Anda di halaman 1dari 16

REVISI TUGAS MAKALAH PERUNDANG-UNDANGAN KEBIJAKAN DAN PEMBANGUNAN PETERNAKAN Pemalsuan Daging Sapi

Di Susun Oleh: 1. Endah Dwi Jayanti 2. Fernandy Dwi Satria 3. Ilham Cendikia H 0509027 H 0509031 H 0509033

JURUSAN PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012

BAB I PENDAHULUAN Kebutuhan pangan asal hewan dari hari ke hari terus bertambah seiring dengan kesadaran masyarakat terhadap manfaat gizi bagi kehidupan manusia. Peranan protein hewani terutama daging cukup penting dalam rangka mencapai standar kelayakan gizi. Perubahan pola konsumsi serta selera masyarakat, menyebabkan kebutuhan bahan pangan hewani sebagai kebutuhan primer yang harus dipenuhi untuk hidup cerdas, sehat, kreatif dan produktif sehingga peningkatan konsumsi protein hewani tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumberdaya manusia Indonesia. Seiring dengan perkembangan tersebut keamanan pangan asal hewan juga tidak lepas dari perhatian konsumen. Keamanan pangan didefinisikan sebagai kondisi dan upaya yang diperlukan untuk pencegahan pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan bahan lain yang dapat menganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia (Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun

2004). Pemerintah dalam merealisasikan penyediaan daging yang aman menetapkan sebagai daging ASUH (aman,sehat,utuh dan halal). Aman berarti daging daging tidak mengandung bahaya yang dapat menimbulkan penyakit dan mengganggu kesehatan manusia. Sehat berarti daging memiliki zat-zat yang berguna bagi kesehatan dan pertumbuhan tubuh. Utuh berarti daging tidak dikurangi atau dicampur dengan bagian lain hewan tersebut ataupun bagian dari hewan lain. Halal berarti hewan dipotong dan ditangani sesuai syariat agama islam, selain itu pangan yang halal diartikan sebagai bahan pangan yang tidak mengandung bahan haram. Seiring dengan permintaan yang meningkat, maka wajar jika hargaharga kebutuhan pokok melonjak jauh, sebagai contoh di bulan Ramadhan terlihat sekali betapa konsumtifnya masyarakat kita. Terutama untuk membelanjakan bahan kebutuhan pokok (pangan). Kenyataan di lapangan walaupun harga kebutuhan pokok naik ternyata tidak mengurangi minat masyarakat untuk membeli. Meningkatnya permintaan akan kebutuhan pokok terutama pangan

terkadang dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab untuk memperoleh keuntungan dalam jumlah besar secara instan. Salah satunya adalah menjual bahan pangan asal hewan yang tidak sehat dan tidak aman. Hampir setiap Ramadhan datang kita dihadapkan pada temuan seperti penjualan daging sapi glonggongan ataupun pemalsuan daging sapi yang dicampur atau digantikan daging babi.

BAB II PEMBAHASAN A. Pemalsuan antara daging babi dan sapi Banyaknya permintaan daging sapi menyebabkan para pedagang yang melakukan kecurangan, misalnya saja saat-saat menjelang lebaran, begitu banyak daging sapi oplos daging babi karena para pedagang menginginkan keuntungan yang berlebih tanpa memikirkan para pembeli, sehingga para pembeli harus benar-benar jeli dalam memilih dan membedakan mana yang daging babi dan mana yang sapi. Daging oplosan umumnya muncul dan diperdagangkan di pasar tradisional, di luar kios resmi penjualan dengan harga lebih murah. Ada beberapa perbedaan mendasar antara daging babi dan sapi. Menurut Dr. Ir. Joko Hermanianto (ahli daging di Dep. Ilmu dan Teknologi Pangan, Fateta, IPB), secara kasat mata ada lima aspek yang terlihat berbeda antara daging babi dan sapi yaitu warna, serat daging, tipe lemak, aroma dan tekstur. 1. Warna Daging babi memiliki warna yang lebih pucat dari daging sapi (Gambar 1), warna daging babi mendekati warna daging ayam. Namun perbedaan ini tak dapat dijadikan pegangan, karena warna pada daging babi oplosan biasanya dikamuflase dengan pelumuran darah sapi, walau kamuflase in dapat dihilangkan dengan perendaman dengan air. Selain itu, ada bagian tertentu dari daging babi yang warnanya mirip sekali dengan daging sapi sehingga sangat sulit membedakannya.

