Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Dengan mempelajari perkembangan peserta didik kita akan memperoleh beberapa keuntungan. Pertama, kita akan mempunyai ekspektasi yang nyata tentang anak dan remaja. Dari psikologi perkembangan akan diketahui pada umur berapa anak mulai berbicara dan mulai mampu berpikif abstrak. Hal-hal itu merupakan gamharan umum yang terjadi pada kebanyakan anak, di samping itu akan diketahui pula pada umur berapa anak tertentu akan memperoleh keterampilan perilaku dan emosi khusus. Kedua, pengetahuun tentang psikologi perkembangan anak membantu kita untuk merespons sebagaimana mestinya pada perilaku tertentu dari seorang anak. Psikologi perkembangan akan menunjukkan sumber-sumber jawaban serta pola-pola anak mengenai pikiran, perasaan dan perilaku anak dan remaja. Ketiga, pengetahuan tentang perkembangan anak akan membantu mengenali berbagai penyimpangan dari perkembangan yang normal. Psikologi perkembangan akan secara terbuka mengungkap proses pertumbuhan psikologi, proses-proses yang akan dialami pada kehldupan sehari-hari. Yang lebih penting lagi, pengetahuan ini akan membantu kita memahami apa yang kita alami sendiri, misalnya mengapa masa puber kita lebih awal atau lebih lambat dibandingkan dengan teman- teman lain. Dalam makalah ini akan dibahas apa saja hukum-hukum pertumbuhan dan perkembangan kemudian bagaimana karekteristik pertumbuhan dan perkembangan remaja yang menjadi peserta didik.

B. RUMUSAN MASALAH 1. Apa pengertian dan saling keterkaitn antara nilai, moral dan sikap? 2. Apa saja karakteristik nilai, moral, dan sikap remaja ?

3. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan nilai, moral, dan Sikap ? 4. Apa saja perbedaan individual dalam perkembangan nilai, moral dan sikap ? 5. Apa saja upaya pengembangan nilai, moral dan sikap dan implikasinya dalam penyelenggaraan pendidikan ?

C. TUJUAN PENULISAN 1. Untuk mengetahui apa pengertian dan saling keterkaitn antara nilai, moral dan 2. Untuk mengetahui apa saja karakteristik nilai, moral, dan sikap remaja 3. Untuk mengetahui apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan nilai, moral, dan Sikap 4. Untuk mengetahui apa saja perbedaan individual dalam

perkembangan nilai, moral dan sikap 5. Untuk mengetahui apa saja upaya pengembangan nilai, moral dan sikap dan implikasinya dalam penyelenggaraan pendidikan

D. METODE PENULISAN Dalam penyusunan makalah ini kami menggunakan metode penulisan yaitu metode literatur atau kepustakaaan maksudnya kami menggunakan studi kepustakaan dari berbagai literatur berupa buku, media cetak, maupun media elektronik.

BAB II PERKEMBANGAN NILAI, MORAL, DAN SIKAP

A. Pengertian dan Saling Keterkaitan antara Nilai, Moral, dan Sikap Nilai-nilai kehidupan adalah norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, misalnya adat kebiasaan dan sopan santun (Sutikna, 1988:5). Sopan santun,adat, dan kebiasaan serta niali-niai yang terkandung dalam pancasila adalah nilai-nilai hidup yang manjadi pegangan seseorang dalam kedudukannya sebagai warga Negara dengan sesama warga Negara. Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila yang termasuk dalam sila kemanusiaan yang adil dan beradab, antara lain : 1) Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan persamaan

kewajiban antara sesame manusia, 2) 3) Mengembangkan sikap tenggang rasa, dan Tidak semena-mena terhadap rang lain, berani membala kebenaran

dan keadilan, dan sebagainya. Moral adalah ajaran tentang baik buruk perbuatan dan kelakuan, akhlak, kewajiban, dan sebagainya (Purwadarminto, 1957: 957). Dalam moral diatur segala perbuatan yang dinilai tidak baik dan perlu dihindari. Moral berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan antara perbuatan yang benar dan yang salah. Dengan demikian, moral merupakan kendali dalam bertingkah laku. Dalam kaitannya dengan pengalaman nilai-nilai hidup, maka moral merupakan kontrol dalam bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan

nilai-nilai hidup yang dimaksud. Misalnya dalam pengalaman nilai hidup : tenggang rasa, dalam perilakunya eseorang akan selalu memperhatikan perasaan orang lain, tidak semau gue. Dia dapat membedakan tindakan yang benar dan yang salah. Nilai-nilai kehidupan sebagai norma dalam masyarakat senantiasa menyangkut persoalan antara baik dan buruk, jadi berkaitan dengan moral. Dalam hal ini aliran psikoanalisis tidak membeda-bedakan antara moral,norma, dan nilai (Sarlito, 1991:91). Semua konsep itu menurut freud menyatu dalam konsepnya tentang superego yang merupkan bagian dari jiwa yang berfungsi untuk mengendalikan tingkah laku ego sehingga tidak bertentangan dengan masyarakat. Sedangkan, menurut Gerug, sikap secara umum diartikan sebagai kesediaan bereaksi individu terhadap sesuatu hal (Mappiare,

1982:58).sikap berkaitan dengan motif dan mendasari tingkah laku seseorang dapat diramalkan tingkah laku apa yang dapat terjadi dan akan diperbuat jika telah diketahui sikapnya. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi berupa kecenderungan (predisposisi) itngkah laku. Jadi sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek tersebut. Dengan demikian, keterkaitan antara nilai, moral, sikap, dan tingkah laku akan tampak dalam pengalaman nilai-nilai. Dengan kata lain nilainilai perlu dikenal terlebih dulu, kemudian dihayati dan didorong oleh moral, baru akan terbentuk sikap tertentu terhadap nilai-nilai tersebut dan pada akhirnya terwujud tingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang dimaksud. B. Karakteristik Nilai, Moral, dan Sikap Remaja

Michel meringkaskan lima perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan oleh remaja (Hurlock alih bahasa Istiwidayanti dan kawankawan, 1980: 225) sebagai berikut : 1) Pandangan moral individu makin lama makin menjadi lebih

abstrak. 2) Keyakinan moral lebih terpusat pada apa yang benar dan kurang

pada apa yang salah.keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang dominant. 3) Penilaian moral menjadi semakin kognitif. Hal ini mendorong

remaja lebih berani mengambil keputusan terhadap berbagai masalah moral yang dihadapinya. 4) 5) Penilaian moral mrnjadi kurang egosentris. Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal dalam arti

bahwa penilaian moral merupakan badan emosi dan menimbulkan ketegangan emosi. Menurut Furter (1965) (dalam Monks, 1984:252), kehidupan moral merupakan problematic yang pokok dalam masa remaja. Maka perlu kiranya untuk meninjau perkembangan moralitas ini mulai dari waktu anak dilahirkan, untuk dapat memahami mengapa justru pada masa remaja hal tersebut menduduki tempat yang sangat penting. Dari hasil penyelidikan-penyelidikannya Kohlberg mengemukakan enam tahap (stadium) perkembangan moral yang berlaku secara universal dan dalam urutan tertentu. Ada tiga tingkat perkembangan moral menurut Kohlberg, yaitu: 1. Tingkat Satu : Moralitas Prakonvensional

Yaitu : ketika manusia berada dalam fase perkembangan prayuwana mulai dari usia 4-10 tahun yang belum menganggap moral sebagai kesepakatan tradisi sosial.Yang man dimasa ini anak masih belum menganggap moral sebagai kesepakatan tradisi sosial. Pada Tahap 1 Orientasi kepatuhan dan hukuman. tingkat pertama ini terdapat 2 tahap yaitu :

Adalah penalaran moral yang yang didasarkan atas hukuman dan anakanak taat karena orang-orang dewasa menuntut mereka untuk taat. Dengan kata lain sangat memperhatikan ketaatan dan hukum. Dalam konsep moral menurut Kohlberg ini anak menentukan keburukan perilaku berdasarkan tingkat hukuman akibat keburukan tersebut. Sedangkan perilaku baik akan dihubungkan dengan penghindaran dari hukuman. Tahap 2 Memperhatikan Pemuasan kebutuhan.

Yang bermakna perilaku baik dihubungkan dengan pemuasan keinginan dan kebutuhan sendiri tanpa mempertimbangkan kebutuhan orang lain. 2. Tingkat Dua : Moralitas Konvensional Yaitu ketika manusia menjelang dan mulai memasuki fase perkembangan yuwana pada usia 10-13 tahun yang sudah menganggap moral sebagai kesepakatan tradisi sosial. Pada Tingkat II ini terdapat 2 tahap yaitu : Tahap 3 Memperhatikan Citra Anak yang Baik

Maksudnya : anak dan remaja berperilaku sesuai dengan aturan dan patokan moral agar dapat memperoleh persetujuan orang dewasa, bukan untuk menghindari hukuman. Semua perbuatan baik dan buruk dinilai berdasarkan tujuannya, jadi ada perkembangan kesadaran terhadap perlunya aturan. Dalam hal ini terdapat pada pendidikan anak. Pada tahap 3 ini disebut juga dengan Norma-Norma Interpernasional ialah : dimana seseorang menghargai kebenaran, keperdulian, dan kesetiaan kepada orang lain sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral. Anak-anak sering mengadopsi standar-standar moral orang tuanya sambil mengharapkan dihargai oleh orang tuanya sebagi seorang anak yang baik. Tahap 4 Memperhatikan Hukum dan Peraturan. Anak dan remaja memiliki sikap yang pasti terhadap wewenang dan aturan. Hukum harus ditaati oleh semua orang. 3. Tingkat Tiga : Moralitas Pascakonvensional Yaitu ketika manusia telah memasuki fase perkembangan yuwana dan pascayuwana dari mulai usia 13 tahun ke atas yang memandang moral lebih dari sekadar kesepakatan tradisi sosial. Dalam artian disini mematuhi peraturan yang tanpa syarat dan moral itu sendiri adalah nilai yang harus dipakai dalam segala situasi. Pada perkembangan moral di tingkat 3 terdapat 2 tahap yaitu : Tahap 5

Memperhatikan Hak Perseorangan. Maksudnya dalam dunia pendidikan itu lebih baiknya adalah remaja dan dewasa mengartikan perilaku baik dengan hak pribadi sesuai dengan aturan ddan patokan sosial. Perubahan hukum dengan aturan dapat diterima jika ditentukan untuk mencapai hal-hal yang paling baik. Pelanggaran hukum dengan aturan dapat terjadi karena alsan-alasan tertentu. Tahap 6 Memperhatikan Prinsip-Prinsip Etika Maksudnya : Keputusan mengenai perilaku-pwerilaku sosial berdasarkan atas prinsip-prinsip moral, pribadi yang bersumber dari hukum universal yang selaras dengan kebaikan umum dan kepentingan orang lain. Keyakinan terhadap moral pribadi dan nilai-nilai tetap melekat meskipun sewaktu-waktu berlawanan dengan hukum yang dibuat untuk menetapkan aturan sosial. Contoh : Seorang suami yang tidak punya uang boleh jadi akan mencuri obat untuk menyelamatkan nyawa istrinya dengan keyakinan bahwa melestarikan kehidupan manusia merupakan kewajiban moral yang lebih tinggi daripada mencuri itu sendiri. C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Nilai, Moral, dan Sikap Berdasarkan sejumlah hasil penelitian, perkembangan internalisasi nilai-nilai terjadi melalui identifikasi dengan orang-orang yang

dianggapnya sebagai model.bagi anak-anak usia 12 dan 16 tahun, gambaran-gambaran ideal yang diidentifikasi adalah orang-orang dewasa

yangsimpatik,teman-teman, orang-orang terkenal,dan hal-hal yang ideal yang diciptakan sendiri. Menurut psikoanalisis moral dan nilai menyatu dalam konsep superego. Superego dibentuk melalui jalan internalisasi larangan-larangan atau perintah-perintah yang datang dari luar (khusunya dari orang tua) sedemikian rupa sehingga akhirnya terpencar dalam diri sendiri. Karena itu, orang-orang yang tak mempunyai hubungan yang harmonis dengan orang tuanya di masa kecil, kemungkina besar tidak mampu

mengembangkan superego yang cukup kuat, sehingga mereka bisa menjadi orang yang sering melanggar norma masyarakat. Teori-teori lain yang non-psikoanalisis beranggapan bahwa

hubungan anak dan orang tua bukan satu-satunya sarana pembentuk moral. Para sisiolog beranggapan bahwa masyarakat sendiri mempunyai peran penting dalam pembentukan moral. Tingkah laku yang terkendali disebabkan oleh adanya kontrol dari masyarakat itu sendiri yang mempunyai sanksi-sanksi tersendiri buat pelanggar-pelanggarnya

