Anda di halaman 1dari 72

RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 1



KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya tugas mata
kuliah Tugas Gambar Rencana Umum ini. Tidak sedikit kendala yang
menghadang penyusun dalam menyelesaikan tugasnya, namun berkat rahmat dan
hidayah-Nya telah membimbing penyusun untuk terus berusaha menyelesaikan
salah satu mata kuliah di Jurusan Teknik Bangunan Kapal, Politeknik Perkapalan
Negeri Surabaya - ITS ini.
Mata kuliah ini merupakan persyaratan untuk menyelesaikan studi tingkat
Ahli Madya pada jurusan Teknik Bangunan Kapal Politeknik Perkapalan Negeri
Surabaya - Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Penyusun harus mengakui, laporan ini masih sangat jauh dari sempurna,
semua karena keterbatasan waktu dan pengetahuan serta kemampuan penyusun
sebagai manusia biasa. Untuk itu penyusun mohon maaf atas semua kekurangan
dan kesalahan yang terjadi di dalam penyusunan laporan dan gambar Tugas
Rencana Umum ini.
Namun penyusun tetap berharap, sekecil apapun semoga tugas ini dapat
bermanfaat khususnya bagi penyusun secara pribadi, dan semuanya pada
umumnya.




Surabaya, 26 Desember 2012


Penyusun


Muhammad Syahrir Qoim Nuddin

RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 2

BAB I
PENDAHULUAN

Rencana umum dari sebuah kapal dapat didefinisikan sebagai
perancangan di dalam penentuan atau penandaan dari semua ruangan yang
dibutuhkan, ruangan yang dimaksud seperti ruang muat dan ruang kamar mesin
dan akomodasi, dalam hal ini disebut superstructure (bangunan atas). Disamping
itu juga direncanakan penempatan peralatan-peralatan dan letak jalan-jalan dan
beberapa sistem dan perlengkapan lainnya.
Dalam pembuatan sebuah kapal meliputi beberapa pekerjaan yang secara garis
besar dibedakan menjadi dua kelompok pengerjaan yakni kelompok pertama
adalah perancangan dan pembangunan badan kapal sedangkan yang kedua adalah
perancangan dan pemasangan permesinan kapal.
Pengerjaan atau pembangunan kapal yang terpenting adalah perencanaan
untuk mendapatkan sebuah kapal yang dapat bekerja dengan baik harus diawali
dengan perencanaan yang baik pula.
Pengerjaan kelompok pertama meliputi perencanaan bentuk kapal yang
menyangkut kekuatan dan stabilitas kapal. Sedangkan untuk perencanaan
penggerak utama, sistem propulsi, sistem instalasi dan sistem permesinan kapal
merupakan tugas yang berikutnya.
Dalam perencanaan Rencana Umum terdapat beberapa hal yang perlu
dijadikan pertimbangan yakni :
- Ruang merupakan sumber pendapatan, sehingga diusahakan kamar mesin
sekecil mungkin agar didapat volume ruang muat yang lebih besar.
- Pengaturan sistem yang secanggih dan seoptimal mungkin agar
mempermudah dalam pengoperasian, pemeliharaan, perbaikan, pemakaian
ruangan yang kecil dan mempersingkat waktu kapal dipelabuhan saat
sedang bongkar muat.
- Penentuan jumlah ABK seefisien dan seefektif mungkin dengan kinerja
yang optimal pada kapal agar kebutuhan ruangan akomodasi dan
keperluan lain dapat ditekan.
RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 3

- Dalam pemilihan Mesin Bongkar Muat dilakukan dengan
mempertimbangkan bahwa semakin lama kapal sandar di pelabuhan
bongkar muat semakin besar biaya untuk keperluan tambat kapal.
- Pemilihan Ruang Akomodasi dan ruangan lain termasuk kamar mesin
dilakukan dengan seefisien dan seefektif mungkin dengan hasil yang
optimal.
Rencana umum adalah suatu proses yang berangsur-angsur disusun dan
ini berasal dari percobaan, penelitian, dan masukan dari data-data kapal yang
sudah ada (pembanding).
Informasi yang mendukung pembuatan rencana umum:
1. Penentuan besarnya volume ruang muat, type dan jenis muatan yang
dimuat.
2. Metode dari sistem bongkar muat.
3. Volume ruangan untuk ruangan kamar mesin yang ditentukan dari type
mesin dan dimensi mesin.
4. Penentuan tangki-tangki terutama perhitungan volume seperti tangki
untuk minyak, ballast, dan pelumas mesin.
5. Penentuan volume ruangan akomodasi jumlah crew, penumpang dan
standar akomodasi.
6. Penentuan pembagian sekat melintang.
7. Penentuan dimensi kapal (L, B, H, T, o)
8. Lines plan yang telah dibuat sebelumnya.









RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 4

BAB II
DATA UKURAN UTAMA KAPAL

Data utama kapal :
Nama kapal : MV . HABBIB
Type kapal : GENERAL CARGO
Muatan : Gandum
Kecepatan dinas : 12,5 knot = 6,43 m/s
Daerah pelayaran : Tanjung priuk - Pekanbaru
Radius pelayaran : 727 miles
Lama pelayaran : 3 hari
Jumlah crew : 21 orang
DWT : 3972,73 ton
Ukuran utama :
Loa : 90,563 m
Lwl : 89,402 m
Lbp : 87,084 m
B : 14,000 m
H : 7,750 m
T : 6,907 m
Vs : 12,5 m
Cb : 0,6904

Menghitung Lama Pelayaran
Lama pelayaran = Rute pelayaran / (Vs x 24)
= 727 / (12,5 x 24)
= 2,42 = 3 hari
Menghitung Volume
V = L x B x T x Cb
= 87,084 x 14 x 6,907 x 0,6904
= 5813,75 m
3



RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 5

Menghitung Diplacement
= L x B x T x Cb x = 1,025
= 87,084 x 14 x 6,907 x 0,6904 x 1,025
= 5959,1 ton

Dari diplacement dapat diketahui nilai n :
Dari 5000 ton hingga 7500 ton n = 2,5 kisaran / detik

Menghitung permukaan basah (S) :
S = L ( Cb x B + 1,4 x T )
= 87,084 ( 0,6904 x 14 x 1,4 x T )
= 1683,81 m
2



























RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 6

BAB III
PERHITUNGAN DAYA MOTOR PENGGERAK UTAMA

3.1.Menghitung EHP
Metode yang digunakan : Watson
L n
L V
P
. . 110 15000
) 017 . 0 33 ( . 5
3 3 / 2

A
= kW
Dimana :
P : Daya efektif kapal ( EHP ) dalam kW ( 1 HP = 0,746 kW )
: Diplacement ( ton )
V : Kecepatan ( m/s)
L : Panjang kapal ( m )
n : kisaran per detik
084 , 87 ). 50 , 2 .( 110 15000
) 017 . 0 33 ( ) 43 , 6 ( ) 1 , 5959 .( 5
3 3 / 2


=
L
P kW
= 1107,56 kW
Jadi, disapatkan EHP = 1107,56 kW
= 1484,66 HP
3.2.Menghitung Wake Friction (w)
Pada perencanaan ini digunakan single screw propeller sehingga nilai
w = 0,5 Cb 0,05
= 0,2952
3.3.Menghitung Thrust Deduction Factor (t)
Nilai t dapat dicari dari nilai w yang telah diketahui
t = k x w nilai k antara 0,7 0,9
= 0,8 x 0,2952
= 0,23616

RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 7

3.4.Menghitung Efisiensi Propulsif
a. Efisiensi Relatif Rotatif (rr)
Harga rr untuk kapal dengan propeller single screw berkisar 1.02 1.05.
Pada perencanaan propeller dan tabung poros propeller ini diambil harga
rr sebesar 1.04.

b. Efisiensi Propulsi (p)
Nilainya antara 40 70 % dan di dalam perencanaan ini diambil
60 % = 0,6.

c. Efisiensi Lambung (H)
(H) = ( 1-t ) / ( 1-w )
= 1,083768445 (H)

d. Coeficient Propulsif
(Pc) = rr x p x H
= 0,6763

3.5.Menghitung Daya dorong (THP)
THP = EHP / H
= 1484,66 / 1,083768445
= 1369,905174 HP

3.6.Menghitung Daya Pada Tabung Poros Buritan Baling-baling (DHP)
Daya pad tabung poros baling-baling dihitung dari perbandingan antara daya
efektif dengan koefisien propulsif, yaitu :
DHP = EHP / Pc
= 1484,66 / 0,6763
= 2195,268372 HP
3.7.Menghitung Daya Pada Poros Baling-baling (SHP)
Untuk kapal dengan kamar mesing terletak dibagian belakang akan mengalami
losses sebesar 2 % , sedangkan pada kapal yang kamar mesinnya terletak pada
bagian midship mengalami losses sebesar 3 %. Pada perencanaan ini kamar
mesin terletak pada bagian belakang sehingga mengalami losses atau efisiensi
transmisi poros (sb) sebesar 0,98.
SHP = DHP / Csb sb = (100-2) % = 0,98
= 2240,069767 HP
RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 8

3.8.Menghitung Daya Penggerak Utama Yang Diperlukan
a. BHPscr
Adanya pengaruh efisiensi roda sistem gigi transmisi (G), pada
perencanaan ini memakai sistem roda gigi reduksi tunggal atau single
reduction gears dengan losses 2 % untuk arah maju sehingga G = 0,98.
BHPscr = SHP / G
= 2240,069767 / 0,98
= 2285,785477 HP
b. BHPmcr
Daya keluaran pada kondisi maksimum dari motor induk, dimana besarnya
daya BHPscr.
BHPmcr = BHPscr / 0,85
= 2285,785477 / 0,85
= 2689,159385 HP
= 2006,112901 kW

















RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 9

BAB IV
PEMILIHAN MESIN INDUK
Dari data mengenai karakteristik putaran kerja dan daya pada kondisi
BHPmcr dapat kita tentukam spesifikasi motor penggerak utama atau main engine
dari kapal ini.
Dari berbagai pertimbangan tersebut, maka dalam perencanaan untuk kapal
ini dipilihlah mesin induk sebagai berikut :
Merk : MAN B&W
Cycle : 4 Strokes
Type : L27/38-VBS

Daya maksimum : 2775 HP atau 2040 kW
Jumlah silinder : 6
Bore : 270 mm
Stroke : 380 mm
Engine speed : 800 r/min (Rpm)
Fuel Consumtion (SFOC) : - 182 g/kWh
- 134 g/BHPh
Dimension : Panjang : 3460 mm
Lebar : 3680 mm
Tinggi : 4525 mm
Berat kering : 37 ton









RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 10



RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 11

BAB V
PERHITUNGAN KONTRUKSI

5.1.Perhitungan Dasar Ganda
Menurut ketentuan BKI 1989 Volume II Bab VIII
Tinggi double bottom (h) tidak boleh kurang dari :
h = 350 + 45B (mm) dimana B = 14,000 m
= 350 + 45(14)
= 980 mm ~ diambil 1000 mm
Untuk kapal tanker, tinggi double bottom minimum adalah B / 15, tapi tidak
boleh kurang dari 1000 mm dan tak boleh melebihi 3000 mm.
Dasar Ganda pada Kamar Mesin
Pada perencanaan ini diambil peninggian konstruksi pondasi motor diatas dasar
ganda pada kamar mesin sebesar 1500 mm dari base line kapal, harga tersebut
berdasarkan pertimbangan kelurusan antara center line boss propeller dengan
center line pada main engine.

5.2.Perencanaan Sekat dan Jarak Gading
a. Jarak Gading (ao)
Jarak gading atau Frame Spacing merupakan jarak antara 2 gading yang
terletak antara Sekat Ceruk Buritan (After Peak Bulkhead) dengan Sekat
Tubrukan (Collision Bulkhead).Jarak tersebut dapat dihitung dengan
persamaan sebagai berikut :
a0 = L / 500 + 0,48 ( m ).......(BKI vol II 1989 sec 9. A 1.1)
= 87,084 / 500 + 0,48
= 0,65 m........(Maksimum)
Harga a0 diambil sebesar 0,60 meter. (Dipilih jarak yang lebih kecil atau
sama dengan jarak maksimum yang telah ditentukan oleh kelas berdasar hasil
perhitungan).
Jarak Gading di Depan Sekat Tubrukan Dan di Belakang Sekat Ceruk Buritan
Menurut BKI vol II section 9 A.1.1.2, jarak antara 2 gading yang terdapat di
belakang Sekat Ceruk Buritan dan di depan Sekat Tubrukan tidak boleh melebihi
600 mm. Dalam perencanaan ini diambil jarak gading sebesar 600 mm.
RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 12

b. Perhitungan Sekat Kedap Air
Setiap kapal harus mempunyai sekat - sekat kedap air yang meliputi :
- Sekat tubrukan.
- Sekat tabung buritan
- Sekat kamar mesin.
Berdasarkan ketentuan - ketentuan BKI vol II tentang jumlah sekat minimal
termasuk sekat diatas adalah :
L 65 m adalah 3 sekat
65 L 85 m adalah 4 sekat
L > 85 m adalah 4 sekat + 1 ( untuk setiap kelipatan sampai 20 m )
Maka direncanakan pemasangan sekat kedap air untuk tipe kapal cargo (
87,084 m ) adalah sebagai berikut :
1 buah : Sekat Ceruk Buritan
1 buah : Sekat Tubrukan
1 buah : Sekat depan Kamar Mesin
2 buah : Sekat antar Ruang Muat

Sekat Tubrukan
Menurut peraturan BKI yang tercantum pada buku peraturan konstruksi
lambung , untuk semua kapal barang dengan L 200 m, sekat tubrukan
diletakkan tidak kurang dari 0,05 L dari FP dan tidak boleh lebih dari 0.08 L
dari FP. Syarat minimum letak sekat tubrukan di belakang FP adalah 0,05 L.
0,05 L = 0,05 (87,084 m) dimana L = 87,084 m
= 4,3542 m ~ diambil 4 m
Syarat maximum letak sekat tubrukan di belakang FP adalah 0,08 L.
0,08 L = 0,08 (87,084 m) dimana L = 87,084 m
= 6,9 m ~ diambil 6 m
Sehingga diambil letak sekat tubrukan 6 m di belakang FP atau pada frame no.
136. Sekat Ceruk Buritan sekurang-kurangnya berjarak 3 jarak gading dari
ujung boss propeller atau 5 - 15% Lpp dihitung dari AP. Direncanakan jarak
antara sekat ceruk buritan ke AP adalah :

RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 13

Jarak sekat buritan adalah 5 - 15% Lpp dihitung dari AP.
5% Lpp = 0,05 x 87,084
= 4,35 m ~ diambil 4 m
15% Lpp = 0,15 x 87,084
= 13,06 m ~ diambil 13 m
Agar terdapat kecukupan ruang dalam memasang poros antara di buritan kamar
mesin, pada kapal ini diambil jarak 5 m sehingga sekat ceruk buritan terletak di
frame no. 10.

Sekat Kamar Mesin
Jarak sekat kamar mesin diletakkan dengan mempertimbangkan banyak hal
antara lain :
- Panjang mesin
- Poros
- Jarak untuk peletakan peralatan di depan mesin induk
Dalam hal ini panjang kamar mesin diusahakan seminimal mungkin sesuai
dimensi permesinan yang ada agar ruang muat menjadi maksimal. Yang
meggunakan pendekatan 15- 18 fs atau bisa menggunakan pendekatan grafik
SHPmax, jenis mesin yang digunakan, dan volume ruang mesin utama
Pada perencanaan ini panjang kamar mesin diambil sebesar kurang lebih 12 m,
atau gading no. 10 sampai 30.

Sekat Ruang Muat dan Lubang palkah
Perencanaan Lubang Palkah
- Panjang lubang palkah ( 0,5 0,7 ) x panjang ruang muat. Diambil 0,6
- Lebar lubang palkah adalah 0,6 x lebar kapal atau sesuai kelipatan
jarak gading atau frame.
Pada kapal ini direncanakan :
Ruang muat I teletak antara frame 100 - 136
Panjang ruang muat = 21,6 m
Panjang lubang palkah = 12,96 m
Lebar lubang palkah = 8,4 m
RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 14

Ruang muat II teletak antara frame 66 - 100
Panjang ruang muat = 20,4 m
Panjang lubang palkah = 12,24 m
Lebar lubang palkah = 8,4 m
Ruang muat III teletak antara frame 30 - 66
Panjang ruang muat = 21,6 m
Panjang lubang palkah = 12,96 m
Lebar lubang palkah = 8,4 m



















RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 15

BAB VI
SUSUNAN ANAK BUAH KAPAL (ABK)

Penentuan Jumlah ABK dan Tugasnya
Jumlah ABK merupakan fungsi terkait dari pelayanan terhadap system
system yang berada di dalam kapal. Penentuan jumlah ditentukan oleh pemilik
kapal dan badan badan terkait dengan pembuatan kapal. Tingkat otomatisasi
sebuah kapal juga akan sangat berpengaruh pada jumlah ABKnya.

Penentuan Jumlah Crew
Penentuan Jumlah Crew kapal dapat menggunakan rumus pendekatan sebagai
berikut :
Zc = Cst x [ Cdk (CN/1000)
1/16
+ Ceng ( BHP/1000)
1/3
+ Cadet ]

Dimana:
Zc = Jumlah crew
Cst = Coefficient for steward department (1,2 1,33), diambil Cst = 1,2
Cdk = Coefficient for deck department (11,5 14,5), diambil Cdk = 11,5
Ceng = Coefficient for engine department (8,5 11), diambil Ceng = 8,5
BHP = Tenaga mesin (kW)
Cadet = Perwira tambahan / tamu
CN = (L x B x H) / 1000
= 9,448614

Maka:
Zc = Cst x [ Cdk (CN/1000)
1/16
+ Ceng ( BHP/1000)
1/3
+ Cadet ]
= 1,2 x [ 11,5 (9,448614)
1/16
+ 8,5 (2689,159385 /1000)
1/3
+ 2 ]
= 21,80873592 m ~ 21 orang
















RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 16

Perencanaan jumlah ABK dan pembagian menurut fungsinya:

1. Master
Captain ( Nahkoda ) : 1 orang
2. Deck Departement
Perwira :
1. Chief Officer ( Mualim I ) : 1 orang
2. Second Officer ( Mualim II ) : 1 orang
3. Third Officer (Mualim III) : 1 orang
Bintara :
1. Quarter Master ( Juru Mudi ) : 3 orang
2. Boatswain (Kepala Kelasi) : 1 orang
3. Seaman : 1 orang
3. Engine Departement
Perwira :
1. Chief Engineer ( Kepala Kamar Mesin ) : 1 orang
2. First Engineer : 1 orang
3. Second Engineer : 1 orang
Bintara :
1. Electrican : 1 orang
2. Mechanic : 2 orang
3. Oiler : 1 orang
4. Service Crew
Perwira :
1. Chief Cook : 1 orang
Bintara :
1. Assist. Cook : 2 orang
2. Steward : 1 orang
3. Boys : 2 orang +

Jumlah : 21 orang



Departement deck menguasai masalah yang berkaitan dengan geladak seperti
pembersihan dan perawatan geladak, penanganan dan pengoperasian peralatan
keselamatan,administrasi pelabuhan, komunikasi dan navigasi, labuh dan sandar,
bongkar muat dan penanganan muatan dikapal.

