Anda di halaman 1dari 13

http://amandashely.blogspot.com/2011/05/analisis-penyimpangan-budget.

html Analisis penyimpangan

Analisis Penyimpangan Budget

Dalam mekanisme penerapan anggaran maupun dalam konsep Manajemet By Objektive (MBO) maka salah satu teknis yang selalu diterapkan adalah analisis variance atau analisis penyimpangan. Analisis ini dilakukan dengan cara memperbandingkan antara anggaran dan realiasi. Perbedaan antara angka anggaran dengan realisasi ini disebut penyimpangan atau variance.

B). Menurut Munandar (2003 : 20) ,


menyatakan bahwa : Laporan anggaran (Anggaran Report), yaitu laporan tentang realisasi pelaksanaan anggaran, yang dilengkapi dengan berbagai analisa perbandingan antara anggaran dengan realisasinya itu, sehingga dapat diketahui penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, baik penyimpangan yang bersifat negatif (merugikan). Dapat diketahui sebab-sebab terjadinya penyimpanganpenyimpangan, sehingga dapat ditarik beberapa kesimpulan dan beberapa tindakan lanjut (follow up) yang segera perlu dilakukan.

C). Biaya Standar ( Mulyadi )


Sebelum membicarakan penyimpangan biaya, perlu diketahui bterlebih dahulu mengenai biaya standar. Mulyadi (2003 : 415) menyatakan : Biaya standar adalah biaya yang ditentukan di muka, yang merupakan jumlah biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk

http://amandashely.blogspot.com/2011/05/analisis-penyimpangan-budget.html

membuat satu satuan produk atau untuk membiayai kegiatan tertentu, di bawah asumsi kondisi ekonomi, efisiensi, dan faktor-faktor lain tertentu. Mulyadi (2003 : 424) mengemukakan : Penyimpangan biaya sesungguhnya dari biaya standar disebut dengan selisih (variance). Selisih biaya sesungguhnya dengan biaya standar dianalisis, dan dari analisis ini diselidiki penyebab terjadinya, untuk kemudian dicari jalan untuk mengatasi terjadinya selisih yang merugikan. Namun sebagaimana yang namanya taksiran, maka tidak selalu anggaran itu benar, dan tidak juga selalu sama dengan realisasi. Sehingga penyimpangan ini jangan terus dianggap sebagai suatru kesalahan.

D). Menurut Harahap (2003 : 223),


Penyimpangan bisa juga disebabkan oleh : Kesalahan anggaran Kesalahan akuntansi Klasifikasi atau pencatatan Kesalahan operasi

Penyimpangan ini harus dianalisis penyebabnya. Biasanya perusahaan harus menetapkan ukuran mana yang mesti dilakukan investigasi dan mana yang tidak perlu dilakukan investigasi. Standar penentuan ini biasanya melihat benefit costnya. Jika biaya investigasi atau penyimpangan ini lebih besar dari pada taksiran yang dihemat maka biasanya tidak perlu dilakukan investigasi, sebaliknya jika yang dihemat jauh lebih besar dari biaya investigasi maka harus dilaksanakan investigasi penyebab penyimpangan. Kecuali dalam hal tertentu yang sifatnya material atau berpotensi beresiko besar maka kendatipun ukurannya kecil namun harus menjadi bahan investigasi. Kegunaannya bukan untuk melihat penyimpangan itu tapi melihat kemungkinan pelajaran yanga dapat diambil untuk menjadi bahan dalam operasi mendatang. Menurut Harahap (2003 : 224) penyimpangan anggaran biaya terdiri atas: a. Penyimpangan dalam hal biaya langsung, dibagi : 1) Penyimpangan harga beli

http://amandashely.blogspot.com/2011/05/analisis-penyimpangan-budget.html

2) Penyimpangan Kuantitas pembelian b. Penyimpangan dalam hal biaya upah langsung, dibagi : 1) Penyimpangan tingkat upah 2) Penyimpangan tidak efisiensi upah c. Penyimpangan dalam hal biaya overhead, dibagi : 1) Penyimpangan pemakaian 2) Penyimpangan kapasitas 3) Penyimpangan efisiensi