2.

Serat Daging Terlihat perbedaan serat daging yang jelas antara kedua daging. Serat-serat daging sapi tampak padat dan garis-garis serat terlihat jelas. Sedangkan pada daging babi, serat-seratnya terlihat samar dan sangat renggang. Perbedaan ini semakin jelas ketika kedua daging direnggangkan bersama (Gambar 2).

3.

Penampakan Lemak Perbedaan terdapat pada tingkat keelastisannya. Daging babi memiliki tekstur lemak yang lebih elastis sementara lemak sapi lebih kaku dan berbentuk. Selain itu lemak pada babi sangat basah dan sulit dilepas dari dagingnya sementara lemak daging agak kering dan tampak berserat (Gambar 3). Namun kita harus hati-hati pula bahwa pada bagian tertentu seperti ginjal, penampakkan lemak babi hampir mirip dengan lemak sapi.

4.

Tekstur Daging sapi memiliki tekstur yang lebih kaku dan padat dibanding dengan daging babi yang lembek dan mudah diregangkan (Gambar 4). Melalui perbedaan ini sebenarnya ketika kita memegangnya pun sudah terasa perbedaan yang nyata antar keduanya karena terasa sekali daging babi sangat kenyal dan mudah diregangkan (elastis). Sementara daging sapi terasa solid dan keras sehingga cukup sulit untuk diregangkan.

5.

Aroma Terdapat sedikit perbedaan antara keduanya. Daging babi memiliki aroma khas tersendiri, sementara aroma daging sapi adalah anyir seperti

yang telah kita ketahui. Segi bau inilah yang -menurut pak Jokosebenarnya senjata paling ampuh untuk membedakan antar kedua daging ini. Karena walaupun warna telah dikamuflase dan dicampur antar keduanya, namun aroma kedua daging ini tetap dapat dibedakan. Sayangnya kemampuan membedakan melalui aromanya ini membutuhkan latihan yang berulang-ulang karena memang perbedaannya tidak terlalu signifikan. B. Contoh Kasus Pemalsuan Daging Sapi Dendeng sapi diisi dengan daging babi, dan pemalsuan abon sapi yang ternyata daging babi yang dijadikan abon. Contoh kasus : kasus- kasus seperti ini marak ketika menjelang hari raya Idul Fitri Atau saat Bulan Ramadhan. WONOSARI - Hasil inspeksi mendadak (sidak) dinas Peternakan Gunung kidul kemarin (27/7) menemukan daging sapi yang diduga bercampur daging babi. Selain itu, ditemukan sekitar dua kilogram daging sapi busuk dan tidak layak konsumsi namun tetap dijual. Sidak tersebut menyasar ke sejumlah pasar meliputi Argosari Wonosari, Pasar Playen, dan Pasar Karangmojo. Karena tindakan yang dilakukan petugas ini sifatnya mendadak, tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Tidak mengherankan, sidak usai sahur itu membuat pedagang gugup bahkan menutup-nutupi kualitas daging siap jual. Pemerintah berharap masyarakat tidak tertipu membeli daging yang telah rusak, Yudi menjelaskan ciri-ciri daging yang baik. Diantaranya, dagingnya tidak berair, berwarna merah segar, serabutnya halus, memiliki aroma daging yang khas, lemaknya sedikit, serta cara penjualannya digantung. "Kalau daging gelonggongan penjual tidak berani menggantung dagingnya, karena kandungan airnya banyak," ujar Yudi Broto. Selain itu, Yudi juga menghimbau agar masyarakat membeli daging di kios resmi yang terjamin kualitas dagingnya. Selain itu juga rawan adanya pemalsuan daging sapi dengan daging babi yang harganya jauh lebih murah, yaknis sekitar Rp 50 ribu per kilogramnya. "Banyak masyarakat yang tertipu daging sapi dengan daging babi. Untuk itu, harus teliti membeli daging. Kios yang baik itu memiliki kamar

