Anda di halaman 1dari 17

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sinar-X 2.1.1. Produksi sinar-x Sinar-x diproduksi di dalam tabung sinar-x pada saat terjadi aliran arus listrik yang membuat filamen-filamen tersebut terbakar sehingga membuat adanya elektron melalui emisi thermionik. Perbedaan potensial antara katoda (kutub negatif) dan anoda (kutub positif) yang teraktivasi membuat elektron yang bermuatan negatif bergerak menuju anoda yang bermuatan positif dengan kecepatan yang sangat tinggi. Elektron yang berasal dari filamen tadi bertumbukan dengan anoda sehingga menghasilkan energi dalam bentuk sinar-x.5,10 Sinar-x yang dihasilkan bergerak ke segala arah di dalam tabung, kebanyakan sinar-x tersebut diserap oleh lapisan kaca dalam tabung yang dilapisi timah, dan hanya sebagian kecil sinar-x yang dihasilkan melewati lubang keluar. Sinar-x yang terlepas ini melewati filter. Filter akan menyerap sinar-x dengan energi yang rendah. Sinar-x melewati collimator, yang terbuat dari timah, yang mana akan membatasi penyebaran sinar. Setelah itu, sinar-x akan melewati cone, mengarah ke film melewati obyek.4,5,11,13

2.1.2. Faktor-faktor yang mengontrol pancaran sinar-x Kualitas dan kuantitas sinar-x yang keluar dari tabung sinar-x dapat diubahubah, faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain waktu penyinaran (timer), tube current (mA), beda potensial (kVp), dan filtrasi.4,5, 10,11,13

2.1.2.1. Waktu penyinaran Gambar 2.1. menunjukkan perubahan spektrum sinar-x pada saat

meningkatkan waktu penyinaran dengan nilai mA dan kVp yang konstan. Pada saat waktu penyinaran ditingkatkan dua kali lipat, jumlah foton yang dihasilkan juga naik

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

dua kali lipat, tapi jarak dari energi foton tidak berubah.5 Oleh karena itu dengan mengubah waktu akan mengubah kuantitas foton.4,5

Gambar 2.1. Grafik spektrum energi foton berdasarkan waktu8

2.1.2.2 Tube current (mA) Tube current mempengaruhi kuantitas pancaran sinar-x. Adanya peningkatan dua kali dari nilai mA akan meningkatkan dua kali jumlah sinar-x yang dipancarkan. Tube current tidak mempengaruhi kualitas sinar-x karena panjang gelombang tidak ikut berubah seiring dengan berubahnya nilai mA.4,11,13 Gambar 2.2. menunjukkan perubahan spektrum energi dari sinar-x yang dihasilkan seiring dengan mempertahankan nilai kVp dan waktu penyinaran.5

Gambar 2.2. Grafik spektrum energi foton berdasarkan nilai mA5

2.1.2.3. Beda potensial pada tabung (kVp) Beda potensial akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas sinar-x karena perubahannya mempengaruhi panjang gelombang yang dihasilkan. Semakin tinggi

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

nilai kVp semakin pendek panjang gelombang, semakin baik kualitas sinar-x.5,11 Hubungan antara perubahan spektrum energi dengan beda potensial dapat dilihat pada gambar 2.3.5,11,13 Kemampuan foton untuk menembus benda tergantung pada energinya. Foton sinar-x berenergi tinggi mempunyai kemampuan menembus benda padat lebih tinggi daripada foton sinar-x yang berenergi lebih rendah. Oleh karena itu, semakin tinggi kVp dan energi rerata pancaran sinar, semakin tinggi kemampuan penetrasi sinar terhadap benda padat.5,15

