Anda di halaman 1dari 76

DESAIN PENGELOLAAN SAMPAH DI KOTA TANAH GROGOT KABUPATEN PASER

MUHAMMAD AKBAR

SAMPAH DI KOTA TANAH GROGOT KABUPATEN PASER MUHAMMAD AKBAR PROGRAM STUDI PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN

PROGRAM STUDI PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU

2009

DESAIN PENGELOLAAN SAMPAH DI KECAMATAN TANAH GROGOT KABUPATEN PASER

MUHAMMAD AKBAR

DI KECAMATAN TANAH GROGOT KABUPATEN PASER MUHAMMAD AKBAR Tesis ini diserahkan kepada Program Studi Pengelolaan

Tesis ini diserahkan kepada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

MAGISTER SAINS (Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan)

Februari 2009

PRAKATA

PRAKATA Puji dan syukur Penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas segala rahmat dan hidayah-Nya

Puji dan syukur Penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas segala

rahmat dan hidayah-Nya jualah Penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul

”Desain Pengelolaan Sampah Di Kota Tanah Grogot Kabupaten Paser”

waktu yang direncanakan.

tepat pada

Melalui kesempatan ini Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1.

Bapak Prof. Dr. Ir. M. Arief Soendjoto, M.Sc selaku Ketua Komisi Pembimbing

2.

Bapak Ir. Ahmad Jauhari, M.P. selaku Anggota Komisi Pembimbing Pertama

3.

Bapak Ir. H. Mijani Rahman, M.Si selaku Anggota Komisi Pembimbing kedua.

3.

Seluruh Staf Dosen dan karyawan Pascasarjana Pengelolaan Sumberdaya Alam

dan Lingkungan Unlam dan semua pihak yang telah banyak memberikan bantuan

dan dukungan selama dilaksanakannya penyusunan tesis ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan masih banyak terdapat kekurangan

dan kesalahan, untuk itu Penulis mengharapkan saran dan kritik dari berbagai pihak

untuk menyempurnakan proposal tesis ini.

Akhirnya Penulis berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan berguna

bagi kita semua.

Banjarbaru, Februari 2009

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman

 

PRAKATA

i

DAFTAR ISI

ii

DAFTAR TABEL

iii

DAFTAR GAMBAR

iv

DAFTAR LAMPIRAN

v

I.

PENDAHULUAN

1

A. Latar Belakang

1

B. Identifikasi dan Perumusan Masalah

3

C. Tujuan Penelitian

5

D. Maksud dan Kegunaan Penelitian

5

E. Kerangka Pemikiran

6

II.

TINJAUAN PUSTAKA

9

A. Sampah

9

B. Sampah Perkotaan

11

C. Masalah yang ditimbulkan Sampah

14

D. Pengelolaan Sampah

15

E. Keadaan Kabupaten Paser

28

III.

METODE PENELITIAN

31

A. Tempat dan Waktu Penelitian

31

B. Alat Penelitian

31

C. Metode yang Digunakan

31

D. Teknik Pengumpulan Data

33

E. Pengolahan dan Analisis Data

34

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

35

A. Sebaran dan Volume Sampah

35

B. Organisasi Pengelola Sampah

40

C. Kendala Pengelolaan Sampah di Tanah Grogot

46

V.

KESIMPULAN DAN SARAN

55

A. Kesimpulan

55

B. Saran

56

DAFTAR PUSTAKA

58

LAMPIRAN

60

DAFTAR TABEL

 

Halaman

1. Komposisi Sampah di Beberapa Kota Besar

11

2. Komposisi Umum Sampah Kota

12

3. Cakupan Pelayanan Persampahan di Indonesia

12

4. Ratio perbandingan C dan N terhadap beberapa Bahan

22

5. Data Hasil Survey Penduduk Per Jalan di Tanah Grogot

37

6. Hasil Survey Rumah dan Sampel Sampah

38

7. Sarana dan Prasarana Sampah Di Kabupaten Paser

40

8. Sarana dan Prasarana Persampahan yang diusulkan

42

DAFTAR GAMBAR

 

Halaman

1.

Kondisi sampah yang berserakan di sekitar TPS

3

2.

Kerangka Pemikiran Penelitian

8

2.

Tahapan Kegiatan Pengelolaan Sampah

16

3.

Proses Stabilisasi Komposting

18

4.

Kerangka Kerja Penelitian

34

6.

Peta Jaringan Jalan, Klas Rumah dan Rumah Sampel

36

7.

Kondisi Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Tanah Grogot

42

8.

Peta Zonasi Pengelolaan dan Sebaran TPS

43

9.

Peta Sebaran Tempat Pembuangan Sementara (TPS)

44

10.

Organisasi Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Paser

45

11.

Salah satu sarana kebersihan (TPS) dalam kondisi rusak Struktur

47

DAFTAR LAMPIRAN

 

Halaman

1. Cakupan Pelayanan Persampahan di Indonesia

55

2. Sistem Pembuangan di Beberapa Kota di Indonesia

56

A. Latar Belakang

Masalah

sampah

BAB I PENDAHULUAN

sudah

bukan

lagi

sekadar

masalah

kebersihan

dan

lingkungan saja, tetapi sudah menjadi masalah sosial yang mampu menimbulkan

konflik.

Lebih parahnya lagi, hampir semua kota di Indonesia, baik kota besar atau

kota kecil, tidak memiliki penanganan sampah yang baik, hanya menggunakan

sistem pengelelolaan yang kuno, kumpul-angkut-buang.

Sebuah pengaturan klasik

yang akhirnya menjadi praktik pembuangan secara terbuka di lokasi yang sudah

ditentukan (open dumping).

Praktik itu memiliki kelemahan dan berakibat fatal

terhadap lingkungan atau manusia di sekitar lokasi pembuangan, seperti yang terjadi

di Leuwigajah, Jawa Barat. Belum lagi praktik itu membutuhkan lahan yang luas,

padahal penyediaan lahan menjadi kendala utama dalam penanganan sampah, seperti

yang terjadi di TPST Bojong, Bogor.

Sebenarnya

jika

ditinjau

lebih

jauh

lagi

maka

terlihat

bahwa

konflik

permasalahan sampah terjadi hampir di seluruh kota di Indonesia. Beberapa kejadian

yang berhubungan dengan pengelolaan sampah yang terdapat di Pulau Jawa seperti

yang terjadi beberapa waktu yang lalu, sebenarnya juga akan terjadi di luar Pulau

Jawa apabila kita tidak mencermati lebih jauh lagi.

Pada mulanya orang hanya

beranggapan bahwa dengan adanya lahan yang tersedia sehingga menyebabkan

sampah yang ada hanya diberi perlakuan dengan membuang (menumpuk) saja.

Akan tetapi orang tidak beranggapan bahwa lahan yang ada semakin hari akan

semakin sempit sehingga permasalahan yang nantinya akan timbul adalah akan

dibuang (tumpuk) dimana lagi sampah tersebut.

Pada dasarnya ini permasalahan

yang ada bukan terletak pada luas atau tidaknya lahan yang tersedia, tetapi pada

sistem manajemen pengelolaan apa yang digunakan dalam pengelolaan sampah

tersebut. Apabila menggunakan manajemen pengelolaan yang baik tentu saja semua

itu tidak tergantung pada

lahan yang tersedia,

karena

ada

beberapa alternatif

pengelolaan sampah tanpa harus membuang dan menumpuk sampah tersebut. Selain

itu kita juga bisa menggunakan prinsip 4 R dalam mengantisipasi hal tersebut yang

dapat

diterapkan

Replace.

dalam

kehidupan

sehari-hari,

yakni

Reuse,

Reduce,

Recycle,

Tanah Grogot merupakan ibukota dari Kabupaten Paser dan merupakan salah

satu dari beberapa kecamatan yang terletak di Kabupaten Paser.

Kaitannya dengan

pengelolaan sampah, kabupaten Paser saat ini dapat dikatakan masih kurang dan

belum optimal.

Hal ini dapat kita lihat bahwa jumlah penduduk kabupaten yang

semakin tahun semakin meningkat sehingga dapat dipastikan bahwa sampah yang

hasilkan juga semakin meningkat.

sampah

maka

seharusnya

sarana

Dengan adanya peningkatan terhadap jumlah

dan

prasarana

yang

ada

untuk

melakukan

pengelolaan juga harus seimbang serta seharusnya ada manajemen pengelolaan

sampah yang sesuai dengan kondisi kota atau daerah dan adanya design tempat

pembuangan akhir (TPA) yang berbasis kesehatan penduduk.

