Anda di halaman 1dari 7

KANKER PENIS

PENDAHULUAN Kanker penis merupakan suatu pertumbuhan sel yang sangat ganas pada jaringan dan atau wilayah diluar daripada penis. Kanker penis merupakan suatu penyakit yang jarang yangmana pada umumnya merupakan kanker yang tumbuh agresif serta memiliki kecenderungan untuk menyebar. Keganasan ini hampir tidak pernah ditemukan pada orang yang melakukan sirkumsisi. Insiden tertinggi pada fimosis termasuk mereka yang disunat secara tidak sempurna sehingga terjadi fimosis. Pada orang yang tidak disunat tetapi dengan kebersihan preputium dan glans penis yang baik, insiden karsinoma rendah.

ANATOMI DAN FISIOLOGI PENIS Penis terdiri atas 3 buah corpora berbentuk silindris yaitu 2 buah corpora kavernosa yang salinng berpasangan dan sebuah korpus spongiosum yang berda disebelah ventralnya. Korpora kavernosa dibungkus oleh jaringan fibrotic tunika albuginea sehingga merupakan satu kesatuan sedankan disebelah proximal terpisah menjadi dua sebagai krura penis. Setiap krura penis dibungkus oleh otot ischio-kavernosus yang kemudian menempel pada rami osis ischii. Korpus spongisum membungkus uretra mulai dari diafragma urogenitalis dan disebelah proximal dilapisi otot bulbo-kavernosus. Korpus spongiosum ini berakhir pada sebelah distal sebagai glans penis. Ketiga corpora itu dibungkus oleh fascia Buck dan lebih sperfisial lagi oleh fascia Colles atau fascia Dartos yang merupakan kelanjutan dari fascia Scarpa. Didalam setiap korpus yang terbungkus oleh tunika albuginea terdapat jaringan erektil yaitu berupa jaringan kaversus(berongga) seperti spon. Jaringan ini terdiri atas sinusoid atau ringga lacuna yang dilapisi endothelium dan oto polos kavernosus. Rongga lacuna ini dapat menampung darah yang cukup banyak sehingga menyebabkan ketegangan batang penis. Fungsi fisiologis penis ialah sebagai saluran keluar bagi kemih maupun sperma melalui proses senggama. Disamping itu, berbicara mengenai fungsi penis tidak bias terlepas daripada fungsi organ reproduksi pria yang lain diantaranya testis, scrotum dan saluransaluiran lain. Fungsi primer dari system reproduksi laki-laki adalah menghasilkan spermatozoa matang dan menempatkan sperma dalam saluran reproduksi perempuan melalui senggama. Testis mempunyai fungsi eksokrin dalam spermatogenesis dan fungsi endokrin

untuk mensekresikan hormone-hormon seks yang mengendalikan perkembangan dan fungsi seksual. Semua fungsi dari system reproduksi laki-laki diatur melalui inetraksi hormonal yang kompleks.

PREVALENSI DAN ETIOLOGI Tumor ganas yang terdapat pada penis terdiri atas: (1) Karsinoma sel basal, (2) Melanoma, (3) tumor mesenkim, dan yang paling banyak dijumpai adalah (4) Karsinoma skuamosa. Karsinoma skuamosa ini berasal dari kulit prepusium, glans atau shaft(batang) penis. Karsinoma penis paling banyak terjadi pada laki-laki dari usia 60 hingga 80 tahun, namun juga dapat terjadi pada laki-laki usia 40 hingga 60 tahun. Insidens berhubungan dengan standar kebersihan, perbedaan kebudayaan serta agama yang diyakini. Karsinoma

penis lebih sering terjadi pada laki-laki yang tidak disirkumsisi daripada laki-laki yang disirkumsisi. Dari berbagai penelitian diketemukan adanya hubungan antara kejadian karsinoma penis dengan hygiene penis yang kurang bersih. Hal ini diduga karena iritasi smegma mengakibatkan inflamasi kronis sehingga merangsang timbulnya keganasan penis. Sirkumsisi yang dilakukan pada masa anak atau bayi akan memperkecil kejadian karsinoma penis dikemudian hari. Kejadian karsinoma ini meningkat pada pria atau suku bangsa yang tidak menjalani sirkumsisi antara lain India, Cina dan Afrika.

