PENANGANAN PERDARAHAN POSTPARTUM

Marisa, 16 Desember 2010

PERDARAHAN PASCA PERSALINAN
• Definisi:
# Perdarahan # # Lebih 500 ml # # Setelah bayi lahir #
ibu : lemah, limbung, pusing, berkeringat dingin, sesak TV: hiperpnea, sistolik < 90 mmHg, nadi > 100/menit, Hb < 8 g%

Penyebab Tidak Langsung
15% Abortus 11%

Perdarahan
42%

Partus Lama
9% Eklampsia 13% Infeksi 10%

MANAJEMEN AKTIF KALA III  Suntikan Oksitosin 10 IU im  Peregangan Tali Pusat Terkendali  Masase Uterus .

Peregangan Tali Pusat Terkendali Klem tali pusat 5-10 cm dari vulva / gulung tali pusat Tangan kiri di atas simfisis menahan bagian bawah uterus.Suntikan Oksitosin Periksa fundus uteri untuk memastikan kehamilan tunggal. tangan kanan meregang tali pusat 5-10 cm dari vulva Saat uterus kontraksi. Suntikan Oksitosin 10 IU IM. tegangkan tali pusat sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati ke arah dorso-kranial .

minta ibu meneran sedikit sementara tangan kanan menarik tali pusat ke arah bawah kemudian ke atas sesuai dengan kurve jalan lahir. dekatkan klem ± 5-10 cm dari vulva. Periksa kandung kemih. Bila tali pusat bertambah panjang tetapi belum lahir.m. bila belum lahir lakukan tindakan plasenta manual . lakukan kateterisasi bila penuh Tunggu 15 menit.Mengeluarkan plasenta Jika tali pusat terlihat bertambah panjang dan terasa adanya pelepasan plasenta. Bila plasenta belum lepas setelah langkah diatas selama 15 menit Suntikan ulang 10 IU Oksitosin i.

melakukan masase pada fundus uteri dengan menggosok fundus secara sirkuler menggunakan bagian palmar 4 jari tangan kiri hingga kontraksi uterus baik (fundus teraba keras) Memeriksa kemungkinan adanya perdarahan pasca persalinan Kelengkapan plasenta dan ketuban Kontraksi uterus Perlukaan jalan lahir .Masase Uterus Segera setelah plasenta lahir.

apatis/bingung atau pingsan/tidak sadar .SYOK nadi cepat dan halus (> 100 X per menit) menurunnya tekanan darah (diastolik < 60 mmHg) pernafasan cepat (respirasi > 32 X per menit) pucat (terutama pada konjungtiva palpebra. telapak tangan . bibir) berkeringat. gelisah.

.Penanganan Awal Nilai kegawatan  Periksa Tanda Vital Cegah hipotermia dan miringkan kepala/tubuh pasien untuk cegah aspirasi muntahan. Bebaskan jalan nafas. berikan oksigen 6-8 liter per menit Pasang infus Tinggikan tungkai untuk membantu beban kerja jantung.

Terapi Definitif Tentukan penyebab syok dan tentukan tindakan segera untuk mengatasi hal tersebut Perdarahan  hipovolemik Infeksi  septik Nyeri hebat  kardiogenik/vasovagal Infus/restorasi cairan Oksigen Antibiotika Agen Vasoaktif .

tekanan darah.PENGELOLAAN UMUM PENGELOLAAN SYOK Selalu siapkan tindakan gawat darurat Tata laksana persalinan kala III secara aktif Lakukan penilaian cepat keadaan umum ibu meliputi kesadaran nadi. bila penuh kosongkan Cari penyebab perdarahan dan lakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebab perdarahan . pernafasan dan suhu Jika terdapat syok lakukan segera penanganan Minta pertolongan pada petugas lain untuk membantu bila dimungkinkan Periksa kandung kemih.

ruptur. inversi .sisa jaringan/ bekuan darah Trauma Thrombin .atoni uterus Tissue/jaringan .laserasi.koagulopati 12 .4 T Etiologi PPH Tonus .

GEJALA & TANDA TANDA & GEJALA LAIN DIAGNOSIS KERJA § Uterus tidak berkontraksi § Syok dan lembek § Bekukan darah pada § Perdarahan segera seteserviks / posisi terlenlah anak lahir tang akan menghambat aliran darah keluar Atonia uteri § Darah segar yang meng.§ Pucat alir segera setelah bayi § Lemah lahir § Menggigil § Uterus kontraksi dan keras § Plasenta lengkap § Plasenta belum lahir § Tali pusat putus akibat setelah 30 menit traksi berlebihan § Perdarahan segera (P3) § Inversio uteri akibat § Uterus berkontraksi dan tarikan keras § Perdarahan lanjutan Robekan jalan lahir Retensio plasenta .

GEJALA & TANDA TANDA & GEJALA LAIN DIAGNOSIS KERJA § Plasenta / sebagian § Uterus berkontraksi selaput (mengantetapi tinggi fundus Tertinggalnya dung pembuluh datidak berkurang sebagian plasenta rah) tidak lengkap atau ketuban § Perdarahan segera (P3) § Uterus tidak teraba § Lumen vagina terisi masa § Tampak tali pusat (bila plasenta belum lahir) § Neurogenik syok § Pucat dan limbung Inversio uteri § Sub-involusi uterus § Anemia § Nyeri tekan perut § Demam bawah dan uterus § Perdarahan § Lokhia mukopurulen dan berbau Endometritis atau sisa fragmen plasenta Late postpartum hemorrhage Perdarahan postpartum sekunder .

ATONIA UTERI Terjadi bila miometrium tidak berkontraksi Uterus menjadi lunak dan pembuluh darah pada daerah bekas perlekatan plasenta terbuka lebar Penyebab tersering perdarahan postpartum (2/3 dari semua perdarahan postpartum disebabkan oleh atonia uteri) .

Faktor risiko Hal-hal yang menyebabkan uterus meregang lebih dari kondisi normal : Polihidramnion Kehamilan kembar Makrosomia Persalinan lama Persalinan terlalu cepat Persalinan dengan induksi atau akselerasi oksitosin Infeksi intrapartum Paritas tinggi .

guyur § Lakukan lagi KBI . 5 menit Ya Evaluasi rutin Uterus kontraksi ? Tidak Ya § Pertahankan KBI selama 1-2 menit § Keluarkan tangan secara hati-hati § Lakukan pengawasan kala IV § Ajarkan keluarga melakukan Kompresi Bimanual Eksterna (KBE) § Keluarkan tangan (KBI) secara hati-hati § Suntikan Methyl ergometrin 0.m § Pasang infus RL + 20 IU Oksitosin.Masase fundus uteri Segera sesudah plasenta lahir (maksimal 15 detik) Uterus kontraksi ? Tidak § Evaluasi / bersihkan bekuan darah / selaput ketuban § Kompresi Bimanual Interna (KBI) maks.2 mg i.

Uterus kontraksi ? Tidak Ya Pengawasan kala IV § Rujuk siapkan laparotomi § Lanjutkan pemberian infus + 20 IU Oksitosin minimal 500 cc/jam hingga mencapai tempat rujukan § Selama perjalanan dapat dilakukan Kompresi Aorta Abdominalis atau Kompresi Bimanual Eksternal Ligasi arteri uterina dan/atau hipogastrika B-Lynch method Perdarahan berlanjut Histerektomi Perdarahan berhenti Pertahankan uterus .

KOMPRESI BIMANUAL INTERNAL .

KOMPRESI AORTA .

Tidak dipakai lagi karena RISIKO INFEKSI! 21 .Merupakan penatalaksanaan standar hingga tahun 1950-an Kasa panjang steril 16 meter dipasang dengan menggunakan klem ovarium dari fundus lapis demi lapis dari kiri ke kanan hingga porsio.

9 % 400-500cc dengan spuit 50 cc Pertahankan sampai 24 jam Antibiotik dan drips oksitosin .Teknik Masukkan kateter Rüsch 24 ke kavum uteri Kembangkan dengan NaCl 0.

Kapasitas maksimum 800 cc (Anjuran : 250 hingga 500cc) • Menggunakan kateter silicon no. 24 .

