Anda di halaman 1dari 9

INDONESIA PADA MASA DEMOKRASI LIBERAL Kelompok 2

A. Pengertian Liberalisme
a. Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik
yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama.

B. Pokok-Pokok Liberalisme
a. Kesempatan yang sama. b. menghilangkan egoisme individu c. Pemerintah harus mendapat persetujuan dari yang diperintah. d. Berjalannya hukum (The Rule of Law) e. Yang menjadi pemusatan kepentingan adalah individu.(The Emphasis of Individual) f. Negara hanyalah alat (The State is Instrument). g. Dalam liberalisme tidak dapat menerima ajaran dogmatisme (Refuse Dogatism)

C. Awal Mula masa Liberalisme


a. Setelah dibubarkannya RIS, sejak tahun 1950,Negara RI dan Negara bagian lainnya yang
sebelumnya terpecah (dulunya Negara Federal) dipersatukan kembali menjadi sebuah Negara Kesatuan.

b. Sistem pemerintahannya masih sama yaitu menggunakan demokrasi parlementer yang


Liberal dengan mencontoh sistem parlementer barat, sehingga masa ini disebut Masa demokrasi Liberal.

D. Periodisasi Kabinet
a. Pada masa demokrasi liberal, terjadi banyak pergantian kabinet diakibatkan situasi
politik yang tidak stabil. Tercatat ada 7 kabinet pada masa ini yaitu: 1950-1951 Kabinet Natsir 1951-1952 Kabinet Sukiman-Suwirjo 1952-1953 Kabinet Wilopo 1953-1955 Kabinet Ali Sastroamidjojo I 1955-1956 Kabinet Burhanuddin Harahap Kelompok 2 | INDONESIA PADA MASA DEMOKRASI LIBERAL 1

1956-1957 Kabinet Ali Sastroamidjojo II 1957-1959 Kabinet Djuanda

b. Kabinet Natsir
memerintah antara tanggal 6 September 1950 20 Maret 1951. Dipimpin Oleh : Muhammad Natsir kabinet pertama yang membentuk NKRI merupakan kabinet koalisi yang dipimpin oleh Masyumi dan PNI sebagai partai kedua terbesar menjadi oposisi. PNI menolak ikut serta dalam komite karena merasa tidak diberi kedudukan yang tepat sesuai dengan kekuatannya. Tokoh-tokoh terkenal yang mendukung kabinet ini adalah Sri Sultan HB IX, Mr. Asaat, Mr. Moh Roem, Ir Djuanda dan Dr. Sumitro Djojohadikusuma. Program Kabinet : 1. Menggiatkan usaha keamanan dan ketentraman. 2. Mencapai konsolidasi dan menyempurnakan susunan pemerintahan. 3. Menyempurnakan organisasi Angkatan Perang. 4. Mengembangkan dan memperkuat ekonomi rakyat. 5. Memperjuangkan penyelesaian masalah Irian Barat. Hasil : 1. Berlangsung perundingan antara Indonesia-Belanda untuk pertama kalinya mengenai masalah Irian Barat. Kendala/ Masalah yang dihadapi : 1. Upaya memperjuangkan masalah Irian Barat dengan Belanda mengalami jalan buntu (kegagalan). 2. Timbul masalah keamanan dalam negeri yaitu terjadi pemberontakan hampir di seluruh wilayah Indonesia, seperti Gerakan DI/TII, Gerakan Andi Azis, Gerakan APRA, Gerakan RMS. Berakhirnya kekuasaan kabinet : 1. Adanya mosi tidak percaya dari PNI menyangkut pencabutan Peraturan Pemerintah mengenai DPRD dan DPRDS. PNI menganggap peraturan pemerintah No. 39 th 1950 mengenai DPRD terlalu menguntungkan Masyumi. Mosi tersebut disetujui parlemen sehingga Natsir harus mengembalikan mandatnya kepada Presiden.

c. Kabinet Sukiman-Suwirjo
27 April 1951 3 April 1952 Kelompok 2 | INDONESIA PADA MASA DEMOKRASI LIBERAL 2