Gambar 2.3. Grafik spektrum energi foton berdasarkan nilai kVp8

2.1.2.4. Filtrasi Pancaran sinar-x mempunyai spektrum energi foton yang berbeda-beda, hanya foton dengan energi tertentu yang dapat menembus struktur anatomis lalu bertabrakan dengan film. Foton dengan energi yang lebih rendah (panjang gelombang yang panjang) berperan serta dalam pencahayaan namun tidak mempunyai energi yang cukup untuk menyentuh film. Oleh karena itu, untuk mengurangi dosis radiasi pasien, foton dengan kemampuan penetrasi lebih rendah harus dihilangkan. Hal ini dapat dilakukan dengan meletakkan filter aluminium pada garis laluan sinar. Aluminium digunakan karena dapat menyerap foton berenergi rendah dengan sedikit efek pada foton berenergi tinggi yang dapat berpenetrasi sampai ke film.5 Ada dua filtrasi yang digunakan pada tabung sinar-x yaitu filtrasi utama (inherent filtration) dan filtrasi tambahan (added filtration). Filtrasi yang utama pada

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

tabung sinar-x adalah material yang terletak di jalan foton sinar-x dari focal spot (target) untuk membentuk pancaran yang dikeluarkan dari tabung. Filtrasi utama terdiri dari dinding kaca dari tabung sinar-x, minyak penyekat (insulating oil), dan material penghambat minyak tadi untuk keluar dari tabung. Material filter itu sendiri terdiri dari aluminium dengan ketebalan 0,5 2,0 mm.5 Filtrasi tambahan (added filtration) adalah peletakan cakram aluminium di tempat jalannya sinar-x antara collimator dan tubehead seal. Cakram ini mempunyai ketebalan 0,5 mm dan berfungsi menghalangi lewatnya foton sinar-x berenergi rendah, panjang gelombang lebih panjang, dan tidak berguna dalam proses diagnosis serta berbahaya bagi pasien. Hasilnya adalah pancaran foton dengan panjang gelombang lebih rendah, berenergi tinggi, dan mempunyai tingkat penetrasi lebih tinggi pula untuk proses diagnosis.5,16

2.2. Film Dental Intraoral Film adalah reseptor gambaran radiograf. Mempunyai dua komponen utama yaitu emulsi dan basis. Emulsi yang sensitif terhadap sinar-x dan sinar tampak berfungsi untuk merekam gambar radiograf sedangkan basis adalah material pendukung berupa plastik yang dilapisi oleh emulsi.5,13 Hal yang perlu dipertimbangkan untuk keperluan pengambilan gambaran radiograf intraoral adalah sifat kekontrasan, kecepatan, dan rentang waktu penyinaran yang dimiliki film tersebut. Kekontrasan film adalah kemampuan film untuk memperlihatkan kontras subyek atau sifat ketebalan anatomis benda. Semakin tinggi kontras film maka semakin baik film tersebut memunculkan detil gambar. Kecepatan film adalah jumlah radiasi yang dibutuhkan untuk memproduksi gambar dan hal ini berbanding terbalik dengan waktu penyinaran, hal ini berarti semakin tinggi kecepatan film maka semakin rendah waktu penyinaran yang dibutuhkan untuk membentuk suatu gambar, kecepatan ini dipengaruhi oleh ukuran dari kristal AgBr. Rentang waktu penyinaran adalah rentang waktu pemaparan yang dibutuhkan oleh film untuk dapat mempunyai rentang warna kehitaman sesuai dengan ketebalan objek yang terekam dalam film.13,15 Film dikelompokkan berdasarkan kecepatan yang dimilikinya menjadi A, B, C, D, E, dan F. Kelompok A adalah kelompok yang paling rendah, dan kelompok