daging untuk menjaga kualitasnya tetap terjaga," pungkas Yudi. Seperti diberitakan sebelumnya, Dinas Pertanian Kota Malang melalui bidang peternakan menggelar inspeksi mendadak (sidak) pada puluhan penjual daging sapi, daging ayam, dan telur ayam. Hal itu dilakukan untuk mengetahui kualitas daging yang dijual di pasaran. Bahkan petugas Dinas Pertanian juga mengambil sejumlah sample untuk diteliti di laboratorium guna mengetahui kondisi daging yang dijual di pasaran. Pemalsuan makanan dendeng sapi diisi dengan daging babi. Sungguh tak mudah bagi konsumen di tanah air untuk memilih makanan yang baik dan berkualitas , mengingat banyaknya produsen makanan nakal yang tak jujur. Karena ingin mendapatkan laba tinggi dan cepat laku, makanan yang tak memenuhi standar dikemas sedemikian rupa sehingga kelihatan layak. Dan yang lebih menguatirkan, kandungan yang jelas haram bagi umat islam disesatkan informasinya dan diberi label halal (labelnya juga palsu). Seperti penjelasan pers Badan POM Senin 1 Juni 2009. Kepala Badan POM dr. Husniah Rubiana Thamrin Akib, mengumumkan kepada wartawan bahwa Badan POM telah melakukan sampling lanjutan atas 34 produk olahan daging yang terdiri atas 14 dendeng sapi dan 20 abon sapi. Ternyata Empat dendeng positif mengandung DNA babi. Ternyata, produk dabadisa (daging babi disebut sapi) ini tidak hanya dijual dipasar-pasar tradisionil, tapi juga di retail modern seperti Carefour di Bandung. Uniknya, semua dendeng tersebut memiliki nomor pendaftaran dari dinas kesehatan dan mencantumkan logo halal tanpa sertifikasi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Keempat produk tersebut ialah Dendeng Sapi Dua Daun Cabe Kwalitet Istimewa (200 gram), Dendeng Sapi Brenggolo Kwalitet Istimewa (200 gram), Dendeng Sapi Brenggolo Kwalitet Istimewa-Giling (200 gram) dan Dendeng/Abon Sapi Spesial Produk Dua Dinar (80 gram). Dendeng Dua Dinar dibuat UD Bahagia Bagyo di Sleman, Yogyakarta. Dendeng Brenggolo dibuat di Solo. Selanjutnya Ka. Badan POM mengatakan, untuk melindungi masyarakat dari mengonsumsi produk yang bisa merugikan masyarakat muslim, pihaknya

