Anda di halaman 1dari 6

BAB II PEMBAHASAN 2.1.

Pendidikan Istilah pendidikan, dalam bahasa Inggris education, berakar dari bahasa Latin educare yang dapat diartikan pembimbingan berkelanjutan (to lead forth). Secara umum pendidikan dapat diartikan sebagai segala kegiatan yang berlangsung sepanjang zaman dalam segala situasi kegiatan kehidupan. Pendidikan berlangsung di segala jenis, bentuk, dan tingkat lingkungan hidup, yang kemudian mendorong pertumbuhan segala potensi yang ada di dalam diri individu. Dengan adanya pendidikan individu mampu mengubah dan mengembangkan menjadi semakin dewasa, cerdas dan matang. Jadi singkatnya, pendidikan merupakan system proses perubahan menuju pendewasaan, pencerdasan dan pematangan diri. Pendidikan merupakan suatu faktor penting sebagai penentu majunya suatu bangsa. Dengan adanya pendidikan dapat menjadikan manusia menjadi lebih baik, dan kehidupannya menjadi lebih berkembang. Selain itu, pendidikan juga merupakan tahap awal dalam pengembangan individu, dengan kata lain pendidikan merupakan pondasi terbentuknya moral individu. Sehingga dapat dikatakan suatu bangsa akan menjadi Negara maju jika pendidikan Negara tersebut baik. Pendidikan merupakan persoalan yang melekat secara kodrati di dalam diri manusia. Pendidikan tersebar diseluruh sector kegiatan kehidupan masyarakat, baik dalam dimensi horizontal maupun vertical. Ketika manusia berinteraksi dengan dirinya, disitulah ada pendidikan. Ketika berinteraksi dengn sesamanya dalam setiap kegiatan kemasyarakatan, di situ ada pula pendidikan. Lebih dari itu, ketika berinteraksi dengan Tuhann, pendidikan semakin terlihat jelas. Antara pendidikan dan manusia bagaikan wadah dengan isinya, yang saling melengkapi. Namun, pendidikan dapat dikatakan belum berhasil menciptakan perkembangn dan kemajuan kehidupan, dapat dilihat dari beberapa fakta yang menunjukkan bahwa realitas kehidupan dewasa ini terbelah secara tajam menjadi dua sisi, yaitu: 1. Antara penguasa (subjek) dan pihak yang dikuasai (objek), secara politik-sosialitas cenderung diwarnai kekejaman. 2. antara kaum tertindas dan dan kaum penindas , secara hukum kehidupan social belum berkeadilan.

3. Antara kaum borjuis dan kaum melarat, secara ekonomi kehidupan social belum ada pemerataan kesejahteraan. 4. Antara pihak yang sangat terhormat dan terhina secara cultural belum dijiwai nilai kemanusiaan. Pendidikan mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan adanya pendidikan masyarakat suatu bangsa lebih mengerti dan berfikir, yang secara tidak langsung membentuk moral tiap-tiap individu. Akan tetapi moral keserakahan ekonomi, mora kekuasaan otoriter politik, dan moral ketidakadilan justru merajalela ketika pendidikan berada pada titik punca kemajuan. Negara Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang mutu pendidikannya begitu baik. Factor-faktor yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain: 1. Kurangnya jumlah dan rendahnya mutu guru; 2. Kurangnya sarn dan prasarana belajar; 3. Lemahnya metode mengajar dan kurikulum yang berlaku; 4. Lemahnya system pengelolaan persekolahan dan 5. Belum optimalnya peran orang tua, masyarakat dan pemerintah dalam mendukung pembangunan pendidikan yang kurang bermutu. Mengingat pendidikan penting bagi kehidupan suatu bangsa, maka pendidikan mempengaruhi Ketahanan social dan ketahanan nasional. Individu yang pernah mengenyam pendidikan dengan individu yang tidak pernah mengenyam pendidikan pasti akan berbeda pola pikirnya dalam menyelesaikan suatu masalah. Selain itu pendidikan juga dipengaruhi oleh kejadian-kejadian yang sedang terjadi. Namun, pendidikan tidak berjalan dengan lurus dan lancar. Pendidikan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kerusuhan social. Kerusuhan yang sering terjadi adalah kerusuhan antarethnis yang membuat prihatin dan resah seluruh anggota masyarakat dan tampaknya kerusuhankerusuhan ini tidak mudah diatasi. Kerusuhan tidak hanya menimbulkan dampak bagi pihak yang bertikai, tetapi juga menimbulkan akibat yang sangat besar bahkan yang tadinya lingkupnya kecil bias sampai pada ligkup nasional yang akan berpengaruh secara nasional, baik dibidang politik, ekoomi, ataupun social. Salah satu kerusuhan tingkat daerah yang meluasa sampai tingkat nasional adalah kerusuhan Sambas. Kerusuhan yang terjadi di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat yangterjadi pada Maret-April 1997 menimbulkan dampak yang cukup banyak. Pada tahun 1998/1999 dilakukan studi oleh Balitbag

Depdiknas yang menunjukkan bahwa begitu besar dampak yang ditimbulkan terhadap kehidupan bermasyarakat khususnya di sector pendidikan, baik fisik maupun non fisik. Akhir-akhir ini konflik social yang tejadi di berbagai wilayah Indonesia cenderung semakin memuncak dan sudah dalam kondisi yang menghawatirkan. Kondisi ini menunjukkan tidak adanya tatanan niali atau aturan social yang dianut masyarakat dalam kehidupan bersama. Masyarakat seperti ini sering disebut masyarakat Anomi. Kerusuhan Sambas terjadi karena perseteruan antara dua suku yang selama ini mendimi Sambas, yaitu suku Madura dan suku Melayu. Kerusuhan ii terjadi selama dua bulan pada Maret hingga April 1997. Sebenarnya konflik sudah berlangsung lama, tetapi karna suku Melayu ikenal sebagai suku yang tidak menyeang keributan, sehngga konflik tidak pernah membesar. Akan tetapi pada pertengahan Maret197 merupakan batas waktu kesabaran suku Melayu untuk member toleransi dan meneria begitu saja gangguan-gangguan yang dating dari suku Madura. Akibatnya, terjadilah kerusuhan besar antara dua suku tersebut. Setelah peristiwa Sanbas terjadi, timbul dua dampak yang sangat berarti untuk ketahanan sisial, dan ketahanan nasional. Yaitu: pertama, bagaimana penerapanpenyelenggaraan pendidikan mengenai wawasan kebangsaan, persatuan dan kesatan, saling menghormati dan menghargai perbedaan suku bangsa dan agama. Kedua, bagaimanakah pengaruh konflik terhadap pendidikan khususnya terhadap anak-anak usia sekolah yang menjadi korban dari konflik tesebut. Peristiwa Sambas meyebabkan krisis social sebagaimana krisis ekonomi dan krisis lainnya yang dapat berpengaruh terhadap endi-sendi kehidupan bermasyarakat termasuk pendidikan. Apapun penyebab krisis social yang melanda masyarakat, krisis social pada waktu tertentu dapat memberikan sumbangan terhadap terjadinya perubahan perilaku yang negatif pada anggota masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Gejala penyimpangan perilaku ini sangat perlu dicermati karena dapat menyebabkan merosotnya semangat kebersamaan, toleransi, dan rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu hal ini perlu diantisipai dan dikaji agar tidak terjadi lagi. Salah satu cara adalah dengan melakukan endidikan social budaya khususnya bagi generasi muda pemimpin bangsa melalui lenmbaga sekolah baik formal maupun nonformal. Maksud dan tujuan pendidikan lintas budaya adalah agar tetap terpelihara rasa kesatuan dan sekaligus meningkatkan semangat kebersamaan antaranggota masyarakat dalam hidup bersama, berbangsa dan bernegara dalam lingkup persatuan bangsa. Dampak non Fisik Kerusuhan di Bidang Pendidikan

Dampak non fisik yang ditimbulkan kerusuhan Sambas antara lain di bidang endidikan, baik terhadap guru, dan sikap mental/kejiwaan anak-anakusia sekolah di Kabupaten Sambas. 1. Guru Pengungsian besar-besaran orang Madura dari wilayah Sambas, termasuk para guru keturunan Madura. Suami istri yang memiliki pasangan orang Madura terpaksa mengikutinya, karena kekeasan yang terjadi di Sambas tidak memandang keberadaan kawin campur antaretnis. Jumlah guru yang mengungsi seluruhnya ada 92 orang, guru SD/MI sebanyak 69 orang, guru SLTP/MTs 15 orang, dan guru SMA 8 orang. Ada dua hal dampak buruk terhadap guru yang dapat diidentifikasi yaitu: a) Pakaian sebadan. Investasi dan kekayaan dari hasil mengajar dan hasil kerja lainnya musnah terbakar. Bahkan, diantara mereka kehilangan anggota keluarga. Umah, peralatan rumah tangga, binatang piaraan, kendaraan, alat elektronik semuanya terbakar habis. Mereka mengungsi di berbagai lokasi/tempat, bebeapa diantaranya tinggal berpindah-pindah, di tempat pengungsian, teman dan saudaranya. Sambil menunggu perkembangan mereka mencari penghasilan, seperti menjadi kuli bangunan, tukang becak, dan tukang kayu. Sementara itu, beberapa guru sudah difungsikan untuk mengajar anak-anak di pengungsian. Belum tahu sampai kapan para guru dapat kembali mengajar dan mengurus tanahnya yang dtinggal di Sambas karena hingga kini masyarakat Sambas masih menolak kehadiran orang Madura di hampir semua wilayah Sambas. b) Karier dan Kepegawaian Guru Terhambat. Tragedi kerusuhan menghambat kinerja guru karena memusnahkan juga surat-surat kepegawaian (SK Pengangkatan), ijazah, sertifikat kusus, atau penghargaan lainnya, pakaian seragam, buku-buku, ban bahan-bahan lain untuk pengumpulan angka kredit bagi kenaikan pangkat guru. Umumnya para guru mengaku tidak sempat menyelamatkan bahan-bahan penting tersebut karena lebih mementingkan keselamatan keluarganya. Hingga saat ini para guru belum tahu tentang bagaimana mengganti surat-surat kepegawaian tersebut sehubngan dengan kepengurusan kenaikan pangkat dan meniti kariernya. Kecuali itu, mereka tidak memiliki copy untuk bahan kenaikan jabatan. Sementara ini, pemerintah baru sampai pada tahap mengidentifikasi jumlah guru, sekolah tempat semula

mereka mengajar di sekitar tempat pengungsuan. Sedangkan status terbakarnya surat penting untuk mengurus kepentingan administrasi kepegawaian belum dijangkau oleh para birokrasi. 2. Siswa Tragedi Sambas di samping berdampak pada guru juga berdampak pada sikap mental anak usia sekolah baik langsung maupun tidak langsung, yakni: (a) Terganggunya aspek kejiwaan anak usia sekolah dan (b) memburuknya persepsi dan rasa permusuhan antaretnis. Di antara amnak-anak tersebut secara langsung melihat tindakan-tindakan bengis, kejam yang dilakukan oleh massa seperti perkelahian, saling membunuh, dengan menggunakan senjata tajam, pembakaran rumah dn tindalkan-indakan sadis lainnya. Hal ini jelas merupakan peristiwaperistiwa yang memberikan pengalaman emosional yang secara langsung maupun tidak dapat mengakibatkan anak-anak menjai traumatis. Dari pengamatan langsung di lapangan terlihat tanda-tanda traumatis terhadap diri anak tersebut, misalnya: mudah tibul rasa takut, tidak mau berjumpa dengan oranglain, cemas, khawatir, dan murung. Bahkan ada seorang siswa yang kecenderungan terkena gangguan jiwa (orang tuanya menjadi korban pembunuhan) seperti tertawatanpa sebab. Selain itu fakta atau contoh lain adalah adanya searang anak pengungsi yang perilakunya aneh yaitu pada saatsekolah tidak pernah mengikuti pelajaran di kelas, sering bermain kelereng sendiri di halaman. Contoh-contoh perilaku di atas menunjukkan adanya indikasi terjadinya tekanan batin/tekanan jiwa yang menimpa anak-anak usia sekolah sebagai akibat tindak kekerasan yang terjadi di Kabupaten Sambas. Dampak nonfisik lain terjadinya kerusuhan antaretnis adalah terbentuknya atau semakin buruknya persepsi anak-anak dari suku yang bertikai. Anak-anak suku Madura memiliki persepsi yang buruk terhadap teman-temannya suku Melayu, demikian sebaliknya persepsi anak-anak Melayu terhadap anak-anak etnis Madura. Kondisi yang demikian sangatah memprihatinkan dan pelu dicermati karena pada diri anak-anak calon generasi penerus bangsatelah tumbuh rasa kebencian terhadap sesame bangsa dan hal semacam ini dapat mengganggu pemerintah dalam menggalang persatuan dan kesatuan antar suku bangsa. Misalnya anak-anak usia sekolah suku Madura juga tertanam rasa peermusuhan terhadap anak-anak suku Melayu karena mereka melihat sendiri perilaku anak-anak usia SLTP/SLTA yang melakukan pembantaian dengan sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan, melakukan pemnakaran, adan pengusiran terhadap orang-orang Madura

yang tinggal di Kabupaten Sambas. Terlebih lagi pada anak-anak usia sekolah suku Madura yang secara langsung mengalami nasib/musibah kehilangan orang tua, saudar a yang ikut menjadi korban pembunuhan. Umumnya mereka sangat membenci dan dendam terhadap orang-orang melayu khususnya yang berada di Kabupaten Sambas. Hal semacam ini dapat menyebabkan kerusuhan social baru dikalangan anak usia sekolah, yang jika tidak segera diatasi dapat menyebabkan kerusuhan social tingkat nasional.