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

yang lebih tinggi mempunyai kecepatan dua kali dari kelompok yang lebih rendah. Kelompok D adalah film yang mempunyai kecepatan yang cepat; kelompok C adalah film yang mempunyai kecepatan sedang; kelompok A dan B adalah film yang mempunyai kecepatan rendah; kelompok E adalah film yang mempunyai kecepatan sangat cepat (ekta speed).15 Mengacu kepada kurva antara densitas dan log pencahayaan (log exposure) yang dibuat oleh Herter dan Driffield (gambar 2.4.) maka dari kurva ini kita mendapatkan tiga data penting. Pertama, kekontrasan film yang dilihat dari lereng yang ada pada kurva, semakin landai semakin kurang kekontrasannya dan begitu pula sebaliknya. Kedua, kecepatan yang ditunjukkan dari letak kurva terhadap sumbu waktu penyinaran, kurva yang letaknya di kiri menunjukkan film yang lebih cepat daripada film yang mempunyai kurva yang terletak di sebelah kanan. Ketiga, rentang warna hitam dilihat dari jarak antara kedua ujung kurva, semakin panjang maka film mempunyai rentang warna kehitaman semakin panjang, begitu pula sebaliknya.4,5,13

Gambar 2.4. Kurva H&D: hubungan antara waktu penyinaran yang dibutuhkan terhadap ketebalan benda. A, terhadap kekontrasan. B, terhadap kecepatan. C, terhadap rentang warna.8

2.3. Pembentukan Gambar pada Film 2.3.1. Pembentukan gambaran laten Keadaan fisik dari emulsi pada film adalah kandungannya yang berupa kristal fotosensitif yang bahan utamanya adalah AgBr (perak bromida) dan beberapa bagian kecil dari perak iodida. Ion iodida membentuk ketidakteraturan dari bentuk kristal

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

karena bentuknya yang besar. Ikatan Ag-halida yang ditahan oleh bahan vehikulum tersebut dilapisi oleh plastik transparan di dasarnya. Kristal ini mengandung sedikit ion perak bebas diantara jarak atom-atom yang membentuk kristal. Terdapat pula senyawa sulfur yang terletak pada bagian kristal yang tidak teratur. Senyawa ini nantinya akan membentuk daerah sensitif yaitu daerah di dalam kristal yang sensitif terhadap adanya radiasi. Setiap kristal memiliki banyak daerah sensitif yang nantinya akan menangkap elektron yang dilepaskan saat emulsi terkena radiasi. Adanya radiasi yang dihasilkan oleh sinar-x akan mengubah kristal Ag-halida menjadi gambaran laten, tidak kasat mata, yang nantinya menjadi gambaran yang kasat mata setelah melalui proses dalam larutan developer dan fixer.5,13 Pada saat film terkena radiasi sinar-x, maka tumbukan antara sinar-x dengan ion bromida mengakibatkan terjadi lepasan elektron sehingga ion bromida menjadi atom bromida. Elektron yang terlepas tadi akan terus bergerak di dalam kristal sampai menyentuh daerah sensitif. Daerah sensitif yang kemudian mempunyai muatan negatif yang berlebih akan menarik ion perak interstisial yang bergerak bebas di dalam kristal. Pada saat ion perak menyentuh daerah sensitif, terjadi reaksi reduksi sehingga logam perak bermuatan netral. Daerah yang mempunyai atom perak tersebut adalah daerah gambaran laten.5,11,13 Proses pembentukan gambaran laten dapat dilihat pada gambar 2.5.

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

Gambar 2.5. Proses pembentukan gambaran laten5

2.3.2. Pembentukan gambaran kasat mata Film yang terpancar oleh sinar-x kemudian diproses di dalam larutan developer. Larutan ini mengubah atom perak netral yang membentuk gambaran laten menjadi butiran logam perak padat yang berwarna hitam. Butiran inilah yang akan menghambat cahaya pada viewer sehingga gambaran obyek akan kasat mata. Fixer akan menghilangkan kristal AgBr yang tidak terpancar sinar-x atau yang tidak mempunyai gambaran laten. Oleh karena itu, gambaran radiograf mengandung daerah terang (radiopaque), hanya sedikit foton yang bertumbukan dengan film, dan derah gelap (radiolucent), banyak foton yang bertumbukan dengan film.5,11

