Anda di halaman 1dari 67

Mengapa mata begitu penting ?

MATA ADALAH JENDELA HATI DARI MATA TURUN KE HATI / HIDUNG

Review Anatomi dan Fisiologi Mata


CECEP E. KOSASIH, SKp., MNS

Organ penglihatan terdiri dari: Bola mata (bulbus okuli) alat penunjang (adneksa) rongga orbita (cavum orbita)

bola mata (bulbus okuli)


Mata berbentu lonjong tidak bulat seperti bola dengan diameter 2,5 cm, bagian depan bening Bola mata dihubungkan dengan nervus optikus (NII) Bola mata terdiri dari tiga lapisan:
Tunica fibrosa oculi, terdiri dari cornea dan sclera Tunica fasculosa oculi, terdiri dari choroidea, corpus ciliare dan iris Tunica nervosa atau tunica interna (sensori)

a. Tunica fibrosa oculi (bagian luar), terdiri dari cornea dan sclera

Sclera Dinding bola mata merupakan jaringan kuat, tidak bening, tidak kenyal, tebal kira-kira 1 mm. Bagian luar berwarna putih dan halus Ada hubungan dengan koroid Melindungi struktur mata dan membantu mempertahankan bentuk biji mata Membentuk 5/6 dari bola mata

Kornea
jaringan jernih dan beningberbentuk lingkaran, diameter 11-12 mm pertemuan antara sklera dan kornea disebut korneosklera atau limbus membentuk 1/6 dari bola mata tebalnya kira-kira 0,6 0 1,0 mm kornea tidak mengandung pembuluh darah, jernih dan bening kornea berfungsi sebagai dinding juga sebagai media penglihatan yang merubah arah cahaya masuk ke dalam bola mata dan mempunyai kekuatan refraksi sebesar 43 dioptri, dipersarafi oleh nervus V (trigeminus). Zat makanan masuk ke kornea melalui pembuluh darah limbus dan sebagian oksigen diambil dari udara.

Sifat transparan dari kornea akan terganggu oleh: 1. kerusakan epitel kornea 2. penyakit yang menimbulkan neovaskularisasi 3. pembengkakan kornea sehingga kehilangan regularitas cornea.

b. Tunica fasculosa oculi (uvea), terdiri dari choroidea, corpus ciliare dan iris
Khoroid Terletak antara sclera dan retina, kaya akan pembuluh darah, fungsi utama adalah pemberi nutrisi pada retina Korpus siliare Dimulai dari baris iris ke belakang sampai khoroidea. Terdiri dari otot siliare dan proses siliare. Otot siliare berfungsi sbg akomodasi. Jika otot berkontraksi maka akan menarik proses siliare dan koroidea ke depan dan ke dalam, mengendorkan zonula zenii sehingga lensa menjadi cembung. Fungsi proses siliare adalah memproduksi humor aquos.

Iris
Merupakan membran yang berwarna, berbentuk sirkular menggantung dibelakang kornea didepan lensa. Ditengah iris terdapat pupil yang berfungsi mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk ke dalam mata. Iris berpangkal pada badan siliare dan memisahkan bilik mata depan dan belakang, terdapat lekukan kecil di sekitar pupil disebut kripta. Otot polos ada dua: berbentuk sirkuler sehingga pada saat kontraksi akan terjadi pengecilan pupil dipengaruhi oleh cahaya, yang kedua tersusun radier dari tepi pupil, bila berkontraksi menyebabkan dilatasi pupil. Dipersyarafi oleh simpatis

c. Tunica nervosa atau tunica interna (sensori)


Disebut juga retina, merupakan membran lunak, tipis dan peka. Warnanya bening letaknya antara badan kaca dan khoroidea. Terdapat makula lutea (bintik kuning) kira-kira berdiameter 1-2 mm yang berperan dalam ketajaman penglihatan. Ditengah makula lutea terdapat bercak mengkilap yg disebut refleks fovea. Terdapat sel batang dan sel kerucut. Sel batang bila intensitas cahaya rendah dan gambar yang abu-abu. sel kerucut bila cahaya terang. diperlukan pigmen rhodopsin.

Jenis cairan refrakting

Aqueous humor Seperti cairan lymfe mengisi bagian depan mata bagian ini terbagi oleh iris yaitu camera okuli anterior dan camera oculi posterior. Cairan ini dihasilkan oleh badan ciliare. Setelah cairan ini dibentuk kemudian mengalir diantara ligamen lensa, melalui pupil ke dalam kamera okuli anterior mengalir ke dalam sudut diantara kornea dan iris kisis-kisi trabekula kanal schelm masuk pembuluh darah (vena ciliare)

lens crystalina Terletak di depan badan kaca dan dibelakang iris. Lensa merupakan badan yang lunak, transparan, bikonveks dilapisi kapsul tipis yang homogen tebalnya kira-kira 5 mm berdiameter 9 mm pada orang dewasa. Pada equator difiksasi oleh zonula zenii pada badan siliare. korpus vitrieus merupakan cairan ang berwarna bening, kental seperti agar-agar, terletak antara ruang permukaan belakang lensa dan permukaan dalam retina, berfungsi untuk memberi bentuk dan kekokohan pada mata.

Alat penunjang (adneksa)


Palpebra (kelopak mata) Aparatus lakrimalis Otot penggerak bola mata Supercillium (alis mata) Conjungtiva

Palpebra (kelopak mata)


Terdapat dua buah lipatan (atas dan bawah), berfungsi melindungi bola mata dari trauma dari luar baik fisik maupun kimiawi, membuka untuk memberi jalan masuk sinar. Pembasahan dan pelicinan seluruh bola mata krn ada pemerataan air mata dan sekresi kelenjar akibat gerakan buka tutup kelopak mata. Kedipan juga untuk menyingkirkan debu Dari luar ke dalam terdiri dari; kulit, jaringan longgar, jaringan otot, tarsus, fascia dan conjungtiva. Dalam kelopak terdapat 4 kelenjar yaitu: Kelenjar meibom, terletak sepanjang lapisan tarsus, mengeluarkan sebacea yg berfungsi untuk mengurangipenguapan dan kelebihan dari air mata Kelenjar moll, kelenjar keringat Kelenjar zeis, meodifikasi kelenjar meibom ukurannya lebih kecil berhubungan dengan folikel bulu mata Kelenjar air mata; terletak di bawah konjungtiva tarsal. Pinggir kelopak mata disebut margo palpebrae

Aparatus lakrimalis
Terdiri dari dua bagian yaitu: Sekresi: memproduksi air mata, Ekskresoi: memberi jalan kepada air mata ke dalam rongga hidung. Kelenjar air mata terletak pada superior lateral rongga orbita. Sepanjang forniks terdapat juga kelenjar kecil disebut kelenjar krause. Bagian ekskresi teridiri dari: pungtum lakrimalis, kanalikuli lakrimalis, dan duktus lakrimalis. Perjalanan air mata setelah diproduksi di kelenjar lakrimalis masuk kedalam sakus conjungtiva, mengalir pada bagian depan bola mata ke sudut tengah bola mata selanjutnya masuk kedalam kanalikuli lakrimalis lalu masuk ke dalam sakus lakrimalis ke duktus nasolakrimalis ke luar ke meatus nasalis inferior. Fungsi air mata: mencuci (bakterisidal) dan melumasi mata. Air mata terdiri dari 98% air, 1,5% NaCl dan enzim (lysosim) yang mempunyai efek antibakteri Kelopak mata diperdarahi oleh arteri oftalmika, arteri zigomatika dan arteri angularis.

