Anda di halaman 1dari 6

Ujian Akhir Semester Bahasa Indonesia

Upaya Pencegahan Osteoporosis Akibat Merokok pada Remaja


Disusun oleh: Dini Fakhriza Alamiyah (125070100111059)

Pendidikan Dokter Kelas A Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang 2012

Latar Belakang Merokok adalah kegiatan membakar tembakau yang kemudian dihisap asapnya baik langsung pada rokok maupun menggunakan pipa. Merokok seringkali menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan karena rokok mengandung zat adiktif. Padahal, terdapat zat-zat pada rokok yang berbahaya bagi tubuh. Ironisnya, jumlah perokok semakin meningkat walaupun telah ditulis pada bungkus rokok bahwa rokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan. Menurut data World Health Organization (WHO), Indonesia menempati peringkat ketiga pada jumlah perokok di seluruh dunia setelah Cina dan India. Selain itu, dari data Kementrian Kesehatan, di Indonesia, jumlah perokok anakanak dan remaja mengalami kenaikan yang signifikan, yaitu mencapai 6% atau hampir empat kali lipat dibandingkan dengan data survei nasional pada tahun 2007 dengan kisaran angka 1-1,5%. Angka ini belum menunjukkan jumlah perokok pasif yang juga memiliki risiko yang hampir sama dengan perokok aktif. Hal ini berarti anak-anak dan remaja harus menerima beban penyakit yang diakibatkan oleh para perokok aktif. Selain penyakit-penyakit yang telah dipaparkan sebelumnya, rokok juga dapat meningkatkan risiko penyakit osteoporosis. Hal ini masih sangat jarang diketahui oleh masyarakat. Padahal, osteoporosis dapat mengganggu fungsi sosial seseorang, terutama anak-anak dan yang masih dalam masa pertumbuhan. Hal ini perlu adanya sosialisasi terhadap efek rokok yaitu osteoporosis terutama pada anak.

Ujian Akhir Semester Bahasa Indonesia Dini Fakhriza A (125070100111059)

Pembahasan Rokok adalah hasil olahan tembakau yang dinikmati dengan cara dihisap dengan bahan utama berupa nikotin. Nikotin yang terdapat dalam tembakau merupakan salah satu faktor risiko terjadinya osteoporosis. Osteoporosis adalah suatu keadaan dimana terdapat pengurangan jaringan tulang perunit volume dan perubahan mikroarsitektur tulang akibat kerja osteoklas yang berlebihan, sehingga tidak mampu melindungi dan mencegah terjadinya fraktur terhadap kecelakaan kecil sekalipun. Nikotin dapat mengahambat absorpsi kalsium dalam tubuh dengan melihat peningkatan ekspresi kalsium melalui urine maupun tinja. Nikotin juga dapat menginduksi ekspresi osteopontin protein matriks tulang yang menunjukkan 2 efek toksik nikotin terhadap sel-sel tulang.

Pada sebuah penelitian dengan menggunakan sampel perokok berumur 1820 tahun, didapatkan bahwa densitas mineral tulang pada perokok lebih rendah dibanding dengan yang bukan perokok, baik pada total keseluruhan tulang pada tubuh, vertebra lumbal, maupun tulang paha. Disamping itu, ketebalan korteks tulang pada perokok lebih rendah 2,9% daripada bukan perokok.

Remaja merupakan fase dimana seseorang memiliki keingintahuan yang besar. Pada fase ini, seorang anak selalu ingin mencoba suatu hal, contohnya rokok. Padahal, efek yang ditimbulkan oleh rokok begitu besar. Karena rokok mengandung zat adiktif, para perokok sulit untuk menghentikan kebiasaannya tersebut. Merokok terus-menerus mengakibatkan semakin banyaknya zat nikotin yang masuk ke tubuh. Hal ini meningkatkan risiko penyakit osteoporosis.

Di usia yang masih muda, seharusnya perokok dikenalkan dengan bahaya merokok. Namun, bahaya merokok seperti kanker paru, serangan jantung, dan penyakit lainnya tidak menimbulkan rasa takut bagi mereka. Bagi mereka, hal yang terpenting dalam hidup ini adalah bersenang-senang. Namun, masih terdapat penyakit yang dapat menakut-nakuti para remaja tersebut, yaitu osteoporosis karena osteoporosis dapat langsung menurunkan fungsi sosial mereka. Contohnya saja, osteoporosis yang dapat menimbulkan patah tulang mengakibatkan seorang
Ujian Akhir Semester Bahasa Indonesia Dini Fakhriza A (125070100111059) 3