sudah memerintahkan Balai Pengawas Obat dan Makanan di seluruh Indonesia untuk menarik dan memusnahkan produk olahan daging dengan merek tersebut.(apotekputer.com) C. Pelanggaran UU perlindungan konsumen Tindakan produsen yang sudah memalsukan daging tersebut jelas telah melanggar Undang-undang (UU) Perlindungan Konsumen Tahun 1999. Para produsen telah membohongi seluruh konsumen yang sudah membeli di produsen tersebut. Bahkan pelaku telah melanggar 3 UU sekaligus, yaitu UU perlindungan konsumen pasal 61, pasal 62, dan pasal 63, yaitu tentang standardisasi produk yang dilegalkan. Selain itu, kasus tersebut pun jelas merupakan tindak pidana, sebagaimana yang diatur dalam KUHP pasal 378 tentang penipuan. Ini jelas penipuan, karena ada label halal pada kemasannya, sementara isinya mengandung daging babi. Banyaknya kasus penipuan seperti ini menunjukkan masih lemahnya UU perlindungan konsumen. Untuk mengantisipasinya perlu dibentuk Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) di setiap wilayah. Saat ini BPKN hanya ada di Jakarta. BPKN sebenarnya adalah wadah yang menghimpun berbagai instansi yang berhubungan dengan masalah perlindungan konsumen. Keamanan pangan juga merupakan bagian penting dalam UndangUndang Pangan No 7 tahun 1996. Di samping itu juga telah ada UndangUndang No 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen yang dapat menjadi landasan hukum bagi pemberdayaan dan perlindungan konsumen dalam memperoleh haknya atas pangan yang aman. Undang-undang mengenai perlindungan konsumen diatur dalam UU No. 8 tahun 1999,selain pasal 61, pasal 62, dan pasal 63 ada lagi diantaranya adalah: 1. Bab II : Asas dan tujuan Pasal 3 bagian D : menciptakan system perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi. 2. Bab III : Hak dan Kewajiban

Pasal 4 hak konsumen : bagian A : hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang atau jasa. 3. Bab VI : Tanggung jawab pelaku usaha Pasal 19 : Bagian 1 : pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan ,pencemaran, dan / atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan / atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan. Bagian 2 : Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian uang atau penggantian barang dan / atau jasa yang sejenis atau setara nilainya, atau perawatan kesehatan dan / atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan yang berlaku. Bagian 3 : pemberian ganti rugi sebagaiman dimaksud pada ayat ( 1) dab ayat (2) tidak menghapus kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasarkan pembuktian lebih lanjut mengenai adanya unsure kesalahan. 4. Bab VII : Pembinaan dan pengawasan Pasal 29 : Bagian 1 : pemerintah bertanggung jawab atas pembinaan penyelengaraan perlindungan konsumen yang menjamin diperolehnya hak konsumen dan pelaku usaha serta dilaksanakannya kewajiaban konsumen dan pelaku usaha. Bagian 2 : Pembinaan oleh pemerintah atas penyelenggaraan perlindungan konsumen sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1 ) dilaksanakan oleh mentri dan / atau mentri teknis terkait.

D. Kebijakan Pemerintah Tentang Pemalsuan Daging Sapi Pemalsuan daging sapi melanggar undang-undang no.18 tahun 2009

tentang peternakan dan kesehatan hewan dijelaskan pada : 1. Pasal 3 Melindungi, mengamankan, dan/atau menjamin wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari ancaman yang dapat mengganggu kesehatan atau kehidupan manusia, hewan, tumbuhan dan lingkungan. 2. Pasal 56

10

Kesehatan masyarakat veteriner merupakan penyelenggaraan kesehatan hewan dalam bentuk: a. pengendalian dan penanggulangan zoonosis; b. penjaminan keamanan, kesehatan, keutuhan, dan kehalalan produk hewan; c. penjaminan higiene dan sanitasi; d. pengembangan kedokteran perbandingan; dan e. penanganan bencana. 3. Pasal 58 a. Dalam rangka menjamin produk hewan yang aman, sehat, utuh, dan halal, Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya melaksanakan pengawasan, pemeriksaan, pengujian, standardisasi, sertifikasi, dan registrasi produk hewan. b. Pengawasan dan pemeriksaan produk hewan berturut-turut dilakukan di tempat produksi, pada waktu pemotongan, penampungan, dan pengumpulan, pada waktu dalam keadaan segar, sebelum pengawetan, dan pada waktu peredaran setelah pengawetan. c. Standardisasi, sertifikasi, dan registrasi produk hewan dilakukan terhadap produk hewan yang diproduksi di dan/ atau dimasukkan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk diedarkan dan/atau dikeluarkan dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. d. Produk hewan yang diproduksi di dan/atau dimasukkan ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk diedarkan wajib disertai sertifikat veteriner dan sertifikat halal. e. Pasal 64 Pemerintah dan pemerintah daerah mengantisipasi ancaman terhadap kesehatan masyarakat yang ditimbulkan oleh hewan dan/atau perubahan lingkungan sebagai dampak bencana alam yang memerlukan kesiagaan dan cara penanggulangan terhadap zoonosis, masalah higiene dan sanitasi lingkungan.