Otot-otot penggerak bola mata


Otot ekstraokuler berfungsi menggerakan bola mata pada visus yang normal. otot rekti ( otot yang berjalan lurus) dan otot oblik (serong).. Otot rekti Muskulus rektus superior Muskulus rektus inferior Muskulus rektus medialis Muskulus rektus lateralis Otot oblik Muskulus oblikus superior Muskulus oblikus inferior

Alis mata dan Konjungtiva


Alis mata Merupakan batas atas orbita yang ditumbuhi rambutrambut pendek yang berfungsi melindungi dari sinar matahari dan juga berfungsi sebagai kosmetika Konjungtiva Merupakan membran mukosa yang melapisi kelopak mata dan melipat ke bola mata untuk melapisi bagian depan bola mata sampai limbus. Konjungtiva palpebra: melapisi kelopak, banyak mengandung pembuluh darah, dapat terlihat kelenjar sebacea pada tepi kelopak. Konjungtiva yang menutupi bagian depan bola mata: konjungtiva bulbi, dapat terlihat sclera Fungsi konjungtiva: Memberi proteksi pada sclera dibawahnya dan pelumasan pada bola mata. Arteri palpebra menyediakan darah kulit kelopak mata, sedangkan arteri oftalmika dan fasialis menyediakan darah ke seluruh palpebra dan konjungtiva.

Rongga orbita
Adalah suatu rongga yang dibatasi oleh dinding tulang dan berbentuk kerucut dengan puncaknya mengarah ke belakang dan ke medial, mengarah ke foramen optikus (lubang yang dilewati oleh nervus optikus dan ateri optalmika). Beberapa tulang yang membentuk rongga orbita: Os zigomatikus Os maksilaris Os palatinum Os lakrimalis Os etmoidalis Os sfenoidalis Os frontalis

Mekanisme pembentukan bayangan


Mata mengubah energi dalam spektrum cahaya potensial aksi dalam nervus ofikus. Bayangan difokuskan pada retina, potensial pada batang dan kerucut. Impuls saraf sepanjang nervus oftikus ke korteks serebri.

Prinsip optik
Lensa memegang peranan penting karena lensa membelokan cahaya agar dapat difokuskan pada retina. Dari retina cahaya diubah ke dalam bentuk impuls cahaya yang dihantarkan melewati nervus optkus pada pusat penglihatan di lobus oksiitalis. Lensa cembung (bikonveks) bersifat mengumpulkan sinar yang datang, disebut juga lensa positif. Bayangan yang dibentuk tegak, diperbesar selalu dibelakang lensa dan nyata. Lensa cekung (bikonkaf) bersifat menyebarkan sinar disebut juga lensa negatif. Bayangan yang dibentuk selalu maya, diperkecil dan terbalik. Makin besar kecembungan lensa makin besar daya biasnya. Daya bias diukur dengan dioptri (D) yang merupakan kebalikan dari jarak fokus utama dari mata. D = didalam mata cahaya dibiaskan pada permukaan depan kornea serta permukaan sepan dan belakang lensa.

Akomodasi
Merupakan proses peningkatan pembiasan lensa atau kecembungan lensa. Bila mata melihat benda yang dekat sekali, mata akan berakomodasi sekuat-kuatnya, sebaliknya bila melihat benda atau titik yang tak terhingga maka mata akan berelaksasi dengan sempurna. Pada waktu diam, lensa dipertahankan ketegangannya oleh keregangan ligamentum ciliaris, bila pandangan diarahkan pada bnda yang dekat, m. Ciliaris berkontraksi. Hal ini akan menurunka jarak antara tepi-tepi korpus ciliaris dan melemaskan ligamentum ciliaris sehingga lensa lebih cembung (konveks). Titik dekat yang paling dapat difokuskan dengan jelas dinamakan titik dekat dan akan mengalami kemunduran selama hidup. Dikenal dengan presbiopia. Selain akomodasi pada melihat dekat, juga ada yang berperan yaitu kedua poros penglihatan akan berkovergensi dan pupil akan menciut. Senyawa yang peka cahaya pada manusia tersusun atas protein yang dinamakan opsin dan retinen1aldehida dari vit A.

