Anda di halaman 1dari 5

1

KESETARAAN GENDER : ISLAM DAN HAK-HAK PEREMPUAN



Islam hadir di dunia, tidak lain untuk membebaskan manusia dari berbagi bentuk ketidak-
adilan. Jika norma yang dijadikan pegangan oleh masyarakat tapi tidak sejalan dengan prinsip
keadilan, maka norma itu harus ditolak.
Demikian pula bila terjadi berbagai bentuk ketidak-adilan terhadap perempuan. Praktek
ketidak adilan dengan menggunakan adil agama adalah suatu yang perlu dipertanyakan sebab bila
ditelaah lebih dalam sebenarnya tidak ada satupun teks baik Al-Quran maupun Al-Hadist yang
memberikan peluang untuk memperlakukan perempuan semena-mena.
Al-Quran mengakui adanya perbedaan (distinction)antara laki-laki dan perempuan tetapi
perbedaan tersebut bukanlah perbedaan (discrimination), yang menguntungkan salah satu pihak dan
merugikan pihak lainnya. Perbedaan tersebut dimaksudkan untuk mendukung misi pokok Al-Quran,
yaitu terciptanya hubungan harmonis yang didasari rasa kasih sayang (mawaddah warohmah).
Dilingkungan keluarga hal tersebut merupakan sikal bakal terwujudnya komunikasi ideal dalam satu
negeri penuh ampunan (baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur), ini semua bisa terwujud manakala
ada pola keseimbangan dalam keserasian antara keduanya.
Islam menciptakan peremuan pada posisi yang sama dengan laki-laki.
Contoh :
1. Kesamaan memperbolehkan imbalan (pahala) dari amal sholehah yang dilakukan

Artinya :
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam
keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang
baik
[839]
dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang
lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (Q.S An-Nahl : 97)

2. Islam memberikan hak kepada laki-laki dan perempuan dalam hak waris

~E}@OUg _U14^ Og)` E4O>
p-4).4O^- 4pO+4O^~-4
g7.=Og)4Ug4 _U14^ Og)` E4O>
p-4).4O^- ]O+4O^~-4
2
Og` E~ +OuLg` u 4O4E _ 4l14^
LNO^E` ^_

Artinya :
Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya,
dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan
kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan (Q.S An-
Nisa : 7)

- Kesaksian
W-);=4c- 4 ^EOjgE+ }g`
:g~E}jO W p) - 4^O74C
u-UN_4O N_4O p>=O-4
}Og` 4pO=O> =}g` g7.-EOgO-
O4Ou=1- .............
Artinya :
Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika
tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari
saksi-saksi yang kamu ridhai. (Q.S Al-Hujurat : 13)

Nabi Muhammad SAW, memberikan teladan untuk menghormati, memuliakan perlakuan
baik terhadap perempuan dan penuh kasih sayang melalui tindakan dan ucapannya. Sebaik-baik
kamu adalah yang terbaik bagi keluargamu dan aku adalah yang terbaik bagi kelaurgaku.
4. Al-Quran memandang bhubungan antara laki-laki danj perempuan adalah hubungan kemitraan
sebagai mana firman Allah SWT :

4pONLg`u^-4 eE4g`u^-4
__u4 +7.41gu *u4 _
]+O4C NOuE^)
4pOE_uL4C4 ^}4N @OL^-
]O1NC4 E_OUO- ]O>uNC4
E_OEEO- ]ON1gCNC4 -.-
N.Oc4O4 _ Elj^q
N_+EOuO=OEc +.- Ep) -.- NOCjG4N
_1EO ^_

Artinya :
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah)
menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang
ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka
taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah;
sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S A-Taubah : 71)

3
Dengan demikian secara normatif tekstual agama ialam sangat menghargai dan menghormati
kaum perempuan, dan tindak kekerasan terhadap perempuan merupakan pelecehan terhadap harkat
dan martabat kemanusiaan yang sangat di junjung tinggi dan bahkan merupakan misi Islam untuk
melakukan pembebasan terhadap tindakan yang melecehkan martabak kemanusiaan.
4`4 7 4pOUg-> O) O):Ec
*.- 4-gE;_4O^-4 ;g`
~E}@O- g7.=Og)4-4
p4^.O^-4 4g~-.- 4pO7O4C
.E4+4O E4;_@Ou= ;}g` jOE-
gO4CO^- g-- E_Uu-
E;_-4 4L- }g` C^-. =Og4
E;_-4 E4- }g` C^-. -OO4^
^_)
Artinya :
Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang
lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: "Ya
Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan
berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!."
(Q.S An-Nisa : 75)
Islam diturunkan ke dunia dengan membawa misi kemanusiaan, keadilan dan kemaslahatan
umum. Dengan demikian Iskam menolak adanya pandangan dan praktek yang bertentangan dengan
prinsip-prinsip itu, namun pada kenyataannya, prinsip-prinsip yang lebih banyak menjadi cita-cita
ideal, pada kenyataannya praktek seperti anggapan bahwa salah-satu jenis kelamin (laki-laki) lebih
penting atau lebih utama dari jenis kelamin lainnya (Umumnya perempuan), subordinasi yang
berhubungan dengan akses ekonomi dengan hanya menghargai sebagai kepala rumahtangga dan
konsep industrialisasi mendapatkan untung sebanyak-banyaknya dengan upah serendah-rendahnya.
Secara sistematis berakibat pengangguran dan kemiskinan salahsatu jenis kelamin (Umumnya
Perempuan), label negativ yang merugikan baik bagi lak-laki maupun bagi perempuan merupakan
bentuk ketidak adilan budaya yang berakibat pada posisi dan kondisi perempuan dan laki-laki.
Perempuan yang berbudaya disektor publik, tetap masih bertanggung jawab penuh terhadap
pekerjaan domestik yang mengakibatkan beban kerja yang bertambah.