Sedangkan yang

terlihat pada keadaan di kabupaten Paser saat ini, untuk semua sarana dan prasarana

yang mendukungnya masih kurang. Contoh nyata yang terlihat bahwa secara visual

masih banyak sampah yang berserakan di sekitar TPS, selain itu juga masih

banyaknya masyarakat yang membuang sampah diluar jam yang telah ditentukan

oleh pemerintah daerah yakni jam 24.00 WITA serta kurangnya jumlah sarana dan

prasarana seperti TPS di tempat-tempat yang diperkirakan menghasilkan sampah

yang lebih banyak seperti pasar.

menghasilkan sampah yang lebih banyak seperti pasar. Gambar 1. Kondisi sampah yang berserakan di sekitar TPS

Gambar 1. Kondisi sampah yang berserakan di sekitar TPS

Permasalahan sampah tidak akan selesai dengan hanya diwacanakan, namun

sangat perlu tindakan nyata di lapangan. Penanganan permasalahan sampah pun tidak

dapat hanya dilakukan oleh sekelompok orang saja. Kerjasama yang baik antara

pemerintah, pelaku bisnis dan masyarakat luas menjadi persyaratannya.

Hal ini

bukan saja harus di kabupaten Paser saja melainkan hampir diseluruh kota harus

menerapkannya.

Sehubungan

dengan

hal

tersebut

sehingga

perlu

dicermati

untuk

menyelesaikan semua kondisi yang berhubungan dengan pengelolaan sampah di

kabupaten Paser baik itu dari manajemen penggelolaan pengambilan sampah maupun

design dan keadaan dari tempat pembuangan akhirnya (TPA) yang ada.

B. Identifikasi dan Perumusan Masalah

Pada dasarnya hampir semua kota besar yang berada di Indonesia mengalami

permasalahan sampah yang cukup pelik.

Sebagai contoh kita dapat melihat Kota

Banjarmasin dan Kota Bandung. Kedua kota tersebut merupakan salah satu dari kota

besar yang berada di Indonesia, akan tetapi kondisi pengelolaan persampahannya pun

belum dapat dikatakan baik. Hal ini dapat terlihat dari masih berserakannya sampah

yang kedua kota tersebut.

Tanah Grogot sebagai ibukota dari Kabupaten Paser tentunya merupakan

sebuah kecamatan yang lebih berkembang jika dibandingkan kecamatan-kecamatan

lainnya.

Dipilihnya Kecamatan Tanah Grogot sebagai lokasi penelitian mengingat

bahwa

selain

sebagai

ibukota,

Tanah

Grogot

juga

dijadikan

sebagai

sentral

perdagangan atau kegiatan perekonomian lainnya sehingga menyebabkan limbah

atau sampah yang dihasilkan juga lebih banyak jika dibandingkan dengan daerah-

daerah lainnya di Kabupaten Paser.

Permasalahan sampah yang ada di Tanah Grogot Kabupaten Paser semakin

hari semakin kompleks baik ditinjau dari segi ekonomi, sosial, estetika maupun

kesehatan.

Hal ini

dapat dinilai

apabila

melakukan

pengamatan langsung di

lapangan, masih terlihat sampah yang berserakan atau masih tercium bau busuk yang

menyengat dari sampah.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem pengelolaan

sampah yang telah dijalankan masih belum sempurna atau sistem pengelolaannya

masih belum optimal.

Indikator permasalahan persampahan di Tanah Grogot pada dasarnya dapat di

tinjau dari sarana dan prasarana yang ada dalam pengelolaan sampah, seperti bak

sampah (TPS) yang terbuat dari apa dan berapa besar volumenya (apa sudah sesuai

dengan

volume

sampah

yang

dihasilkan),

sarana

yang

digunakan

dalam

pengangkutan sampah dan teknis serta petugas lapangan yang ada.

Berdasarkan uraian yang telah disampaikan di atas maka dapat dilihat bahwa

permasalahan sampah yang ada di Tanah Grogot sebagai berikut :

1.

Berapa banyak volume yang dihasilkan di Tanah Grogot

 

2.

Apakah

volume

sampah

yang

dihasilkan

sudah

sesuai

dengan

sarana

dan

prasarana yang ada

 

3.

Sistem keorganisasian yang ada (petugas yang mendukung)

 

4.

Peta kepadatan sampah dan sebaran TPS

 

5.

Kondisi tempat pembuangan akhir

 

6.

Alternatif pengolahan sampah yang dilakukan.

 

C.

Tujuan Penelitian

 

Pada dasarnya semua bentuk penelitian yang ada pastilah memiliki suatu

tujuan yang ingin dicapai, sedangkan tujuan dari penelitian ini sebagai berikut :

1.

Menganalisis volume sampah yang dihasilkan di Tanah Grogot

 

2.

Menentukan kebutuhan sarana dan prasarana dalam pengelolaan sampah

 

3.

Menganalisis

kebutuhan

petugas

dalam

pengelolaan

sampah

dan

sistem

organisasi yang digunakan

 

4.

Menentukan peta kepadatan sampah dan posisi TPS.

 

D.

Maksud dan Kegunaan Penelitian

 

Penelitian ini dilaksanakan memiliki maksud untuk menganalisis sistem

manajemen pengelolaan sampah yang dilaksanakan di Tanah Grogot Kabupaten

Paser serta mengetahui kekurangan dan permasalahan yang ada di dalam sistem

pengelolaan tersebut.

Untuk kegunaan dari penelitian ini sangat diharapkan dapat memberikan

ilmu-ilmu

baru

dalam

pengelolaan

lingkungan

yang

berhubungan

dengan

pengelolaan

sampah

serta

diharapkan

dapat

memberikan

atau

menyelesaikan

permasalahan pengelolaan sampah yang ada di Tanah Grogot Kabupaten Paser.

Selain itu juga diharapkan dapat memberikan informasi mengenai penyelesaian-

penyelesaian permasalahan sampah yang terjadi berupa alternatif-alternatif lain

dalam pengelolaan sampah.

E. Kerangka Pemikiran

Pada dasarnya permasalahan yang diangkat di dalam penelitian ini adalah

tentang pengelolaan sampah, dimana permasalahan ini sudah merupakan polemik

yang terjadi hampir di setiap daerah di Indonesia.

Kondisi persampahan yang ada di Tanah Grogot untuk saat ini masih jauh

dari

yang diharapkan.

Permasalahan-permasalahan

yang ada

disebabkan

oleh

banyak faktor, baik itu dari faktor sistem pengelolaan yang digunakan maupun faktor

masyarakat sebagai penghasil sampah yang tersebar.

Permasalahan-permasalahan

tersebut terlihat dari kondisi sampah baik di TPS maupun di TPA yang tidak dikelola

dengan baik.

Pada dasarnya pengelolaan sampah tersebut merupakan suatu peluang usaha,

hanya saja bagaimana cara kita (masyarakat) memanfaatkan lebih baik lagi sampah

tersebut, baik dari segi pengelolaan maupun segi pengolahannya.

Selain itu kita

perlu mengubaha pola pikir atau paradigma masyarakat yang masih memaknai

bahwa sampah uitu adalah merupakan sebuh sampah yang harus diposisikan sebagai

sampah. Pola pikir yang demikianlah yang sebenarnya menghilangkan suatu peluang

yang ada pada sampah.

Seandainya kita selalu berasumsi atau menganggap bahwa

sampah adalah sebuah peluang usaha yang dapat meningkatkan perekonomian, tentu

saja sampah tersebut tidak begitu saja dibuang, melainkan diolah dan dimanfatakan

sedemikian rupa untuk menghasilkan suatu usaha yang baik.

Pengelolaan

sampah

yang

tidak

baik

tentunya

dapat

menyebabkan

pencemaran lingkungan, menimbulkan bau busuk yang tidak sedap, menimbulkan

penyebaran

penyakit,

dan

menyebabkan

menurunnya

nilai

estetika

atau

nilai

keindahan terhadap suatu areal. Oleh sebab itulah perlunya suatu sistem pengelolaan

sampah yang lebih baik dan menguntungkan, untuk disemua daerah khususnya

Tanah Grogot Kabupaten Paser.

Sumberdaya

Manusia

Jaringan Jalan

Sistem Organisasi

a J a r i n g a n J a l a n Sistem Organisasi
a J a r i n g a n J a l a n Sistem Organisasi
a J a r i n g a n J a l a n Sistem Organisasi
a J a r i n g a n J a l a n Sistem Organisasi
a J a r i n g a n J a l a n Sistem Organisasi
a J a r i n g a n J a l a n Sistem Organisasi
a J a r i n g a n J a l a n Sistem Organisasi

Jumlah dan

Sebaran Sampah

TPS / TPA

Pengangkut

Gambar 2. Kerangka Pemikiran Penelitian

Sistem Pengelolaan Sampah Yang kurang baik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Sampah

Sampah yang dalam bahasa Inggrisnya waste, pada dasarnya mencakup banyak

pengertian.