Aspek-aspek lain dari fungsi penglihatan


Adaptasi gelap Bila seseorang berada di tempat yang terang kemudian pindah ke tempat yang remang-remang maka rteina secara pelahan akan lebih sensitif terhadap cahaya, sambil ia terbiasa dengan gelap dinamakan adaptasi gelap. Proses ini maksimum mencapai 20 menit Adaptasi terang Bila seseorang keluar dari lingkungan remang-remang, cahaya akan dirasakan terlampau kuat serta menahan silau sampai mata beradaptasi dengan penerangan kuat dan ambang penglihatan meningkat. Adaptasi ini memerlukan waktu kira-kira 5 menit. Efek defisiensi vitamin pada mata Vit A berperan dalam produksi rhodopsin dan iodopsin. Avitaminosis A menimbulkan gangguan pada mata yang paling dini adalah buta malam atau niktalopia. Bila terjadi defisiensi vit A akan timbul degenerasi kerucut dan bila berlanjut akan mengakibatkan perubahan pada sel batang dan kerucut dan diikuti oleh degenerasi lapisan saraf retina.

Pengkajian keperawatan pada klien dengan gangguan sensori (penglihatan)

Cecep E. Kosasih, SKp., MNS

Riwayat kesehatan
Biodata Nama: Umur: semakin tua lensa semakin tidk elastis Jenis kelamin: buta warna lebih ke anak laki-laki sedangkan perempuan bersifat karier. Pendidikan Pekerjaan: lingkungan pekerjaan Alamat: lingkungan rumah Status perkawinan Anggota keluarga terdekat Agama

Riwayat penyakit
Alasan minta pertolongan Riwayat penyakit sekarang Riwayat penyakit lalu Riwayat kesehatan keluarga: glaukoma, retinitis pigmentosa, buta warna Riwayat tumbuh kembang Riwayat kebiasaaan (pola)

Riwayat tumbuh kembang


Neonatus:

Bayi:

fungsi belum matur, mampu membedakan cahaya dan gelap, fiksasi objek 20-30 cm dari wajah visus 20/300 30/600 5-7 bulan, mampu melihat merah dan kuning, koordinasi berkembang, visus 20/200 9 bulan, mampu membedajkan orang, visus 20/200 1 tahun, perkembangan mata sudah lengkap, otot mata matang Akomodasi sudah sempurna, visus 20/40 Perkembangan konvergensi secara perlahan, visus 20/30 atau 20/40 4/5 tahun mampu mengenal dan mengidentifikasi warna, kelenjar lakrimalis sudah semprna visus 20/20 6 tahun perkembangan persepsi yang sempurna, refraksi dan akomodasi normal Emetropia berkembang baik, sama dengan mata dewasa Mulai usia 42-45, mata mulai tidak mampu melihat dekat dengan baik, kurang mampu berakomodasi

2 tahun

3 tahun

4-6 tahun

Remaja

Dewasa

Riwayat kebiasaaan (pola)


Kebersihan mata Konsumsi makan Penggunaan mata Istirahat tidur Penanggulangan masalah dangguan mata Pemakaian kaca mata

Pemeriksaan mata
Anamnesa Pemeriksaan visus Fungsi otot ekstraokuler Sensasi warna Pemeriksaan eksternal Pemeriksaan intraokuler Pemeriksaan fundus Lapang pandang Pemeriksaan khusus

Anamnesa
Penglihatan buram, tidak melihat Sakit, tidak enak di mata Ada perubahan pada kelopak mata, orbita atau mata Penglihatan ganda/pusing Banyak kotoran mata, banyak airmata / kering

Anamnesa khusus
Sejak kapan ada gangguan penglihatan, berangsurangsur atau tiba-tiba, satu atau dua mata Kelainan bentuk objek yg dilihat astigmatisme / kelainan makula Silau radang kornea, afakia, iritis, akibat obat spt choloquine, acetazolamid Spt melihat kuning, putih / merah kelainan khorioretinal, lensa, joundice, toksisitas digitalis Adanya halo glaukoma Melihat bintik-bintik / benang yg ikut dgn gerakan mata kelainan vitreus Skotoma (daerah buta pd mata) yg bergerak / hilang timbul penyempitan arteri sentral / serebral

