Anda di halaman 1dari 48

1 Aspek Keterkaitan dan Integrasi

Analisis keterkaitan dan integrasi dengan kebijakan kebijakan yang ada digunakan untuk melihat kedudukan KSPN terhadap kebijakan rencana tata ruang nasional/ provinsi /kabupaten/ kota untuk menyesuaikan perencanaan yang dibuat dengan kebijakan pembangunan daerah dengan tujuan agar tidak terjadi tumpang tindih kegiatan.

1.1 Keterkaitan KSPN dengan Rencana Tata Ruang Wilayah


Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) suatu kawasan harus mengacu pada Rencana/ Kebijakan Tata Ruang di atasnya. Rencana Tata Ruang (RTR) suatu KSPN disusun berdasarkan isu-isu kebijakan, antara lain : Peraturan Pemerintah no 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) yang menetapkan sejumlah Kawasan Strategis Nasional. Contoh : Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) yang menetapkan sejumlah Kawasan Strategis Nasional, diantaranya KSN Sarbagita ( Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan) Peraturan Daerah tentang RTRW Provinsi yang menjelaskan mengenai detail dari Kawasan Strategis Nasional yang masuk dalam wilayah administratif provinsi tersebut. Contoh : Pada Perda no 16 tahun 2009 mengenai RTRW Provinsi Bali menetapkan kawasan Sanur yang juga merupakan bagian dari KSN Sarbagita, sebagai kawasan strategis provinsi dengan fungsi utama sebagai Kota Pariwisata Internasional yang berjati diri budaya Bali Peraturan Daerah tentang RTRW Kota/ Kabupaten yang menjelaskan mengenai Kawasan Strategis Provinsi yang masuk dalam wilayah administratif Kota/ Kabupaten tersebut. Contoh : RTRW Kota Denpasar menetapkan Kawasan Sanur sebagai salah satu Kawasan Strategis Kota Denpasar mencakup wilayah Desa Sanur Kaja, Kelurahan Sanur dan Desa Sanur Kauh Berdasarkan isu-isu kebijakan di atas, maka kedudukan RTR KSPN Sanur dengan Rencana Tata Ruang Wilayah adalah sebagai berikut :
RTRW NASIONAL RTR KAWASAN STRATEGIS NASIONAL

RTRW PROVINSI

RTR KAWASAN STRATEGIS PROVINSI

RTRW KOTA/ KABUPATEN RDTR KOTA/ KABUPATEN

RTR KAWASAN STRATEGIS RDTR KOTA/ KABUPATEN KOTA/ KABUPATEN RTR KAWASAN PERKOTAAN/ PERDESAAN

1.2 Keterkaitan KSPN dengan Rencana Pembangunan Kepariwisataan


Pembentukan KSPN merupakan bagian dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPARNAS). Berdasarkan Ripparnas, KSPN merupakan kawasan yang memiliki fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata nasional yang mempunyai pengaruh penting dalam satu atau lebih aspek, seperti pertumbuhan ekonomi, sosial, budaya, pemberdayaan sumber daya alam, daya dukung lingkungan hidup serta pertahanan dan keamanan. Penetapan KSPN-KSPN di Indonesia merupakan bentuk pembangunan kepariwisataan nasional pada aspek destinasi yang diawalai dengan Perwilayahan pembangunan DPN (Destinasi Pariwisata Nasional). DPN merupakan kawasan geografis dengan cakupan wilayah propinsi dan/ atau lintas provinsi yang di dalamnya terdapat Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional, yang diantaranya berupa KSPN, dimana pengembangan pariwisata untuk kawasan yang menjadi KSPN langsung ditangani oleh pemerintah pusat. KSPN berdasarkan RIPPARNAS ditentukan dengan kriteria: a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. memiliki fungsi utama pariwisata atau potensi pengembangan pariwisata; memiliki sumber daya pariwisata potensial untuk menjadi Daya Tarik Wisata unggulan dan memiliki citra yang sudah dikenal secara luas; memiliki potensi pasar, baik skala nasional maupun khususnya internasional memiliki posisi dan peran potensial sebagai penggerak investasi; memiliki lokasi strategis yang berperan menjaga persatuan dan keutuhan wilayah; memiliki fungsi dan peran strategis dalam menjaga fungsi dan daya dukung lingkungan hidup; memiliki fungsi dan peran strategis dalam usaha pelestarian dan pemanfaatan aset budaya, termasuk didalamnya aspek sejarah dan kepurbakalaan; memiliki kesiapan dan dukungan masyarakat; memiliki kekhususan dari wilayah; berada di wilayah tujuan kunjungan pasar wisatawan utama dan pasar wisatawan potensial nasional; dan memiliki potensi kecenderungan produk wisata masa depan.

Sedangkan untuk pembangunan KSPN dilakukan secara bertahap dengan kriteria prioritas yang memiliki : a. b. c. d. komponen destinasi yang siap untuk dikembangkan; posisi dan peran efektif sebagai penarik investasi yang strategis; posisi strategis sebagai simpul penggerak sistemik Pembangunan Kepariwisataan di wilayah sekitar baik dalam konteks regional maupun nasional; potensi kecenderungan produk wisata masa depan;

e. f. g.

kontribusi yang signifikan dan/atau prospek yang positif dalam menarik kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara dalam waktu yang relatif cepat; citra yang sudah dikenal secara luas; kontribusi terhadap pengembangan keragaman produk wisata di Indonesia; dan keunggulan daya saing internasional

1.3 Integrasi pariwisata dengan sektor lain


Pengembangan pariwisata harus dikaitkan dengan pengembangan ekonomi baik nasional, wilayah, maupun lokal. Sektor pariwisata harus berperan sebagai prime mover dan secara interaktif terkait dengan pengembangan sektor sektor lainnya. Peningkatan keterkaitan antara sektor pariwisata dengan sektor lainnya akan meningkatkan percepatan pertumbuhan ekonomi wilayah. Pariwisata mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi, karena dapat menyediakan lapangan kerja, menstimulasi berbagai sektor produksi, serta memberikan kontribusi secara langsung bagi kemajuan-kemajuan dalam usaha-usaha pembuatan dan perbaikan pelabuhan, jalan raya, pengangkutan, serta mendorong pelaksanaan program kebersihan dan kesehatan, proyek tempat kesenian dan budaya, pelestarian lingkungan hidup dan sebagainya yang dapat memberikan keuntungan dan kesenangan baik kepada masyarakat setempat maupun wisatawan dari luar. Penilaian seberapa baik integrasi pariwisata dengan sektor lainnya dapat dilihat dari angka penyerapan tenaga kerja di sektor lainnya dengan membandingkan pada angka pertumbuhan kedatangan wisatawan, PDRB dari sektor pariwisata maupun proyek proyek pembangunan terkait kepariwisataan. No 1 Variabel Angka Pertumbuhan Wisatawan dalam 3 tahun terakhir Besarnya penerimaan PDRB dari sektor pariwisata dalam 3 tahun terakhir Jumlah investasi terkait pariwisata dalam 3 tahun terakhir Angka penyerapan tenaga kerja pada sektor transportasi dan komunikasi dalam 3 tahun terakhir Angka penyerapan tenaga kerja pada Sumber Data Data Sekunder Metode Kondisi Penilaian

Data Sekunder

Data Sekunder

Data Sekunder

Data Sekunder

No

Variabel sektor pertanian dalam 3 tahun terakhir Angka penyerapan tenaga kerja pada sektor bangunan dalam 3 tahun terakhir Pelaksanaan program kebersihan dan kesehatan dalam 3 tahun terakhir

Sumber Data

Metode

Kondisi Penilaian

Data Sekunder

Data Sekunder

2 Aspek Pengembangan Kepariwisataan


Aspek pengembangan kepariwisataan pada intinya terdiri dari aspek pengembangan ke dalam (delivery on the ground) yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pengalaman wisata wisatawan dan aspek pengembangan keluar (marketing) yang bertujuan untuk menarik wisatawan datang ke suatu destinasi. Untuk mencapai kedua tujuan utama tersebut, maka diperlukan analisis/ penilaian terhadap detail dari kedua aspek tersebut yang terdiri dari: Destinasi, Industri, Pemasaran, dan Institusi agar dapat dikembangkan perencanaan yang tepat dan sesuai dengan apa yang dibutuhkan.

2.1 Destinasi
Analisis destinasi merupakan penilaian terhadap sumber daya destinasi pariwisata baik yang berupa sumber daya eksisting maupun sumber daya yang masih menjadi potensi untuk dikembangkan dalam rangka menciptakan pengalaman wisata, meliputi : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Perwilayahan Daya Tarik Aksesibilitas Fasilitas dan Prasaranan Umum Fasilitas Pariwisata Masyarakat Lokal Investasi
Perwilayahan

2.1.1

2.1.1.1 Struktur dan Pola Tapak KSPN

Sebuah tapak secara administratif merupakan lokasi yang seluruh boleh dibangun, namun pada prakteknya, terdapat sejumlah batasan yang harus dipertimbangkan. Analisa struktur dan pola tapak merupakan proses penilaian terhadap kualitas tapak yang dipengaruhi oleh sejumlah faktor, sebagai kebutuhan dalam melakukan perencanaan tatanan fisik fasilitas/ fungsi/ bangunan dalam tapak yang meliputi pengolahan dan sistem utilitas tapak, site entrance, sistem sirkulasi serta penentuan posisi, komposisi, orientasi maupun konfigurasi massa dan ruang terbuka.

Faktor faktor yang mempengaruhi kualitas tapak terdiri atas, faktor fisik, biologi dan sosial budaya, dimana tiap faktor tersebut memiliki sejumlah variabel pembentuknya 1. Faktor Fisik No Variabel 1 Dimensi tapak Sumber Data Data Primer Metode Observasi Aspek penilaian Bentuk Ukuran 2 Kondisi Keadaan Data Primer tanah Observasi Porositas Daya Dukung Keasaman 3 Topografi Data Primer Observasi Elevasi Kemiringan Ketinggian Bentang alam/ morfologi Permukaan air tanah Arah aliran air hujan Kualitas air tanah 5 Geologi Data Primer Observasi Bahaya seismik Kedalaman tanah Kondisi batuan 6 Iklim Data Primer Observasi Curah hujan Intensitas hujan Kecepatan arah angin Arah penyinaran cahaya matahari 2. Faktor Biologi No Variabel 1 2 Vegetasi Habitat Kondisi Penilaian

Hidrologi

Data Primer

Observasi

Sumber Data Data Primer Data Primer

Metode Observasi Observasi

Aspek penilaian Keragaman tanaman Keragaman di dalam site

Kondisi Penilaian

No

Variabel

Sumber Data

Metode

Aspek penilaian Keragaman di lingkungan sekitar site

Kondisi Penilaian

3. No 1 2

Faktor Sosial Budaya Variabel Peruntukan tanah Regulasi lokal Sumber Data Data Primer, Data sekunder Data Sekunder (RTBL) Metode Observasi Ketinggian bangunan Kepadatan dan tipe bangunan Peruntukan dan ijin bangunan Observasi Kondisi Sanitasi Kondisi Drainase Kondisi Air bersih Listrik Aspek penilaian Kondisi Penilaian

Utilitas di dalam Data Primer dan sekitar tapak

Sirkulasi sekitar site

Data Primer

Observasi

Kelas Jalan Kepadatan jalan (traffic volume) Jalur pejalan kaki Jenis angkutan

Area Historis

Data Primer

Observasi

Landmark Situs arkeologis, purbakala

Sensory

Visual Sumber Bising

Dari hasil analisis di atas, maka akan dirumuskan konsep struktur dan tapak KSPN yang menjelaskan pengolahan bentang tapak, penentuan tata letak massa bangunan dan orientasinya, penentuan fungsi ruang terbuka baik aktif maupun pasif, penentuan jalur sirkulasi yang terdiri atas main entrance, side entrance dan sidewalk, penentuan zonasi serta penentuan sistem utilitas. Terdapat ketentuan dalam membentuk konsep struktur dan tapak di setiap perencanaan yang akan dilakukan.