Sampah adalah zat-zat atau benda-benda yang sudah tidak terpakai lagi,

baik berupa bahan buangan yang berasal dari rumah tangga maupun dari pabrik sisa

proses industri yang semuanya merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia

(Apriadji, 1989).

Azwar (1990) mengatakan bahwa sampah adalah sebagian dari sesuatu yang

tidak terpakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang, umumnya berasal dari

kegiatan manusia dan bersifat padat. Definisi lain dikemukakan oleh Hadiwijoto (1983),

sampah adalah sisa-sisa bahan yang telah mengalami perlakuan baik telah diambil

bagian utamanya, telah mengalami pengolahan, dan sudah tidak bermanfaat, dari segi

ekonomi sudah tidak ada harganya serta dari segi lingkungan dapat menyebabkan

pencemaran atau gangguan kelestarian alam.

Murtadho dan Gumbira (1988) membedakan sampah atas sampah organik dan

sampah anorganik. Sampah organik meliputi limbah padat semi basah berupa bahan-

bahan organik yang umumnya berasal dari limbah hasil pertanian. Sampah ini

memiliki sifat mudah terurai oleh mikroorganisme dan mudah membusuk karena

memiliki rantai karbon relatif pendek. Sedangkan sampah anorganik berupa sampah

padat yang cukup kering dan sulit terurai oleh mikroorganisme karena memiliki rantai

karbon yang panjang dan kompleks seperti kaca, besi, plastik, dan lain-lain. Kategori

sumber penghasil sampah yang sering digunakan adalah : 1) sampah domestik, yaitu

sampah yang berasal dari pemukiman; 2) sampah komersial, yaitu sampah yang berasal

dari lingkungan perdagangan atau jasa komersial berupa toko, pasar, rumah makan, dan

kantor; 3) sampah industri, yaitu sampah yang berasal dari suatu proses produksi; dan 4)

sampah yang berasal selain dari yang telah disebutkan diatas misalnya sampah dari

pepohonan, sapuan jalan, dan bencana alam (Hadiwijoto, 1983).

Sampah atau waste digolongkan kedalam 4 kelompok, antara lain :

1. Human excreta, merupakan bahan buangan yang dikeluarkan dari tubuh manusia,

seperti tinja (faeces) dan air kencing (urine).

2. Sewage, merupakan air limbah yang dibuang oleh pabrik maupun rumah tangga,

contohnya air bekas cucian.

3. Refuse, merupakan bahan pada sisa proses industri atau hasil sampingan kegiatan

runah tangga.

Refuse inilah yang dalam pengertian sehari-harinya kerapkali kita

sebut sampah.

4. Industrian waste, merupakan bahan-bahan buangan dari sisa-sisa proses industri

(Apriadji, 1989).

Sampah

kelompok :

atau

refuse

berdasarkan

jenisnya

dapat

diklasifikasikan

kedalam

1. Sampah lapuk (gerbage) atau sampah organik, sampah ini merupakan sisa-sisa

makanan dari rumah tangga atau merupakan sampah yang berasal dari makhluk

hidup .

2. Sampah tak lapuk (rabbish) atau sampah anorganik,

terdegredasi secara alami.

sampah

ini

tidak dapat

B. Sampah Perkotaan

Komposisi jenis zat kandungan pada sampah perkotan pada umumnya terus

berubah dari waktu ke waktu.

Semakin meningkat kesejahteraan sosial masyarakat

maka kandungan bahan organiknya semakin menurun, sedangkan kandungan plastik,

kertas makin meningkat (Budirahardjo, 2002).

Hubungan antara tingkat kesejahteraan masyarakat dengan komposisi sampah

yang dihasilkan di beberapa negara dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 1. Komposisi Sampah di Beberapa Kota Besar

No

Komponen

London

Singapura

Hongkong

Jerman

U S A (%)

Jakarta

Bandung

(%)

(%)

(%)

(%)

(%)

(%)

1

Organik

28

4,6

9,4

31,6

23

74

73,4

2

Kertas

37

43,1

2,5

24

45

8

9,7

3

Logam

9

3

2,2

5,6

9

2

0,5

4

Kaca

9

1,3

9,7

8

9

2

0,4

5

Tekstil

3

9,3

9,6

-

-

-

1,3

6

Plastik

3

6,1

6,2

8,8

1

6

8,6

7

Lain-lain

11

32,6

29,4

21,9

-

8

6,1

Sumber : Widyatmoko dan Sintorini (2002)

Tabel 1 menunjukkan semakin meningkat kesejahteraan sosial masyarakat suatu

negara maka kandungan sampah semakin sedikit bahan organiknya, seperti negara

London, Singapura dan USA yang merupakan negara sejahtera semakin sedikit bahan

oraniknya yang terkandung dalam sampah dibandingkan dengan Jakarta dan Bandung.

Juga sampah kertas ke tiga negara tersebut di atas lebih banyak daripada Jakarta dan

Bandung.

Apabila kita meninjau lebih jauh lagi bahwa sebenarnya Indonesia sudah siap

untuk mengelola sampah secara maksimal. Akan tetapi hambatan terbesar yang ada di

Indonesia

adalah

kurangnya

kesadaran

masyarakat

Indonesia

mengenai

betapa

pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan benara sesuai dengan standar kesehatan.

Tabel 2. Komposisi Umum Sampah Kota

No

Komponen

Komposisi / Persentase

1

Serat kasar

41-61 %

2

Lemak

3-9 %

3

Abu (mineral)

4-20 %

4

Air

30-60 %

5

Ammonia

0,5-1,4 mg/g sampah

6

Senyawa nitrogen organik

4,8-14 mg/g sampah

7

Total nitrogen

7-17 mg/g sampah

8

Protein

3,1-9,3 %

9

pH

5-8

Sumber : J.S.Jeris dan R.Regan (1975) dalam Hadiwiyoto (1983)

Pada sampah padatan, beberapa sifatnya telah diketahui.

Sifat-sifat tersebut

sangat bervariasi, tergantung pada komponen-komponen sampah, dan sangat sulit

buntuk

dibuat

secara

umum

dan

menyeluruh.

Kekhasan

sampah

dari

berbagai

tempat/daerah serta jenisnya berlain-lainan sehingga memungkinkan sifat-sifat yang

berbeda, seperti terlihat Tabel 2 di atas.

Serat kasar merupakan komposisi terbesar sampah saat ini sehingga tanpa kita

sadari sendiri bahwa komposisi sampah terbesar sampah di Indonesia merupakan

terbentuk dari komponen organik sehingga nantinya dapat lebih memudahkan dalam

melakukan pengelolaannya.

Berikut merupakan cakupan pelayanan pengelolaan persampahan yang ada

tersebar di seluruh Indonesia :

Tabel 3. Cakupan Pelayanan Persampahan di Indonesia

   

Penduduk

Kota (Jiwa)

Jumlah

Kota

Cakupan Pelayanan

No

Propinsi

Jumlah

Proporsi

 

(Jiwa)

(%)

1

Sumatera

17.884.336

100

8.218.197

46,0

2

Jawa – Bali

75.049.732

148

21.294.350

28,4

3

Kalimantan

5.259.688

45

1.806.718

34,4

4

Sulawesi

6.103.336

62

2.228.856

36,5

5

Lainnya

5.115.469

29

1.582.065

30,9

 

INDONESIA

109.412.561

384

35.130.186

32,1

Sumber : Data dan Informasi Umum Pembangunan Perkotaan dan Pedesaan, Ditjen TPTP, Dep Kimpraswil, 2001

Data tersebut di atas memperlihatkan bahwa Indonesia hanya memiliki 32,1%

proporsi cakupan persampahan atau sebesar 35.130.186 jiwa manusia saja. Sehingga

pola pelayanan persampahan di Indonesia dinilai masih sangat kurang.

C. Masalah yang Ditimbulkan Sampah

Bahar

(1986)

mengatakan

sampah

adalah

buangan

berupa

bahan

padat

merupakan polutan umum yang menyebabkan turunnya nilai estetika lingkungan,

membawa berbagai jenis penyakit, menurunnya nilai sumberdaya, menimbulkan polusi,

menyumbat saluran air dan berbagai akibat negatif lainnya.

