Anda di halaman 1dari 17

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Hotel Pengertian hotel sesuai dengan Surat Keputusan Menparpostel No. KM 37/PW. 340/MPPT-86, tentang Peraturan Usaha dan Penggolongan Hotel yaitu hotel adalah suatu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa penginapan, makanan dan minuman serta jasa penunjang lainnya bagi umum yang dikelola secara komersial. Pengertian hotel menurut Surat Keputusan ini hendaknya dibedakan dengan penginapan atau losmen, dimana menurut Surat Keputusan ini penginapan atau losmen tidak termasuk dalam pengertian hotel. Sedangkan hotel juga menyediakan pemenuhan berbagai kebutuhan hidup sehari-hari seperti makanan, pencucian/laundry dan lain-lain bagi para pengunjungnya, sehingga dalam aktivitasnya hotel juga menghasilkan berbagai limbah cair dan sampah layaknya suatu komplek pemukiman penduduk.

2.2 Sumber Limbah Limbah cair perhotelan adalah limbah dalam bentuk cair yang dihasilkan oleh kegiatan hotel yang dibuang ke lingkungan dan diduga dapat menurunkan kualitas lingkungan. Karena aktivitas yang ada di hotel relatif sama seperti layaknya pemukiman, maka sumber limbah yang ada juga relatif sama seperti pada pemukiman dan fasilitas tambahan lainnya yang ada di hotel. Sumber limbah cair perhotelan tersebut antara lain: Limbah dari kamar mandi dan toilet Limbah dari kegiatan di dapur/restaurant Limbah dari kegiatan pencucian/loundry Limbah dari fasilitas kolam renang

2.3 Karakteristik Limbah Perhotelan Karakteristik limbah cair dari perhotelan relatif sama seperti limbah cair domestik dari pemukiman, karena aktivitas-aktivitas yang ada di hotel relatif sama seperti aktivitas yang ada di lingkungan pemukiman. Sementara jumlah limbah yang dihasilkan dari perhotelan

tergantung dari jumlah kamar yang ada dan tingkat huniannya. Disamping itu juga dipengaruhi oleh fasilitas tambahan yang ada di hotel tersebut. Limbah perhotelan pada umumnya mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: 1. Senyawa fisik: Berwarna Mengandung padatan

2. Senyawa kimia Kimia organik: Mengandung karbohidrat Mengandung minyak dan lemak Mengandung protein Mengandung unsur surfactan antara lain detergen dan sabun

Kimia inorganik: Mengandung alkalinity Mengandung Khloride Mengandung Nitrogen Mengandung Phospor Mengandung Sulfur

3. Senyawa biologi : Mengandung protista dan virus

Rata-rata karakteristik limbah perhotelan adalah sebagai berikut: Konsentrasi BOD di dalam air limbah 200 300 mg/lt. Konsentrasi SS di dalam air limbah 200 250 mg/l.

2.4 Peraturan Pemerintah Tentang Baku Mutu Limbah Cair Kegiatan Hotel Limbah cair hotel adalah limbah dalam bentuk cair yang dihasilkan oleh kegiatan hotel yang dibuang ke lingkungan dan diduga dapat menurunkan kualitas lingkungan. Dengan demikian, maka limbah cair hotel harus memenuhi baku mutu limbah cair hotel, yang merupakan batas maksimum limbah cair yang diperbolehkan dibuang ke lingkungan.

Baku mutu limbah cair hotel tersebut diatur dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : Kep-52/Menlh/10/1995 (Lampiran A dan B) dan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Nomor 02 Tahun 2011 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Hotel. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP52/MENLH/10/1995 TENTANG BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN HOTEL TANGGAL 23 OKTOBER 1995 Parameter BOD5 COD TSS pH Kadar Maksimum (mg/l) 75 100 100 6,0 - 9,0

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP52/MENLH/10/1995 TENTANG BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN HOTEL TANGGAL 23 OKTOBER 1995 Parameter BOD5 COD TSS pH Kadar Minimum (mg/l) 30 50 500 6,0 - 9,0

