Anda di halaman 1dari 25

Daging Bergerak Keluar dari Anus Putri Adheline Alang 10.2009.233 Email : puualang@gmail.

com Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

PENDAHULUAN Penyakit yang di sebabkan oleh cacing sering kali dianggap masalah biasa, Sebenarnya hal ini sangat beralasan karena pada umumnya penyakit ini bersifat kronis sehingga secara klinis tidak tampak begitu nyata. Karakteristik fisik wilayah tropik seperti Indonesia merupakan surga bagi kelangsungan hidup cacing parasitik yang ditunjang oleh pola hidup kesehatan masyarakatnya. Sedangkan infeksi oleh cacing pita kebanyakan disebabkan oleh cacing pita babi dan cacing pita sapi yang terjadi pada daerah-daerah tertentu dengan kekhasan tipe budaya masyarakatnya antara lain pulau Samosir, pulau Bali serta daerah migrannya di Lampung, dan Papua (Irian Jaya). Dalam hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa keeratan hubungan antara manusia dan ternak/hewan kesayangan baik dalam bentuk rantai makanan maupun hubungan sosial dapat mempertahankan kejadian penyakit yang bersifat zoonosis. Proses penularan penyakit parasit dari hewan ke manusia ataupun sebaliknya, merupakan peristiwa yang lebih rumit dibandingkan dengan proses penularan yang disebabkan mikroorganisme lainnya. Oleh karena itu, dalam usaha pengendalian

penyakit zoonosis parasit, pengetahuan mengenai habitat untuk masing-masing fase infeksi dan perkembangannya perlu diketahui dengan baik. Selain itu, untuk

mengoptimalkan pengendalian, tentunya pengetahuan mengenai parasitnya sendiri harus dikuasai pula. Taeniasis adalah infestasi cacing pita Taenia sp. berasal dari sapi atau babi pada manusia. Manusia merupakan induk semang definitife atau induk semang akhir (final host) cacing pita pada sapi. Sedangkan cacing pita pada babi, manusia bertindak sebagai induk semang antara (intermediate host) dan juga induk semang definitife.

Penyakit zoonosis adalah penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Taeniasis satu contoh zoonosis berbahaya pada manusia yang disebabkan oleh infeksi cacing pita dewasa maupun larvanya. Khususnya pada Taenia saginata Hal ini diperoleh dari sapi mencerna matang yang encysted dengan tahap larva cacing pita dalam serat otot sapi. PEMBAHASAN Sejarah Taenia saginata Taenia saginata dari sapi telah dikenal sejak dulu , akan tetapi identifikasi cacing tersebut baru menjadi jelas setelah tahun 1782 ,karena karya Goeze dan Leuckart .Sejak itu ,diketahui adanya hubungan antara infeksi cacing Taenia saginata dengan larva sistisercus bovis ,yang ditemukan pada daging sapi .Bila seekor anak sapi diberi makan proglotid gravid cacing Taenia Saginata, maka pada dagingnya akan ditemukan sistiserkus bovis. Gambaran Umum Taenia saginata Taenia saginata dalam format binomial nomenklatur berasal dari taedium kata yang diterjemahkan menjadi jijik dan kelelahan. Taenia saginata adalah parasit sehingga habitat dan gizinya berasal dari organisme lain. Taenia saginata adalah cacing parasit yang datar telah berkembang cukup efisien dari waktu ke waktu untuk beradaptasi cara yang luar biasa menyerap nutrisi dan menyelesaikan siklus hidup yang kompleks. Berikut Klasifikasi dari cacing Taenia saginata Kerajaan: Animalia Filum: Platyhelminthes Kelas: Cestodes Urutan: Cyclophyllidea Keluarga: Taeniidae

Genus: Taenia Spesies: Taenia saginata Taenia saginata memiliki dua host yang menginfeksi yaitu: host definitif dan hospes perantara. Host Definitif: Host definitive adalah pada manusia. Cacing dewasa menghabiskan sebagian besar waktu dalam usus kecil manusia. Para scolex terhubung ke lapisan

epitel usus dan karena luas permukaan kecil itu menghubungkan ke, respon yang sangat imunologi terjadi dalam tubuh untuk kehadiran cacing pita itu. T aenia

saginata akan menghasilkan banyak telur yang akan mengangkut ed melalui kotoran manusia dan diteruskan ke host menengah. Host Perantara: Sapi bertindak sebagai hospes perantara dalam reproduksi siklus

hidup ketika telur melewati kotoran host definitif terinfeksi dicerna oleh sapi. Enzim pencernaan akan memecah kulit telur tebal dan memungkinkan untuk membentuk zigot. Mereka zigot kemudian menembus lapisan lendir dan memasuki sirkulasi

bovid tersebut. Di sinilah tahap larva muda dari T. saginata membentuk kista berisi kacang polong, cairan, juga dikenal sebagai "Cysticercus" dan kista ini tampaknya membentuk huruf s dalam otot dan kadang-kadang terlihat pada organ tertentu seperti paru-paru dan hati.

Adaptasi Cacing pita dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Tubuh datar sangat

ideal untuk menyerap jumlah maksimum nutrisi karena itu luas permukaan terhadap volume. Sebuah scolex dibentuk sehingga dapat melekat pada inangnya, terutama hidup utamanya adalah dalam usus.Cacing pita juga mengambil dari untuk membantu melanjutkan siklus hidup dan bereproduksi,

ketika ruang keuntungan

sehingga mengembangkan tersegmentasi proglottids yang akan pecah dan melewati feses .Feses pada inang definitif akan dilepaskan ke lingkungan eksternal dan sapi

kemudian akan makan rumput yang terkontaminasi dengan telur memungkinkan larva untuk memiliki hospes perantara untuk tinggal. Morfologi dan Siklus Hidup Taenia saginata
3