1. Nilai estetika

Sampah yang menumpuk dan dibiarkan pada tempat terbuka (open dump),

menyebabkan rendahnya nilai estetika disekitar tempat tersebut.

oleh penampakan fisik yang tidak enak dilihat.

2. Polusi udara dan air

Hal ini disebabkan

Pembakaran

sampah

secara

terbuka

dan

tidak

dikendalikan

disamping

menghasilkan residu dan penghancuran sampah juga menimbulkan emisi pada atmosfir

dengan peningkatan komponen-komponen polutan di udara, seperti CO 2 , CO, NO, gas-

gas sulfur, amoniak dan partikel-partikel kecil di udara.

Air yang ada pada sampah

umumnya mengandung bahan kimia, bakteri dan kotoran lainnya yang dapat merembes

ke dalam tanah yang akan mencemarkan sumber air penduduk.

3.

Sumber penyakit

Tempat-tempat penumpukan sampah merupakan lingkungan kehidupan yang

baik

bagi

perkembangan

tikus,

nyamuk,

lalat,

insekta

dan

mikroba

yang

dapat

menimbulkan dan menyebarkan berbagai jenis penyakit.

4. Penyumbatan saluran air

Kebiasan buruk bagi sebagian orang adalah membuang sampah ke sungai, got

atau saluran air.

Selain menimbulkan polusi air juga menyebabkan pendangkalan dan

penyumbatan saluran air sehingga bila hujan datang saluran air itu akan mampat dan

menimbulkan banjir.

D. Pengelolaan Sampah

Pengolahan

sampah

adalah

perlakuan

terhadap

sampah

yang

bertujuan

memperkecil atau menghilangkan masalah-masalah yang berkaitan dengan lingkungan.

Dalam ilmu kesehatan lingkungan, suatu pengolahan sampah dianggap baik jika sampah

yang diolah tidak menjadi tempat berkembang biaknya bibit penyakit serta tidak

menjadi perantara penyebarluasan suatu penyakit. Syarat lain yang harus dipenuhi

adalah tidak mencemari udara, air, atau tanah, tidak menimbulkan bau, dan tidak

menimbulkan kebakaran.

Secara umum pengelolaan sampah di perkotaan melalui 3 tahapan kegiatan,

yaitu : pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan akhir/pengolahan.

Aboejoewono (1985) menggambarkan secara sederhana tahapan-tahapan dari

proses kegiatan dalam pengelolaan sampah sebagai berikut :

Gambar 3. Tahapan Kegiatan Pengelolaan Sampah Pengumpulan diartikan sebagai pengelolaan sampah dari tempat asalnya sampai

Gambar 3. Tahapan Kegiatan Pengelolaan Sampah

Pengumpulan diartikan sebagai pengelolaan sampah dari tempat asalnya sampai

ke tempat pembuangan sementara sebelum menuju tahapan berikutnya.

Pada tahapan

ini digunakan sarana bantuan berupa tong sampah, bak sampah, peti kemas sampah,

gerobak dorong maupun tempat pembuangan sementara (TPS). Tahapan pengangkutan

dilakukan dengan menggunakan sarana bantuan berupa alat transportasi tertentu menuju

ke tempat pembuangan akhir/pengolahan.

Pada tahap pembuangan akhir/pengolahan,

sampah

akan

mengalami

pemrosesan

baik

secara

fisik,

kimia

maupun

biologis

sedemikian hingga tuntas penyelesaian seluruh proses.

Sidik et. al. (1985), mengemukakan bahwa ada dua proses pembuangan akhir,

yakni : open dumping (penimbunan secara terbuka) dan sanitary landfill (pembuangan

secara sehat).

Pada sistem open dumping, sampah ditimbun di areal tertentu tanpa

membutuhkan tanah penutup, sedangkan pada cara sanitary landfill, sampah ditimbun

secara berselang-seling antara lapisan sampah dan lapisan tanah sebagai penutup.

Sampah yang telah ditimbun pada tempat pembuangan akhir (TPA) dapat

mengalami proses lanjutan.

umum digunakan adalah :

Teknologi yang digunakan dalam proses lanjutan yang

1.

Pengomposan (Composting)

Uraian mengenai proses pengomposan berikut ini bersumber dari Suriawiria

(1996). Pengomposan merupakan salah satu contoh proses pengolahan sampah secara

aerobik dan anaerobik yang merupakan proses saling menunjang untuk menghasilkan

kompos. Sampah yang dapat digunakan dengan baik sebagai bahan baku kompos adalah

sampah organik, karena mudah mengalami proses dekomposisi oleh mikroba-mikroba.

Proses dekomposisi senyawa organik oleh mikroba merupakan proses berantai.

Senyawa organik yang bersifat heterogen bercampur dengan kumpulan jasad hidup

yang berasal dari udara, tanah, air, dan sumber lainnya, lalu di dalamnya terjadi proses

mikrobiologis. Beberapa hal yang harus diperhatikan agar proses tersebut berjalan

lancar adalah perbandingan nitrogen dan karbon (C/N rasio) di dalam bahan, kadar air

bahan, bentuk dan jenis bahan, temperatur, pH, dan jenis mikroba yang berperan

didalamnya.

Pengomposan

merupakan

teknik

pengolahan

sampah

organik

yang

biodegradable,

sampah

tersebut

dapat

diurai

oleh

mikroorganisme

atau

cacing

(vermicomposting) sehingga terjadi proses pembusukan, kompos yang dihasilkan sangat

baik

untuk

memperbaiki

struktur

tanah,

karena

kandungan

unsur

hara

dan

kemampuannya menahan air (Damanhuri, 1999).

Pengomposan dengan menggunakan sistem agitasi dapat mempercepat proses

pengomposan awal daripada sistem statis dan dalam proses metro waste diperlukan

waktu kurang lebih 7 hari, cara pengomposannya yaitu dengan memberikan agitasi

periodik dengan diputar (Haug, 1962).

Proses pengomposan secara agitasi dapat

dilakukan secara aerobik dan anaerobik, tetapi pengomposan secara aerobik lebih

banyak

dilakukan

karena

tidak

menimbulkan

bau,

waktu

pengomposan

cepat,

menghasilkan temperatur tinggi, serta kompos yang dihasilkan lebih higienis (CPIS,

1992).

Proses stabilisasi pada komposting secara aerobik dapat digambarkan sebagai

berikut :

Protein

Asam amino

Lipida

Karbohidrat

Selulosa

Lignin

Debu

: Protein Asam amino Lipida Karbohidrat Selulosa Lignin Debu + O 2 + Nutrien + Mikroorganisme
: Protein Asam amino Lipida Karbohidrat Selulosa Lignin Debu + O 2 + Nutrien + Mikroorganisme
: Protein Asam amino Lipida Karbohidrat Selulosa Lignin Debu + O 2 + Nutrien + Mikroorganisme

+ O 2 + Nutrien + Mikroorganisme

Kompos + Sel-sel Baru +

+ O 2 + Nutrien + Mikroorganisme Kompos + Sel-sel Baru + Sel-sel Mati + CO

Sel-sel Mati

+ CO 2 + H 2 O + NO 3 + SO 4 2 + Panas

(Komponen utama dari fraksi Organik limbah padat perkotaan)

Gambar 4. Proses Stabilisasi Komposting

Mikroorganisme yang bekerja pada proses pengomposan dibedakan atas dua

kelompok, yaitu kelompok Mesophilic (mikroorganisme yang hidup pada temperatur

23°-45° C, seperti : jamur, Actinomycetes, cacing tanah, cacing kremi, keong kecil,

semut, kumbang tanah) dan Thermopilic (mikroorganisme yang hidup pada temperatur

45°-65° C, seperti: cacing pita, Protozoa, Rotifera, kutu jamur).

Mikroorganisme kelompok Mesophilic dan Thermophilic melakukan proses

pencernaan secara kimiawi, dimana bahan organik dilarutkan dan kemudian diuraikan.

Cara kerjanya yaitu dengan mengeluarkan enzym yang dilarutkan ke dalam selaput air

(water film) yang melapisi bahan organik, enzym tersebut berfungsi menguraikan bahan

organik menjadi unsur-unsur yang mereka serap. Karena terjadi dipermukaan bahan,

maka proses

penguraian ini akan mengakibatkan semakin luasnya permukaan bahan.

Selanjutnya

permukaan

yang

semakin

luas

ini

akan

mempercepat

proses

perkembangbiakan mikroorganisme. Demikian seterusnya, semakin

besar populasi

mikroorganisme, semakin cepat pula proses pembusukan (Harold, 1965).

Indikator

yang

menunjukkan

bahwa

proses

dekomposisi

senyawa

organik

berjalan lancar adalah adanya perubahan pH dan temperatur. Proses dekomposisi akan

berjalan

dalam

empat

fase,

yaitu

mesofilik,

termofilik,

pendinginan,

dan

masak.

Hubungan diantara keempat fase tersebut sebagai berikut :

a. Pada proses permulaan, media mempunyai nilai pH dan temperatur sesuai dengan

kondisi lingkungan yang ada, yaitu pH + 6.0 dan temperatur antara 18 - 22°C;

b. Sejalan dengan adanya aktifitas mikroba (khususnya bakteri indigenousi) di dalam

bahan, maka temperatur mulai naik, dan akhirnya akan dihasilkan asam organik;

c. Pada kenaikan temperatur diatas 40°C, aktifitas bakteri mesofilik akan terhenti,

kemudian diganti oleh kelompok termofilik. Bersamaan dengan pergantian ini,

amoniak dan gas nitrogen akan dihasilkan, sehingga nilai pH akan berubah kembali

menjadi basa;

d. Kelompok jamur termofilik, yang terdapat selama proses, akan mati akibat kenaikan

temperatur diatas 60°C. Selanjutnya akan diganti

oleh

kelompok bakteri dan

actinomycetes termofilik sampai batas temperatur + 86°C.

e. Jika temperatur maksimum sudah tercapai serta hampir seluruh kehidupan di

dalamnya

mengalami

kematian,

maka

temperatur

akan

turun

kembali

hingga

mencapai kisaran temperatur asal. Fase ini disebut fase pendinginan dan akhirnya

terbentuklah kompos yang siap digunakan.

Sebenarnya tujuan dari komposting itu sendiri, antara lain :

a. Mengubah bahan organik yang biodegradable menjadi bahan yang stabil

b. Membunuh mikroba pathogen, telur insect & organisme lain

c. Menyediakan nutrient yang cukup untuk menunjang kesuburan tanah / tanaman.

Faktor-faktor yang mempengaruhi laju pengomposan adalah sebagai berikut:

1. Ukuran Bahan yang Dikomposkan

Mikroorganisme adalah makhluk yang melakukan pencernaan di luar tubuhnya

(extra metabolisme). Extra metabolisme ini memerlukan suatu media untuk terjadinya

proses penguraian bahan, yang dalam hal ini adalah suatu selaput air yang terdapat di

permukaan

bahan

organik

itu

sendiri.

Semakin

kecil

partikel,

semakin

banyak

jumlahnya dan semakin luas pula jumlah permukaan yang dicerna oleh organisme.

Maka ukuran bahan yang layak untuk dikomposkan adalah ± 2 inchi (5 cm), sedangkan

bahan yang (berasal dari kebun bunga atau truk kebun harus dipotong ± 1/2 inchi (kira-

kira 1cm).

2. Temperatur dan tinggi tumpukan

Metabolisme mikroorganisme dalam

tumpukan menimbulkan energi dalam

bentuk panas. Panas yang ditimbulkan sebagian akan tersimpan di dalam tumpukan dan

sebagian lagi terlepas pada proses penguapan atau aerasi. Panas yang terperangkap di

dalam tumpukan akan meningkatkan temperatur tumpukan.

Dalam proses pengomposan aerobik terdapat dua fase yaitu fase Mesophilic (23-

45)° C dan fase Thermopilic (45-65)° C. Kisaran temperatur ideal tumpukan kompos

adalah 55 °C – 65 °C.

Pada temperatur tersebut, perkembangbiakan mikroorganisme

adalah

yang paling

baik

sehingga

populasinya

baik,

disamping

itu,

enzim

yang

dihasilkan untuk menguraikan bahan organik paling efektif daya urainya.

Temperatur

yang

tinggi

(minimal

55°

C)

perlu

dipertahankan

sekurangkurangnya selama 15 hari berturut-turut, dan tumpukan dibalik ± 5 kali dalam

masa tersebut dan Thcobanaglous sehingga :

a) Membunuh bibit penyakit (patogen).

b) Menetralisir bibit hama (seperti lalat).

c) Mematikan bibit rumput atau molekul organik yang resisten.

Temperatur

yang

tinggi

dalam

tumpukan

mengakibatkan

pecahnya

telur

serangga pada sampah, dan serangga serta bakteri patogen akan mati. Temperatur udara

luar tidak akan mempengaruhi temperatur dalam tumpukan kompos. Jadi yang penting

adalah ketinggian tumpukan. Agar proses berjalan dengan cepat, maka tinggi tumpukan

sebaiknya antara 1,25-2 m.

3. Ketersediaan Oksigen dan Pembalikan

Kadar oksigen yang ideal adalah 10 %-18 % (kisaran yang dapat diterima adalah

5 %-20%).

Jika tumpukan terlalu lembab maka proses pengomposan akan terhambat,

ini dikarenakan kandungan air akan menutupi rongga udara di dalam tumpukan,

sehingga

akan

membatasi

kadar

oksigen

dalam

tumpukan.

Kekurangan

oksigen

mengakibatkan

mikroorganisme

aerobik

mati

dan

akan

tergantikan

oleh

mikroorganisme anaerobik. Tetapi dengan adanya pembalikan pada tumpukan kompos

akan mengembalikan kondisi tumpukan menjadi normal kembali.

Aerasi sangat diperlukan untuk mengurangi kadar air yang tinggi pada bahan

organik yang akan dikomposkan dan untuk menjaga agar pada proses pengomposan

selalu ada udara segar dan kondisi anaerob dapat dihindari.

4. Rasio Karbon-Nitrogen (C/N)

Penyebab pembusukan pada bahan organik diakibatkan adanya karbon dan

nitrogen. Rasio C/N digunakan untuk mendapatkan degradasi biologis dari bahan-bahan

organik yaitu apakah sampah tersebut baik atau tidak untuk dijadikan kompos, serta

untuk menunjukkan umur dan kematangan kompos.

Rasio C/N optimum untuk komposting adalah 30-35. Organisme menggunakan

30 bagian karbon untuk setiap bagian nitrogen. rasio C/N setelah menjadi kompos

adalah 10-20. Kadar nitrogen yang tinggi terdapat pada sayuran dengan rasio C/N 24:1,

dan kadar karbon yang tinggi dijumpai pada kertas, jerami, batang tebu, dan sampah

kota.

Tabel 4. Ratio Perbandingan C dan N terhadap beberapa jenis bahan

No

 

Jenis Bahan

Ratio C/N

1

Kotoran Manusia :

 

-

Dibiarkan

6 : 1

 

-

Dihancurkan

16

:

1

2

Humus

10

:

1

3

Sisa dapur/makanan

15

:

1

4

Rumput-rumputan

19

:

1

5

Kotoran Sapi

20

:

1

6

Kotoran Kuda

25

:

1

7

Sisa buah-buahan

35

:

1

8

Perdu/semak

40-80 : 1

9

Batang jagung

60

:

1

10

Jerami

80

:

1

11

Kulit batang pohon

100-130 : 1

12

 

Kertas

170

:

1

13

Serbuk Gergaji

500

:

1

14

 

Kayu

700

:

1

Sumber : Center for Policy and Implementation Studies (CPIS), 1992.

5. Kadar Air dan Udara pada Tumpukan Kompos

Kadar air atau kelembaban yang ideal adalah antara 40%-60% dengan kadar

yang terbaik adalah 50 %. Kisaran tersebut harus dipertahankan untuk memperoleh

jumlah populasi mikroorganisme terbesar, karena semakin besar populasinya maka

makin cepat proses pembusukannya.

6. Derajat Keasaman (pH)

Pada awal proses pengomposan, derajat keasaman akan selalu turun karena

sejumlah mikroorganisme tertentu akan mengubah sampah organik menjadi asam

organik. Dalam proses selanjutnya, mikroorganisme jenis lainnya akan memakan asam

organik yang akan menyebabkan pH menjadi naik kembali, mendekati netral. pH yang

ideal dalam proses pengomposan adalah antara 6-8 dengan tingkat masih diterima

adalah pH 5 (minimum) dan pH 12 (maksimum).

2. Incenerator (Pembakar Sampah)

Pembakaran sampah dengan menggunakan incenerator adalah salah satu cara

pengolahan sampah, baik padat maupun cair. Didalam incenerator, sampah dibakar

secara terkendali dan berubah menjadi gas (asap) dan abu. Dalam proses pembuangan

sampah, cara ini bukan merupakan proses akhir. Abu dan gas yang dihasilkan masih

memerlukan penanganan lebih lanjut untuk dibersihkan dari zat-zat pencemar yang

terbawa, sehingga cara ini masih merupakan intermediate treatment (Sidik et al., 1985).

Salah satu kelebihan incenerator menurut Salvato (1982) adalah dapat mencegah

pencemaran udara dengan syarat incenerator harus beroperasi secara berkesinambungan

selama enam atau tujuh hari dalam seminggu dengan kondisi temperatur yang dikontrol

dengan baik dan adanya alat pengendali polusi udara hingga mencapai tingkat efisiensi,

serta mencegah terjadinya pencemaran udara dan bau.

Kelebihan incenerator sebagai alat pengolah sampah juga dikemukakan oleh

Sidik et al. (1985), yaitu meskipun incenerator masih belum sempurna sebagai sarana

pembuangan sampah, akan tetapi terdapat beberapa keuntungan sebagai berikut :

a. Terjadi pengurangan volume sampah yang cukup besar, sekitar 75% hingga 80%

dari sampah awal yang datang tanpa proses pemisahan.

b. Sisa pembakaran yang berupa abu cukup kering dan bebas dari pembusukan

c. Pada instalasi yang cukup besar kapasitasnya (lebih besar dari 300 ton/hari) dapat

dilengkapi dengan peralatan pembangkit listrik

Menurut Sidik et al. (1985), sistem incenerator pada dasarnya terdiri atas dua

macam, yaitu :

a. Sistem

pembakaran

berkesinambungan.

Sistem

ini

menggunakan

gerakan

mekanisasi dan otomatisasi dalam kesinambungan pengumpanan sampah ke dalam

ruang bakar (tungku) dan pembuangan sisa pembakaran. Sistem ini umumnya

dilengkapi fasilitas pengendali pembersih sisa pembakaran untuk membersihkan abu

dan gas. Sistem ini dapat digunakan untuk instalasi dengan kapasitas besar (lebih

besar dari 100 ton/hari) dan beroperasi selama 24 jam atau 16 jam per hari.

b. Sistem

pembakaran

terputus.

Sistem

ini

umumnya

sederhana

dan

mudah

dioperasikan. Digunakan untuk kapasitas kecil (kurang dari 100 ton/hari). Biasanya

beroperasi kurang dari 8 jam per hari. Cara kerjanya terputus-putus dalam arti bila

sampah yang sudah dibakar menjadi abu, maka untuk pembakaran berikutnya abu

tersebut harus dikeluarkan lebih dahulu. Setelah bersih, baru dapat dilakukan

pembakaran sampah selanjutnya.

Proses yang terdapat di incenerator pada dasarnya terdiri atas enam tahap, yaitu :

1) proses pembakaran; 2) proses pengolahan abu; 3) proses pendinginan gas; 4) proses

pengolahan gas; 5) proses pengolahan air kotor; dan 6) proses pemanfaatanpanas (Sidik,

et

al.,

1985).

Proses

tersebut

menunjukkan

bahwa

pengolahan

sampah

dengan

incenerator dilakukan dengan memperhatikan aspek keamanan terhadap lingkungan.

3. Tempat Pembuangan Akhir Sampah = TPA (landfill)

Tempat pembuangan akhir sampah adalah tempat dimana sampah dikelola untuk

dimusnahkan baik dengan cara penimbunan dengan tanah secara berkala (sanitary

landfill), pembakaran tertutup (insenerasi), pemadatan dan lain-lain (Ditjend PPM dan

PLP Depkes, 1989).

Menurut Sidik et al. (1985), pengolahan sampah metoda pembuangan akhir

dilakukan dengan teknik penimbunan sampah. Tujuan utama penimbunan akhir adalah

menyimpan sampah padat dengan cara-cara yang tepat dan menjamin keamanan

lingkungan, menstabilkan sampah (mengkonversi menjadi tanah), dan merubahnya

kedalam siklus metabolisme alam. Ditinjau dari segi teknis, proses ini merupakan

pengisian tanah dengan menggunakan sampah. Lokasi penimbunan harus memenuhi

kriteria sebagai berikut :

a. Ekonomis dan dapat menampung sampah yang ditargetkan

b. Mudah dicapai oleh kendaraan-kendaraan pengangkut sampah

c. Aman terhadap lingkungan sekitarnya.

Lokasi untuk penempatan tempat pembuangan akhir (TPA) harus memenuhi

persyaratan teknis kesehatan seperti :

1.

Jarak terhadap pemukiman minimal 2 km karena bau yang tidak enak,

2. Jarak terhadap sumber air baku untuk minum minimal 200 m,

3. Tidak terletak pada daerah banjir,

4. Tidak terletak pada lokasi yang permukaan air tanahnya tinggi,

5. Jarak dengan tepi jalan besar sedikitnya 200 m.

(Ditjend PPM dan PLP Depkes, 1989).

Ada beberapa metode landfilling yang diterapkan di lahan urug antara lain open

dumping, controlled landfill dan sanitary landfill.

Metode open dumping harus

dihindari penggunaannya. Untuk melindungi lingkungan terhadap dampak negatif yang

lebih besar maka seharusnya metode sanitary landfill yang digunakan di tempat

pembuangan akhir (TPA) atau minimal landfill (Bappeko Banjarmasin, 2001).

Pengawasan terhadap proses pengolahan sampah di tempat pembuangan akhir

(TPA) harus dilakukan sepanjang waktu. Hal ini mengingat bahwa pengolahan sampah

di tempat pembuangan akhir (TPA) memerlukan koordinasi pekerjaan, pemisahan

buangan berbahaya/beracun, melarang pemulung sampah membongkar sampah yang

telah dipadatkan dan meyakinkan bahwa pembuangan sampah dilakukan secara baik.

Pengaturan penempatan sampah di tempat pembuangan akhir harus teratur dan pada

tempat tertentu.

Hal ini mengingat bahwa penempatan sampah yang tidak teratur dan

tidak tepat akan mengakibatkan lebih banyak sampah bertebaran, pandangan jelek,

membutuhkan waktu, tenaga dan tanah penutup yang lebih banyak (Ditjend PPM dan

PLP Depkes, 1989).

Teknik sanitary landfill adalah cara penimbunan sampah padat pada suatu

hamparan

lahan

dengan

memperhatikan

keamanan

lingkungan

karena

telah

ada

perlakuan terhadap sampah. Pada teknik ini sampah dihamparkan hingga mencapai

ketebalan tertentu lalu dipadatkan untuk kemudian dilapisi dengan tanah dan dipadatkan

kembali. Pada bagian atas timbunan tanah tersebut dapat dihamparkan lagi sampah yang

kemudian ditimbun lagi dengan tanah. Demikian seterusnya hingga terbentuk lapisan-

lapisan sampah dan tanah. Pada bagian dasar dari konstruksi sanitary landfill dibangun

suatu lapisan kedap air yang dilengkapi dengan pipa-pipa pengumpul dan penyalur air

lindi (leachate) serta pipa penyalur gas yang terbentuk dari hasil penguraian sampah-

sampah organik yang ditimbun.

Menurut Sidik et al. (1985) penimbunan sampah yang sesuai dengan persyaratan

teknis

akan

membuat

stabilisasi

lapisan

tanah

lebih

cepat

dicapai.

Dasar

dari

pelaksanaannya adalah meratakan setiap lapisan sampah, memadatkan sampah dengan

menggunakan

compactor,

dan

menutupnya

setiap

hari

dengan

tanah

yang

juga

dipadatkan. Ketebalan lapisan sampah umumnya sekitar 2 meter, namun boleh juga

lebih atau kurang dari 2 meter bergantung pada sifat sampah, metoda penimbunan,

peralatan yang digunakan, topografi lokasi penimbunan, pemanfaatan tanah bekas

penimbunan, kondisi lingkungan sekitarnya, dan sebagainya. Adapun fungsi lapisan

penutup tersebut sebagai berikut :

a. Mencegah berkembangnya vektor penyakit

b. Mencegah penyebaran debu dan sampah ringan

c. Mencegah tersebarnya bau dan gas yang timbul

d. Mencegah kebakaran

e. Menjaga agar pemandangan tetap indah

f. Menciptakan stabilisasi lokasi penimbunan sampah

g. Mengurangi volume lindi.