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 02 TAHUN 2011 BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN HOTEL Parameter BOD5 COD TSS Minyak dan Lemak Kadar Maksimum (mg/l) 30 50 50 15
4

pH

6,0 - 9,0

2.5 Parameter Air Buangan Kegiatan Perhotelan 1. Biochemical Oxygen Demand, BOD (BOD5) BOD5 berarti analisis Biochemical Oxygen Demand yang diinkubasi selama 5 hari. BOD merupakan ukuran jumlah zat organik yang dapat dioksidasi oleh bakteri aerob/jumlah oksigen yang digunakan untuk mengoksidasi sejumlah tertentu zat organik dalam keadaan aerob. Menurut Mahida (1981) BOD akan semakin tinggi jika derajat pengotoran limbah semakin besar. BOD merupakan indikator pencemaran penting untuk menetukan kekuatan atau daya cemar air limbah, sampah industri, atau air yang telah tercemar. Nilai BOD yang tinggi dapat menyebabkan penurunan oksigen terlarut tetapi syarat BOD air limbah yang diperbolehkan dalam suatu perairan di Indonesia adalah sebesar 30 ppm. Kristanto (2002) menyatakan bahwa uji BOD mempunyai beberapa kelemahan diantaranya adalah: Dalam uji BOD ikut terhitung oksigen yang dikonsumsi oleh bahan-bahan organik atau bahan-bahan tereduksi lainnya, yang disebut juga Intermediate Oxygen Demand. Uji BOD membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu lima hari. Uji BOD yang dilakukan selama lima hari masih belum dapat menunjukkan nilai total BOD, melainkan 68 % dari total BOD. Uji BOD tergantung dari adanya senyawa penghambat di dalam air tersebut, misalnya germisida seperti klorin yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang dibutuhkan untuk merombak bahan organik, sehingga hasil uji BOD kurang teliti.

2. Chemical Oxygen Demand (COD) Untuk mengetahui jumlah bahan organik di dalam air dapat dilakukan suatu uji yang lebih cepat daripada uji BOD, yaitu berdasarkan reaksi Kimia dari suatu bahan oksidan. Uji tersebut disebut uji COD (Chemical Oxygen Demand), yaitu suatu uji yang
5

menentukan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bahan oksidan, misalnya kalium dikhromat, untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang terdapat di dalam air. Uji COD biasanya menghasilkan nilai kebutuhan oksigen yang lebih tinggi daripada uji BOD karena bahan-bahan yang stabil terhadap reaksi biologi dan mikroorganisme dapat ikut teroksidasi dalam uji COD. Sebagai contoh, selulosa sering tidak terukur melalui uji BOD karena sukar dioksidasi melalui reaksi biokimia, tetapi dapat terukur melalui uji COD. Bahkan yang tidak dapat didegradasi secara biologis tersebut akan didegradasi secara kimiawi melalui proses oksidasi. Kelebihan uji COD disbanding uji BOD adalah analisa COD hanya memakan waktu 3 jam, sedangkan analisis BOD5 memerlukan 5 hari. Untuk menganalisa COD antara 50 sampai 800 mg/l, tidak dibutuhkan pengenceran sampel sedang pada umumnya analisa BOD selalu membutuhkan pengenceran. Ketelitian dan ketepatan (reproducibility) uji COD adalah 2 sampai 3 kali lebih tinggi dari uji BOD. Gangguan dari zat yang bersifat racun terhadap mikroorganisme pada uji BOD, tidak menjadi soal pada uji COD. Tetapi uji COD mempunyai kekurangan yaitu uji COD hanya merupakan suatu analisa yang menggunakan suatu reaksi oksidasi kimia yang menirukan oksidasi biologis (yang sebenarnya terjadi di alam), sehingga merupakan suatu pendekatan saja. Karena hal tersebut di atas maka uji COD tidak dapat membedakan antara zat-zat yang sebenarnya tidak teroksidasi (inert) dan zat-zat yang teroksidasi secara biologis. Selain itu uji COD juga dapat menghasilkan racun dari reaksi oksidasi kimianya dan juga dapat mengurangi oksigen terlarut dalam air.