Merupakan kabinet koalisi antara Masyumi dan PNI. Dipimpin Oleh: Sukiman Wiryosanjoyo Program : 1. Menjamin keamanan dan ketentraman 2. Mengusahakan kemakmuran rakyat dan memperbaharui hukum agraria agar sesuai dengan kepentingan petani. 3. Mempercepat persiapan pemilihan umum. 4. Menjalankan politik luar negeri secara bebas aktif serta memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah RI secepatnya. Hasil : 1. Tidak terlalu berarti sebab programnya melanjtkan program Natsir hanya saja terjadi perubahan skala prioritas dalam pelaksanaan programnya, seperti awalnya program Menggiatkan usaha keamanan dan ketentraman selanjutnya diprioritaskan untuk menjamin keamanan dan ketentraman Kendala/ Masalah yang dihadapi : 1. Adanya krisis moral yang ditandai dengan munculnya korupsi yang terjadi pada setiap lembaga pemerintahan dan kegemaran akan barang-barang mewah. 2. Penerimaan bantuan ekonomi dan militer dari pemerintah Amerika oleh Indonesia berdasarkan ikatan Mutual Security Act (MSA). Tindakan Sukiman tersebut dipandang telah melanggar politik luar negara Indonesia yang bebas aktif karena lebih condong ke blok barat. Berakhirnya kekuasaan kabinet : 1. Muncul pertentangan dari Masyumi dan PNI atas tindakan Sukiman sehingga mereka menarik dukungannya pada kabinet tersebut. DPR akhirnya menggugat Sukiman dan terpaksa Sukiman harus

mengembalikan mandatnya kepada presiden.

d. Kabinet Wilopo
3 April 1952 3 Juni 1953 Kabinet ini merupakan zaken kabinet yaitu kabinet yang terdiri dari para pakar yang ahli dalam biangnya. Dipimpin Oleh : Mr. Wilopo Program :

Kelompok 2 | INDONESIA PADA MASA DEMOKRASI LIBERAL

1. Program

dalam

negeri

Menyelenggarakan

pemilihan

umum

(konstituante, DPR, dan DPRD), meningkatkan kemakmuran rakyat, meningkatkan pendidikan rakyat, dan pemulihan keamanan. 2. Program luar negeri : Penyelesaian masalah hubungan Indonesia-Belanda, Pengembalian Irian Barat ke pangkuan Indonesia, serta menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif. Hasil : Tidak Ada hasil yang cukup signifikan Kendala/ Masalah yang dihadapi : 1. Adanya kondisi krisis ekonomi 2. Terjadi defisit kas negara 3. Munculnya gerakan sparatisme dan sikap provinsialisme 4. Terjadi peristiwa 17 Oktober 1952. Merupakan upaya pemerintah untuk menempatkan TNI sebagai alat sipil sehingga muncul sikap tidak senang dikalangan partai politik sebab dipandang akan membahayakan kedudukannya. Peristiwa ini diperkuat dengan munculnya masalah intern dalam TNI sendiri yang berhubungan dengan kebijakan KSAD A.H Nasution yang ditentang oleh Kolonel Bambang Supeno Berakhirnya kekuasaan kabinet : 1. kibat peristiwa Tanjung Morawa muncullah mosi tidak percaya dari Serikat Tani Indonesia terhadap kabinet Wilopo.

e. Kabinet Ali Sastroamidjojo I


31 Juli 1953 12 Agustus 1955 Kabinet ini merupakan koalisi antara PNI dan NU. Dipimpin Oleh : Mr. Ali Sastroamijoyo Program : 1. Meningkatkan keamanan dan kemakmuran serta segera

menyelenggarakan Pemilu. 2. Pembebasan Irian Barat secepatnya. 3. Pelaksanaan politik bebas-aktif dan peninjauan kembali persetujuan KMB. 4. Penyelesaian Pertikaian politik Hasil : 1. Persiapan Pemilihan Umum untuk memilih anggota parlemen yang akan diselenggarakan pada 29 September 1955. 2. Menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955. Kelompok 2 | INDONESIA PADA MASA DEMOKRASI LIBERAL 4

Kendala/ Masalah yang dihadapi : 1. Menghadapi masalah keamanan, seperti DI/TII di Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Aceh. 2. Terjadi peristiwa 27 Juni 1955 suatu peristiwa yang menunjukkan adanya kemelut dalam tubuh TNI-AD 3. Keadaan ekonomi yang semakin memburuk 4. Memudarnya kepercayaan rakyat terhadap pemerintah 5. Munculnya konflik antara PNI dan NU Berakhirnya kekuasaan kabinet : 1. Nu menarik dukungan dan menterinya dari kabinet sehingga keretakan dalam kabinetnya inilah yang memaksa Ali harus mengembalikan mandatnya pada presiden.