Morfologi Taenia saginata

Taenia saginata biasanya memiliki panjang 4 m sampai 10 m, tapi bisa menjadi sangat besar, lebih dari 12 m panjang dalam beberapa situasi. Tubuh adalah keputihan dalam warna, dibagi ke dalam scolex anterior, diikuti dengan leher yang pendek dan tubuh yang sangat tepat disebut strobila diperpanjang. Tidak seperti cacing pita lainnya scolex tidak memiliki armatur rostellum atau scolex. Hal ini terdiri dari 4 pengisap kuat. Para strobila terdiri serangkaian segmen pita seperti disebut proglottids. Segmen yang terdiri dari proglottids matang dan gravid. Taenia saginata adalah yang terbesar dari genus Taenia terdiri antara 1000-2000 proglottids dan juga dapat memiliki umur 25 tahun di usus sebuah host . Para proglottid dewasa berisi rahim (tidak bercabang), ovarium, pori genital, testis, dan vitelline kelenjar. Ia tidak memiliki sistem pencernaan, mulut tidak ada, tidak ada anus, atau saluran pencernaan. Hal ini juga acoelomate suatu, yang berarti bahwa ia tidak memiliki rongga tubuh. Dalam proglottid gravid, rahim bercabang dan diisi dengan telur. Segmen gravid melepaskan dan diwariskan dalam tinja. Masing-masing segmen dapat bertindak seperti cacing. Ketika mereka kering, pecah proglottid, dan telur dilepaskan. Telur hanya dapat menginfeksi sapi, hospes perantara. Di dalam duodenum sapi oncosphere menetas dengan bantuan sekresi lambung dan usus dan bermigrasi melalui darah ke otot. Ada berkembang menjadi infektif cysticercoid cysticerci. Taenia saginata tidak memiliki kait pada scolex seperti Taenia solium yang juga kita tahu sebagai cacing pita daging babi yang menginfeksi umum babi peliharaan . Perbedaannya dengan Taenia solium hanya terletak pada alat pengisap dan inang perantaranya. Taenia saginata pada skoleksnya terdapat alat pengisap tanpa kait dan inang perantaranya adalah sapi. Sedangkan Taenia solium memiliki alat pengisap dengan kait pada skoleksnya dan inang perantaranya adalah babi. Siklus hidup

Taenia saginata adalah cacing pita besar yang menyebabkan infeksi yang disebut taeniasis. Hal ini umumnya dikenal sebagai cacing pita daging sapi atau ternak cacing pita karena menggunakan sapi sebagai host intermediate. Manusia adalah satu-satunya host definitif. Taeniasis terjadi di seluruh dunia dan relatif umum di Afrika, Eropa Timur, Amerika Latin dan Filipina.

Taenia saginata dimulai ketika telur berlalu dalam tinja manusia yang terinfeksi dalam wadah yang disebut proglottid atau segmen cacing pita. Mereka dapat bertahan beberapa bulan di lingkungan. Jika sapi (host intermediate) feed pada vegetasi terkontaminasi, ingests telur matang atau proglottids gravid. Dalam larva usus kecil yang disebut oncospheres menetas, menembus dinding usus, memasuki aliran darah dan bermigrasi ke jaringan otot (jarang ke hati atau organ lain), di mana mereka encyst ke cysticerci. Para seukuran kacang cysticerci dapat bertahan selama bertahun-tahun dan masih infektif ketika manusia makan daging. Jika sapi tidak dimasak benar, cysticerci excyst di usus kecil dan berkembang menjadi dewasa dalam waktu dua bulan. Dewasa melekat pada dinding usus dengan scolex mereka menggunakan empat pengisap. Scolex memiliki penampilan berbentuk buah pir dan cangkir-seperti mencapai 1-2 mm. Hal ini melekat pada leher yang mulai memproduksi proglottids yang membentuk, panjang datar, tubuh tersegmentasi juga dikenal sebagai strobila. Para proglottids matang dan tumbuh lebih besar karena mereka mendapat lebih dari leher. Mereka sekitar 16-20 mm dan panjang 5-7 mm lebar dan masing-masing memiliki organ proglottid sendiri reproduksi. Mereka menyerap nutrisi melalui membran mereka dan memproduksi hingga 100 000 telur per hari. Proglottids putus dari ekor dan bergerak dengan kotoran keluar dari tubuh manusia. Seorang dewasa Taenia saginata adalah keputihan dalam warna dan memiliki sekitar 1000-2000 proglottids dan sekitar enam dari mereka terlepas setiap hari. Telur biasanya tinggal di dalam proglottids sampai mereka keluar di lingkungan. Ketika mengering proglottid, itu pecah dan melepaskan telur. Telur berembrio, kenari coklat dan sekitar 35 mikrometer diameter memiliki oncosphere 6-bengkok di dalam shell yang tebal. Jika kotoran mendarat di tanah penggembalaan untuk ternak, sapi sengaja mungkin menelan proglottids atau telur. Taenia saginata dapat hidup sampai 25 tahun. Hal ini dapat tumbuh hingga 5 meter namun dalam beberapa kasus bisa mencapai panjang lebih dari 10 meter (melingkar di saluran usus).

Gambar 1.1 Siklus Hidup Taenia Saginata Patogenesis

Cara infeksinya melalui oral karena memakan daging sapi yang mentah atau setengah matang dan mengandung larva cysticercus. Di dalam usus halus, larva itu menjadi dewasa dan dapat menyebabkan gejala gasterointestinal seperti rasa mual, nyeri di daerah epigastrium, napsu makan menurun atau meningkat, diare atau kadang-kadang konstipasi. Selain itu, gizi penderita bisa menjadi buruk se-hingga terjadi anemia, malnutrisi. Pada kasus yang lebih berat dapat terjadi, yaitu apabila proglotid menyasar masuk apendiks, atau terdapat ileus yang disebabkan obstruksi usus oleh strobilla cacing. Berat badan tidak jelas menurun Jumlah cacing pita dalam usus kurang berpengaruh terhadap perubahan patologis dibandingkan dengan ukuran tubuh cacing. Walaupun hanya terdapat 1-2 ekor dan ukurannya besar dampak patologisnya lebih nyata. Penderita taeniasis jarang menunjukkan gejala yang khas walaupun di dalam ususnya terdapat cacing taenia selama bertahun-tahun, tetapi biasanya hanya terdapat satu ekor. cysticercosis pada manusia sangat bergantung pada organ serta jumlah cysticercus yang tinggal. Infeksi berat pada otot menyebabkan peradangan (myocitis) yang bisanya menimbulkan demam. Jika menyerang organ mata (OcularCysticercosis) gejala yang paling berat adalah kebutaan . Gejala-gejala syaraf seperti kelumpuhan, kejang, hingga epilepsi, dapat dipastikan bahwa larva tersebut menempati organ-organ yang sarat dengan jaringan syaraf seperti otak/selaput otak atau sumsum tulang belakang.
6

Gejala Penyakit Taeniasis saginata Penyakit ini sering asimtomatik. Taeniasis Taenia saginata disebabkan oleh lebih terlihat dari taeniasis disebabkan oleh Taenia solium (Taenia solium adalah meskipun secara keseluruhan lebih berbahaya karena resiko sistiserkosis). Infeksi Taenia saginata berat dapat menyebabkan beberapa gejala berikut:

reaksi alergi kronis pencernaan sembelit diare pusing sakit kepala kehilangan nafsu makan mual obstruksi usus sakit perut penurunan berat badan.

