Anda di halaman 1dari 14

Teori balon busuk Balon bila terisi udara yang busuk dia akan tetap busuk karena tidak

ada sirkulasi. Untuk menghilangkan bau busuk maka balon harus diletuskan sehingga akan bercampur dengan udara segar dan akan menguap bersama angin.

Teori Tukang Cukur Apabila sedang dicukur, jangan melawan, jangan menoleh ke kiri dan ke kanan. Biarkan sampai selesai. Apabila anda dikritik/dimarahi jangan di-counter attack. Biarkan selesai kritikan atau kemarahan itu sampai selesai atau sampai berhenti. Kalau sdh selesai cari waktu untuk membalasnya.

Teori Kereta Kuda Sebuah kereta yang ditarik oleh enam ekor kuda, satu kuda kecepatannya 100 km/jam, 4 kuda kecepatannya 50 km/jam dan satu kuda kecepatannya 25 km/jam maka kecepatan kereta adalah 25 km/jam. Sesuai dengan kecepatan kuda terlemah. Demikian pula dalam tim. Kecepatan tim untuk maju tergantung dari anggota tim terlemah.

Teori Siang dan Malam Ketika ada seorang pemimpin yang sangat dominan, ia adalah matahari di siang hari. Menenggelamkan cahaya bintang, tak satupun calon pemimpin yang nampak. Ketika matahari redup di sore hari. bintang-bintang mulai bertebaran, tengah malam sang bintang dengan cahayanya masing- masing bersinar amat terang.

Teori Bulan Purnama Sungguh elok adalah sang Bulan Purnama.. cahayanya yang terang benderang tidak menjadikan bintang kehilangan makna. Ia mampu berbagi ruang, sehingga langit makin semarak. Jadilah Bulan, dengan tetap memberi ruang pada bintang untuk tetap bersinar.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada masa global seperti sekarang ini, dimana persaingan semakin kompetitif, dunia usaha dan kerja semakin penuh persaingan, dan banyak pengangguran di kota-kota besar, karena zaman telah berubah memasuki era globalisasi. Seiring dengan berubahnya zaman, perusahaan-perusahaan pun terus membenahi diri mempersiapkan segala konsekuensi menghadapi zaman era globalisasi ini, salah satunya dengan memberi motivasi kerja pada karyawan, karena motivasi kerja dapat mempengaruhi mutu dan kualitas output dari perusahaan itu. Motivasi kerja para karyawan perlu dicermati secara sistematis perkembangannya, dan juga memerlukan perhatian dari atasan perusahaan itu sendiri, sehingga dapat meningkatkan perilaku kerja karyawan, dan jika motivasi kerja para karyawan tidak diperhatikan, maka perilaku kerja karyawan akan menurun. Disinilah peran atasan itu diperlukan dalam memimpin karyawannya dalam bekerja, karena kinerja (perfomance) adalah hasil dari interaksi antara motivasi kerja, kemampuan (abilities), dan peluang (opportunities), (Robbins dalam Munandar, 2001). Keberhasilan seseorang dalam suatu pekerjaan ditentukan oleh tiga faktor utama. Pertama, ia harus memiliki kemampuan untuk mengerjakan pekerjaan tersebut, suatu kemampuan yang merupakan kombinasi dari kemampuan alami yang dibangun melalui pendidikan dan latihan. Kedua, ia harus mempunyai alat yang tepat untuk pekerjaan tersebut. Ketiga, ia juga harus memiliki dorongan atau motivasi untuk melakukan pekerjaan tersebut. Walaupun kita telah memiliki karyawan dengan baik berdasarkan pada kemampuannya, yang telah dilengkapi dengan latihan yang relevan, disertai dengan peralatan yang tepat, akan tetapi motivasi juga harus dipertimbangkan agar hasil kerja lebih optimal. Page 2 2 Taylor (dalam Cooper dan Makin, 1995) menyatakan bahwa motivasi berpengaruh besar terhadap produktivitas yang dihasilkan oleh karyawan dalam bekerja. Sedangkan teori penetapan tujuan dari Locke (dalam Munandar, 2001) menggambarkan bahwa tenaga kerja menghadapi banyak alternatif kegiatan yang mempunyai daya tarik yang sama. Daya tarik alternatif kegiatan ini sangat besar dan merupakan tanda positif yang besar. Ia akan memutuskan untuk melakukan kegiatan ini (berusaha untuk mencapai prestasi kerja yang baik, dan bermotivasi tinggi). Menurut teori McGregor (dalam Munandar, 2001) orang yang memiliki motivasi kerja yang bercorak reaktif, mereka memerlukan orang lain untuk mendorong mereka untuk bekerja. Sistem nilai pribadi (personal value system)