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

10

2.4. Metode Pengambilan Gambaran Radiograf Proyeksi Periapikal 2.4.1. Teknik paralel Teknik paralel dilakukan dengan cara meletakkan film secara paralel terhadap sumbu aksial gigi. Untuk dapat melakukannya, film terkadang harus diletakkan lebih dalam dan lebih jauh di dalam rongga mulut, hal ini karena topografi rongga mulut yang berlekuk jika film diletakkan dekat dengan gigi. Penggunaan cone yang panjang untuk meningkatkan jarak focal spot dan film berguna untuk mengarahkan sinar langsung ke film dan gigi, serta mengurangi pembesaran gambar selain itu meningkatkan ketajaman dan detil gambar.5,13

2.4.2. Teknik biseksi Pada teknik biseksi, film diletakkan sedekat mungkin dengan gigi tanpa dilakukan perubahan bentuk pada film, namun pada sudut seperti itu film tidak paralel dengan gigi yang dapat menyebabkan distorsi. Namun, dengan cara mengarahkan sinar-x ke garis imajiner yang membagi antara jarak gigi dengan film, maka kita dapat membuat panjang gambar gigi pada film sesuai dengan panjang gigi sebenarnya. Walaupun panjang yang terproyeksikan tersebut cocok, gambar tersebut masih terdistorsi karena film dan obyek tidak paralel dan sinar-x tidak mengarah pada sudut yang tepat terhadap keduanya. Jika sinar-x tidak diposisikan tegak lurus dengan garis imajiner, maka panjang gambar di film akan berubah. Jika diarahkan lebih positif dari bidang imajiner (ke atas untuk rahang bawah dan ke bawah untuk rahang atas), maka panjang obyek di film akan memendek. Sebaliknya, jika sudutnya lebih negatif, gambar akan memanjang.5

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

11

Gambar 2.6. Teknik foto paralel (A) dan biseksi (B)5

2.5. Pemrosesan Film Prosedur untuk melakukan proses perendaman adalah sebagai berikut: (1) Film yang telah terpapar sinar-x dicelupkan kedalam larutan developer; (2) Film dibilas dengan air mengalir; (3) Film dicelupkan di dalam larutan fixer; (4) Film dicuci dengan air mengalir; (5) Film dikeringkan dan dipasang diatas viewer.5

2.5.1 Larutan developer Larutan developer mereduksi semua ion perak pada kristal yang terpancar sinar-x menjadi logam perak yang berwarna kehitaman. Proses ini harus hanya boleh terjadi pada kristal yang sudah terpapar sinar-x saja untuk membuat gambaran diagnostik. Oleh karena itu, agen pereduksi pada developer haruslah zat yang hanya di katalis oleh atom perak yang terdapat pada gambaran sementara di daerah sensitif. Kristal tersebut akan berubah menjadi logam metalik secara keseluruhan atau tidak sama sekali selama waktu pencucian yang telah ditentukan. Daerah pada film yang terdapat banyak kristal yang terpapar sinar-x akan berwarna gelap karena banyaknya butiran logam perak setelah pencucian. Jika proses developing berlangsung lama maka terjadi kontak antara larutan dengan kristal AgBr yang tidak mengandung

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

12

gambaran laten, kemudian pelan-pelan larutan developer akan bereaksi dengan kristal tersebut, sehingga terjadi overdevelopment.5,13