Proglotids Migrasi dapat menyebabkan:


radang usus buntu radang saluran empedu terlihat dalam tinja.

Diagnosis Penyakit Taeniasis saginata Diagnosa taeniasis dapat ditegakkan dengan 2 ( dua ) cara yaitu : a) Menanyakan riwayat penyakit (anamnesis).

Di dalam anamnesis perlu ditanyakan antara lain apakah penderita pernah mengeluarkan proglotid (segmen) dari cacing pita baik pada waktu buang air besar maupun secara spontan. bila memungkinkan sambil memperhatikan contoh potongan cacing yang diawetkan dalam botol transparan.
7

Anamnesis umum Dari anamnesis umum ini bisa ditanyakan data pribadi penderita seperti : Nama,umur, tanggal lahir, jenis kelamin , agama, pekerjaan, alamat dan lain-lain.

Anamnesis khusus Dari anamnesis khusus kita bisa memperoleh keterangan tentang hal-hal

yang berkaitan dengan keadaan / penyakit penderita. Dalam anamnesis khusus bisa didapatkan keterangan mengenai: Keluhan utama Riwayat penyakit sekarang Riwayat penyakit dahulu (termasuk gangguan fisik yang pernah diderita) Pemakaian obat (termasuk obat yang dibeli bebas) yang sedang atau pernah digunakan penderita karena hal ini penting. Pada pasien yang datang dengan menderita taeniasis kita bisa menanyakan pertanyaan pertanyaan spesifik seperti berikut: Keluhan utama o Sejak kapan keluhan tersebut di alami. Dimana lokasinya? o Frekuensi keluarnya daging yang bergerak - gerak dari anus ? Bentuk bagaimana kira-kira ? o Bentuk feses ? Bagaimana massa dan warna feses ? Keluhan penyerta o Adakah perasaan nyeri? Demam , pusing, mual, muntah, anemia, rasa penuh diperut atau diare ? Riwayat keluarga o Selain menanyakan silsilah penyakit, tanya apa di keluarga ada yang mengalami keluhan yang sama. Riwayat obat o Sudah pernah diobati sebelumnya ? Hasilnya bagaimana ? Terapi apa saja ? Riwayat pribadi o Dimana tempat kerja? Lingkungan kerja? Apakah diet atau konsumsi makanan sehari hari ? Dimasak matang, setengah matang, seperempat matang atau mentah ? Kebersihan tempat makan bagaimana ? Lokasi tempat makan ?
8

Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik (Head to Toe) Amati dan raba (menggunakan kedua tangan dan dengan tekanan), bandingkan (simetry), cium bau yang tidak biasa dan dengarkan (suara napas atau derit anggota tubuh), dalam urutan berikut: 1. Kepala a. Kulit Kepala dan Tengkorak b. Rambut c. Telinga dan Hidung d. Pupil Mata e. Mulut

2. Leher 3. Dada a. Periksa perubahan bentuk, luka terbuka, atau perubahan kekerasan b. Rasakan perubahan bentuk tulang rusuk sampai ke tulang belakang c. Lakukan perabaan pada tulang 4. Abdomen a. Periksa rigiditas (kekerasan) b. Periksa potensial luka dan infeksi c. Mungkin terjadi cedera tidak terlihat, lakukan perabaan d. Periksa adanya pembengkakan

5. Punggung a. Periksa perubahan bentuk pada tulang rusuk b. Periksa perubahan bentuk sepanjang tulang belakang 6. Pelvis 7. Alat gerak atas 8. Alat gerak bawah

Pemeriksaan tanda vital 1. Frekuensi nadi : termasuk kualitas denyutnya, kuat atau lemah, teratur atau tidak.

2. Frekuensi napas: juga apakah proses bernapas terjadi secara mudah, atau ada usaha bernapas, adakah tanda-tanda sesak napas. 3. Tekanan darah 4. Suhu : diperiksa suhu relatif pada dahi penderita. Periksa juga kondisi kulit: kering, berkeringat, kemerahan, perubahan warna dan lainnya.

Denyut Nadi Normal : Bayi : 120 - 150 x / menit Anak : 80 - 150 x / menit Dewasa: 60 - 90 x / menit

Frekuensi Pernapasan Normal: Bayi : 25 - 50 x / menit Anak : 15 - 30 x / menit Dewasa : 12 - 20 x / menit

Setelah melakukan pemeriksaan fisik head to toe, dapat kita lakukan pemeriksaan fisik pada abdomen untuk lebih meyakinkan suatu diagnosis. Untuk melakukan pemeriksaan fisik abdomen yang baik, pasien harus rileks dan bagian abdomen dari bagian atas processus xyphoideus hingga simphisis pubis terlepas dari pakaian yang menempel. Bagian daerah inguinal harus dapat dilihat, tetapi daerah genital harus tetap ditutupi. Otot-otot abdomen harus dalam keadaan relaksasi untuk lebih memudahkan pelaksanaan semua aspek pemeriksaan, kecuali pada palpasi.

Inspeksi Pemeriksaan fisik yang pertama kali dilakukan adalah inspeksi. Seorang dokter harus berdiri di sebelah kanan pasien. Buatlah garis-garis imajiner berdasarkan regio-regio abdomen. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:

10

Kulit yang meliputi warna kulit, jaringan parut (sikatriks), striae atau stretch marks, dan vena yang berdilatasi, serta ruam dan lesi. Beberapa vena kecil mungkin normalnya akan terlihat. Umbilicus. Amati apakah ada tanda-tanda inflamasi atau hernia. Kontur abdomen. Apakah abdomen tersebut rata, bulat, buncit, atau skafoid. Peristaltis. Amati apakah terdapat suatu peristaltis selama beberapa menit jika kita mencurigai kemungkinan obstruksi intestinal. Tetapi pada orang yang sangat kurus, peristaltik ini juga dapat terlihat. Pulsasi. Pulsasi dari aorta abdominalis yang normal sering terlihat di daerah epigastrium. Auskultasi Auskultasi adalah bagian yang paling penting dalam pemeriksaan fisik abdomen. Lakukan auskultasi abdomen sebelum melakukan perkusi dan palpasi karena kedua pemeriksaan tersebut dapat mengubah frekuensi bunyi usus. Yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan ini adalah bunyi usus. Bunyi usus dapat terdengar normal karena gerakan peristaltik usus tersebut atau abnormal karena obstruksi atau inflamasi. Auskultasi juga apakah ada bunyi bruits yaitu bunyi vascular yang menyerupai bising jantung di daerah aorta atau pembuluh arteri lainnya pada abdomen, terdengarnya bunyi ini menunjukkan adanya kemungkinan penyumbatan dalam pembuluh darah. Dengarkan bunyi usus dan frekuensi serta sifatnya. Bunyi normal terdiri atas bunyi dentingan (click) atau gemericik (gurgles) yang terdengar dengna frekuensi sebanyak 5-34 kali per menit. Terkadang juga dapat terdengar bunyi gemericik yang panjang (borborigmi) atau gurgles yang panjang, hal ini terjadi karena hiperperistaltik karena perut yang kosong. Perkusi Perkusi dapat membantu untuk mengetahui adanya massa padat atau cairan dalam abdomen. Penggunaannya dapat juga digunakan untuk mengetahui adanya besar dari organ-organ di dalam abdomen seperti hepar dan lien. Pada bagian abdomen terutama usus yang terdapat isi (biasanya makanan) maka akan terdengar bunyi yang redup. Sebaliknya bila usus atau lambung diperkusi, maka akan terdengar bunyi timpani. Palpasi

11

Palpasi biasanya dilakukan untuk pasien yang mengalami nyeri pada abdomen. Tanyakan pada pasien dimanakah letak nyeri tersebut, dan lakukan palpasi pada bagian tersebut di terakhir. Lakukan palpasi dalam untuk mengetahui batas-batas massa abdominal pada kuadran-kuadaran. Lakukan palpasi ringan untuk

mengidentifikasikan nyeri tekan pada abdomen, resistensi otot, dan beberapa organ serta massa yang letaknya superficial

b) Pemeriksaan tinja Tinja diperiksa untuk menemukan telur parasit. Telur terlihat seperti telur yang lain dari Taeniidae keluarga, sehingga hanya mungkin untuk mengidentifikasi telur untuk keluarga, bukan ke tingkat spesies. Karena sulit untuk mendiagnosa menggunakan telur saja, melihat scolex atau proglottids gravid dapat membantu mengidentifikasi Taenia saginata . Menghitung cabang uterus memungkinkan beberapa identifikasi (Taenia saginata uteri memiliki dua belas atau lebih cabang di setiap sisi, sementara spesies Taenia solium lain seperti hanya memiliki lima sampai sepuluh). Sangat sulit untuk membedakan spesies dari spesies lain dari Taenia solium seperti T. dan T. asiatica karena kemiripan morfologi dekat mereka, dan telur mereka lebih atau kurang identik. Identifikasi sering memerlukan pengamatan histologis cabang rahim dan deteksi PCR gen 5.8S ribosom T. saginata rahim yang berasal keluar dari pusatnya membentuk 12 sampai 20 cabang, tetapi berbeda dengan spesies erat terkait Taenia, cabang jauh. kurang dalam jumlah dan relatif lebih tebal, di samping ovarium dan testis bilobed dua kali lebih banyak.

Upaya Pencegahan dan Pengobatan Terkait Penyakit Taeniasis saginata (edukasi) Pencegahan Untuk mencegah infeksi maka hal-hal yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut: Pemakaian jamban keluarga ,sehingga tinja manusia tidak dimakan oleh babi dan tidak mencemari tanah atau rumput. Pemelihara sapi pada tempat yang tidak tercemar atau sapi dikandangkan sehingga tidak dapat berkeliaran

12

Pemeriksaan daging oleh dokter hewan/mantri hewan di RPH, sehingga daging yang mengandung kista tidak sampai dikonsumsi masyarakat (kerjasama lintas sektor dengan dinas Peternakan) Daging yang mengandung kista tidak boleh dimakan. Menghilangkan kebiasaan maka makanan yang mengandung daging setengah matang atau mentah. Memasak daging sampai matang ( diatas 57 C dalam waktu cukup lama ) atau membekukan dibawah 10 selama 5 hari . Cara Pengendalian Taenia saginata. Pengendalian cacing pita Taenia saginata dapat dilakukan dengan memutuskan siklus hidupnya. Pemutusan siklus hidup cacing Taenia sebagai agen penyebab penyakit dapat dilakukan melalui pengobatan terhadap penderita yang terinfeksi. Beberapa obat cacing yang dapat digunakan yaitu Atabrin, Librax dan Niclosamide dan Praziquantel. Sedangkan untuk mengobati sistiserkosis dapat digunakan Albendazole dan Dexamethasone. Untuk mengurangi kemungkinan infeksi oleh Taenia ke manusia maupun hewan diperlukan peningkatan daya tahan tubuh inang. Hal ini dapat dilakukan melalui vaksinasi pada ternak, terutama babi di daerah endemis taeniasis/ sistiserkosis serta peningkatan kualitas dan kecukupan gizi pada manusia. Lingkungan yang bersih sangat diperlukan untuk memutuskan siklus hidup Taenia karena lingkungan yang kotor menjadi sumber penyebaran penyakit. Pelepasan telur Taenia dalam feses ke lingkungan menjadi sumber penyebaran taeniasis. Faktor risiko utama transmisi telur Taenia ke sapi. Telur cacing ini dapat terbawa oleh air ke tempat-tempat lembab sehingga telur cacing lebih lama bertahan hidup dan penyebarannya semakin luas. Kontrol penyakit akibat Taenia di lingkungan dapat dilakukan melalui peningkatan sarana sanitasi, pencegahan konsumsi daging yang terkontaminasi, pencegahan kontaminasi tanah dan tinja pada makanan dan minuman. Pembangunan sarana sanitasi, misalnya kakus dan septic tank, serta penyediaan sumber air bersih sangat diperlukan. Pencegahan konsumsi daging yang terkontaminasi dapat dilakukan melalui pemusatan pemotongan ternak di rumah potong hewan (RPH) yang diawasi oleh dokter hewan. Pengobatan Ada dua jenis obat yang digunakan untuk mengobati individu yang terinfeksi dengan cacing pita sapi.
13

Niclosamide: Obat ini adalah inhibitor fosforilasi oksidatif nonabsorbable. Ini bertindak untuk

membunuh bagian anterior yang menghubungkan pada lapisan epitel dalam usus, termasuk scolex tersebut. Ini kemudian akan memungkinkan cacing pita untuk diteruskan keluar Ini adalah pilihan obat dengan infeksi parasit karena tingkat

seluruhnya melalui kotoran.

menyembuhkan berada pada 95% tinggi. Praziquantel: Ini adalah obat sintetis yang berasal dari isoquinoline-pyrazine. Ini adalah obat Ini

sebanding dengan Niclosamide, karena hampir sama-sama efektif dan cukup beracun. bukan sebagai efek meskipun karena scolex tidak selalu hancur.

Ini berarti bahwa cacing

baru bisa tumbuh kembali dari scolex terhubung. Pasien yang menggunakan pengobatan ini harus diawasi selama sebulan dua kemudian untuk memastikan bahwa proglottids cacing pita tidak mulai muncul lagi di kotoran mereka.

Differential Diagnose 1. Diphylobotrium latum Difilobatriasis atau Penyakit Cacing Pita adalah salah satu jenis penyakit cacing yang paling berbahaya. Bentuk cacingnya pipih seperti pita, bisa mencapai panjang 3 10 meter dan hebatnya walau dipotong-potong, cacing ini masih bisa hidup. Bibit cacing terutama banyak ditemukan didalam daging babi dan daging sapi. Morfologi Ditemukan pada usus halus manusia, anjing, kucing, babi, beruang, mamalia pemakan ikan. Cacing memiliki ukuran 2-12 m warna abu-abu kekuningan dengan bagian tengah berwarna gelap (berisi uterusdan telur). Testis dan gld. Vitellaria terletak di lateral, ovarium di tengah berlobus 2. Uterus berbentuk bunga di tengah dan membuka di ventral. Porus uterus terletak disebelah porus genitalis. Telur keluar terus menerus di tinja dengan ukuran 67-71 x 40-51 .

14

Cacing dewasa memiliki beribu-ribu proglotid (bagian yang mengandung telur) dan panjangnya sampai 450-900 cm. Telurnya dikeluarkan dari proglotid di dalam usus dan dibuang melalui tinja. Telur akan mengeram dalam air tawar dan menghasilkan embrio, yang akan termakan oleh krustasea (binatang berkulit keras seperti udang, kepiting). Selanjutnya krustasea dimakan oleh ikan. Manusia terinfeksi bila memakan ikan air tawar terinfeksi yang mentah atau yang dimasak belum sampai matang. Ciri-ciri

Merupakan jenis cacing pita yang hidup sebagai parasit pada manusia, anjing, kucing dan serigala.

Sebagai inang perantaranya adalah katak sawah (Rana cancrivora), ikan dan Cyclops. Menyebabkan Diphyllobothriasis. Daerah penyebarannya meliputi wilayah eropa, afrika, amerika utara dan jepang.

Telur berkembang untuk beberapa minggu, coracidium (onchosphere berkait 6 dilengkapi embriophore yang bercilia) berada di air, kemudian dimakan h.i. I cyclopid/diaptomid (berkembang menjadi procercoid) di haemochole dalam 2-3 minggu selanjutnya h.i. I dimakan h.i. II ikan (berkembang menjadi plerocercoid) di viscera dan otot. H.i. II dimakan h.d dan menjadi dewasa dengan periode prepaten 3-4 minggu. Gejala infeksi biasanya tidak menimbulkan gejala, meskipun beberapa penderita mengalami gangguan usus yang ringan. kadang cacing pita menyebabkan anemia karena pada penderita awalnya kekurangan vitamin B12. Diagnosa Diagnosis ditegakkan berdasarkan ditemukannya telur cacing dalam tinja. Pengobatan Diberikan niklosamid atau prazikuantel per-oral (melalui mulut). 2. Enterobius vermicularis

15

Enterobiasis atau oxyuriasis adalah penyakit akibat infeksi cacing E. vermicularis atau Oxyuris vermicularis. Disebut pula sebagai pinworm infection, atau di Indonesia dikenal sebagai infeksi cacing kremi. Penyakit ini identik dengan anak-anak, meski tak jarang orang dewasa juga terinfeksi.

Enterobius vermicularis A.Taksonomi Phylum : Nematoda Class : Cecernentea Subclass : Rhabditia Order : Rhabditida Suborder : Rhabditina Superfamily : Oxyuroidea Family : Oxyuridae Genus : Oxyuris atau Enterobius Spesies : O. vermicularis atau E. vermicularis

B. Morfologi a. Cacing Dewasa Cacing betina berukuran 8-13 mm x 0,3-0,5 mm, dengan pelebaran kutikulum seperti sayap pada ujung anterior yang disebut alae. Bulbus oesofagus jelas sekali, dan ekor runcing. Pada cacing betina gravid, uterus melebar dan penuh telur . Cacing jantan lebih kecil sekitar 2-5 mm dan juga bersayap, tapi ekornya berbentuk seperti tanda tanya, spikulum jarang ditemukan.

b. Telur E. vermicularis Telur E. vermicularis oval, tetapi asimetris (membulat pada satu sisi dan mendatar pada sisi yang lain), dinding telur terdiri atas hialin, tidak berwarna dan transparan, serta rerata panjangnya x diameternya 47,83 x 29,64 mm. Telur cacing ini berukuran 50m - 60m x 30m, berbentuk lonjong dan lebih datar pada satu sisinya (asimetris). Dinding telur bening dan agak tebal, didalamnya berisi massa bergranula berbentuk oval yang teratur, kecil, atau berisi embrio cacing, suatu larva kecil yang melingkar

16

C. Siklus Hidup Manusia merupakan satu-satunya hospes bagi E. vermicularis. Manusia terinfeksi bila menelan telur infektif. Telur akan menetas di dalam usus dan berkembang menjadi dewasa dalam caecum, termasuk appendix Cacing betina memerlukan waktu sekitar 1 bulan untuk menjadi matur dan mulai memproduksi telur. Cacing betina yang gravid mengandung sekitar 11.000-15.000 butir telur, berimigrasi ke perianal pada malam hari untuk bertelur dengan cara kontraksi uterus dan vaginanya. Telur-telur jarang dikeluarkan di usus sehingga jarang ditemukan di tinja. Telur menjadi matang dalam waktu kira-kira 6 jam setelah dikeluarkan pada suhu badan. Dalam keadaan lembab telur dapat hidup sampai 13 hari. Kadang-kadang cacing betina berimigrasi ke vagina dan menyebabkan vaginitis Kopulasi cacing jantan dan betina mungkin terjadi di caecum. Cacing jantan mati setelah kopulasi, dan cacing betina mati setelah bertelur. Daur hidup cacing mulai dari tertelannya telur infektif sampai menjadi cacing dewasa gravid yang bermigrasi ke perianal dan memerlukan waktu kira-kira 2 minggu sampai 2 bulan.