mereka memprioritaskan kegiatan-kegiatan lain dalam kehidupan. Satu hal yang dapat mendukung motivasi kerja bawahan adalah atasan. Atasan perlu mengenali sasaran-sasaran yang bernilai tinggi dari bawahannya agar dapat membantu bawahan untuk mencapainya, dan dengan demikian berarti atasan telah memotivasi bawahannya (Munandar, 2001). Atasan harus dapat memimpin dengan kontrol yang cermat, baik, disiplin, tegas dalam mengambil keputusan, karena itu atasan harus dapat menjadi pemimpin yang baik bagi para karyawannya. Atasan mempunyai fungsi sentral dalam kepemimpinan suatu organisasi. Suatu organisasi memerlukan pemimpin yang handal, yang dapat diharapkan bagi anak buahnya. Pemimpin dalam suatu organisasi harus mempunyai jiwa kepemimpinan, harus bisa mempengaruhi bawahan, harus bisa mengatur, mengelola, memimpin bawahan, dengan power yang dimilikinya sebagai atasan. Dan juga bisa membuat rencana kedepan dalam memajukan suatu perusahaan. Pemimpin harus bisa mendedikasikan dirinya sebagai jiwa pemimpin, dan memutuskan setiap kebijaksanaan perusahaan, yang telah disepakati bersama. Gaya kepemimpinan yang lebih berorientasi pada tugas (Fiedler dalam Munandar, 2001) menggunakan model ini untuk memotivasi kerja para karyawan. Bila tenaga kerja mengharkat tinggi nilai taat kepada pimpinan, maka ia akan melakukan Page 3 3 pekerjaannya sebagai kewajiban dan tidak merasa dipaksa untuk bekerja, dan kinerjanya akan bagus (Fiedler dalam Munandar, 2001). Kepemimpinan merupakan salah satu aspek manajerial dalam kehidupan organisasi yang merupakan posisi kunci (key position), karena seorang pemimpin, berperan sebagai penyelaras dalam proses kerjasama antar manusia dalam organisasinya. Pemimpin akan mampu membedakan karakteristik suatu organisasi dengan organisasi lainnya. Dengan memahami teori kepemimpinan diharapkan atasan dapat meningkatkan pemahamannya terhadap dirinya sendiri, mengetahui beberapa kelemahan, maupun potensi yang ada dalam dirinya serta akan dapat meningkatkan pemahamannya terhadap bagaimana seharusnya memperlakukan bawahannya serta bagaimana meningkatkan motivasi kerja pada bawahan. Pada umummya gaya kepemimpinan yang efektif, tepat dan dapat diterima oleh bawahan adalah gaya kepemimpinan yang demokratis, dimana pemimpin membantu dan mendorong bawahan untuk membicarakan dan memutuskan semua kebijakan (Gibb dalam Jewell dan Siegall, 1989). Dengan memahami teori kepemimpinan, atasan akan dapat menentukan

gaya kepemimpinannya secara tepat sesuai tuntutan situasi dan kondisi bawahannya. Dengan demikian seorang atasan jika ingin meningkatkan kemampuan dan kecakapannya dalam memimpin, perlu mengetahui ruang lingkup gaya kepemimpinan yang efektif. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis ingin menguji secara empiris apakah ada hubungan antara gaya kepemimpinan demokratis dengan motivasi kerja karyawan

TEORI, KONSEP DAN STRATEGI KEPEMIMPINAN Guna memfokuskan bahasan esensi umum tersebut, kita akan mengaitkannya dengan kajian kepemimpinan dari berbagai segi dan prinsipprinsip strategi kepemimpinan. Tema kepemimpinan merupakan topik yang selalu menarik diperbincangkan dan tak akan pernah habis dibahas. Masalah kepemimpinan akan selalu hidup dan digali pada setiap zaman, dari generasi ke generasi guna mencari formulasi sistem kepemimpinan yang aktual dan tepat untuk diterapkan pada zamannya. Hal ini mengindikasikan bahwa paradigma kepemimpinan adalah sesuatu yang sangat dinamis dan memiliki kompleksitas yang tinggi. Term kepemimpinan lahir sebagai suatu konsekuensi logis dari perilaku dan budaya manusia yang terlahir sebagai individu yang memiliki ketergantungan sosial (zoon politicon) yang sangat tinggi dalam memenuhi berbagai kebutuhannya (homo sapiens). ABRAHAM MASLOW mengidentifikasi adanya 5 tingkat kebutuhan manusia : 1). kebutuhan biologis, 2). kebutuhan akan rasa aman, 3). kebutuhan untuk diterima dan dihormati orang lain, 4). kebutuhan untuk mempunyai citra yang baik, dan 5). kebutuhan untuk menunjukkan prestasi yang baik. Dalam upaya memenuhi kebutuhannya tersebut manusia kemudian menyusun organisasi dari yang terkecil sampai yang terbesar sebagai media pemenuhan kebutuhan serta menjaga berbagai kepentingannya. Bermula dari hanya sebuah kelompok, berkembang hingga menjadi suatu bangsa. Dalam konteks inilah, sebagaimana dikatakan Plato dalam filsafat negara, lahir istilah kontrak sosial dan pemimpin atau kepemimpinan. Dalam bahasa Indonesia pemimpin sering disebut penghulu, pemuka, pelopor, pembina, panutan, pembimbing, pengurus, penggerak, ketua, kepala, penuntun, raja, tua-tua, dan sebagainya. Istilah pemimpin, kepemimpinan, dan memimpin pada mulanya berasal dari kata dasar yang sama pimpin. Namun demikian ketiganya digunakan dalam konteks yang berbeda. Pemimpin adalah suatu peran dalam sistem tertentu; karenanya seseorang dalam peran formal belum tentu memiliki ketrampilan kepemimpinan dan belum tentu mampu memimpin. Adapun istilah Kepemimpinan pada dasarnya berhubungan dengan ketrampilan, kecakapan, dan tingkat pengaruh yang dimiliki seseorang; oleh sebab itu kepemimpinan bisa dimiliki oleh orang yang bukan pemimpin. Sedangkan istilah Memimpin digunakan dalam konteks hasil penggunaan peran seseorang berkaitan dengan kemampuannya mempengaruhi orang lain dengan berbagai cara. Kajian mengenai kepemimpinan termasuk kajian yang multi dimensi, aneka teori telah dihasilkan dari kajian ini. Teori yang paling tua adalah The Trait Theory atau yang biasa disebut Teori Pembawaan. Teori ini berkembang pada tahun 1940-an dengan memusatkan pada karakteristik pribadi seorang pemimpin, meliputi: bakat-bakat pembawaan, ciri-ciri pemimpin, faktor fisik, kepribadian, kecerdasan, dan ketrampilan berkomunikasi. Tetapi pada akhirnya teori ini ditinggalkan, karena tidak banyak ciri konklusif yang dapat membedakan antara pemimpin dan bukan pemimpin.