Gambar 2.7. Perubahan emulsi selama proses pencucian film5

Pada gambar 2.7. tampak secara singkat perubahan emulsi selama proses pencucian film. Mula-mula emulsi berisi kristal-kristal yang belum terpapar sinar-x. Lalu kristal-kristal yang terpapar sinar-x membentuk daerah sensitif yang merupakan gambaran sementara. Di dalam larutan developer, kristal yang mengandung gambaran sementara tersebut direduksi sehingga menjadi logam perak yang berwarna kehitaman. Di dalam larutan fixer, kristal yang tidak terpapar sinar-x akan dibersihkan dari film.4,5,10,11,13 Pada saat film direndam di larutan developer, awalnya tidak terdapat efek apa-apa sampai akhirnya terjadi peningkatan densitas secara cepat lalu melambat. Pada saat semua kristal yang terpapar sinar-x tadi selesai bereaksi (menjadi butiran perak berwarna hitam) maka larutan developer memulai reaksi dengan kristal yang tidak terpapar. Reaksi dengan kristal yang tidak terpapar menyebabkan adanya fogging pada film. Renggang waktu antara reaksi untuk membuat densitas maksimal dan fogging menjelaskan bagaimana film yang terpapar dengan baik tidak akan overdeveloped walapun direndam dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, hasil film yang gelap biasanya disebabkan karena overexposure film terhadap sinar-x.4,5,10 Ada empat komponen utama larutan developer yang dilarutkan bersamaan dengan air adalah: (1) Developer; (2) aktivator; (3) bahan pengawet; dan (4)

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

13

restainer.5,15 Developer berfungsi untuk memperkuat gambar laten dengan cara mengubah kristal AgBr yang terpapar menjadi butiran perak berwarna hitam. Proses ini dimulai saat elektron dari larutan developer disalurkan ke kristal AgBr (perak halida) dan mereduksi ion perak menjadi butiran logam perak padat. Kristal yang tidak terpapar sinar-x, tidak terpengaruh reaksi sampai pada waktu untuk bereaksi dengan kristal yang terpapar sinar-x selesai. Developing agent yang digunakan di radiologi kedokteran gigi ada dua: persenyawaan pyrazolidone, phenidone (1-phenyl3-pyrazolidone), dan hydroquinone (paradihidroxy benzene). Phenidone bertindak sebagai donor elektron yang mengubah ion perak menjadi logam perak pada daerah tempat gambar laten berada. Transfer elektron ini membangkitkan bentuk oksidasi dari phenidone. Hydroquinone memberikan elektron untuk mereduksi phenidone yang teroksidasi tadi sehingga dapat melanjutkan reduksi terhadap butiran perak halida menjadi logam perak.5 Developer hanya aktif pada suasana basa (pH sekitar 10). Untuk mencapai keadaan tersebut ditambahkan senyawa alkali sebagai aktivatornya seperti sodium carbonate, sodium hydroxide, atau tetraborate. Aktivator juga menyebabkan gelatin mengembang sehingga developing agent dapat berdifusi lebih cepat masuk ke dalam emulsi dan bereaksi dengan kristal perak halida.5,15 Larutan developer mengandung pengawet seperti sodium sulfite. Bahan pengawet ini berfungsi untuk mencegah terjadinya oksidasi dari oksigen sehingga umur larutan pun akan bertahan lama. Jika digabungkan dengan larutan developer yang telah teroksidasi dan berubah warna menjadi kecoklatan akan membuat larutan tadi menjadi tidak berwarna, larutan yang telah teroksidasi ini jika tidak diganti dengan yang baru akan memperburuk pewarnaan pada film. Restainer adalah bahan tambahan yang berfungsi mencegah terjadinya reduksi pada kristal Ag-Br yang tidak terpancar sinar-x. Bahan yang digunakan adalah persenyawaan potassium bromida dan sodium bromida. Senyawa ini akan mencegah reduksi yang dilakukan larutan developer pada kristal film, namun senyawa ini lebih efektif pada kristal-kristal film yang tidak terpancar oleh sinr-x sehingga mencegah timbulnya fogging.5,15