3. Total Suspended Solids (TSS) Total Suspended Solids atau total padatan tersuspensi adalah bahan-bahan tersuspensi (diameter >1m) yang tertahan pada saringan millipore dengan diameter pori 0,45 m. TSS terdiri atas lumpur dan pasir halus serta jasad-jasad renik terutama yang disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi yang terbawa ke dalam badan air. Padatan ini terdiri dari senyawa-senyawa anorganik dan organik yang terlarut dalam air, mineral dan garam-garamnya. Penyebab utama terjadinya TSS adalah bahan anorganik berupa ion-ion yang umum dijumpai di perairan. Sebagai contoh air buangan sering
6

mengandung molekul sabun, deterjen dan surfaktan yang larut air, misalnya pada air buangan rumah tangga. Penentuan zat padat tersuspensi (TSS) berguna untuk mengetahui kekuatan pencemaran air limbah domestik, dan juga berguna untuk penentuan efisiensi unit pengolahan air. Penentuan zat padat tersuspensi (TSS) berguna untuk mengetahui ke kuatan pencemaran air limbah domestik, dan juga berguna untuk penentuan efisiensi unit pengolahan air. Tetapi jika nilai TSS semakin tinggi maka dapat mempengaruhi turbiditas (kekeruhan) pada perairan, selain itu juga dapat mempengaruhi kehidupan akuatik karena jika turbiditas terus bertambah maka oksigen dan cahaya matahari terhalang masuk kedalam perairan sehingga mengganggu proses fotosintesis bagi kehidupan akuatik.

4. Minyak dan Lemak Minyak dan Lemak merupakan komponen utama bahan makanan yang juga dapat didapat di dalam air limbah. Kandungan zat lemak dapat ditentukan dan disajikan melalui contoh air limbah dengan heksana. Selain heksana sebagai pelarut juga dapat dapat dipergunakan keroksin, pelumas. Lemak dan minyak membentuk ester dan alcohol atau geliserol dengan asam gemuk. Geliserid dari asam gemuk ini berupa cairan pada keadaan biasa dikenal sebagai minyak dan apabila dalam bentuk padat dan kental dikenal sebagai lemak. Lemak tergolong pada benda organik yang tetap dan tidak mudah untuk diuraikan oleh bakteri. Bahan-bahan asam dapat menghancurkannya untuk menghasilkan geliserin dan asam gemuk. Pada keadaan basa seperti sodium hidroksida, geliserin dibebaskan dan garam basa dari asam gemuk akan terbentuk. Adapun garam basa ini dikenal sebagai sabun, seperti halnya dengan lemak merupakan zat yang stabil. Biasanya sabun dibuat melalui proses saponifikasi dari lemak dengan sodium hidroksid. Mereka ini larut didalam air apabila berada pada situasi basa, maka garam sodium berubah menjadi garam kalsium dan magnesium serta asam gemuk yang merupakan bahan sabun yang tidak larut dalam air. Minyak dan Lemak dapat sampai kesaluran air limbah berasal dari kegiatan di dapur/restaurant hotel. Sebagian besar Minyak atau Lemak mengapung di permukaan air limbah, akan tetapi ada juga yang mengendap terbawa oleh lumpur.

Dalam mengelola air limbah, Minyak dan Lemak dapat membawa dampak buruk yang dapat menimbulkan permasalahan pada dua hal yaitu pada saluran air limbah dan pada bagunan pengolahan. Apabila lemak tidak dihilangkan sebelum dibuang kesaluran air limbah dapat mempengaruhi kehidupan yang ada dipermukaan air dan menimbulkan lapisan tipis dipermukaan sehingga membentuk selaput. Selaput tersebut dapat dapat mempengaruhi kehidupan akuatik karena selaput yang terbentuk dari Minyak dan Lemak tersebut dapat menghalangi masuknya oksigen dan cahaya matahari kedalam perairan sehingga mengganggu proses fotosintesis bagi kehidupan akuatik. Kadar lemak sebesar 15-20 miligram/liter merupakan batas yang bisa ditolerer apabila lemak ini berada di dalam air limbah.