Merupakan kedudukan tertinggi dikapal.menjadi pemberi komando,
mengambil keputusan dan penangung jawab secara umum.
)
Merupakan kedudukan dibawah master.Pada kondisi master tidak aktif
RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 17

(istirahat, sakit dan sebagainya), menjadi pemegang komando dengan
pertanggungjawaban kepada master. Juga melakukan fungsi mengatur
anak buah kapal di departementnya serta melakukan pekerjaan
administrasi di kapal.

Juru mudi bertugas untuk mengendalikan jentara untuk mendapatkan arah
kapal yang ditentukan.

Anak buah kapal yang bertugas menangani pengoperasian dan perawatan
mesin geladak, penggoperasian peralatan bongkar muat, penanganan
muatan di kapal dan pengoperasian serta perawatan peralatan
keselamatan.


Dalam kapal memiliki kedudukan yang hampir setara dengan nahkoda
atau master. Bertanggung jawab penuh atas kamar mesin dan
operasionalnya beserta segala isinya.

Mempunyai kedudukan diatas mekanik. Bertanggung jawab terhadap
operasional kamar mesin.

Bertugas menangani workshop dan pengoperasian peralatan peralatan
didalamnya.Sebagai tugas sekundernya adalah memberikan bantuan pada
mekanik untuk pekerjaan pekerjaan tertentu.

Bertugas menangani pengoperasian, pemantauan, perawatan dan perbaikan
permesinan dikamar mesin dan system penunjangnya. Waktu tugas
normalnya adalah 8 jam.




RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 18



Mengepalai departemen pelayanan bagian hidangan/memasak makanan
untuk seluruh anak buah kapal, bertanggungjawab kepada nahkoda (
master ).

Bertugas membantu Chief cook memasak makanan untuk seluruh anak
buah kapal dan menyajikannya ke pantry.

Melakukan tugas tugas kerumah tanggaan seperti membersihkan kabin
anak buah kapal, laundry dan setrika.
















RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 19

BAB VII
PERENCANAAN AKOMODASI

Dari SHIP DESIGN AND CONSTRUCTION 1980 , hal 113-1260 diperoleh
beberapa persyaratan untuk crew accomodation.
BRT = 0,6 DWT
= 0,6 ( 3972,73 ) = 2383,638 BRT

BRT = L x B x T
3,5
= 87,084 x 14 x 6,097 = 2123,80 BRT
3,5

7.1.Ruang Tidur (Sleeping Room)
Ruang tidur harus diletakkan diatas garis air muat di tengah / dibelakang
kapal.

Direncanakan ruang tidur :

o Ruangan tidur seluruhnya dibelakang kapal.
o Semua kabin ABK terletak pada dinding luar sehingga mendapat
cahaya matahari.
o Bridge Deck terdapat ruang tidur Captain, chief Engineer dan, Radio
Operator.
o Boat Deck terdapat ruang tidur Chief Officer.
o Poop Deck terdapat ruang tidur Electrician,Second Engineer, Chief
Cook, Quarter Master dan Second Officer.
o Main Deck terdapat ruang tidur, Boatswain, oiler, Steward, Seaman,
fireman, Assistant cook, boys(2 orang).
Tidak boleh ada hubungan langsung (opening) didalam ruang tidur dari
ruangmuat, ruang mesin, dapur, ruang cuci umum, wc, lamp room, paint
room dan drying room (ruang pengering).
Luas lantai untuk ruangan tidur tidak boleh kurang dari 2,78 m
2
untuk
kapal diatas 3000 BRT.

RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 20

Tinggi ruangan, dalam keadaan bebas minimum 190 cm. Direncanakan
200 cm.
Perabot dalam ruang tidur
a. Ruang tidur Kapten :
o Tempat tidur ( single bed ), lemari pakaian, sofa, meja tulis
dengan kursi putar, tv, kamar mandi, bathtub, shower,
washbasin, wc.
b. Ruang tidur Perwira :
o Tempat tidur ( single bed ), lemari pakaian, sofa, meja tulis
dengan kursi putar, kamar mandi, shower, washbasin, wc.
c. Ruang tidur Bintara :
o Tempat tidur ( single bed dan double bed ), lemari pakaian,
meja tulis dengan kursi putar
d. Ruang tidur spare:
o Tempat tidur ( single bed ), lemari pakaian, sofa, meja tulis
dengan kursi putar.
Ukuran perabot
a. Tempat tidur
Ukuran tempat tidur minimal 190 x 68 cm
Direncanakan ukuran tempat tidur :
o Perwira : 200 x 95 cm
o Tingkatan lain : 200 x 80 cm
Syarat untuk tempat tidur bersusun :
o Tempat tidur yang bawah berjarak 40 cm dari lantai.
o Jarak antara tempat tidur bawah dan atas 60 cm.
o Jarak antara tempat tidur atas dan langit-langit 60 cm.
Jarak antar deck diambil 240 cm.
b. Lemari pakaian
Direncanakan ukuran lemari pakaian : 60 x 40 x 60 cm.
c. Meja tulis
Direncanakan ukuran meja tulis : 80 x 50 x 80 cm.

RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 21

7.2.Ruang Makan (Mess Room)

Harus cukup menampung seluruh ABK.
Untuk kapal yang lebih dari 1000 BRT harus tersedia ruang makan yang
terpisah untuk perwira dan bintara.
Direncanakan 3 ruang makan :
a. Ruang makan di boat deck :
o Kapasitas 4 tempat duduk, 1 meja makan, 1 washbasin,
tv dan kulkas.
b. Ruang makan di Poop deck :
o Kapasitas 5 tempat duduk, 1 meja makan, 1 washbasin, tv
dan kulkas
c. Ruang makan di Main deck :
o Kapasitas 10 orang, 2 meja makan, 2 washbasin, tv dan
kulkas.

7.3.Sanitary Accomodation

Jumlah wc minimum untuk kapal lebih dari 3000 BRT adalah 6 buah.
Untuk kapal dengan radio operator terpisah maka harus tersedia fasilitas
sanitary di tempat itu.
Toilet dan shower untuk deck department, catering departement harus
disediakan terpisah.
Fasilitas sanitary umum minimum:
o 1 Bath tub atau shower untuk 8 orang atau kurang.
o 1 wc untuk 8 orang atau kurang.
o 1 washbasin untuk 6 orang atau kurang.
Dari semua persyaratan diatas maka direncanakan :
a. Di Main Deck :
o 1 shower
o 2 Wc .
o 5 Washbasin.
RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 22

b. Di Poop Deck :
o 3 Kamar mandi
o 3 Washbasin.
c. Di Boat Deck :
o 1 Kamar mandi dimasing-masing ruang perwira (shower,
washbasin dan wc).
o 1 Washbasin di pantry.
d. Di Bridge Deck :
o 1 Kamar mandi di ruang tidur (bathtub, washbasin dan
wc).
o 1 Kamar mandi di masing-masing ruang tidur perwira
(shower, washbasin dan wc).
e. Di Wheel House
o 1 Lavatory (washbasin dan wc).

7.4.Kantor (Ship Office)

Direncanakan kantor:
- Letak di Bridge Deck.
- 3 Meja tulis dengan kursi putar untuk Kaptain, Chief Off. dan Chief Eng.
- 2 Lemari buku : 80 x 35 x 100 cm

7.5.Dry Provision and Cold Store Room

A. Dry Provision

Dry provision berfungsi untuk menyimpan bahan bentuk curah yang tidak
memerlukan pendinginan dan harus dekat dengan galley dan pantry.




RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 23

B. Cold store

Untuk bahan yang memerlukan pendinginan agar bahan-bahan tersebut
tetap segar dan baik selama pelayaran.
Temperatur ruang pendingin dijaga terus dengan ketentuan :
- Untuk menyimpan daging suhu maximum adalah -22 C.
- Untuk menyimpan sayuran suhu maximum adalah -12 C.
Luas provision store yang dibutuhkan untuk satu orang ABK adalah (0,8
s/d 1) m
2
Untuk 24 orang ABK dibutuhkan luas ruangan antara 19 m
2 -
24 m
2.
Perinciannya sebagai berikut :
- 1/2 s/d 2/3 luas digunakan untuk cold store
- Sisanya digunakan untuk dry store.

Direncanakan Dry Store dan Cold Store :
- Letak di Main Deck dekat dapur.
- Luas 8,4 m
2

- 1/3 ruangan untuk dry store, 2/3 untuk cold store
- Cold store terdiri dari ruang penyimpan daging (-22 C) dan ruang
penyimpan sayur (-12 C).

7.6.Dapur (Galley)

Letaknya berdekatan dengan ruang makan, cold dan dry store.
Luas lantai 0.5 m
2
/ABK
Harus dilengkapi dengan exhause fan dan ventilasi untuk menghisap debu
dan asap
Harus terhindar dari asap dan debu serta tidak ada opening antara galley
dengan sleeping room.



RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 24

Direncanakan dapur :
- Letak di Main Deck, disamping dry and cold store, disamping ruang
makan bintara.
- Luas 7,8 m
2

- Dilengkapi sarana lift ke pantry di Poop deck yang tepat diatas dapur.

