Anda di halaman 1dari 11

Aspek-Aspek Interkoneksi

Dari seluruh aspek yang ada, pembebanan interkoneksi merupakan yang paling complicated. Hal yang menjadi sebab terjadinya perselisihan antar operators dan ketidaksepakatan dalam perhitungan ekonomi. Bagi para regulator dan pembuat kebijakan dalam menetapkan aspek finansial dapat menjadi suatu hal yang sangat sulit. Pembebanan Interkoneksi tidak pernah merupakan hasil dari perhitungan matematika saja, karena berkaitan dengan pemilihan standard, proses dan metoda. Pilihannya tidak bersifat netral, didasarkan pada tujuan yang ingin dicapai oleh regulator dan kebanyakan kasus, tergantung dari kondisi ketersediaan data yang spesifik dan bervariasi sesuai dengan layanan yang disediakan provider.

Aspek Finansial dan Komersial. Pembebanan Interkoneksi Terdapat sedikitnya 4 pendekatan interkoneksi.

untuk

pembebanan

Bill and Keep Pada pendekatan ini, operators tidak mengenakan biaya atas layanan interkoneksi yang diterima. Operator yang menagih bills customernya, mendapatkan (keeps) semua nilai tagihan tersebut. Sistem ini hanya dapat dijalankan dengan beberapa kondisi yang harus dipenuhi: Terdapat suatu balance pada traffic flows antar operator yang berinterkoneksi. The network costs are similar. Operator menyetujui adanya suatu mekanisme kompensasi atas traffic yang tidak balance.

Tanpa kondisi yang ditetapkan, pendekatan bill and keep hanya akan mengakibatkan perlambatan dalam pengembangan network dari new entrants yang memiliki volume traffic lebih rendah daripada the incumbent. Bill and keep, dikenal juga sebagai sender keeps all, merupakan mekanisme yang mudah diimplementasikan dan tidak memerlukan studi biaya yang komplex. Price sharing Pada mekanisme ini didasarkan pada harga retail yang dibebankan pada end users, tergantung discounts yang ditetapkan diantara operator. Harga retail dari tiap interconnected call dibagi antar operator berdasarkan percentage yg telah ditetapkan. Meskipun mudah diimplementasikan, pendekatan ini hanya bekerja pada kasus dimana harga dibatasi dan tidak terkait dengan cost. Kerugian dari pendekatan ini adalah pengurangan harga retail tak dapat dikaitkan terhadap cost.

Revenue sharing Operator membayar persentase revenue (pendapatan) yang diperoleh dari interconnected services, yang besarnya sesuai dengan kesepakatan. Additional charges juga dapat diterapkan.. Pada banyak kasus, regulators menetapkan revenue sharing sampai kondisi competition terbentuk secara penuh. Korea, interconnection antara fixed and mobile networks dimulai revenue sharing basis. Pihak regulator menetapkan cellular suppliers mendapatkan 70% pendapatan calls yang menuju network mereka dan fixed carriers mendapatkan 30% nya. Pengaturan ini digunakan selama masa transisi sampai fase pembangunan mobile network selesai. Awal thn 2000 mekanisme ini digantikan dengan cost based arrangements.

Cost based Approaches: Dari seluruh pendekatan yang ada, pembebanan Interkoneksi dengan pendekatan cost based telah menjadi metoda yang terbaik untuk menuju suatu kondisi competitive. Cost-based interconnection menunjukkan economic costs dari interconnection dan metodanya sangat compatible dengan competitive markets. Cost based interconnection prices membuat biaya efisien secara economis, dimana akan menjadi fair bagi incumbents and new market entrants, dan menciptakan keadaan yang competitive.

Variasi pada Cost-Based Approach Secara umum terdapat 2 metoda standar yang utama : Fully Allocated Cost Pendekatan ini adalah suatu aturan yang mengalokasikan dan mendistribusikan total network costs ke network services. Dalam pendekatan ini, total cost untuk menyediakan service, termasuk historical dan depreciated investment costs, yang dibagi dengan volume service yang disediakan. Dengan metoda ini, new entrant diharuskan berkontribusi kepada cost of capital assets yang ditentukan berdasarkan original cost, juga memasukan nilai depreciation untuk mendapatkan rate of return. Historical cost merupakan nilai pembelian dan instalasi facilities dan equipment sebagaimana personnel costs, biasanya ditentukan dari accounting records.