1.

Pengolahan bentang tapak, penentuan tata letak massa bangunan, penentuan fungsi ruang terbuka, penentuan sistem utilitas Kemiringan Ketentuan Aliran secara umum tidak bagus, tidak direkomendasikan untuk eksterior dengan fungsi tertentu kecuali untuk wetland preserve atau ruang terbuka lain yang memungkinkan adanya genangan air ( ruang terbuka pasif) Kemiringan yang ideal untuk ruang terbuka aktif dan bangunan masif Kemiringan masih ideal untuk fungsi ruang terbuka aktif dan penempatan bangunan masif, tetapi perlu dipertimbangkan tata letak terhadap arah kemiringan. Kemiringan ini juga masih ideal untuk drainase namum perlu dikontrol agar tidak terjadi erosi Kemiringan agak curam untuk fungsi ruang terbuka aktif dan bangunan masif. Kemiringan ini eprlu dipertahankan untuk menghindari erosi Kondisi kemiringan curam tidak ideal untuk hampir semua penggunaan dan fungsi

No

< 1 % (terlalu datar)

1-5 % (datar)

5-10 % (landai)

4 5 2.

10-15 % (agak curam) 15% (curam) Zonasi

Zonasi untuk bangunan masif dan ruang terbuka direncanakan dengan memenuhi beberapa pertimbangan berikut : a. b. c. d. e. 3. Kondisi, bentuk tapak dan kontur Hirarki ruang Fungsi fasilitas Prinsip desain : efisiensi, kenyamanan, keselamatan Regulasi lokal terkait dimensi massa, sempadan, KDB, dan KLB Sirkulasi

Sirkulasi direncanakan dengan memenuhi beberapa pertimbangan berikut : a. b. c. d. Kondisi tapak dan kontur Keberadaan jalur jalur di luar tapak Bentuk tapak Layanan yang merata pada seluruh fungsi pada tapak sesuai dengan jenis sirkulasinya Jenis Sirkulasi Jalan raya dua arah Jalur kendaraan dalam tapak Ketentuan Dimanfaatkan sebagai titik masuk ke tapak, sirkulasi langsung ke bangunan masif sebagai fungsi utama fasilitas Jalur ini diakumulasi di daerah bising

No 1 2

No 3

Jenis Sirkulasi Jalur Pejalan kaki

Ketentuan Jalur ini dibuat sebagai perpanjangan jalur yang tidak bising untuk menghubungkan semua fungsi dalam tapak

2.1.1.2 Penunjukan Kawasan Inti-Kawasan Inti di KSPN

Penunjukan kawasan inti dikelompokkan berdasarkan tema-tema kegiatan yang dapat dilakukan di kawasan tersebut serta hasil konsep pola tapak yang menetapkan pengembangan ruang pariwisata seperti apa yang akan dilakukan. Selanjutnya, pada setiap kawasan inti perlu dilakukan analisis kesesuaian lahan untuk aktivitas pariwisata yang akan dilakukan di sana serta analisis daya dukung kawasan inti. 1. Analisis Kesesuaian Pemanfaatan Ruang sebagai Kawasan Inti Analisis kesesuaian pemanfaatan ruang merupakan analisis yang melihat pada potensi kawasan untuk menjadi kawasan inti berdasarkan kriteria-kriteria teknis kegiatan pemanfaatan ruang yang direncanakan. Analisis ini menggunakan metode overlay peta untuk setiap variabel fisik, sosial, ekonomi dan budaya berdasarkan kriteria kegiatan. Dari analisis ini akan dihasilkan kesesuaian lahan untuk pemanfaatan ruang dalam bentuk peta kesesuaian pemanfaatan ruang yang meliputi kesesuaian untuk kawasan inti. Berdasarkan tema kawasan inti yang telah dibentuk, maka kriteria yang dibutuhkan utnuk penentuan kawasan inti sesuai temanya adalah sebagai berikut : a. No 1 2 3 Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Kawasan Inti dengan Tema Budaya Bahari Parameter Kecerahan perairan (meter) Tutupan terumbu karang hidup (%) Jenis hewan karang dan biota yang berasosiasi (spesies) Jenis ikan karang (spesies) Kecepatan arus (m/dtk) Kedalaman perairan S1 (sangat sesuai) 15 20 >75 Sangat beragam ( > 100) Sangat beragam ( > 70) 0 0,17 10 20 S2 (sesuai) 10 15 50 75 Beragam ( 75 100) S3 (sesuai bersyarat) 5 10 25 50 Sedang ( 20 75) N (tidak sesuai) <5 < 25 Sedikit ( <10) Kondisi Eksisting

Beragam (50 70) 0,17 0,34 5 10

Sedang ( 20 30 ) 0,34 0,51 25

Sedikit ( < 20 ) > 0,51 <2

5 6

b. Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Kawasan Inti dengan Tema Budaya

No 1 2 3 4 5 c. No 1 2 3 4 5 6

Parameter

S1 (sangat sesuai)

S2 (sesuai)

S3 (sesuai bersyarat)

N (tidak sesuai)

Kondisi Eksisting

Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Kawasan Inti dengan Tema Ecovillage Parameter S1 (sangat sesuai) S2 (sesuai) S3 (sesuai bersyarat) N (tidak sesuai) Kondisi Eksisting

Setelah ditentukan lokasi spesifik yang akan menjadi kawasan inti berdasarkan kriteria kesesuaian lahan yang dibutuhkan untuk tiap tema, selanjutnya pada tiap kawasan inti tersebut diperlukan identifikasi terhadap : 1. kegiatan sebagai daya tarik utama 2. kegiatan sebagai daya tarik pendukung 3. kebutuhan sarana dan prasarananya yang sesuai dengan kondisi lokasi tersebut. 2. Analisis Daya Dukung Kawasan Inti Analisis daya dukung yang digunakan merupakan analisis daya dukung fisik untuk menilai kesesuaian antara sumber daya fisik yang terdapat pada kawasan tersebut dengan kemampuan memberi toleransi terhadap kunjungan wisatawan sehingga keaslian sumber daya fisik dari kawasan tersebut tetap terjaga. a. Kriteria Tingkat Daya Dukung untuk Kawasan Inti dengan Tema Budaya Bahari No 1 Tipe Pantai 2 3 Bentuk Tipe Garis Pantai Parameter Tinggi Terjal, karang, berpasir Teluk terbuka Stabil Penilaian Sedang Terjal, karang, berpasir, sedikit berlumpur Teluk terbuka Stabil Rendah Sangat landai, berlumpur Teluk tertutup Labil Kondisi Eksisting

No 4 5 6

Parameter Arus Sungai (m/dtk) Amplitudo Rataan (m) Posisi Hamparan Lahan > 1,5 1,1 2,1 Dapat diairi dan dikeringkan Liat berpasir, tidak bergambut, tidak berpyrit Dekat sungai dan mencukupi 15 18 > 100 < 2.000

Penilaian 0,5 1,5 0,7 1,1 2,1 2,9 Dapat diairi dan dikeringkan Liat berpasir, tidak bergambut, pyrit rendah Dekat sungai dan mencukupi 10 < 15 > 18 30 50 100 2.000 2.500 < 0,5 < 0,7 dan > 0,9 Di bawah rataan surut terendah Lumpur/pasir bergambut berpyritt Dekat sungai dan tingkat siltasi tinggi < 10 dan > 30 < 50 > 2.500

Kondisi Eksisting

7 Kualitas Tanah

8 Air Tanah 9 10 11

Salinitas (ppt) Jalur Hijau (m) Curah Hujan (mm/thn)

b. Kriteria Tingkat Daya Dukung untuk Kawasan Inti dengan Tema Budaya No Parameter Tinggi Penilaian Sedang Rendah Kondisi Eksisting

c. No

Kriteria Tingkat Daya Dukung untuk Kawasan Inti dengan Tema Ecovillage Parameter Tinggi Penilaian Sedang Rendah Kondisi Eksisting

2.1.1.3 Ekonomi Regional

Analisis perekonomian dilakukan dengan tujuan untuk melihat karakteristik ekonomi wilayah dan struktur aktivitas perekonomian di kawasan perencanaan saat ini sehingga dapat diketahui sektor utama yang dapat dijadikan sebagai motor penggerak ekonomi kawasan perencanaan yang dalam pelaksanaannya dapat berfungsi sebagai salah satu sektor prioritas dalam program program maupun alokasi dana pembangunan dan juga sebagai tempat investasi dari kalangan swasta yang ingin berusaha di kawasan tersebut. Data-data yang dibutuhkan untuk mengetahui gambaran kondisi ekonomi dan sektor-sektor perekonomian di kawasan perencanaan adalah sebagai berikut : Lapangan Besarnya Banyaknya penyerapan Besarnya Investasi No Usaha PDRB Tenaga Kerja/ tahun 1 2 3 4 5 6
2.1.1.4 Kependudukan

Dalam usaha peningkatan kesejahteraan masyarakat, maka dibutuhkan identifikasi terhadap gambaran potensi penduduk sehingga dapat ditentukan perencanaan pengembangan/ pemberdayaan masyarakat yang sesuai serta perencanaan pembangunan fasilitas yang akan mendukung pemebrdayaan tersebut. Variabel yang dibutuhkan dalam menilai kondisi potensi penduduk adalah sebagai berikut No 1 2 3 4 5 6 Variabel Kelompok Usia Jenis Kelamin Tingkat Pendidikan Angka Partisipasi sekolah Angka Angkatan kerja Angka bukan angkatan kerja Sumber Data Data Sekunder Data Sekunder Data Sekunder Data Sekunder Data Sekunder Data Sekunder Metode Kondisi Eksisting

2.1.2

Daya Tarik

2.1.2.1 Pengelompokan Daya Tarik 2.1.2.1.1 Pengelompokan Berdasarkan Jenis

Daya tarik dikelompokkan berdasarkan jenisnya yaitu daya tarik alam, daya tarik buatan dan daya tarik budaya. Pengelompokan berdasarkan jenis ini berfungsi untuk memetakan perbedaan karakteristik yang terdapat pada tiap jenis, sehingga perencanaan yang dibutuhkan pada tahap pengembangan daya tarik tersebut telah sesuai dengan kebutuhannya. Untuk mengetahui karakteristik dari tiap jenis daya tarik, maka perlu diidentifikasi variabel sebagai berikut :

No 1 2 3 4 5 6

Variabel Bentuk Kepemilikan Musim teramai Musim terbaik Asal Wisatawan Sub Atraksi yang terdapat di daya tarik Media Promosi

Sumber Data Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer

Metode Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner

Instrumen Kuesioner Tarik Kuesioner Tarik Kuesioner Tarik Kuesioner Tarik Kuesioner Tarik Kuesioner Tarik Daya Daya Daya Daya Daya Daya

Hasil pengelompokan daya tarik berdasarkan jenisnya berupa tabel di bawah ini : Daya Tarik Buatan

Karakteristik Bentuk Kepemilikan Musim teramai Musim terbaik Asal Wisatawan Sub Atraksi Media Promosi

Daya Tarik Alam

Daya Tarik Budaya

2.1.2.1.2 Pengelompokan Berdasarkan Lokasi

Identifikasi daya tarik berdasarkan wilayah administratif dilakukan untuk mengetahui pola persebaran daya tarik, sehingga dapat ditentukan perencanaan kawasan inti yang tepat. Variabel

yang perlu diidentifikasi untuk mengetahui kelompok daya tarik berdasarkan lokasinya adalah sebagai berikut : No 1 2 Variabel Jenis Daya Tarik Lokasi Daya Tarik Sumber Data Data Primer Data Primer Metode Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Instrumen Kuesioner Daya Tarik Kuesioner Daya Tarik, Peta KSPN

Hasil pengelompokan daya tarik berdasarkan persebaran lokasi berupa tabel di bawah ini : Wilayah Administratif Jenis Daya Tarik Desa A Daya Tarik Alam Daya Tarik Buatan Daya Tarik Budaya Untuk mengetahui konsentrasi persebaran daya tarik, maka harus digambarkan pada peta KSPN.
2.1.2.2 Kematangan Daya Tarik Wisata

Desa B

Desa C

Daya tarik wisata merupakan komponen supply yang utama dari suatu destinasi. Dalam usaha mempertahankan kualitas daya tarik wisata agar tetap menjadi tujuan utama wisatawan berkunjung ke suatu destinasi, maka diperlukan pemahaman mengenai pengembangan seperti apa yang memang diperlukan oleh daya tarik tersebut. Jenis pengembangan dapat ditentukan jika tingkat kematangan daya tarik tersebut diketahui. Parameter yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kematangan dari suatu destinasi adalah kondisi pertumbuhan daya tarik sebagai bagian dari penawaran wisata dan keadaan pasar wisata sebagai bagian dari permintaan yang selanjutnya akan dipetakan ke dalam matriks BCG (Boston Consulting Group) seperti bagan di bawah ini.

Pertumbuhan Produk (Supply)

Children Problem

Stars

Dogs

Cash Cows

Pasar Wisata (demand)

1. Star Daya tarik memiliki peluang pertumbuhan dan profitabilitas jangka panjang terbaik. Daya tarik dengan kondisi ini perlu melakukan integrasi ke depan, integrasi ke belakang, penetrasi pasar, serta pengembangan produk.

2. Cash Cows Daya tarik ini memiliki posisi pangsa pasar relatif yang tinggi tetapi kemampuan bersaingnya rendah dengan tingkat pertumbuhan yang rendah. Disebut cash cows karena daya tarik menghasilkan pendapatan melebihi kebutuhannya. Daya tarik dengan kondisi ini harus dikelola untuk mempertahankan posisi kuatnya selama mungkin, salah satunya melalui diversifikasi. 3. Problem Child Daya tarik memiliki posisi pangsa pasar relatif yang rendah, namun kemampuan bersaing cukup tinggi dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi. Disebut problem child karena pengelola daya tarik harus memutuskan apakah hendak memperkuat bisnis dengan strategi yang intensif atau menjualnya. 4. Dog Daya tarik memiliki posisi pangsa pasar relatif yang rendah dengan kemampuan bersaing dengan pertumbuhan produk yang juga rendah. Kondisi ini dapat disebabkan oleh karena posisi internal dan eksternal yang lemah. Masing-masing parameter memiliki variabel dan kriteria penilaian sebagai berikut : 1. Parameter Kondisi Pertumbuhan Daya Tarik Wisata Sumber No Variabel Metode Instrumen Kriteria Skor Data Keberagaman Data Observasi, Kuesioner 1 = memiliki 1-2 sub atraksi 1 sub atraksi Primer Penyebaran Daya Tarik 2 = memiliki 3-4 sub atraksi yang dimiliki Kuesioner 3 = memiliki lebih dari 4 sub atraksi Keunikan yang Data Observasi, Kuesioner 1 = Memiliki kesamaan dengan 2 ditawarkan primer Penyebaran Daya Tarik daya tarik lain tingkat lokal Kuesioner 2 = Memiliki kesamaan dengan daya tarik lain di tingkat provinsi sampai nasional 3 = Hanya memiliki kesamaan dengan daya tarik di tingkat dunia dengan jumlah maksimal 3 daya tarik Tata kelola Data Observasi, Kuesioner 1 = Jumlah SDM kurang dan 3 Primer Penyebaran Daya Tarik belum ada SOP yang jelas Kuesioner 2 = Jumlah SDM kurang namun sudah ada SOP mengenai kepengelolaan 3 = Jumlah SDM cukup dan sudah ada SOP mengenai kepengelolaan Ketersediaan Data Observasi, Kuesioner 1 = Memiliki sedikit fasilitas 4 fasilitas Primer penyebaran Daya Tarik pendukung dan kurang

No

Variabel pendukung

Sumber Data

Metode kuesioner

Instrumen 2=

Kriteria Skor berfungsi dengan baik Memiliki sedikit fasilitas pendukung dan berfungsi dengan baik Memiliki fasilitas lengkap dan seluruhnya berfungsi dengan baik Belum ada media promosi yang digunakan Menggunakan 1-3 media promosi Menggunakan lebih dari 3 media promosi pariwisata yang ada Tidak terdapat moda transportasi langsung menuju daya tarik Hanya ada 1- 2 jenis moda transportasi yang langsung menuju daya tarik Terdapat lebih dari 2 jenis moda transportasi yang langsung menuju daya tarik Hari beroperasi tidak tentu Terdapat 1-3 hari beroperasi dalam seminggu Setiap hari beroperasi Tidak ada fasilitas pendukung di sekitar daya tarik Hanya terdapat 1-2 fasilitas pendukung di sekitar daya tarik Terdapat lebih dari 2 fasilitas pendukung di sekitar daya tarik

3=

Media Promosi Data yang Primer digunakan

Penyebaran Kuesioner

Kuesioner 1 = Daya Tarik 2= 3=

Ketersediaan Moda Transportasi

Data primer

Observasi, Penyebaran kuesioner

Kuesioner daya tarik

1=

2=

3=

Waktu Operasional

Data primer

Observasi, penyebaran kuesioner Observasi, penyebaran kuesioner

Kuesioner daya tarik

1= 2= 3= 1=

Ketersediaan Fasilitas pendukung di sekitarnya

Data primer

Kuesioner daya tarik

2=

3=

Klasifikasi Skor : Tingkat Pertumbuhan Produk Tinggi Tingkat Pertumbuhan Produk Rendah 2. Parameter Kondisi Pasar Wisata

: :

No 1

Variabel Tingkat Pertumbuhan Pengunjung

Sumber Data Data Primer

Metode Observasi, Penyebaran Kuesioner

Instrumen Kuesioner 1 = Daya Tarik 2=

Kriteria Skor Mengalami penurunan dalam 3 tahun terakhir Mengalami kenaikan dan penurunan dalam 3 tahun terakhir (tidak stabil) Mengalami kenaikan setiap tahunnya dalam 3 tahun terakhir Mengalami penurunan dalam 3 tahun terakhir Mengalami kenaikan dan penurunan dalam 3 tahun terakhir (tidak stabil) Mengalami kenaikan setiap tahunnya dalam 3 tahun terakhir Tidak ada kegiatan aktif yang dapat dilakukan wisatawan Hanya sedikit sub atraksi yang memiliki kegiatan aktif denga wisatawan Seluruh sub atraksi yang tersedia merupakan kegiatan aktif dengan wisatawan Memiliki jumlah kunjungan terendah dibanding daya tarik sejenis lainnya Memiliki jumlah kunjungan rata-rata/ hampir sama dengan daya tarik sejenis lainnya Memiliki jumlah kunjungan tertinggi dibanding dengan daya tarik sejenis lainnya

3=

Tingkat pendapatan

Data Primer

Observasi, Penyebaran Kuesioner

Kuesioner 1 = Daya Tarik 2=

3=

Tingkat Partisipasi Wisatawan dalam kegiatan di daya tarik

Data Primer

Observasi, penyebaran kuesioner

Kuesioner 1 = Daya Tarik 2=

3=

Perbandingan jumlah wisawatawan dengan daya tarik sejenis lainnya

Data Primer

Penyebaran kuesioner

Kuesioner daya tarik

1=

2=

3=

Klasifikasi Skor : Tingkat Pangsa Pasar Tinggi Tingkat Pangsa Pasar Rendah

: :

2.1.3

Aksesibilitas

Analisis aksesibilitas dilakukan untuk menentukan kebutuhan jaringan pergerakan dan fasilitas penunjangnya menurut struktur dan pola tapak kawasan, sehingga tercipta ruang yang lancar, aman, nyaman, dan terpadu, berdasarkan pertimbangan distribusi penduduk, tenaga kerja, daya dukung lahan, daya dukung lingkungan jalan, daya dukung prasarana yang ada.
2.1.3.1 Kebutuhan Pengembangan Sarana Transportasi

Dalam merencanakan kebutuhan sarana transportasi yang akan mendukung pergerakan baik wisatawan maupun masyarakat saat menuju maupun berada di dalam kawasan pariwisata, maka dibutuhkan penilaian terhadap komponen komponen di bawah ini Sumber Variabel Metode Instrumen Penilaian Kondisi Eksisting No Data Moda 1 Transportasi Halte dalam 2 kawasan Jalur angkutan 3 publik Kapasitas tiap 4 trayek Kondisi 5 Pelayanan Kondisi 6 keamanan Model 7 pengelolaan transportasi
2.1.3.2 Kebutuhan Pengembangan Prasarana Transportasi

Analisis ini bertujuan untuk menilai kemngkinan pengembangan prasarana transportasi yang meliputi jaringan jalan dan kebutuhan pendukungnya mulai dari jaringan jalan yang menjadi pintu gerbang kawasan pariwisata sampai ke tingkat jalan lokal dengan mempertimbangkan jaringan jalan yang sudah atau yang sedang direncanakan. Analisis ini membutuhkan penilaian terhadap sejumlah komponen, antara lain : Sumber Variabel Metode Instrumen Penilaian Kondisi Eksisting No Data Entry Gate 1 Kawasan Titik 2 kemacetan dan trouble spot lainnya Ketersediaan 3

No

Variabel signage Prasarana untuk pejalan kaki (trotoar, halte) Kondisi Penataan Parkir Manajemen Lalu lintas