7.7.Ruang Navigasi (Navigation Room)
A. Ruang Kemudi (Wheel House)


Terletak pada deck yang paling tinggi sehingga pandangan ke depan dan
ke samping tidak terhalang (visibility 360
0
)
Flying wheel house lebarnya dilebihkan 0,5 meter dari lebar kapal. Untuk
mempermudah waktu berlabuh.
Jenis pintu samping dari wheel house merupakan pintu geser.

B. Ruang Peta (Chart Room)

Terletak didalam ruang wheel house.
Ukuran ruang peta 2,4 m x 2,4 m.
Ukuran meja peta 1,8 m x 11,2 m.
Antara ruang peta dan wheel house bisa langsung berhubungan sehingga
perlu dilengkapi jendela atau tirai yang dapat menghubungkan keduanya.

C. Ruang radio (Radio Room)

Diletakkan setinggi mungkin diatas kapal dan harus terlindungi dari air
dan gangguan suara.
Ruang ini harus terpisah dari kegiatan lain.
Ruang tidur radio operator harus terletak sedekat mungkin dan dapat
ditempuh dalam waktu 3 menit.

RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 25

7.8.Battery Room

Terletak di tempat yang jauh dari pusat kegiatan karena suara bising
akan mengganggu.
Harus mampu mensupply kebutuhan listrik minimal 3 jam pada saat
darurat.
Instalasi ini masih bekerja jika kapal miring sampai 22,5
0
atau kapal
mengalami trim 10
0
.


















RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 26

BAB VIII
PERLENGKAPAN NAVIGATION

Sesuai dengan Ship Design and Construction edisi revisi sname Newyork, 1980
tentang perlengkapan lampu navigasi.


Gambar posisi lampu navigasi









Tabel lampu navigasi
8.1.Anchor Light

Setiap kapal dengan l > 150 ft pada saat lego jangkar harus
menyalakan anchor light.
Warna : Putih.
Jumlah : 1 buah.
Visibilitas : 3 mil ( minimal )
Sudut Sinar : 360
0
horisontal
.
Tinggi : 8 meter.
Letak : Forecastle.
RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 27

8.2.Lampu Buritan (Stern Light)

Warna : Putih.
Visibilitas : 2 mil ( minimal )
Sudut Sinar : 135
0
horisontal
Jumlah : 1 buah.
Tinggi : 3,5 meter.
Letak : Buritan
8.3.Lampu Tiang Agung (Mast Head Light)

Warna : Putih.
Visibilitas : 6 mil ( minimal )
Sudut Sinar : 225
0
horisontal
Tinggi : 11,5 meter
(di tiang agung depan jadi satu tiang dengan anchor ligth) : 6 meter .

8.4.Lampu Sisi (Side Light)

Jumlah : Starboard Side : 1 buah.
Port Side : 1 buah
Warna : Starboard Side : Hijau
Port Side : Merah
Visibilitas : 2 mil ( minimal )
Sudut Sinar : 112,5
0
horizontal
Letak : Navigation deck (pada Fly Wheel House)

8.5.Morse Light
Warna : putih.
Sudut Sinar : 360
0
horisontal
Letak di Top Deck, satu tiang dengan mast head light, antena UHF dan
radar.

RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 28

8.6.Tanda Suara
Tanda suara ini dilakukan pada saat kapal melakukan manuver di pelabuhan
dan dalam keadaan berkabut atau visibilitas terbatas. Setiap kapal dengan
panjang lebih dari 12 m harus dilengkapi dengan bel dan peluit.

8.7.Pengukur Kedalaman (Depth Sounder Gear)
Setiap kapal dengan BRT diatas 500 gross ton dan melakukan pelayaran
internasional harus dilengkapi dengan pengukur kedalaman yang diletakkan di
anjungan atau di ruang peta.

8.8.Compass
Setiap kapal dengan BRT diatas 1600 gross ton harus dilengkapi dengan gyro
compass yang terletak di compass deck dan magnetic compass yang terletak
di wheel house.

8.9.Radio Direction Finder dan Radar
Setiap kpal dengan BRT diatas 1600 gross ton harus dilengkapi dengan
direction finder dan radar yang masing-masing terletak diruang peta dan wheel
house. Fungsi utama dari radio direction finder adalah untuk menentukan
posisi kapal sedangkan radar berfungsi untuk menghindari tubrukan







RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 29

BAB IX
PERENCANAAN TANGGA, PINTU DAN JENDELA

9.1.Perencanaan Pintu
A. Pintu Baja Kedap Cuaca ( Ship Steel Water Tight Door )

Digunakan sebagai pintu luar yang berhubungan langsung dengan
cuaca bebas.
Tinggi : 1800 mm
Lebar : 800 mm
Tinggi ambang : 300 mm

B. Pintu Dalam

Tinggi : 1800 mm
Lebar : 750 mm
Tinggi ambang : 200 mm

C. Ship Non Water Tight Steel Door
Digunakan untuk pintu gudang-gudang.

D. Ship Cabin Steel Hollow Door
Digunakan untuk pintu-pintu ruangan didalam bangunan atas.

8.2.Ukuran Jendela

Jendela bundar dan tidak dapat dibuka, 600 mm
Jendela empat persegi panjang
- 1. Panjang : 600 mm Lebar : 400 mm
- 2. Panjang : 500 mm Lebar : 350 mm
Untuk wheel house
RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 30

Berdasarkan simposium on the design of ship budges
- Semua jendela bagian depan boleh membentuk sudut 15
0.
- Bagian sisi bawah jendela harus 1,2 meter diatas deck
- Jarak antara jendela tidak boleh kurang dari 100 mm

9.3.Ladder / Tangga
A. Accomodation ladder
Accomodation ladder diletakkan menghadap kebelakang kapal.
Sedang untuk menyimpannya diletakkan diatas main deck (diletakkan segaris
dengan railing/miring). Sudut kemiringan diambil 45
0
Dengan melihat pada tabel Hidrostatik didapatkan nilai T dengan melalui
LWT. Pada kapal ini didapatkan hasil :
LWT = Disp. - DWT
= 5959,1 3972,73
= 1986,37 ton
Dari tabel Hidrostatik, LWT = 1986,37 didapatkan T (kapal kosong) sebesar
2,13 m.
a = (H + 2,4) Te Te = sarat kapal kosong
= (7,750 + 2,4 ) 2,13
= 8,02 m
Panjang tangga = a/sin 45
= 11,34 m


Dimensi Tangga Akomodasi :
- Width of ladder : 800 mm
- Height of handrail : 1000 mm
- The handrail : 1500 mm
- Step space : 300 mm




RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 31

Accomodation ladder side view

















Accomodation ladder side view view


















RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 32

Accomodation ladder top view


Accomodation ladder looking after

Keterangan gambar-gambar diatas




RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 33

B. Steel Deck Ladder
Digunakan untuk menghubungkan deck satu dengan deck lainnya. Pada
kapal ini menggunakan deck ladder type A.
- Nominal size = 700 mm
- Lebar = 700 mm
- Sudut kemiringan = 45
0

- Interval of treads = 200 s/d 300 mm
- Step space = 400 mm


C. Ship Steel Vertical Ladders
Digunakan untuk tangga yang menuju ke cargo hold dari main deck. Type
A19 .
- Lebar tangga = 400 mm
- Interval treads = 300 s/d 340 mm
- Jarak dari dinding = 150 mm













RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 34

BAB X
PERHITUNGAN TANGKI TANGKI DAN RUANG MUAT



10.1 Perhitungan Consumable Weight
Perhitungan DWT

1. Berat Bahan Bakar Mesin Induk (Wfo)
2. Berat Bahan Bakar Mesin Bantu (Wfb)
3. Berat minyak Pelumas (Wlo)
4.Berat Air Tawar (Wfw)
5. Berat Bahan Makanan (Wp )
6. Berat Crew dan Barang Bawaan (Wcp)
7. Berat Cadangan (Wr )
8. Berat Muatan Bersih (Wpc)

1. Berat Bahan Bakar Mesin Induk (Wfo)

Wfo = BHPme x Cfo x S/Vs.10
6
x (1,3 s/d 1,5)

Parameter yang diperlukan :
BHPme = 2689,15 HP atau 2040 kW
Cfo = specific konsumsi bahan bakar mesin induk = 179 gr/Kw hour
S = radius pelayaran = 727 miles
Vs = 12,5 Knot
Wfo = 2040 x 179 x (727/12,5) x 10
-6
x 1.5 = 31,85 ton

Menentukan volume bahan bakar mesin induk
Vfo = Wfo / dimana Wfo = 31,23 ton
= 31,85 / 0,95 = 0,95 ton/m
3


= 33,53 m
3


RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 35

Volume Bahan Bakar Mesin Induk terdapat penambahan dikarenakan
1. Double Bottom = 2 %
2. Exspansi karena panas = 2 %
= 4 %
Jadi Volume = 33,53 + (4% x 33,53)
= 34,8745 m
3

2. Berat Bahan Bakar Mesin Bantu ( Wfo)
(menurut Herald Poells hal 19)
Wfb = (0,1 s/d 0,2) Wfo
= 0,15 x 31,85
= 4,77 ton
Menentukan volume bahan bakar mesin bantu (Vb)
Vfb = Wfb / diesel dimana diesel = 0,95 ton/m
3

= 4,77 / 0,95
= 5,0289 m
3





3. Berat Minyak Pelumas (Wlo)
(menurut Herald Poells hal 19)
Wlo = BHPme x blo x S/Vs x 10
-6 x (1,3 s.d 1,5) blo = 1,2 - 1,6

=2040 x 1.6 x 727/(12,5 x 10
-6
) x 1,5
= 0.28 ton
Menentukan volume lubricating oil
V = Wlo / dimana Wlo = 0.28 ton
= 0.28/0,9 o = 0.9 ton/m
3
V = 0.31m
3





RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 36

4. Berat Air Tawar (Wfw)
Perhitunhan umum :
Jumlah awak kapal = 21 orang
Radius pelayaran = 727 mil laut
Kecepatan dinas kapal = 12,5 knots
Lama pelayaran = 2,42 hari = 3 hari
Untuk penghitungan consumable berdasarkan buku Lectures On Ship Design &
Ship Theory, Pp13

- Kebutuhan pelayaran untuk makan dan minum
Kebutuhan air untuk makan dan minum satu hari antara 10 20 Kg/orang
hari. Diambil 20 Kg/orang hari.
Untuk minum = (10 s/d 20) kg/ orang hari
= [20 x Jumlah ABK x S]/(24 x Vs x 1000 )
= 20 x 21 x 727
24 x 12,5 x 1000
= 1,02 ton
Untuk cuci = (80 s/d 200) Kg/orang hari
= 200 x 21 x 727
24 x 12,5 x 1000
= 10,078 ton
Untuk mandi = (50 s/d 100) Kg/orang hari
= 100 x 21 x 727
24 x 12,5 x 1000
= 5,09 ton

Untuk Pendingin mesin = (2 s/d 5) kg x BHP / 1000
= [5 x 2753,63134] / 1000
= 13,77 ton
Berat total air tawar = abcd
= 30,058 ton
Vol total air tawar = 30.058 m
3
= 1 ton / m
3

RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 37

5. Berat Bahan Makanan
Wp = 5 kg/orang hari
= [5 x Jumlah ABK x S]/(24 x Vs x 1000 )
= 20 x 21 x 727
24 x 12,5 x 1000
= 0,25 ton
6. Berat Crew dan Barang Bawaan
Kebutuhan :
Diasumsikan berat crew dan barang bawaannya = 100 kg/orang
Wcp = 100 x 21 /1000
= 2,1 ton
7. Berat Cadangan (Wr)

Terdiri dari peralatan di gudang , antara lain :
- cat
- peralatan reparasi kecil yang dapat diatasi oleh ABK.
- peralatan lain yang diperlukan dalam pelayaran.

Maka
Wr = (0.5 s/d 1.5 ) % x Disp
= 1.5 % x 5959,1
= 89,39 ton

8. Berat Muatan bersih (Wpc)

Wpc diperoleh dari :
DWT berat keseluruhan
Lwt dengan perhitungan kasar = 1/3 x disp
= 1/3 x 5959,1
= 1986,37 ton

Dwt diperoleh dari : [disp Lwt perhitungan kasar]
Maka :
Dwt = disp Lwt
= 5959,1 1986,37
= 3972,73 ton
RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 38

Berat keseluruhan yang direncanakan :
Dwt Wpc = 17
= 157,988 ton
Wpc = Dwt berat keseluruhan
= 3972,73 157,988
= 3814,742 ton































RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 39

BAB XI
PERLENGKAPAN KAPAL

11.1 Perhitungan alat bongkar muat



















RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 40

A. Tiang Agung (Mast)
+ Jarak jangkauan Derrick
S = 0.5 (0.5 x B)+3
Sin 60
= 0.5 (0.5 x 14)+3
Sin 60
= 7,506 m
+ Beban pada derrick boom direncanakan 5 ton = 50 kN
W = 0.1 x S x P
= 0.1 x 7,506 x 5000
= 3753
+ Rencana diameter mast
diameter dalam (d) = 20 cm.
Diameter luar (D) = 30 cm
W = (D
4
d
4
) x 3.14 / 32 x D
= 2126,042 cm
3

W perencanaan harus lebih besar dari W perhitungan
Diameter mast boleh dikurangi berangsur-angsur keatas dengan catatan tidak
boleh lebih dari 0.5 terhadap diameter di geladak.

+ Volume Ruang Muat Efektif = 2229,02 m3
Panjang ruang muat = 21,6 meter
Berat Jenis Muatan = 680 gr/liter [Gandum]
Waktu bongkar muat = (10-12) JAM ( DIAMBIL 10 JAM)

Siklus Perjam 216 ton / jam
1 siklus = 2 menit
Kapasitas 1 kali angkat = 216/60m
= 216/30m = 7,2 ton



RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 41

B. DERRICK BOOM.
+ Winch Power (Pe)
Pe = W x V dimana
75 x 60 Pe = effective power
= 5000 x 30. W = Rated load = 5000 kg
75 x 60 V = Rated hoisting speed
Pe = 33,333 HP = 30 m/min


+ Input of motor power (Ip)
Ip= f x Pe dimana f = 1,05 s/d 1.1
= 1,1 x 33,333
= 36,6663 HP















RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 42

11.2 Perlengkapan Keselamatan

Kapal harus dilengkapi dengan perlengkapan keselamatan pelayaran yang
sesuai yang ada.
Menurut fungsinya alat keselamatan dibagi 3, yaitu :

A. Freefall Lifeboat
Persyaratan sekoci/freefall penolong:
- Dilengkapi dengan tabung udara yang diletakkan dibawah tempat
duduk.
- Memiliki kelincahan dan kecepatan untuk menghindar dari tempat
kecelakaan.
- Cukup kuat dan tidak berubah bentuknya saat mengapung dalam air
ketika dimuati ABK beserta perlengkapannya.
- Stabilitas dan lambung timbul yang baik.
- Mampu diturunkan ke dalam air meskipun kapal dalam kondisi miring
15
o
.
- Perbekalan cukup untuk waktu tertentu.
- Dilengkapi dengan peralatan navigasi, seperti kompas radio kounikasi.
Digunakan model Freefall degan ukuran :
- Merek : Noreq tipe LBF 580 C
- Length : 5,8 m
- Breadth : 2,55 m
- Registered height : 3.1 m
- Persons : 28
- Weigth without persons : 3453 kg

RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 43


Gambar rencana umum sekoci Noreq Tipe LBF 580 C


Gambar davit dan sekoci luncur





RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 44

B. Perlengkapan Apung (Bouyant Apparatus)

B.1 Pelampung Penolong ( Life Buoy )
Persyaratan pelampung penolong :
- Dibuat dari bahan yang ringan (gabus dan bahan semacam plastik)
- Berbentuk lingkaran atau tapal kuda
- Harus mampu mengapung dalam air selama 24 jam dengan beban
sekurang-kurangnya 14,5 kg besi
- Tahan pada pengaruh minyak, berwarna menyolok dan diberi tali
pegangan, keliling pelampung dilengkapi dengan lampu yang menyala
secara otomatis serta ditempatkan pada dinding atau pagar yang mudah
terlihat dan dijangkau
- Jumlah pelampung untuk kapal dengan panjang 60 - 122 m minimal 12
buah
B.2. Rompi Penolong (Life Jacket)

Persyaratan baju penolong :
- Mampu mengapung selama 24 jam dengan beban 7,5 kg besi
- Jumlah sesuai banyaknya ABK, berwarna menyolok dan tahan
minyak serta dilengkapi dengan peluit.

C. Tanda Bahaya Dengan Signal atau Radio
Bila dengan signal dapat berupa cahaya, misal lampu menyala, asap, roket,
lampu sorot, kaca dsb.
Bila berupa radio dapat berupa suara radio, misal radio dalam sekoci, auto
amateur rescue signal transmiter dsb.
D. Alat Pemadam Kebakaran
Karena jenis muatan kapal adalah minyak, maka dalam kapal ini terdapat
alat pemadam kebakaran berupa :
- Foam ( busa )
-
2
CO
- Air laut
- Serbuk (powder)
RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 45



Gambar sistem pemadam kebakaran dengan air laut

Gambar sistem pemadam kebakaran dengan
2
CO

Gambar sistem pemadam kebakaran dengan busa (foam)


Gambar sistem pemadam kebakaran dengan powder (serbuk)

RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 46

E. Tutup Palka
E.1. Hatch cover jenis single pull
Jenis hatch cover yang paling umum ditemui ialah jenis single pull.
Bagian penutup palka ini terdiri dari sejumlah panel panel melintang yang
terentang sepanjang hatch way dan dihubungkan oleh rantai. Pada posisi
menutup, panel panel tersebut terletak secara beraturan pada hatch coaming.
Untuk membuka cover single pull, securing cleats pertamanya dilepas.
Dan masing masing panel dinaikkan ke rodanya dengan bantuan portable jack,
dan roda eccentric (eccentric wheel) berputar 180
o
. Atau, dapat menggunakan
hydraulic lifting gear. Pada kondisi ini semua panel penutup bergerak bebas baik
ke depan ataupun ke belakang dikarenakan adanya roda eccentric. Pergerakan
dari panel dilakukan dengan bantuan tali/rantai. Winch ditempatkan dibagian
tengah panel utama. Rantai tersebutmemungkinkan adanya penarikan antar panel.
Pada saat panel mencapai bagian belakang dari hatch way maka berat dari
panel tersebut ditopang oleh ballancing roller,yang terletak dibagian tengah atas
dari panel. Roda ballancing inilah yang akan memutar panel 90
o
ketika panel
telah mencapai sisi penopang demikian seterusnya untuk panel berikutnya.
Sewaktu hatch telah terbuka seluruhnya, maka semua panel akan bersandar
vertikal pada ruang stowage (stowage space). Panel tersebut diikat dengan
bantuan rantai dan kait.
Untuk melepaskan single pull cover, rantai pengikat dilepaskan dan tali
penarik disiapkan, selama pengoperasian tersebut harus dipastikan panel terletak
pada lajurnya seperti ketika akan membuka. Ketika panel pertama meninggalkan
stowage position, panel akan berputar 90
o
sehingga akan merebah pada coaming.
Panel tersebut kemudian bergerak diatas hatch way dengan roda penopang
(eccentric wheel) dengan bantuan rantai maka memungkinkan panel yang
dibelakangnya bergerak hingga semua panel telah merebah dan menutupi hatch
coaming.




RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 47

E.2 Konstruksi
Masing masing panel dari jenis penutup palka single cover biasanya
dirancang dari bahan mild steel plate. Stowage space untuk menempatkan panel
harus diberikan pada sisi dari hatch way.
Dikarenakan panel biasanya membuka secara vertikal, panjang ruangan
pelipatan panel untuk suatu panel hatch cover bagian depan atau belakang
dinyatakan sebagai :
Stowage length : ((0,05 x S x N) + (0.37 x L))
Dimana :
S : Panjang Bagian melintang dari panel (umulmnya dinyatakan dengan lebar
dari panel.
N : Jumlah Panel yang direncanakan.
L : Panjang Panel (m) 11.3. Penentuan Jangkar, Rantai Jangkar dan Tali
Tambat.

Untuk penentuan harga N dipilih dalam batasan 2 -11 buah. Akan tetapi
biasanya dipilih antara 5-6 buah panel.
Celah antara kurang lebih 0,5 m harus diberikan untuk dapat digunakan sebagai
ruangan untuk lalu lalang crew.





RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 48

E.3. Tinggi Ruang Stowage
Pada penutup palka jenis single pull terkadang penutup tersebut dilipat
dengan menggunakan winch yang berada di platform. Adanya crane serta winch
inilah yang menyebabkan terbatasnya ketinggian dari ruangan peletakan hatch
cover. Ketinggianini diperkirakan setinggi panjang panel (L) ditambah dengan
clearence margin antara 300-500 mm.
Tinggi Coaming berhubungan dengan panjang panel. Panel dengan
lipatan yang sedikit akan menghasilkan ketinggian panel saat ditegakkan menjadi
cukup tinggi, terlebih bila panel tersebut didudukkan pada panel coaming. Secara
prinsip tinggi dari coaming kurang lebih sebesar 2L.
Biasanya harga tersebut lebih besar daripada tinggi coaming pada
umumnya yaitu sekitar 450600 mm (mengacu pada ILLC; International Load
Line Convension 1966). Masing masing panel dari jenis penutup palka single
cover biasanya dirancang dari bahan mild steel plate. Stowage space untuk
menempatkan panel harus diberikan pada sisi dari hatch way.
Coaming frame yang tinggi memungkinkan penggunan panel yang
sedikit. Sehingga terjadi penurunan jumlah cross join. Sebaliknya dalam
beberapa kasus di kapal dapat saja ditemui tinggi dari coaming frame yang
rendah, lebih rendah dari ketentuan standar. Pengaturan yang tidak lazim ini akan
menghasilkan panel panel yang relatif pendek, sehingga konsekwensinya ruangan
peletakan akan menjadi panjang.
E.4. Lebar Dari Ruang Stowage
Ruang penempatan Hatch panel yang telah ditarik dibuat lebih lebar
antara 0,5 hinggga 0,75 m.dari pada lebar hatch panel .
E.5. Variasi Variasi dari peletakan hatch cover
Beberapa modifikasi dari penataan hatch cover. Umumnya
pertimbangan dasar penataan yang berbeda ialah dikarenakan faktor keterbatasan
ruang penempatan serta kondisi konstruksi yang tidak memuingkinkan. Salah
satu konfigurasi ialah penataan hatch cover Konfigurasi ini digunakan pada
kapal bilamana ruangan stowage terbatas.


RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 49

Jenis konfigurasi yang ada saat ini diantaranya :
1. Konfigurasi tipe M (M Type Configuration)
Konfigurasi type M ini memiliki kelebihan yaitu ukuran ketinggian Stowage
height tidak terlalu tinggi dibanging dengan stowage height panel yang disusun
secara vertikal.
Dengan membuat coaming frame pada bagian belakang mengalami
penurunan, maka panel panel tersebut akan tersusun secara miring sehingga
mengurangi ketinggian dari stowage height. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di
gambar :







Gambar 2. Jenis Single Pull Type M
Jenis Single Pull Type M mengalami penurunan pada bingkai swowednya. Hal ini
menyebabkan panel dapat disusun lebih rendah (stowed height) lebih rendah..
Dampak dari jenis penarikan ini ialah penurunan ukuran ruangan penarikan.
2. Konfigurasi type Piggy Back.
Jenis konfigurasi ini biasanya digunakan pada bulk carier. Pertimbangan
penggunalan type hatch cover ini berdasarkan akan ketersediaan ruangan pada
geladak yang tidak dimungkinkannya untuk melakukan pergeseran pada sisi kapal
atau pergeseran kearah longitudinal kapal (side rolling atau end rolling).
Sistim ini biasanya terdiri dari dua panel dengan satu panel sebagai panel
yang nantinya akan dinaikkan lebih tinggi sehingga panel berikutnya dapat masuk
dan menggendong panel yang terangkat tersebut. Panel yang menggendong
tersebut dapat bergerak maju atau mundur dengan bantuan roda keci (roll)
sehingga memungkinkan panel beserta gendongannya dapat berpindah sepanjang
jalur hatch way sesuai dengan keinginan.

RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 50

Sistim ini dapat pula digunakan pada pasangan atau dua buah panel dalam
satu lokasi penutup ruang muat (hatch cover). Jika jumlah dari panel tersebut
lebih dari dua, maka disebut dengan stacking dan diperlukan pengangkat yang
lebih tinggi.
Cara kerja dari type piggy Back ini ialah setelah penutup dibuka dengan
suatu kunci, panel yang akan digendong diangkat lalu Panel penggendong yang
memilikiroller ditempatkan pada tracknya. Kedua jenis panel tersebut diangkat
dengan bantuan silinder hidraulik. Untuk pengangkatan yang tinggi digunakan
double action cylinders.Sedang untuk pengangkatan yang lebih rendah digunakan
single action cylinders. Suatu motor listrik sebagai penggerak rantai (chain drive
motor) yang mana natinya digunakan sebagai penggerak panel ditempatkan pada
panel yang bergerak (panel penggendong) yang mana akan menghampiri panel
yang telah terangkat. Setelah beradapada posisi yang tepat, panel yang terangkat
tersebut diturunkan ke panel penggendong. Pergerakan atau pemindahan posisi
panel baik itu ke depan atau ke belakang ambang palka (hatch coaming) dilakukan
dengan bantuan chain drive motor. Dengan menggunakan sistim ini maka luasan
bukaan palka dapat terbuka sekitar 50%.

















RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 51

A. Penentuan Jangkar









Gambar tipe jangkar
Dari peraturan BKI 1989 ditentukan :
Z = D
2/3
+ 2hB + A/10
Dimana : D = displacement kapal
= 5959,1 ton
B = Lebar kapal
= 14 m
fb = H T dimana : H = 7, 75 m
= 7,75 6,907 T = 6,907 m
= 0,843 m
h= 2,3 x 6,907 = 15,8861 m
h = fb + h
= 0,843 + 15,8861 m
= 16,7291 m
A = Luas penampang membujur dari bangunan atas diatas sarat air pada
centre line ( m
2
)
= 206,78 m
maka :
Z = D2/3 + 2hB + A/10
Z = 5959,1
2/3
+ 2 x 16,7291 x 14 + 206,78 x 0,1
= 817,7833


RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 52

Pada tabel 18.2 vol II, BKI 2001 terletak pada nomer register 121 Z = 780 840
Sehingga dapat diperoleh :
- Jumlah jangkar = 3 buah (ditambah stream anchor =1)
- Berat Jangkar = 2460 kg
- Panjang total = 467,5 m
- Diameter
a. d1 = 50 mm
b. d2 = 44 mm
c. d3 = 38 mm

- Tali tarik
a. panjang = 190 m
b. beban putus = 480 kN

- Tali tambat
a. Jumlah = 4 buah
b. Panjang = 170 m
c. beban putus = 185 kN














RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 53

































RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 54

Kemudian dari data dapat dianbil ukuran-ukuran yang ada pada jangkar yaitu
sebagai berikut :
Berat jangkar diambil 2460 kg
a = 231 mm ( Basic Dimension )
b = 0,779 x a = 179,949 mm
c = 1,05 x a = 242,55 mm
d = 0,412 x a = 95,172 mm
e = 0,857 x a = 197,967 mm
f = 9,616 x a = 2221,296 mm
g = 4,803 x a = 1109,493 mm
h = 1,1 x a = 254,1 mm
i = 2,401 x a = 554,631 mm
j = 3,412 x a = 788,172 mm
k = 1,323 x a = 305,613 mm

Dari Practical Ship Building direncanakan menggunakan jangkar type Hall
Ancor.
















RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 55

Komposisi dan konstruksi dari rantai jangkar meliputi :












1. Ordinary link
a : 6,00 d = 264 mm
b : 3,60 d = 158 mm
c : 1,00 d = 44 mm

2. Large link
a : 6,50 d = 286 mm
b : 4,00 d = 176 mm
c : 1,10 d = 48 mm
3. End link
a : 6,75 d = 297 mm
b : 4,00 d = 176 mm
c : 1,20 d = 53 mm

4. Connecting Shackle
a : 7,10 d = 312 mm
c : 4,00 d = 176 mm
d : 1,3 d = 57 mm
e : 0,8 d = 35 mm

RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 56

5. Anchor Kenter Shackle
a : 8,00 d = 336 mm
b : 5,95 d = 249,9 mm
c : 1,75 d = 73,5 mm
6. Swivel
a : 9,70 d = 407,4 mm
b : 2,80 d = 117,6 mm
c : 1,20 d = 50,4 mm
d : 2,90 d = 121,8 mm
e : 3,40 d = 142,8 mm
f : 1,75 d = 73,5 mm
7. Kenter Shackle
a : 6,00 d = 252 mm
b : 4,20 d = 176,4 mm
c: 1,52 d = 63,84 mm




















RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 57

C. TALI TAMBAT
Bahan yang dipakai untuk tali tambat terbuat dari nilon. Adapun ukuran-
ukuran yang dipakai berdasarkan data-data dari BKI 1989 melalui angka
penunjuk Z didapatkan:
- Jumlah tali tambat = 4 buah
- Panjang tali tambat = 170 m
- Beban putus = 185 kN

Keuntungan dari tali nylon untuk tambat :
- Tidak rusak oleh air dan sedikit menyerap air
- Ringan dan dapat mengapung di air.

















RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 58

11.4 Penentuan Bolard, Fairlard, Hawse Pipe dan Chain Locker
A. Penentuan Bollard
Dari Partical Ship Building dipilih type vertical bollard dan
didapatkan ketentuan
Ukuran sebagai berikut :
- Ukuran Bollard adalah : Dimensi Bolt :
D = 300 mm a = 900 mm r1 = 45 mm
L = 1450 mm b = 370 mm r2 = 105 mm
B = 430 mm c = 55 mm
H = 530 mm w1 = 35 mm
Berat Bollard = 513 kg e = 60 mm

Jumlah baut = 8 buah f = 115 mm
Diameter bolt = 1 1/8 inch w2 = 45 mm


















RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 59

B. Penentuan Fairlaid
Fairlaid berfungsi untuk mengarahkan dan memperlancar tali tambat. Type ini
tergantung dari jumlah roller yang digunakan yaitu antara 1-4. Ukuran
tergantung dari diameter roller itu sendiri tergantung dari hawses yang dipakai.
Dari Practical Shpibuilding dan didapatkan ukuran roller sebagai berikut :
Dim. Roller = 150 mm
Breaking Strees hawses = 29 Ton
Dim. Bollard = 225-250 mm
Dim. Fastering bolt = 22 mm
Length = 1040 mm
Breadth = 280 mm
Weight design 1 = 140 mm
Weight design 2 = 170 mm














RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 60

C. Hawse Pipe
Berdasarkan Practical Ship Building yang penentuannya tergantung
dari ukuran dan diameter rantai jangkar maka dipilih bahan hawse pipe dari
besi tuang.
Untuk diameter rantai jangkar 44 mm
Bagian :
A = 9,0 d = 378 mm
B = 0,6 d = 25,2 mm
C = 0,7 d = 29,4 mm
D = 3,5 d = 147 mm
E = 5,0 d = 210 mm
F = 1,4 d = 58,8 mm
G = 4,7 d = 197,4 mm
H = 3,7 d = 155,4 mm

D.Penentuan Chain Locker
Volume chain locker dihitung berdasarkan dari panjang dan
diameter rantai jangkar. Dalam perencenaannya ditambah volume cadangan
kurang lebih 20 % . Pada chain locker diberi dekat pemisah antara kotak
sebelah kanan dan kotak sebelah kiri. Diketahui 15 fathom = 25 meter.
Volume chain Locker :
Sm : L / 100 x D
D : Diameter rantai jangkar dalam inchi
: 44/25,4
: 1,73 inchi
L : Panjang rantai jangkar dalam fathom
467,5 m = 274,5 fathom
maka Sm = (274,5 /100) x (1,73)
2

= 8,2155105 m
3

Perencanaan ditambah volume cadangan 20%, maka
Vd = 8,2155105 + ( 20% x 8,2155105)
= 9,8586126 m
3

RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 61

direncanakan Panjang = 2,4 m
Lebar = 1.75 m
Tinggi = 4,8 m
Dilengkapi dengan tempat pengikat ujung rantai yang mudah di lepas dari luar
bak.


11.5 Penentuan Tenaga Windlass, Capstan dan Steering Gear
Menurut BKI vol II 2006 BAB 14
A. Penentuan Tenaga Windlass
Perhitungan ini berdasarkan pada Practical Ship Building.
Gaya tarik cable lifter untuk menarik 2 jangkar adalah :
Tcl = 2,35 ( Ga + Pa x La ) kg
Dimana :
Ga = Berat jangkar (Kg)
= 2460 kg
Tcl = 2,35 {2460 + (57,5 x 50)} Pa = Berat tiap rantai jangkar
= 6756,25 kg = 0,023 x d
2

= 0,023 x (50)
2

= 57,5 kg/m
La = Panjang rantai jangkar
yang menggantung
= Direncanakan 50 m

Dcl = 0,013 d (m)
= 0,013 x 50
= 0,65 m
r
t cl = Tcl x Dcl Dimana : t cl = 0,90 s/d 0,92
2 x t cl Diambil = 0,91
= 6756,25x 0,65
2 x 0,91
RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 62

= 2412,946 kg m

t w =
a Ia
cl
q
t
*

Dimana :
t a = effectivity total
t w =
811 . 0 66 , 140
2412,946
x
= 0,722 s/d 0,85
= 21,152 rpm = Diambil 0,811
Ia = Nm / Ncl
= 844/6 = 140,66
Nm = 523 rpm s/d 1165 rpm
= Diambil 844 rpm
Ncl = 60 x Va Va = 0,2 m/s
0,04 x d
d = 50 m
=
50 04 . 0
2 . 0 60
x
x

= 6 kgm



Pe =
2 . 716
wxNm t

=
2 , 716
844 21,152 x

= 24,93 Hp
Dari data atas dapat diperoleh data sebagai berikut:
Type Windlaas : ANKONA
Pulling force : 68 kg
Speed : 9 m / min
Daya motor : 20 Hp
Berat : 5100 kg
RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 63

B. Capstan
+ Gaya pada Capstan Barrel
Twb = Pbr / 8 Dimana : Pbr = Tegangan putus dari wire roop
= 1850 / 8 = 1850 kg
= 2312,5 kg
+ Momen pada poros Capstan Barrel
Mr = Twb x Dwb Dimana : Dwb = 0,4 m
2 x Ia x qa Ia = 140,66
qa = 0,8
Mr = 2312,5x 0,4
2 x 140,66 x 0,8
= 4,11 kgm

Dari Practical Ship Building III b1 (hal 204 - 205), diperoleh data sebagai
berikut:
Type Capstan : Type A
Pulling force : 3000 kg
Daya : 16 Hp
Berat : 2000 kg













RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 64

C. Steering Gear
Luas daun kemudi
A = C1*C2*C3*C4 *(1,75*L*T)/100
= 0,9*1*1*1*(1,75 *87,084*14)/100
= 9,473455 m
2
Luas ballansir
A' = 23% x A
= 23% x 9,473455
= 2,1788 m
2


Untuk baling-baling tunggal dengan
kemudi ballansir

= 1,8
= h / b Dimana : h = Tinggi kemudi
b = Lebar kemudi
h = x b
= 1,8 x b


A = h x b
= 1,8 x b
2

b
2
= A/1,8
b = 2,2941 m
Maka : h = 1,8 x 2,2941
= 4,1294 m
b' = A'/h = 0,5274 m

+ Gaya pada kemudi
CR = 132*A*V^2*K1*K2*K3*Kt
CR = 132*9,24*6,43^2*1,267*1,1*1*1
= 72037,61 N
= 70,28059 kN


RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 65

+ Moment puntir kemudi (Mp)
QR = CR*r Nm Dimana :
CR= 72037,61 N
kb = 0,1xc r = c(-kb)m
= 0,1x2,26598 = 2,26598(0,33-0,226598)
= 0,226598 = 0,234307 m

Maka:
QR = CR*r Nm
= 72037,61*0,234307
= 16878,91 Nm
= 16,46723 kNm

+ Diameter tongkat kemudi
Dt= 4.2(Qr*Kr)1/3
Dimana :
Kr = (235/441)^0,75
= 1,603349
Kr= Faktor Material
dipakai bahan St-45 (ReH=441 N/mm2)
Maka:
Dt= 4.2(Qr*Kr)1/3
= 126,0547 mm
+Daya pada tongkat kemudi
Nrs = (Qr x 2 )/ t x 180 x 75
= 9,160453 HP
+Daya Mesin Kemudi
Nsg= Nrs / Efisiensi mesin kemudi
= 45,80227 HP
Efisiensi mesin kemudi (0,1-0,35)

RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 66

BAB XII
PENENTUAN VOLUME RUANG MUAT

Ruang muat pada kapal ini terbagi menjadi 2 bagian yaitu; ruang muat
bagian portside dan bagian side board, hal ini dikarenakan adanya sekat
memanjang kapal.