Metoda ini telah dikritik, bahwa tidaklah menunjukan suatu metoda yang reliable untuk menghitung cost, karena didasarkan pada historical accounting of costs. Historical accounting tidak memperlihatkan perubahan pada current dan future costs, dan merefleksikan inefisiensi pada operational atau technological dari incumbent. Inefisiensi ini dibebankan ke interconnecting operator. Long Run Forward Looking Incremental Costs Model Long run incremental pricing didasarkan pada perhitungan biaya penyediaan unit layanan tambahan selama masa operasi berlangsung. Analisa Forward-looking cost mengidentifikasi costs yang akan terjadi selama periode yang real atau theoretical future. Incremental cost adalah extra cost yang ditambahkan ke dasar pembiayaan yang ada, yang dibutuhkan untuk menyediakan suatu peningkatan tambahan dari suatu layanan

Pendekatan ini merefleksikan dengan baik keadaan dari pada competitive markets. Memiliki keuntungan dalam menentukan rates yang menfasilitasi competition yaitu menyediakan analytical tools yang membantu dalam penentuan cost dalam competitive markets berdasarkan cost keadaan sekarang dari operator yang menggunakan teknologi modern yang efisien. Atau dengan kata lain, LRIC charging mengharuskan incumbent untuk memungut biaya akses ke network mereka, berdasarkan asumsi bagaimana bentuk network mereka sekarang ini jika dibangun dengan cara yang lebih efisien. Terdapat beberapa variasi antara lain : Long Run Average Incremental Cost (LRAIC) Total Element Long Run Incremental cost (TELRIC) Total Service Long Run Incremental Cost (TSLRIC)

Struktur Pembebanan Interkoneksi Berbeda-beda untuk masing-masing negara tergantung dari pilihan kebijakan yang diterapkan. Variasi tergantung pada tingkatan kesesuaian pembebanan interkoneksi dengan biaya interkoneksi dan struktur harga retail yang dibebankan kepada pelanggan. Variasi tersebut antara lain: Fixed and variable charges: Istilah fixed dan variable charges merujuk pada variasi costs yang terkait dengan network usage. Fixed costs berarti adalah costs yang tetap tanpa ada pengaruh network usage. Jenis ini dikenal juga sebagai non-traffic sensitive costs. Contoh fixed costs termasuk capital investment pada major facilities dan peralatan interconnection suppliers termasuk upah buruh. Variable costs bervariasi sesuai dengan level penggunaan network (network usage)

Peak and off peak charges: Interconnection charge yang dibayar oleh pelanggan bisa (rata rata) uniform atau bervariasi tergantung dari traffic volume. Averaging and de-averaging biasanya diterapkan pada retail prices, ex; Retail prices pada saat peak hours lebih tinggi dari pada saat off-peak hours. De-averaged prices dirancang untuk: Meningkatkan penggunaan network pada saat off peak hours Menurunkan congestion pada saat peak hours, Meningkatkan network efficiency Menghemat biaya yang dikeluarkan operator untuk mengupgrade network agar sesuai dengan kebutuhan beban puncak.

Adalah sangat penting pembedaan peak/off peak retail prices direfleksikan pada interconnection charges. Bila tidak akan menimbulkan unfair competition. Jika interconnection charge berupa averaged, akan memudahkan new entrants untuk berkompetisi pada peak load customers karena mereka bisa menawarkan layanan dengan biaya yang lebih rendah daripada yang diterapkan incumbent. Sebaliknya, new entrants tidak dapat berkompetisi pada off peak customers. Pada kedua kasus tersebut, kompetisi tidak akan berjalan.

Bundled vs. Unbundled charges Bundled interconnection charges berarti pelanggan hanya membayar single price untuk suatu set fungsi interkoneksi yang standar whether used or not. Unbundled charges berarti new entrant hanya membayar untuk komponen-komponen paket interkoneksi yang dibutuhkan untuk layanan interkoneksi. Operarotr tidak perlu membayar bagi komponen dan fungsi yang tidak digunakan untuk layanan bagi pelanggan mereka. Secara Internasional, Unbundling telah menjadi prinsip interkoneksi Pembebanan untuk unbundled access dapat menjangkau lebih jauh implikasi dari kesuksesan suatu kompetisi yang. Unbundled access membebaska new entrants dari additional charges, menfasilitasi new entry dan meningkatkan benefits of competition.

Recovery of costs related to Universal Service Obligations and other social obligations Pada banyak kasus, framework regulasi menetapkan interconnection charges harus mengandung suatu elemen yang dimaksudkan untuk berkontribusi pada universal service obligation dari the incumbent carrier. Universal service obligations (USO) adalah kewajiban yang ditetapkan bagi operator untuk menyediakan layanan bagi pelanggan dan daerah yang secara komersil tidak atraktif. Ini merupakan suatu tujuan kebijakan public pada setiap negara, dengan tujuan menjamin availability, affordability and accessibility dari telecommunications services. Biasanya diambil secara subsidi silang, misalnya keuntungan dari SLJJ digunakan untuk local dan rural lines.

Aspek Teknis Spesifikasi Teknis mempengaruhi cost dan quality of service yang dapat ditawarkan operator kepada customernya, sehingga juga mempengaruhi kemampuan berkompetisi dengan operator lainnya. Regulator memainkan peranan penting dalam menjamin aspek teknis Interkoneksi agar kompetisi tercapai. Titik Interkoneksi : Didefinisikan sebagai lokasi fisik dimana terjadinya interkoneksi antara dua operator. Interkoneksi pada tiap titik yang feasibel secara teknis merupakan safeguard kompetisi yang sangat penting bagi new entrants. Ketetapan ini menjamin new entrants memiliki kebebasan untuk memilih lokasi yang sesuai bagi titik interkoneksi daripada menerima lokasi yang tidak menguntungkan. Jika major operator membatasi jumlah dan lokasi titik interkoneksi akan membuat new entrant hanya memberikan services yang tidak menguntungkan.