5. Derajat Keasaman (pH) Konsentrasi ion hidrogen merupakan salah satu parameter yang penting, baik bagi air alamiah maupun air limbah. Cara yang umum dalam menyatakan kekuatan ion hidrogen adalah dengan menggunakan istilah pH. Rentang pH yang sesuai bagi kelangsungan hidup sebagian besar kehidupan biologis memiliki nilai yang relatif sempit dan kritis yaitu 6 hingga 9. Air limbah yang memiliki konsentrasi ion hidrogen yang ekstrim akan sulit ditangani oleh proses pengolahan biologis, dan jika konsentrasi ion hidrogen ini tidak diubah terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan, maka air buangan ini dapat mengubah konsentrasi ion hidrogen pada badan air di lingkungan. Air limbah yang dibuang ke lingkungan agar dapat ditangani, rentang pH yang masih diijinkan biasanya berkisar antara 6,5 hingga 8,5. Nilai pH dari suatu larutan biasanya diukur menggunakan pH meter. Selain itu dapat juga digunakan berbagai jenis kertas pH dan larutan indikator yang dapat berubah warna pada nilai pH tertentu. pH larutan ditentukan dengan membandingkan warna dari kertas pH atau larutan dengan serangkaian warna baku.

2.6 Teknologi Pengolahan Air Buangan Perhotelan Pengolahan air buangan terutama ditujukan untuk mengurangi kandungan bahan pencemar di dalam air, seperti senyawa organik, padatan tersuspensi, mikroba patogen dan senyawa organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yang ada di alam. Proses
8

pengolahan dilakukan sampai batas tertentu sehingga air limbah tidak mencemarkan lingkungan hidup. Untuk memilih teknologi pengolahan limbah yang tepat banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain: Laju aliran limbah Kualitas air buangan dan sifatnya (karakteristik limbah) Ketersediaan lahan Standar air olahan yang diinginkan Kemampuan pembiayaan Pengolahan air buangan dapat dibagi menjadi empat tahap pengolahan, yaitu: 1. Pengolahan awal (Pre Treatment) Tahap pengolahan ini melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak dalam aliran air limbah. Beberapa proses pengolahan yang berlangsung pada tahap ini ialah: Screening Saringan/screening biasanya dipasang pada bagian awal unit pengolahan limbah cair. Screening berguna untuk menangkap/menyaring sampah padat yang berukuran besar yang terikut dalam aliran air limbah, seperti plastik, kain kayu, dan lain sebagainya. Jika tidak ditangkap terlebih dahulu, sampah tersebut akan menyumbat pipa, memacetkan pompa dan peralatan mekanik lainnya, selain itu juga mengganggu proses treatment selanjutnya. Grit Removal Pada IPAL yang menggunakan pompa atau peralatan mekanik yang lain, kalau air limbah mengandung partikel inorganik seperti pasir, batu kecil, pecahan kaca, logam dan lain sebagainya akan merusak peralatan mekanik tersebut. Kerusakan tersebut disebabkan padatan inorganik dalam air limbah menggerus peralatan mekanik. Selain merusak peralatan mekanik, padatan inorganik akan mengakibatkan penyumbatan pipa dan menambah lumpur di tangki sedimentasi atau bak yang lain. Bangunan untuk memisahkan partikel inorganik tersebut disebut Grit chamber. Padatan organik diusahakan tidak mengendap di sini supaya mempermudahkan pengolahan lumpur di Chamber tersebut. Grit chamber
9

biasanya dibuat/dipasang pada unit IPAL skala besar. Sedangkan untuk unit IPAL skala kecil dan menengah, karena partikel inorganiknya dianggap relatif sedikit, maka tidak perlu memakai Grit Chamber. Equalization Pada pengolahan air limbah, biasanya dari waktu ke waktu terjadi fluktuasi baik debit maupun kandungan polutan, pH, temperatur dan lain sebagainya. Fluktuasi tersebut akan mempengaruhi efisiensi proses pengolahan. Maka untuk mencegah penurunan efisensi dan efek tersebut, sebaiknya dibuat bak ekualisasi untuk meratakan parameter-parameter air limbah sebelum dimasukkan ke proses utama IPAL. Stabilisasi parameter air limbah bertujuan untuk mengoptimalkan pengoperasian IPAL, sehingga dapat menghemat aerasi atau bahan kimia tambahan seperti nutrient, koagulan dan lain sebagainya dalam proses pengolahan selanjutnya. Tujuan dari ekualisasi adalah : Meratakan debit air imbah yang masuk ke proses pengolahan. Meratakan fluktuasi beban organik, agar tidak terjadi shock loading pada proses pengolahan. Meratakan pH untuk memudahkan kontrol dan meminimalkan kebutuhan bahan kimia pada proses netralisasi. Meratakan kandungan padatan untuk memudahkan kontrol dan meminimalkan kebutuhan bahan kimia pada proses koagulasi dan floakulasi.

2. Pengolahan tahap pertama (Primary Treatment) Pada dasarnya, pengolahan tahap pertama ini masih memiliki tujuan yang sama dengan pengolahan awal. Letak perbedaannya ialah pada proses yang berlangsung. Proses yang terjadi pada pengolahan tahap pertama ialah: Kimia Netralisasi Pada proses pengolahan limbah, sering diperlukan koreksi
10

pH/netralisasi, baik karena kondisi limbah bersifat asam/acid (pH rendah)

maupun karena limbah bersifat basa/alkalis (pH tinggi). Sebelum air limbah masuk ke sistem pengolahan biologis, sebaiknya dilakukan netralisasi, karena pengolahan biologis lebih efektif dan efisien pada kondisi pH netral. Netralisasi juga perlu dilakukan baik sebelum limbah dibuang ke alam/lingkungan agar effluen tidak mencemari lingkungan. Cara mengkoreksi pH adalah dengan menambahkan bahan kimia ke dalam air limbah, baik dalam bahan bentuk kimia bubuk/powder tersebut maupun

larutan/solution.

Penambahan

menggunakan

peralatan khusus seperti dosing-pump (larutan) atau powde/granule feeder (powder). Larutan atau bubuk kimia tersebut dimasukkan dalam tangki pencampur yang dilengkapi pengaduk. Koagulasi Proses koagulasi adalah proses penggabungan (agglomeration) partikel koloid menjadi floc dengan cara menambah electrolytes seperti garam anorganik (inorganic salts). Hidrolisis Hidrolisis adalah reaksi kimia yang memecah molekul air (H2O) digunakan untuk menjadi kation hidrogen (H+) dan anion hidroksida (OH) melalui suatu proses kimia. Proses ini biasanya

memecahpolimer tertentu, terutama yang dibuat melalui polimerisasi tumbuh bertahap (step-growth polimerization). Hidrolosis tidak berbeda dengan hidrasi. Pada hidrasi, molekul tidak terpecah menjadi

dua senyawa baru. Fisik Flotasi Flotasi umumnya diterapkan pada pengolahan air buangan industri, terutama yang kandungan SS dan minyak tinggi. Pemisahan zat padat atau partikel zat cair dari cairan diperolah dengan menyemprotkan gas (udara) berupa gelembung-gelembung kecil ke dalam cairan. Gelembung ini kemudian menempel pada bahan-bahan padat dan oleh sebab gaya apung

11

dari campuran partikel dan gelembung udara cukup besar mengangkatnya ke permukaan. Keuntungan sistem flotasi dari sedimentasi adalah bahwa partikel yang sangat halus dan mengendap dapat dihilangkan lebih sempurna dan dalam waktu yang relatif singkat. Partikel-partikel yang mengapung ke atas dapat dikumpulkan dan diciduk keluar. Sedimentasi Sedimentasi adalah proses pemisahan partikel padatan yang terkandung dalam air limbah oleh gaya gravitasi, baik padatan organik maupun padatan inorganik. Pada sistem pengolahan air limbah, proses sedimentasi dilakukan pada awal (primary sedimentation tank), sesudah proses biologis (secondary clarifier) atau sesudah proses koagulasi. Dalam sistem kombinasi anaerobik dan aerobik, proses sedimentasi dilakukan pada awal dan akhir.