Sumber Data

Metode

Instrumen

Penilaian Kondisi Eksisting

6
2.1.4

Fasilitas dan Prasarana Umum

2.1.4.1 Kebutuhan Sarana dan Prasarana Umum

Tujuan kegiatan ini adalah untuk menghitung perkiraan jumlah kebutuhan fisik di kawasan perencanaan berdasarkan daya dukungnya. Untuk memperkirakan kebutuhan fasilitas dan utilitas pada kawasan perencanaan, digunakan beberapa model kebutuhan fasilitas dan utilitas yang bersumber dari : 1. Standar Pelayanan Kebersihan Air Limbah Perkiraan kebutuhan fasilitas dan utilitas pada kawasan akan mencakup kebutuhan jenis, jumlah, serta kebutuhan ruang. Perkiraan dilakukan dengan mengaplikasikan standar kebutuhan yang ada untuk desa-desa yang ada di KSPN, serta dapat mengacu pada berbagai studi dan standar perencanaan yang ada. Secara garis besar, standar perencanaan dibagi menjadi 3, yaitu: Standar Internasional, merupakan bakuan yang didasarkan atas ketentuan umum dan diterapkan di banyak negara sebagai suatu kebutuhan dan persyaratan. Standar Nasional, yang menjadi pedoman umum yang digunakan di Indonesia. Standar ini hanya memberikan patokan umum, sesuai dengan karakteristik serta tingkat kebutuhannya Standar lokal yakni ketentuan yang berlaku khusus untuk suatu wilayah atau kota tertentu. standar ini disusun berdasarkan situasi dan kondisi khusus dari wilayah atau kota tersebut yang di dalamnya dipertimbangkan ketentuan khusus lain, seperti tradisi dan tata nilai budaya yang berlaku.

2. Standar Penyediaan Air Bersih Terdapat 5 (lima) komponen yang akan digunakan sebagai dasar pengembangan sistem penyediaan air bersih di masa yang akan datang. Komponen rencana tersebut antara lain sebagai berikut : a. b. Kebutuhan Air Rencana Tingkat Pelayanan

c. d. e.

Rencana Pengembangan Sumber Rencana Pengembangan Transmisi/distribusi Pengendalian Kebocoran Air.

PDAM telah menyediakan suatu standar bagi pengadaan air bersih dimana standar tersebut didasarkan pada pedoman Direktorat Air Bersih yang telah memperhitungkan standar kebutuhan air bersih untuk industri dan rumah tangga. Ketentuannya ialah 125 ltr/orang/hari untuk konsumsi umum dan 10 lt/pekerja/hari bagi kawasan industri.. Suatu kebijakan lain telah ditetapkan pula bahwa perbandingan antara sambungan langsung ke rumah tangga dan kran umum berkisar antara 50% : 50% hingga 80% : 20%, tergantung pada situasi lingkungan permukimannya. Setiap kran umum diasumsikan melayani 200 orang, sedangkan sambungan rumah tangga untuk 5 10 orang. Jumlah penduduk yang ingin dilayani oleh PDAM berdasarkan informasi ialah sekitar 75% dari jumlah keseluruhan penduduk yang ada atau yang direncanakan, dengan asumsi kebutuhan air minum dihitung sebesar 150 lt/orang/hari. 3. Standar Penyediaan Listrik Berdasarkan standar kebijaksanaan, kebutuhan konsumsi listrik yang ditetapkan untuk masingmasing kelompok pelanggan sebagai berikut : a. b. c. d. Rumah Tangga mengkomsumsi listrik sebesar 170 Watt/jiwa. Industri mengkomsumsi listrik sebesar 250 KVA/Ha. Perdagangan dan jasa mengkomsumsi listrik sebesar 80 KVA/Ha. Sosial/Fasilitas Umum mengkomsumsi listrik sebesar 80 KVA/Ha

4. Standar Penyediaan Komunikasi Untuk melayani kebutuhan telepon, dibutuhkan pengembangan sistem jaringan distribusinya yang meliputi fasilitas Sentral Telepon Otomat (STO), Rumah Kabel (RK) dan Distribution Point (DP). Perkiraan kebutuhan RK dan DP dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut : a. b.
2.1.5

Untuk 1 RK memiliki kapasitas antara 1.200 1.400 SST Untuk 1 DP memiliki kapasitas antara 10 20 SST
Fasilitas Pariwisata

2.1.5.1 Persebaran Akomodasi

Identifikasi akomodasi berdasarkan wilayah administratif dan tipe wilayah (pantai dan nonpantai) dilakukan untuk mengetahui pola persebaran dan konsentrasi akomodasi, sehingga dapat ditentukan perencanaan serta kebijakan (termasuk pengendalian ) yang tepat bagi tiap wilayah tersebut. Variabel yang perlu diidentifikasi untuk mengetahui kelompok akomodasi berdasarkan lokasinya adalah sebagai berikut : No 1 Variabel Lokasi Akomodasi Sumber Data Data Primer Metode Observasi, Penyebaran Kuesioner Instrumen Kuesioner Akomodasi, Peta Akomodasi KSPN

No 2

Variabel Klasifikasi Akomodasi Bentuk dan status kepemilikan Harga

Sumber Data Data Primer

Metode Observasi, Penyebaran Kuesioner, in depth interview Observasi, Penyebaran Kuesioner, in depth interview Observasi, Penyebaran Kuesioner, in depth interview Observasi, Penyebaran Kuesioner

Instrumen Kuesioner Akomodasi

Data Primer

Kuesioner Akomodasi

Data Primer

Kuesioner Akomodasi

Jumlah Kamar/ Kapasitas

Data Primer

Kuesioner Akomodasi

Hasil pengelompokan akomodasi berdasarkan persebaran lokasi berupa tabel di bawah ini : Wilayah Administratif Tipe Wilayah Karakteristik Akomodasi (Jumlah) Klasifikasi Akomodasi Bintang Non Bintang Vila Pondok Wisata Bentuk kepemilikan Desa A Desa B Desa C Pantai Non Pantai

Harga

Jumlah Kamar/ Kapasitas

2.1.5.2 Kesesuaian Klasifikasi dengan PP

Usaha Akomodasi merupakan salah satu usaha pariwisata yang klasifikasi telah diatur dalam PP no 52 tahun 2012. Dimana dalam PP tersebut terdapat penjelasan detail mengenai fasilitas yang minimal harus dimiliki oleh tiap kelas hotel. Untuk mengidentifikasi apakah karakteristik dari tiap kelas usaha akomodasi tersebut sudah sesuai dengan klasifikasi pada PP, maka dilakukan pengelompokan dengan menggunakan analisis cluster. Variabel yang dibutuhkan dalam analisis cluster usaha akomodasi ini antara lain : No 1 Variabel Klasifikasi Akomodasi Fasilitas yang dimiliki Jumlah Kamar yang tersedia Sumber Data Data Primer Metode Observasi, Penyebaran Kuesioner, in depth interview Observasi, Penyebaran Kuesioner, in depth interview Observasi, Penyebaran Kuesioner, in depth interview Instrumen Kuesioner Akomodasi

Data Primer

Kuesioner Akomodasi

Data Primer

Kuesioner Akomodasi

Hasil pengelompokan akomodasi berdasarkan klasifikasi pada PP no 52 tahun 2012 berupa tabel di bawah ini : Klasifikasi Akomodasi Karakteristik Akomodasi Bintang Non Bintang Pondok Wisata Vila Fasilitas yang dimiliki

Jumlah Kamar yang tersedia

2.1.5.3 Persebaran Usaha Informal Pariwisata

Pertumbuhan usaha informal yang terdapat di suatu destinasi tidak dapat dihindari sebagai dampak dari adanya kegiatan pariwisata. Identifikasi terhadap persebaran usaha informal yang terdapat di kawasan wisata ini penting dilakukan untuk merencanakan penanganan yang tepat agar usaha informal tersebut tetap dapat mengakomodir kepentingan pelakunya dan tanpa memberi dampak negatif terhadap kegiatan pariwisata. Variabel yang dibutuhkan dalam mengidentifikasi kondisi usaha informal antara lain : No 1 2 3 4 Variabel Lokasi Jenis Usaha Profil tenaga Kerja Pendapatan Sumber Data Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer Metode Observasi Observasi, Interview Observasi, Interview Observasi, Interview Interview guideline Interview guideline Interview guideline Instrumen

No 5

Variabel Permasalahan yang dihadapi dalam menjalankan usaha Harapan untuk pengembangan usaha

Sumber Data Data Primer

Metode Observasi, Interview

Instrumen Interview guideline

Data Primer

Observasi, Interview

Interview guideline

2.1.5.4 Pengelompokan UKM

Usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan salah satu bagian penting dalam membangun perekonomian daerah. Dalam kegiatan pariwisata, UKM dapat dijadikan andalan untuk menyediakan kebutuhan wisatawan untuk melengkapi pengalaman wisatanya. Pengembangan UKM ini harus didukung dengan kebijakan-kebijakan yang kondusif, serta pemberdayaanpemberdayaan pelakunya. Sehingga diperlukan adanya pengelompokan terhadap UKM-UKM yang terdapat di kawasan wisata untuk membuat kebijakan yang tepat serta keputusan pemberian bantuan baik dalam bentuk modal usaha, kemudahan akses pembiayaan, maupun pemberdayaan yang sesuai dengan kebutuhan. No 1 2 3 4 5 6 7 Variabel Lokasi Jenis Usaha Profil tenaga Kerja Pendapatan Pengeluaran tiap hari/bulan/ tahun Asal Wisatawan/ Konsumen Permasalahan yang dihadapi dalam menjalankan usaha Bentuk dukungan pemerintah terhadap usaha Bentuk Kerjasama dengan usaha lain Harapan untuk pengembangan usaha
Masyarakat Lokal

Sumber Data Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer

Metode Observasi Observasi, Interview Observasi, Interview Observasi, Interview Observasi, Interview Observasi, Interview Observasi, Interview

Instrumen

Interview guideline Interview guideline Interview guideline Interview guideline Interview guideline Interview guideline

Data Primer

Observasi, Interview

Interview guideline

9 10
2.1.6

Data Primer Data Primer

Observasi, Interview Observasi, Interview

Interview guideline Interview guideline

Perencanaan Pengembangan Kawasan Pariwisata berbasis peran masyarakat (community-based tourism) adalah perencanaan pembangunan dengan orientasi yang optimal pada pendayagunaan masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung, masyarakat diberikan kesempatan aktif beraspirasi dan berkontribusi untuk merumuskan program-program pengembangaan, baik konsep

perancangan kawasan maupun aktivasi aktivasi kegiatan di dalamnya yang sesuai tata nilai yang berlaku di masyarakat.
2.1.6.1 Sosial Budaya

Kondisi sosial budaya merupakan dasar suatu kelompok masyarakat dalam menjalankan kehidupannya. Analisis ini bertujuan untuk melihat keberadaan warisan budaya yang digunakan masyarakat dalam mengelola kehidupan sosial dan lingkungannya serta peran dari pranata sosial di suatu kawasan, sehingga perencanaan suatu kawasan nantinya tidak akan bertentanagn dengan budaya maupun adat istiadat yang berlaku. Variabel yang dibutuhkan untuk menilai kondisi sosial budaya suatu kawasan antara lain No 1 2 3 4 5 6 Variabel Keberagaman suku Bahasa lokal Modal Sosial Sumber Data Data Sekunder Data Sekunder Data Sekunder Metode Kondisi Eksisting

