Anda di halaman 1dari 6

Sejarah Penggunaan Natron (Asal Nama Natrium/ Bag.

I)
Posted on 30 Agustus 2012 | Tinggalkan Komentar

Batuan Natron Jika berbicara tentang natrium kemungkinan asosiasi tertuju pada garam meja yang memiliki rumus kimia NaCl (Natrium Klorida) dan dalam bahasa arab disebut milh, namun tahukah anda dari mana kata natrium berasal? Natrium atau sering disebut juga sodium adalah unsur kimia yang dalam tabel periodik (tabel unsur kimia) memiliki simbol Na. Natrium adalah unsur bernomor atom 11 dan termasuk jenis logam alkali yang banyak terdapat dalam senyawa alam (terutama dalam bentuk mineral halit). Natrium hampir tidak pernah ditemukan dalam bentuk unsur murni. Artinya natrium ditemukan dalam bentuk persenyawaan seperti garam yang terdapat di lautan dan bentuk batuan mineral hasil tambang di danau garam yang mengering. Natrium adalah turunan dari kata Natron, yaitu berupa garam mineral yang sudah sejak ribuan tahun dipergunakan untuk proses pembalsaman mumi di zaman mesir kuno. Ibnu Qoyyim, salah satu penulis kitab pengobatan yang berjudul Thibbun Nabawi juga pernah menyinggung pemanfaatan natron untuk campuran salep klabet. Tepungnya (hilbah/ klabet) bila dicampurkan dengan natron dan cuka lalu dibalutkan, bisa mengempeskan radang limpa, Natron adalah campuran alami dari natrium karbonat dehidrat dengan rumus persenyawaan Na2Co3 . 10H2O (semacam abu soda) dan sekitar 17 persen Natrium bikarbonat yang

memiliki rumus NaHCo3 (juga disebut nahkolit atau baking soda), serta campuran sejumlah kecil garam rumahan seperti halit, NaCl (garam meja) dan Natrium Sulfat. Mineral natron sering ditemukan hubungannya dengan termonatrit, nahkolit, trona, halit, mirabilit, gaylussit, gypsum, dan kalsit.

Wadi El Natrun Dalam bahasa Yunani natron disebut nitron. Sementara istilah natron berasal dari peradaban Mesir Kuno dan mengacu kepada sebuah tempat yang bernama Wadi El Natrun atau berarti lembah natron. Wadi El Natrun berlokasi 100 kilometer menuju arah barat laut dari kota Kairo, tepatnya di sebuah lembah yang terletak di Provinsi Beheira, Mesir saat ini. Di cekungan Wadi El Natrun terdapat banyak danau garam dan dataran garam yang terletak di gurun. Wadi El Natrun terkenal sejak lama karena beberapa hal, antara lain karena di daerah gurun terdapat setidaknya sepuluh danau dan delapan diantaranya dikenal sebagai penghasil garam natron. Sementara orang Romawi yang menguasai wilayah Wadi El Natrun juga memanfaatkan mineral tambang untuk diambil ekstrak silikanya sebagai bahan baku pembuatan kaca. Selain itu akibat penguasaan kerajaan Romawi Timur atas daerah tersebut kemudian Wadi El Natrun dikenal sebagai kantong komunitas Kristen Koptik dan memiliki banyak biara kuno. Biara kuno yang tetap berdiri hingga saat ini tidak lain karena perlindungan yang telah diisyaratkan oleh Rasulullah atas gubernur Mukaukis dan rakyatnya yang menguasai Alexandria dan sekitarnya bilamana wilayah tersebut ditaklukan kelak. Benar saja, nubuwat itupun akhirnya terjadi pada khalifah Umar Bin Khattab dan penaklukan dilakukan di bawah =komando Amr bin Ash. Hingga saat ini biara-biara koptik masih terkenal sebagai tempat ziarah, begitu pula aktivitas penambangan batuan natron untuk dijadikan ekstrak garam natron. Semasa penjajahan Inggris atas Mesir, jalur kereta dibuat untuk memindahkan batuan natron dari lembah ke kota Kairo.
http://tabloidbekam.wordpress.com/2012/08/30/sejarah-penggunaan-natron-asal-nama-natriumbag-i/

Sejarah Penggunaan Natron (Mineral Pengawet Mumi/ Bag. 2)


Posted on 31 Agustus 2012 | Tinggalkan Komentar Garam mineral natron kadang kali ditemukan di dasar danau garam pada lingkungan gersang seperti gurun. Oleh karenanya selain di Wadi El Natrun, pertambangan natron juga dapat ditemukan di daerah padang pasir.

Danau Natron Tanzania Tempat terkenal lainnya yang banyak mengandung natron adalah danau natron di utara Tanzania, letaknya dekat dengan perbatasan Kenya. Danau ini terkenal dengan warnanya yang merah jambu karena banyak terdapat sianobakteri. Terkadang danau ini bisa mencapai tingkat pH (keasaman) 9 sampai 10 yang mendekati alkali seperti zat ammonia. Mineral natron juga dapat ditemukan di beberapa Negara lain seperti di danau Chad, Provinsi Showa di Ethiopia, Bilma di Niger, Hungaria, Italia, Rusia, Inggris, Kanada, dan Amerika. Bahkan di Negara bagian Pennsylvania, Amerika terdapat daerah bernama Natrona. Natron yang ditambang sejak zaman Mesir Kuno awalnya untuk diekstrak menjadi garam natron dan dipergunakan selama pembalsaman mumi raja-raja mesir, tak terkecuali firaun Ramses II yang mayatnya mati tenggelam di laut merah.

Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. (Yunus : 92)

Mumi Firaun Rhamses II

Mayat yang akan dijadikan mumi pertama kali organ-organ seperti paru-paru, lambung, dan ususnya dikeluarkan untuk kemudian dikemas dalam guci dan ditaburi natron. Kemudian bagian dalam jasad akan diisi natron dan bagian luarnya ditaburi natron selama 40 hari. Setelah 40 hari, mumi dibersihkan dari natron dengan menggunakan air sungai

Penaburan Natron Pada Mumi nil dan kulit mayat diberikan minyak agar kulit tetap kenyal. Kemudian rongga dada dan perut yang telah dikosongkan diisi oleh sebuk gergaji, dedaunan dan kain linen sehingga terlihat utuh seperti manusia yang masih hidup. Tahap selanjutnya sebelum mayat dibalut kain linen seluruh bagian kulit luar diolesi minyak yang berbau wangi. Setelah kain linen membalut sempurna sang mayat, lantas kain dilukisi gambar Osiris, dewa tertinggi dalam kepercayaan mistis Mesir Kuno dan dianggap sebagai sang hakim kematian. Mumi dimasukkan dalam dua peti dan peti kedua akan membungkus peti pertama. Selanjutnya barulah dilakukan upacara kematian sebelum akhirnya mumi dimasukkan ke dalam batu sarkofagus yang besar dan diletakkan dalam piramida bersama perabot, pakaian, benda-benda berharga, makanan dan minuman yang dipercaya akan dipergunakan oleh si mayat. Dari sini dapat diketahui bahwa sebenarnya pyramid di Mesir yang berdiri atas susunan batu kapur dan granit sejatinya adalah kuburan bagi mumi raja-raja mesir.
http://tabloidbekam.wordpress.com/2012/08/31/sejarah-natron-mineral-pengawet-mumi-bag2/#more-436

Garam mineral natron kadang kali ditemukan di dasar danau garam pada lingkungan gersang seperti gurun. Oleh karenanya selain di Wadi El Natrun, pertambangan natron juga dapat ditemukan di daerah padang pasir.

Danau Natron Tanzania Tempat terkenal lainnya yang banyak mengandung natron adalah danau natron di utara Tanzania, letaknya dekat dengan perbatasan Kenya. Danau ini terkenal dengan warnanya yang merah jambu karena banyak terdapat sianobakteri. Terkadang danau ini bisa mencapai tingkat pH (keasaman) 9 sampai 10 yang mendekati alkali seperti zat ammonia. Mineral natron juga dapat ditemukan di beberapa Negara lain seperti di danau Chad, Provinsi Showa di Ethiopia, Bilma di Niger, Hungaria, Italia, Rusia, Inggris, Kanada, dan Amerika. Bahkan di Negara bagian Pennsylvania, Amerika terdapat daerah bernama Natrona
http://tabloidbekam.wordpress.com/tag/pengawetan-jenazah/

Adat pemakaman

Orang Mesir Kuno mempertahankan seperangkat adat pemakaman yang diyakini sebagai kebutuhan untuk menjamin keabadian setelah kematian. Berbagai kegiatan dalam adat ini adalah : proses mengawetkan tubuh melalui mumifikasi, upacara pemakaman, dan penguburan mayat bersama barang-barang yang akan digunakan oleh almarhum di akhirat. Sebelum periode Kerajaan Lama, tubuh mayat dimakamkan di dalam lubang gurun, cara ini secara alami akan mengawetkan tubuh mayat melalui proses pengeringan. Kegersangan dan kondisi gurun telah menjadi keuntungan sepanjang sejarah Mesir Kuno bagi kaum miskin yang tidak mampu mempersiapkan pemakaman sebagaimana halnya orang kaya. Orang kaya mulai menguburkan orang mati di kuburan batu, akibatnya mereka memanfaatkan mumifikasi buatan, yaitu dengan mencabut organ internal, membungkus tubuh menggunakan kain, dan meletakkan mayat ke dalam sarkofagus berupa batu empat persegi panjang atau peti kayu. Pada permulaan dinasti keempat, beberapa bagian tubuh mulai diawetkan secara terpisah dalam toples kanopik.[127]

Anubis adalah dewa pada zaman mesir kuno yang dikaitkan dengan mumifikasi dan ritual pemakaman. Pada gambar ini ia sedang mendatangi seorang mumi.

Pada periode Kerajaan Baru, orang Mesir Kuno telah menyempurnakan seni mumifikasi. Teknik terbaik pengawetan mumi memakan waktu kurang lebih 70 hari lamanya, selama waktu tersebut secara bertahap dilakukan proses pengeluaran organ internal, pengeluaran otak melalui hidung, dan pengeringan tubuh menggunakan campuran garam yang disebut natron. Selanjutnya tubuh dibungkus menggunakan kain, pada setiap lapisan kain tersebut disisipkan jimat pelindung, mayat kemudian diletakkan pada peti mati yang disebut antropoid. Mumi periode akhir diletakkan pada laci besar cartonnage yang telah dicat. Praktik pengawetan mayat asli mulai menurun sejak zaman Ptolemeus dan Romawi, pada zaman ini masyarakat mesir kuno lebih menitikberatkan pada tampilan luar mumi.[128] Orang kaya Mesir dikuburkan dengan jumlah barang mewah yang lebih banyak. Tradisi penguburan barang mewah dan barang-barang sebagai bekal almarhum juga berlaku pada semua masyarakat tanpa memandang status sosial. Pada permulaan Kerajaan Baru, buku kematian ikut disertakan di kuburan, bersamaan dengan patung shabti yang dipercaya akan membantu pekerjaan mereka di akhirat.[129] Setelah pemakaman, kerabat yang masih hidup diharapkan untuk sesekali membawa makanan ke makam dan mengucapkan doa atas nama almarhum.[130]
[sunting] http://id.wikipedia.org/wiki/Mesir_Kuno