3. Pengolahan tahap kedua (Secondary Treatment) Pengolahan tahap kedua dirancang untuk menghilangkan zat-zat terlarut dari air limbah yang tidak dapat dihilangkan dengan proses fisik biasa. Peralatan pengolahan yang umum digunakan pada pengolahan tahap ini ialah: Penghilangan organik terlarut dan unsur koloid Lumpur aktif (Activated Sludge) Pengertian lumpur aktif diambil dari cara pengolahannya, yaitu pengembalian sebagian lumpur biologis ke bak aerasi karena ini sangat aktif dalam menghilangkan bahan-bahan organik (soluble organic matter) dari solusi air buangan. Umur lumpur (sludge age) adalah istilah untuk umur atau lamanya terbentuk partikel suspended solids (SS) dengan proses pengolahan, dengan satuan hari. Cara kerja proses lumpur aktif (lumpur balik) adalah proses untuk merubah zat-zat yang tidak dapat mengendap dalam bentuk koloid maupun tercampur menjadi flok-flok biologis yang dapat diendapkan. Di dalam bak aerasi flok ini terbentuk dari hasil penguraian bahan-bahan organik oleh
12

mikro organism terutama jenis bakteri (mixed liquor). Mixed liquor ini secara kontinyu dialirkan ke bak sedimentasi akhir. Di dalam bak sedimentasi akhir inilah flok yang terbentuk dan disebut lumpur ini kemudian dipisahkan dari air buangan dengan cara pengendapan. Air yang sudah jernih dibuang sebagai effluen ke sungai (atau badan air lainnya), sedangkan lumpur atau settle floc dialirkan kembali secara kontinyu ke bak aerasi bersama-sama dengan air kotor yang masuk. Trickling Filter Pengolahan air limbah dengan proses Trickilng Filter adalah proses pengolahan dengan cara menyebarkan air limbah ke dalam suatu tumpukan atau unggun media yang terdiri dari bahan batu pecah (kerikil), bahan keramik, sisa tanur (slag), medium dari bahan plastik atau lainnya. Dengan cara demikian maka pada permukaan medium akan tumbuh lapisan biologis (biofilm) seperti lendir, dan lapisan biologis tersebut akan kontak dengan air limbah dan akan menguraikan senyawa polutan yang ada di dalam air limbah. Proses pengolahan air limbah dengan sistem Trickilng Filter pada dasarnya hampir sama dengan sistem lumpur aktif, di mana

mikroorganisme berkembang biak dan menempel pada permukaan media penyangga. Kolam aerasi Prinsip aerasi adalah penambahan oksigen ke dalam air, sehingga oksigen terlarut di dalam air akan semakin tinggi. Aerasi termasuk pengolahan secara fisika, karena lebih mengutamakan unsur mekanisasi dari pada unsur biologi. Prinsip kerjanya adalah membuat kontak antara air dan oksigen. Untuk mengurangi peresapan air ke dalam tanah maka dasar kolam dilapisi dengan plastik hitam dengan ukuran kolam 5000 m2 dengan ketinggian 1,5 m. Dalam kolam tersedia 8 buah mekanik aerator yang mempunyai kapasitas 59 kg O2/hari. Penghilangan padatan tersuspensi Presipitasi (Pengendapan)
13

Presipitasi pada umumnya digunakan untuk menghilangkan logam berat dari limbah cair yang bersumber dari sepuhan logam, baja dan besi. Presipitasi juga biasa dikenal sebagai pengendapan yaitu proses pemisahan atau pengendapan yang menggunakan prinsip gravitasi. Partikel logam berat yang lebih berat daripada air akan mengendap.

4. Pengolahan tahap ketiga (Tertiary Treatment) Proses-proses yang terlibat dalam pengolahan air limbah tahap ketiga ialah: Koagulasi, Sedimentasi Proses koagulasi adalah proses penggabungan (agglomeration) partikel koloid menjadi floc dengan cara menambah electrolytes seperti garam anorganik (inorganic salts). Sedimentasi adalah proses pemisahan partikel padatan yang terkandung dalam air limbah oleh gaya gravitasi, baik padatan organik maupun padatan inorganik. Pada sistem pengolahan air limbah, proses sedimentasi dilakukan pada awal (primary sedimentation tank), sesudah proses biologis (secondary clarifier) atau sesudah proses koagulasi. Dalam sistem kombinasi anaerobik dan aerobik, proses sedimentasi dilakukan pada awal dan akhir. Filtrasi Proses filtrasi di dalam pengolahan air buangan, biasanya dilakukan untuk mendahului proses adsorbsi atau proses reverse osmosis-nya, akan dilaksanakan untuk menyisihkan sebanyak mungkin partikel tersuspensi dari dalam air agar tidak mengganggu proses adsorbsi atau menyumbat membran yang

dipergunakan dalam proses osmosa. Adsorpsi karbon Pengolahan terjadi dengan adanya penahanan zat-zat organik pada permukaan karbon. Metode yang umum digunakan sekarang adalah granulated activated carbon column. Air buangan disaring melalui kolom sampai kolom tersebut penuh dengan bahan-bahan organik. Waktu kontak yang diperlukan untuk metode ini 1 jam, setelah 1 jam penurunan warna menjadi lambat. Karbon aktif dapat menghilangkan bakteri dan virus secara efektif.
14

Ion exchange (Penukar ion) Penukaran ion merupakan proses pengolahan secara kimia yang digunakan untuk menghilangkan ion yang tidak dikehendaki dari limbah cair. Dalam pengolahan limbah cair industri, penukaran ion sebagian besar digunakan untuk menghilangkan kation seperti logam berat, tapi penukaran ion juga dapat digunakan untuk menghilangkan anion seperti sianida, arsenat dan kromat.

Destilasi Destilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap. Model ideal distilasi didasarkan pada Hukum Roult dan Hukum Dalton. Ada 4 jenis distilasi, yaitu distilasi sederhana, distilasi fraksionasi, distilasi uap, dan distilasi vakum. Selain itu ada pula destilasi ekstraktif dan distilasi azeotropic homogenous, distilasi dengan menggunakan garam berion, distilasi pressure swing, serta distilasi reaktif.

Reverse Osmosis (RO) Pengertian dari sistem Reverse Osmosis atau RO adalah perpindahan air melalui satu tahap ke tahap berikutnya yakni bagian yang lebih encer ke bagian yang lebih pekat. Teknologi reverse osmosis (RO) banyak dimanfaatkan manusia untuk berbagai keperluan, salah satunya adalah untuk teknologi pengolahan air minum. Salah satu ciri utama reverse osmosis system (RO) adalah dengan adanya membran (semipermeable membrane). Membran semipermeabel ini harus dapat ditembus oleh pelarut, tapi tidak oleh zat terlarut. Proses reverse osmosis menggunakan tekanan tinggi agar air bisa melewati membran, di mana kerapatan membran reverse osmosis ini adalah 0,0001 mikron (satu helai rambut dibagi 500.000 bagian). Jika air mampu melewati membran reverse osmosis, maka air inilah yang akan kita pakai, tapi jika air tidak bisa melewati membran semipermeable maka akan terbuang pada saluran khusus.

Elektrodialisis Elektrodialisis yaitu proses membran yang dicirikan oleh suatu medan listrik tegak lurus terhadap membran penukar ion (ion exchange membrane). Sebagai
15

akibat dari adanya gaya dorong (driving force) medan listrik, anion-anion dalam larutan akan ditarik ke arah anoda dan kation-kation ditarik ke arah anoda.

2.7 Proses Pengolahan Air Buangan Perhotelan Seluruh air limbah dialirkan masuk ke bak pengendap awal, untuk mengendapkan partikel lumpur, pasir dan kotoran organik tersuspesi. Selain sebagai bak pengendapan, juga berfungsi sebagai bak pengontrol aliran, serta bak pengurai senyawa organik yang berbentuk padatan, sludge digestion (pengurai lumpur) dan penampung lumpur. Air limpasan dari bak pengendap awal selanjutnya dialirkan ke bak kontaktor anaerob dengan arah aliran dari bawah ke atas. Di dalam bak kontaktor anaerob tersebut diisi dengan media dari bahan plastik tipe sarang tawon. Jumlah bak kontaktor anaerob terdiri dari tiga buah ruangan. Penguraian zat-zat organik yang ada dalam air limbah dilakukan oleh bakteri anaerobik atau fakultatif aerobik. Setelah beberapa hari operasi, pada permukaan media filter akan tumbuh lapisan film mikroorganisme. Mikroorganisme inilah yang akan menguraikan zat organik yang belum sempat terurai pada bak pengendap secara anaerob atau tanpa udara. Air limpasan dari bak kontaktor anaerob dialirkan ke bak kontaktor aerob. Bak kontaktor atau biofilter aerob ini terdiri dari tangki aerasi dan biofilter aerob. Di dalam ruang biofilter aerob ini juga ini diisi dengan media dari bahan pasltik tipe sarang tawon. Setelah air limbah di aerasi atau dihembus dengan udara dialirkan ke tangki atau bak biofilter aerob sehingga mikro organisme yang ada akan menguraikan zat organik yang ada dalam air limbah serta tumbuh dan menempel pada permukaan media. Dengan demikian air limbah akan kontak dengan mikroorgainisme yang tersuspensi dalam air maupun yang menempel pada permukaan media yang mana hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi penguraian zat organik, deterjen serta mempercepat proses nitrifikasi, sehingga efisiensi penghilangan ammonia menjadi lebih besar. Selanjutnya, air dialirkan ke bak pengendap akhir. Di dalam bak ini lumpur aktif yang mengandung massa mikroorganisme diendapkan dan dipompa kembali ke bagian inlet bak aerasi dengan pompa sirkulasi lumpur. Sedangkan air limpasan (over flow) dialirkan ke bak khlorinasi. Di dalam bak kontaktor khlor ini air limbah dikontakkan dengan senyawa khlor untuk membunuh mikroorganisme patogen.