Teknik Antibiotik dan drips oksitosin! Kateter Foley 16 dimasukkan ke dalam kondom dan diikat dengan benang silk Sambung dengan infus set dan NaCl 0.9% .

masukkan kondom hingga kavum uteri Masukkan NaCl 0.Jepit porsio anterior dan posterior dengan klem ovarium.9% hingga 250-500 cc atau hingga perdarahan tampak berkurang Bila perlu tampon di vagina Keluarkan setelah 24-48 jam .

Pemberian antibiotik tripel Amoksisilin 500 mg/ 8 jam + Metronidazole 500 mg/ 8 jam + Gentamisin 80 mg/8 jam iv 7 hari! .

PERLUKAAN JALAN LAHIR  Robekan Perineum  Hematoma Vulva  Robekan dinding vagina  Robekan serviks  Ruptura uteri .

.

RETENSIO PLASENTA Plasenta adhesiva Plasenta akreta Plasenta inkarserata .

PENILAIAN KLINIK RETENSIO PLASENTA GEJALA KONSISTENSI UTERUS TFU BENTUK UTERUS SEPARASI / AKRETA PARSIAL KENYAL PUSAT DISKOID PLASENTA INKARSERATA KERAS 2 JR < PUSAT AGAK GLOBULER PLASENTA AKRETA CUKUP PUSAT DISKOID SEDIKIT .TIDAK ADA # TERJULUR TERBUKA MELEKAT SELURUHNYA PERDARAHAN TALI PUSAT OSTIUM UTERI SEPARASI PLASENTA SEDANG-BANYAK TERJULUR SEBAG TERBUKA LEPAS SEBAGIAN SEDANG TERJULUR KONSTRIKSI SUDAH LEPAS SYOK SERING JARANG JARANG .

plasenta dilepaskan pelanpelan  jangan menarik plasenta sebelum seluruh bagian terlepas! .Plasenta manual Dengan narkosis bila memungkinkan Pasang infus RL + oksitosin 2 ampul 40 ttm Antibiotik iv Informed consent tindakan dan minta kerjasama ibu saat tindakan Tangan kanan dimasukkan secara obstetrik ke dalam vagina Tangan kiri menahan fundus untuk mencegah kolporeksis Tangan kanan menuju ke ostium uteri dan terus ke lokasi plasenta Tangan ke pinggir plasenta dan mencari bagian plasenta yang sudah lepas Dengan sisi ulner.

.SISA PLASENTA Sisa plasenta dan ketuban yang masih tertinggal dalam rongga rahim dapat menimbulkan perdarahan postpartum dini atau perdarahan pospartum lambat (6 – 10 hari pasca persalinan).

.Pengeluaran sisa plasenta Pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase. Dalam memungkinkan. Setelah tindakan pengeluaran. sisa plasenta dapat dikeluarkan secara manual  lalukan eksplorasi intrauterin bila ostium uteri internum masih terbuka Kuretase harus dilakukan di rumah sakit. Antibiotika dalam dosis pencegahan sebaiknya diberikan. dilanjutkan dengan pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral.

.

terutama jika tidak terdeteksi Kematian fetus intrauterine Plasenta previa Hipertensi dalam kehamilan dengan proteinuria Regangan berlebihan pada uterus (mis. polihidramnion. anak besar) Kelainan perdarahan sebelum kehamilan (mis. gemelli.Faktor Risiko PPH . ITP) 35 .Antepartum: Riwayat PPH sebelumnya atau plasenta manual Solusio plasenta.

Intrapartum Persalinan operatif – SC atau pervaginam dg alat Persalinan lama Persalinan cepat Induksi atau augmentasi Korioamnionitis Infeksi intrapartum Distosia bahu Koagulopati yang didapat (mis. DIC) 36 . HELLP.Faktor resiko HPP .

DIC) 37 .Postpartum Laserasi atau episiotomi Retensi plasenta/plasenta abnormal Ruptura uteri Inversi uteri Koagulopati yang didapat (mis.Faktor resiko HPP .

Kesimpulan Persiapan tindakan gawat darurat Lakukan pencegahan Nilai jumlah perdarahan Nilai keadaan ibu Resusitas dengan baik dan tepat Diagnosis penyebab Terapi penyebab .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful