Anda di halaman 1dari 4

PROBLEMATIKA UMAT ISLAM

Umat islam sekarang ini sedang mengalami problematika yang rumit. banyak umat islam yang tenggelam dalam euphoria arus globalisasi sehingga eksistensi umat islam yang sesungguhnya meredup. Banyak orang yang katanya adalah seorang muslim tapi ternyata perilakunya sangat menyimpang dari perilaku umat islam pendahulu pada zaman Rasulullah sallallhu alaihi wa sallam. Jika ingin melihat bagaimana umat islam yang sesungguhnya maka contohlah baginda Rasulullah sallallhu alaihi wa sallam dan para sahabat. Mereka adalah cerminan islam yang sesungguhnya. Mereka adalah umat terbaik sepanjang zaman sebagaimana diriwayatkan dalam Al-Quran.


Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Al-Imran [3]:110)

Umat islam di zaman Rasulullah sallallhu alaihi wa sallam adalah umat yang hebat. Mereka adalah umat yang paling baik pemahaman agamanya dan paling baik pengamalan atas ajaran Islam. Mereka mengajak kepada yang maruf dan mencegah kepada yang munkar. Umat Rasulullah sallallhu alaihi wa sallam adalah umat yang jika dibacakan ayat

Al-Quran kepada mereka maka hatinya akan bergetar dan tidak sedikit pun berkomentar atau pun menggugat setiap apa yang disunnahkan Rasulullah sallallhu alaihi wa sallam. Umat Islam pada zaman Rasulullah sallallhu alaihi wa sallam memiliki ciri-ciri yaitu : 1. Mengajak kepada hal yang maruf (kebaikan) 2. Mencegah/ melarang kepada hal yang munkar (keburukan) 3. Beriman kepada Allah SWT. Sebelum diturunkannya larangan meminum khamr, umat Rasulullah sallallhu alaihi wa sallam pada saat itu termasuk orang yang suka meminum khamr. Namun saat pertama diturunkannya larangan tersebut sahabat berkeliling ke rumah-rumah menyampaikan ayat yang melarang meminum khamr. Sebagian sahabat yang mendengar itu sedang memegang gelas berisi khamr dan bahkan ada yang sedang meneguk khamr tersebut. Setelah mendengar larangan meminum khamr mereka sama sekali tidak berkomentar, seketika sahabat langsung membuang gelas tersebut dan sahabat yang sedang meminum khamr langsung memasukkan tangannya ke dalam mulut untuk memuntahkan khamr yang terlanjur dia minum. Inilah umat Islam yang sesungguhnya, yang ketika mendengarkan perintah Allah azza wa jalla mereka tak sedikit pun berkomentar, meraka langsung mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Alllah SWT. Sungguh kontras dengan umat sekarang ini, yang ketika MUI memfatwakan bahwa ghibah (bergosip dan mendengarkan gosip) larangan infotainment menayangkan hal-hal yang berbau ghibah atau pun pada saat dikeluarkan Undang-Undang anti-pornografi. sontak mereka yang mengaku Islam berkomentar dan mengungkapkan ketidaksetujuannya. Umat islam sekarang ini sangat mudah terpengaruh oleh arus globalisasi. Mereka adalah umat pembeo yang jika melihat sedikit saja pakaian artis di TV mereka langsung menirunya. Umat Islam sekarang ini memiliki ciri-ciri yang terbalik dengan Umat pada zaman Rasulullah sallallhu alaihi wa sallam , ciri-ciri umat sekarang yaitu;

1. Mengajak kepada yang munkar (keburukan) 2. Mencegah kepada yang maruf (kebaikan) 3. Pembeo Inilah yang menjadi masalah utama umat Islam sekarang ini. Kebanyakan umat islam tidak sadar bahwa satu-satunya jalan yang benar adalah dengan kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Kita bisa melihat kenyataan yang ada di masyarakat bagaimana justru para orang tua zaman sekarang lebih senang membelikan anaknya pakaian yang tidak menutup aurat. Mereka bukannya tidak tahu batas aurat tetapi mereka telah terpengaruh oleh arus globalisasi dan terlalu banyak meniru budaya luar. Kebanyakan di masyarakat sekarang ini ketika mengadakan acara walimahan (acara pernikahan) mereka menyewa grup musik yang pakaiannya dapat menaikkan nafsu para undangannya. Mereka tidak sadar bahwa mereka mengajak para undangannya untuk melihat sesuatu yang diharamkan dalam Islam. Hal paling miris pada zaman sekarang ini adalah paradigma bahwa orang islam (orang yang berjenggot dan sering ke mesjid) adalah merupakan kelompok teroris bahkan sampaisampai para orang tua melarang anaknya untuk dekat dengan mereka yang justru memberikan contoh yang baik dalam Islam. Para orang tua juga lebih senang mengajak anaknya pergi ke mall daripada mengajak anaknya untuk belajar membaca Al-Quran di TPA atau pun di mesjid sekitarnya.

Hasan Al-Basri pernah mengatakan bahwa jika kalian tidak berada dalam kondisi kebaikan maka berarti kalian berada dalam keburukan. Kita dituntut untuk selalu mengejar kebaikan agar senantiasa berada dalam kondisi yang baik. Bila kita tidak sedang berada dalam kebaikan maka kemungkinannya yaitu kita berada di garis yang sangat rentan menuju kebatilan atau bahkan kita sudah jelas berada dalam keburukan.

Seseorang yang baru membeli sebuah handphone dan sebelumnya tidak tahu tentang handhone, tentu saja dia akan mencari tahu bagaimana cara memakainya, cara merawatnya, bahkan bagaimana jika handphone itu rusak. Dia tidak mungkin bertanya kepada yang bukan ahli tentang handphone. Oleh karena itu tempat yang paling baik untuk memperoleh jawaban tentang cara pakai hp tersebut, yaitu kepada si pembuat hp sendiri. Si pembuat hp lah yang paling tahu tentang segala seluk beluk dari hp tersebut. Ketika kapal TITANIC menabrak gunung es, orang yang paling tahu kapan dan berapa lama kapal tersebut bisa bertahan yaitu insinyur yang mendesign kapal tersebut. Karena si pembeli hp tidak bisa bertemu langsung dengan pembuat hp miliknya, dia mencari buku panduan yang ditulis oleh pembuat hp miliknya. Buku panduan itulah yang memberikan petunjuk tentang hp tersebut sehingga pembeli hp tidak perlu bertemu dengan pembuat hp miliknya. Uraian di atas merupakan analogi bahwa Dzat yang paling tahu tentang manusia dan bagaimana seharusnya manusia itu agar menjadi manusia yang mulia yaitu Allah azza wa jalla, Tuhan semesta alam. Bagaimana cara untuk menjadi manusia yang mulia? yaitu dengan berpegang teguh kepada Al-Quran sebagai firman langsung dari Allah dan AsSunnah sebagai contoh langsung dari Rasulullah saw. Rasulullah saw pernah bersabda, Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur'an) dan sunnah Rasulullah Saw. (HR. Muslim) Sebagai umat Rasulullah sallallhu alaihi wa sallam sudah sepatutnya kita kembali kepada Al-Quran dan As-Suinnah agar kita dapat menjadi manusia yang selamat dunia dan akhirat. Subhankallahu wa bihamdika asyhadualla ila ha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik.