Anda di halaman 1dari 6

Proses Pirolisis Eceng Gondok .

(R. D. Ratnani)

PROSES PIROLISIS ECENG GONDOK ( EICHHORNIA CRASSIPES) MENJADI KARBON AKTIF DENGAN BAHAN PENGAKTIF NATRIUM KLORIDA ( NaCl)
R. D. Ratnani *)
Abstrak Eceng Gondok ( Eichhornia Crassipes ) untuk sementara ini dianggap oleh sebagian besar masyarakat sebagai tumbuhan pengganggu ekosistem air, karena dari berbagai upaya untuk memberantas limbah ini belum mendapatkan hasil yang memuaskan. Dengan adanya penelitian lebih lanjut diharapkan dapat memberikan nilai tambah dari eceng gondok. Salah satu alternatifnya adalah dibuat menjadi karbon aktif. Proses pembuatan karbon aktif dijalankan dalam suatu reactor yang dilengkapi pemanas. Eceng gondok (Eichhornia crassipes) sebanyak 5 gram direndam dalam Natrium Klorida pada sejumlah berat tertentu selama 30 menit setelah itu ditiriskan dan dimasukkan kedalam reactor dalam waktu yang bervariasi serta dengan suhu dan jumlah pengaktif yang sudah ditentukan. Hasil pengarangan kemudian didinginkan lalu dicuci dengan aquadest panas untuk menghilangkan sisasisa Natrium Klorida dan akhirnya dikeringkan dalam oven sampai dicapai berat konstan. Pirolisis eceng gondok dengan pengaktif Natrium Klorida mengikuti reaksi tingkat satu. Adapun variable yang dipelajari pada penelitian ini adalah suhu karbonasi, waktu karbonasi, dan jumlah pengaktif. Dari hasil penelitian ini diperoleh kondisi operasi yang optimum yaitu suhu karbonasi 300 oC, waktu karbonasi 70 menit dan berat pengaktif 16 gram, konversi yang dicapai 0.68100 bagian dalam waktu 70 menit dengan nilai konstanta kecepatan reaksi ( k) = 1.006. 10-2 menit 1 . Dengan persamaan matematika sebagai berikut : Y( X) = 6.06020.10-1 + 1.006.10-2 X dengan Y(X) = - ln ( 1- x ), X= t (waktu reaksi, menit ), x = konversi . Kata kunci : Eichhornia Crassipes, karbon aktif, Natrium Klorida, Pirolisis Pendahuluan Indonesia sebagai suatu wilayah di permukaan bumi. Dalam garis besarnya alam Indonesia dibedakan atas tiga macam, yaitu wilayah daratan, perairan dan angkasa. Luas daratan 2 juta kilo meter persegi ( 2.027.097 km2) yang terdiri dari 17000 pulau. Di daratan ter dapat danau-danau besar, misal danau Toba( 107.216 ha) dan danau Towuti (59.480 ha) serta sepuluh danau yang mempunyai luas lebih dari 9000 ha. Selain danau terdapat pulau sungaisungai besar dan panjang diantaranya sungai Kapuas, Barito, Membrano dan Digul. Di wilayah kelautan Indonesia terdapat lingkungan yang masih alami, berupa lautan, teluk, dan selat. Dengan dikeluarkannya Deklarasi Juanda yang menetapkan batas teritorial laut Indonesia menjadi 12 mil, maka wilayah Indonesia menjadi 5.193.250 km persegi yang mencakup daratan dan lautan (1957). Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa wilayah perairan Indonesia
*)

lebih luas sekitar 3.166.153 km persegi.( Supartono,1999) Sebagai negara yang luas wilayah perairannya lebih besar dari daratannya, yang disebut negara bahari, maka banyak tumbuhan air yang dapat tumbuh dan berkembang biak di laut maupun di air tawar. Eceng gondok adalah salah satu contoh tumbuhan yang hidup di air tawar. Tidak diduga sebelumnya bahwa Eceng gondok dapat tumbuh dengat sangat cepat, maka dalam waktu yang sangat singkat mampu menutupi permukaan habitatnya, sehingga dapat mengganggu lingkungan air. Berbagai usaha untuk memberantas pertumbuhannya telah dilakukan namun hasilnya belum memuaskan. Sementara dibeberapa tempat di Jawa Tengah dimanfaatkan untuk kerajinan karena batangnya yang alot dan kuat. Dari permasalahan tersebut timbul untuk memanfaatkan lebih jauh. Salah satu alternatif pemecahannya dijadikan karbon aktif. Dan diharapkan penelitian ini dapat menambah nilai 5

Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim Semarang Jl Menoreh Tengah X/22 Semarang

Momentum, Vol. 1, No. 1, April 2005 : 5 - 10

dari gulma sekaligus untuk meningkatkan kualitas lingkungan. Tujuan mempelajari harga konstanta kecepatan reaksi pada proses pirolisis eceng gondok menjadi karbon aktif dengan bahan pengaktif Natrium Klorida (NaCl), dengan variable: suhu karbonasi, berat zat pengaktif, dan waktu karbonasi. Pengertian Eceng gondok merupakan tanaman air yang dapat tumbuh dan berkembang dengan pesat. Eceng gondok (Erchenia Crassipes) didatangkan ke Indonesia untuk tujuan penelitian ilmiah karena keindahan bunganya (Slamet Suseno, 1979 ) Secara umum penyusun tumbuhan ada tiga komponen utama yaitu selullosa, Hemiselullosa dan lignin. Dalam batang tumbuhan kandungan selullosa sebanyak 50%, Lignin 30%, dan sisanya adalah Hemiselullosa dan zat-zat yang lain. (Britt, KW.,1970 ) Komposisi kimia selullosa tersusun dari molekul-molekul anhidro glukosa yang jumlahnya antara 1000-3000 gugusan, dimana molekul-molekul tersebut saling berkaitan termasuk rantai yang panjang sehingga berat molekulnya sangat besar. Rumus molekul selullosa berintikan C6H10O5 yang merupakan rumus molekul anhidroglukosa. Hal ini terbukti dengan terbentuknya glukosa pada hidrolisa selullosa. Selullosa dalam bentuk yang paling murni adalah merupakan substansi yang berwarna putih dan dalam industri terkenal dengan nama alfa selullosa.
C H 2 O H O H O H H H O O H H O H H H H H C H 2 O H H H

tersebut karbon aktif aktif mempunyai kemampuan menyerap gas, uap, dan sebagai pemucat (Kirk othmer, 1964). Bentuk Karbon aktif ada 2 macam yaitu butiran dan bubuk. Karbon aktif bentuk bubuk digunakan untuk adsorbsi dalam larutan, sedang karbon aktif bentuk butiran dipakai untuk menyerap gas atau uap. Sifat umum karbon aktif adalah amorf, berwarna hitam, tidak berasa dan mempunyai daya serap tinggi ( Smisek, 1987) Kokas, karbon aktif dan arang disebut karbon amorf. Dengan sinar X Menunjukkan bahwa karbon amorf mempunyai bentuk kristal dan tidak menentu sehingga tidak menunjukkan sudut permukaan kristal seperti rumbis, monoklis atau yang lainnya. Karbon aktif terdiri dari plat-plat datar dimana atom karbon terikat secara kovalen dengan atom karbon yang lainnya. Plat-plat itu bertumpuk membentuk kristalit dengan sisa karbon yang tertinggal pada permukaannya. Pada grafit plat-plat lebih dekat satu dengan yang lainya ( Chermissinof,1978)

Gambar 2. Struktur grafit murni

Perbedaan Strutur karbon aktif dengan grafit murni adalah pada karbon aktif bidang datar tidak tersusun pada sumbu tegak lurus atau tidak beraturan. Proses Pembuatan Karbon Aktif Pada Prinsipnya bahan yang dapat dikarbonkan, dapat digunakan sebagai bahan baku membuat karbon aktif baik yang berasal dari hewan, tumbuhan atau dari bahan tambang. Proses pengarangan dilakukan dalam sebuah reaktor tanpa adanya udara selama proses berlangsung. Berbagai jenis bahan baku jika dipanaskan pada suhu 120o C kadar airnya akan menguap dan zat organik yang volatil akan terusir keluar. Pada Suhu 200oC terjadi reaksi Eksotermis akibat peruraian lignoselullosa menjadi asetat, metanol, metana, dan gas-gas 6

Gambar 1. Molekul Selullosa

Rumus Umum = ( C6H10O5)n N =Derajad Polamerisasi Karbon aktif adalah karbon yang telah diaktifkan sehingga pori-porinya terbuka dan mempunyai permukaan yang luas antara 3002000 m2/gr. Dengan permukaan yang luas

Proses Pirolisis Eceng Gondok .