Lapang pandang berkurang ggn kornea, retina, saraf optik atau otak Rabun senja kelainan kongenital (retinitis pigmentosa, atropi saraf optik herediter) atau kelainan yg didapat (def vit A, glaukoma, atropi saraf optik, katarak, degenerasi retina) Penglihatan hilang sebentar cerebro vascular accident, spasme arteri retina sentral Mata sakit lelah mata, ggn keseimbangan otot mata, radang episclera, iris, khoroid, glaukoma, arteritis Sakit kepala hebat kelainan intrakranial

Rasa panas dan gatal blefaritis kronis, konjungtivitis, reaksi alergi Kemerahan/bendungan pd kelopak, konjungtiva/sclera reaksi radang akut/infeksi, trauma. Alergi, glaukoma akut Perubahan warna pg kornea infeksi dan ulkus kornea. Kebiru-biruan pada sklera osteogenesis imperfecta Edema pada satu/kedua kelopak mata abses, blefaritis, alergi, miksidema Penglihatan ganda kelainan lensa, makula, reaksi histeria Banyak kotoran konjungtivitis virus / kerato konjungtivitis

Air mata berkurang penyakit kolagen (sindroma sjorgen) penurunan fungsi kelenjar atau pemakaian obat penenang Air mata banyak iritasi kimia, alergi, peny rangan akut, sumbatan duktus lakrimalis

Pemeriksaan visus
Gunakan snellen chart pada jarak 5-6 m Visus normal 6/6 atau 55 mis: didapatkan visus 5/30 berarti pd jarak 5 m dpt melihat huruf pd orang normal erlihat pd jarak 30m Bila dpt menghitung jari pd jarak 3 m visusnya 3/60, bila hanya dpt melihat gerakan jari dari atas ke bawah atau kesamping dlm jarak 1 m visusnya 1/300, bila hanya dpt melihat sinar visusnya 1/~ Pasien yg tdk dpt melihat visusnya 0 Pd pasien buta huruf atau nak prasekolah digunakan E chrt atau gambar binatang

Pemeriksaan visus
Alat yang harus disiapkan Surat kabar / majalah Penutup mata Kartu snelen / snellen chart Kapas pembersih Senter kecil Optalmoskop Penggaris kecil Persiapan ruangan Ventilasi cukup Penerangan baik Tersedian cuci tangan Penataan ruangan baik Ukuran ruangan 5-6 meter Suasana tenang Persiapan klien Klien duduk atau berdiri kecuali kalau tidak memungkinkan Selama pengkajian refleks kornea dan oftalmoskop ruangan digelapkan

Teknik pengkajian Ketajaman penglihatan


Tahap I Suruh klien membaca majalah/buku, Bila memakai kaca mata dipaki saja, Perhatikan jarak saat membaca Minta klien membaca dengan keras Bila mendapat kesulitan lanjutkan dengan tahap berikutnya

Teknik pengkajian Ketajaman penglihatan


Tahap II Menggunakan snellen chart dengan jarak 6 meter, gunakan snellen hurup, bila tidak bisa membaca menggunakn snellen chart E untuk anak anak gunakan snellen bergambar objek yang dikenal. Pertama kaki jangan menggunakan kaca mata, pertama dengan menggunakan kedua mata terbuka selanjutnya dengan satu mata sedangkan mata lainnya ditutup, pemeriksaan dilakukan pada kedua mata. Bila menggunakan kaca mata test diulang kembali Hasil pemeriksaan ditulis secara terpisah untuk mata kanan (OD) dan mata kiri (OS) yang dinyatakan dengan pembilang dan penyebut. Pembilang menyatakan jarak antara mata dengan snellen, sedangkan penyebut menyatakan jarak dimana suatu hurup tertentu harus dapat dilihat oleh mata normal. Jika visus normal adalah 6/6, jika visus 1 berarti hanya mampu membedakan gelap terang, jika visus 0 maka tidak mampu membedakan gelap terang Rumus untuk menghitung visus: Keterangan V : ketanajaman penglihatan d : jarak kemampuan melihat D : jarak normal melihat