f. Kabinet Burhanuddin Harahap


12 Agustus 1955 24 Maret 1956 Dipimpin Oleh : Burhanuddin Harahap Program : 1. Mengembalikan kewibawaan pemerintah, yaitu mengembalikan

kepercayaan Angkatan Darat dan masyarakat kepada pemerintah. 2. Melaksanakan pemilihan umum menurut rencana yang sudah ditetapkan dan mempercepat terbentuknya parlemen baru 3. Masalah desentralisasi, inflasi, pemberantasan korupsi 4. Politik Kerjasama Asia-Afrika berdasarkan politik luar negeri bebas aktif. Hasil : 1. Penyelenggaraan pemilu pertama yang demokratis pada 29 September 1955 2. Perjuangan Diplomasi Menyelesaikan masalah Irian Barat dengan pembubaran Uni Indonesia-Belanda. 3. Pemberantasan korupsi 4. Terbinanya Burhanuddin. 5. Menyelesaikan masalah peristiwa 27 Juni 1955 dengan mengangkat Kolonel AH Nasution sebagai Staf Angkatan Darat pada 28 Oktober 1955. Kendala/ Masalah yang dihadapi : hubungan antara Angkatan Darat dengan Kabinet

Kelompok 2 | INDONESIA PADA MASA DEMOKRASI LIBERAL

1. Banyaknya

mutasi

dalam

lingkungan

pemerintahan

dianggap

menimbulkan ketidaktenangan. Berakhirnya kekuasaan kabinet : 1. Dengan berakhirnya pemilu maka tugas kabinet Burhanuddin dianggap selesai. Pemilu tidak menghasilkan dukungan yang cukup terhadap kabinet sehingga kabinetpun jatuh. Akan dibentuk kabinet baru yang harus bertanggungjawab pada parlemen yang baru pula.

g. Kabinet Ali Sastroamidjojo II


20 Maret 1956 4 Maret 1957 Kabinet ini merupakan hasil koalisi 3 partai yaitu PNI, Masyumi, dan NU. Dipimpin Oleh : Ali Sastroamijoyo Program kabinet ini disebut Rencana Pembangunan Lima Tahun yang memuat program jangka panjang, sebagai berikut. 1. Perjuangan pengembalian Irian Barat 2. Pembentukan daerah-daerah otonomi dan mempercepat terbentuknya anggota-anggota DPRD. 3. Mengusahakan perbaikan nasib kaum buruh dan pegawai. 4. Menyehatkan perimbangan keuangan negara. 5. Mewujudkan perubahan ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional berdasarkan kepentingan rakyat. program pokoknya 1. Pembatalan KMB, 2. Pemulihan keamanan dan ketertiban, pembangunan lima tahun, menjalankan politik luar negeri bebas aktif, 3. Melaksanakan keputusan KAA. Hasil : 1. Mendapat dukungan penuh dari presiden dan dianggap sebagai titik tolak dari periode planning and investment, hasilnya adalah Pembatalan seluruh perjanjian KMB. Kendala/ Masalah yang dihadapi: 1. Berkobarnya semangat anti Cina 2. Muncul pergolakan/kekacauan di daerah 3. Pembatalan KMB oleh presiden 4. Timbulnya perpecahan antara Masyumi dan PNI Kelompok 2 | INDONESIA PADA MASA DEMOKRASI LIBERAL 6

5. Mundurnya sejumlah menteri dari Masyumi

h. Kabinet Djuanda
9 April 1957- 5 Juli 1959 Kabinet ini merupakan zaken kabinet yaitu kabinet yang terdiri dari para pakar yang ahli dalam bidangnya Dipimpin Oleh : Ir. Juanda Programnya disebut Panca Karya sehingga sering juga disebut sebagai Kabinet Karya, programnya yaitu : 1. Membentuk Dewan Nasional 2. Normalisasi keadaan Republik Indonesia 3. Melancarkan pelaksanaan Pembatalan KMB 4. Perjuangan pengembalian Irian Jaya 5. Mempergiat/mempercepat proses Pembangunan Hasil : 1. Mengatur kembali batas perairan nasional Indonesia melalui Deklarasi Djuanda 2. Terbentuknya Dewan Nasional sebagai badan yang bertujuan menampung dan menyalurkan aspirasi 3. Mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) untuk meredakan pergolakan di berbagai daerah. 4. Diadakan Musyawarah Nasional Pembangunan untuk mengatasi masalah krisis dalam negeri tetapi tidak berhasil dengan baik. Kendala/ Masalah yang dihadapi : 1. Munculnya pemberontakan seperti PRRI/Permesta. 2. Keadaan ekonomi dan keuangan yang semakin buruk 3. Terjadi peristiwa Cikini, yaitu peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno di depan Perguruan Cikini saat sedang menghadir pesta sekolah tempat putra-purinya bersekolah pada tanggal 30 November 1957. Peristiwa ini menyebabkan keadaan negara semakin memburuk karena mengancam kesatuan negara. Berakhirnya kekuasaan kabinet : 1. Berakhir saat presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan mulailah babak baru sejarah RI yaitu Demokrasi Terpimpin.