Keberadaan situs Data Sekunder bersejarah Keberadaan desa adat Data Sekunder Nilai, norma yang berlaku Data Sekunder

2.1.6.2 Tingkat Partisipasi Masyarakat Lokal

Bentuk partisipasi masyarakat lokal terhadap perencanaan pengembangan KSPN terdiri dari sejumlah keikutsertaan yang mereka lakukan baik dalam kegiatan pariwisata itu sendiri maupun dalam tahapan perencanaan partisipatif yang terdiri dari : 1. Tahap Persiapan yaitu pengenalan program perencanaan pengembangan KSPN penyusunan tujuan, kebutuhan, dan kepentingan semua pihak, pelibatan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders), penciptaan dan sosialisasi mekanisme, serta analisis kebutuhan dan sumber daya pengembangan kawasan. 2. Tahap Perumusan Strategi Perencanaan dan Publikasi yang berupa perencanaan tahapan, monitoring dan evaluasi, persetujuan legal, strategi kerja sama dengan wakil-wakil komunitas, penyebaran informasi dan publikasi program 3. Tahap Pelaksanaan dimana pada tahap ini akan dilakukan peninjauan dan review/ monitoring bersama dengan seluruh stakeholder dan masyarakat lokal. Variabel yang dibutuhkan untuk menilai tingkat partisipasi masyarakat lokal adalah sebagai berikut : Variabel Bentuk partisipasi masyarakat lokal dalam Sumber Data Data Primer Metode Penyebaran Kuesioner Instrumen Kuesioner Masyarakat lokal

Variabel tahap perencanaan kawasan Bentuk partisipasi masyarakat lokal dalam kegiatan pariwisata

Sumber Data

Metode

Instrumen

Data Primer

Penyebaran Kuesioner

Kuesioner Masyarakat lokal

2.1.6.3 Potensi Masyarakat Lokal

Potensi masyarakat lokal merupakan modal dasar dalam menggerakkan Progran Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. Inti kegiatan PNPM Mandiri di masyarakat kelurahan/desa adalah proses menumbuhkembangkan kemandirian dan keberlanjutan upayaupaya penanggulangan kemiskinan dari, oleh dan untuk masyarakat, melalui proses pembelajaran dan pelembagaan nilai-nilai universal kemanusiaan (value based development), prinsip-prinsip universal kemasyarakatan, serta prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pelaksanaan PNPM Mandiri adalah kegiatan yang dilaksanakan sepenuhnya oleh masyarakat di desa/kelurahan setempat melalui kelembagaan masyarakat. Peran pendampingan pihak luar (Fasilitator, Korkot, Pemda, dll), hanyalah sebagai pendamping pembelajaran agar inisiatif, prakarsa, komitmen, kepedulian, motivasi, keputusan dan usaha dari masyarakat berbasis pada kebutuhan masyarakat. Salah satu tahapan awal dalam pelaksanaan PNPM Mandiri ini adalah pemetaan swadaya yang merupakan potensi maupun permasalahan yang ada di masyarakat. Pemetaan swadaya ini memetakan variabel variabel di bawah ini Variabel Keberadaan lembaga masyarakat ( Fungsi dan Kinerja) Usaha Lokal Produk lokal Kegiatan pemberdayaan yang eksisting Tingkat Pendidikan masyarakat lokal Sumber Data Data Sekunder Metode Instrumen

Data Sekunder Data Sekunder Data Sekunder Data Sekunder

2.1.6.4 Dampak Pariwisata terhadap Masyarakat Lokal

Masyarakat lokal merupakan tuan rumah bagi kegiatan wisata di wilayahnya, sehingga sangat penting untuk melakukan penilaian terhadap persepsi masyarakat lokal berkaitan dengan kegiatan pariwisata di wilayahnya. Masyarakat lokal yang paling dapat menilai apa yang sesuai maupun tidak sesuai dengan kegiatan pengembangan kepariwisataan di wilayahnya serta penting untuk

mengetahui harapan mereka terhadap adanya kegiatan kepariwisataan. Variabel yang dibutuhkan untuk mengetahui persepsi masyarakat lokal antara lain : Sumber Metode Instrumen Variabel Data Data Primer Penyebaran Kuesioner Kuesioner Masyarakat Penilaian terhadap lokal dampak positif pariwisata Penilaian terhadap dampak negatif pariwisata Harapan dari adanya kegiatan pariwisata Data Primer Penyebaran Kuesioner Kuesioner Masyarakat lokal Kuesioner Masyarakat lokal

Data Primer

Penyebaran Kuesioner

Hasil penilaian dan harapan tersebut selanjutnya direkap dalam bentuk tabel yang akan dapat menjelaskan aspek apa saja yang harus diperbaiki dan dipertahankan dalam kegiatan pengembangan kepariwisataan guna mengakomodir kepentingan masyarakat lokal. Dampak Positif yang paling banyak dirasakan Dampak Negatif yang paling banyak dirasakan Harapan dari adanya kegiatan pariwisata

Selanjutnya untuk mengetahui dampak apa yang paling mempengaruhi tingkat dukungan masyarakat terhadap adanya kegiatan pariwisata di daerah, dilakukan analisis multiple regresi dengan bentuk persamaan
y = a X1 + b X2 + c X3 + C

dimana, y = nilai variabel dependen

X1 - X3 = variabel independen a, b, c = nilai dari tiap variabel independen dimana, variabel independen yang diukur antara lain Sumber Metode Variabel Data Data Primer Penyebaran Kuesioner Penilaian terhadap masing masing dampak positif pariwisata Penilaian terhadap masing-masing dampak negatif pariwisata Data Primer Penyebaran Kuesioner

Instrumen Kuesioner Masyarakat lokal Kuesioner Masyarakat lokal

Sedangkan variabel dependen yang digunakan dalam analisis ini adalah

Variabel Tingkat dukungan terhadap adanya kegiatan pariwisata


2.1.7 Investasi

Sumber Data Data Primer

Metode Penyebaran Kuesioner

Instrumen Kuesioner Masyarakat lokal

2.1.7.1 Iklim Investasi

Untuk menciptakan realisasi investasi yang berkesinambungan diperlukan sebuah iklim investasi yang kondusif. Iklim investasi yang kondusif dalam perekonomian merupakan harapan bagi masyarakat, investor, pelaku usaha dan pemerintah. Menurut Bank Dunia (2005), iklim investasi didefinisikan sebagai suatu kumpulan faktor-faktor lokasi tertentu yang membentuk kesempatan dan dorongan bagi badan usaha untuk melakukan investasi secara produktif, menciptakan pekerjaan dan perkembangan kegiatan usaha. Berdasarkan Tata Kelola Ekonomi Daerah (TKED), untuk menilai iklim investasi di diperlukan penilaian terhadap variabel yang antara lain terdiri dari Sumber Indikator Kondisi Metode Instrumen Variabel Data Penilaian Eksisting Data In depth Interview Wakti yang Akses Primer interview guideline dibutuhkan Lahan untuk Usaha dan pengurusan Kepastian status tanah Usaha Persepsi kemudahan perolehan lahan Persepsi tentang penggusuran lahan oleh Pemda Persepsi tentang keseluruhan permsalahan lahan usaha Persentase usaha yang memiliki Tanda Daftar KSPN, maka Klasifikasi Nilai Kondisi 0-25%= Akses lahan dan kepastian berusaha sangat buruk 26-50%= Akses lahan dan kepastian berusaha buruk 51-75%= Akses lahan dan kepastian berusaha baik 76-100%= Akses lahan dan kepastian berusaha sangat baik 0-25%= Perizinan usaha sangat buruk

Perizinan Usaha

Data Primer

In depth interview

Interview guideline

Variabel

Sumber Data

Metode

Instrumen

Indikator Penilaian Perusahaan Persepsi kemudahan perolehan TDP dan rata-rata waktu perolehan TDP Persepsi bahwa pelayanan izin usaha Persepsi tingkat hambatan izin usaha Tingkat dukungan Pemda terhadap pelaku usaha Tingkat kebijakan Pemda terkait usaha Tingkat pemecahan masalah dunia usaha oleh Pemda Adanya forum komunikasi antara Pemda dengan pelaku usaha

Kondisi Eksisting

Klasifikasi Nilai Kondisi 26-50%= Perizinan usaha buruk

51-75%= Perizinan usaha baik 76-100%= Perizinan usaha sangat baik 0-25%= Interaksi pemda dengan pelaku usaha sangat buruk 26-50%= Interaksi pemda dengan pelaku usaha buruk 51-75%= Interaksi pemda dengan pelaku usaha baik 76-100%= Interaksi pemda dengan pelaku usaha sangat baik 0-25%= Program pengembangan UKM sangat buruk 26-50%= Program

Interaksi Pemda dan Pelaku Usaha

Data Primer

In depth interview

Interview guideline

Program Pengemban gan UKM

Data Primer

In depth interview

Interview guideline

Kondisi dan bentuk Program pengembangan usaha eksisting Tingkat kepuasan terhadap

Variabel

Sumber Data

Metode

Instrumen

Indikator Penilaian program pengembangan usaha

Kondisi Eksisting

Pajak Daerah, Retribusi dan Biaya Transaksi Lainnya

Data Primer

In depth interview

Interview guideline

Tingkat kesesuaian pajak / biaya transaksi lain yang diberikan dengan pelayanan yang diperoleh

Klasifikasi Nilai Kondisi pengembangan UKM buruk 51-75%= Program pengembangan UKM baik 76-100%= Program pengembangan UKM sangat baik 0-25%= Kebijakan pajak dan biaya transaksi lainnya sangat buruk 26-50%= Kebijakan pajak dan biaya transaksi lainnya buruk 51-75%= Kebijakan pajak dan biaya transaksi lainnya baik 76-100%= Kebijakan pajak dan biaya transaksi lainnya sangat baik 0-25%= Kondisi keberadaan lembaga pembiayaan

Lembaga Pembiayaan

Data Sekunder

Jumlah lembaga pembiayaan

Variabel

Sumber Data

Metode

Instrumen

Indikator Penilaian Tingkat kepuasan terhadap peranan lembaga pembiayaan Tata Cara Penanganan Pembiayaan

Kondisi Eksisting

Keamanan

Data Primer, Data Sekunder

Tingkat kejadian yang mengganggu keamanan (kriminal, terorisme, demonstrasi dll) yang terjadi Kualitas penanganan masalah keamananan (kriminal, terorisme, demonstrasi dll)

Klasifikasi Nilai Kondisi sangat buruk 26-50%= Kondisi keberadaan lembaga pembiayaan buruk 51-75%= Kondisi keberadaan lembaga pembiayaan baik 76-100%= Kondisi keberadaan lembaga pembiayaan sangat baik 0-25%= Kondisi keamanan sangat buruk

