Anda di halaman 1dari 6

Nama:

1. 2.

Septyadi. K Rudyanto

(11-2010-024) (11-2010-245)

1.

Glaukoma Fakolitik Merupakan suatu glaukoma sekunder yang timbul sebagai obat keluarnya protein lensa melalui kapsul lensa yang katarak matur atau hipermatur. Penatalaksanaan Gloukoma Fakolitik I. Segera menurunkan TIO dengan obat-obatan:

Glycerol 1 ml/kgBB dalam 50% larutan, dapat ditambahkan sari jeruk (lihat Bila TIO tetap 30 mmHg atau glycerol tidak dapat dipakai, maka diberi Acetazolamide langsmig 500 mg (2 tablet), kemudian 250 mg tiap 6 jam Timolol 0,25% - 0,5 % tetes tiap 12 jam

pengobatan untuk glaukoma primer sudut tertutup akut)

Mannitol 20% 1-2 gr/kgBB dalam infus 60 tetes/menit)


II. Menekan reaksi radang dengan Kortikosteroid topikal. III. Bila TIO sudah turun 30 mmHg, dapat dilakukan pembedahan ekstraksi katarak.

2.

Glaukoma Fakomorfik Glaukoma fakomorfik, seperti yang digambarkan oleh terminologinya (fako: lensa; morfik: bentuk) merupakan glaucoma yang berkembang sekunder dikarenakan oleh perubahan bentuk lensa. Glaukoma sudut tertutup yang dapat terjadi secara akut, subakut, ataupun kronik oleh karena katrak matur atau intumesen.

3.

Glaukoma Fakoanafilaktik Glaukoma Fakoanafilaktik adalah glaukoma sekunder yang dikarenakan rekasi alergi dan inflamasi dimana protein lensa dapat menyebabkan reaksi fakoanafilaktik, dalam hal ini terjadi uveitis. Protein dan debris seluler menempati sistem ekskresi dan menutup aliran humor aquos

4.

Efek samping Asetazolamide: Paraesthesia, intasi lambung, pembentukan batu ginjal dan sindroma Steven Johnson, gangguan keseimbangan elektrolit, nafas sesak, mual, mengantuk, dan malaise, buang air kecil berlebihan, dan kesemutan.

5.

Panduan Penatalaksanaan POAG 1. Menurunkan TIO +/- 20-50% dari TIO awal dengan Obat-obatan

Topikal: Timolol 0,25-0,5 %, Pilokarpin Hidroklorit 0,25-10 %, Epinefrin 0,25-2%, Betaxolol 0,25 dan 0,5% Sistemik: - Golongan karbonik anhidrase inhibitor (asetazolamid 125500mg per 6 jam untuk dewasa, dan 10-15mg/KgBB/hari untuk anak-anak, dan dorzolamid 2%) - Golongan hiperosmotik (Manitol 20% 1-2gram/KgBB atau 5mg/KgBB dalam satu jam, Gliserol 50% dan 75% 23mg/Kg.

2. 3. 4. 6.

operasi (sklerektomi, trabekulektomi, sklerektomi, dan trepanasi)

Pemeriksaan lapang pandang, tiap 6-12 bulan untuk mengontrol apakah ada kerusakan lebih lanjut. Kontrol penyakit penyerta seperti hipertensi, DM, hipotensi, dan aliran darah. Pertahankan penglihatan yang baik dengan efek samping yang minimal

Pemeriksaan Glaukoma 1. Pemeriksaan Tekanan Bola Mata

Pemeriksaan tekanan bola mata dilakukan dengan alat yang dinamakan tonometer. Pemeriksaan tekanan yang dilakukan dengan tonometer pada bola mata dinamakan tonometri. Dikenal beberapa alat tonometer, yaitu:

a. Tonometer Digital

Tonometer digital adalah cara yang paling buruk dan tidak dibenarkan untuk dipakai oleh dokter ahli mata secara rutin pada pengamatan seorang penderita glaukoma. Dasar pemeriksaannya adalah dengan merasakan reaksi lenturan bola mata (balotement) yang dilakukan secara bergantian dengan kedua jari tangan. Dengan pengalaman, pemeriksa dapat merasakan besarnya tekanan dari bola mata tersebut. Penilaian biasanya diberikan atas empat derajat: N (normal), N+1, N+2, N+3 yang berarti tekanan lebih tingggi di banding normal , dimana N+1 lebih kecil dari N+2. N-1, N-2, N-3 berarti tekanan bola mata lebih rendah dari normal.