11

E. Sanksi terhadap pelanggaran terhadap pedagang yang memalsukan daging Ancaman penjara selama 1 tahun atau denda sebesar Rp 120 juta jika melanggar Undang-Undang (UU) Perlindungan Konsumen No 8/1999. Melanggar pasal 58 undang-undang No. 18 Tahun 2009 adalah mendapatkan sanksi adminiftratif dan denda paling sedikit Rp5.000.000,00 (lima juta

rupiah) dan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Sanksi administratif tersebut berupa : a. peringatan secara tertulis; b. penghentian sementara dari kegiatan, produksi, dan/atau peredaran; c. pencabutan nomor pendaftaran dan penarikan obat hewan, pakan, alat dan mesin, atau produk hewan dari peredaran; pencabutan izin; atau pengenaan denda.

12

13

BAB III KESIMPULAN

Pemalsuan daging sapi biasanya marak ketika menjelang hari raya Idul Fitri, Bulan Ramadhan Atau saat hari besar lainnya. Tingginya permintaan, kelangkaan daging di pasar juga dapat memunculkan tindak kecurangan seperti pemalsuan daging. Perlunya pengetahuan mengenai perbedaan antara daging babi dan sapi yaitu warna, serat daging, tipe lemak, aroma dan tekstur. Tindakan produsen yang sudah memalsukan daging melanggar Undangundang Perlindungan Konsumen Tahun 1999 yaitu pasal 61, pasal 62, dan pasal 63, yaitu tentang standardisasi produk yang dilegalkan. undang-undang no.18 tahun 2009 pasal 3, 56, 58, 64. Sanksi bagi pelaku yang terbukti berupa sanksi administratif maupun pidana. Ancaman penjara selama 1 tahun atau denda sebesar Rp 120 juta jika melanggar Undang-Undang Perlindungan Konsumen No 8/1999. Undang-undang No. 18 Tahun 2009 pasal 58 menyatakan sanksi administratif dan denda paling sedikit Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah) dan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Sanksi administratif tersebut berupa : d. peringatan secara tertulis; e. penghentian sementara dari kegiatan, produksi, dan/atau peredaran; f. pencabutan nomor pendaftaran dan penarikan obat hewan, pakan, alat dan mesin, atau produk hewan dari peredaran; pencabutan izin; atau pengenaan denda.

13

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2012.http://www.radarjogja.co.id/kulon-pr...ging-babi.html. Di akses pada hari rabu 7 november 2012 pukul 20.10 WIB Anonim.2012.http://apotekputer.com/ma/index.php?option=com_content&task=vi ew&id=153&Itemid=51 Di akses pada hari rabu 7 november 2012 pukul 20.11 WIB Anonim.2012.http://indonesiancommunity.multiply.com/notes/item/280?&show_i nterstitial=1&u=%2Fnotes%2Fitem. Di akses pada hari rabu 7 november 2012 pukul 20.10 WIB Anonim.2012.http://www.beritajatim.com/detailnews.php/6/Politik_&_Pemerinta han/2012_027/142308/Warga_Kota_Malang_Dihimbau_Waspada_Daging _Rusak. Di akses pada hari rabu 7 november 2012 pukul 20.10 WIB Disnak. 2012. http://disnak.pamekasankab.go.id/index.php/info-teknologipeternakan/152-jenis-jenis-penyimpangan-pada-daging. Di akses pada hari rabu 7 november 2012 pukul 20.10 WIB Siamsul B., S.Yulvian.,dan Indraningsih. 2005. Beberapa Faktor yang mempengaruhi keamanan pangan asal ternak di Indonesia. Bogor Undang-undang no. 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Undang undang no. 8 1999 tentang perlindungan konsumen.