(R. D. Ratnani)

yang lain. Pada proses terakhir sisa gas terusir keluar pada suhu antara 400-500oC dan akhirnya tinggal arang yang kering. Timbulnya gas-gas tersebut berlangsung dengan cepat (Johannes, 1987) Reaksi karbonasi : Selullosa CO 2 + H2O + CH3OH + CH3COOH + H3COCH + CO + H2 + CH4 + C Secara umum pembuatan karbon aktif yaitu merendam bahan baku dalam zat pengaktif sebelum dikarbonasi. Bahan pengaktif yang dipakai adalah garam-garam hidroksida, karbonat, klorida sulfat dari alkali tanah, asam sulfat dan asam fosfat. Kemudian dikarbonasi pada suhu 300-900oC, hasilnya didinginkan, dicuci dengan air panas untuk menghilangkan zat kimia yang tersisa (Kirk Othmer, 1964) Penggunaan Karbon Aktif Adapun Penggunaan karbon aktif sebagai bahan pemucat penyerap gas atau uap. Selain itu dapat digunakan dalam industri pangan dan non pangan. Untuk industri pangan dipakai dalam pemurnian minyak goreng, penjernihan gula, penjernihan air dan bahan makan lain. Sedang untuk non pangan dipakai dalam industri kimia farmasi dan katalis. Menurut SII No.0258/1979 karbon aktif merupakan arang yang telah diaktifkan sehingga mempunyai daya serap yang tinggi terhadap warna, bau, dan sebagainya. Syarat mutu karbon aktif dalam perdagangan adalah: Kadar air maksimal 10 % Kadar abu maksimal 2.5 % Daya Serap Minimal 20 % Bagian yang hilang pada pemanasan 950 oC maksimal 15 % Mempelajari konstanta kecepatan reaksi Kecepatan reaksi pirolisis selullosa secara umum mengikuti persamaan berikut. (Sadjidi, 1995) rA = -( dWA/dt ) = k.WA (1) persamaan reaksi 1 adalah reaksi orde satu ( n=1 ) -(dWA/dt) = k.WA (2) -(dWA/WA = k.dt -ln ( WA/Wao ) = k. t + C1 (3) Bila persamaan 2 dinyatakan dengan konversi A WA = Wao ( 1-X) DWA = -Wao .dXA

Wao ( dXA /dt = k Wao ( 1- XA ) ( dXA / (1-XA) = k.dt -ln (1-XA ) = k.t + C2

(4) (5)

Jika dibuat grafik hubungan antara -ln (1-X A) dengan waktu (t) maka akan didapatkan grafik yang berupa garis lurus dengan tangan arah k. Harga XA yang dipilih adalah memberikan harga sum of square of error ( SEE ) yang terkecil .Dalam hal ini SEE didefinisikan sebagai : (Y - Y ) SEE = data pers (6) Ydata Meminimasi harga SEE variable WA yang dijalankan secara numeris dengan program Eureka Hipotesa Semakin Tinggi suhu karbonasi semakin besar konversi hasilnya. Semakin bertambah berat pengaktif semakin besar konversi hasilnya . Semakin lama waktu karbonasi semakin besar konversi hasilnya. Sehingga diperoleh hasil yang optimum Metodologi Penelitian Bahan Baku dan Bahan Pembantu 1. Bahan Baku Eceng Gondok Diperoleh dari daerah sungai kaligawe, dipilih yang sudah tua dengan panjang batang antar 30-35 cm, hasil analisa kadar selullosa 80.8 % kadar air 87.5 %. 2. Bahan Pembantu Bahan Pembantu yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan dari toko kimia Semarang. Adapun bahan yang digunakan adalah : Natrium klorida Natrium Thiosulfat Kalium Yodida Indikator Amilum Iod Aquadest Alat-Alat yang digunakan 1. Alat proses Reactor Pemanas listrik Asbes 7

