Anda di halaman 1dari 3

Pantomim Pantomim adalah drama yang ditampilkan dalam bentuk gerakan tubuh atau bahasa isyarat tanpa pembicaraan

Pentomin *Lakonan situasi tanpa dialog, skripnya akan dibaca oleh murid lain yang mengiringi lakonan tersebut. * Memberi peluang kepada murid untuk berlakon tanpa memikirkan masalah untuk menghafal dialog. Contoh aktiviti : -Peristiwa malam kemerdekaan negara

MODUL 8: BERMAIN PANTOMIM Kegiatan Belajar 1: Konsep Pantomim Pantomim merupakan pertunjukan yang para pemainnya mengekspresikan diri melalui isyarat untuk menampilkan sebuah kisah. Di sini pemain mempertunjukkan kemampuan mengekspresikan diri melalui pemain tidak mempertunjukkan kemampuan oleh vokal dalam dialognya. Pantomim berbeza dengan gerakan improvisasi. Improvisasi adalah dialog atau gerakan-gerakan yang tidak dipersiapkan sebelumnya. Improvisasi tidak hanya dalam gerakan tetapi juga dalam kata-kata. Memang untuk bermain pantomim, kemampuan berimprovisasi gerak sangatlah diperlukan. Bermain dan mengajarkan pantomim memberikan pengalaman yang sangat mengesankan. Anak didik akan memiliki kemampuan ekspresi dan improvisasi yang besar. Hal ini menimbulkan pengalaman berharga dalam diri Anda, bahwa Anda telah menghantarkan anak untuk terjun dalam dunia pementasan drama di kemudian hari. Pantomim menghadirkan sebuah kisah. Kisah ini dapat diambilkan dari kehidupan

sehari-hari maupun dari karya sastra. Apabila cerita diambil dari karya sastra, berarti pemain sekaligus belajar menginterpretasikan karya sastra. Cerita yang dipilih seharusnya mengandung akting yang berkelanjutan dari awal hingga akhir. Berapa cerita memerlukan pengeditan untuk ditampilkan dalam bentuk pantomim. Prinsip pengeditan adalah memaksimalkan kebutuhan akting dan membuat plot tetap menarik dengan adanya klimaks dan akhir cerita. Kegiatan Belajar 2: Teknik Bermain Pantomim Untuk bermain pantomim, pemain harus melakukan latihan-latihan dasar yang meliputi improvisasi, kemampuan indra, sikap tubuh dan ekspresi wajah, emosi. Selain itu, seorang guru harus memperhatikan kiat-kiat berlatih dan melatih pantomim yang terdiri dari memilih topik cerita, mendiskusikan cerita, akting, mengatasi kondisi macet, musik, dan pengelompokan. Improvisasi berarti a) menciptakan, merangkai, memainkan, menyajikan sesuatu tanpa persiapan; b) menampilkan sesuatu dengan mendadak; c) melakukan sesuatu begitu saja secara spontan dan apa adanya. Improvisasi perlu dilatih secara rutin agar pemain memiliki rangsangan spontanitas serta dapat menciptakan akting yang wajar, tidak dibuat-buat, dan tampak natural. Kemampuan indra yang perlu dilatih meliputi indra pencicipan, peraba, pendengaran, penglihatan, dan penciuman. Latihan mengolah sikap tubuh dan ekspresi wajah sangat diperlukan untuk menggambarkan suasana batin. Latihan ini disertai perasaan dan imajinasi serta dilakukan secara rutin agar mencapai keluwesan dan kewajaran. Latihan untuk mengembangkan dan mengolah emosi sangat diperlukan Untuk itu perlu dicari suasana untuk menggali dan mengeksplorasi berbagai emosi yang ada dalam kehidupan manusia. Menentukan topik cerita merupakan langkah pertama untuk bermain pantomim Topik cerita dapat diperoleh dari a) menonton pantomim sederhana yang Anda peragakan, b) pengamatan akan sekitar, dan c) sastra (lisan) yang sudah ada. Cerita itu perlu disusun, kemudian diedit menjadi cerita yang siap untuk dipantomimkan. Diharapkan Anda mendiskusikan cerita ini bersama anak didik. Untuk berakting

yakinkanlah anak didik dengan menumbuhkan cerita pada pikiran, perasaan, dan juga indra. Evaluasi latihan ditujukan untuk mendorong anak didik mengembangkan akting mereka. Jika di tengah berakting anak didik tidak dapat berkembang karena malu, gunakanlah teknik pantomim bertopeng. Setelah akting dapat berjalan dengan baik, rancanglah musik untuk mengiringi pantomim. Terakhir, buatlah kelompok berdasarkan kemampuan anak didik untuk berpantomim. Hal ini diperlukan untuk memberikan materi dan perlakuan yang tepat terhadap anak didik. DAFTAR PUSTAKA Hamzah, A.A. (1985). Pengantar Bermain Drama. Bandung: Rosda. Harymawan. RM.A. (1993). Dramaturgi. Bandung: Rosdakarya. Heining, R.B. (1988). Creative Drama for the Classroom Teacher. New York: PrenticeHall. Rendra. (1989). Teknik Bermain Peran. Jakarta: Pustaka Jaya Suryo, Bambang. (1983). Pengantar Teater dalam Studi dan Praktek. Jakarta: Gunung Mulia. Taylor, Loren E. (1984). Drama Formal dan Teater Remaja. (terj. A.J. Soetrisman). Yogyakarta: Hanindita.