Dengan surutnya minat pada Teori Pembawaan, muncul lagi Teori Perilaku, yang lebih dikenal dengan Behaviorist Theories. Teori ini lebih terfokus kepada tindakan-tindakan yang dilakukan pemimpin daripada memperhatikan atribut yang melekat pada diri seorang pemimpin. Dari teori inilah lahirnya konsep tentang Managerial Grid oleh ROBERT BLAKE dan HANE MOUTON. Dengan Managerial Grid mereka mencoba menjelaskan bahwa ada satu gaya kepemimpinan yang terbaik sebagai hasil kombinasi dua faktor, produksi dan orang, yaitu Manajemen Grid. Manajemen Grid merupakan satu dari empat gaya kepemimpinan yang lain, yaitu : Manajemen Tim, Manajemen Tengah jalan, Manajemen yang kurang, dan Manajemen Tugas. Pada masa berikutnya teori di atas dianggap tidak lagi relevan dengan sikon zaman. Timbullah pendekatan Situational Theory yang dikemukakan oleh HARSEY dan BLANCHARD. Mereka mengatakan bahwa pembawaan yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah berbeda-beda, tergantung dari situasi yang sedang dihadapi. Pendekatan ini menjadi trend pada tahun 1950-an. Teori yang paling kontemporer adalah teori Jalan Tujuan, Path-Goal Teory. Menurut teori ini nilai strategis dan efektivitas seorang pemimpin didasarkan pada kemampuannya dalam menimbulkan kepuasan dan motivasi para anggota dengan penerapan reward and punisment. Perkembangan teori-teori di atas sesungguhnya adalah sebuah proses pencarian formulasi sistem kepemimpinan yang aktual dan tepat untuk diterapkan pada zamannya. Atau dengan kata lain sebuah upaya pencarian sistem kepemimpinan yang efektif dan strategis. Kepemimpinan strategis adalah kepemimpinan yang berprinsip. Prinsipprinsip tersebut menurut STEPHEN R. COVEY dalam Principle Centered Leadership terdiri dari : 1). Belajar terus menerus, mereka membaca, berlatih, dan mendengarkan masukan; 2). Berorientasi pada pelayanan, mereka melihat hidup sebagai suatu misi dan tidak hanya sebagai suatu karir; 3). Memancarkan energi positif, mereka optimistis, positif, dan modern; 4). Mempercayai orang lain, mereka tidak tidak berekasi berlebihan pada perilaku negatif, kritik dan kelemahan; 5). Hidup seimbang, mereka memperhatian keseimbangan jasmani dan rohani, antara yang tradisionil dan yang modern; 6). Melihat hidup sebagai petualangan, mereka menghargai hidup di luar kenyamanan; 7). Sinergistik, mereka memilih untuk memfokuskan diri pada kepentingan orang lain dan mampu membina energi-energi yang dimiliki organisasi; dan 8). Melaksanakan pembaharuan diri, mereka memiliki karakter yang kuat dan sehat, serta berdisiplin tinggi. Atas dasar prinsip-prinsip itulah maka kepemimpinan strategis menuntut halhal sebagai berikut : 1). Kelompok bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang dipegang kelompok; 2). Masing-masing anggota kelompok memiliki kualitas dan nilai-nilai tertentu yang memberikan kontribusi pada berfungsinya mekanisme kelompok secara efektif. Pada bagian lain Bernardine R. Wirjana menyatakan, bahwa prinsip-prinsip yang mutlak dalam suatu kepemimpinan strategis adalah : 1). Mengerti diri sendiri dan selalu berbuat untuk perbaikan diri sendiri; 2). Menguasai keahlian teknis; 3). Mempunyai tanggung jawab dan bertanggung jawab; 4). Mengambil