Examples of Technically Feasible Interconnection Points: The trunk interconnection points of local and national tandem exchanges. The national or international circuit interconnection points of international gateway exchanges. The trunk sides of local exchanges. The line sides of local exchanges-at the main distribution frame (MDF) or Digital Distribution Frame (DDF). Cross-connect points of any exchange. "Meet points" at which operators agree to interconnect (e.g. manholes). Signalling transfer points (STPs) and other points outside of the communications channel or band, where interconnection is required for common channel Signalling System No. 7 or other signalling systems to exchange traffic efficiently and to access call-related databases (e.g., a local number portability database). Access points for unbundled network components. Cable-landing stations.

Other key Technical Matters Dialing parity and Pre-selection Call-by-Call customer selection Operator Pre-selection Quality of Interconnection services Dialing Parity and Pre-selection Jika kondisi kompetisi yang sehat telah tercapai, maka pelanggan dapat mengakses layanan dari new entrants semudah mengakses layanan ke incumbents. Tanpa adanya kesamaan dalam kemudahan akses, new entrants akan kesulitan untuk menarik pelanggan. Sebagai contoh; diawal kompetisi SLJJ di Canada dan US, banyak pelanggan yang kesulitan dalam menggunakan layanan operator lainnya karena keharusan untuk mendial up to 20 or more extra digits untuk meroutekan call ke jaringan new entrants.

Saat ini, incumbent operator dan produser telecommunications equipment telah mendesain ulang switches dan software mereka, agar dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan yang multipleoperator. Pada dasarnya, terdapat 2 pendekatan dalam penyediaan equal access : Call-by-call customer selection Customers memilih operator yang diinginkan dengan menekan short code atau prefix unique untuk terhubung dengan operator tersebut. For example, in Colombia, customers dial "09" to route national calls through the incumbent operator TELCOM's network, and other two-digit prefixes to route them through competitive operators' networks.

Operator pre-selection Dalam pendekatan ini, customers pre-select operator untuk sebagian atau semua calls mereka. For example, a customer dapat memilih operator yang diinginkan untuk all long distance and international calling. Pre-selection akan meroutekan seluruh calls secara otomatis ke operator yang dipilih. The main requirements untuk jenis equal access ini adalah: Switch software features dibutuhkan untuk mengidentifikasi setiap pre-selected operator dan meroutekan dan menagih biaya atas call yang dilakukan Appropriate billing dan pengaturan audit untuk membolehkan penagihan secara langsung oleh pre-selected carrier atau dikonsolidasikan dalam satu bill pada satu operator saja (setelah itu biaya tersebut akan diserahkan ke pre-selected operator).

Quality of Interconnection Service Tanpa adanya ketetapan bagi incumbent untuk menyediakan reasonably high quality of interconnection services dan facilities, akan memudahkan mereka untuk mengganjal kemampuan kompetitor mereka dalam menawarkan layanan yang inovative dan kompetitif. Dengan menyediakan poor-quality interconnection, dominant operator dapat menurunkan overall offering dari new market entrant, menyebabkan pelanggan akan berpindah ke offering incumbents yang dominant. Regulators memiliki beberapa practical tools agar high quality interconnection, antara lain: Pengadaan interconnection monitoring Memonitor complaints seriously dan memberikan penalty atas discrimination dalam service quality Mewajibkan pembentukan sebuah internal "interconnection services group" yang independent

Network Unbundling : Unbundling membolehkan new entrants untuk menggunakan bagian dari incumbent's network untuk menjangkau customer mereka tanpa keharusan untuk menduplikasi network. Ada 3 kategori utama : Full Unbundling (kabel tembaga milik incumbent, namun layanan dari new entrants) Shared Access or Line Sharing (layanan phone dan internet berbeda operatornya) Bit Stream Access The incumbent mengalokasikan spectrum kepada new entrant tapi tetap memiliki full control atas subscriber's line

Collocation Didefinisikan sebagai facility-sharing arrangement dimana in competitive carrier menyewa ruangan bagi equipment mereka pada bangunan incumbent carrier. Alasan utama collocation adalah membolehkan operators menggunakan fasilitas yang telah untuk mempercepat terjadinya kompetisi. New entrants tidak perlu membangun supporting infrastructure bagi network mereka seperti poles, ducts, conduits and towers. Kadang-kadang incumbents menolak adanya penggunaan infrastruktur bersama, sehingga dibutuhkan regulatory intervention dan oversight of collocation. Konflik yang terjadi dapat muncul oleh hal sebagai berikut a.l : Ukuran space aktual yang disediakan bagi new entrants. Type of equipment yang boleh digunakan d.l.l