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

14

2.5.2. Larutan fixer Fungsi utama dari larutan fixer adalah untuk memecah dan menghilangkan kristal perak halida yang tidak terpancar sinar-x. Keberadaan kristal yang tidak terpapar sinar-x membuat film menjadi opak. Jika kristal-kristal ini tidak dihilangkan maka hasil akhir dari radiograf akan tampak gelap dan tidak bisa didiagnosis.4,5,10,11,13 Fungsi lain dari larutan fixer adalah untuk memperkeras dan menyusutkan emulsi. Larutan fixer terdiri dari 4 komponen dasar yaitu: (1) Clearing agent; (2) Acidifier (pengasam); (3) Preservative (bahan pengawet); (4) Hardener. Clearing agent adalah senyawa ammonium thiosulfat yang berfungsi untuk membersihkan film dari sisa-sisa kristal perak halida yang tidak terpancar oleh sinarx.5,15 Senyawa ini akan mengikat kristal yang tidak membentuk gambaran laten membentuk ikatan yang larut air sehingga dapat berdifusi keluar dari emulsi.5 Larutan fixer mengandung tambahan asam sehingga pH tetap terjaga antara 4 sampai 4,5. Suasana asam ini berguna untuk menjaga difusi yang baik dari thiosulfate ke dalam emulsi dan dari ikatan antara perak thiosulfate keluar dari emulsi. Larutan fixer yang asam juga akan mengaktivasi agen developer yang terbawa oleh film.5,15 Larutan fixer mempunyai bahan pengawet berupa sodium sulfite, fungsinya adalah untuk mencegah dari oksidasi thiosulfate karena senyawa ini tidak stabil dalam suasana asam. Bahan pengawet ini juga akan mengikat sisa bahan developer yang terbawa oleh film, sehingga mencegah perubahan warna pada foto.5 Hardener (bahan penguat) yang digunakan adalah garam aluminium. Ikatan antara aluminium dengan gelatin akan mencegah kerusakan foto saat dipegang oleh operator. Bahan penguat juga mencegah penyerapan air yang berlebih saat dilakukan pencucian akhir, sehingga tidak terjadi pembesaran emulsi dan mempersempit waktu pengeringan.5,15

2.6. Struktur Jaringan Periodonsium Jaringan periodonsium adalah sistem fungsional dari jaringan yang mengelilingi gigi dan melekatkan gigi ke tulang rahang. Struktur dari jaringan periodonsium (gambar 2.8.) terdiri dari gingiva, ligamen periodontal, sementum, dan

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

15

tulang alveolar.2,7 Fungsi jaringan periodonsium adalah memberikan seal pada sekeliling bagian servikal gigi; memegang/menahan jaringan terhadap gigi pada saat mastikasi; menahan dan menjaga gigi agar tetap pada socketnya; melindungi dentin yang ada dibawahnya; mengelilingi dan mendukung akar gigi.2,7,13,18

Gambar 2.8. Struktur jaringan periodonsium19

2.6.1. Gingiva Gingiva adalah jaringan yang menutupi bagian servikal gigi dan prosesus alveolar dari rahang yang terdiri dari lapisan tipis jaringan epitel pada bagian luarnya dan jaringan ikat pada lapisan dibawahnya. Fungsi dari gingiva adalah memberikan seal disekeliling bagian servikal gigi dan menutupi prosesus alveolar.2,7 Bagian anatomis dari gingiva antara lain free gingiva, sulkus gingiva, dan attached gingiva. Free gingiva adalah bagian dari gingiva yang tidak melekat dan mengelilingi gigi pada bagian Cemento-Enamel Junction (CEJ) seperti kerah. Free gingiva juga dikenal sebagai unattached gingiva atau marginal gingiva.2,6,7 Karakteristik dari free gingiva adalah jaringannya tepat mengelilingi gigi tapi tidak melekat pada gigi. Jaringan ini bisa ditarik menjauhi gigi karena tidak melekat pada gigi. Free gingiva juga membentuk dinding jaringan lunak dari sulkus gingiva.2,6 Sulkus gingiva adalah ruang anatomis yang terletak diantara free gingiva dan permukaan gigi2,6,7 yang berbentuk seperti huruf V4 dengan kedalaman normal 1-3 mm pada saat diukur menggunakan prob.2 Sulkus gingiva bagian dalam dibatasi oleh

