Anda di halaman 1dari 4

KELANGKAAN HEWAN TARSIUS

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Geografi Lingkungan Yang dibina Bapak Ardyanto Tanjung

Oleh M.Rizqon Al Musafiri (100721403485)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN GEOGRAFI Januari 2013

Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mammalia; Ordo:Primata; Famili: Tarsiidae; Genus: Tarsius; Spesies: Tarsius tarsier dan Tarsius pumilus Nama binomial: Tarsius tarsier (Erxleben, 1777) atau Tarsius spectrum (Pallas, 1779) dan Tarsius pumilus atau Pygmy tarsier Status konservasi: Hampir Terancam

Tarsius (diantaranya Tarsius tarsier dan Tarsius pumilus) adalah binatang unik dan langka. Primata kecil ini sering disebut sebagai monyet terkecil di dunia, meskipun satwa ini bukan monyet. Sedikitnya terdapat 9 jenis Tarsius yang ada di dunia. 2 jenis berada di Filipina sedangkan sisanya, 7 jenis terdapat di Sulawesi Indonesia. Yang paling dikenal adalah dua jenis yang terdapat di Indonesia yaituTarsius tarsier (Binatang Hantu / Kera Hantu) dan Tarsius pumilus (tarsius kerdil, krabuku kecil atau Pygmy tarsier). Kesemua jenis tarsius termasuk binatang langka dan dilindungi di Indonesia. Nama Tarsius diambil berdasarkan ciri fisik tubuh mereka yang istimewa, yaitu tulang tarsal yang memanjang, yang membentuk pergelangan kaki mereka sehingga mereka dapat melompat sejauh 3 meter (hampir 10 kaki) dari satu pohon ke pohon lainnya. Tarsius juga memiliki ekor panjang yang tidak berbulu, kecuali pada bagian ujungnya. Setiap tangan dan kaki hewan ini memiliki lima jari yang panjang. Jari-jari ini memiliki kuku, kecuali jari kedua dan ketiga yang memiliki cakar. Tarsius memang layak disebut sebagai primata mungil karena hanya memiliki panjang sekitar 10-15 cm dengan berat sekitar 80 gram. Bahkan Tarsius pumilus atau Pygmy tersier yang merupakan jenis tarsius terkecil hanya memiliki panjang tubuh antara 93-98 milimeter dan berat 57 gram. Panjang ekornya antara 197-205 milimeter. Ciri-ciri fisik tarsius yang unik lainnya adalah ukuran matanya yang sangat besar. Ukuran mata tarsius lebih besar ketimbang ukuran otaknya. Ukuran matanya yang besar ini sangat bermanfaat bagi makhluk nokturnal (melakukan aktifitas pada malam hari) ini sehingga mampu melihat dengan tajam dalam kegelapan malam. Tarsius juga memiliki kepala yang unik karena mampu berputar hingga 180 derajat ke kanan dan ke kiri seperti burung hantu. Telinga satwa langka ini pun mampu digerakgerakkan untuk mendeteksi keberadaan mangsa. Sebagai makhluk nokturnal, tarsius hanya beraktifitas pada sore hingga malam hari sedangkan siang hari lebih banyak dihabiskan untuk tidur. Oleh sebab itu Tarsius berburu pada malam hari. Mangsa mereka yang paling utama adalah serangga seperti kecoa, jangkrik. Namun terkadang satwa yang dilindungi di Indonesia ini juga memangsa reptil kecil, burung, dan kelelawar. Habitatnya adalah di hutan-hutan Sulawesi Utara hingga Sulawesi Selatan, juga di pulau-pulau sekitar Sulawesi seperti Suwu, Selayar, Siau, Sangihe dan Peleng. Di Taman