keputusan yang matang dan tepat waktu; 5). Menjadi peran/role model bagi karyawannya; 6). Mengenal karyawan dan memperhatiakn kesejahteraannya; 7). Membuat anggota selalu mendapat informasi yang mereka perlukan; 8). Menumbuhkan rasa tanggung jawab; 9). Menjamin bahwa tugas-tugas dapat dimengerti; 10). Melatih anggota-anggota sebagai tim; 11). Menggunakan sepenuhnya kapabilitas organisasi. Prinsip kepemimpinan adalah asas yang mengandung kebenaran dan pantas untuk selalu digunakan oleh setiap pemimpin. Prinsip-prinsip kepemimpinan meliputi : 1. Mahir dalam soal-soal teknis dan taktis. 2. Mengetahui diri-sendiri, mencari dan selalu berusaha memperbaiki diri. 3. Memiliki keyakinan bahwa tugas-tugas dimengerti, diawasi dan dijalani. 4. Mengenal anggota-anggota bawahan serta memelihara kesejahteraannya. 5. Memberi teladan dan contoh yang baik. 6. Menumbuhkan rasa tanggung jawab di kalangan anggota. 7. Melatih anggota bawahan sebagai satu tim yang kompak. 8. Buat keputusankeputusan yang sehat, tepat pada waktunya. 9. Memberi tugas dan pekerjaan kepada bawahan sesuai dengan kemampuannya. 10. Bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan. Setiap permasalahan kepemimpinan selalu meliputi 3 (tiga) unsur yang terdiri dari : Unsur manusia : yaitu manusia yang melaksanakan kegiatan memimpin atas sejumlah manusia lain atau manusia yang memimpin dan manusia yang dipimpin. Unsur sarana: yaitu Prinsip dan Teknik Kepemimpinan yang digunakan dalam pelaksanaan Kepemimpinan, termasuk bakat dan pengetahuan serta pengalaman pemimpin tersebut. Unsur tujuan. Secara normatif, keberhasilan kepemimpinan akan sangat tergantung kepada tiga unsur tersebut yang meliputi: syarat, watak, ciri, gaya, sifat, prinsip, teknik, asas dan jenis kepemimpinan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kepemimpinan. Kepemimpinan akan berjalan efektif, disegani, dan memiliki derajat yang tinggi bila seorang pemimpin memiliki 3 (tiga) kelebihan dari yang dipimpin dalam hal sebagai berikut : Kelebihan dalam bidang rasio/intelektual, kelebihan dalam bidang rohaniah, kelebihan dalam bidang Jasmaniah. Kelebihan dalam bidang rasio meliputi: 1). Pengetahuan tentang tujuan organisasi. 2). Pengetahuan tentang asas-asas organisasi. 3). Pengetahuan tentang cara memutar roda organisasi secara efisien. 4). Tercapainya tujuan organisasi secara maksimal. Kelebihan dalam bidang rohaniah meliputi : Keluhuran budi pekerti, Ketinggian moralitas, Kesederhanaan watak. Kelebihan dalam bidang jasmaniah meliputi : Memiliki badan/fisik yang sehat dan memungkinkan menjadi contoh dalam prestasi sehari-hari. Efektivitas kepemimpinan dipengaruhi juga oleh metode mengarahkan bawahan yang digunakan oleh seorang pemimpin. Metode yang digunakan untuk mengarahkan bawahan agar mereka melakukan tugasnya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab senantiasa berbeda pada setiap situasi dan kondisi. Namun demikian terdapat beberapa metode yang dapat dilakukan, diantaranya : 1). Metode persuasif (membujuk). Dengan cara penyadaran atau pembujukan untuk mempengaruhi atau membawa ke arah kesadaran untuk melakukan kewajibannya tanpa disadarinya. 2). Metode impilikatif (melibatkan).