14

Pertanyaan 1. Pemalsuan selain daging sapi ? Jawab: Contoh pemalsuan selain daging sapi yang mudah kita jumpai seperti penjual sate kelinci di tempat wisata sarangan atau tawangmangu, beberapa pedagang yang curang memanfaatkan daging ayam untuk menggantikan daging kelinci, sedangkan mereka memasang nama dagangan mereka dengan sate daging kelinci, ini termasuk pemalsuan langsung hingga produk siap saji. Pemalsuan yang dilakukan memang tidak sampai pada tahap merugikan kesehatan konsumen, namun hanya sampai kepada penipuan isi produk yang dijual. 2. Kasus pemalsuan daging masihkah berpeluang muncul kembali ? Jawab: kemungkinan masih ada ini didasari dengan kondisi pasar tak stabil, harga daging tinggi (sehingga permintan tinggi), kurangnya pengawasan oleh lembaga terkait, masih lemah penegakan hukum bagi pelaku (kemudahan menyuap oknum pejabat). Pengawasan, kegiatan sidak dilapangan dan penindakan secara tegas secara konsisten harus dilakuakn agar tindakan kecurangan dapat teratasi. Selain itu, peran aktif masyarakat serta kesadaran akan pentingnya hidup sehat sangat dibutuhkan saat ini agara rantai kejahatan yang dapat merugika nkonsumen dapat terputus. 3. Selisih harga daging sapi dengan daging babi! Jawab: harga daging sapi beberapa waktu lalu mengalami peningkatan signifikan hingga Rp 100.000.00 per kg namun sekarang telah turun menjadi Rp 75.000,00 per kg sebangkan harga daging babi terkini perkg adalan Rp 38.000,00 40.000,00. 4. a. Apakah ada pemalsuan daging kambing atau domba ? jawab: kemungkinan ada, namun presentasinya kecil sebab danging kambing maupun damba memiliki bau yang khas, selain itu persediaan

15

daging segar komoditas ini masih tercukupi. Arah pemalsuan yang mudah umtuk dilakukan yaitu pada proses pengolahan. b. Produk dendeng dan abon seperti yang dikemukakan, kenapa bisa mendapat surat ijin serta label halal ? jawab: Pada awalnya produk yang dibuat diajukan ke dinas terkait untuk mendapatkan no registrasi sehingga dapat dijual sampai masuk ke tokotoko swalayan. Selanjutnya karena terdapat peluang untuk melakukan tindak pemalsuan produk maka dimanfaatkanlah lisensi produk

sebelumnya guna menutupi tindak kecurangan tersebut. Namun ada pula yang sengaja melakukan kecurangan dengan sengaja membubuhkan lisensi Halal pada produk buatannya, dengan tujuan mengelabuhi konsumen sehingga mengira produk tersebut telah halal. UU no 18 tahun 2009 menyebutkan bahwa kegiatan ini melanggar pasal 58 dan akan dikenai sanksi administratif serta denda sesuai pasal 85. UU no 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen ancaman penjara selama 1 tahun atau denda sebesar Rp 120 juta. 5. Adakah cara memalsukan daging sapi selain dengan cara merendam daging babi ke dalam darah sapi ? Jawab: pemalsuan dapat dilakukan salah satunya dengan penambahan pewarna kimia seperti Rhodamin B atau di baurkan dengan daging sapi sehingga tak terlihat nyata perbedaan kalau terdapat daging selain daging sapi.

16