Nasional Bantimurung dan Hutan lindung Tangkoko di Bitung, Sulawesi Utara. Di sini wisatawan secara mudah dan teratur bisa menikmati satwa unik di dunia itu. Tarsius juga dapat ditemukan di Filipina (Pulau Bohol). Di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, Tarsius lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan balao cengke atau tikus jongkok jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia. Tarsius menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas pohon. Hewan ini menandai pohon daerah teritori mereka dengan urine. Tarsius berpindah tempat dengan cara melompat dari pohon ke pohon dengan lompatan hingga sejauh 3 meter. Hewan ini bahkan tidur dan melahirkan dengan terus bergantung pada batang pohon. Tarsius tidak dapat berjalan di atas tanah, mereka melompat ketika berada di tanah. Populasi satwa langka tarsius, primata terkecil di dunia yang hidup di hutan-hutan Sulawesi diperkirakan tersisa 1.800. Ini menurun drastis jika dibandingkan 10 tahun terakhir dimana jumlah satwa yang bernama latin Tarsius spectrum ini, masih berkisar 3.500 ekor. Bahkan untuk Tarsius pumilus, diduga amat langka karena jarang sekali diketemukan lagi. Penurunan populasi tarsius dikarenakan rusaknya hutan sebagai habitat utama satwa langka ini. Selain itu tidak sedikit yang ditangkap masyarakat untuk dikonsumsi dalam pesta anak muda. Binatang yang dilindungi ini digunakan sebagai camilan saat meneguk minuman beralkohol cap tikus. Satu lagi, binatang langka dan unik ini sangat sulit untuk dikembangbiakan di luar habitatnya. Bahkan jika ditempatkan dalam kurungan, tarsius akan melukai dirinya sendiri hingga mati karena stres. Akhir-akhir ini banyak satwa dilindungi diminati untuk tujuan tertentu, salah satunya adalah hewan tarsius, sehingga tarsiuspun sekarang menjadi incaran bagi pemburu dan penangkap untuk diperdagangkan. Pengambilan secara terus menerus tanpa adanya usaha penggantian kembali memungkinkan keberadaan populasi satwa tersebut di habitat aslinya mengalami penurunan. Padahal hewan ini dilindungi dan termasuk kategori rentan (Vulnerable), tercantum di dalam CITES Appendix II (Anonim, 1996).

Menurut Brandon-Jones (2004) satu jenis tarsius, tarsius Dian T. dentatus; terdaftar segabai sinonim juniornya T. dianae oleh IUCN), terdaftar di IUCN Red List berstatus Bergantung Konservasi. Dua spesies/subspesies lain, Tarsius Barat (T. bancanus) dan subspesies nominasinya (T. bancanus bancanus , terdaftar dengan status Risiko Rendah. Tarsius Sulawesi (T. tarsier; terdaftar sebagai sinonim juniornya T. spectrum) dikategorikan sebagai Hampir Terancam. Jenis tarsius lain terdaftar oleh IUCN sebagai Data Kurang. Adapun di Indonesia, semua jenis tarsius yang hidup di Indonesia terdaftar sebagai satwa dilindungi. Tarsius tidak pernah sukses membentuk koloni pembiakan dalam kurungan, dan bila dikurung, tarsius diketahui melukai dan bahkan membunuh dirinya karena stres. Satu situs mendapat keberhasilan mengembalikan populasi tarisus di pulau Filipina Bohol. Philippine Tarsier Foundation telah mengembangkan kandang besar semi-liar yang memakai cahaya untuk menarik serangga nokturnal yang menjadi makanan tarsius.

Di tahun 2008 dideskripsikan tarsius Siau yang dianggap bestatus kritis dan terdaftar dalam 25 primata paling terancam oleh Conservation International dan IUCN/SCC Primate Specialist Group tahun 2008 (Anonim, 2009 dalam Wikipedia). Hambatan yang menyebabkan populasi tarsius terus menurun adalah Walaupun secara lokal dikenal sebagai Tangkasi, kebanyakan penduduk desa di sekitar hutan tidak tahu keberadaannya. Mereka yang mengetahui, menganggap mereka sebagai ancaman besarterhadap hasil panen mereka dan mengusir atau membunuhnya. Tarsius sering dijumpai di perkebunan selama masa berburu malam mereka untuk mencari serangga dan karenanya muncul sebuah kepercayaan umum yang salah bahwa Tarsius memakan coklat, kopi atau kelapa. Penangkapan untuk dijual atau perburuan mereka untuk koleksi dilaporkan, tetapi pada saat ini terlihat tidak ada ancaman serius terhadap stabilitas populasi. Pemakaian pestisida pada hutan kebun dan perkebunan dekat hutan memiliki akibat yang lebih luas. Menurunnya kelimpahan mangsa tidak hanya mengurangi jumlah Tarsius, tetapi juga menyebabkan Tarsius yang hidup di perkebunan dengan pemakaian racun yang luas mengalami penurunan status kesehatan dan juga memiliki berat badan yang lebih rendah daripada biasanya. Akan tetapi, perkebunan yang tidak memakai pestisida serta yang terdiri dari tipe hutan yang sesuai dengan habitat mereka, digunakan secara baik oleh Tarsius. Pengambilan kayu, bentuk lain dari eksploitasi hutan, memiliki dampak merugikan langsung pada Tarsius. Riset yang dilaksanakan dalam Taman Nasional mengungkapkan bahwa kepadatan populasi berkurang secara signifikan pada wilayah-wilayah dengan jumlah pengambilan kayu yang tinggi, rotan dan bambu walaupun dalam skala kecil. Hilangnya pohon untuk tempat tinggal satwa ini dan pendukung-pendukung locomotor untuk mencari makan malamnya adalah alasan alasan yang mendasarinya berkurangnya populasi Tarsius.