Dengan cara dialog dalam rangka membawa kepada sasaran yang diinginkan. 3). Metode sugestif (menganjurkan). Cara mempengaruhi bawahan untuk melakukan sesuatu dengan memberikan saran-saran dan harapan-harapan. 4). Metode diskusi. Dengan cara dialog antara pemimpin dengan bawahan dalam menentukan sasaran/tujuan organisasi. 5). Advise (nasehat). Dengan cara memberikan nasehat kepada bawahan terhadap tujuan yang akan dicapai organisasi. 6). Induecement (paksaan). Dengan cara memberikan dorongan atau penekanan kepada bawahan agar mau melaksanakan perintah atau harapan pemimpin. 7). Komando. Dengan cara yang lebih keras melalui perintah atau paksaan untuk melaksanakan perintah atau tugas tanpa ada alternatif lain. Situasi dan kondisi lingkungan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap pelaksanaan kepemimpinan, oleh karenanya pemimpin wajib berusaha menguasai keadaan lingkungan yang dihadapi menjadi suatu kondisi yang menguntungkan. Untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan upaya/langkahlangkah sebagai berikut : 1. Selalu mengadakan komunikasi. 2. Memiliki kepekaan sosial yang tinggi. 3. Mengetahui kebutuhan materil dan spirituil lingkungan. 4. Memiliki kemampuan inovasi yang menguntungkan lingkungan. 5. Memberikan pertolongan tanpa pamrih dan mampu menampilkan diri sesuai dengan aturan dan norma yang baik. Keberhasilan atau kegagalan dari hasil kepemimpinan seseorang dapat diukur atau ditandai oleh empat hal, yaitu : moril, disiplin, jiwa korsa (esprit de corps), dan kecakapan. 1. Moril : moril adalah keadaan jiwa dan emosi seseorang yang mempengaruhi kemauan untuk melaksanakan tugas dan akan mempengaruhi hasil pelaksanaan tugas perorangan maupun organisasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi moril adalah : 1). kepemimpinan atasan. 2). kepercayaan dan keyakinan akan kebenaran. 3). penghargaan atas penyelesaian tugas. 4). solidaritas dan kebanggaan organisasi. 5). pendidikan dan latihan. 6). kesejahteraan dan rekreasi. 7). kesempatan untuk mengembangkan bakat. 8). struktur organisasi. 9). pengaruh dari luar. 2. Disiplin : disiplin adalah ketaatan tanpa ragu-ragu dan tulus ikhlas terhadap perintah atau petunjuk atasan serta peraturan yang berlaku. Disiplin yang terbaik adalah disiplin yang didasarkan oleh disiplin pribadi. Cara-cara untuk memelihara dan meningkat disiplin : 1). Menetapkan peraturan kedinasan secara jelas dan tegas. 2). Menentukan tingkat dan ukuran kemampuan. 3). Bersikap loyal. 4). Menciptakan kegiatan atas dasar persaingan yang sehat. 5). Menyelenggarakan komunikasi secara terbuka. 6). Menghilangkan hal-hal yang dapat membuat bawahan tersinggung, kecewa dan frustasi. 7). Menganalisa peraturan dan kebijaksanaan yang berlaku agar tetap mutakhir dan menghapus yang sudah tidak sesuai lagi. 8). Melaksanakan reward and punishment. 3. Jiwa korsa : jiwa korsa adalah loyalitas, kebanggan dan antusiasme yang tertanam pada anggota termasuk pimpinannya terhadap organisasinya. Dalam suatu organisasi yang mempunyai jiwa korsa yang tinggi, rasa ketidakpuasan bawahan dapat dipadamkan oleh semangat organisasi. Ciri jiwa korsa yang baik adalah : 1). Antusiasme dan rasa kebanggan segenap

anggota terhadap organisasinya. 2). Reputasi yang baik terhadap organisasi lain. 3). Semangat persaingan secara sehat dan bermutu. 4). Adanya kemauan anggota untuk berpartisipasi dalam setiap kegiatan. 5). Kesediaan anggota untuk saling menolong. 4. Kecakapan : kecakapan adalah kepandaian melaksanakan tugas dengan hasil yang baik dalam waktu yang singkat dengan menggunakan tenaga dan sarana yang seefisien mungkin serta berlangsung dengan tertib. Pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki pimpinan dapat diperoleh dari pendidikan, pelatihan, inisiatif dan pengembangan pribadi serta pengalaman tugas. Setiap pemimpin perlu menentukan corak dan gaya kepemimpinannya agar nampak seni kepemimpinannya dalam memimpin. Corak dan gaya kepemimpinan dapat terlihat dari sikap pemimpin, yaitu sebagai : Pemimpin, Guru, Pembina, Bapak dan Teman Seperjuangan. 1. Sebagai Pemimpin. Pemimpin harus mampu memberikan bimbingan/tuntunan yang diperlukan serta senantiasa menjadi contoh dan teladan dalam perkataan, perbuatan, menimbulkan dan memelihara kewibawaan serta mampu melahirkan Pemimpin baru. 2. Sebagai Guru. Pemimpin harus berusaha meningkatkan kemampuan, ketrampilan dan pengetahuan anggotanya baik perorangan maupun dalam hubungan kelompok. Memiliki kesabaran dan ketenangan dalam mendidik dan melatih. 3. Sebagai Pembina. Pemimpin senantiasa berusaha agar organisasi dalam melaksanakan tugasnya selalu berhasil guna dan berdaya guna. Dalam usaha pembinaan selalu diarahkan kepada peningkatan dan pemeliharaan unsur personil, materil dan kemampuan operasionalnya. Selain itu pemimpin harus menguasai makna fungsi pembinaan yang meliputi perencanaan, penyusunan, pengarahan dan pengawasan. 4. Sebagai Bapak. Pemimpin harus berperilaku sederhana, mengenal setiap anggota bawahan, bersikap terbuka dan ramah, mengayomi, bijaksana tetapi tegas, adil, mendorong dan berusaha meningkatkan kesejahteraan anggota bawahan baik materiel maupun spirituil. 5. Sebagai Teman Seperjuangan. Dalam keadaan suka dan duka, pemimpin dan bawahan merasa senasib sepenanggungan dan saling membantu, serta bersedia berkorban demi kepentingan bersama. Menurut WJ. REDDIN. Setiap kepemimpinan memiliki orientasinya sendirisendiri. Ia mengidentiifikasi adanya tiga orientasi kepemimpinan. 1). Kepemimpinan yang berorientasi pada tugas (task oriented). 2. kepemimpinan yang berorientasi pada hubungan kerjasama (relationship oriented). 3. Kepemimpinan yang berorientasi pada hasil (effectiveness oriented). Dari tiga orientasi tersebut Reddin mengklasifikasikan delapan gaya kepemimpinan, yaitu 1.The Deserter, gaya kepemimpinan yang hanya sedikit memiliki ketiga orientasi tadi atau bahkan tidak ada sama sekali; 2. The Bureaucrat, gaya kepemimpinan yang hanya berorientasi pada hasil dengan orientasi tugas yang rendah; 3. The Missionary, gaya kepemimpinan yang hanya berorientasi pada membangun jalinan kerja sama dengan orientasi tugas yang