Gambar: Siklus hidup E. vermicularis

D. Epidemiologi Prevalensi cacing di Indonesia, menurut Perkumpulan Pemberantasan Penyakit Parasit Indonesa (P4I), tahun 1992 untuk cacing gelang 70 90%, cacing cambuk 80 95% dan cacing tambang 30 59%. Sedangkan dari data departemen kesehatan (1997) menyebutkan, prevalensi anak usia SD 60 80% dan dewasa 40 60% . Cacing ini sebagian besar menginfeksi anak-anak, meski tak sedikit orang dewasa terinfeksi
17

cacing tersebut. Meskipun penyakit ini banyak ditemukan pada golongan ekonomi lemah, pasien rumah sakit jiwa, anak panti asuhan, tak jarang mereka dari golongan ekonomi yang lebih mapan juga terinfeksi. Infeksi cacing terdapat luas di seluruh Indonesia yang beriklim tropis, terutama di pedesaan, daerah kumuh, dan daerah yang padat penduduknya. Semua umur dapat terinfeksi cacing ini dan prevalensi tertinggi terdapat pada anak-anak. Penyakit ini sangat erat hubungannya dengan keadaan sosial-ekonomi, kebersihan diri dan lingkungan. Prevalensi menurut jenis kelamin sangat erat hubungannya dengan pekerjaan dan kebiasaan penderita. Distrik Mae Suk, Provinsi Chiangmai Thailand ditemukan anak laki-laki lebih banyak yaitu sebesar 48,8% dibandingkan dengan anak perempuan yang hanya 36,9% pada umur 4,58 2,62 tahun.Sedangkan di Yogyakarta infeksi cacing lebih banyak ditemui pada penderita laki-laki dibandingkan penderita perempuan. Tingkat infeksi kecacingan juga dipengaruhi oleh jenis aktivitas atau pekerjaan. Semakin besar aktivitas yang berhubungan atau kontak langsung dengan lingkungan terbuka maka semakin besar kemungkinan untuk terinfeksi. Selain itu, prevalensi kecacingan yang berhubungan dengan status ekonomi dan kebersihan lingkungan diteliti di Cirebon, Jabar. Ternyata prevalensi kecacingan semakin tinggi pada kelompok sosial ekonomi kurang dan kebersihan lingkungan buruk, dibandingkan kelompok sosial ekonomi dan kebersihan lingkungan yang sedang dan baik.

E. Penularan Penyakit Enterobiasis menular setidaknya melalui 3 cara, yaitu: penularan dari tangan ke mulut setelah menggaruk perianal (autoinfeksi), atau tangan menyebarkan telur ke orang lain maupun diri sendiri setelah memegang benda-benda dan pakaian yang terkontaminasi, debu merupakan sumber infeksi. Infeksi melalui inhalasi yang mengandung telur,retroinfeksi melalui anus. Larva yang menetas disekitar anus kembali masuk ke usus. Binatang piaraan seperti anjing dan kucing bukan host bagi E. vermicularis, tapi bulunya dapat mengandung cacing kremi. Sehingga para pecinta binatang yang tidak cuci tangan mudah untuk terinfeksi. Telur cacing yang tertelan dapat tumbuh menjadi cacing dewasa dalam usus manusia dan berkembang biak dengan mengeluarkan banyak telur; seekor cacing betina bertelur sampai puluhan ribu per hari. Telur ini dapat dikeluarkan bersama sama tinja penderita. Tinja yang mengandung sel telur ini menjadi sumber penularan penyakit cacingan. Infeksi pada anak anak usia sekolah dapat mengganggu kemampuan belajar, dan pada orang dewasa mengganggu produktivitasnya. Intensitas penularan penyakit tinggi pada anak-anak yang belum mengenal higiene pribadi
18

yang baik. Tempat-tempat kumuh, rumah dihuni banyak orang, rumah sakit, panti asuhan merupakan tempat yang efektif bagi penularan Enterobiasis. Hygine yang buruk, seperti jarangnya penggantian seprei, tidur secara berkelompok, dan tukar menukar baju, serta frekuensi penggantian celana dalam dan baju yang jarang juga mempercepat penularan penyakit ini.

F. Patologi dan Gejala Klinis Enterobiasis sering tidak menimbulkan gejala (asimptomatis). Gejala klinis yang menonjol berupa pruritus ani, disebabkan oleh iritasi disekitar anus akibat migrasi cacing betina ke perianal untuk meletakkan telur-telurnya. Gatal-gatal di daerah anus terjadi saat malam hari, karena migrasi cacing betina terjadi di waktu malam. Cacing betina gravid, sering mengembara dan bersarang di vagina serta tuba fallopi. Sementara sampai di tuba fallopi menyebabkan salphyngitis. Kondisi ini sangat berbahaya, terutama pada wanita usia subur, sebab dapat menyebabkan kemandulan, akibat buntunya saluran tuba. Cacing juga sering ditemukan di appendix. Hal ini bisa menyebabkan apendisitis, meskipun jarang ditemukan.

G. Diagnosis Diagnosis dilakukan berdasarkan riwayat pasien dengan gejala klinis positif. Diagnosis pasti dengan ditemukannya telur dan cacing dewasa. Selain itu, diagnosa dapat dilakukan dengan pemeriksaan tinja dan anal swab dengan metode Scotch adhesive tape swab. Pada pemeriksaan tinja dapat ditemukan adanya cacing dewasa. Cacing jantan dewasa setelah kopulasi mati dan keluar bersama tinja. Sementara dengan metode Scotch adhesive tape swab, dapat menemukan telur yang diletakkan didaerah perianal. Metode yang kedua lebih mudah dilakukan, dan lebih sering dilakukan. Selain biaya yang relatif murah, juga kerja yang cepat. Cara kerja metode tersebut hanya menempelkan sisi lekat celophan tape ke daerah perianal, kemudian dengan menggunakan xylol atau toluol untuk menjernihkan, dapat ditemukan adanya telur cacing kremi. Metode ini juga sangat efektif. Sekali melakukan pemeriksaan dengan swab dapat menemukan 50% dari semua infeksi, tiga kali pemeriksaan 90%, dan pemeriksaan 7 hari berturut-turut diperlukan untuk menyatakan seseorang bebas infeksi.