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

16

gigi, bagian luar dibatasi oleh jaringan epitel dari free gingiva, dan bagian dasar dibatasi oleh epitel perlekatan.2,6,7 Attached gingiva merupakan perluasan dari marginal gingiva yang melekat pada tulang alveolar sampai pertemuan dengan alveolar mucosa. Tekstur dari attached gingiva yang sehat adalah permukaannya memiliki dimple seperti kulit jeruk yang disebut sebagai stippling. Stippling ini terbentuk sebagai akibat dari adanya serabut periodontal yang melekatkan jaringan gingiva terhadap sementum dan tulang. Gingiva interdental adalah bagian gingiva yang mengisi daerah di apikal dari titik kontak antara dua gigi yang bersebelahan, yang berfungsi untuk mencegah terjadinya pengumpulan makanan diantara dua gigi pada saat mastikasi.2,7 Bagianbagian gingiva interdental adalah papila interdental (papila fasial dan papila lingual) dan Col, merupakan bagian dari gingiva interdental yang berbentuk cekungan seperti lembah, berada di apikal titik kontak. Col tidak terdapat pada gigi yang tidak memiliki gigi disebelahnya dan jika gingiva nya mengalami resesi.

2.6.2. Ligamen periodontal Ligamen periodontal adalah jaringan lunak berupa serat yang mengelilingi akar gigi dan menghubungkannya dengan tulang alveolar.2 Serat pada jaringan ini dibagi dalam 4 kelompok yaitu: (1) alveolar crestal group, meluas dari daerah serviks akar sampai ke puncak alveolar; (2) horizontal group, berjalan tegak lurus dari gigi ke tulang alveolar; (3) oblique group, sekelompok serat arahnya miring, berjalan dari sementum ke bagian puncak alveolar; (4) apical group, menyebar di bagian dari tulang ke gigi.6

2.6.3. Sementum Sementum adalah lapisan tipis jaringan yang termineralisasi dan menutupi permukaan akar gigi.2,7 Karakteristik sementum adalah berwarna kuning terang; menutupi dan melekat pada dentin bagian akar gigi; merupakan jaringan seperti tulang yang lebih resisten terhadap resorpsi dibandingkan dengan tulang; tidak

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

17

memiliki vaskularisasi sendiri, karena sementum mendapatkan nutrisi dari ligamen periodontal; tidak memiliki saraf dan tidak sensitif terhadap rasa sakit.2,6

2.6.4. Tulang alveolar Tulang alveolar adalah penonjolan tulang yang mengelilingi, mendukung, dan melindungi akar gigi. Tulang alveolar dikenal juga sebagai prosesus alveolar. Keberadaan tulang alveolar tergantung pada ada atau tidaknya gigi. Jika gigi di ekstraksi maka tulang alveolar akan mengalami resorbsi, dan jika gigi tidak erupsi maka tulang alveolar tidak akan terbentuk. Tulang aleveolar ini terdiri dari: (1) Tulang kortikal; (2) Tulang kanselus; (3) Alveolus; (4) Alveolar bone proper; (5) Periosteum. Bagian-bagian dari tulang alveolar adalah alveolar crest, tulang interproksimal, dan tulang interradikular.2

2.7. Prinsip Interpretasi Gambar Radiograf Sebelum menginterpretasi suatu gambaran radiograf, harus terlebih dahulu dievaluasi mutu dari foto radiograf. Kriteria mutu foto radiograf terdiri atas lima, yaitu: obyek yang ingin diinterpretasi tercakup dan terletak ditengah; distorsi minimal; kontras, detil, dan ketajaman baik; daerah interdental terlihat dengan jelas; tonjol bukal dan lingual gigi posterior terletak pada satu bidang.4,5,7,13 Setelah ditentukan bahwa foto radiograf layak untuk diinterpretasi, secara umum dilakukan sistematika pemeriksaan sebagai berikut4,7: (1) identifikasi semua anatomi normal yang terlihat pada gambaran radiograf; (2) lakukan evaluasi secara umum, yaitu kondisi gigi-geligi, perubahan gigi-geligi, hubungan gigi-geligi, kondisi jaringan periodonsium, perubahan pada jaringan periodonsium, hubungan gigi dengan jaringan periodonsium, kondisi tulang rahang, perubahan tulang rahang, dan hubungan gigi, jaringan periodonsium dan tulang rahang; (3) lakukan evaluasi secara spesifik, yaitu pada gigi dilihat dari mahkota, akar, kamar pulpa, dan saluran akar. Pada jaringan periodonsium dimulai dari gingiva, alveolar crest yang terdiri atas tinggi, bentuk, tulang kortikal (keberadaannya, kontinuitas, tebal, dan outline), dan lamina dura; (4) melihat dari lokasi, ukuran, bentuk lesi, batas, densitasnya, serta efek lesi pada struktur sekitarnya pada setiap kelainan yang dijumpai.5