rendah; 4. The Development, gaya kepemimpinan yang beroreintasi pada hasil dan jalinan kerja sama yang tinggi tetapi orientasi tugasnya rendah; 5. The Autocrat, gaya kepemimpinan yang hanya berorientasi pada tugas, sementara orientasi yang lainnya rendah; 6. The Benevolent Autocrat, gaya kepemimpoinan yang berorrientasi pada hasil dan tugas yang tinggi, sedangkan orientasi jalinan kerja samanya rendah; 7. The Compromiser, gaya kepemimpinan yang kurang berorientasi pada hasil tetapi mempunyai orientasi tugas dan jalinan kerja sama yang memadai; 8. The Executive, gaya kepemimpinan yang mempunyai ketiga orientasi. Di sisi lain setiap kepemimpinan juga wajib memiliki kemauan dan kemampuan memimpin dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum memimpin orang lain dan bangsanya (wawasan ibda binafsik) dengan berlandaskan kepada HASTA BRATA (delapan laku kebajikan) dari R. Ng. Ronggowarsito, yang terdiri atas analogi metaforis sebagai berikut : Lir SURYA, sifat matahari yaitu tak terburu-buru, rendah hati, sabar, berhati-hati, dapat membujuk dan merayu agar mudah menguasai; Lir CANDRA, sifat bulan yaitu dapat membuat gembira, manis senyumnya, halus budinya, memberi kebahagian seisi jagad; Lir KARTIKA, sifat bintang yaitu tegas, tak mudah tergoda, tak gentar menghadapi cobaan, percaya diri, terus terang, tanpa ada yang ditutupi; Lir MEGA MENDUNG, sifat awan yaitu adil dalam menggunakan kekuasaan, memberi hadiah bagi yang berjasa, menghukum yang salah; Lir SAMIRANA, sifat angin yaitu tidak pernah berhenti meneliti, memperhatikan tingkah laku manusia, dapat menjadi besar dan kecil, tanpa batas, tanpa pamrih, ditolak tak marah, terkena tak tersinggung; Lir SAMUDRA, sifat laut/air yaitu pemaaf, membuat senang orang lain, tak mudah tersinggung; Lir DAHANA, sifat api yaitu bertindak tegas tak pandang bulu, sabar, ramah, marah tanpa terlihat; Lir BANTALA, sifat bumi yaitu dermawan, senang memberi hadiah, rela berkorban termasuk dirinya sendiri. Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi religius, falsafah kepemimpinan juga dapat dijumpai dalam ajaran agama-agama. Dalam ajaran Islam, pemegang fungsi kepemimpinan disebut IMAM dan istilah kepemimpinan disebut IMAMAH. Sedangkan penyebutan istilah pemimpinan negara, dalam sejarah kebudayaan Islam menggunakan istilah yang beraneka ragam, seperti : khalifah, amir, sultan, dan wali. Dalam pada itu perkataan wali dalam arti pemimpin masih segar hingga hari ini, sering kita jumpai istilah : wali kota, wali negeri, wali songo, dan sebagainya. Mengenai perlunya ada pemimpin ditandaskan Rasulullah SAW: Apabila berangkat tiga orang dalam perjalanan, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang diantaranya menjadi pemimpin (HR.Abu Dawud). Beberapa ayat al-Quran yang berkaitan dengan eksistensi pemimpin diantaranya adalah : Q.S. Al-Baqarah : 124, Al-Anbiya : 72-73, Shad : 26, AlAnam : 165. Dalam ajaran Islam, seorang pemimpin dituntut mampu menampilkan kepribadian yang ber-akhlaqul karomah (memiliki moralitas yang baik), Qonaah (sederhana), dan Istiqomah (konsisten/tidak ambivalen). Suri Tauladan Kepemimpinan Nabi Muhammad S.A.W adalah : 1. SIDDIQ artinya jujur, benar, berintegritas tinggi dan terjaga dari kesalahan, 2. FATHONAH artinya jerdas,

memiliki intelektualitas tinggi dan proffesional, 3. AMANAH artinya dapat dipercaya, memiliki legitimasi dan akuntabel, 4. TABLIGH artinya senantiasa menyammpaikan risalah kebenaran, tidak pernah menyembunyikan apa yang wajib disampaikan, dan komunikatif. Konsepsi kepemimpinan menurut al-Kitab dapat kita simak dalam Rumusan Seminar Agama-agama X/1990 dan buku Leroy Eims dengan judul 12 Ciri Kepemimpinan yang efektif. Kedua belas ciri tersebut adalah : Bertanggung jawab, Bertumbuh, Memberi Teladan, Dapat membangkitkan semangat, Jujur, Setia, Murah hati, Rendah hati, Efisien, Memperhatikan, Mampu berkomunikasi, Berorientasi pada sasaran, Tegas, Cakap, Dapat mempersatukan, serta Dapat mengajak. Pada ajaran Budha masalah kepemimpinan ditampilkan dalam falsafah Dhamma pada uraian Thakada. Di sana diuraikan bahwa kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang memenuhi Sepuluh Kewajiban Raja (DASA RAJA DHAMMA) yang terdiri dari : DHANA (suka menolong, tidak kikir dan ramah tamah), SILA (bermoralitas tinggi), PARICAGA (mengorban segala sesuatu demi rakyat), AJJAVA (jujur dan bersih), MADDAVA (ramah tamah dan sopan santun), TAPA (sederhana dalam penghidupan), AKKHODA (bebas dari kebencian dan permusuhan), AVIHIMSA (tanpa kekeran), KHANTI (sabar, rendah hati, dan pemaaf), AVIRODHA (tidak menentang dan tidak menghalanghalangi). Pada ajaran Hindu, falsafah kepemimpinan dijelaskan dengan istilah-istilah yang menarik dan memiliki makna yang mendalam, seperti : PANCA STITI DHARMENG PRABHU (lima ajaran seorang pemimpin), CATUR KOTAMANING NREPATI (empat sifat utama seorang pemimpin), ASTA BRATA (delapan sifat mulia para dewa), CATUR NAYA SANDHI (empat tindakan seorang pemimpin), dan sebagainya. Dalam Catur Naya Shandi diterangkan, bahwa seorang pemimpin hendaknya melaksanakan empat hal, yaitu : SAMA (menandingi kekuatan musuh), BHEDA (melaksanakan tata tertib dan disiplin kerja), DHANA (mengutamakan sandang dan papan untuk rakyat), DANDHA (menghukum dengan adil mereka yang bersalah). Ajaran Hindu juga mengajarkan pantangan bagi seorang pemimpin yang diistilahkan MOLIMO (lima me). 1). Memotoh (main judi), 2). Metuakan (minumminuman keras), 3). Memati-mati, 4). Memadat, 5). Memitra/Madon (selingkuh). Dari uraian di atas dapat disimpulkan sesungguhnya letak strategis seorang pemimpin dan kepemimpinan terletak pada kepribadian dan kecerdasan akal budinya. Karena inti dari kepemimpinan adalah pengambilan keputusan, keputusan yang menentukan hajat hidup orang banyak. Oleh sebab itu inti dari pengambilan keputusan adalah hubungan antar manusia. Dan hubungan antar manusia ini harus dilandasi oleh enam prinsip pokok yang meliputi : persamaan (musawah), persaudaraan (ukhuwah), cinta kasih (mahabbah), kedamaian (salim), tolong menolong (taawun), dan toleransi (tasamuh). Strategi Kepemimpinan Nasional. Kepemimpinan merupakan fenomena kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan yang berpengaruh terhadap perkembangan kenegaraan. Kepemimpinan juga merupakan salah satu fungsi