16

Air olahan, yakni air yang keluar setelah proses khlorinasi dapat langsung dibuang ke sungai atau saluran umum. Dengan kombinasi proses anaerob dan aerob tersebut selain dapat menurunkan zat organik (BOD, COD), ammonia, deterjen, padatan tersuspensi (SS), phospat dan lainnya.

Gambar 2.1. Diagram Proses Pengolahan Air Limbah Perhotelan Dengan Proses Biofilter Anaerob-Aerob 2.8 Keuntungan dan Keunggulan Proses Biofilter Anaerob-Aerob Proses dengan biofilter anaerob-aerob ini mempunyai beberapa keuntungan antara lain: Adanya air buangan yang melalui media penyangga yang terdapat pada biofilter mengakibatkan timbulnya lapisan mikroorganisme yang menyelimuti permukaan media atau yang disebut juga biological film. Air limbah yang masih mengandung zat organik yang belum teruraikan pada bak pengendap bila melalui lapisan lendir ini akan mengalami proses penguraian secara biologis. Efisiensi biofilter tergantung dari luas kontak antara air limbah dengan mikroorganisme yang menempel pada permukaan media filter tersebut. Makin luas bidang kontaknya maka efisiensi penurunan konsentrasi zat organiknya (BOD) makin besar. Selain menghilangkan atau mengurangi konsentrasi BOD dan COD, cara ini dapat juga mengurangi konsentrasi padatan tersuspensi atau suspended solids (SS) , deterjen (MBAS), ammonium dan posphor.

17

Biofilter juga berfungsi sebagai media penyaring air limbah yang melalui media ini. Sebagai akibatnya, air limbah yang mengandung suspended solids dan bakteri e-coli setelah melalui filter ini akan berkurang konsentrasinya. Efesiensi penyaringan akan sangat besar karena dengan adanya biofilter up flow yakni penyaringan dengan sistem aliran dari bawah ke atas akan mengurangi kecepatan partikel yang terdapat pada air buangan dan partikel yang tidak terbawa aliran ke atas akan mengendapkan di dasar bak filter. Sistem biofilter anaerob-aerob ini sangat sederhana, operasinya mudah dan tanpa memakai bahan kimia serta kebutuhan energinya sangat kecil. Poses ini cocok digunakan untuk mengolah air limbah dengan kapasitas yang tidak terlalu besar. Selain terdapat keuntungan, proses dengan biofilter anaerob-aerob mempunyai keunggulan. Beberapa keunggulan proses pengolahan air limbah dengan biofilter anaerob-aerob antara lain yakni: Perawatannya sangat mudah. Biaya operasinya rendah. Jumlah lumpur yang dihasilkan relatif lebih sedikit bila dibandingkan dengan proses lumpur aktif. Dapat menghilangkan nitrogen dan phospor yang dapat menyebabkan euthropikasi. Kebutuhan energi lebih kecil. Dapat digunakan untuk air limbah dengan beban BOD yang cukup besar. Dapat menghilangan padatan tersuspensi (SS) dengan baik.

18