(Salito,1992:92). Di dalam usaha membentuk tingakah laku sebagai pencerminan nilai-nilai hidup tertentu ternyata bahwa faktor lingkungan memegang peranan penting. Diantara segala unsur lingkungan sosial yang berpengaruh, yang tampaknya sangat penting adalah unsur lingkungan berbentuk manusia yang langsung dikenal atau dihadapi oleh seseorang sebagai perwujudan dari nilai-nilai tertentu. Dalam hal ini lingkungan sosial terdekat yang terutama terdiri dari mereka yang berfungsi sebagai pendidik dan pembina. Makin jelas sikap dan sifat lingkungan terhadap nilai hidup tertentu dan moral makin kuat pula pengaruhnya untuk membentuk (atau meniadakan) tingkah laku yang sesuai.

Teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh kohlberg menunjukkan bahwa sikap moral bukan hasil sosialisasi atau pelajaran yang diperoleh dari kebiasaan dan hal-hal ini yang berhubungan dengan nilai kebudayaan. Tahap-tahap perkembangan moral terjadi dari aktivitas spontan pada anak-anak (Singgih G.1990:202). Anak memang

berkembang melalui interaksi sosial, tetapi interaksi ini mempunyai corak yang khusus dimana faktor pribadi, faktor si anak dalam membentuk aktivitas-aktivitas ikut berperan. Dalam perkembangan moral, kohlberg menyatakan adanya tahap-tahap yang berlangsung sama pada setiap kebudayaan. Penahapan yang dikemukakan bukan mengenai sikap moral yang khusus, melainkan berlaku pada proses penalaran yang didasarinya. Moral sifatnya penalaran menurut kohlberg, perkembangannya

dipengaruhi oleh perkembangan nalar sebagaimana dikemukakan oleh piaget. Makin tinggi tingkat penalaran seseorang menurut tahap-tahap perkembangan piaget, makin tinggi pula tingkat moral seseorang. D. Perbedaaan Individual Dalam Perkembangan Nilai, Moral, dan Sikap Menurut Kohlberg, faktor kebudayaan mempengaruhi

perkembangan moral, terdapat berbagai rangsangan yag diterima oleh anak-anak dan ini mempengaruhi tempo perkembangan moral. Bukan saja mengenai cepat atau lambatnya tahap-tahap perkembangan yang dicapai. Perbedaaan perseorangan juga dapat dilihat pada latar belakang kebudayaan tertentu. Pemahaman konsep dan nilai tenggang rasa, bila dibandingkan dengan sikap serta tingkah lakunya dalam kaitannya dengan tenggang rasa, memungkinkan kita menempatkan individu dalam satu kontinum. a. Di ujung paling kiri, kita kelompok individu yang hampir-hampir atau sama sekali tidak tahu tentang konsep dan nilai tenggang rasa dan

10

karenanya juga tidak bertindak secara benar ditinjau dari konsep tenggang rasa. b. Di ujung paling kanan terdapat individu yang baik pengetahuan maupun tingkah lakunya, mencerminkan penghayatan nilai tenggang rasa yang sangat meyakinkan. Jadi perbedaaan-perbedaan individual dalam pemaham nilai-nilai, dan moral sebaga pendukung sikap dan perilakunya. Dan mungkin terjadi individu atau remaja yang tidak mencapai perkembangan nilai, moral, dan sikap serta tingkah lakunya yang diharapkan padanya.

