan Budaya Bekerjasama dalam hal kebaikan.

...
.Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS:Al-Maidah:2)

c.

Bekerja Dengan Bersungguh-sungguh


Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia

22

ini. Sesungguhnya, orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapat keberuntungan. Ayat diatas menunjukkan kepada kita bahwa dalam melakukan sesuatu haruslah dengan kesungguhan dan kemampuan, hal ini berlaku bukan hanya bagi pribadi namun juga akan berlaku juga dalam kelompok atau dengan kata lain sebuah organisasi atau perusahaan. d. Bekerja dengan pengetahuan(Ilmu) Dalam melakukan sebuah pekerjaan seharusnyalah seseorang memiliki pengetahuan atas apa yang akan ia kerjakan, hal ini akan berdampak pada apa yang akan dihasilkan dari pekerjaan itu.


Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(QS:Al-Isra:36) Dalam surah yang lain allah menjanjikan bahwa orang yang memliki pengetahuan lebih mulia beberapa derajat.

23


Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS:Al-Mujaadilah:11) e. Bekerja dengan memiliki keahlian Selain Ilmu yang dimiliki kita juga harus memliki keahlian(spesialisasi) dalam bekerja yang juga akan berdampak pada hasil yang kita dapatkan Rasulullah Saww bersabda: Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya(HR. Bukhori) f. Tanggung Jawab Setelah pekerjaan dilakukan dengan amanah, berdsarakan ilmu dan keahlian maka tugas terakhir dalam pekerjaan tersebut adalah melakukan pengendalian mutu dari apa yang kita kerjakan.karena hal tersbut harus dipertanggung jawabkan apakah itu kepada manusia lain atu sang khaliq.


Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang

24

nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan". (QS:At-Taubah:105) Dari uraian diatas dapat dipetik suatu pengertian bahwa: Profesional adalah Bekerja dengan Sebaik-baiknya dan dengan sungguhsungguh, mengerahkan segala kemampuannya untuk hasil yang terbaik dan menjaga kualitas proses atau cara mencapainya

25