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

18

Tanda-tanda awal dari penyakit periodonsium adalah hilangnya densitas dari crestal cortex yang paling baik terlihat pada regio posterior. Namun tanda-tanda awal ini sulit terdeteksi pada gambaran radiograf karena gambaran radiograf memiliki beberapa keterbatasan.2,7,6,18 Radiograf menghasilkan gambaran dua dimensi dari obyek yang tiga dimensi. Oleh karena itu, maka defek tulang yang tertimpa oleh dinding tulang yang lebih tinggi akan tidak terlihat.7 Gambaran radiograf tidak menunjukkan keadaan kerusakan tulang yang sebenarnya. Kerusakan tulang baru terdeteksi setelah kehilangan 30-60 % mineral tulang alveolar.8 Gambaran radiograf tidak menggambarkan hubungan jaringan lunak dan jaringan keras sehingga tidak dapat terlihat kedalaman dari poket jaringan lunak.6,9 Untuk mendapatkan gambaran radiograf periapikal, digunakan teknik paralel long cone karena dengan menggunakan teknik paralel dihasilkan gambaran radiograf dengan sedikit distorsi bila dibandingkan dengan teknik biseksi.

2.8. Gambaran Normal Radiografis Periapikal Gambaran radiografis jaringan periodontal dapat bervariasi pada setiap orang, namun ada tiga hal penting yang harus diperhatikan: (1) ligamen periodontal digambarkan sebagai garis radiolusen tipis yang mengitari akar gigi bersebelahan dengan tulang alveolar; (2) gambaran lamina dura berupa garis radiopak tipis dan berjalan tanpa putus; (3) pola tulang trabekula pada mandibula cenderung tebal dan letaknya saling berdekatan serta mengarah horizontal, sedangkan pola trabekula pada maksila cenderung lebih tipis dan letaknya berjauhan serta arah pola tulang tidak beraturan.16 Gingiva terlihat samar, namun penggunaan filter dapat meningkatkan kejelasan gambar pada jaringan lunak.20

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

19

Gambar 2.9. Gambaran radiografis jaringan periodonsium pada maksila (A) dan mandibula (B)16

2.9. Kerangka Teori Jaringan periodonsium yang terdiri atas sementum, tulang alveolar, gingiva serta ligamen periodontal dapat dilihat dengan pemeriksaan radiografis. Teknik untuk pengambilan gambar radiografis yang umum dilakukan adalah teknik paralel dan biseksi. Film yang dipergunakan bisa film instan maupun film biasa, dapat dilakukan dengan dan tanpa filter tergantung dengan apa yang ingin dievaluasi atau interpretasi dari gambaran radiografis tersebut. Pancaran sinar-x tergantung dari waktu, tube current, beda potensial dan filtrasi, akan sangat berpengaruh terhadap mutu radiografis (kontras, detil, dan ketajaman).

Pemeriksaan radiografis (jaringan periodonsium) Dengan dan tanpa filter Teknik: paralel, biseksi Film: instan, biasa

Mutu radiografis: Kontras Detil Ketajaman

Pancaran sinar-x: Waktu Tube current (mA) Beda potensial (kVp) Filtrasi

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

20