Teknik pengkajian Ketajaman penglihatan


Tahap III Pada klien yang mengalami gangguan mata yang parah diminta menghitung jari yang diacungkan pada jarak 30 cm dari wajahnya, bila klien tidak bisa menghitung jari maka sinari mata klien dengan menggunakan senter kecil tanyakan klien apakah melihat cahaya, dan dari mana arah datangnya.

Keadaan refraksi mata


Emetrop: sinar sejajar yg datang pd mata dlm keadaan istirahat akan direfraksikan tepat pada makula lutea (bintik kuning) Ametrop: sinar sejajar yg datang pd mata dlm keadaan istirahat direfraksikan tidak jatuh pada makula lutea (bintik kuning)
Miopia Hipermetropia Astigmatisme presbiop

Miopia: kelainan refraksi dimana sinar yg datang sejajar akan difokuskan di depan retina, miop ringan sampai -3.00, miop sedang -3.00 - -6.00, miop tinggi lebih dari -6.00, dikoreksi dengan lensa negatif Hipermetrop: kelainan refraksi dimana sinar yg datang sejajr akan difokuskan dibelakang retina, dikoreksi dg lensa positif Astigmatism: kelainan refraksi dimana terdapat perbedaan derajat refraksi pd meridian yg berbeda, sinar tidak dibiaskan pd satu titik, dikoreksi dg lensa silinder Presbiop: perubahan fisiologis dimana daya akomodasi pd usia lanjut menurunshg pd waktu membaca dekat bayangan jatuh di belakang retina, dikoreksi dengan lensa positif

Pemeriksaan fungsi otot ekstraokuler


Pergerakan bola mata yg simetris mengikuti objek yg dilihat disebut ortoforia Ggn keseimbangan otot (strabismus) Pemeriksaan tutup buka (cover/uncover test)

Sensasi warna
Sentral diperiksa dg buku ishihara untuk mengenal adanya cacat merah dan hijau, tidak untuk gangguan warna biru dan kuning, dlm keadaan normal warna gambar dikenal dlm waktu 3-10 Buta warna hijau terdapat pd atropi saraf optik, toksik optik neuropati, degenerasi makula Buta warna biru kuning tdp pd retinopati hipertensif, retinopati diabetik, degenerasi makula senil dini Perifer diperiksa dengan campimeter memakai test objek warna kuning biru, hijau dan merah

Pemeriksaan ekternal
Palpebra: tebal, warna, letak/posisi, ulkus, crusta, trichiasis Konjungtiva palpebra: benjolan/folikel, warna Konjungtiva bulbi: bening, putih, sedikit pembuluh darah, tampak bayangan sclera. Patologis bila: hiperemis perdarahan Sclera: stafiloma sclera: herniasi jaringan uea pd sclera yg tipis Kornea: mikrokornea, makrokornea, edema, distropi, benda asing, sikatrik

Bilik mata depan: dangkal bila iris ke depan, pada glaukoma. Dalam jika iris ke belakang pd afakia Akuos humor: jika ada radang, tampak keruh Iris: sinekia anterior: perlengketan iris dg kornea, sinekia posterior: perlengketan iris dg lensa. Aniridia: mata tanpa iris Pupil: mengecil: miosis, membesar midriasis. Normal 3-4 mm. reaksi cahya: bulat, sentral, isokor Lensa: tanpa lensa: afakia, keruh: katarak, dislokasi lensa perubahan letak karena putusnya zonula zinii

Pemeriksaan tekanan intraokuler


Palpasi Pasien disuruh melihat ke bawah kedua jari telunjuk diletakan pd kelopak mata lakukan palpasi Tekanan normal T=N, tekanan meninggi T= N+, N++, N+++ Tekanan menurun: T= N-, N--, N--Tonometri schiots Dipakai dengan berat 5-10 gr Pasien tidur terlentang tanpa bantal, teteskan pantokain spy tdk sakit, mata melihat keatas tdk boleh berkedip, palpebra superior dan inferior ditahan, tonometer diletakan di kornea bagian sentral, jarum akan bergerak lihat ke angkanya kemudian lihat pada sekala Normal 0,18

Pemeriksaan fundus
Funduskopi direk Memakai elektrik ophthalmoskop Pupil pasien dalam keadaan midriasis atau tidak, mata kiri pasien diperiksa oleh mata kiri pemerksa dan sebaliknya Jarak mata pasien dgn pemeriksa 2,5 cm, mata pasien dan pemeriksa tidak berakomodasi Gambaran funduskopi normal Fundus normal berwarna merah karena bayangan khoroid sebagai refleks fundus Papil berwarna kuning dgn batas tegas ditengahnya tampak lebih pucat karena terdapat lekukan yaitu cupping dan discus disebut excavatio fisiologis, normalnyaperbandingan cupping dan discus adalah 0,3 - ,4

Pembuluh darah yang keluar dari papil bercabang-cabang ke atas, ke bawah, ke nasal, ke temporal, pembuluh arteri lurus berwarna merah terang dan pembuluh darah vena lebih lebar berkelok-kelok dengan perbandingan arteri dan vena 2:3 Sebelah temporal dari papil terlihat daerah yang lebih merah yaitu makula lutea dan ditengahnya seperti ada cahaya bening disebut fovea centralis, keadaan ini disebut refleks fovea positif

Pemeriksaan slit lamp


Memeriksa segmen anterior mata dgn cahaya cukup kuat dan dilihat melalui mikroskop binokuler Sinar dapat lebar atau sempit Lensa Hruby (-40D) yg ditempatkan didepan mata dapat melihat keadaan vitreus dan retina, mata dilatasi.

Pemeriksaan lapang pandang


Penglihatan oleh retina diluar makula disebut penglihatan perifer atau kampus dan dapat diperiksa dgn: Test konfrontasi Penderita duduk dengan jarak 0,5 m dari pemeriksa dan melihat pada mata pemeriksa, satu mata ditutup Pemeriksa menggerakan jari tangannya dari perifer ke tengah, bila jari sudah terlihat digerakan lagi ke perifer jika lapang pandang kurang baik maka lapang pandangannya akan lebih kecil dari pemeriksa dan lapang pandang pemeriksa harus normal

Pemeriksaan khusus atas indikasi


Test anel Untuk menentukan fungsi ekskresi sistem lakrimal Pasien duduk atau tidur, mata ditetesi anestesi lokal Pungtum dilebarkan dengan dilatator kemudian jarum anel pd semprit 2 cc dimasukan horizontal melalui kanalikuli lakrimalis sampai masuk ke sakus lakrimalis Garam fisiologis dimasukan kedalam sakus, jika pasien merasakan asin pd tenggorokannya akan terlihat reaksi menelan Bila duktus nasolakrimalis tertutup maka tidak ada refleks menelan, mislnya pd dakriosistitis akut

Sensasi kornea
Pemeriksaan fungsi saraf trigeminus yg memberikan sensibilitas kornea Pasien diminta melihat ke sisi yg berlawanan dr kornea yang akan diperiksa kelopak mata pasien ditahan supaya terbuka dengan jari telunjuk dan ibu jari Disisi lain kapas digeser sejajar dg permukaan iris menuju kornea yang akan diperiksa, kapas ditempelkan pd permukaan kornea, jika terjadi refleks mengedip berarti sensibilitas kornea baik Sensibilitas kornea menurun pd keratitis atau ulkusherpes simpleks dan infeksi herpes zoster

Respon individu terhadap gangguan sistem penglihatan


Respon fisiologis Nyeri Gatal Sakit pada kepala Mual muntah Rabun senja Perubahan persepsi sensori kabur Masalah psikologis Sedih dan berduka Reaksi kehilangan Perasaan emosi yang terlalu kuat cemas berlebih Kerusakan mata menyebabkan: percaya diri kurang, konsep diri terganggu, kemampuan berinteraksi menurun, peran terganggu, ketergantungan pada orang lain.

ASKEP DENGAN TRAUMA MATA

Trauma
Injuri pada mata berupa: benda asing, luka bakar, abrasi, laserasi, dan luka tembus. Patofisiology Benda asing penyebab utama injury kornea. Partikel debu dan bahan-bahan yg membakar akan melekat pad kornea / konjungtiva. Secara alami pt akan menggosok mata untuk menghilangkan benda asing mengiritasi kornea. Luka bakar dapat terjadi akibat UV, bhn kimia, dan panas langsung

Trauma
Abrasi terjadi ketika ada benda yang bergerak pada mata mis, kuku atau kain. Luka tembus lebih berbahaya krn mengakibatkan kerusakan struktur mata rusak permanen, kebutaan. Terjadi juga pada pt yang mengalami infeksi. Tanda dan gejala Nyeri waktu mata/kelopak bergerak, airmata >> Abrasi, laserasi, adanya benda asing, merah, fotosensitive, penurunan ketajaman, erytema dan pruritus

Trauma
Nyeri akut dan rasa terbakar Luka bakar pd mata. Penanganan hrs segera dengan irigasi Luka tembus dengan krusakan saraf mungkin pt tidak mngeluh nyeri Test diagnostik Ketajaman penglihatan Slit lamp, opthalmoscop, flourescein staining

Trauma
Treatmnet Irigasi dgn NaCl 15-20 bahan kimia Antibiotik topikal salep Abrasi antibiotik dan irigasi Luka tembus tutup / balut

Askep dengan trauma mata


Pengkajian Benda asing
Inspeksi, kelopak mata dilihat kaji permukaannya irigasi

Luka bakar
Kaji jenis luka bakar bila kimia irigasi segera

Abrasi dan laserasi Luka tembus

Askep dengan trauma


Diagnosa keperawatan
Nyeri akut bd proses peradangan dan injury Ggn persepsi sensori bd trauma Resiko infeksi Cemas bd menurunnya sensori visual Defisit pengetahuan bd kurangnya pengalaman sebelumnya

Perencanaan
Kemampuan pt dalam pengobatan, perhatian pasien thd penyakit, verbalisasi tingkat ketidaknyamanan

Askep dengan trauma


Evaluasi
Nyeri dalam batas toleransi Penglihatan Bebas infeksi Mampu mengatakan penurunan kecemasan Mampu memelihara kesehatan mata

Askep Keganasan Pada Mata

Retinoblastoma
Neoplasma yang bersifat ganas pada retina Patofisiologi Bersifat kongenital; timbul sejak lahir atau muncul usia 1-2 tahun Terdeteksi dalam kondisi lanjut; ijumapi adanya masa putih di belakang pupil refleks mata kucing [leukokoria], atua adanya strabismus Gejala lain; peradangan, perdarahan dan glaukoma

Retinoblastoma
Treatment Stadium awal dengan radioaktif cobalt Stadium lanjut enukleasi [pengangkatan mata] radiasi, chemoterapi

Asuhan keperawatan Retinoblastoma


Pengkajian Biodata Riwayat kesehatan

Keluhan Strabismus, visus menurun, mata kucing, perdarahan Keluarga Penyakit yang sama di keluarga Emosi keluarga Perasaan keluarga Pemeriksaan fisik Kornea, strabismus, visus, peradangan, perdarahan dan glaukoma

Asuhan keperawatan Retinoblastoma


Diagnosa yg mungkin muncul Cemas bd kurang pengetahuan Ggn rasa nyaman; nyeri Kurang pengetahuan keluarga tentang perawatan di rumah

Terima kasih atas perhatiannya