Momentum, Vol. 1, No. 1, April 2005 : 5 - 10

Thermokopel Pengingin baja Pendingin kaca Kran Erlenmeyer Penampung air 2. Alat Analisa Buret Erlemeyer Pengaduk Gelas ukur Corong Spektrofotometer 3. Alat Karbonasi Jalannya penelitian 1. Pembuatan Karbon Aktif Eceng gondok setelah dicuci lalu dipotongpotong dengan ukuran 1 cm dan dikeringkan. Diambil 5gr eceng gondok kering kemudian direndam dalam Natrium klorida dengan berat 10, 12, 14, 16, 18, 20 gram yang diencerkan dalam 100 ml aquadest selama 30 menit lalu ditiriskan. Eceng gondok di masukkan dalam reaktor dan tutup rapat dan pemanas listriknya di hidupkan thermokopel dipasang, ukur suhunya 100, 150, 200, 250, 300, dan 350oC dengan waktu 30, 40, 50, 60, 70, 80 menit. Setelah didinginkan karbon dicuci dengan air panas selama 15 menit Akhirnya karbon dikeringkan dalam oven .
Diagram alir proses pirolisis

Dikarbonisasi

Didinginkan Pencucian

hasil Hasil Penelitian dan Pembahasan Pengaruh Jumlah Pengaktif Jumlah pengaktif berpengaruh terhadap hasil yang diperoleh. Hal ini dapat dilihat dari table 1 dan gambar 3.
Tabel 1. Pengaruh Jumlah Pengatif terhadap Konversi Hasil Suhu : 300oC Waktu : 70 menit Berat eceng gondok : 5 gram

No 1 2 3 4 5 6

Batang eceng gondok Air dingin Pencucian Analisa Analisa alphaselullosa Pemotongan 1 cm dan keringkan

Jumlah pengaktif (g) 10 12 14 16 18 20

Konversi % 46.326 55.304 58.518 68.100 63.580 60.550

Hubungan jumlah pengaktif terhadap konversi hasil dapat dinyatakan dengan persamaan berikut: Y(X) = 8.8920679 + 0.98071933 X + 0.47160318 X2 0.019537216 X3 Dengan ralat rerata , R= 1.86 % dan berlaku untuk harga X = 10 sampai 20 gram dimana : X = jumlah pengaktif ( gram ) Y = konversi hasil ( % ) Berdasarkan hasil penelitian diatas diperoleh grafik hubungan jumlah pengaktif terhadap konversi hasil, yang dapat dilihat pada gambar 3. 8

Perendaman

Ditiriskan

Proses Pirolisis Eceng Gondok .

(R. D. Ratnani)

7 6 5 6

Dengan ralat rerata, R= 1.34 % dan berlaku untuk harga X= 100 sampai 350 oC dimana : X = suhu karbonasi ( oC ) Y = konversi hasil ( % ) Berdasarkan hasil penelitian diatas diperoleh grafik hubungan suhu karbonasi terhadap konversi hasil, yang dapat dilihat pada gambar 4.
8 0 1 2 1 4 1 6 1 8 2 0

5 0 4 5 1 0

Gambar 3. Pengaruh jumlah pengaktif terhadap konversi hasil

Dari tabel 1 dan gambar 3 dapat dilihat bahwa bertambahnya jumlah pengaktif menunjukkkan kenaikan konversi. Hal ini disebabkan oleh makin banyaknya zat-zat pereaksi yang teraktifkan, sehingga tenaga pengaktif yang diperlukan berkurang. Dalam grafik terlihat dengan menggunakan pengaktif NaCl lebih dari 16 gram akan mengakibatkan penurunan konversi hasil, hal ini disebabkan zat-zat pereaksi menjadi sulit karena cairan kental. Oleh karena itu untuk mempelajari pengaruh suhu karbonasi, dipakai NaCl seberat 16 gram ternyata memberikan hasil yang cukup baik. Pengaruh Suhu Karbonasi Suhu karbonasi berpengaruh terhadap konversi hasil yang diperoleh. Hal ini dapat dilihat dari tabel 2 dan gambar 4.
Table 2. Pengaruh suhu karbonasi terhadap konversi hasil Jumlah pengaktif : 16 gram Waktu karbonasi : 70 menit Berat eceng gondok : 5 gram

3 0 5 0 4 0 0

Gambar 4. Pengaruh suhu karbonasi terhadap konversi hasil .