H. Terapi dan Pencegahan Pengobatan enterobiasis efektif jika semua penghuni rumah juga diobati, infeksi ini dapat
19

menyerang semua orang yang berhubungan dengan penderita. Obat-obatan yang digunakan antara lain piperazin, pirvinium, tiabendazol dan stilbazium iodide. Pengobatan enterobiasis adalah sebagai berikut : 1. Piperazin sulfat diberikan dengan dosis 2 x 1 g/hari selama 8 hari, 2. Pirvinium pamoat, diberikan dengan dosis 5 mg/kg berat badan (maksimum 0,25 g) dan diulangi 2 minggu kemudian, 3. Piranthel pamoat, diberikan dengan dosis 11mg/kg berat badan single dose, dan maksimum 1 gram, 4. Stilbazium Iodida, dengan dosis tunggal 10-15 mg/kg berat badan. Warna tinja akan menjadimerah karena obat ini. Pencegahan dengan menjaga kebersihan, cuci tangan sebelum makan, ganti sprei teratur, ganti celana dalam setiap hari, membersihkan debu-debu kotoran di rumah, potong kuku secara rutin, hindari mandi cuci kakus (MCK) di sungai. Kalau perlu toilet dibersihkan dengan menggunakan desinfektan. Selain itu, peningkatan kesehatan perorangan dan kelompok digabung dengan terapi kelompok dapat membantu pencegahan.

3. Taenia Solium Hospes definitif T. Solium adalah manusia, sedangkan hospes perantara adalah babi. Manusia yang dihinggapi cacing dewasa Taenia solium juga menjadi hospes perantara

cacing ini. Nama penyakit yang desebabkan oleh cacing dewasa adalah taeniasis solium dan yang disebabkan stadium larva adalah sistiserkosis. Taenia solium berukuran panjang 2-4 meter dan kadang-kadang sampai 8 meter cacing ini seperti cacing Taenia saginata, terdiri dari skoleks, leher dan strobila, yang terdiri atas 800-1000 ruas proglotid skoleks yang bulat berukuran kira-kira 1 milimeter mempunyai 4 buah batil isap dengan rostelum yang mempunyai 2 baris kait-kait, masing-masing sebanyak 25-30 buah. Strobila terdiri atas rangkaian proglotid (matur) dan mengandung telur (gravid). Gambaran alat kelamin pada proglotid dewasa sama dengan Taenia saginata, kecuali jumlah folikel testisnya lebih sedikit ,yaitu 150-200 buah. Bentuk proglotid gravid mempunyai ukuran panjang hampir sama dengan lebarnya. Jumlah cabang uterus pada proglotid gravid adalah 7-12 buah pada satu sisi proglotid gravid berisi 30.000-50.000 buah telur. Telurnya keluar melalui celah robekan pada proglotid. Telur tersebut bila termakan oleh
20

hospes perantara yang sesuai, maka dindingnya dicerna dan embrio heksakan keluar dari telur, menembus diding usus dan masuk kesaluran getah bening atau darah bila daging babi yang mengandung larva sistiserkus dimakan oleh manusia, diding kista dicerna,skoleks mengalami evaginasi untuk kemudian melekat pada didnding usus halus seperti yeyunum. Dalam waktu 3 bulan cacing tersebut menjadi dewasa dan melepaskan proglotid dengan telur. Taenia solium Sejarah Cacing pita dari daing babi, diketahui sejak Hippocrates, atau mungkin sudah sejak Nabi Musa walaupun pada waktu itu belum dapat dibedakan antara cacing pita sapid an cacing pita babi, sampai pada karya Goeze 1782. Aristophane dan Aristoteles melukiskan stadium larva atau sistiserkus selulose pada lidah babi hutan. Gessner (1558) dan Rumler (1588), melaporkan stadium larva pada manusia. Kuschenmeister (1855) dan Leuckart (1856), adalah sarjana sarjana yang pertama kali mengadakan penelitian daur hidup cacing tersebut dan membuktikan bahwa cacing gelembung yang didapatkan pada babi adalah larva cacing Taenia solium. Hospes dan Nama Penyakit Hospes definitive T. solium adalah manusia dan hospes perantaranya adalah babi. Manusia yang menelan sampai terhinggapi cacing dewasa Taenia solium juga menjadi perantara penyakit cacing ini. Nama penyakit yang disebabkan oleh cacing ini adalah teniasis solium dan yang disebabkan stadium larva adalah sistiserkosis.

Morfologi dan Daur Hidup Taenia solium berukuran panjang 2 4 meter dan kadang sampai 8 meter. Cacing ini mirip seperti taenia saginata, terdiri dari skoleks, leher dan strobila yang terdiri dari 800 1000 ruas proglotid. Skoleks yang bulat berukuran kira kira 1 milimeter, mempunyai 4 buah batil isap dengan rostelum yang mempunyai 2 baris kait kait, masing masing sebanyak 25 30