PATOFISIOLOGI Karsinoma penis stadium awal berupa bentukan tumor papiler, lesi eksofilik, lesi datar atau lesi ulcerative. Karsinoma papiler tumbuh kearah luar, berbentuk papiliformis atau kembang kol pada stadium dini sulit dibedakan dari kondiloma akuminata, pada stadium lanjut timbul nekrose dan bau busuk. Karsinoma yang infiltrative tumbuh cepat, mudah membentuk tukak dan menginfiltasi kedalam, permukaan kotor dan berbau busuk. Tumor kemudian membesar dan merusak jaringan sekitarnya kemudian mengadakan invasi limfogen ke kelenjar limfe inguinal dan selanjutnya menyebar ke kelenjar limfe didaerah pelvis hingga subklavia. Fasia buck berfungsi sebagai barrier (penghambat) dalam penyebaran sel-sel kanker sehingga jika fasia ini telah terinfiltrasi oleh tumor, sel-sel kanker menjadi lebih mudah mengadakan invasi hematogen.

JENIS-JENIS TUMOR PENIS STADIUM 1. Stadium pertumbuhan karsinoma penis menurut Jackson Stage I Stage II Stage III : Tumor terbatas pada glans penis atau prepusium : Tumor sudah mengenai batang penis : Tumor terbatas pada batang penis tetapi sudah didapatkan metastasis pada kelenjar limfe inguinal yang masih dapat dioperasi Stage IV : Metastasis jauh atau tumor meluas ke jaringan sekitar

2. Penentuan stadium berdasarkan TNM 2009 T TX T0 Tis Primary tumour Primary tumour cannot be assessed No evidence of primary tumour Carcinoma in situ

Ta T1

T2 * T3 T4 N NX N0 N1 N2 N3 M M0 M1

Non-invasive verrucous carcinoma, not associated with destructive invasion Tumour invades subepithelial connective tissue T1a Tumour invades subepithelial connective tissue without lymphovascular invasion and is not poorly differentiated or undifferentiated (T1G1-2) T1b Tumour invades subepithelial connective tissue without with lymphovascular invasion or is poorly differentiated or undifferentiated (T1G3-4) Tumour invades corpus spongiosum/corpora cavernosa Tumour invades urethra Tumour invades other adjacent structures Regional lymph nodes Regional lymph nodes cannot be assessed No palpable or visibly enlarged inguinal lymph node Palpable mobile unilateral inguinal lymph node Palpable mobile multiple or bilateral inguinal lymph nodes Fixed inguinal nodal mass or pelvic lymphadenopathy, unilateral or bilateral Distant metastases No distant metastasis Distant metastasis

Stage groupings
Stage 0 Stage I Stage II : Tis or Ta, N0, M0 : T1a, N0, M0: : Any of the following: T1b, N0, M0 T2, N0, M0 T3, N0, M0 Stage IIIa Stage IIIb Stage IV : T1 to T3, N1, M0 : T1 to T3, N2, M0 : Any of the following: T4, any N, M0 Any T, N3, M0 Any T, any N, M1.

MANIFESTASI KLINIS DAN DIAGNOSIS Lesi primer berupa tumor yang kotor, berbau dan sering mengalami infeksi, ulserasi serta perdarahan. Dalam hal ini pasien biasanya dating terlambat karena malu, takut dan merasa berdosa karena menderita penyakit seperti itu. Kadang-kadang didapatkan