MENGANALISA MARGINALISASI
Pandangan negatif soal perempuan juga sering dilontarkan oleh kaum pria. Padahal seharusnya
semua sadar bahwa kalu tak ada perempuan tentunta masyarakat di dunia ini tak akan tumbuh dan
berkembang. Karena semua manusia di lahirkan dari rahim perempuan.
4
Pengurus dewan Rist Daerah JATENG menjelaskan bahwa ada tiga kekeliruan asumsi teologis soal
peran permpuan yang perlu di revisi. Yang pertama adalah ada anggapan bahwa laki-laki adalah
ciptaan tuhan yang utama. Perempuan di katakan dari tulang rusu lelaki. Yang kedua manusia di
buang dari surga untuk turun ke dunia karna ulah perempuan. Yang ketiga perempuan di anggap
racun dunia sehingga karna di anggap racun di dunia wanita banyak di sepelekan di tindas dan
diperlakuan semena-mena contohnya, pembantu rumah tangga, wanita tuna susila dan TKI (Tenaga
Kerja Indonesia)
Kekerasan dalam berbagai bentuk, kekerasan secraa fisik, non-fisik, kekerasan seksual,
ekonomi, dsb. Ironinya, tidak sedikit ajaran islam dalam kehidupan kemasyarakatan di deviasi untuk
digunakan sebagai dasar bagi suatu praktek ketidak adilan, kekerasan diskriminasi eksploitasi,
dominasi dan marginiasi. Mengapa terjadi :
1) Penafsiran atas ajaran Islam baik teks-teks Al-Quran, teks-teks Hadist maupun fakta-fakta
sejarah khususnya yang berkaitan denga kaum perempuan lebih banyak disominasi oleh
pemikiran yang bias gender dan marginesis.
2) Pengaruh budaya patriarkal dan misogenis yang masih sangat dominan menjadi pandangan
hidup masyarakat bahkan tidak sedikit pandangan budaya yang dideviasi menjadi ajaran
agama. Tidak heran, kalau upayauntuk mensosialisasikan budaya yang baru yang adil
terhadap perempuan berdasar pandangan Islam atau upaya untuk menegakan hak-hak
perempuan dengan men-Interpretasi pandangan-pandangan keangamaan keagamaan yang
bisa gender justru dianggap upaya merusak agama.
Sampai saat ini semakin banyak orang mahfun bahwa kekerasan terhadap perempuan telah
menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari telah dialami oleh semua perempuan dari sebagai lapisan
sosial, etnik, ras, kebangsaan, agama, aliran politik, golongan, pekerjaan, usia, status perkawinan
dsb.
Kekerasan terhadap perempuan dilatari didukung oleh persekongkolan organisasi dan aparatur
politik dan ekonomi yang eksploitatif.
Namun demikian kaum perempuan takpernah bisa ditaklukan. Beragam upaya yang telah
dilakukan oleh mereka yang dihakimi melalui jalan kekerasan ini melalui ijtihad ( mengadakan
pembaharuan) dan jihad (berjuang). Ijtihad dalam konteks penghapusan kekersan dilakukan antara
lain melalui pemunculan tafsiran keagamaan yang berpihak kepada perempuan. Jihad dalam
pengertian berjuang dengan sungguh-sungguh baik perorangan maupun kelompok melalui beragam
kerja baik dalam lingkup nasional maupun Internasional.
Persoalannya ternyata ketika bericara tentang islam dan hak-hak perempuan, bukan pada
masalah ajaran islam yang ideal-normatif, tetapi justru terletak pada bagaimana ajaran ideal-normatif
5
itu mewujud dalam kenyataan dan itu tidak bisa lain, semua kelopok harus melakukan upaya
sistematis dan terorganisasi. Berijtihad sekaligus berjihad untuk sebuah dunia yang tanpa kekerasan
bagi perempuan.
Sumber : Rahima, 12 Juli 2009