21

buah. Strobila terdiri atas rangkaian proglotid yang belum dewasa (imatur), dewasa (matur) dan mengandung telur (gravid). Gambaran alat kelamin pada proglotid dewasa sama denganTaenia saginata, kecuali jumlah folikel testisnya lebih sedikit yaitu 150 200 buah. Bentuk proglotid gravid mempunyai ukuran panjang hampir sama dengan lebarnya. Jumlah cabang uterus pada proglotid adalah 712 buah pada satu sisi. Lubang kelamin letaknya bergantian selang seling pada sisi kanan atau kiri strobila secara tidak beraturan. Proglotid gravid berisi 30.000-50.000 buah telur. Telurnya keluar melalui celah robekan pada proglotidnya. Telur tersebut bila termakan oleh hospes perantara yang sesuai maka didingnya dicerna dari embrio, maka dindingnya dicerna dari embrio heksakan keluar dari telur, menembus dinding usus dan masuk ke saluran getah bening atau darah. Embrio heksakan kemudian ikut aliran darah dan menyangkut di jaringan otot babi, embrio heksakan cacing gelembung (sistiserkus) babi, dapat dibedakan dari cacing gelembung sabpi, dengan adanya kait-kait di skoleks yang tunggal. Cacing gelembung biasanya disebut sistiserkus selulose biasanya ditemukan pada otot lidah, punggung dan pundak babi. Hospes perantara lain kecuali babi, adalah monyet, unta, anjing, babi hutan, domba, kucing, tikus dan manusia. Larva tersebut berukuran 0,6 1,8 cm. bila daging babi yang mengandung larva sisterkus dimakan setengah matang atau mentah oleh manusia, dinding kista dicerna, skoleks mengalami evaginasi untuk kemudian melekat pada dinding usus halus seperti yeyenum. Dalam waktu 3 bulan cacing tersebut menjadi dewasa dan melepaskan proglotid dengan telur. Patologi dan Gejala Klinis Cacing dewasa yang biasanya berjumlah seekor, tidak menyebabkan gejala klinis yang berarti. Bial ada dapat berupa nyeri uluh hati, mencret, mual, obstipasi dan sakit kepala. Darah tepi dapat menunjukkan eosinofilia. Gejala klinis yang berarti dan sering diderita disebabkan oleh larva yang disebut sistiserkosis. Infeksi ringan biasanya tidak menunjukkan gejala, kecuali bila alat yang dihinggapi adalah alat tubuh yang penting. Pada manusia, sistiserkus atau larva Taenia solium sering menghinggapi jaringan subkutis, mata, jaringan otak, otot, otot jantung, hati, paru dan rongga perut. Walaupun sering
22

dijumpai, kalsifikasi atau pengapuran pada sisterkus tidak menimbulkan gejala, akan tetapi sewaktu waktu terdapat pseudohipertrofi otot, disertai gejala miositis, demam tinggi dan eosinofilia. Pada jaringan otak atau medulla spinalis, sistiserkus jarang mengalami kalsifikasi. Keadaan ini sering menimbulkan reaksi jaringan dan dapat menimbulkan serangan ayan, meningoensefalitis, gejala yang disebabkan oleh tekanan intracranial yang tinggi seperti nyeri kepala dan kadang kadang kelainan jiwa. Hidrosefalus internus dapat terjadi, bila timbul sumbatan lairan cairan serebrospinal. Sebuah sistiserkus tunggal yang dapat ditemukan dalam ventrikel IV otak bias menyebabkan kematian. Diagnosis Diagnosis taeniasis solium dilakukan dengan menemukan telur dan proglotid. Telur sukar dibedakan dengan telur Taenia saginata. Diagnosis sistiserkosis dapat dilakukan dengan cara: 1. Ekstirpasi benjolan yang kemudian diperiksa secara histopatologi. 2. Radiologis dengan CT scan atau Magnetic Resonance Imaging (MRI). 3. Deteksi antibody dengan teknik ELISA, Western Blot, uji hemaglutinasi, dan counter Immuno Electrophoresis. 4. Deteksi coproantigen pada tinja. 5. Deteksi DNA dengna teknik PCR. Pengobatan Untuk pengobatan penyakit teniasis solium digunakan prazikuantel. Untuk sisterkosis digunakan prazikuantel, albendazol atau dilakukan pembedahan. Epidemiologi Walaupun cacing ini kosmopolite, kebiasaan hidup penduduk yang dipengaruhi tradisi kebudayaan dan agama, memainkan peranan penting. Biasanya penyakit ini ditemukan pada orang yang bukan beragama islam tapi ada juga kasusnya. Cara penyantapan daging tersebut yaitu matang, setengah matang atau mentah dan pengertian akan kebersihan atau hygiene, memainkan peranan penting dalam penularan cacing Taenia

23

Solium maupun sistiserkus selulose. Pengobatan perorangan maupun pengobatan secara masal harus dilakukan agar penderita tidak menjadi sumber inveksi bagi diri sendiri maupun babi dan hewan lain sperti anjing. Pendidikan mengenai kesehatan harus dirintis. Cara cara ternak babi harus diperbaiki, agar tidak ada kontak dengan tinja manusia. Sebaiknya untuk ternak babi harus digunakan kandang yang bersih dan makanan yang sesuai pencahannya lakukan seperti mencegah taenia saginata. PENUTUP Kesimpulan Taenia saginata adalah cacing parasit yang datar telah berkembang cukup efisien dari waktu ke waktu untuk beradaptasi cara yang luar biasa menyerap nutrisi dan menyelesaikan siklus hidup yang kompleks. Taenia saginata memiliki dua host yang menginfeksi yaitu: host definitif pada manusia dan hospes perantara pada sapi. Cacing dewasa taenia saginata

biasanya menyebabkan gejala-gejala berikut: reaksi alergi ,kronis pencernaan ,sembelit ,diare ,pusing ,sakit kepala ,kehilangan nafsu makan ,mual ,obstruksi usus ,sakit perut, penurunan berat badan. Diagnosis dasar dasar dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu Menanyakan riwayat penyakit (anamnesis) dan dari sampel tinja. Menanyakan riwayat penyakit (anamnesis). Didalam anamnesis perlu ditanyakan antara lain apakak penderita pernah mengeluarkan proglotid (segmen) dari cacing pita baik pada waktu buang air besar maupun secara spontan. bila memungkinkan sambil memperhatikan contoh potongan cacing yang diawetkan dalam botol transparan. Sedangkan dengan pemeriksaan tinja yaitu Tinja diperiksa untuk menemukan telur parasit. Telur terlihat seperti telur yang lain dari Taeniidae keluarga, sehingga hanya mungkin untuk mengidentifikasi telur untuk keluarga, bukan ke tingkat spesies. Karena sulit untuk mendiagnosa menggunakan telur saja, melihat scolex atau proglottids gravid dapat membantu mengidentifikasi Taenia saginata.

24

DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Parasitologi kedokteran edisi 4. Jakarta : Balai Penerbit FKUI 2009 2. Brown H W. Dasar Parasitologi Klinik. Jakarta: penerbit Gramedia. 2009. 3. Abdurahman N, Daldiyono H, Markum, dkk. Anamnesis danPemeriksaanFisik. Jakarta: Balaipenerbit FKUI 2003. 4. Djaenudin N, Ridad A. parasitologi kedokteran: ditinjau dari organ tubuh yang diserang. EGC; Jakarta. 2009. 5. Juni PA L.A, Tjahaya P.U, Darwanto. Atlas Parasitologi Kedokteran. Penerbit PT gramedia pustaka utama; Jakarta. 2001.

6.

http://www.depkes.go.id/downloads/Taeniasis.pdf ;diunduh 11 Mei 2012

25