remaja tidak dapat beraktivitas layaknya remaja normal. Hal ini akan dapat menimbulkan seorang remaja kehilangan percaya diri dan akhirnya kehilangan fungsi sosial sebagai manusia. Oleh karena itu, selayaknya kita mengajak masyarakat Indonesia, terutama anak yang berada dalam fase remaja, untuk menghindari rokok dengan adanya bahaya rokok tersebut. Kementrian kesehatan sebagai pengatur kebijakan tentang kesahatan di Indonesia dapat bekerjasama dengan beberapa pihak untuk melakukan aktivitas yang dapat mengurangi jumlah perokok remaja, seperti: Memberikan ilustrasi pada bungkus rokok yang berhubungan dengan hilangnya fungsi sosial akibat merokok, seperti gambar seorang anak yang hanya bias tidur di rumah dan sedih melihat teman-temannya bermain di luar rumah. Untuk lebih jelas, dapat juga diberi beberapa kalimat yang menjelaskan ilustrasi tersebut. Hal ini tentunya membutuhkan kerja sama dari pihak pabrik rokok untuk mewujudkannya. Melakukan kegiatan promotif untuk mengindari rokok yang dilakukan di jejaring sosial. Jejaring sosial merupakan wahana yang sangat potensial untuk mengajak para remaja menghindari rokok. Membuat Undang-undang yang mengatur pembatasan umur minimal pengguna rokok. Dengan adanya hokum yang mengatur pembatasan umur minimal perokok, maka jumlah perokok remaja dibawah umur dapat dikurangi, walaupun tidak benar-benar dapat dihapuskan. Dengan berkurangnya perokok remaja, diharapkan akan adanya penurunan angka penyakit osteoporosis, yang dapat meningkatkan angka taraf hidup masyarakat Indonesia.

Ujian Akhir Semester Bahasa Indonesia Dini Fakhriza A (125070100111059)

Kesimpulan Rokok merupakan hasil olahan tembakau dengan bahan utama berupa nikotin. Nikotin yang terdapat dalam tembakau merupakan salah satu faktor risiko terjadinya osteoporosis. Osteoporosis adalah suatu keadaan dimana terdapat pengurangan jaringan tulang perunit volume dan perubahan mikroarsitektur tulang akibat kerja osteoklas yang berlebihan, sehingga tidak mampu melindungi dan mencegah terjadinya fraktur terhadap kecelakaan kecil sekalipun.

Remaja merupakan fase dimana seseorang memiliki keingintahuan yang besar. Pada fase ini, seorang anak selalu ingin mencoba suatu hal, contohnya rokok. Di usia yang masih muda, seharusnya perokok dikenalkan dengan salah satu bahaya merokok, yaitu osteoporosis karena osteoporosis dapat langsung menurunkan fungsi sosial mereka. Oleh karena itu, Kementrian Kesehatan dapat bekerjasama dengan beberapa pihak untuk melakukan aktivitas yang dapat mengurangi jumlah perokok remaja, yaitu: memberikan ilustrasi pada bungkus rokok yang berhubungan dengan hilangnya fungsi sosial akibat merokok, melakukan kegiatan promotif untuk mengindari rokok yang dilakukan di jejaring sosial, membuat undang-undang yang mengatur pembatasan umur minimal pengguna rokok. Dengan berkurangnya perokok remaja, diharapkan akan adanya penurunan angka penyakit osteoporosis, yang dapat meningkatkan angka taraf hidup masyarakat Indonesia.

Ujian Akhir Semester Bahasa Indonesia Dini Fakhriza A (125070100111059)

Daftar Pustaka Lina dan Nando. 2010. Rasa Ingin Tahu yang Besar, Remaja Mencoba Free Sex dan Narkotika. http://pabelan-online.com/berita/2010/11/rasa-ingin-tahuyang-besar-awal-remaja-mencoba-freesexs-dan-narkotika/. Diakses tanggal 23 Desember 2012. Maryati. 2012. Jumlah Perokok Indonesia Terbanyak Ketiga di Dunia. http://www.antaranews.com/berita/313477/jumlah-perokok-indonesiaterbanyak-ketiga-di-dunia. Diakses tanggal 23 Desember 2012. Purnomo, Budi. 2012. Industri Tembakau Non-rokok. http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/09/19/1 99328/10/Industri-Tembakau-Nonrokok. Diakses tanggal 23 Desember 2012. Sambo, Agus P., Husaini Umar, dan John MF Adam. 2009. Causes of Secondary Osteoporosis. http://med.unhas.ac.id/jurnal/attachments/article/81/lk1%20endo.pdf. Diakses tanggal 23 Desember 2012. Sukmaningsih. 2009. Penurunan Jumlah Spermatosis Pakiten dan Spermatid Tubulus Seminiferus Testis pada Mencit yang Dipaparkan Asap Rokok. http://ojs.unud.ac.id/index.php/BIO/article/view/585. Diakses tanggal 23 Desember 2012.

Ujian Akhir Semester Bahasa Indonesia Dini Fakhriza A (125070100111059)