E). Contoh Analisis penyimpangan anggaran sebagai tolak ukur efisiensi biaya produksi (studi kasus pada pt. intikub jakarta)
Sistem Pengendalian manajemen terutama dimaksudkan untuk memotivasi para manajer dalam melaksanakan kegiatan perusahaan agar lebih efektif dan efisien dalam mencapai tujuan perusahaan terse but. Anggaran merupakan elemen terpenting dalam suatu sistem pengendalian manajemen, karena anggaran tidak saja berfungsi sebagai alat perencanaan dan pengendalian tetapi juga sebagi alat koordinasi, komunikasi, penilaian prestasi dan motivasi. Sebagai alat motivasi anggaran dapat mengarahkan perilaku yang menyimpang dan sikap negatif ke arah pencapaian tujuan anggaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah peranan anggaran digunakan sebagai pedoman untuk pelaksanaan kegiatan dalam pencapaian efisiensi biaya produksi pada PT. INTIRUB Jakarta. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berupa data produksi selama 5 tahun (2001-2005) yang berperanan penting dalam penyusunan anggaran. Selanjutnya data tersebut di analisis dengan teknik tabulasi dan secara deskriptif menggunakan konsep Analisis Penyimpangan Anggaran (Budgeting Variance Analisys) yang meliputi pemakaian bahan baku langsung (Raw Material), tenaga kerja langsung (Direct Labour) dan biaya ovehead pabrik variabel (Factory Overhead Variable). Hasil penelitian menunjukkan bahwa anggaran di PT. INTIRUB Jakarta secara umum telah digunakan sebagai pedoman untuk pelaksanaan kegiatan dalam pencapaian efisiensi biaya produksi. Namun demikian perusahan ini belum sepenuhnya berpedoman pada data anggaran dan realisasi tahun sebelumnya, di mana baik anggaran maupun realisasinya belum memanfaatkan informasi akuntansi yang tersedia.

F). Anggaran Operasional Sebagai Alat Pengendalian Manajemen (Studi Kasus: PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor)
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor (PDAM TPKB) merupakan perusahaaan milik daerah yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan air di wilayah Kotamadya Bogor. Dalam melaksanakan perannya sebagai sebuah organisasi, PDAM memiliki perencanaan keuangan untuk masa depan yang terangkum dalam sebuah anggaran. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengetahui faktor-faktor yang menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun anggaran pada PDAM TPKB, (2) Mengetahui prosedur penyusunan anggaran pada