Dari Tabel 2 Gambar 4 dapat dilihat bahwa semakin besar suhu karbonasi, konversi hasi akan semakin naik. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh pengarangan yang sempurna dan bias terbakar dengan baik. Pada penelitian ini ternyata jika suhu karbonasi lebih dari 300 oC konversi hasil sudah tidak berubah atau tercapai keadaan konstant. Hal ini kemungkinan disebabkan karena bila suhu terlalu panas sebagian kecil bahan menjadi abu. Pengaruh Waktu Proses Waktu proses berpengaruh terhadap konversi hasil. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 3 dan Gambar 5
Tabel 3. Pengaruh waktu proses terhadap konversi hasil Berat pengaktif : 16 gram Suhu karbonasi : 300oC Berat eceng gondok : 5 gram

No 1 2 3 4 5 6

Suhu karbonasi (oC) 100 150 200 250 300 350

Konversi % 35.80 49.00 58.04 67.36 75.38 75.38

No 1 2 3 4 5 6

Hubungan suhu karbonasi terhadap konversi hasil dapat dinyatakan dengan persamaan matematik berikut : Y(X) = 17.738162 + 0.12514184 0.000789586 X2 1.93331126.10-6 X3 X +

Waktu Karbonasi (mnt ) 30 40 50 60 70 80

Konversi (% ) 60.842 65.172 67.769 72.698 75.380 75.380

Momentum, Vol. 1, No. 1, April 2005 : 5 - 10

Hubungan waktu karbonasi terhadap konversi hasil dapat dinyatakan dengan persamaan matematik sbb : Y(X) = 63.187352 0.76365542X 0.025013229X2 0.00017538981X3 +

Hubungan waktu karbonasi terhadap ln(1-X) dapat dinyatakan dengan persamaan matematik sbb : Y(X) = 6.0520.10-1 + 1.006.10-2 X Dengan ralat rerata, R= 1.007 % dan berlaku untuk harga X= 30 sampai 80 menit dimana : X = waktu karbonasi (menit ) Y = -ln (1-X) Berdasarkan data hasil penelitian diatas diperoleh grafik hubungan waktu karbonasi terhadap ln ( 1-X) dapat dilihat pada Gambar 6.
1 ,5

Dengan ralat rerata ,R= 0.54 % dan berlaku untuk harga X= 30 sampai 80 menit dimana : X = waktu karbonasi (menit ) Y = konversi hasil ( %) Berdasarkan data hasil penelitian diatas diperoleh grafik hubungan waktu karbonasi terhadap konversi dapat dilihat di gambar 7.
8 0

0 ,5 2 5

8 5

Gambar 6. Pengaruh waktu karbonasi (t) terhadap ln (1-X).


5 0 2 5 8 5

Gambar 5. Pengaruh waktu karbonasi terhadap konversi hasil.

Dari Tabel 3 dan Gambar 5, dapat dilihat bahwa bertambahnya waktu karbonasi maka konversinya akan semakin besar. Disebabkan oleh lamanya waktu pembakaran. Pada gambar 5 dapat dilihat bahwa setelah titik optimum konversi hasil tercapai pada waktu karbonasi 70 menit. Dalam penelitian ini diperoleh konversi hasil tertinggi untuk waktu karbonasi 70 menit yaitu 0.75380 atau 75.380 % Dari data tersebut diatas diperoleh dapat dibuat tabel dan Grafik hubungan ln ( 1-X) dengan t. Bila grafik yang diperoleh berupa garis lurus dengan tangen arah k maka reaksi tersebut orde satu (1) . Tabel 4. Pengaruh waktu reaksi terhadap ln (1-X) No Waktu konversi - ln (1-X) (menit) 1 30 0.60842 0.93756 2 40 0.65172 1.05475 3 50 0.67796 1.13812 4 60 0.72698 1.29821 5 70 0.75380 1.40160 6 80 0.75380 1.40160

Kesimpulan Dari hasil penelitian diatas, dapat diambil kesimpulan sbb: 1. Pengaktif Natrium klorida dapat dipakai sebagai pengatif untuk pirolisis eceng gondok menjadi karbon aktif 2. Pirolisis eceng gondok dengan pengaktif NaCl mengikuti reaksi tingkat satu 3. Keadaan yang optimum pada pemakaian pengaktif seberat 16 gram ,suhu 300oC konversi yang dicapai 0.68100 atau 68.100 % dalam waktu 70 menit Daftar Pustaka Agra , IB., Warnijati, S., dan Thali,YH., 1983, Pirolisis sekam padi secara Fluidisasi,Forum Teknik, 13,87-101 Agra , Ib.,Warnijati,S.,dan Arifin,Z., 1973 , Karbonisasi tempurung kelapa disertai penambahan garam dapur , Forum teknik3,2636 Chermissinof,1987 Carbon Adsorbtion Handbook, Ann Arbor Science Publisher, New York. Smisek, 1970, Active Carbon, Elsiever Publishing Company, Amsterdam, London, New York . 10