yang dapat mendorong terwujudnya cita-cita dan tujuan nasional, serta aspirasi yang berkembang dalam masyarakat yang timbul karena adanya interaksi antara pemimpin dan pengikutnya. Dalam Era Reformasi pada saat ini para pemimpin kenegaraan, kebangsaan dan kemasyarakatan Indonesia harus benar-benar memahami dan menghayati nilai-nilai dasar negara, yaitu Pancasila yang bersifat integratif. Oleh karenanya para pemimpin dan kader Kepemimpinan Nasional harus merupakan bagian integral dari Kepemimpinan Nasional Integratif. Kriteria Pokok Kepemimpinan Nasional Integratif adalah sebagai berikut: a. Terciptanya interaksi/keterpaduan yang harmonis antara pemimpin dengan yang dipimpin. b. Ciri, gaya, sifat, prinsip, teknik, dan asas serta jenis kepemimpinan yang handal, antara lain: o 11 asas Kepemimpinan o Hasta Brata c. Strategi Kepemimpinan Nasional yang tepat (sesuai situasi dan kondisi, serta kurun waktu yang dihadapi). Kepemimpinan Nasional yang Integratif harus memiliki pola pikir, pola sikap dan pola tindak sebagai negarawan. Dan makna dari Negarawan adalah seorang pemimpin diharapkan mampu mengubah kondisi saat ini melalui proses untuk menciptakan kondisi yang diharapkan dalam rangka mencapi Tujuan Nasional dan mewujudkan Cita-cita Nasional. 1. Berpikir sebagai Negarawan memiliki ciri SATRIA, yaitu mampu menyatukan kesatuan berpikir yang meliputi masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Negarawan harus selalu berpikir agar masa kini lebih baik daripada masa lalu, masa mendatang lebih baik daripada masa kini. Landasan berpikir sebagai negarawan adalah : a. Karsa Nasional, yaitu: 1. Cita-cita Nasional 2. Tujuan Nasional b. Kepentingan Nasional Utama (Main National Interest) 1. Menghendaki tetap tegaknya NKRI 2. Identitas dan integritas nasional 3. Berhasilnya pembangunan nasional 2. Bersikap sebagai Negarawan, harus berlandaskan wawasan nusantara. a. Mawas ke dalam adalah mengutamakan Persatuan dan Kesatuan bangsa. b. Mawas ke luar adalah menjamin Kepentingan Nasional Indonesia dan ikut serta memelihara ketertiban dan perdamaian dunia. 3. Bertindak sebagai Negarawan, harus berlandaskan atau berpedoman pada konsepsi ketahanan nasional dalam penyelenggaraan kehidupan nasional dan pembangunan nasional dan juga pendekatan terhadap ketahan nasional yang memiliki asas : a. Kesejahteraan dan keamanan b. Holistik, komprehensif integral c. Holarki (saling keterkaitan) d. Mawas ke dalam dan ke luar e. Kekeluargaan dan kebersamaan

Penerapan Konsepsi Ketahanan Nasional akan menghasilkan Ketahanan Nasional yang memiliki sifat-sifat : dinamis,wibawa, konsultasi dan kerjasama, mandiri. Dan itu sudah tercermin pada kepemimpinan SBY / JK guna mewujudkan Indonesia yang ADAM (Aman dan Damai), ADEM (Adil dan Demokrasi), dan BAHTERA (Tambah Sejahtera) yang lebih terkenal dengan Agenda 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu dengan Agenda Utamanya adalah Peace, Justice, Democracy dan Prosperity. (Perpres No. 7/2005), serta mewujudkan GOOD GOVERNANCE dan CLEAN GOVERNMENT.

DAFTAR PUSTAKA Prof. Dr. H. Hadari Nawawi, 1993, Kepemimpinan Menurut Islam, UGM Pres, Yogyakarta Hadari Nawawi dan M. Martini Hadari, 1995, Kepemimpinan Yang Efektif, UGM. Cet. II, Yogyakarta. Frances Hesselbern, Marshall Gold Smith, Richard Beckhard (ed), 1997, The Leader Of The Future, Pemimpin Masa Depan, alih bahasa: Drs. Bob Widyahartono, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta. Hans Antlov dan Sven Cederroth, 2001, Kepemimpinan Jawa, (Perintah Halus, Pemerintahan Otoriter) Yayasan Obor Indonesia, Jakarta. Drs. Adam Ibrahim Indrawijaya, MPA & Dra. Hj. Wahyu Suprapti, MM., 2001, Kepemimpinan Dalam Organisasi, Lembaga Administrasi Negara.RI. Jakarta. Dra. Hj. Sri Murtini, MPA & Drg. Judianto, M.Ph., 2001, Kepemimpinan Di Alam Terbuka, Lembaga Administrasi Negara. R.I. Jakarta. Bernardine R. Wirjana, M.S.W. & Prof. Dr. Susilo Supardo, M.Hum. 2002, Kepemimpinan, (Dasar-dasar dan Pengembangannya) ANDI, Yogyakarta. Prof. DR. Ermaya Suradinata, M.Si, 2002, Manajemen Pemerintahan Dalam Ilmu Pemerintahan, PT. Vidco Data, Jakarta. Hamengku Buwono X., 2004, Sosok Pemimpin Nasional Yang Visioner, Konsisten, Tegas dan Tidak Ambivalen, (Konvensi Nasional II Tahun 2004 IKAL), Yogyakarta. Adi Sujatno, Bc.IP, SH. MH, 2004, Moral Dan Etika Kepemimpinan (Merupakan Landasan Ke Arah Kepemerintahan Yang Baik) Good Governance, Jakarta. Adi Sujatno, Bc.IP, SH. MH, 2005, Etika Kepemimpinan Aparatur, Jakarta.