Hal yang sangat penting diperhatikan sehubungan dengan pembangunan TPA

dengan teknik sanitary landfill adalah kemungkinan timbulnya pencemaran lingkungan

di areal TPA tersebut. Sidik et al. (1985) mengatakan bahwa ada beberapa jenis

pencemaran di lahan penimbunan sampah (TPA) yaitu :

a. Air lindi, yang keluar dari dalam tumpukan sampah karena masuknya rembesan air

hujan ke dalam tumpukan sampah lalu bersenyawa dengan komponen-komponen

hasil penguraian sampah;

b. Pembentukan gas. Penguraian bahan organik secara aerobik akan meghasilkan gas

CO2,

sedangkan

penguraian

bahan

organik

pada

kondisi

anaerobik

akan

menghasilkan gas CH4, H2S, dan NH3. Gas CH4 perlu ditangani karena merupakan

salah satu gas rumah kaca serta sifatnya mudah terbakar. Sedangkan gas H2S, dan

NH3 merupakan sumber bau yang tidak enak.

Secara sederhana pelaksanaan pengolahan sampah yang umum diterapkan di

perkotaan sebagai berikut :

sampah yang umum diterapkan di perkotaan sebagai berikut : PEMDAPEMDAPEMDAPEMDA Penyedia Sarana Angkutan, Personil
PEMDAPEMDAPEMDAPEMDA
PEMDAPEMDAPEMDAPEMDA
Penyedia Sarana Angkutan, Personil dan Peralatan
Penyedia Sarana
Angkutan,
Personil dan
Peralatan
Penyedia Sarana Angkutan, Personil dan Peralatan Memperlancar Pembuangan Sampah Ke TPA Kota yang Tertib,
Penyedia Sarana Angkutan, Personil dan Peralatan Memperlancar Pembuangan Sampah Ke TPA Kota yang Tertib,

Memperlancar Pembuangan Sampah Ke TPA

dan Peralatan Memperlancar Pembuangan Sampah Ke TPA Kota yang Tertib, Bersih dan Indah Gambar 5. Tata

Kota yang Tertib, Bersih dan Indah

Pembuangan Sampah Ke TPA Kota yang Tertib, Bersih dan Indah Gambar 5. Tata Laksana Pengelolaan Sampah
Pembuangan Sampah Ke TPA Kota yang Tertib, Bersih dan Indah Gambar 5. Tata Laksana Pengelolaan Sampah

Gambar 5. Tata Laksana Pengelolaan Sampah di Perkotaan

E. Keadaan Kabupaten Paser

Kabupaten Paser merupakan wilayah Propinsi Kalimantan Timur yang terletak

paling selatan, tepatnya pada posisi 00 45'18,37" - 20 27'20,82" LS dan 1150 36'14,5" -

1660 57'35,03" BT. Kabupaten Paser terletak pada ketinggian yang berkisar antara 0 -

500 m di atas permukaan laut. Di sebelah utara, Kabupaten Paser berbatasan dengan

Kabupaten Kutai Barat, di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Penajam Paser

Utara dan Selat Makasar, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Kota Baru,

Propinsi Kalimantan Selatan, serta di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten

Tabalong, Propinsi Kalimantan Selatan.

Luas Wilayah Kabupaten Paser saat ini adalah 11.603,94 km 2 , terdiri dari 10

Kecamatan dengan 106 buah Desa/Kelurahan dan empat buah UPT (Unit Pemukiman

Transmigrasi), serta dengan jumlah penduduk pada tahun 2003 mencapai 172.608 jiwa,

atau memiliki kepadatan penduduk 15 jiwa/Km 2 . Kecamatan dengan wilayah terluas di

Kabupaten Paser adalah Kecamatan Long Kali, dengan luas wilayah 2.385,39 km 2 ,

termasuk di dalamnya luas daerah lautan yang mencapai 20,50 persen dari luas wilayah

Kabupaten Paser secara keseluruhan, sedangkan kecamatan yang luas wilayahnya

terkecil adalah Kecamatan Tanah Grogot, yang mencapai 33,58 Km2 atau 2,89 persen.

Dari

segi

konstelasi

Propinsi

Kalimantan

Timur.

regional,

Kabupaten Paser berada

Posisinya

dilintasi

oleh

jalan

di sebelah Selatan

arteri

primer

(jalan

negara/nasional) yang menghubungkan Propinsi Kalimantan Timur dengan Kalimantan

Selatan. Pada bagian timur Kabupaten Paser melintang selat Makassar, yang dimasa

yang akan datang memiliki prospek dan fungsi penting sebagai jalur alternatif pelayaran

internasional. Pelabuhan laut utama di Kabupaten Paser, yaitu Pelabuhan Teluk Adang

terletak 12 Km ke arah utara ibukota Kabupaten (Kota Tanah Grogot), sedangkan Kota

Tanah Grogot berjarak lebih kurang 145 Km dari Kota Balikpapan, atau 260 Km dari

Ibukota Propinsi Kalimantan Timur (Kota Samarinda).

Pada tahun 2003, berdasarkan hasil registrasi, Kabupaten paser mengalami

peningkatan pertumbuhan jumlah penduduk sebesar 2,4 %, menjadi 172.608 jiwa,

terdiri

dari

90.889

jiwa

penduduk

laki-laki

dan

81.719

jiwa

penduduk

perempuan.Kepadatan penduduk Kabupaten Paser pada tahun 2003 adalah 15 jiwa per

Km 2 . Penyebaran penduduk tersebut masih belum merata, karena penyebarannya masih

terkonsentrasi pada kecamatan yang keadaan ekonominya lebih maju. Kecamatan yang

mempunyai tingkat kepadatan penduduk tertinggi adalah Kecamatan Tanah Grogot

dengan

kepadatan

penduduk

rata-rata

130

jiwa

per

Km2,

sedangkan

kepadatan

penduduk terendah terdapat di kecamatan Muara Komam dan Tanjung Aru, dengan

tingkat kepadatan penduduk rata-rata enam jiwa per Km 2 .

Dengan skala wilayah yang mencapai Rp 2.796.901,00 juta, kontribusi 2,86%

terhadap pembentukan ekonomi wilayah Provinsi Kalimantan Timur tahun 2005. Laju

pertumbuhan ekonomi yang dicapai selama 2003-2005 melebihi rata-rata pertumbuhan

kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Timur. posisi ke 6 setelah Kota Bontang,

Kabupaten Kutai, Kota Balikpapan, Kabupaten Kutai Timur, dan Kota Samarinda.

Tingkat kemakmuran penduduk Kabupaten Paser lebih rendah dibandingkan dengan

rata-rata

tingkat

kemakmuran

Penduduk

Provinsi

Kalimantan

Timur.

Tingkat

kemakmuran

penduduk

Rp

16.116.838,

sedangkan

PDRB

per

Kapita

Provinsi

Kalimantan Timur mencapai Rp 32.852.165,-. Ekonomi Kabupaten Paser sampai tahun

2006, kontribusi terbesar pada sektor pertambangan dan penggalian dengan kontribusi

65,51 % dan pertanian 19,58 %.

Dengan mempertimbangkan nilai tambah yang dihasilkan oleh pertambangan

batubara, laju sebesar 7,70%, apabila tanpa pertambangan batubara laju 5,43%. Secara

sektoral, laju pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor bangunan: 16,55% per tahun,

paling rendah adalah sektor industri pengolahan: 2,96% per tahun. Sektor pertanian

sebagai mata pencaharian utama 3,41 %.

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat

Lama waktu penelitian pengelolaan sampah ini kurang lebih 3 bulan, mulai dari

persiapan,

pengumpulan

data,

pengolahan

data,

penyusunan

(penulisan

laporan).

Tempat penelitian pengelolaan sampah ini di Kecamatan Tanah Grogot Kabupaten

Paser.

B. Alat Penelitian

Peralatan yang digunakan dalam penelitian pengelolaan sampah ini sebagai

berikut :

1.

GPS (Global Position System)

2.

Peta Tanah Grogot / Peta RBI (Rupa Bumi Indonesia)

3.

Software GIS

4.

Komputer

5.

Kuesioner (daftar pertanyaan)

6.

Alat tulis.

C.

Metode yang Digunakan

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey. Metode ini

dipilih mengingat penelitian untuk membuat deskriptif pengelolaan sampah, gambaran

secara sistematis, faktual dan akurat mengenai sistem pengelolaan sampah di Tanah

Grogot.

Akan

tetapi

sebelum

melakukan

metode

survey

tersebut,

terlebih

dahulu

melakukan pengamatan terhadap kondisi persampahan dan kondisi penduduk.saat ini.

Setelah itu melakukan digitalisasi peta jalan (RBI) Kota Tanah Grogot, pemetaan rumah

dan jalan serta pendataan kondisi fisik rumah. Proses ini bertujuan untuk mendapatkan

peta jaringan jalan, peta sebaran pemukiman dan kondisi fisik rumah.

Setelah mendapatkan peta jaringan jalan dan peta sebaran pemukiman serta

kondisi fisik rumah, maka kegiatan survey akan dilakukan. Hal ini dilakukan untuk

mendapatkan stratifikasi rumah yang berdasarkan atas beberapa klas (lihat berdasarkan

kuesioner). Untuk membedakan klas-klas rumah yang sama maka dapat dilakukan

dengan menggantinya dengan kode wilayah. Pada setiap klas rumah tersebut diambil

sebanyak 5 % untuk digunakan sebagai sampel (responden) terhadap jumlah populasi di

dalam klas tersebut. Setelah itu kemudian melakukan wawancara (kuesioner) pada

responden terpilih.

Mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) SK-SNI-T-

12.1991-03 tentang Tata Cara Pengelolaan Sampah Pemukiman, maka untuk timbunan

sampah skala kota kecil adalah sekitar 2,5 – 2,75 liter/orang/hari atau sekitar 0,0025 –

0,00275 m 3 /orang/hari.

Data hasil kuesioner yang diperoleh digunakan untuk mengetahui berapa besar

volume sampah yang dihasilkan per anggota keluarga.

Selain itu data hasil kuesioner

juga dapat menunjukkan sarana prasarana dan tenaga petugas yang dibutuhkan untuk

terlayaninya kondisi persampahan tersebut.

Kemudian setelah mendapatkan peta jaringan jalan dan klas rumah, maka

dilanjutkan dengan melakukan overlay terhadap peta jaringan jalan dan klas tersebut

untuk mendapatkan peta klas kepadatan sampah.

Dengan peta klas kepadatan sampah

inilah

nantinya

digunakan

untuk

menentukan

peta

sebaran

TPS

pengelolaan (peta arah truk pengangkut).

dan

peta

zona

Dengan menggunakan dasar peta klas kepadatan sampah, peta sebaran TPS dan

peta zona pengelolaan (peta arah truk pengangkut) dapat menentukan kebutuhan tenaga

petugas, keorganisasian pengelola dan kondisi TPA.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah :

1. Persiapan

kemudian

digitalisasi

jaringan

jalan

pada

peta

RBI

(Rupa

Bumi

Indonesia) Kota Tanah Grogot,

 

2. Melakukan

survey

pemetaan

jaringan

jalan,

posisi

rumah

dan

fisik

rumah

(kuesioner)

3. Melakukan wawancara (kuesioner) terhadap responden yang terpilih dan petugas

kebersihan yang ada.

4. Sedangkan jenis data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder

a.

Data primer adalah data yang didapat langsung berupa data jaringan jalan,

kondisi fisik rumah dan data dari masyarakat yang diambil secara acak, yaitu

meliputi data tentang jumlah kepala keluarga dalam 1 rumah, berapa jumlah

anggota keluarga dalam 1 kepala keluarga dan jumlah sampah yang dihasilkan

perkantongan plastik (terlampir daftar pertanyaan/kuesioner).

b.

Sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumen-dokumen yang ada di instansi

terkait dan pustaka.

b.

E. Pengolahan dan Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini adalah :

1. Pengolahan data dengan tahapan sebagai berikut ; editing, coding data, tabulasi data,

2. Analisis data yang digunakan adalah analisis overlay, query dan tabular.

3. Pendeskripsian data yang diperoleh melalui wawancara (kuesioner) baik melalui

lisan maupun tulisan.

Sistem Pengelolaan Kegiatan Ekonomi Volume Sampah Sarana & Prasarana Jumlah Penduduk Pemukiman Survey Sampah
Sistem Pengelolaan
Kegiatan Ekonomi
Volume Sampah
Sarana & Prasarana
Jumlah Penduduk
Pemukiman
Survey Sampah
Penduduk
Peta RBI
Pemetaan Jaringan Jalan
Peta Jaringan Jalan & Posisi Pemukiman
S
u r v e y
Klasifikasi Rumah
Kebutuhan ? Petugas,
Sarana & prasarana serta
Biaya
Peta Klas Kepadatan Sampah
T P S
Sarana & Prasarana
Pengangkutan
• Peta Sebaran TPS
• Peta Zona Pengelolaan
TPA : Design, Volume
Kebutuhan Petugas, Organisasi
Sistem Pengelolaan
&
Pengelolaan
Pengelola dan TPA
Sistem Pengolahan
S t u d yF
I e l d
S t u d y
D e s k

Gambar 6. Kerangka kerja penelitian

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Sebaran dan Volume Sampah

Berdasarkan hasil survey di lokasi mengenai jaringan jalan dan posisi rumah

maka diperoleh peta jaringan jalan dan kelas rumah, seperti yang terlihat pada gambar

6. Peta tersebut menggambarkan jalan yang dapat dilalui mobil truk angkutan sampah.

Dimana saat ini pada jalan tersebut terdapat beberapa TPS serta kondisi jalan yang

relatif baik, walaupun dibeberapa ruas jalan masih mengalami perbaikan.

Untuk sebaran dan volume kepadatan sampah, ini dilihat dari jumlah dari

kepadatan penduduk, seperti pada daerah jalan Padat Karya tentunya memiliki volume

sampah yang lebih banyak dibandingkan daerah lain mengingat daerah ini lebih padat

penduduk dibandingkan dengan daerah lain.

Jumlah responden yang diambil sesuai dengan prosedur pengambilan responden

yakni 5% dari jumlah penduduk per kelas rumah. Sehingga dengan jumlah penduduk

yang berada pada pusat kota Tanah Grogot maka diperoleh jumlah responden sebanyak

52 orang, seperti yang terlihat pada tabel 5.

Tabel 5. Data hasil Survey Samplibng Penduduk Per jalan di Tanah Grogot

       

Jumlah

No

Nama Jalan

Jumlah Penduduk

Kelas Rumah

Responden

Jalur

Jalur

             
   

Kanan

Kiri

Jmlh

A

B

C

A

B

C

1

Jenderal Sudirman

33

41

74

45

23

6

2

1

1

2

RA. Kartini

40

56

96

69

20

7

3

1

1

3

Gajah Mada

37

18

55

31

20

4

2

1

0

4

Noto Sunardi

24

32

56

27

25

4

1

1

0

5

Singa Maulana

21

11

32

18

13

1

1

1

0

6

SI. Khaliluddin

30

26

56

26

27

3

1

1

0

7

Ahmad Yani

29

28

57

38

13

6

2

1

1

8

Modang

30

27

57

38

18

1

2

1

0

9

Pangeran Menteri

38

29

67

34

30

3

2

2

0

10

HOS Cokroaminoto

30

29

59

28

31

0

1

2

0

11

Agus Salim

12

15

29

16

12

1

1

1

0

12

KS. Tubun

9

12

21

10

11

0

1

1

0

13

Piere Tendean

14

14

28

15

12

1

1

1

0

14

Ahmad Dahlan

18

24

42

24

16

2

1

1

0

15

Padat Karya

20

21

41

23

17

1

1

1

0

16

Hasanuddin

22

28

50

27

19

4

1

1

0

17

Bhayangkara

13

10

23

11

11

1

1

1

0

18

Abdurahman

16

16

36

17

19

0

1

1

0

19

Anden Oko

23

24

47

25

21

1

1

1

0

20

Lambung Mangkurat

15

9

24

13

10

1

1

1

0

 

Jumlah Total

 

950

535

368

47

27

22

3

Tabel 6. Hasil Survey Rumah dan Sampel Sampah

No

 

Nama

Jalan

Kelas

Jmlh Anggota

Prakiraan Volume Sampah (m 3 /hari)

 

Rumah

Keluarga

1

Badriansyah

 

A

6

0,015

2

Aminullah

Jend. Sudirman

A

4

0,01

3

Abd. Rahim

B

7

0,0175

4

Hasan Efendi

 

C

12

0,03

5

Irwansyah

 

A

7

0,0175

6

Zulkifli

A

5

0,0125

7

Murhansyah

RA. Kartini

A

6

0,015

8

Sukasno

B

4

0,01

9

I Ketut Made

C

9

0,0225

10

Syamsudin

 

A

6

0,015

11

Subandri

Gajah Mada

A

3

0,0075

12

Ronny

B

9

0,0225

13

Syarfin Hamid

Noto Sunardi

A

6

0,015

14

Aji Adjan

B

4

0,01

15

Adam Malik

Singa Maulana

A

8

0,02

16

Lukas Luther

B

6

0,015

17

Adam Syarkawi

SI. Khaliluddin

A

3

0,0075

18

Edi Suherman

B

8

0,02

19

<