E. Upaya Mengembangkan Nilai, Moral, dan Sikap Remaja serta Implikasinya Dalam Penyelenggaraan Pendidikan Perwujudan nilai, moral, dan sikap tidak terjadi dengan sendirinya. Proses yang dilalui seseorang dalam pengembangan nilai-nilai hidup tertentu adalah sebuah proses yang belum seluruhnya dipahami oleh para ahli (Surakhmad, 1980: 17). Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengembangkan nilai, moral, sikap remaja adalah sebagai berikut: 1. Menciptakan Komunikasi Mengikutsertakan, remaja dalam beberapa pembicaraan dan dalam pengambilan keputusan keluarga, sedangkan dalam kelompok sebaya, remaja turut serta secara aktif dalam tanggung jawab dan penentuan maupun keputusan kelompok. Dan remaja juga berpartisipasi untuk mengembangkan aspek moral misalnya dalam kerja kelompok, sehingga

11

dia belajar tidak melakukan sesuatu yang akan merugikan orang lain karena hal ini tidak sesuai dengan nilai atau norma-norma moral. 2. Menciptakan Iklim Lingkungan yang Serasi Usaha pengembangan tingkah laku niali hidup hendaknya tidak hanya mengutamakan pendekatan-pendekatan intelektual semata-mata tetapi juga mengutamakan adanya lingkungan yang kondusif di mana faktor-faktor lingkungan itu sndiri merupakan penjelmaan yang konkret dari nilai-nilai hidup tersebut. Selain itu lingkungan bersifat mengajak mengajak, mengundang atau memberi kesempatan akan lebih aktif daripada lingkungan yang ditandai dengan larangan dan peraturan yang membatasi.

12

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan Emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak. Emosi juga adalah warna afektif yang kuat dan ditandai oleh perubahan-perubahan fisik. Adapun beberapa kondisi emosional seperti cinta/kasih sayang, gembira, kemarahan dan permusuhan, ketakutan dan kecemasan. Sedangkan pembagian ciri-ciri emosional dibagi menjadi dua menurut Biehler (1972) yaitu remaja berusia 12-15 tahun dan remaja usia 12-15 tahun. Dan faktor-faktor perkembangan emosional dipengaruhi oleh: 1. Belajar dengan coba-coba 2. Belajar dengan cara meniru 3. Belajar dengan cara mempersamakan diri (learning by

identification) 4. Belajar melalui pengkondisian 5. Pelatihan atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi Nilai-nilai kehidupan adalah norma-norma yang berlaku dalam masyarakat atau prinsip-prinsip hidup yang menjadi pegangan seseorang dalam hidupnya, baik sebagai warga negara. Sedangkan moral adalah ajaran tentang baik, buruk perbuatan dan kelakuan, akhlak dan sebagainya. Sikap adalah kesian bereaksi individu terhadap sesuatu hal. Kterkaitan anatar lain, moral dan sikap tampak dalam pengalaman nilai-nilai.

13

B. Saran Setelah memahami materi tentang nilai, sikap dan moral ini maka kita sebagai mahasiswa hendaknya lebih memahami diri kita masingmasing agar dalam kehidupan dapat bersikap sesuai dengan nilai dan moral yang berlaku. Kemudian untuk orang tua hendaklah memahami kondisi anak dan perkembangan emosional anak ketika memasukin masa remaja. Agar dapat memahami kondisi tersebut hendaklah orang mengadakan pendekatan terhadap anak tentang apa yang ia rasakan. Dan anak pun hendaklah menjadi lebih terbuka serta berusaha mengendalikan emosional pada dirinya.

14

DAFTAR PUSTAKA Fuady, Zaid Abdurrahman dkk. 2007. Pendidikan Masa Pubertas. Wadi Press: Ciputat Rohman, Arif. 2009. Memahami pendidikan dan Ilmu Pendidikan. LaksBang Mediatama : Yogyakarta Sofa, Pakde. 2008. Hakikat Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik Bag 1. http://massofa.wordpress.com/ (Online). Diakses pada tanggal 11 Maret 2010 Sunarto dan Agung Hartono. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Rineka Cipta: Jakarta Tim Kadnet Muda Mudi. 2009. Karakteristik Remaja dan Pemuda. http://www.kadnet.info/web/index.php?option=com_content&view=article &id=46&Itemid=76/ (Online). Diakses pada tanggal 11 Maret 2010 Utama, Arya. 2009. Karakteristik Remaja. http://ilmupsikologi.wordpress. com/ (Online). Diakses pada tanggal 11 Maret 2010

15