Pada tukak kornea atau kelainan kornea lainnya seperti sikatriks kornea maka tonometer tidak dapat digunakan.Cara ini sangat subyektif dan memerlukan pengalaman serta berguna pada keadaan tdk ada alat pada kornea untuk mengukur tekanan bola mata. 3

b. Tonometer Schiotz Pengukuran tekanan bola mata dinilai secara tidak langsung yaitu dengan teknik melihat daya tekan alat pada kornea (tonometri indentasi schiotz). Dengan tonometer ini dilakukan penekanan pada permukaan kornea. Bila suatu beban tertentu memberikan kecekungan pada kornea maka akan terlihat perubahan pada skala schiotz. Makin rendah tekanan bola mata makin mudah bola mata ditekan, yang pada skala akan terlihat angka skala yang lebih besar. Hal ini juga berlaku sebaliknya. Angka skala yang ditunjuk dapat dilihat nilainya di tabel untuk mengetahui kesamaan tekanan dalam mmHg. Rentang tekanan intraocular normal adalah 10-21 mmHg. Pada usia lanjut, rerata tekanan intraokularnya lebih tinggi sehingga batasnya adalah 24 mmHg. c. Tonometri dengan tonometer aplanasi dari Goldman Alat ini mengukur tekanan bola mata dengan memberikan tekanan yang akan membuat rata permukaan kornea dalam ukuran tertentu. Tonometer aplanasi merupakan alat yang paling tepat untuk mengukur tekanan bola mata dan tidak

dipengaruhi oleh kekauan sclera. Dengan tonometer aplanasi bila tekanan bola mata lebih dari 20 mmHg dianggap sudah menderita glaukoma.

2.

Tonografi

Dengan tonografi diukur derajat penurunan tekanan bola mata bila diberikan tekanan dengan tanometer schiotz. Tonometer yang dipakai adalah semacam tonometer schiotz dan bersifat elektronik yang merekam tekanan bola mata selama 4 menit dan berguna untuk mengukur pengaliran keluar cairan air mata. Pada tonografi terlihat kurva fasilitas pengeluaran cairan bilik mata, juga terlihat pulsasi nadi intraocular. Nilai tonografi C=0, 18 adalah normal, bila C kurang dari 0,18 maka keadaan ini dicurigai menderita glaukoma.3

3.

Gonioskopi

Dengan lensa goniskopi dapat melihat keadaan sudut bilik mata yang dapat menimbulkan glaukoma. Penentuan gambaran sudut bilik mata dilakukan pada setiap kasus yang dicurigai adanya glaukoma. Pemeriksaan ini dilakukan dengan meletakkan lensa sudut (goniolens) di dataran depan kornea setelah diberkan anestesi local. Lensa ini dapat digunakan untuk melihat sekeliling sudut bilik mata dengan memutarnya 360 derajat.3

4.

Oftalmoskopi

Yang harus diperhatikan adalah papil, yang mengalami perubahan penggaungan (cupping) dan degenerasi saraf optik (atrofi) Yang mungkin disebabkan oleh beberapa faktor :

Peninggian TIO, mengakibatkan gangguan perdarahan pada papil, sehingga terjadi degenerasi berkas-berkas serabut saraf pada papil saraf optik.

TIO, menekan pada bagian tengah optik yang mempunyai daya tahan terlemah dari bola mata. Bagian tepi papil relatif lebih kuat dari bagian tengah sehingga terjadi penggaungan pada papil ini.2

5. 6.

Pemeriksaan lapangan pandang Uji lain pada glaukoma Uji Kopi Penderita meminum 1-2 mangkok kopi pekat, bila tekanan bola mata naik 15-20 mmHg setelah minum 20-40 menit menunjukkan adanya glaukoma.

Uji Minum Air

Sebelum makan pagi tekanan bola mata diukur dan kemudian pasien disuruh minum dengan cepat 1 liter air. Tekanan bola mata diukur setiap 15 menit. Bila tekanan bola mata naik 8-15 mmHg dalam waktu 45 menit pertama menunjukkan pasien menderita glaukoma. Uji Steroid

Pada pasien yang dicurigai adanya glaukoma terutama dengan riwayat glaukoma simpleks pada keluarga, diteteskan betametason atau deksametason 0,1% 3-4 kali sehari. Tekanan bola mata diperiksa setiap minggu. Pada pasien berbakat glaukoma maka tekanan bola mata akan naik setelah 2 minggu.3 Uji Variasi Diurnal

Pemeriksaan dengan melakukan tonometri setiap 2-3 jam sehari penuh, selama 3 hari biasanya pasien dirawat. Nilai variasi harian pada mata normal adalah antara 2-4 mmHg, sedang pada glaukoma sudut terbuka variasi dapat mencapai 15-20 mmHg. Perubahan 4-5 mmHg sudah dicurigai keadaan patologik. Uji Kamar Gelap

Pada uji ini dilakukan pengukuran tekanan bola mata dan kemudian

pasien dimasukkan ke dalam kamar gelap selama 60-90 menit. Pada akhir 90 menit tekanan bola mata diukur. 55% pasien glaukoma sudut terbuka akan menunjukkan hasil yang positif, naik 8 mmHg.

7.

Kapan pake Fako, kapan pake EKEK EKEK: 1. 2. Pasien muda Pada lensa yang telah mengeras

Fakoemulsifikasi: 1. 2. 3. Pasien dengan diabetes melitus untuk mencegah retinopati diabetikum. Tidak boleh untuk pasien glaukoma karena bisa menyebabkan ablasio retina. Tidak efektif untuk pasien dengan katarak hipermatur.

EKEK tidak boleh dilakukan pada keadaan Zonulla Zinn yang lemah.