26-50%= Kondisi keamanan buruk

51-75%= Kondisi keamanan baik 76-100%= Kondisi keamanan sangat baik

2.1.7.2 Potensi Investasi

Penilaian potensi investasi merupakan salah satu dasar dalam melakukan perencanaan investasi. Rencana investasi merupakan rujukan bagi para pemangku kepentingan untuk menghitung kelayakan investasi dan pembiayaan suatu penataan atau pun menghitung tolok ukur keberhasilan investasi, sehingga tercapai kesinambungan pentahapan pelaksanaan perencanaan pembangunan kawasan. Rencana investasi ini memiliki strategi sebagai berikut : 1. Penetapan paket kegiatan pada tiap jangka waktu pentahapan dan penyiapan rincian sumber 2. Perencanaan pembiayaan meliputi perhitungan prospek ekonomi, besaran investasi yang dibutuhkan, keuntungan setiap paket 3. penyiapan pelibatan dan pemasaran paket pembangunan untuk masing-masing pelaku pembangunan 4. Penyiapan detail investasi tahunan sebagai pengendalian selama pelaksanaan Agar dapat melakukan strategi perencanaan investasi, maka dibutuhkan penilaian variabel yang merupakan potensi investasi sebagai berikut Variabel Sumber Data Metode Data Sekunder Survei Instansional Profil Investasi yang sedang berjalan Profil Invetasi yang akan datang Investasi yang dibutuhkan Data Sekunder Data Primer Survei Instansional Survei Instansional

2.2 Industri
Analisis Industri merupakan penilaian terhadap kemampuan usaha pariwisata dalam memenuhi permintaan pasar wisata dan memberikan pemasukan ekonomi terhadap kawasan tersebut serta penilaian terhadap kondisi persaingan yang terjadi antar usaha. Analisis industri ini meliputi : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Peta Industri Struktur Industri Income Multiplier / Pengganda Pendapatan Lokal Daya Saing SDM Kepariwisataan Peta Kemitraan usaha Peta usaha penguatan UKM
Peta Industri

2.2.1

Peta Industri menunjukkan hubungan keterkaitan antara satu sektor usaha pariwisata dengan sektor-sektor usaha lainnya. Keterkaitan ini dapat berupa keterkaitan ke depan (forward linkage) maupun keterkaitan ke belakang (backward linkage). Keterkaitan ke depan menggambarkan hubungan keterkaitan antar sektor dalam penjualan terhadap total penjualan output yang dihasilkan. Sedangkan keterkaitan ke belakang menggambarkan hubungan keterkaitan antar sektor dalam pembelian terhadap total pembelian input.

Data data yang harus diperoleh dagar dapat menggambarkan peta industri adalah sebagai berikut : Data Kerjasama sektor X dalam hal pembelian/ penyediaan bahan baku sebagai kebutuhan usahanya Kerjasama sektor X dalam hal penjualan output hasil usahanya
2.2.2 Struktur Industri

Sumber Data Data Primer

Metode In depth interview, penyebaran kuesioner In depth interview, penyebaran kuesioner

Instrumen Interview guideline, kuesioner pelaku usaha

Data Primer

Interview guideline, kuesioner pelaku usaha

Struktur Industri menunjukkan atribut industri yang mempengaruhi sifat persaingan. Elemen struktur industri antara lain pangsa pasar, konsentrasi dan hambatan. 1. Pangsa pasar persentase pasar yang ditentukan dalam ukuran unit maupun pendapatan. a. Hotel Variabel

Sumber Data Tingkat isian kamar Data Primer Jumlah kamar Lama tinggal Harga b. Restoran Variabel Tingkat isian kursi Kapasitas kursi Harga Data Primer Data Primer Data Primer

Metode Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Metode Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner

Instrumen Kuesioner Akomodasi Kuesioner Akomodasi Kuesioner Akomodasi Kuesioner Akomodasi

Sumber Data Data Primer Data Primer Data Primer

Instrumen Kuesioner F&B Kuesioner F&B Kuesioner F&B

Untuk lebih jelasnya, maka besarnya pendapatan untuk tiap sektor usaha dijabarkan dalam tabel di bawah ini Nama Usaha Pendapatan/ tahun Nama Usaha F&B Pendapatan/ tahun Akomodasi F&B 1 Akomodasi 1

Nama Usaha Akomodasi Akomodasi 2 Akomodasi 3 Akomodasi .... Akomodasi n Total

Pendapatan/ tahun

Nama Usaha F&B F&B 2 F&B 3 F&B .... F&B n Total

Pendapatan/ tahun

2. Konsentrasi pasar Ditentukan dengan CR4 (Concentration Ratio for The Biggest Four). Menurut Cramer (2009), CR4 merupakan penjumlahan pangsa pasar empat perusahaan terbesar dari suatu wilayah pasar. Nilai ini akan menunjukkan kondisi struktur industri, apakah berada pada pasar monopoli, oligopoli, monopolistik atau persaingan sempurna, seperti dijelaskan pada tabel di bawah ini : Struktur Pasar Kondisi Monopoli 1. Terdapat satu perusahaan yang menguasai 100 persen pangsa pasar (Pure Monopoly) 2. Tidak ada pesaing yang dapat masuk kedalam pasar 3. Harga tidak elastis Perusahaan Dominan 1. Terdapat satu perusahaan yang menguasai 50-100 persen (Dominant Firm) pangsa pasar. 2. Tidak memiliki pesaing terdekat Oligopoli Ketat 1. Terdiri dari empat perusahaan yang menguasai pangsa (Tight Oligopoy) pasar. 2. Empat perusahaan yang menguasai 60-100 persen pangsa pasar. Oligopoli Longgar 1. Terdapat empat perusahaan yang menguasai pangsa pasar (Loose Oligopoly) tidak lebih dari 40 persen. Persaingan Monopolistik 1. terdapat cukup banyak pesaing (Monopolistic Competition) 2. Pangsa pasar tertinggi dari masing-masing perusahaan tidak lebih dari 10 persen Persaingan Sempurna 1. Terdapat lebih dari 50 pesaing dalam suatu industri 2. Tidak ada perusahaan yang berpotensi menguasai pasar 3. Tingkat elastisitas harga cukup tinggi 3. Hambatan untuk masuk pasar Segala sesuatu yang memungkinkan terjadinya penurunan kesempatan atau kecepatan masuknya pesaing baru merupakan hambatan untuk masuk pasar. Salah satu proyeksi yang dapat digunakan untuk mengukur ini adalah MES (Minimum Efficiency of Scale).

Nilai ini menunjukkan apakah terdapat hambatan bagi pendatang baru untuk memiliki kesempatan yang baik untuk tetap bersaing secara sehat untuk mendapatkan pangsa pasar yang lebih besar. Menurut Comanor dan Wilson (1967), Nilai MES lebih dari 10% hambatan untuk masuk pasar cukup tinggi.

2.2.3 Pengganda Pendapatan Lokal Kegiatan pariwisata, selain harus dapat memenuhi kebutuhan wisatawan, juga harus dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat lokal dan pendapatan daerah. Untuk mengetahui berapa pendapatan dari usaha pariwisata yang menghasilkan pemasukan untuk masyarakat lokal, maka dibutuhkan identifikasi mengenai jenis pengeluaran operasional suatu usaha dan berapa persen dari tiap pengeluaran tersebut yang menggunakan sumber daya lokal. Variabel Klasifikasi Hotel Sumber Data Data Primer, Data Sekunder (Daftar hotel ) Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer Metode Wawancara, Survei instansional ( Dinas Pariwisata In depth Interview In depth Interview In depth Interview In depth Interview In depth Interview Instrumen Interview guideline

Total Pengeluaran Operasional Total Pengeluaran Tenaga Kerja Total Pengeluaran Non Tenaga Kerja Total Tenaga Kerja lokal Total Sumber daya lokal yang digunakan

Interview guideline Interview guideline Interview guideline Interview guideline Interview guideline

Setiappengeluaran usaha yang berdampak pada pengganda pendapatan lokal di atas dijelaskan pada ilustrasi di bawah ini.
Hotel

Pajak

Operasional

Tenaga Kerja

Kebutuhan Non Tenaga Kerja

Asing

Lokal Sanur

Bahan Baku dari Luar Sanur

Bahan Baku dari Sanur

Sehingga jumlah jenis usaha pariwisata dengan multiplier yang dihasilkannya dapat diketahui pada tabel sebagai berikut : Jenis Usaha Hotel Bintang Hotel Non Bintang Pondok Wisata Multiplier Rendah Multiplier Tinggi

Jenis Usaha Vila Restoran Toko Souvenir Usaha Wisata Tirta Usaha Biro Perjalanan Wisata Usaha Transportasi

Multiplier Rendah

Multiplier Tinggi

2.2.4 Daya Saing SDM Kepariwisataan Keberadaan SDM kepariwisataan berperan penting dalam pengembangan pariwisata karena dalam industri pariwisata, dimana perusahaan memiliki hubungan langsung yang bersifat intangible (tak berwujud) dengan konsumen (wisatawan) yang sangat bergantung pada kemampuan individu karyawan dalam membangkitkan minat dan menciptakan kesenangan serta kenyaman kepada para konsumennya (Lynch, 2000). Menurut WEF, daya saing SDM pariwisata ditentukan variabel di bawah ini : Variabel Jumlah Keikutsertaan dalam pendidikan formal Jumlah Keikutsertaan dalam lembaga pendidikan informal Kualitas sistem pendidikan Sumber Data Data Primer, Data Sekunder ( Data kependudukan/ pendidikan) Data Primer, Data Sekunder ( Data kependudukan/ pendidikan) Data Primer, Data sekunder ( Data IPM/Indeks Pembangunan Manusia) Data Primer, Data sekunder ( Daftar Fasilitas Pendidikan, Lembaga pariwisata) Metode In depth interview, Survei Instansional (BPS) In depth interview, Survei Instansional (BPS) In depth interview, Survei Instansional (BPS) Observasi, Survei instansional (Dinas Pendidikan Kota, Direktori Instrumen Interview guideline Kriteria Skor

Interview guideline

Interview guideline

Ketersediaan lembaga pelatihan dan penelitian

Interview guideline

Variabel Penerapan rekrutmen dan pelepasan karyawan Kemudahan perekrutan tenaga asing Jumlah tenaga kerja yang tersertifikasi

Sumber Data Data Primer

Metode LSM) In depth interview pelaku usaha In depth interview pelaku usaha In depth interview, Survei Instansional (BPS) In depth interview, surei instansional (Dinas Pariwisata

Instrumen Interview guideline

Kriteria Skor

Data Primer

Interview guideline Interview guideline

Data Primer, Data Sekunder (Data ketenagakerjaan)

Standar kerja yang diberlakukan

Data Primer, Data Sekundr (Data SKKNI pariwisata)

Interview guideline

2.2.5 Peta Kemitraan Usaha Kemitraan usaha adalah jalinan kerjasama usaha yang saling menguntungkan antara pengusaha kecil dengan pengusaha menengah/ besar (perusahaan mitra) disertai denga pembinaan dan pengembangan oleh pengusaha besar sehingga terbentuk hubungan yang saling menguntungkan, memperkuat dan membutuhkan. Pemetaan terhadap kemitraan usaha ini penting dilakukan untuk menilai sejauh mana usaha-usaha yang ada di KSPN mampu menjalin kerjasama dengan usaha lainnya serta potensi apa yang dapat dikembangkan dari kerjasama tersebut. Variabel yang dibutuhkan dalam memetakan kemitraan usaha, antara lain : Variabel Profil Perusahaan MitraKelompok Mitra Bidang Usaha Kemitraan antara Perusahaan Kelompok Mitra Sumber Data Data Primer Data Primer Metode In depth interview, FGD In depth interview, FGD In depth interview, FGD In depth interview, FGD Instrumen

Data Primer Pola Kemitraan antara Perusahaan-Kelompok Mitra Manfaat yang diperoleh baik Data Primer oleh perusahaan maupun kelmpok mitra

2.2.6 Peta Usaha Penguatan UKM Selain pemetaan UKM pariwisata yang telah dilakukan pada bagian sebelumnya sebagai profiling data yang dimiliki Pemerintah Daerah untuk membantu mengembangan UKM-UKM pariwisata tersebut, juga diperlukan pemetaan terhadap usaha penguatan UKM pariwisata. Usaha penguatan UKM adalah usaha/ program/ proyek/ kegiatan/ aktivitas untuk menguatkan usaha kecil menengah yang dapat diwujudkan dalam berbagai jenis kegiatan, antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Permodalan, melalui pemberian kredit Pelatihan Pendampingan dan fasilitator Bantuan teknis dan konsultasi Penyediaan informasi Penelitian

Tujuan dari pemetaan usaha-usaha ini adalah untuk memberi acuan awal kepada berbagai lembaga dan masyarakat yang menaruh perhatian pada pengembangan UKM pariwisata, dalam rangka melengkapi dan melanjutkan usaha penguatan serta menghindari tumpang tindih upaya dan tumpang tindih sasaran penerima manfaat. Selain itu profiling usaha penguatan ini juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan oleh UKM pariwisata yang telah dipetakan sebelumnya, agar dapat terjalin kemitraan antara UKM pariwisata dan lembaga yang akan memberikan bantuan tersebut. Informasi yang menjadi acuan utama ini digali dari lembaga dan individu yang mempunyai peran yang signifikan dalam usaha penguatan UKM pariwisata, yaitu meliputi: 1. 2. 3. 4. 5. lembaga pemerintah lembaga non-pemerintah perusahaan swasta nasional maupun asing, BUMN, dan koperasi lembaga perbankan pemerintah maupun swasta lembaga donor 6. lembaga atau individu lainnya. dengan memetakan variabel- variabel di bawah ini : Variabel Sumber Data Metode Data Primer In depth interview, Lembaga pelaksana FGD Data Primer In depth interview, Nama Usaha Penguatan FGD Data Primer In depth interview, Jenis Usaha FGD In depth interview, Tujuan dan Sasaran Usaha Data Primer FGD In depth interview, Status pelaksanaan Usaha Data Primer FGD penguatan saat ini

Instrumen

Variabel Masalah yang dihadapi Potensi Usaha penguatan

Sumber Data Data Primer Data Primer

Metode In depth interview, FGD In depth interview, FGD

Instrumen

2.3 Pemasaran
Kegiatan pemasaran ini pada intinya berfokus pada 3 hal yaitu pengembangan pariwisata sesuai target, menciptakan produk turunan wisata yang meningkatkan kualitas pengalaman wisata serta menciptakan strategi promosi yang tepat. Untuk mencapai tujuan di atas, dibutuhkan 1. 2. penilaian terhadap perilaku pasar yang terjadi sebagai dasar segmentasi, targetting serta perencanaan pengembangan produk wisata dan promosi yang tepat Penilaian terhadap persepsi wisatawan maupun masyarakat lokal sebagai dasar menciptakan branding kawasan

2.3.1 Perilaku Pasar Perilaku pasar dalam konteks kepariwisataan merupakan bagaimana sejumlah faktor mempengaruhi keputusan wisatawan dalam usaha pemenuhan keseluruhan pengalaman wisatanya. Analisis perilaku pasar mencoba mengelompokkan wisatawan berdasarkan karakteristiknya serta mengidentifikasi hubungan karakteristik satu dengan karakteristik lainnya. 1. Pengelompokan Wisatawan

Pengelompokan wisatawan sesuai dengan perilaku wisatanya merupakan usaha untuk menentukan/memilih segmen wisatawan mana yang akan menjadi target utama promosi serta bentuk promosi seperti apa yang paling sesuai untuk setiap segmen yang akan disasar tersebut. Hasil pengelompokan wisatawan ini juga dapat dikombinasikan dengan dengan hasil analisis pengganda pendapatan lokal. Dari hasil pengelompokan ini, akan diperoleh segmen wisatawan yang memilih klasifikasi akomodasi tertentu , dan klasifikasi akomodasi tersebut dapat menunjukkan besar pengganda yang dihasilkan. Pengelompokan wisatawan dilakukan dengan menggunakan analisis cluster yang terbentuk berdasarkan variabel di bawah ini: Variabel Demografi Tujuan Kunjungan Lama Tinggal Jenis Akomodasi Sumber Data Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer Metode Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Instrumen Kuesioner Wisatawan Kuesioner Wisatawan Kuesioner Wisatawan Kuesioner Wisatawan

Variabel Tingkat Pengeluaran Preferensi daya tarik Partner Kunjungan Kawasan wisata lain yang dikunjungi selain KSPN tersebut

Sumber Data Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer

Metode Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner

Instrumen Kuesioner Wisatawan Kuesioner Wisatawan Kuesioner Wisatawan Kuesioner Wisatawan

Hasil rekapitulasi pengelompokan berupa tabel di bawah ini Karakteristik Segmen 1 Segmen 2 Asal Negara Demografi Tujuan Kunjungan Lama Tinggal Jenis Akomodasi Tingkat pengeluaran Partner Kunjungan Preferensi daya tarik Kawasan wisata lain yang dikunjungi selain KSPN tersebut

Segmen 3

2. Hubungan antara Tujuan Kunjungan dengan Lama Tinggal Dari data kedua hubungan tersebut, maka dapat ditentukan aktivasi kegiatan apa yang paling sesuai untuk dikembangkan. Data yang dibutuhkan untuk menganalisa kedua hubungan tersebut antara lain : Variabel Sumber Data Metode Instrumen Observasi, Penyebaran Kuesioner Wisatawa n Tujuan Kunjungan Data Primer Kuesioner Data Primer Observasi, Penyebaran Kuesioner Wisatawan, Lama Tinggal Kuesioner Data ini ditampilkan dalam cross tabel sebagai berikut : Tujuan Kunjungan Liburan Total Wisatawan Lama Tinggal (malam) 1-2 3-8 > 8 Rata-rata Lama Tinggal

Ziarah Bisnis Penelitian/pendidikan Mengunjungi teman/saudara MICE Lainnya 3. Hubungan antara Lama tinggal dengan Akomodasi Data yang digunakan untuk menganalisa hubungan tersebut dapat diperoleh dari pengisian kuesioner wisatawan maupun kuesioner akomodasi maupun dengan membandingkan data yang diperoleh dari hasil pengisian pada kedua kuesioner tersebut. Variabel Sumber Data Metode Instrumen Data Primer Observasi, Penyebaran Kuesioner Wisatawa n Asal Wisatawan Kuesioner Data Primer Observasi, Penyebaran Kuesioner Wisatawan, Lama Tinggal Kuesioner Kuesioner Akomodasi Data Primer Observasi, Penyebaran Kuesioner Wisatawan, Akomodasi Kuesioner Kuesioner Akomodasi Data ini ditampilkan dalam cross tabel sebagai berikut :

Jenis Akomodasi Hotel Bintang Hotel Non Bintang Bungalow Vila

Rata-rata Lama Tinggal (malam) Wisatawan Asing Wisatawan Lokal

4. Karakteristik Perencanaan Kunjungan Pengalaman wisata tidak hanya dimulai saat wisatawan berada di destinasi namun saat mereka merencanakan keseluruhan perjalanan wisata, untuk itu diperlukan juga identifikasi terhadap bentuk perencanaan yang dilakukan oleh wisatawan agar dapat merencanakan pengembangan promosi yang tepat serta berapa lama promosi tersebut perlu dilakukan. Variabel Sumber Data Metode Instrumen Data Primer Penyebaran Kuesioner Kuesioner Wisatawa n Bentuk Perencanaan Sumber Informasi Partner Kunjungan Data Primer Data Primer Penyebaran Kuesioner Penyebaran Kuesioner Kuesioner Wisatawan, Kuesioner Wisatawan,

Variabel Lamanya persiapan sebelum kunjungan (minggu)


2.3.2

Sumber Data Data Primer

Metode Penyebaran Kuesioner

Instrumen Kuesioner Wisatawan,

Persepsi Wisatawan

Penilaian terhadap persepsi wisatawan sangat berguna dalam membentuk citra/branding terhadap kawasan wisata tersebut. Maka hal pertama yang perlu diketahui dari persepsi wisatawan adalah alasan utama mengapa mereka memilih kawasan tersebut untuk dikunjungi. Variabel yang dibutuhkan untuk mengetahui alasan utama tersebut adalah Sumber Metode Instrumen Variabel Data Penyebaran Kuesioner Kuesioner Wisatawa n Daya tarik yang menjadi Data Primer pilihan untuk dikunjungi Alasan memilih KSPN untuk dikunjungi Pengalaman yang paling disukai Pengalaman yang paling tidak disukai Data Primer Data Primer Data Primer Penyebaran Kuesioner Penyebaran Kuesioner Penyebaran Kuesioner Kuesioner Wisatawa n Kuesioner Wisatawa n Kuesioner Wisatawa n

Selain itu, persepsi wisatawan juga dapat diukur berdasarkan penilaian mereka terhadap variabel pembentuk kualitas destinasi, karena melalui penilaian terhadap variabel tersebut, maka dapat diketahui variabel mana yang paling berperan terhadap kepuasan dalam pengalaman wisata secara keseluruhan. Analisis yang dapat digunakan untuk mengetahui nilai pengaruh tiap tiap variabel tersebut adalah analisis multiple regresi, dimana analisis tersebut menjelaskan persamaan hubungan antara penilaian kepuasan pengalaman wisata secara keseluruhan sebagai variabel dependen dan nilai masing-masing variabel pembentuk kualitas destinasi sebagai variabel independen seperti contoh persamaan di bawah ini:
y = a X1 + b X2 + c X3 + C

dimana, y = nilai variabel dependen

X1 - X3 = variabel independen a, b, c = nilai dari tiap variabel independen Berdasarkan persamaan nilai terbesar dari tiap variabel independen akan memberikan pengaruh paling besar terhadap variabel dependen. Variabel variabel dari kualitas destinasi yang merupakan variabel independen yang digunakan dalam analisis ini antara lain

Variabel Penilaian terhadap daya tarik wisata

Aksesibilitas

Sumber Metode Data Kemudahan Data Primer Observasi, perolehan informasi Penyebaran daya tarik wisata Kuesioner Kondisi keindahan Data Primer Observasi, daya tarik Penyebaran Kuesioner Kondisi parkir Data Primer Observasi, Penyebaran Kuesioner Kondisi tempat Data Primer Observasi, pembuangan Penyebaran sampah Kuesioner Kondisi keamanan Data Primer Observasi, daya tarik Penyebaran Kuesioner Kondisi pelayanan Data Primer Observasi, daya tarik Penyebaran Kuesioner Kesesuaian harga Data Primer Observasi, dengan pengalaman Penyebaran yang diharapkan Kuesioner Ketersediaan moda Data Primer Observasi, transportasi Penyebaran Kuesioner Keberagaman Data Primer Observasi, pilihan moda Penyebaran transportasi Kuesioner Kualitas dari Data Primer Observasi, pelayanan Penyebaran transportasi Kuesioner Keamanan dari Data Primer Observasi, pelayanan Penyebaran transportasi Kuesioner Harga Data Primer Observasi, Penyebaran Kuesioner Kondisi jalan di Data Primer Observasi, dalam area KSPN Penyebaran Kuesioner Kondisi jalan Data Primer Observasi, menuju area KSPN Penyebaran Sub Variabel

Instrumen Kuesioner Wisatawa n

Kuesioner Wisatawan,

Kuesioner Wisatawan,

Kuesioner Wisatawa n

Kuesioner Wisatawan,

Kuesioner Wisatawan,

Kuesioner Wisatawan,

Kuesioner Wisatawa n

Kuesioner Wisatawan,

Kuesioner Wisatawan,

Kuesioner Wisatawa n

Kuesioner Wisatawan,

Kuesioner Wisatawan,

Kuesioner Wisatawan,

Variabel

Sub Variabel Kondisi Trotoar

Sumber Data Data Primer

Metode Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner

Instrumen Kuesioner Wisatawa n

Masyarakat Lokal KSPN

Aksesibilitas untuk penyandang kekurangan fisik Keramahan masyarakat lokal Kemampuan komunikasi masyarakat lokal dalam bahasa asing Kejujuran masyarakat lokal

Data Primer

Kuesioner Wisatawan,

Data Primer

Kuesioner Wisatawan,

Data Primer

Kuesioner Wisatawa n

Ketersediaan Fasilitas dan informasi pusat pelayanan umum kesehatan Pelayanan pusat kesehatan Ketersediaan pelayanan telekomunikasi Jaminan keselamatan Jaminan keamanan

Fasilitas Pariwisata (Akomodasi, restoran, Shop)

Jumlah ketersediaan

Data Primer Observasi, Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi, Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi, Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi, Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi, Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi, Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi, Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi, Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi, Penyebaran

Kuesioner Wisatawan,

Kuesioner Wisatawan,

Kuesioner Wisatawan,

Kuesioner Wisatawa n

Kuesioner Wisatawan,

Kuesioner Wisatawan,

Kuesioner Wisatawa n

Kualitas pelayanan

Kuesioner Wisatawan,

Keberagaman

Kuesioner Wisatawan,

Variabel

Sub Variabel Kebersihan

Sumber Data Data Primer

Metode Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner Observasi, Penyebaran Kuesioner

Instrumen Kuesioner Wisatawan,

Harga

Data Primer

Kuesioner Wisatawa n

Fasilitas Lainnya

Ketersediaan keberagaman cara pembayaran Ketersediaan ATM

Data Primer

Kuesioner Wisatawan,

Data Primer

Kuesioner Wisatawan,

Ketersediaan pusat informasi Ketersediaan signage Ketersediaan peta pariwisata Ketersediaan informasi untuk keadaan darurat

Data Primer

Kuesioner Wisatawa n

Data Primer

Kuesioner Wisatawan,

Data Primer

Kuesioner Wisatawan,

Data Primer

Kuesioner Wisatawan,

Sedangkan variabel dependen yang digunakan dalam analisis ini antara lain Sumber Variabel Metode Instrumen Data Data Primer Penyebaran Kuesioner Kuesioner Wisatawa n Penilaian pengalaman wisata yang di dapatkan Keputusan merekomendasikan kawasan wisata Data Primer Penyebaran Kuesioner Kuesioner Wisatawa n

Keputusan untuk kembali Data Primer berkunjung

Penyebaran Kuesioner

Kuesioner Wisatawa n

Hasil penilaian terhadapvariabel variabel di atas selanjutnya ditampilkan dalam tabel sebagai berikut :

Daya tarik yang paling banyak diminati

Alasan utama memilih KSPN untuk dikunjungi

Pengalaman paling disukai

Pengalaman paling tidak disukai

Penilaian kepuasan secara keseluruhan

Keputusan rekomendasi

Keputusan berkunjung kembali

Variabel kualitas destinasi yang paling mempengaruhi

2.3.3

Efektifitas Promosi

Promosi merupakan bagaimana cara mengkomunikasikan produk/jasa kepada masyarakat agar dapat dikenal dan pada akhirnya, masyarakat memutuskan untuk membeli produk/jasa tersebut. Begitu juga, dengan kegiatan pariwisata, masyarakat perlu mengenal dengan baik untuk selanjutnya tertarik dengan pengalaman wisata yang dijelaskan dalam kegiatan promosi dan kemudian dilanjutkan dengan melakukan perencanaan menuju destinasi tersebut. Efektivitas promosi ingin mengukur seberapa jauh usaha promosi yang dilakukan suatu usaha dapat meningkatkan jumlah konsumen membeli produk atau menggunakan jasanya. Sehingga variabel yang digunakan untuk mengukur efektivitas promosi adalah sebagai berikut : Sumber Metode Instrumen Variabel Data Data Primer Pengisian Kuesioner Kuesioner pelaku usaha Media Promosi yang (Akomodasi, restoran, digunakan daya tarik) Data Primer In depth interview Interview guideline Besarnya pengeluaran untuk promosi Klasifikasi Akomodasi Range Harga Data Primer Data Primer Pengisian Kuesioner Pengisian Kuesioner Kuesioner Akomodasi Kuesioner pelaku usaha (Akomodasi, restoran, daya tarik) Kuesioner pelaku usaha (Akomodasi, restoran, daya tarik)

Jumlah kunjungan wisatawan pada tahun terakhir Target Promosi Profil Pengunjung

Data Primer

Pengisian Kuesioner

2.4 Institusi
2.4.1 Peranan Institusi

Peranan Institusi sangat dibutuhkan baik dalam mendukung kegiatan pariwisata diantaranya sebagai lembaga yang akan memberikan pelatihan terhadap pelaku usaha maupun masyarakat serta lembaga yang akan menghasilkan SDM Pariwisata. Selain itu institusi juga berperan dalam perencanaan kawasan pariwisata itu sendiri. Penilaian terhadap seberapa baik institusi tersebut mampu berperan dalam meningkatkan situasi yang kondusif bagi kegiatan pariwisata maupun perencanaan kawasan dapat dilakukan terhadap sejumlah variabel di bawah ini :

Variabel Profil Organisasi Kepariwisataan Program Organisasi Kepariwisataan Kontribusi yang dirasakan dari adanya program tiap organisasi kepariwisataaan Profil Lembaga masyarakat Program Lembaga Masyarakat Kontribusi yang dirasakan dari adanya program tiap Lembaga Masyarakat Jumlah SDM di tiap Organisasi/ lembaga Pendapatan Daerah dari sektor pariwisata Jumlah Penyerapan tenaga kerja di sektor pariwisata

Sumber Data Data Sekunder Data Sekunder Data Primer

Metode

Instrumen

Data Sekunder Data Sekunder Data Primer

Data Sekunder Data Sekunder Data Sekunder

3 Analisis SWOT
Analisis keterkaitan antar aspek merupakan analisis potensi dan masalah serta peluang dan tantangan dilakukan dengan menggunakan Metode Analisis SWOT. Model analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan tantangan/ancaman (Threats). Alat yang dipakai untuk menyusun faktor-faktor strategis adalah Matrik SWOT. Matriks ini dapat menggambarkan secara jelas peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi wilayah pulau-pulau kecil. Matriks ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan alternatif strategis, seperti disajikan pada gambar berikut ini.

Faktor Internal Faktor Eksternal OPPORTUNITIES (PELUANG) (O) Tentukan faktor-faktor Peluang Eksternal. THREATS (ANCAMAN) (T) Tentukan faktor-faktor Ancaman Eksternal. 7.

STRENGTHS (KEKUATAN) (S) Tentukan faktor-faktor Kekuatan Internal. STRATEGI (SO) Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang

WEAKNESSES (KELEMAHAN) (W) Tentukan faktor-faktor Kelemahan Internal. STRATEGI (WO) Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang STRATEGI (WT) Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman

STRATEGI (ST) Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman

Strategi (SO). Strategi dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya. 8. Strategi (ST). Strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman. 9. Strategi (WO). Strategi ini ditetapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada. 10. Strategi (WT). Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.

3.1 Analisis Lingkungan Internal


Analisis lingkungan internal digunakan untuk mengetahui sampai sejauh mana kekuatan dan kelemahan wilayah yang didasarkan pada aspek fisik kawasan, kebijakan terkait kawasan, kondisi infastruktur dan sarana di kawasan, kondisi sosial ekonomi maupun sumber daya destinasi. Penilaian lingkungan internal ini berupa matriks faktor lingkungan internal di bawah ini Faktor-faktor Strategi Internal Kekuatan 1 Bobot Rating Bobot x Rating

Faktor-faktor Strategi Internal Kelemahan 1 2

Bobot

Rating

Bobot x Rating

N Cara Penilaian (1) (2) (3) Bobot masing-masing faktor, berskala mulai dari 1 (tidak penting) sampai dengan 100 (sangat penting). Rating masing-masing faktor kekuatan, berskala mulai dari 1 (kurang mendukung) sampai dengan 4 (sangat mendukung). Rating masing-masing faktor kelemahan, berskala mulai dari 1 (kurang menghambat) sampai dengan 4 (sangat menghambat).

3.2 Analisis Lingkungan Eksternal


Analisis lingkungan eksternal digunakan untuk menginventarisasi adanya peluang dan tantangan/ancaman yang dihadapi oleh kawasan, seperti kemunculan pesaing, dampak keberadaan wisatawan, kebijakan yang berasal dari pemerintah pusat maupun isu global, seperti politik, ancaman teroris, dan lain lain. Penilaian terjadap lingkungan eksternal ini digambarkan pada matriks faktor lingkungan ekternal di bawah ini :

Faktor-faktor Strategi Eksternal Peluang 1

Bobot

Rating

Bobot x Rating

n Ancaman 1 2

Faktor-faktor Strategi Eksternal

Bobot

Rating

Bobot x Rating

N Cara Penilaian (1) (2) (3) Bobot masing-masing faktor lingkungan, berskala mulai dari 1 (tidak penting) sampai dengan 100 (sangat penting). Rating masing-masing faktor peluang, berskala mulai dari 1 (peluangnya kecil) sampai dengan 4 (peluangnya sangat besar). Rating masing-masing faktor tantangan/ ancaman, berskala mulai dari 1 (pengaruhnya kecil) sampai dengan 4 (pengaruhnya sangat besar).