E. Pemilu 1955
Kelompok 2 | INDONESIA PADA MASA DEMOKRASI LIBERAL 7

a. Ini merupakan pemilu Indonesia yang pertama dalam sejarah bangsa Indonesia. Waktu
itu Republik Indonesia berusia 10 tahun.

b. Pemilu 1955 sering kali disebut sebagai pemilu paling demokratis c. Pemilu ini bertujuan untuk memilih anggota-anggotaDPR dan Konstituante. d. Jumlah kursi DPR yang diperebutkan berjumlah 260, sedangkan kursi Konstituante
berjumlah 520

e. Pemilu ini dipersiapkan di bawah pemerintahan Perdana Mentri Ali Sastroanidjojo f. Sesuai tujuannya, Pemilu 1955 ini dibagi menjadi dua tahap, yaitu:
Tahap pertama adalah Pemilu untuk memilih anggota DPR. Tahap ini diselenggarakan pada tanggal 29 September 1955, dan diikuti oleh 29 partai politik dan individu. Tahap kedua adalah Pemilu untuk memilih anggota Konstituante. Tahap ini diselenggarakan pada tanggal 15 Desember 1955.

g. Lima besar dalam pemilu 1955:


Partai Nasional Indonesia Masyumi Nahdlatul Ulama Partai Komunis Indonesia Partai Syarikat Islam (22,3 persen) (20,9 persen) (18,4 persen) (16,4 persen) (2,89 persen)

F. Konstituante
a. Konstituante adalah lembaga negara Indonesia yang ditugaskan untuk membentuk
Undang-Undang Dasar atau konstitusi baru untuk menggantikan UUDS 1950.

b. Pembentukan UUD baru ini diamanatkan dalam Pasal 134 UUDS 1950. c. Konstituante beranggotakan 550 orang d. Sejak itu diadakanlah pemungutan suara untuk menentukan Indonesia kembali ke UUD
1945.

e. Dari 3 pemungutan suara yang dilakukan, sebenarnya mayoritas anggota menginginkan


kembali ke UUD 1945, namun terbentur dengan jumlah yang tidak mencapai 2/3 suara keseluruhan

f. Keadaan gawat inilah yang menyebabkan Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli
1959 dan membubarkan lembaga konstituante.

G. Dekrit Presiden
Kelompok 2 | INDONESIA PADA MASA DEMOKRASI LIBERAL 8

a. Dekrit Presiden 5 Juli 1959 adalah dekrit yang dikeluarkan oleh Presiden Indonesia yang
pertama, Soekarno.

b. diumumkan dalam upacara resmi di Istana Merdeka c. Isi dari Dekret tersebut antara lain:
Pembubaran Konstituante Pemberlakuan kembali UUD 1945 dan tidak berlakunya UUDS Pembentukan MPRS dan DPAS dalam waktu yang sesingkat-singkatnya

H. Masa Setelah munculnya dekrit presiden


a. Jenderal Nasution, kepala staf Angkatan Darat, mengeluarkan maklumat mendukung
Dekrit Presidan 5 Juli 1959.

b. Kemudian Mahkamah Agung mengeluarkan pernyataan yang membenarkan dekrit


tersebut dengan membubarkan Konstituante hasil Pemilu 1955.

c. Lima hari setelah Dekrit Presiden, pada 10 Juli 1959 dilantiklah Kabinet Juanda (Kabinet
Karya).

d. Pada 22 Juli 1959, DPR hasil pemilu pertama secara aklamasi menyatakan kesediaannya
untuk bekerja terus berdasarkan UUD 1945.

e. Demokrasi Terpimpin ini berlangsung hingga terjadinya tragedi G30S/PKI 1965.

Kelompok 2 | INDONESIA PADA MASA DEMOKRASI LIBERAL

Beri Nilai