pembesaran kelenjar limfe inguinal yang nyeri karena infeksi atau pembesaran kelenjar limfe subklavia. Diagnosis ditegakkan melalui : 1. Ananmesis Keluhan utama yang paling banyak dikeluhkan pasien adalah lesi pada penis. Lesi tersebut sebagai sebuah area dengan indurasi atau kemerahan, ulserasi atau nodul kecil. Gejala lain yang dikeluhkan pasien adalah nyeri, adanya discharge dan perdarahan. 2. Pemeriksaan Fisik Lesi terdapat pada penis. Lesi primer harus diperiksa ukuran, lokasi dan kemungkinan terkenanya corpora. Lakukan pula palpasi pada daerah inguinal secara hati-hati karena pada lebih dari 50% pasien terdapat pembesaran kelenjar getah bening inguinal. Pembesaran ini mungkin hanya sekunder karena terjadinya inflamasi pada penis atau bias pula berasal dari metastase. 3. Pemeriksaan Laboratorium Hasil laboratorium biasanya normal. Anemia dan leukositosis mungkin terjadi pada pasien yang telah lama ataupun pada pasien-pasien dengan sekunder infeksi. 4. Pemeriksaan Tambahan Pemeriksaan patologi dari biopsy pada lesi primer. Biopsy diperlukan untuk menentukan perluasan tumor sehingga dapat direncanakan pengobatan.

DIAGNOSA BANDING

PENATALAKSANAAN Penatalaksaan karsinoma penis dibagi menjadi 2 tahap: 1. Menghilangkan lesi primer Tujuan: Menghilangkan lesi primer secara paripurna, mencegah kekambuhandan jika mungkin mempertahankan penis agar pasien dapat miksi dengan berdiri atau dapat melakukan senggama. Tindakan yang dapat dilakukan: a. Sirkumsisi. Untuk tumor-tumor yang masih terbatas pada prepusium penis b. Penektomi parsial

adalah mengangkat tumor beserta jaringan sehat sepanjang 2 cm dari batas proksimal tumor. Ditujukan untuk tumor-tumor yang terbatas pada glans penis atau terletak pada batang penis sebelah distalcm dari batas proksimal tumor. c. Penektomi total dan uretrostomi perineal. Ditujukan untuk tumor-tumor yang terletak disebelah proksimal batangh penis atau jika pada tindakan penektomi parsial ternyata sisa peni tidak cukup untuk dipakai miksi dengan berdiri dan melakukan penetrasi kedalam vagina. Setelah itu dibuatkan uretrostomi perineal atau perinostomi sehingga pasien miksi dengan duduk. d. Terapi laser dengan nd:YAG. Dilakukan beberapa klinik melakukan eksisi tumor dengan bantuan sinar laser e. Terapi tropikal dengan kemoterapi. Memakai krim 5 fluoro urasil 5% ditujukan untuk tumor-tumor karsinoma in situ atau eritroplasia queyart f. Radiasi. Meskipun hasil tidak memuaskan , dapat dicoba dengan radiasi ekterna

2. Terapi kelenjar limfe regional (inguinal) Jika terdapat pembesaran kelenjar inguinal maka beberapa ahli menganjurkan pemberian antibiotika terlebih dahulu ( setelah operasi pada lesi primer) selama 4-6 minggu. Jika dalam wakti itu pembesaran inguinal menghilang, sementara tidak diperlukan diseksi kelenjar inguinal tetapi masih diperlukan observasi lagi akan kemmungkinan munculnya pembesraan kelenjar akibat metastasis dikemudfian hari. Jika pembesaran masih menetap, dilakukan diseksi kelenjar limfe inguinal bilateral. Pada keadaan kelenjar limfe yang sangat besar yang mengakibatkan inoperable dapat dicoba pemberian sitostatika atau radiasi paliatif dengan harapan ukurannya mengecil (down staging) PROGNOSIS Prognosis pada penderita stadium I dan II masih cukup baik yaitu harapan hidup 5 tahun mencapai 65-90%, tetapi bila diikiuti dengan metastasis ke kelenjar limfe, menurun sampai 30-50%. Bila sudah ada metastasis jauh maka harapan hidup 5 tahun adalah nihil. buku

PENCEGAHAN

Tindakan sirkumsisi dapat menurunkan resiko terkena kanker penis. Pria yang tidak disirkumsisi pada usia muda pentimng untuk selalu membersihkan kulit bagian dalam (preputium) sebagai bagian dari hyegine pribadi. Keberihan diri yang baik dan perilaku sexual yang aman misalnya pantangan berhubungan sexual, membatasi jumlah pasangan dan menggunakan kondom untuk mencegah penyakit menular seksual hingga dapat menurunkan resiko berkembangnya kanker penis.