A. Volume Ruang Muat I

Ruang muat I ( bagian side board dan bagian portside )
terletak antara fr 100 - fr 136.
Panjang ruang muat adalah 21,6 m
RUANG MUAT 1
NO FRAME
JARAK 1/2 LEBAR
WL 1 WL 4 WL 7,75 A F1 A X F1
1 4 1
100 6,659 6,659 6,875 27,500 6,999 6,999 27,370 1 27,370
104 6,479 6,479 6,794 27,175 6,997 6,997 27,033 4 108,131
108 6,237 6,237 6,644 26,576 6,990 6,990 26,468 2 52,937
112 5,927 5,927 6,426 25,704 6,972 6,972 25,671 4 102,685
116 5,532 5,532 6,109 24,437 6,923 6,923 24,534 2 49,068
120 5,025 5,025 5,658 22,632 6,799 6,799 22,913 4 91,652
124 4,334 4,334 5,038 20,151 6,554 6,554 20,640 2 41,281
128 3,529 3,529 4,259 17,037 5,975 5,975 17,650 4 70,601
132 2,635 2,635 3,357 13,426 5,325 5,325 14,221 2 28,442
136 1,703 1,703 2,346 9,382 4,534 4,534 10,387 4 41,548

TOTAL 613,714

VRM = 1/3 x h x E1
= 1/3 x 4,3542 x 613,714
= 1781,48824 m
3






RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 67

B. Volume Ruang Muat II

Ruang muat II terletak antara fr 66 fr 100.
Panjang ruang muat adalah 20,4 m

RUANG MUAT 2
NO FRAME
JARAK 1/2 LEBAR
WL 1 WL 4 WL 7,75 A F1 A X F1
1 4 1
70 6,832 6,832 6,999 27,994 6,999 6,999 27,814 4 111,255
74 6,865 6,865 6,999 27,994 6,999 6,999 27,836 2 55,672
78 6,888 6,888 6,999 27,994 6,999 6,999 27,852 4 111,406
82 6,901 6,901 6,999 27,994 6,999 6,999 27,860 2 55,720
86 6,901 6,901 6,999 27,994 6,999 6,999 27,860 4 111,440
90 6,879 6,879 6,988 27,953 6,999 6,999 27,818 2 55,636
94 6,828 6,828 6,964 27,856 7,000 7,000 27,720 4 110,880
98 6,732 6,732 6,914 27,657 7,000 7,000 27,524 2 55,048
100 6,659 6,659 6,875 27,500 6,999 6,999 27,370 4 109,479
104 6,479 43,620 6,794 46,974 6,997 48,980 92,817 1 92,817

TOTAL 869,354

VRM = 1/3 x h x E1
= 1/3 x 4,3542 x 869,354
= 2523,55992 m
3


















RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 68

C. Volume ruang muat III
Volume ruang muat I terletak antara fr 30 - fr 58
Panjang ruang muat adalah 21,6 m


RUANG MUAT 3
NO FRAME
JARAK 1/2 LEBAR
WL 1 WL 4 WL 7.75 A F1 A X F1
1 4 1
30 3,991 3,991 5,793 23,174 6,991 6,991 22,713 1 22,713
34 4,581 4,581 6,140 24,560 6,996 6,996 24,031 4 96,122
38 5,084 5,084 6,434 25,734 6,998 6,998 25,148 2 50,296
42 5,534 5,534 6,663 26,651 6,999 6,999 26,058 4 104,230
46 5,930 5,930 6,818 27,272 6,999 6,999 26,734 2 53,468
50 6,257 6,257 6,920 27,678 6,999 6,999 27,221 4 108,885
54 6,477 6,477 6,972 27,888 6,999 6,999 27,507 2 55,014
58 6,633 6,633 6,991 27,962 6,999 6,999 27,660 4 110,642
62 6,723 6,723 6,996 27,982 6,999 6,999 27,734 2 55,468
66 6,785 6,785 6,991 27,964 6,999 6,999 27,763 4 111,051
70 6,832 45,931 6,999 48,959 6,999 48,992 95,681 1 95,681

TOTAL 863,570

VRM = 1/3 x h x E1
= 1/3 x 4,3542 x 863,570
= 2506,77159 m
3


D. Volume Total Ruang Muat

Vt = V1 + V2 + V3
= 1781,48824 + 2523,55992 + 2506,77159
= 6186,3398 m
3


`




RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 69

BAB XIII
PENENTUAN VOLUME TANGKI - TANGKI

A. Tangki - Tangki Consumable
A.1. Tangki fresh water
Tangki fresh water ditempatkan di doublr bottom antara fr 39 - fr 45

Frame Area Fs Product
39 10,08 1 10,08
40 10,36 4 41,4267
41 10,63 2 21,2533
42 10,87 4 43,48
43 11,11 1 11,113
Product 127,353
Vb = 1/3 x h x E
= 1/3 x 0.6 x 127,353
= 25,47 m
3

A.3. Tangki Diesel Oil ( Bahan Bakar )
Volume tangki diesel oil diletakkan di double bottom antara fr 30 fr 35

Frame Area Fs Product
30 6,55667 1 6,55667
31 7,01667 4 28,08
32 7,46 2 14,92
33 7,86333 4 31,45332
34 8,27 1 8,27
Product 89,27999

Vp = 1/3 x h x E
= 1/3 x 0,6 x 89,27999
= 17,8559 m
3





RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 70

A.4. Tangki Minyak Pelumas
Volume tangki minyak pelumas diletakkan didouble bottom antara fr 36 - fr 38
Frame Area Fs Product
36 3,136667 1 3,13667
37 3,573333 4 14,2933
38 4,033333 1 4,03333
Product 21,4633

Vp = 1/3 x h x E
= 1/3 x 0,6 x 21,4633
= 4,29 m
3
B. Tangki - Tangki Ballast
B.1. Tangki Ballast I
Volume tangki ballast I terletak didouble bottom antara fr 100- fr 128.

BALAST 1
NO FRAME
JARAK 1/2 LEBAR
WL 0 WL 0.5 WL 1 A F1 A X F1
1 4 1
100 4,168 4,168 6,277 25,109 6,658 6,658 5,989 1 5,989
104 3,548 3,548 6,043 24,171 6,479 6,479 5,700 4 22,799
108 2,945 2,945 5,740 22,961 6,238 6,238 5,357 2 10,715
112 2,428 2,428 5,429 21,716 5,908 5,908 5,009 4 20,035
116 2,100 2,100 5,008 20,032 5,529 5,529 4,610 2 9,220
120 1,697 1,697 4,459 17,834 5,025 5,025 4,093 4 16,371
124 1,237 1,237 3,752 15,006 4,359 4,359 3,434 2 6,868
128 0,726 0,726 2,920 11,681 3,535 3,535 2,657 4 10,627

TOTAL 102,623

V = 1/3 x h x E
= 1/3 x 0.6 x 102,623
= 148,94 m
3






RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 71

B.2. Tangki Ballast II
Volume tangki ballast II terletak didouble bottom antara fr 66 - fr 100.
BALAST 2
NO FRAME
JARAK 1/2 LEBAR
WL 0 WL 0.5 WL 1 A F1 A X F1
1 4 1
66 5,131 5,131 6,410 25,640 6,785 6,785 6,259 1 6,259
70 5,279 5,279 6,478 25,913 6,832 6,832 6,337 4 25,349
74 5,368 5,368 6,529 26,117 6,865 6,865 6,392 2 12,783
78 5,400 5,400 6,567 26,268 6,888 6,888 6,426 4 25,704
82 5,403 5,403 6,592 26,366 6,901 6,901 6,445 2 12,890
86 5,367 5,367 6,593 26,370 6,900 6,900 6,439 4 25,758
90 5,249 5,249 6,563 26,252 6,880 6,880 6,397 2 12,793
94 4,958 4,958 6,495 25,978 6,826 6,826 6,294 4 25,174
98 4,477 4,477 6,371 25,483 6,732 6,732 6,115 2 12,231
100 4,168 4,168 6,277 25,109 6,658 6,658 5,989 2 11,978
104 3,548 15,884 6,043 38,497 6,479 43,620 16,334 1 16,334

TOTAL 187,253

V = 1/3 x h x E
= 1/3 x 0,6 x 170,920
= 248,07 m
3
B.3. Tangki Ballast III
Volume tangki ballast III terletak di double bottom antara fr 46 - fr 66
BALAST 3
NO FRAME
JARAK 1/2 LEBAR
WL0 WL 0.5 WL1 A F1 A X F1
1 4 1
46 3,927 3,927 5,472 21,889 5,928 5,928 5,291 1 5,291
50 4,325 4,325 5,794 23,176 6,254 6,254 5,626 4 22,503
54 4,541 4,541 6,032 24,126 6,484 6,484 5,858 2 11,717
58 4,707 4,707 6,203 24,813 6,633 6,633 6,025 4 24,102
62 4,919 4,919 6,322 25,288 6,723 6,723 6,155 2 12,310
66 5,131 5,131 6,410 25,640 6,785 6,785 6,259 4 25,037
70 5,279 25,970 6,478 40,955 6,832 45,930 18,809 1 18,809

TOTAL 119,768

V = 1/3 x h xE
= 1/3 x 0,6 x 100,959
= 146,53 m
3



RENCANA UMUM

D3 TEKNIK PERMESINAN KAPAL 2011 Page 72

DAFTAR PUSTAKA



BKI 1996 VOL II.

BKI 2001 VOL II.

De Rooij.,[1978], Practical Shipbuilding, De Technische Uitgeverij H. Stam, NV
Haarlem.

Germanischer Lloyd, Regulations for the construction and survey of lifting
appliances, 1992.

Harrington, Roy. L, editor.,[1992], Marine Engineering, SNAME.

Marine Auxiliary Machinery and System by Khetagurov published by Peace
Publisher, Moscow.

Resistance and Propulsion of Ship by SV.AA. Harvald published by Jon Wiley
and Sons, New York, 1992.