http://amandashely.blogspot.com/2011/05/analisis-penyimpangan-budget.html

PDAM TPKB, (3) Menganalisis penyimpangan yang terjadi antara anggaran operasional dan realisasinya pada PDAM TPKB, dan (4) Mengevaluasi penyimpangan yang terjadi pada anggaran operasional PDAM TPKB. Penelitian dilaksanakan di PDAM TPKB yang berlokasi di Jalan Siliwangi No. 121, Bogor. Waktu yang digunakan untuk penelitian adalah tiga bulan, yaitu dimulai pada bulan Februari-April 2009. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis varians dan uji t dengan alat pengolah data Microsoft Excel 2007 dan SPSS versi 13. Faktor-faktor yang menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun anggaran operasional PDAM TPKB adalah realisasi kegiatan usaha semester I tahun berjalan, estimasi hasil kegiatan yang dapat dicapai pada semester II tahun berjalan, rencana jangka panjang,dan faktor penting lainnya yang tertuang dalam program-program tahunannya. Prosedur penyusunan anggaran PDAM TPKB diawali dengan pengarahan dari direksi kepada kepala bagian, tiap-tiap bagian menyusun konsep anggarannya, konsep anggaran diserahkan kepada tim penyusun anggaran untuk selanjutnya dibahas dalam rapat koordinasi, dilakukan perbaikan dalam penetapan anggaran, dan selanjutnya direksi mengajukan anggaran tahunan definitif kepada Badan Pengawas untuk mendapat pengesahan. Dari hasil analisis varians diketahui bahwa pada tahun 2006 total pendapatan memiliki penyimpangan favorable 0,98 %. Pada total biaya langsung terjadi penyimpangan favorable 2,67 %. Namun berbeda pada total biaya tidak langsung, pada biaya ini terjadi penyimpangan unfavorable -37,49 %. Sedangkan laba bersih yang dihasilkan memiliki penyimpangan favorable 13,42 %. Pada tahun 2007, penyimpangan favorable terjadi pada total pendapatan 1,80 %. Hal tersebut berbeda pada total biaya langsung, penyimpangan yang terjadi pada biaya ini adalah unfavorable -5,73 %. Sedangkan penyimpangan favorable terjadi pada total biaya tidak langsung yaitu 3,12%. Terakhir analisis dilakukan pada laba bersih penyimpangan 2,75 %, penyimpangan ini termasuk favorable. Berdasarkan uji t pada penyimpangan anggaran operasional tahun 2006, diperoleh kesimpulan bahwa penyimpangan total pendapatan, total biaya langsung, total biaya tidak langsung, dan laba bersih anggaran operasional PDAM TPKB masih dalam batas pengendalian manajemen. Pada tahun 2007, hasil uji t pada penyimpangan anggaran operasional PDAM TPKB yang meliputi total pendapatan, total biaya langsung, total biaya tidak langsung, dan laba bersih masih dalam batas pengendalian manajemen.

G). CONTOH ANALISIS ANGGARAN PENJUALAN TERHADAP REALISASI PADA PT MNC SKY VISION PALEMBANG
Laporan akhir ini berjudul Analisis Anggaran Penjualan terhadap realisasi pada PT.MNC Sky Vision Palembang . Perusahaan ini berlokasi di jalan Basuki Rahmat Ruko No.148 RT.17 Palembang (30127). Laporan ini membahas tentang permasalahan perencanaan dan realisasi yang terjadi di perusahaan dalam kegiatan penjualan. Laporan akhir ini bertujuan untuk menganalisis anggaran penjualan dan yang disusun oleh perusahaan apakah telah sesuai atau terjadi penyimpangan pada realisasinya. Metode pengumpulan data yang digunakan penulis adalah metode kepustakaan dan dengan memberikan kuesioner langsung pada karyawan yang bersangkutan, dan data yang penulis peroleh yaitu data anggaran penjualan dan realisasi tahun 2006,2007,2008. Dalam menyusun anggaran penjualan perusahaan belum menggunakan tehnik penaksiran sehingga metode yang dipilih tidak tepat

http://amandashely.blogspot.com/2011/05/analisis-penyimpangan-budget.html

dan Perusahaan belum mengadakan analisis terhadap penyimpangan yang terjadi antara anggaran dan realisasinya. Berdasarkan hasil analisis, penulis memberi saran agar perusahaan melakukan perhitungan dengan menggunakan teknik penaksiran seperti metode Least square, metode Moment dan metode Kuadrat agar realisasi kerja dapat mencapai anggaran penjualan yang telah ditetapkan dan Perusahaan harus menganalisis lebih lanjut penyimpangan yang terjadi antara anggaran dengan realisasi, agar perusahaan dapat mengetahui penyebab penyimpangan, dan perusahaan harus mengambil tindakan korektif atas penyimpangan tersebut sebagai bahan pertimbangan untuk menyusun anggaran tahun berikutnya.

H). Contoh kronologis penculikan aktivis Forum Peduli Nurani Rakyat Sulit Air.
Penyimpangan Penggunaan Anggaran Pemerintah Hampir Merata Penyimpangan Penggunaan Anggaran Pemerintah Hampir Merata Terjadi di Seluruh Indonesia Ditemukan Bendahara Alihkan Dana Proyek ke Rekening Pribadi Medan, (Analisa) Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan banyak penyimpangan penggunaan anggaran pemerintah daerah. Penyimpangan tetrsebut antara lain, adanya dana proyek yang dialihkan ke rekening pribadi bendaharawan. Selain merugikan negara karena bunganya masuk ke kantong pribadi, hal itu juga menyalahi ketentuan perundang-undangan. Penyimpangan uang pemerintah daerah ini hampir merata terjadi di seluruh jajaran pemerintahan di Indonesia, termasuk Sumatera Utara, kata Kepala PPATK Yunus Husein pada acara Sosialisasi Rezim Anti Pencucian Uang di Binagraha Pemprovsu, Kamis (8/6) pagi. Acara yang dibuka Gubsu diwakili Asisten Ekbang H Kasim Siyo Msi ini, menghadirkan pembicara Edwin Nurhadi dan Fihtriadi dari PPATK dipandu moderator Drs Jhon Tafbu Ritonga MEc (Dekan Fakultas Ekonomi USU). Di Sumut, kata Yunus Husein, ditemukan ada oknum bendaharawan yang mengalihkan dana proyek ke rekening pribadi ketika anggaran daerah akan berakhir. Hal ini kemungkinan dilakukan karena proyek sedang berjalan. Ini jelas penyimpangan, meskipun uang tersebut nantinya dikembalikan ke kas daerah bila bersisa karena bunganya sudah dihilangkan, katanya. Yunus menjelaskan, hingga kini pihaknya menerima sekitar 413 laporan dugaan kasus pencucian uang di Indonesia. Dari jumlah itu, 100 kasus lebih sudah diproses oleh kepolisian dan kejaksaan. Sementara sekitar 30 kasus, pelakunya sudah divonis di pengadilan. Namun, dari 30 kasus yang sudah vonis itu, hanya 6 pelaku yang dijerat dengan undangundang tindak pidana pencucian uang, jelas Yunus Husein seraya mengemukakan, dari 6 kasus yang divonis lewat UU pencucian uang itu, 3 kasus di antaranya di Jakarta, 2 kasus di Jawa Tengah dan 1 kasus di Medan.

http://amandashely.blogspot.com/2011/05/analisis-penyimpangan-budget.html

Sementara Edwin Nurhadi dalam makalahnya menyampaikan, setiap lembaga penyedia jasa keuangan serta bea cukai wajib melaporkan kepada PPA TK tentang transaksi keuangan yang mencurigakan dan transaksi yang dilakukan secara tunai dengan nilai di atas Rp500 juta. Penyedia jasa keuangan ini di antaranya perbankan, bank perkreditan rakyat, perusahaan asuransi, perusahaan efek/sekuritas, perusahaan dana pensiun, perusahaan reksadana, kustodian maupun pedagang valuta asing. Namun ke depan, kita berharap bukan hanya lembaga jasa keuangan yang diwajibkan melaporkan, melainkan lembaga lainnya seperti kenotariatan, dealer mobil, properti dan lainnya. Sehingga celah pencucian uang semakin sempit, kata Edwin. Gubernur Sumatera Utara Drs Rudolf Pardede dalam sambutan tertulis dibacakan Asisten Ekbang Setdaprovsu Kasim Siyo MSi mengemukakan, semua pihak perlu mendorong kesadaran masyarakat atas keberadaan rezim (sistem) anti-pencucian uang di Indonesia. Hal ini sebagai bagian dari upaya menuju masyarakat yang berkehidupan perekonomian yang bersih. Karenanya, seluruh lapisan masyarakat baik secara langsung ataupun tidak hendaknya bisa berpartisipasi dalam melaksanakan anti pencucian uang ini, tegas Gubsu. Pencucian uang, kata Gubsu, merupakan salah satu kejahatan yang berdimensi internasional dan berdampak sangat negatif terhadap perekonomian bangsa. Oleh karenanya, semua pihak harus menaruh perhatian yang sangat serius untuk mencegah dan memberantas masalah ini. Bila ini dibiarkan akan dapat merongrong integritas pasar-pasar keuangan, serta akan timbul distorsi dan ketidakstabilan perekonomian, kata Gubsu pada kegiatan yang dilakukan atas kerjasama PPATK dan Badan Informasi dan Komunikasi Provsu.

I). MEMBACA DAN MENGANALIS ANGGARAN


a. Membaca APBD Dokumen yang terkait dengan APBD, RPJMD,Renstra SKPD RKPD, KUA, PPA, Renja SKPD, RKA-SKPD. Struktur APBD: Pendapatan, Belanja, dan Pembiayaan Pendapatan >Belanja = Surplus Pendapatan < Belanja = Defisit b. Pendapatan Semua penerimaan Kas Daerah dalam periode Tahun Anggaran tertentu yang menjadi hak Daerah Sumber: PAD DANA PERIMBANGAN LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH No. Urut 1 1 Uraian 2 PENDAPATAN DAERAH Jumlah 3

http://amandashely.blogspot.com/2011/05/analisis-penyimpangan-budget.html

1.1 1.1.1 1.1.2 1.1.3 1.1.4 1.2 1.2.1 1.2.2 1.2.3 1.3 1.3.1 1.3.2. 1.3.3 1.3.4 1.3.5

Pendapatan Asli Daerah Pajak daerah Retribusi daerah Hasil Kekayaan daerah yang dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Perimbangan Dana bagi hasil pajak/bagi hasil bukan pajak Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Lain-lain Pendapatan daerah yang sah Hibah Dana Darurat Dana bagi hasil pajak dari prop dan Pemda lainya Dana Penyesuaian otonomi khusus Bantuan keuangan dari prop dan Pemda lainnya Jumlah Pendapatan

J). FORMAT BELANJA


No Urut 1 2 2.1 2.1.1 2.1.2 2.1.3 2.1.4 2.1.5 2.1.6 2.1.7 2.1.8 2.2 2.2.1 2.2.2 2.2.3 Uraian 2 BELANJA DAERAH Belanja Tidak Langsung Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Hibah Belanja bantuan social Belanja bagi hasil kpd propinsi/kab/kota dan pemdes Belanja bantuan keuangan kepada propinsi/kab/kota dan pemdes Belanja tak terduga Belanja Langsung Belanja Pegawai Belanja Barang dan jasa Belanja modal Jumlah Belanja Surplus/(defisit) Jumlah 3

http://amandashely.blogspot.com/2011/05/analisis-penyimpangan-budget.html

A. Belanja Daerah Belanja Tidak Langsung belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan Belanja Langsung belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan Klasifikasi BelanjaOrganisasi, Fungsi, Program & Kegiatan, Jenis Belanja B. Belanja Langsung Belanja pegawaiHonorarium upah pelaksanaan kegiatan Belanja Barang Jasabarang yang nilai manfaatnya kurang 1 tahun, jasa melaksanakan program Belanja Modalaset dengan nilai manfaat lebih 1 tahun

K ). KOMPONEN PEMBIAYAAN:
No Urut 1 3 3.1 3.1.1 3.1.2 3.1.3 3.1.4 3.1.5 3.1.6 3.2 3.2.1 3.2.2 3.2.3 3.2.4 3.3 Uraian 2 PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Thn Anggaran Sebelumnya (SiLPA) Pencairan dana cadangan Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan Penerimaan pinjaman daerah Penerimaan kembali pemberian pinjaman Penerimaan piutang daerah Jumlah Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan Pembentukan dana cadangan Penyertaan modal pemerintah daerah Pembayaran pokok utang Pemberian pinjaman daerah Jumlah pengeluaran pembiayaan Pembiayaan neto Sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenaan (SiLPA) Jumlah 3

L ).

http://amandashely.blogspot.com/2011/05/analisis-penyimpangan-budget.html

CONTOH ANALISIS PENYIMPANGAN


Dibawah ini analisis penyimpangan biaya pada PT. Mely tahun 1995. Data perkiraan anggaran , realisasi, variance, favorable dan unfavorablea adalah , sbb : PT. MELY Analisis Variance Biaya Produksi No. Perkiraan Anggaran Realisasi Variance Keterangan Bahan Mentah dipakai 500.000 475.000 25.000 Favorable Upah Langsung 900.000 935.000 (35.000) Unfavorable Biaya Overhead: Bahan tidak langsung Upah tidak langsung Suku Cadangan Biaya Asuransi Air , Telpon dan Listrik Biaya Penyusutan Pajak pabrik Biaya Kantor Biaya pengangkutan Biaya umum Biaya Lain- lain 75.000 60.000 40.000 10.000 25.000 60.000 30.000 40.000 25.000 20.000 65.000 70.000 62.500

http://amandashely.blogspot.com/2011/05/analisis-penyimpangan-budget.html

35.000 8.000 27.500 64.000 28.000 39.000 36.000 25.000 70.000 5.000 (2.500) 5.000 2.000 (2.500) (4.000) 2.000 1.000 (11.000) (5.000) (5.000) Favorable Unfavorable Favorable Favorable Unfavorable Unfavorable Favorable Favorable Unfavorable Unfavorable Unfavorable Total Biaya Overhead Total Biaya Overhead 450.000 1.850.000 465.000 1.875.000 (15.000) (25.000) Unfavorable Unfavorable Dari analisis ini dapat kita lihat dari segi total biaya produksi maupun dari kelompok atas satu jenis perkiraan saja. Dari segi total biaya produksi PT. Ini mengalami keadaan yang tidak menguntungkan sebesar Rp. 25.000 , karena realisasi biaya lebih besar dari pada yang dianggarankan yaitu anggaran Rp.185.000 , sedangkan realisasi Rp. 1.875.000 . Penyimpangan sebesar Rp. 25.000 dapat diketahui sumbernya dengam melihat rincian perkiraan yang termasuk dala pos biaya produksi itu . Dari tabel analisis itu dapat kita lihat bahwa yang menimbulkan penyimpangan yang tidak menguntungkan adalah :

http://amandashely.blogspot.com/2011/05/analisis-penyimpangan-budget.html

Upah Langsung Rp. 35.000 Biaya Overhead Rp. 15.000 ---------------------------------------Total Unfavorable Rp. 50.000 Yang Favorable ; Bahan Mentah Rp. 25.000 ---------------------------------------Sisa Unfavorable Rp. 25.000 Untuk mengetahui masing-masing penyebab penyimpangan ini dapat dianalisis ke masingmasing pos atau perkiraaan sekaligus dapat diketahui siapa penanggungjawabnya. Misalnya kalau kita lihat biaya overhead maka kita dapat menghitung bahwa penyimpangan adalah Rp. 15.000, yang berasal dari berbagai pos sebagai berikut : Dari yang menguntungkan (favorable) adalah : Bahan tidak langsung Rp. 5.000 Suku cadang Biaya asuransi Pajak pabrik Biaya kantor Total favorable Rp. 5.000 Rp. 2.000 Rp. 2.000 Rp. 1.000 Rp. 15.000

Sedangkan unsur yang tidak menguntungkan adalah : Budgeting Peranggaran Perencanaan Upah tidak langsung Rp. 2.500 Air, telepon, listrik Biaya penyusutan Biaya umum Biaya lain-lain Rp. 2.500 Rp. 4.000 Rp. 5.000 Rp. 30.000

Biaya pengangkutan Rp. 11.000

Dari perbandingan antara favorable dan unfavorable pada biaya overhead diketahui bahwa lebih besar unfavorable sebesar Rp. 30.000 dikurangi favorable Rp. 15.000 menjadi Rp. 5.000 (unfavorable). Dalam penerapan anggaran yang efektif maka kedua jenis penyimpangan ini akan dianalisis. Yang favorable dianalisis untuk dicontoh sedangkan unfavorable dianalisis untuk

http://amandashely.blogspot.com/2011/05/analisis-penyimpangan-budget.html

menghindarinya dimasa yang akan datang dan sekaligus dimanfaatkan untuk menilai siapa yang akan diberikan reward atau yang tidak diberikan atau ditindak. Untuk mengetahui lebih pasti maka setiap pos biaya ataupun penghasilan dapat ditelusuri sampai ke akarnya. Dan jika diterapkan responsibility accounting system maka dengan mudah hal ini dapat diketahui dengan mudah dan cepat. Sebagai contoh kita analisis khusus biaya upah langsung sebagaiman dapat dilihat dalam table di atas. Total anggaran biaya upah langsung adalah Rp. 900.000,- sedangkan realisasi adalah Rp. 935.000,- berarti ada penyimpangan yang tidak menguntungkan (unfavorable variance) sebesar Rp. 35.000,karena realisasi biaya lebih besar dari anggaran nya. Setelah melihat pos maupun departemen yang mengeluarkan biaya upah langsung ini adalah persiapan, processing, dan finishing. Ternyata jika dianggap semua dalam keadaan normal maka departemen yang mampu memberikan penyimpangan yang menguntungkan hanya departemen processing yaitu sebesar Rp. 25.000,- Departemen lainnya menimbulkan variance yang tidak menguntungkan sebesar Rp. 60.000,- sehingga net unfavorable adalah Rp. 35.000,-. Tanpa melihat faktor lain yang mungkin mempengaruhi penyimpangan ini misalnya sesuatu yang dianggap uncontrollable atau externalities oleh cost centernya (departemen) maka layaklah departemen processing mendapat reward. Dari contoh berikutnya kita lihat berdasarkan jenis biaya bukan dari departemen. Misalnya kita ambil contoh biaya kantor. Biaya kantor ternyata favorable sebesar Rp. 1.000,-. Penyimpangan ini berasal dari penyimpangan yang menuntungkan : Konsumsi Rp. 500 Alat kantor Rp. 2.500 Total favorable Rp. 3.000 Penyimpangan yang tidak menguntungkan adalah : Perbandingan antara yang favorable dan unfavorable menjadi net penyimpangan favorable sebesar Rp. 1.000,-. Dari informasi ini dapat kita simpulkan bahwa biaya kertas dan fotokopi perlu mendapat ekstra perhatian agar penyimpangan ini tidak terjadi lagi. Menurut Harahap (2003 : 226), analisis variance ini dilakukan dengan maksud untuk : a. Mengetahui prestasi pusat pertanggungjawaban b. Untukmengetahui siapa yang akan diberikan penghargaan dan sanksi c. Sebagai bahan pengalaman untuk perbaikan operasi selanjutnya. Siapa yang akan dicontoh dan siapa yang tidak perlu dibantu mengatasi unfovarable.

http://amandashely.blogspot.com/2011/05/analisis-penyimpangan-budget.html

d. Untuk melihat pos-pos biaya yang perlu mendapat lampu kuning. e. Menjadi early warning system atas manajemen biaya dan hasil f. Sebagai bahan dalam kemungkinan revisi anggaran Analisis untuk pos-pos lainnya bisa dilakukan dengan metode tersebut sesuai dengan jenis pos dan pusat pertanggung jawaban, bagiannya baik cost center, revenue center, profit center, dan invesment center. Semakin mendetail dan akurat semakin baik. Dan perlu diingat bahwa obyektivitas dan ketelitian perlu diterapkan karena hal ini menyangkut prestasi dan penilaian seseorang yang dapat berdampak pada nasib orang dan akhir-akhirnya ke perilakunya. Sehingga bisa menimbulkan motivasi, demotivasi konstruksi atau destruktif.

Anda mungkin juga menyukai